Di Jakarta, Plaza Senayan agaknya merupakan tempat pertama yang menyediakan musholla
dengan kondisi sangat layak... Sangat layak disini maksudnya adalah,
fasilitas terkait memiliki kelengkapan yang bagus, ruangan sholat
ber-AC, tempat penitipan alas kaki, dan termasuk pula,
desain yang indah.
Sedangkan sewaktu berjalan-jalan ke Plaza Semanggi masa baru dibuka,
ternyata musholla di tempat ini lebih asik lagi. Kualitas setaraf sih
sama yang di Plaza Senayan, cuma imho desain interior disini lebih
bagus lagi.
Sebelum ada dua tempat ini, kaum muslim yang
mall-hoppers
agaknya harus cukup betah untuk mendapat fasilitas musholla yang
sempit, pengap, bau karpet basah, disatukan antara pria dan wanita,
dengan tempat wudhunya bersatu dengan janitor, atau malah di wastafel
WC.
Lantas selain kekurangan-kekurangan tersebut, besar juga kemungkinan
kalau alas kaki mereka sudah raib saat sholat selesai! Rupanya tidak hanya di mesjid-mesjid kampung, kejadian semacam
itu juga sudah sangat sering terjadi, di tempat-tempat
"elit" semacam Pondok Indah Mall (PIM), dimana berkali-kali saya
menyaksikan bapak-bapak yang kebingungan karena sepatunya raib, plus
satpam yang tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian serupa juga sering
terjadi di musholla Mall Ambassador, di musholla yang berada di area
parkir basement yang pengap dan panas itu memang terdapat locker, namun tidak ada kunci atau pengawasnya.
Soal kenyamanan, memang rata-rata musholla sekarang paling tidak
sudah melengkapi diri
dengan kipas angin, sehingga pengguna musholla bisa sholat tanpa
terlalu berkeringat. Namun demikian, bau karpet basah, kebersihan
kurang
terjaga, fasilitas buruk, dan kehilangan, tetap menjadi suatu hal yang
rutin terjadi.
Ditempat-tempat umum lainnya,
fasilitas musholla ini keadaannya bahkan lebih menyedihkan lagi, atau malah
tidak tersedia! Seberapa sering anda bertandang ke suatu gedung
perkantoran, dan sewaktu saat sholat tiba, anda diarahkan satpam ke
musholla yang sempit, kotor dan bau?
Padahal Indonesia masih dihuni oleh mayoritas ummat muslim... Padahal
pebelanja di mall-mall itu sebagian besar pasti orang muslim... apalagi staffnya... padahal
sebagian besar pekerja di perkantoran pasti orang muslim... Dan
sholat itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan rutin setiap hari... Tapi
kenapa aktifitas ini hanya mendapat porsi minoritas di kalangan para
pembangun mall dan fasilitas umum?
Permasalahan ini sendiri sebenarnya sudah pernah dimuat di
Livejournal dan mendapat reaksi cukup beragam dan dalem dari teman-teman yang kritis...
Memang betul, sholat bisa dimana saja, asalkan tempatnya bersih dan bebas najis,
dan bukan tempat ibadah agama lain... Namun tidakkah aneh untuk suatu
kegiatan yang dilakukan rutin oleh mayoritas penngunjung / tenant, kebutuhan akan adanya tempat ibadah yang memadai masih dipandang sebelah mata?...
Mungkin
ini semua kembali kepada self-respect dari
ummat Muslim sendiri yang kalau mau nonton membutuhkan kursi yang empuk,
berani protes kalau AC kurang dingin, bisa protes kalau pesanan makanan terlalu asin, tapi
nggak pernah protes kalau untuk urusan agama, mereka dinomorduakan...
Yes
right, buat
pengelola, kegiatan ini bukan suatu hal yang mendatangkan
pemasukan secara langsung... tapi sama juga halnya dengan Kamar Kecil /
Toilet
(sori perbandingannya begini), sejak kapan toilet menghasilkan
keuntungan? Mungkin cuma di beberapa tempat saja, seperti Blok M Plaza
yang mengutip biaya bagi para pengguna kamar kecil... Tapi karena
toilet wajib
ada, maka tiap bangunan publik memilikinya, dan kondisinya pun harus
bagus... Cuma pertokoan atau perkantoran kelas kacang lah yang berani
membuat kamar kecil yang buruk, atau tidak terawat... 'tull?
Sedangkan bagi kaum muslim, sholat adalah kegiatan yang wajib dan
berlangsung rutin... tapi kenapa koq pelayanannya tidak diutamakan?
Restroom bertahtakan marmer dengan ruangan yang luas, sementara untuk
sholat cukup di tangga darurat? Not good... Wajar kah jika untuk
kebutuhan ini pihak pengusaha
memberikan fasilitas yang baik? Tidak hanya lokasi darurat atau sekedar
ada?
Bagaimanakah suara kita sebagai orang Muslim? Kalau kita selalu
terima apa adanya, tentu diberi fasilitas macam apapun akan kita terima... Tapi kalau ummat
Muslim berani bersuara, sehingga
hal ini dianggap keharusan dan
ditunjang oleh peraturan dari pihak berwenang, tentu akan beda
ceritanya... Dimana suara Departemen Agama? MUI? Pemerintah?
Akahkah musholla selalu identik dengan tempat parkir, ruangan pengap, bau, dan tak terawat? (bay)