Posted by Bayu on Oct 16, '05 1:56 AM for everyone
Salahsatu hal yang pengen gw lakuin adalah kembali ke masa silam... terutama masa-masa SMP dulu dimana gw ngerasa banyak banget hal yang nggak beres... Kekagetan masuk suatu sekolah negeri, walaupun sekolah unggulan, berbuntut jadi tekanan batin. Kalau di SD dulu nggak ada premanisme bisa idup, sementara di SMP ini mungkin karena muridnya lebih banyak jadinya kontrol juga lebih (sangat) longgar... akibatnya? Intimidasi dan pelecahan kerap diterima oleh mereka yang nggak masuk kategori "pemilik" sekolah (baca: geng). Gw sendiri karena termasuk anak baek yang mudah bertemen, jadinya masuk dalam grey area; kenal deket dengan beberapa pentolan geng, sekaligus jadinya dapet "nomer anggota", tapi nggak pernah ngikut-ngikut kegiatan mereka.

Topeng yang bisa gw tampilin waktu itu adalah: "anak baek, jangan ganggu".

Tapi teuteup itu nggak menjamin keterbebasan sepenuhnya dari premanisme, misalnya kala senior pengen mabok dan minta sumbangan duit, atau ada anak geng aktif yang ngerasa nggak boleh dibercandain sama murid dari "kasta" lebih rendah macem gue. Tapi on overall, gw baek-baek aja dan survive untuk akhirnya bisa masuk ke sekolah SMA favorit dan sedikit berujar, "Oh, si anu nggak berhasil keterima di SMA xxx?".

Masa-masa ini gw ngerasa banyak helpless... di kelas gak jago2 amat... olahraga very clumsy... urusan cewek apalagi... temen-temen SD banyak yang lantas nggak kenal karena mereka ngerasa sekarang lebih cool, dll.

Kalau gw bisa balik ke masa itu dengan skill2 gw sekarang, oh tentu kasusnya akan berbeda... tapi ya pantes aja dong... punya pengalaman 16 taun lebihnya dibandingin anak SMP rata-rata... surely would make a difference... hehehehehe

Hal lain yang kepikiran tentunya adalah balas dendam... Hmm... ada diantara begundal di masa silam itu yang mau kumite ama gw sekarang? Mari? Mungkin dengan dikasi pelajaran sekarang, mereka akan mendidik anak mereka supaya nggak sembarangan menciptakan kebencian di masa mereka masih kecil?

Tapi hidup ngejar balas dendam adalah tema film kungfu yang laris... bukan cara hidup yang baik. Dan lagi kalaupun gw bisa dikasi pilihan buat bisa kembali ke masa SMP, gw akan berpikir seribu kali dulu... Soalnya gw takut malah nantinya nggak keterima kuliah di Senirupa...

Tapi kalaupun ternyata kita bisa memilih buat kembali ke masa silam, adakah jaminan kasusnya akan seperti film "Quantum Leap"?, atau kasusnya bakalan kayak "Memento" yang nggak punya ingatan sama sekali akan masa sebelum nya? Alias kembali ke SMP ya dengan pikiran anak SMP? (apes bangedh).

Diaplikasikan, kalau gw bisa menilai kesalahan gw di masa silam, gak bisakah gw lantas terapkan hasil analisanya buat kehidupan gw dimasa sekarang?
  • Kalau dulu banyak diintimidasi, bukankah itu reminder supaya tak henti membuat diri lebih kuat?
  • Kalau dulu menurun prestasi belajarnya karena stress, bukankah itu reminder supaya sekarang harus lebih bisa ngehanlde stress?
  • Kalau dulu kurang berani karena kurang pede, bukankah itu reminder supaya terus ningkatin potensi supaya selalu pede?
  • Kalau dulu banyak melewatkan kesempatan emas karena takut, padahal saingan gak hebat2 amat, bukankah itu reminder bahwa rasa takut itu cuma ilusi yang akan menghambat perkembangan?
Di film "The Time Machine", Über-Morlock, si pemimpin ras super di masa depan berujar, bahwa manusia sebenarnya selalu memiliki "mesin waktu"nya sendiri-sendiri... yang kita pergunakan untuk berkelana ke masa lalu kita sebut "memory", sedangkan yang kita pakai untuk menjelajah ke masa depan kita sebut "dreams".

Jadi sebenarnya, pertanyaan yang harus terlontar dalam usaha menembus waktu bukanlah "Teknologi apa yang bisa dipakai untuk menciptakan gerbang waktu?", namun...

"Bisakah kita bercermin dari masa lalu kita, untuk memperbaiki kehidupan di masa kini?", dan

"Bisakah kita bercermin pada impian kita, untuk menciptakan masa depan yang lebih baik?"

Agaknya itulah aplikasi "perjalanan menembus waktu" yang paling realistis bagi seorang manusia...

foto:http://www.theory.caltech.edu/people/patricia/causa.html


11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
srhida wrote on Oct 16, '05
Hiks.. jadi ingat masa2 awal di SD.. dikompasin, disuruh ngerjain pe-er anak - anak lain.. tapi akhirnya aku lawan juga. Pelajaran terpenting: jangan takut berantem, apalagi ditempat rame, sebentar aja paling juga ada yang misah, kok..

kangbayu wrote on Oct 16, '05
srhida said
jadi ingat masa2 awal di SD.. dikompasin, disuruh ngerjain pe-er anak - anak lain..
kalo dipikir-pikir... anak segede itu... umur 7-8 taun kan? udah belajar kepribadian centeng dari mana ya? pasti dari rumah dan lingkungannya kan?
srhida wrote on Oct 16, '05
udah belajar kepribadian centeng dari mana ya?
menurutku juga, dari rumah, dari orang tua.. dari kekerasan yang dilihat anak di rumah, atau tekanan yang berlebihan dari rumah sehingga anak mencari pelepasannya di luar (terhadap teman yang kelihatan lemah).
kangbayu wrote on Oct 16, '05
srhida said
atau tekanan yang berlebihan dari rumah sehingga anak mencari pelepasannya di luar (terhadap teman yang kelihatan lemah).
kasian... masih kecil udah kena stress...
tapi di jepang juga anak-anak SD dah pada bisa bunuh diri ya? mengerikan...
agungks wrote on Oct 16, '05
yang kita pergunakan untuk berkelana ke masa lalu kita sebut "memory", sedangkan yang kita pakai untuk menjelajah ke masa depan kita sebut "dreams".
untuk kembali ke masa lalu di samping memory, juga diperlukan ilmu, kang....seperti sejarah, arkeologi, dan astronomy
Terima kasih untuk inspiring article-nya
kangbayu wrote on Oct 17, '05
agungks said
untuk kembali ke masa lalu di samping memory, juga diperlukan ilmu, kang....seperti sejarah, arkeologi, dan astronomy
Terima kasih untuk inspiring article-nya
Hehehe... betul gung, sejarah sendiri adalah bentuk inventarisasi kita terhadap perjalanan ke masa silam (menelusuri sejarah), arkeologi juga dibangun dengan banyak melakukan perjalanan ke masa silam (mempelajari fosil dan artefak). Dari situ lantas kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa mendatang... time traveling lagi tuh... =)

Semoga kita bisa saling membuka pemikiran baru...
tianarief wrote on Oct 17, '05
meski aku terkadang menyesali (yang aku lakukan di) masa lalu, ternyata setelah dipikir-pikir, yang kulakukan dulu itulah yang terbaik.tinggal sekarang kita pelajari dan ambil hikmahnya.

perjalanan menembus waktu bisa saja dilakukan, dengan mengajak sukma kita berkelana lewat renungan, atau tanpa sengaja dibawa mimpi. jadi, sangat dimungkinkan. tapi kalau perjalanan ke masa depan? hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.
anomk wrote on Oct 17, '05
Hati2 jangan terlalu berani juga..
Nanti nubruk tembok kayak gue.. hehehe..
Kaleum bay, kita kan tandeman terus untuk menghajar aral rintangan di depan..!
kangbayu wrote on Oct 17, '05
ternyata setelah dipikir-pikir, yang kulakukan dulu itulah yang terbaik.tinggal sekarang kita pelajari dan ambil hikmahnya.
Setujuuuuuhhh... walau kadang saya ngerasa belum terbaik karena (nyadar) dulu males bangedh jadinya masih suka pengen revenge... Tapi akhirnya sih sama... kita pelajari dan ambil hikmahnya =)
kangbayu wrote on Oct 17, '05
anomk said
Hati2 jangan terlalu berani juga..
Nanti nubruk tembok kayak gue.. hehehe..
Kaleum bay, kita kan tandeman terus untuk menghajar aral rintangan di depan..!
HAHAHAHAHA!

Betul sekali broer, lagipula apalah artinya idup kalau gak saling bagi dan belajar dari pengalaman orang laen? Apalagi antara yang mayan kontras macem elo dan gw =D
agneswollny wrote on Oct 17, '05
Kalau dulu banyak melewatkan kesempatan emas karena takut, padahal saingan gak hebat2 amat, bukankah itu reminder bahwa rasa takut itu cuma ilusi yang akan menghambat perkembangan?
yeeaah... itulah proses belajar Bayu.
Aku harus "Belajar Hidup" kata bapakku.
Saya pikir keputusan-keputusan yang kita buat di masa lalu (termasuk penilaian "salah benarnya") merupakan proses belajar / perkembangan kepribadian kita.
Hebat Bayu.... maju terus ... belajar terus.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help