Posted by Bayu on Nov 7, '07 6:14 AM for everyone Setelah semakin banyaknya bermunculan aliran-aliran baru Islam yang dianggap menyesatkan, akhirnya MUI mengeluarkan ketetapan mengenai "Sepuluh Kriteria (Islam) Aliran Sesat". Ketetapan ini muncul setelah dibahas dalam Rakernas MUI 2007, dengan rincian sebagai berikut: Sepuluh Kriteria Aliran Sesat
- Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
- Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
- Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
- Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
- Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
- Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
- Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
- Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
- Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
- Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar'i
Namun demikian, ditambahkan pula bahwa penentuan ini tidak boleh dilakukan (apalagi ditindak) oleh sembarang orang, melainkan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: - Data, informasi, bukti, dan saksi tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut diteliti oleh Komisi Pengkajian.
- Selanjutnya, Komisi Pengkajian memanggil pimpinan aliran atau kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang didapat. Hasilnya kemudian disampaikan kepada Dewan Pimpinan.
- Bila dipandang perlu, Dewan Pimpinan dapat menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa.
Lebih lanjut, menurut Sekretaris MUI, Ichwan Sam; ''Di batang tubuh fatwa mengenai aliran sesat, juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat hukum dan menyeru masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri". [source: Republika] Walaupun pasti akan mendapat tentangan dari sebagian masyarakat, langkah ini merupakan inisiatif yang berguna sebagai standarisasi penyelidikan untuk kasus-kasus yang muncul di kemudian hari. Komentar? (bay)
| dartz wrote on Nov 7, '07 setuju! ini emang zaman edan, ada jibril jadi Tuhan,
ada nabi-nabian, main obrak-abrik tatanan,
percaya dengan caranya sendiri-sendiri. oh well, Allah gak buta bin tuli koq.
|
 | Bagus...akhirnya MUI mengeluarkan point-point penting seperti ini...sekarang tinggal tunggu aja JIL cs kebakaran jenggot, ngga lama lagi pasti akan ada tulisan counter thdp langkah MUI ini dari kubu mereka :D |
 | ardho wrote on Nov 7, '07 nomer 10 nya.. itu bukannnya justru yang dilakukan oleh MUI sendiri? CMIIW |
 | No 5 untuk JIL, ulil dan kawan-kawan. Data, informasi, bukti sudah jelas karena terang2an :) |
 | ardho wrote on Nov 7, '07 |
 | Gua jadi inget sama cerita tentang zaman Jahiliah atau Apocalyps. Di penghujung abad pertengahan, Eropa juga mengalami kekacauan yang akut. Tapi setelah itu ada masa pencerahan dimana pengetahuan merupakan kunci untuk menyelesaikan persoalan melalui kehadiran kepemimpinan yang cerdas dan kuat. Mustinya Indonesia juga bisa tuh ngalamin abad renesans. Sayang di sini sekarang agama jadi sumber konflik. Kita butuh pencerahan, bukan dogma. |
 | dennybaonk wrote on Nov 7, '07, edited on Nov 7, '07 no 6 itu pengertiannya apa ya? "mengakui hadis" dalam pengertian : pokoke asal masih mengakui hadis sebagai sumber hukum, maka gak termasuk sesat?
atau syiah kena juga disikat? |
 | Assalamu'alaikum, Alhamdulillah akhirnya ada kriteria yang jelas buat masyarakat awam untuk memahami fenomena munculnya aliran2 yang menyimpang dari mainstream Islam ini. Saya melihat lahirnya aliran2 ini biasanya disebabkan dua faktor: 1. Faktor pengalaman spiritual: seperti klaim bermimpi bertemu Nabi, Allah, atau merasa didatangi malaikat atau mendengar bisikan mereka, dlsb. 2. Faktor argumentasi/ pemahaman terhadap pengetahuan agama: seperti hanya mau memakai hanya Qur'an, menolak hadits, dlsb. Faktor spiritual experience sifatnya subjective, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengalaminya saja. Pengakuan pengalaman spiritual ini bisa saja bohong atau dibuat2, tapi bisa juga memang benar dirasakan mereka (pengalaman mimpi yang diinterpretasi sebagai suatu yang "extraordinary" or "divine" - yang jelas dipengaruhi oleh faktor pengetahuan agama mereka). Bohong atau tidaknya klaim ini bisa juga dianalisa dari motif di baliknya. Orang berbohong biasanya memiliki motif tertentu, seperti motif ingin mendapatkan harta, atau power/status (ingin dihormati banyak orang), atau lainnya. Tapi by assuming mereka jujur terhadap klaimnya, interpretasi mereka bisa dianalisa karena berhubungan dengan faktor kedua di atas (faktor argumentasi/ pemahaman thd pengetahuan agama). Kalau ternyata pengetahuan agama mereka terbukti hanya partial semata, atau reasoning yang mereka pakai terbukti mengandung logical fallacy ( e.g. using unreliable sources, out-of-context, non-historical, inconsistent argument, etc), kita bisa memperlihatkan kesalahan interpretasi yang mereka yakini tsb. Tapi ini memang membutuhkan effort yang tidak mudah karena biasanya mereka sudah begitu yakin akan klaimnya dan menutup kemungkinan2 lainnya (termasuk kemungkinan adanya involvement dari jin syaithan yang memang berusaha menyesatkan manusia dari masa ke masa). Saya pernah berdiskusi dengan mereka yang menganut paham Ahmadiyah, Inkar sunnah, Salamullah, etc. dan saya melihat sendiri argumentasi2 yang mereka pakai sering mengandung fallacies. Contohnya, inconsistent argument: hadits dipakai untuk mendukung pendapat mereka, tetapi ketika ditunjukkan hadits yang meruntuhkan argument mereka, mereka langsung bilang hadits tidak bisa dipercaya karena ditulis ratusan tahun setelah Nabi wafat. First of all, kalau tidak bisa dipercaya, kok tadi dipakai? Second of all, ketika ditanya dari mana mereka tahu sejarah penulisan hadits ini, mereka tidak bisa mengquote sumbernya (anedoctal semata). Lastly, ketika ditanya dari mana mereka tahu adanya seorang Nabi bernama Muhammad bin Abdullah yang menerima wahyu Qur'an, mereka bilang dari buku2 sejarah Islam. Ketika ditanya dari mana sumber buku2 sejarah tsb kalau tidak dari hadits maupun sirah? Mereka diam. Saya rasa banyak umat Islam ini perlu diajarkan tentang metode berpikir yang benar. Terutama anak2 mudanya, yang di era globalisasi ini (di mana internet mudah diakses di mana2) pemikiran mereka akan dihujani pemikiran2 yang berbagai macam yang mungkin oleh generasi2 sebelumnya tidak pernah terlintas dibenak mereka. Kalau umat sudah mendapat bekal bagaimana memilah2 berbagai macam paham, saya yakin tidak akan ada orang2 yang mau mengikut mereka yang membuat2 aliran2 baru dalam Islam. Wallahu'alam. |
 | Kalau sampek bertindak anarkis sampai bakar-bakaran itu termasuk sesat juga nggak ya ?? |
 | ariep wrote on Nov 7, '07 mending bikin ajaran baru dong ya nggak diasosikan dgn Agama yang udah ada, kan ga bisa dibilang sesat tuh, kalau kriterianya diatas |
 | setelah aliran sesat, ada baiknya MUI juga nanganin...ulamanya sendiri ulama gak keruan, umat ikut ga keruan
|
 | febee wrote on Nov 8, '07 setelah aliran sesat, ada baiknya MUI juga nanganin...ulamanya sendiri ulama gak keruan, umat ikut ga keruan  Setuju bangets... |
 | kangbayu wrote on Nov 8, '07, edited on Nov 8, '07 Kalau sampek bertindak anarkis sampai bakar-bakaran itu termasuk sesat juga nggak ya ??  Islam tidak mengajarkan vandalisme. Dalam hal ini seharusnya Polisi yang bisa bertindak tegas, karena koridornya sudah bukan urusan pengamalan Agama, tapi kriminalitas serta hubungan antar warga negara yang (seharusnya) diatur hukum. |
| |