Posted by Bayu on Sep 30, '05 4:56 AM for everyone Setelah ngeliat beberapa siaran kriminalitas di TV, ternyata ada satu
elemen mendasar yang selalu tampak dalam setiap episode... apa coba?
Betul, jawabannya, POLISI.
Mo urusan perampokan keq, urusan pembunuhan keq, urusan narkoba,
prostitusi, urusan ricuh rumah tangga... selalu ada rekan Polisi yang
terlibat dalam kejadian tersebut, entah berseragam resmi maupun preman,
entah bertangan kosong maupun bersenjata senapan serbu otomatis...
Ngeliat fakat ini jadi mikir juga.... apakah keberadaan program siaran
TV semacam ini muncul justru karena 'titah' Kepolisian? Sebagai
salahsatu cara untuk mendongkrak citranya sekaligus membuat masyarakat
sadar kalau tenaga Polisi itu sangat mereka butuhkan? Saat Polisi punya
kebutuhan ini dan TV butuh rating, maka terciptalah win-win solution?
Ah... berkhayal... 
Tapi jadi inget jaman dulu... sebelum segala macem acara kriminalitas
ini muncul, pernah ada satu program acara either di RCTI atau SCTV yang
isinya soal Kriminalitas dan Peran Polisi... Jam tayangnya nanggung,
yaitu sekitar jam 11:30 siang di hari Jum'at... alias berbarengan
waktunya dengan waktu Jum'atan... Bermula dari sanakah?
 | Ah tapi kadang kalo nonton acara kriminil gituan..suka susah bedain mana bandit mana polisinya.Kadang keliatan kalo disitu yg diliatin "bandit" semua,cuma beda outfit doang :p |
 | anomk wrote on Sep 30, '05 yg kocak, manusia indonesia ga boleh makan siang. krn jam tayang infokriminal yg memuat tumpahan darah, buraian usus, dan berbagai jenis daging dan serpihan otak adalah jam makan siang.
Aku kangen departemen penerangan.. |
 | dulu yg pertama itu patroli: indosiar.
all of it is sick show.... |
 | mau tau apa? pindah aja ke station tv...  mungkin pengalamanku sedikit memberi bocoran teka teki dari uthe itu. :P berita kriminal biasanya bermula dari kantor polisi, karena instansi ini menampung semua laporan, sekaligus melakukan penyidikan dan pengungkapan suatu kasus kriminal.
maka, wajar kalau wartawan kriminal, termasuk televisi, melakukan pendekatan dengan pihak kepolisian. maksudnya, biar dapat berita terhangat, misalnya kalau ada operasi atau penggrebekan.
wajar pula, kalau wartawan terkesan membela polisi (misalnya penembakan tersangka selalu dibilang "karena mencoba kabur maka petugas terpaksa melumpuhkan dengan timah panas"). ingat, persaingan berita kriminal di televisi sedemikian ketatnya. bukan begitu the? wah, jadi kepanjangan. :P |
 | pernah tahu? apakah benar benar itu penjahat kabur lalu di tembak ? (banyak luka tembak yang dari arah depan kaki, dengan sudut tajam arah dari agak atas, artinya tembakan tersebut dari jarak dekat dan dari depan, apa para penjahat larinya mundur?)
pernah tahu banyak kasus semacam itu apa selalu benar benar ada tindakan kriminal?
pernah tahu? bahwa pernah ada kebijakan tak resmi untuk melakukan tembak di tempat (kecuali untuk narkoba, khawatir kalau bekingnya penggede)
pernah tahu bahwa atas alasan dugaan tindak kriminal besar maupun kecil, tak boleh ada hukuman sebelum ada vonis pengadilan (ini kesepakatan negara negara beradab seluruh dunia). Penggunaan "shock therapy" yang intens untuk membuat kapok tidak pernah dapat menjadi pertimbangan di mana pun, karena ini berarti sistema hukum di anggap tidak memadai dan tidak berlaku, landasan hukum yang berdaulat dan tegak adalah yang membedakan antara sebuah negara dengan hukum rimba, kecuali kalau hukum rimba memang adalah pilihan.
Menurunkan angka kriminalitas tak dapat dilakukan dengan memain mainkan (besarkan dan kecilkan,shock therapy) tingkat pukulan terhadap pelanggarnya di luar hukum. Menjadi kriminal adalah cita cita terakhir kebanyakan orang, bagi yang pernah lama akrab di dunia hitam (bukan melihat dari jauh) akan sangat mengerti, bahwa jadi pencoleng itu bukan cita cita, dan bukan jalan pintas gampang, perbandingan resiko dan penghasilannya sangat gak imbang (jauh lebih gampang jadi calo dan koruptor anggaran kelas menengah/kakap). Tetapi selama lapangan pekerjaan terus menyempit drastis karena proses pemiskinan, maka tingkat kriminalitas akan tetap meningkat.
banyak fakta fakta lapangan yang tak terrekam secara resmi, yang bisa didapat kalau anda akrab dengan para wartawan liputan kriminal, para preman, dan para polisi di saat mereka sedang tidak tugas.
|
 | anomk wrote on Sep 30, '05 Menurunkan angka kriminalitas tak dapat dilakukan dengan memain mainkan (besarkan dan kecilkan,shock therapy) tingkat pukulan terhadap pelanggarnya di luar hukum. Menjadi kriminal adalah cita cita terakhir kebanyakan orang, bagi yang pernah lama akrab di dunia hitam (bukan melihat dari jauh) akan sangat mengerti, bahwa jadi pencoleng itu bukan cita cita, dan bukan jalan pintas gampang, perbandingan resiko dan penghasilannya sangat gak imbang (jauh lebih gampang jadi calo dan koruptor anggaran kelas menengah/kakap). Tetapi selama lapangan pekerjaan terus menyempit drastis karena proses pemiskinan, maka tingkat kriminalitas akan tetap meningkat.  Nice! Thanks, man! |
| banyak fakta fakta lapangan yang tak terrekam secara resmi,  ... jadi inget "petrus" jaman dulu itu. (tahun berapa ya ???) aku sempet diceritain pak de yg tinggal di wonosari / parangtritis .... serem ih |
| |