Posted by Bayu on Apr 16, '06 2:51 PM for everyone 
Entah karena benci, atau karena takut, kadangkala orang suka jadi
hostile. Kembali ke postingan sebelumnya soal lapisan kulit persepsi...
si dog whisperer bilang sama Oprah kalau kebiasaan anjingnya untuk
menyerang anjing lain, sebenernya muncul dari rasa tidak nyaman si anjing saat berjumpa dengan anjing lainnya.
Dan dalam kasus ini, si anjing memilih untuk jadi hostile... berupaya
mengusir si permasalahan sehingga nggak perlu dia hadapi.
Mungkin sama juga kasusnya dengan diri kita... alih-alih deal with the uncomfortable,
kadangkala kita malah nunjukin sifat agresif, sekedar buat menutupi
rasa nggak nyaman kita tersebut. Daripada harus menghadapi permasalahan
yang bakalan bikin gak enak... mendingan si sumber permasalahannya itu
yang dikerdilkan, hingga ukuran akhirnya cukup mudah buat ditelan...
atau injek-injek sampe rata sekalian dan jadi bukan ancaman samasekali.
Makanya sebenernya, bisa dibilang
bahwa rata-rata bully, tukang tindas, bersikap demikian justru karena
demi menyembunyikan rasa khawatirnya. Soalnya beda sama real "tough
guy", mereka biasanya kalem dan controlled, sampe tiba saatnya buat
"unleash the hell".
Ini juga yang seringkali saya amati dalam berdiskusi di dunia maya...
banyak orang yang cenderung bukannya berdiskusi tapi getting hostile at
each-other... mungkin karena merasa integrasi dirinya diusik, mungkin
merasa kepercayaannya sedang berusaha digoyahkan, mungkin takut
mengakui lawan diskusinya benar, mungkin karena ego... dan serangkaian
ketakutan dan kekhawatiran lainnya.
Memang nggak bisa dipukul rata... tapi saya liat sebagian besarnya bisa
dikelompokkan kesana. Terdesak diskusi lantas calling names? Nyerang
pendiskusi, bukannya materi diskusinya? Character Assasination?
Keliatannya di tiap diskusi hangat selalu ada aja orang-orang yang
bertindak sedemikian.
Terkait dengan menghadapi para hostile ini, dan terhadap pertempuran online secara general, maka secara pribadi, saya punya tiga
pilihan; cuekin, lawan, atau bimbing. Yang pertama gampang, tinggal
tutup mata dan click close window atau browse ke halaman lain... Yang
dua berikutnya rada rumit... untuk bisa melawan, arsenal
persenjataannya harus lengkap; fakta, logika, POV, kecermatan, dan
sedikit kemampuan untuk menduga2 mengenai lawan diskusi kita. Yang
menarik adalah saat lawan diskusi kemudian lengah atau terdesak, dan
kemudian pertahanannya turun... disini kita bisa pilih untuk
"membunuh".... atau mengupayakan hasil akhir yang lebih bijak... yaitu
pilihan ketiga, membimbing, dimana kita kurang lebihnya "mengconvert"
pemahaman si lawan diskusi. Tapi jarang bisa sampe ke titik ini, jarang
ada orang yang mau mengakui terang2an kalau dia salah... atau bahwa ia
merasa si lawan diskusi sebenarnya memiliki point2 yang ia setujui.
Kalau karena pertimbangan terakhir tersebut lantas kita menerapkan
bahwa tiap pengacau itu harus "dibunuh"... bisa jadi kita memperoleh
kepuasan bathin dari merasa menang, tapi jangan lupa... dampak sampingnya adalah anda bisa juga memancing
permusuhan berlarut-larut... hal yang pasti akan mengganggu jika tidak
sekarang, mungkin dimasa-masa mendatang.
Walaupun tetep, terkadang, ada point penting yang harus ditekankan sehingga ada saat-saat dimana ungkapan ini berlaku...
"One enemy is too many... but some few are unavoidable."
Just pick ur battle wisely lah...
foto dari: http://www.istockphoto.com/

| Makanya sebenernya, bisa dibilang bahwa rata-rata bully, tukang tindas, bersikap demikian justru karena demi menyembunyikan rasa khawatirnya.  Apa itu juga sebabnya maka orang mengambil tindakan "kekerasan" terhadap majalah Playboy dan berteriak-teriak tentang pornografi malah sebelum majalah ini muncul di emperan... hehehe |
 | Yang pertama gampang, tinggal tutup mata dan click close window atau browse ke halaman lain...  Aku pribadi hampir selalu pilih opsi ini. Gak berarti menurutku ini paling baik. Tapi,..mungkin berhubungan juga sama karakter ya,...aku kurang konfrontatif. Masalahnya kalo kita kurang lihai berkonfrontasi, akhirnya kita bukan membantu sumbang pikiran ke masalah yang ada, kita malahan sibuk mempertahankan egoisme diri yang gak jelas. Satu hal lagi, bagiku dunia MAYA adalah OASIS, dari kehidupan NYATA yang HARUS dihadapi dan di dunia nyata gak ada pilihan CLOSE/QUIT karena emang gak boleh kalau kita adalah manusia yang bertanggung jawab. Jadi,..selama di layar komputer masi ada opsi berbentuk silang alias menutup window, kalau liat hostility & battle , itu pilihanku. Besides....sangat jarang masalah bisa diatasi kalau emosi sudah 'take over'.
|
 | bagus nih solusi2nya
kalo aku sendiri... lebih cenderung ke cuekin (ignorance is a bliss), tunggu sampe tenang, baru diajak ngomong lagi.... (kalo masih mau diajak ngomong, hehehe)
nurutku, marah = ketidakmampuan untuk mengatasi permasalahan |
 | Yang pertama gampang, tinggal tutup mata dan click close window atau browse ke halaman lain...  Nambah lagi aaaah,...mumpung Kang Bayu nya belum komen... :-) Seperti aku tulis di reply sebelumnya, emang memilih sikap pertama, gak berarti itu paling bener. Guna forum komunikasi emang buat KOMUNIKASI, tapi ya itu tadi,..kalo belon bisa berkomunikasi secara DEWASA dan TANPA EMOSI,...kalo AKU sih...gak dulu deh ikut ikutan, nanti malah nambah dosa, apalagi kalo sampe ada ucapan ucapan yang MENYINGGUNG dan 'calling names' gitu, nyesel nanti... Apalagi, ..kita ini khan dari latar belakang yang beragam jadi ya otomatis cara pandang juga beragam pula dan...satu lagi nih....kalo online,...rada sulitnya kita kehilangan faktor INTONASI dan EKSPRESI dari KOMUNIKASI yang terjadi...yang ...apabila dilakukan secara nyata,..mungkin dapat menetralisir keadaan. Salam...ah...jadi gak enak sama Kang Bayu... meni ceriwis pisan nyak ? pararunten,....because I love peace dah....hihihi |
 | gw juga pernah bersikap hostile dalam sebuah reply2an yang panjang, gw secara terang2an menyerang dengan mengeluarkan kata2 yang sarkastis... sekarang, kalo gw pikir2 lagi.. kenapa juga gw ladenin... hehehe...
satu yg gw sadari, di dunia maya inipun, ternyata susah buat nahan emosi : (
btw mas, apa jurnal ini dibikin regarding banyaknya debat kusir soal playboy dan fpi? just a hunch : ) |
| Memang instinct dasar manusia tuh ada: fight or flight... cuma semakin kita modern, fight or flight-nya lebih canggih.
Kalau dulu memang antara berantem atau melarikan diri, tapi sekarang misalnya di meja rapat, bisa jadi yang diem aja atau malah yang menyerang bertubi-tubi.
Kalau online juga sama, cuma kalau online pertanggung jawabannya sedikit, beda dengan dunia nyata. People say what they like on the net, but that does not make it true. Bisa aja hanya sebatas memancing kontroversi or just for the sake of it, he may not even believe his own story, but who cares.
Balik lagi, persepsi manusia beda-beda dan kita ngga bisa juga seenak perut menyalahkan orang tersebut. Mungkin saja memang seperti itu norma dan etik mereka berkembang. Kita juga ngga bisa bilang bahwa kita 100% benar. Padahal dunia ini sangatlah relatif
Sometimes, we also do the same things as the ones we damned... except in a different context |
 | iya aku pernah kyk ini. punya temen yg cuma buat berdebat aja....hahahahhaha! untungnya debatnya itu berguna utk bikin otak gw yg udh lama beku sejak wisuda, jd lbh kritis liat masalah. even i really thankful my condition born in muslim and in Indonesia...hehehehehe! kl sm temenku yg satu itu gak bisa lgs diignore abis masalah yg didiskusikan sgt sensitif yg bikin hati gw tergelitik utk respon opininya!
ada gunanya kok utk konfrontasi sedikit, uji nyaji jg dan pemikiran kita...hehehehehe!
|
 | sampai saat ini saya masih memoderatori satu millist yang "rusuh". istilah kata, pokoknya kalau posting ga pake maki anj**g b*bi (maap-maap) kayak ga senang.
saya pernah posting tiga jurus untuk mengatasi : satu, belaga jadi jet lee --> tarik napas & konsentrasi supaya bisa milah mana isi dan mana 'kembangan' (anggep aja maki-makian cuma kembang pengharum)
dua, babat di isi argumennya, dan... silahkan pilih, mau ikut 'ngembangin' atau tidak. lebih baik sih tidak, supaya suasana ga tambah panas, tapi kalau milih bales 'menyapa' dikit-dikit sih terserah. yang penting isi argumennya kudu ada dulu. jangan cuma makian doang.
tiga, kalau kalah set, merasa diri ga punya kemampuan diskusi, tapi ga bisa nahan esmosi, ya sudah.. jalan-jalan aja ke kebon binatang dan ingat-ingat semua nama margasatwa di sana, bole juga dikombinasi sama (ga usah mikir jauh-jauh) anggota-anggota tubuh sendiri, buat bekel maki-makian doang.
tapi ya terima resiko kalau 'maki-maki session' ga ada berentinya (sampe salah satu capek), atau pandangan orang (sama situ) jadi mines.
yaah namanya idup kudu berani nanggung resiko. hehehe... |
| ya sih, kalo keburu di konfrontir  I found the most effective way is to treat everybody with respect, even though they have stepped and spit on you and even treat you like _ _ _ _ ...
Bagaimana cara menyusun kata-kata jadi itu tidak mengaju kepada orangnya secara personal dan juga menyampaikannya secara sopan. Kalau orangnya masih waras, dia akan sadar dan balik ke sisi manusia-nya. Kalau kebalikannya, akhirnya dia ngomong sendiri dan akan kebingungan.
Don't drop to their level... educate them to your level. Mungkin orang2 tersebut antara sok tahu atau memang tahu tapi sombong akan pengetahuannya dan ingin merendahkan yang lain yang dia anggap tidak tahu apa2. Kita tidak perlu menjadi seorang super genius untuk mengatasi orang seperti ini.
Tinggal didengarkan saja, lontarkan pertanyaan2 secara sopan dan memang tulus ingin tahu. Lalu lontarkan pertanyaan yang tidak mudah terjawab oleh exact science. Saya sering lontarkan pertanyaan2 filosofis yang tidak mengaju ke sebuah agama tertentu. Jatuhnya kalau dia mengerti dia akan menanggapi dan menjadi lebih sopan, kalau tidak dia akan ignore saya sama sekali, karena taraf pemikiran dia tidak sampai.
Education through conversation |
 | paanteessaaaaaannnn reply2annya ada hawa2 "veteran" =D hehehehehe  hehe.. gak veteran banget kali yak... cuman kalau ikut beberapa millist "rusuh" dalam kurun waktu tertentu, pelan-pelan bisa kelatih sendiri. polanya selalu sama kok.
btw, kalau soal debat, dalam pelatihan-pelatihan organisasi kader (semisal HMI atau ormas parpol) sepengetahuan saya selalu ada materi (pelatihan) yang namanya retorika. ada juga yang ditambah sama manajemen konflik (dalam organisasi atau lebih luas).
khusus untuk retorika, pakem umumnya justru ngajarin : bagaimana teknik (sistematik) untuk menggoal-kan argumentasi. yang parah dalam materi ini juga diajarkan bagaimana caranya menggagalkan argumentasi lawan. ini seringkali malah jadi materi utama/disukai, sehingga sering kata retorika malah dipersepsi dalam konteks itu.
ada beberap macam cara yang diajarin : 1. bikin argumentasi jadi mbulet dengan arah supaya terjadi kelelahan fisik, dan akhirnya dead lock caranya macem-macem : - melebarkan substansi diskusi, supaya jadi "lari" kemana-mana sampai peserta diskusi jadi kebingungan sendiri "kita nih mau ngomongin apaan sih..?" - ad hominem / menyerang pribadi--> ini terkait dengan melebarkan substansi tadi dan sering jadi cara paling ampuh. gampang aja bilang : argumentasi itu datang dari orang bebal. maka orang mudah terpancing dan diskusi akan beralih pada materi berusaha membuktikan bebal atau tidaknya orang yang ditunding. 2. membeberkan data argumentatif yang sangat luas / detil. - ini bikin orang jadi capek untuk meneliti detilnya. belum lagi kalau ada pertanyaan tentang keabsahan tentang detil tsb. walhasil diskusi pasti ditunda sampai ada tim yang bekerja menelusuri data tsb, atau membawa data tandingan.
hal-hal kek gini dipahami betul sama orang yang pernah menjalani pelatihan organisasi kader. makanya jangan heran kalau di dpr bisa kelihatan antara wakil rakyat yang benar-benar punya "bekal" untuk jadi politikus dan wakil rakyat yang sekedar tiba-tiba "ketumplekan rejeki".
dalam diskusi di internet, polanya juga sama. kalau kita paham upaya-upaya "retorika" (dalem tanda kutip), kita bisa memilah dan memilih untuk melanjutkan diskusi dengan mengembalikan pada track yang sebenarnya, atau pilihan kedua --> kaburrrr.
pilihan kedua ini ada benarnya juga, karena siksusi yang "sehat" semestinya diawali sikap "mencari pemahaman bersama" dan bukan sekedar "memperjuangkan pemikiran" belaka.
Kalau ada satu pihak yang sudah kebaca hanya ingin "memperjuangkan pemikiran" dengan cara yang tidak senonoh, ya mending tinggalin aja. karena bisa diyakini hampir 90% diskusi gak akan ada manfaatnya.
*halah* ini mestinya jadi jurnal sendiri =D |
 | kangbayu wrote on Apr 17, '06, edited on Apr 17, '06 I found the most effective way is to treat everybody with respect, even though they have stepped and spit on you and even treat you like _ _ _ _ ...  Ada kaitannya dengan postingan Kamal yang ini? =) cool approach... |
| Ada kaitannya  Yah... yang paling sulit untuk manusia adalah 'practice what you preach'...
Jatuh2nya siy aku masih munafik (hypocrite)... tapi terus aku kilas balik kepada jurnal2 yang saya tulis, kumpulan2 kata mutiara yang saya kutip... terus mulai teringat apa sih inti dari semua ini.
Tapi jatuhnya, saya sendiri jadi merasa tolol dan diem aja... untuk waktu yang agak lama dan pencerminan diri.
Tapi kok lucunya ya, kalau udah debat di forum atau net, ngga bisa bedain lagi yang ngomong itu anak 5 tahun atau orang dewasa 50 tahun... terkadang kekanak-kanakannya sama saja. |
 | Bahasan menarik, Bay. Dulu di MP-ku sempet ada thread reply sampe 5 halaman(!), yg juntrungannya makin gak jelas, sebab ada satu ID yg mulai menyerang individu instead of menanggapi pendapat mereka. Akhirnya ID itu terpaksa gue blok. Yah, mau dibilang gak demokratis jg nggapapa, habis si ID ini ternyata bisanya ngaco melulu, di 'rumah virtual' gue pula :P |
| |