Posted by Bayu on May 29, '05 12:30 PM for everyone
Di Jakarta, Plaza Senayan agaknya merupakan tempat pertama yang menyediakan musholla dengan kondisi sangat layak... Sangat layak disini maksudnya adalah, fasilitas terkait memiliki kelengkapan yang bagus, ruangan sholat ber-AC, tempat penitipan alas kaki, dan termasuk pula, desain yang indah.

Sedangkan sewaktu berjalan-jalan ke Plaza Semanggi masa baru dibuka, ternyata musholla di tempat ini lebih asik lagi. Kualitas setaraf sih sama yang di Plaza Senayan, cuma imho desain interior disini lebih bagus lagi.

Sebelum ada dua tempat ini, kaum muslim yang mall-hoppers agaknya harus cukup betah untuk mendapat fasilitas musholla yang sempit, pengap, bau karpet basah, disatukan antara pria dan wanita, dengan tempat wudhunya bersatu dengan janitor, atau malah di wastafel WC.

Lantas selain kekurangan-kekurangan tersebut, besar juga kemungkinan kalau alas kaki mereka sudah raib saat sholat selesai! Rupanya tidak hanya di mesjid-mesjid kampung, kejadian semacam itu juga sudah sangat sering terjadi, di tempat-tempat "elit" semacam Pondok Indah Mall (PIM), dimana berkali-kali saya menyaksikan bapak-bapak yang kebingungan karena sepatunya raib, plus satpam yang tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian serupa juga sering terjadi di musholla Mall Ambassador, di musholla yang berada di area parkir basement yang pengap dan panas itu memang terdapat locker, namun tidak ada kunci atau pengawasnya.

Soal kenyamanan, memang rata-rata musholla sekarang paling tidak sudah melengkapi diri dengan kipas angin, sehingga pengguna musholla bisa sholat tanpa terlalu berkeringat. Namun demikian, bau karpet basah, kebersihan kurang terjaga, fasilitas buruk, dan kehilangan, tetap menjadi suatu hal yang rutin terjadi.

Ditempat-tempat umum lainnya, fasilitas musholla ini keadaannya bahkan lebih menyedihkan lagi, atau malah tidak tersedia! Seberapa sering anda bertandang ke suatu gedung perkantoran, dan sewaktu saat sholat tiba, anda diarahkan satpam ke musholla yang sempit, kotor dan bau?

Padahal Indonesia masih dihuni oleh mayoritas ummat muslim... Padahal pebelanja di mall-mall itu sebagian besar pasti orang muslim... apalagi staffnya... padahal sebagian besar pekerja di perkantoran pasti orang muslim... Dan sholat itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan rutin setiap hari... Tapi kenapa aktifitas ini hanya mendapat porsi minoritas di kalangan para pembangun mall dan fasilitas umum?

Permasalahan ini sendiri sebenarnya sudah pernah dimuat di Livejournal dan mendapat reaksi cukup beragam dan dalem dari teman-teman yang kritis...

Memang betul, sholat bisa dimana saja, asalkan tempatnya bersih dan bebas najis, dan bukan tempat ibadah agama lain... Namun tidakkah aneh untuk suatu kegiatan yang dilakukan rutin oleh mayoritas penngunjung / tenant, kebutuhan akan adanya tempat ibadah yang memadai masih dipandang sebelah mata?...

Mungkin ini semua kembali kepada self-respect dari ummat Muslim sendiri yang kalau mau nonton membutuhkan kursi yang empuk, berani protes kalau AC kurang dingin, bisa protes kalau pesanan makanan terlalu asin, tapi nggak pernah protes kalau untuk urusan agama, mereka dinomorduakan...

Yes right, buat pengelola, kegiatan ini bukan suatu hal yang mendatangkan pemasukan secara langsung... tapi sama juga halnya dengan Kamar Kecil / Toilet (sori perbandingannya begini), sejak kapan toilet menghasilkan keuntungan? Mungkin cuma di beberapa tempat saja, seperti Blok M Plaza yang mengutip biaya bagi para pengguna kamar kecil... Tapi karena toilet wajib ada, maka tiap bangunan publik memilikinya, dan kondisinya pun harus bagus... Cuma pertokoan atau perkantoran kelas kacang lah yang berani membuat kamar kecil yang buruk, atau tidak terawat... 'tull?

Sedangkan bagi kaum muslim, sholat adalah kegiatan yang wajib dan berlangsung rutin... tapi kenapa koq pelayanannya tidak diutamakan? Restroom bertahtakan marmer dengan ruangan yang luas, sementara untuk sholat cukup di tangga darurat? Not good... Wajar kah jika untuk kebutuhan ini pihak pengusaha memberikan fasilitas yang baik? Tidak hanya lokasi darurat atau sekedar ada?

Bagaimanakah suara kita sebagai orang Muslim? Kalau kita selalu terima apa adanya, tentu diberi fasilitas macam apapun akan kita terima... Tapi kalau ummat Muslim berani bersuara, sehingga hal ini dianggap keharusan dan ditunjang oleh peraturan dari pihak berwenang, tentu akan beda ceritanya... Dimana suara Departemen Agama? MUI? Pemerintah?

Akahkah musholla selalu identik dengan tempat parkir, ruangan pengap, bau, dan tak terawat? (bay)

16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
majesta wrote on May 29, '05
Wajar kah jika untuk kebutuhan ini pihak pengusaha memberikan fasilitas yang baik? Tidak hanya lokasi darurat atau sekedar ada?
setuju !!!
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
omotusair wrote on May 29, '05
Jika pemerintah saja tidak mau dan tanggap mendengarkan suara mayoritas agama dalam negaranya, menurut kamu mungkin ngak kehidupan beragama yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia?

Logikanya: Jika pemimpin tidak menunjukan sikap menghormati sesama, kemungkinan besar anak buahnya akan melakukan hal yang sama.

Contoh : Budaya Korupsi dalam negara. Biasanya dimulai dari pucuk pimpinan baru ke jajaran staff nya.

Sedih gue baca jurnal ini......... sebagai sesama manusia dan umat beragama
cisituboy wrote on May 29, '05
Plasa Semanggi dan Senayan emang top deh mushollanya. So cathcy dan juga comfy banget. Ibadah pun jadi lebih khusyuk. Semoga ditiru oleh developer plaza yang laennya.
iwan95 wrote on May 29, '05
Yupe :)
dari Mall yg pernah kukunjungi
hanya Plaza Semanggi dan Plaza Senayan yg Musholla nya OK :)
sisanya sih asal2an

cermin sekulerisasi yg berlebihan?
cepshadur wrote on May 30, '05
bisnis sama ibadah sulit buat disatukan ,,,
tapi yang lebih parah lagi adalah sikap para pengusaha terhadap apresiasi beragama di negeri ini kalau saja mereka lebih menghargai bahwa jumlah umat islam di negeri ini adalah lebih banyak dan mayoritas tentu enggak begini kejadiannya

tapi yang lebih parah lagi ,,,,orang nyari mushola di Mall-Mall begitu ada masjid di depan mata koq jarang juga dikunjungi ,,,,wah jadi malu sendiri neeh

wassalam
kangbayu wrote on May 30, '05
Plasa Semanggi dan Senayan emang top deh mushollanya. So cathcy dan juga comfy banget. Ibadah pun jadi lebih khusyuk. Semoga ditiru oleh developer plaza yang laennya.
Sebenernya yang di Mal Kelapa Gading juga bagus banget, bahkan lebih rapi dan lebih luas dibandingin yang dua unggulan itu. Letaknya juga nggak di parkiran, tapi di satu bagian bangunan khusus di lantai 2 (kgs). Cuma dari segi desain sih emang lebih indah yang Plangi atau Playan...

Btw, kalau ada yang tau soal kondisi musholla di tempat2 lain (terutama pusat perbelanjaan), harap sharing yah... dan kl bisa ama fotonya sekalian... henpun sekarang dah pada ada kameranya kan? =)
dedysubandi wrote on May 30, '05
bisnis sama ibadah sulit buat disatukan ,,,
tapi yang lebih parah lagi adalah sikap para pengusaha terhadap apresiasi beragama di negeri ini kalau saja mereka lebih menghargai bahwa jumlah umat islam di negeri ini adalah lebih banyak dan mayoritas tentu enggak begini kejadiannya
kantor pun kdg bisa begitu ko....u musholla adalah fasilitas nomor dua....
kangbayu wrote on May 30, '05
iwan95 said
cermin sekulerisasi yg berlebihan?
cermin kurang pedulinya pemerintah =)

lha sudah jelas kalau nature-nya orang bisnis, pasti ngejar profit setinggi mungkin. Makanya perlu ada campur tangan pihak berwajib buat mengubah "kesadaran" menjadi "keharusan".

Kasus lain; seberapa peduli pemerintah kita sama para fasilitas bagi penyandang cacat? Padahal di negara-negara maju, akses bagi mereka yang cacat ini sudah menjadi kewajiban bagi para pengembang gedung?
kangbayu wrote on May 30, '05
Jika pemerintah saja tidak mau dan tanggap mendengarkan suara mayoritas agama dalam negaranya, menurut kamu mungkin ngak kehidupan beragama yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia?

Logikanya: Jika pemimpin tidak menunjukan sikap menghormati sesama, kemungkinan besar anak buahnya akan melakukan hal yang sama.

Contoh : Budaya Korupsi dalam negara. Biasanya dimulai dari pucuk pimpinan baru ke jajaran staff nya.

Sedih gue baca jurnal ini......... sebagai sesama manusia dan umat beragama
Mungkin karena kerancuan.... gak ada petunjuk yang jelas siapa sih yang berwenang atau bertanggung-jawab dalam memelihara perkembangan ummat beragama di Indonesia?

Departemen Agama? Ahh masa... mereka kan ranking dua besar soal korup... seperti kata Menteri Pendidikan kita, pak Victor Lumunon.

Tapi jangan jadi sedih ah... bantuin mikir aja, dan ikutan memahami aja... siapa tau ntar ada kesempatan buat bikin perubahan =).
pratiwinurani wrote on May 31, '05
Kalo gue, jujur aja dah apriori ama musholla di Mall..oarng di perkantoran aja, menyedihkan.Jadi surprised banget gue baca ada mushola yg bagus.Sayang cuma di Jakarta yak
kangbayu wrote on May 31, '05
Kalo gue, jujur aja dah apriori ama musholla di Mall..oarng di perkantoran aja, menyedihkan.Jadi surprised banget gue baca ada mushola yg bagus.Sayang cuma di Jakarta yak
Di dua tempat itu emang bagus koq... ntar kapan2 ta' potretin deh...
wisatahati wrote on Oct 19, '05
Mungkin ini semua kembali kepada self-respect dari ummat Muslim sendiri yang kalau mau nonton membutuhkan kursi yang empuk, berani protes kalau AC kurang dingin, bisa protes kalau pesanan makanan terlalu asin, tapi nggak pernah protes kalau untuk urusan agama, mereka dinomorduakan...

Yes right, buat pengelola, kegiatan ini bukan suatu hal yang mendatangkan pemasukan secara langsung... tapi sama juga halnya dengan Kamar Kecil / Toilet (sori perbandingannya begini), sejak kapan toilet menghasilkan keuntungan? Mungkin cuma di beberapa tempat saja, seperti Blok M Plaza yang mengutip biaya bagi para pengguna kamar kecil... Tapi karena toilet wajib ada, maka tiap bangunan publik memilikinya, dan kondisinya pun harus bagus... Cuma pertokoan atau perkantoran kelas kacang lah yang berani membuat kamar kecil yang buruk, atau tidak terawat... 'tull?

Sedangkan bagi kaum muslim, sholat adalah kegiatan yang wajib dan berlangsung rutin... tapi kenapa koq pelayanannya tidak diutamakan? Restroom bertahtakan marmer dengan ruangan yang luas, sementara untuk sholat cukup di tangga darurat? Not good... Wajar kah jika untuk kebutuhan ini pihak pengusaha memberikan fasilitas yang baik? Tidak hanya lokasi darurat atau sekedar ada?

Bagaimanakah suara kita sebagai orang Muslim? Kalau kita selalu terima apa adanya, tentu diberi fasilitas macam apapun akan kita terima... Tapi kalau ummat Muslim berani bersuara, sehingga hal ini dianggap keharusan dan ditunjang oleh peraturan dari pihak berwenang, tentu akan beda ceritanya... Dimana suara Departemen Agama? MUI? Pemerintah?

Akahkah musholla selalu identik dengan tempat parkir, ruangan pengap, bau, dan tak terawat
saya sependapat, harusnya Mushola diletakkan di tempat yang baik, nyaman, karena kita akan menghadap Allah. masa' kita menghadap-Nya dalam kondisi bau, becek, panas, pengap, yang mungkin untuk ibadah saja rasanya mau cepat selesai. semoga langkah positif Plaza senayan dicontoh pengembang lainnya.
agustianwar wrote on Mar 17, '06
Tapi kalau ummat Muslim berani bersuara, sehingga hal ini dianggap keharusan dan ditunjang oleh peraturan dari pihak berwenang, tentu akan beda ceritanya... Dimana suara Departemen Agama? MUI? Pemerintah?
Kang, saya punya pengalaman 'lugu' dulu di tahun 1990 atau 91an, waktu ke perpustakaan CSIS, mau shalat, iseng nanya satpam apa ada mushalla di gedung ini atau dekat-dekat gedung. Kalau jawabannya, tidak ada, maaf, saya ok saja. Tapi jawabannya malah sangat kategoris, 'kalau yang Islam minta mushalla, yang lain minta gereja atau wihara...' Kurang lebih begitu... Ya, saya memang nanya lugu saja, di CSIS, waktu itu (orde baru).... Sekarang? Tapi saya dukung kalau tempat umum memiliki mushalla (yang pantas), kalau perlu diperdakan, atau setidaknya ada himbauan pemda setiap mendirikan bangunan publik... Salam, Anwar.
kangbayu wrote on Mar 18, '06, edited on Mar 18, '06
Tapi jawabannya malah sangat kategoris, 'kalau yang Islam minta mushalla, yang lain minta gereja atau wihara...' Kurang lebih begitu... Ya, saya memang nanya lugu saja, di CSIS, waktu itu (orde baru).... Sekarang? Tapi saya dukung kalau tempat umum memiliki mushalla (yang pantas), kalau perlu diperdakan, atau setidaknya ada himbauan pemda setiap mendirikan bangunan publik... Salam, Anwar.
Hahaha... level satpamnya aja udah peka berpolitik! Tapi ini pengalaman berharga koq, soalnya pertanyaan sejenis ini pasti akan muncul kelak, kala wacana mengenai musholla ini telah sampai ke level yang lebih kritis.

Ummat Islam memiliki kewajiban shalat lima waktu sehari semalam, yang mana sebagian waktu ini akan jatuh berbarengan dengan saat mereka sedang berkegiatan di tempat umum, sehingga muncul kebutuhan akan adanya sarana yang menunjang dan memadai untuk pelaksanaan ibadah ini. Ini berdasar pada common sense, kebutuhan yang nyata, jelas adanya, dan menempati kedudukan yang penting bagi para penganut Islam. Kebutuhan inilah yang kita perjuangkan, bukan karena semata-mata "gagah-gagahan" merasa sebagai agama mayoritas di Indonesia.

Kalaupun rekan-rekan agama lain merasa kebutuhan serupa ini juga ada, lalu berniat memperjuangkan pembukaan fasilitas ibadah di tempat2 umum, ya silakan saja kan? =)

Salam
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help