Salahsatu hal yang pengen gw lakuin adalah kembali ke masa silam...
terutama masa-masa SMP dulu dimana gw ngerasa banyak banget hal yang
nggak beres... Kekagetan masuk suatu sekolah negeri, walaupun sekolah
unggulan, berbuntut jadi tekanan batin. Kalau di SD dulu nggak ada
premanisme bisa idup, sementara di SMP ini mungkin karena muridnya
lebih banyak jadinya kontrol juga lebih (sangat) longgar... akibatnya?
Intimidasi dan pelecahan kerap diterima oleh mereka yang nggak masuk
kategori "pemilik" sekolah (baca: geng). Gw sendiri karena termasuk
anak baek yang mudah bertemen, jadinya masuk dalam grey area; kenal
deket dengan beberapa pentolan geng, sekaligus jadinya dapet "nomer
anggota", tapi nggak pernah ngikut-ngikut kegiatan mereka.
Topeng yang bisa gw tampilin waktu itu adalah: "anak baek, jangan ganggu".
Tapi teuteup itu nggak menjamin keterbebasan sepenuhnya dari
premanisme, misalnya kala senior pengen mabok dan minta sumbangan duit,
atau ada anak geng aktif yang ngerasa nggak boleh dibercandain sama
murid dari "kasta" lebih rendah macem gue. Tapi on overall, gw
baek-baek aja dan survive untuk akhirnya bisa masuk ke sekolah SMA
favorit dan sedikit berujar, "Oh, si anu nggak berhasil keterima di SMA
xxx?".
Masa-masa ini gw ngerasa banyak helpless... di kelas gak jago2 amat...
olahraga very clumsy... urusan cewek apalagi... temen-temen SD banyak
yang lantas nggak kenal karena mereka ngerasa sekarang lebih cool, dll.
Kalau gw bisa balik ke masa itu dengan skill2 gw sekarang, oh tentu
kasusnya akan berbeda... tapi ya pantes aja dong... punya pengalaman 16
taun lebihnya dibandingin anak SMP rata-rata... surely would make a
difference... hehehehehe
Hal lain yang kepikiran tentunya adalah balas dendam... Hmm... ada
diantara begundal di masa silam itu yang mau kumite ama gw sekarang?
Mari? Mungkin dengan dikasi pelajaran sekarang, mereka akan mendidik
anak mereka supaya nggak sembarangan menciptakan kebencian di masa
mereka masih kecil?
Tapi hidup ngejar balas dendam adalah tema film kungfu yang laris...
bukan cara hidup yang baik. Dan lagi kalaupun gw bisa dikasi pilihan
buat bisa kembali ke masa SMP, gw akan berpikir seribu kali dulu...
Soalnya gw takut malah nantinya nggak keterima kuliah di Senirupa...
Tapi kalaupun ternyata kita bisa memilih buat kembali ke masa silam,
adakah jaminan kasusnya akan seperti film "Quantum Leap"?, atau
kasusnya bakalan kayak "Memento" yang nggak punya ingatan sama sekali
akan masa sebelum nya? Alias kembali ke SMP ya dengan pikiran anak SMP?
(apes bangedh).
Diaplikasikan, kalau gw bisa menilai kesalahan gw di masa silam, gak
bisakah gw lantas terapkan hasil analisanya buat kehidupan gw dimasa
sekarang?
- Kalau dulu banyak diintimidasi, bukankah itu reminder supaya tak henti membuat diri lebih kuat?
- Kalau dulu menurun prestasi belajarnya karena stress, bukankah itu reminder supaya sekarang harus lebih bisa ngehanlde stress?
- Kalau dulu kurang berani karena kurang pede, bukankah itu reminder supaya terus ningkatin potensi supaya selalu pede?
- Kalau dulu banyak melewatkan kesempatan emas karena takut,
padahal saingan gak hebat2 amat, bukankah itu reminder bahwa rasa takut
itu cuma ilusi yang akan menghambat perkembangan?
Di film "
The Time Machine", Über-Morlock,
si pemimpin ras super di masa depan berujar, bahwa manusia sebenarnya
selalu memiliki "mesin waktu"nya sendiri-sendiri... yang kita
pergunakan untuk berkelana ke masa lalu kita sebut "memory", sedangkan
yang kita pakai untuk menjelajah ke masa depan kita sebut "dreams".
Jadi sebenarnya, pertanyaan yang harus terlontar dalam usaha menembus
waktu bukanlah "Teknologi apa yang bisa dipakai untuk menciptakan
gerbang waktu?", namun...
"Bisakah kita bercermin dari masa lalu kita, untuk memperbaiki kehidupan di masa kini?", dan
"Bisakah kita bercermin pada impian kita, untuk menciptakan masa depan yang lebih baik?"
Agaknya itulah aplikasi "perjalanan menembus waktu" yang paling realistis bagi seorang manusia...
foto:http://www.theory.caltech.edu/people/patricia/causa.html