Pada masa awal dibukanya sekitar tahun 2003, selama beberapa waktu
lamanya mall ini kurang begitu ramai dan masih terdapat banyak lot yang
kosong. Bandingkan sekarang, terutama saat weekend. Hal ini
kelihatannya tak lepas dari pengaruh dibukanya cabang Carrefour yang
menempati gedung berseberangan dengan mall ini.
Rangkaian tempat makan yang menempati nyaris seluruh lantai atas,
ternyata masih belum cukup karena beberapa restoran harus rela
menempati lantai dua, diantara toko-toko dari aneka ragam jenis. Lot
kosong dari restoran-restoran yang kurang lakupun, langsung digantikan
dengan nama-nama besar dari restoran yang lebih ngetop, jadi
kelihatannya bisnis di tempat ini memang cukup maju pesat. Namun
sayangnya dibalik semua kemajuan ini, sebagaimana juga yang terjadi
pada mall Ambassador yang terangkat popularitasnya oleh Carrefour,
musholla di tempat ini merupakan salahsatu dari musholla dengan kondisi
yang menyedihkan.
Setelah melewati daerah toilet di lantai dasar, maka begitu memasuki
gang yang menikung akan segera tercium bau kurang sedap; bau busuk dari
lembab, ciri khas musholla yang berada didaerah pertokoan umum.
Untuk sarana berwudhu, terdapat dua keran air yang dipergunakan bersama
antara pria dan wanita. Keran yang dipakai adalah yang berleher panjang
sehingga lebih leluasa untuk berwudhu. Sayangnya, selain dari masalah
tak terjaganya aurat wanita dari pandangan, juga besarnya kemungkinan
bersentuhan, kelihatannya tempat wudhu ini dipergunakan juga untuk
mencuci piring kotor (atau sebenarnya memang tempat cuci piring yang
sekaligus tempat wudhu?). Hal ini terlihat dari sesekali ditemukannya
sisa makanan di pinggiran bak, serta area-area hitam mirip fungus
(jamur) di dasar bak.
Area sholatnya sendiri cukup sempit, mungkin cukup hanya untuk tiga
atau empat orang saja. Bagi kaum wanita, tersedia banyak musholla yang
bisa dipinjam, namun dengan kondisi tempat sholat yang kurang lebih
sama. Udara tidak terlalu panas, atau terlalu pengap, namun lembab, dan
agak berbau tak sedap. Tidak terlihat adanya exhaust AC ditempat ini,
jadi kiranya memang tidak ada sistem penghawaan khusus yang dipakai.
Di daerah luar berdekatan dengan tempat wudhu terdapat rak penyimpanan sepatu, namun tanpa penjaga maupun tempat duduk.
Memang dalam penyelenggaraan ibadah sholat, terdapat banyak kemudahan
termasuk dalam hal standar fasilitas. Misalnya, cukup beralaskan koran
dan tayamum (jika sulit mendapatkan air) pun sudah boleh. Di beberapa
ilustrasipun kita sering melihat bahwa di luar negeri, orang bisa saja
sholat ditengah-tengah toko, di selasar diantara rak, tanpa alas. Di
banyak gedung perkantoranpun kita tahu kalau para staff seringkali
sholat di pelataran tangga darurat. Namun untuk suatu fasilitas yang
memang diperuntukkan untuk kegiatan ini, bukankah lebih baik kalau
dibuat dengan serius?
Kebersihan: D+
Kerapian: C--
Luas: D
Kenyamanan: C- (nggak terlalu panas atau pengap)
Keamanan: D+ (ada penyimpanan alas kaki, tak ada penjaga)
Ruang Tunggu: D-
Look & Feel: D
On overall: