Mungkin diantara sekian banyaknya pusat perbelanjaan dengan usia diatas
sepuluh tahun, PIM (Pondok Indah Mall) adalah satu-satunya tempat yang
berhasil mempertahankan reputasinya sebagai tempat nongkrong yang gaul.
Walaupun sempat mengalami masa-masa lesu seiring berdirinya
plaza/mall/square baru, namun pada kenyataannya tempat ini masih
merupakan salahsatu pilihan utama warga Jakarta untuk "seeing and be
seen", atau sekedar menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.
Fasilitas musholla di PIM ini sebenarnya terbagi menjadi dua lokasi;
yang pertama di lantai satu, diujung koridor kearah toilet dan lift
barang. Yang kedua di lantai dua, bersebelahan dengan gerai Spaghetti
House dan Allesandro Nanini, juga diujung koridor kearah WC. Karena
letak musholla kedua ini lebih tersembunyi maka sebagian besar
pengunjung lebih familiar dengan musholla yang pertama. Hal ini nampak
dari berbedanya tingkat penuh kedua musholla ini saat waktu sholat tiba.
Musholla di lantai satu memiliki luas yang kecil, terlalu kecil
dibandingkan dengan membludaknya pemakai fasilitas pada saat waktu
sholat tiba. Ruangan yang hanya cukup menampung sekitar tiga shaf
(baris) ini seringkali mengakibatkan tercampurnya shaf pria dan wanita
dalam satu baris, padahal idealnya terjadi pemisahan yang jelas.
Kasus becek dan licin pada lantai ubin pun kadangkala terjadi. Namun
karena sebagian besar ruangan ini memakai alas karpet maka keadaannya
tidaklah terlalu parah. Tempat wudhu yang bercampur antara pria dan
wanita juga meningkatkan kemungkinan bersentuhannya pria dan wanita,
baik sebelum ataupun setelah berwudhu. Hingga sekitar tahun 2004,
kondisi musholla ini masih termasuk standar, dengan tempat wudhu yang
cukup seadanya. Namun setelah mengalami perombakan kondisinya jadi
terlihat lebih baik dan layak, hanya saja tidak ada upaya berarti dalam
hal keamanan penyimpanan alas kaki.
Di musholla PIM ini berkali-kali saya saksikan pengunjung (entah
kenapa selalu pria) yang celingukan mencari alas kakinya yang raib.
Setelah dilaporkan pada pihak keamanan pun, mereka hanya bisa
bersopan-santun sambil menampilkan wajah menyesal. Sebenarnya didekat
pintu masuk terdapat sebuah lemari locker, hanya saja kegunaannya tidak
jelas. Kalaupun memang untuk penitipan sepatu, maka jumlahnya sangat
tidak memadai jika dibandingkan dengan membludaknya pengguna musholla
pada waktu sholat.
Adapun halnya dengan musholla kedua yang terletak dilantai dua,
kondisinya justru lebih baik. Walaupun luas ruangan tidak begitu banyak
berbeda namun kadangkala ditempat ini disediakan jasa penitipan alas
kaki plus penjaga, atau locker yang benar-benar berfungsi. Sayangnya, kedua tempat
tersebut sama-sama tidak menyediakan fasilitas menunggu atau tempat
duduk untuk melepas/memakai alas kaki. Padahal tidak semua orang bisa
nyaman duduk atau jongkok dilantai untuk memakai sepatu, atau pandai berakrobat
berdiri dengan satu kaki.
Kebersihan: B
Kerapian: B
Luas: D- (kecil banget, pria & wanita satu ruang)
Kenyamanan: C+ (cukup dingin)
Keamanan: D (tak ada penitipan alas kaki, sering hilang)
Ruang Tunggu: D+ (tak ada bangku tempat duduk)
Look & Feel: B-
On overall:
