Posted by Bayu on May 4, '08 3:29 AM for everyone  Akhirnya kesampean juga nyobain Bajaj BBG. Variant bajaj yang baru beredar beberapa tahun terakhir ini, kini semakin mudah ditemukan di jalanan ibu kota. Keberadaannya terlihat cukup mencolok, kala dibandingkan dengan bajaj versi lama yang rata-rata berpenampilan jauh dari layak, dan terlihat sangat "letih" jika dibandingkan saudaranya yang masih nampak "kinclong" ini. Jika diperbandingkan lebih mendetail, maka bajaj jenis baru ini memiliki beberapa kelebihan significant dibandingkan pendahulunya, antara lain: - Bentuk fisik yang lebih besar; kabin penumpang pun jadinya lebih luas. Kalau dulu duduk berdua saja sudah harus dempet-dempetan, maka di Bajaj versi baru ini penumpang bisa duduk leluasa. Tiga orang juga bisa.
- Suara dan getaran mesin yang halus; bising yang sangat rendah, dan perjalanan minus tremor. Walau belum senyaman sedan, tapi perjalanan memakai Bajaj kini relatif cukup nyaman. Penumpang bisa berbicara dengan leluasa tanpa harus tarik urat otot, badan juga tidak tergetar-getar.
- Suspensi lembut; perjalanan lebih nyaman. Jika dulu tiap kali naik Bajaj badan akan terbanting-banting, maka kini polisi tidur dan jalanan berlubang sekalipun bisa dilalui dengan mulus.
- Kelengkapan kendaraan cukup baik; Starter elektrik, handle pintu, material interior yang baik. Para sopir bajaj tidak perlu lagi mengalami deformasi otot bahu karena terlalu sering berkelahi dengan tuas starter mesin bajaj lama, cukup putar kunci, mesin pun menyala. Buka/tutup pintu pun sekarang memakai handle layaknya mobil. Tempat duduk pun masih nyaman dan kokoh. Mungkin akan menurun kualitasnya seiring waktu, tapi setidaknya dari standarisasi pabrik sudah lebih memikirkan mengenai masalah ergonomi.
- Kapasitas mesin lebih besar, tapi konsumsi bahan-bakar lebih irit! Kabar baik untuk para pemilik / sopir, karena berarti biaya operasional bisa ditekan lebih rendah. Pengiritan bahan-bakar ini terjadi karena berubahnya sistem mesin dari 2 tax ke 4 tax (dua langkah ke empat langkah). Jadi walaupun kapasitas mesin meningkat dari 150cc ke 200cc, konsumsi bahan-bakar relatif lebih irit.
- Alternatif pemakaian BBG / BBM. Walaupun resminya kendaraan Bajaj baru ini dioperasikan dengan BBG, namun karena keterbatasan SPBU yang menyediakan BBG, maka mesin Bajaj ini masih memiliki kemampuan untuk berjalan menggunakan BBM jenis bensin premium. Perbedaannya? Gelitik mesin lebih rendah lagi pada penggunaan BBG, konsumsi bahan-bakar juga lebih irit lagi kala memakai BBG, dan jangan lupa, mesin BBG memiliki emisi gas buang yang lebih bersahabat baik bagi manusia, maupun bagi alam.
Menilik kelebihan-kelebihan tersebut, sebenarnya bajaj versi baru sudah sangat layak untuk dijadikan kendaraan alternatif metropolitan yang ramah lingkungan. Beberapa waktu lalu di TV pun sempat diliput beroperasinya "tuk tuk" di salahsatu kota besar di AS untuk angkutan di pusat kota (central business districts). Kenapa kita nggak ikut juga mengangkat status bajaj ini menjadi angkutan alternatif daerah pusat kota? Bukan sekedar angkutan pinggiran atau angkutan pasar? Apalagi dengan beredarnya bajaj versi baru ini, percaya atau tidak, attitude para sopir nya pun banyak berubah! Selain berpakaian lebih rapi, rata-rata juga lebih tertib dalam berkendaraan (Semoga saja demikian seterusnya ya bang!). Namun dibalik semua kemajuan dalam hal teknis, hal yang patut disayangkan dari Bajaj Baru ini sebenarnya adalah... penetapan tarif yang tetap menggunakan paradigma lama; biaya sangat tergantung pada subyektivitas sopir bajaj dalam mengira-ngira jauh / dekatnya jarak. Kalau si sopir hapal jalan, dan sering lewat daerah yang kita tuju, bisa jadi tarif yang ditawarkan pun murah. Namun jika supirnya masih belum hapal dengan daerah tujuan, atau menurutnya lokasi cukup jauh, siap-siap dapat tarif yang tinggi. Jadinya, nggak ada standarisasi harga baku layaknya Taxi atau angkot. Bagi yang tidak hapal medan perjalanan, atau tidak tegaan, bisa-bisa biaya yang dikeluarkan untuk naik Bajaj malah lebih tinggi dari biaya naik taksi! Sebagai contohnya, perjalanan penulis dari tempat tinggal di daerah Kramat Sentiong menuju stasiun Cikini, dihargai 13 ribu rupiah (waktu belum tau standar harga). Padahal dengan taksi tarif lama, perjalanan tersebut baru menyedot argo sekitar 8 ribu rupiah saja. Atau kali lain saat penulis melakukan perjalanan ke Sarinah, Thamrin, dengan biaya 13 ribu rupiah juga menggunakan Bajaj (sesudah nawar rada nekad), padahal dengan taksi tarif lama, perjalanan tersebut memakan biaya sekitar 15 ribu rupiah. Penghematan yang tidak significant (cuma 2 ribu rupiah), apalagi jika dibandingkan dengan kenyamanan perjalanan yang ditawarkan; Bajaj terbuka kapasitas duduk dua orang, dengan sedan ber-AC kapasitas duduk empat orang. Padahal dari segi biaya operasional, sudah pasti mesin 200cc akan menggunakan bahan-bakar jauuuh lebih rendah dibanding mesin 2000 cc, begitu juga dengan biaya perawatannya. Kalau mau diangkat levelnya jadi sarana angkutan alternatif mentropolitan (bersaing dengan taksi), mungkin sebaiknya para Bajaj ini dipasangi argo meter juga, atau diterapkan standarisasi tarif yang murah, sehingga daya saingnya menjadi lebih tinggi lagi. (bay)
 | Ide bagus bajay pake argo, Masih memungkinkan juga sih. Satu hal yang gua suka dari bajay, yaitu bajay adalah kendaraan yang merakyat. Dari segi desain, bentuknya sederhana, gampang dirakit,manufakturing body yang simpel, bengkel las ketok setempat juga udah bisa bikin bodynya. Bahkan spareparts bajay lama banyak yang bikinan lokal juga. Salut buat bangsa India yang udah bikin desainnya. |
 | Yo'i. Negara kita mah negara ketok magic. Sebenernya bagus karena bisa memberdayakan masyarakat, tinggal dibina aja. Jadi inget Cerita mertua gw. Alkisah dulu jamannya Soekarno,kira-kira taun 60-an. Pengennya Indonesia bisa mandiri buat industri persenjataanya, maka lahirlah PINDAD, Jadi walaupun import peralatan dari luar, selanjutnya harus dikembangkan di dalam negeri, lalu datanglah rezim Soeharto, ngapain susah2 bikin 'ndiri, import aja, kan dapet komisi dari proyek pengadaan alat2. Ya akhirnya baginilah, Sistem pertahanan kita kododoran dan ketinggalan. Bukannya Industri kita ngga mampu bikin, tapi ga ada order.pemerintahnya lebih memilih beli dari luar karena dapet duit bonus. |
 | "Suara dan getaran mesin yang halus; bising yang sangat rendah, dan perjalanan minus tremor." Ini kabar bagus untuk penumpang macam gue, yang dari jaman sekolah di Blok M, gak suka naik bajaj karena getarannya bikin pengen pipis. Kemajuan! Tapi Bajaj ini masih pakai tuas motor ya? Berarti masih suka belok ala motor dengan body semi-mobil, dong. Ini juga agak mengerikan untuk gue.
-benben- |
 | @deenar18: setuju. memang sudah seharusnya negara ini maju, minimal diatas malaysia. secara negara ini memiliki kekayaan melimpah ruah dan SDM yang lumayan pintar. sayang, kita kurang kreatif dan malas. |
 | bisa dipake ngantor nggak? ;) *alternatif selain mobil* :P |
 | sumpah enak buat pacaran keliling kota... |
 | ntar ah ...bulan juli insya Allah niat nyari buat dicobain ..hihihi tengkyu reviewnya kang bayu, ntar minta ida aja yg tukang nawar :)) |
 | seberapa aman buat ngangkut orang yang pegang handphone dan credit card? |
 | uu..menarik! ada foto tampak luar ga, Kang Bayu? :) pengen liat wujudnya, hihihi..thanks for the review!! |
 | Hah? Bajaj BBG bisa meledak?
Horor amat! |
 | fithab wrote on May 5, edited on May 5 Dulu waktu masih tinggal di Senen, aku udah hampir beli bajaj, lho (pencinta bajaj sejati:D), Mas...soalnya ada pameran bajaj model baru di atrium senen, yang lega en keren banget, sekitar th. 2002-an, tapi masih pake bensin. Tapi ternyata bajaj yg seharga cuman 8 juta itu, OTR-nya jadi 14 juta (kalo gak salah inget), karena ijin operasi bajaj ini yg butuh biaya 6 juta-an, soalnya ada kebijakan untuk tidak menambah bajaj dari pemda DKI (ini info dari si Mas yg lagi demo itu, salah satu tim pembuat dari Univ. negeri, lupa ITB atau ITS). Wah, kalo gak karena ijin itu, kayaknya si bajaj udah berpindah tangan, hehehe:D. Alhamdulillah gak jadi, karena setahun kemudian kudu pindah ke Bekasi, no bajaj community:(. |
 | di jkt intinya transportasi publik yg massal.. yg kecil2 begini cuma bikin senewen saja |
 | seeselvy wrote on May 5, edited on May 5 iklan bajaj bikinan india juga kmrn udah keluar tvcnya di metro tv hehehehe..... (bajaj apa nih) cukup elegan (untuk kelas India). eniwey baswey, baru nyobain sekarang bajaj BBGnya ???? ck ck ck..... |
 | Siiip..... Tinggal langkah selanjutnya menyiapkan setasiun pengisian BBG yang lebih banyak..., kalo bisa semua SPBU "Pertamina" menyediakan.... Ehm...., lebih enak mana ya..., gas kita itu di ekspor apa dipakai sendiri...? OOT dech... |
 | halah...kalo dipasangin argo bisa-bisa kayak taksi..penumpang diajak muter keliling jakarta. MAsak mau naik Bajaj yang ada tulisannya Blue Bird? |
| |