Posted by Bayu on Sep 24, '07 1:05 AM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Walaupun film ini mendapatkan sambutan yang baik di AS, sebagaimana film2 lainnya yang diadaptasi dari novel2 Stephen King, satu-satunya film King yang gw anggap layak bikin merinding adalah "IT (1980)". Yah boleh deh ditambah sama "The Shining (1980)". Lainnya? Gaya bertutur King nggak memuaskan gw. Mungkin King dan Shyamalan harus buat film bareng, siapa tau hasilnya malah sangat bagus, beda dengan kalau mereka sendiri2 terlibat di suatu film. Kan negatif kali negatif sama dengan positif?
Struktur bercerita King hampir selalu melupakan faktor "why", dan asik berkutat dengan how atau penuturan ceritanya sendiri. Sedangkan dasar cerita atau asal-usul fenomena, nggak dituntaskan. Itu juga kasusnya yang terjadi dengan "1408" ini. Setelah menyajikan dengan baik misteriusnya ruangan 1408 di hotel Dolphin, gimana ruangan itu dikabarkan membuat gila para penghuninya dalam waktu dibawah 60 menit, sampe ke titik akhir, nggak ada penjelasan sama sekali kenapa si ruangan tersebut menjadi evil. Mengenai kenapa tokoh utama jadi dihadapkan dengan sejarah kelam kehidupannya pun, nggak diungkapkan. It just happened.
Namun demikian, penampilan Mike Enslin (John Cusack) sebagai seorang penulis buku-buku terkait tempat-tempat berhantu (tapi ia sendiri tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian), dan Mr. Olin (Samuel L. Jackson) sebagai manajer The Dolphin Hotel, patut diacungi jempol.
Untuk film-film horror yang sadis dan blak-blakan, gw lebih suka dengan karya-karyanya Wes Craven. Sedangkan untuk film-film horror yang plot ceritanya "nyeleneh" dan unexpected, gw lebih suka dengan mysteriousity nya film-film Jepang. (bay)   | hyahhh....kmrn pas liat thrillernya.......pengen bgt nonton......tpi...klo gantung gtu.........jadi agak males neyy Kang.... :(
|
 | pujay wrote on Sep 24, '07 baca bukunya ajah.... lebih seru :D |
 | fabee wrote on Sep 24, '07 eh eh ... nonton di mana bay ?
|
 | kata temen-temen tadi pada nonton (di kelas) ga jelas yah? |
 | bay buat gue jelas kok....mungkin faktor cara berpikir deh hehehehhee |
| Looking forward to this movie... |
 | endingnya gimana? nice ngga? |
 | jaman muda dulu nonton carrie nggak? rasanya lumayan ancur tuh. atau mungkin faktor usia kali ya? masih ijo jadi gampang serem. tapi gw having fun juga waktu nonton thinner, pet sematery. btw, adaptasi novel King yang bagus macam Green Mile-nya Tom Hanks atau Stand By Me (River Phoenix) malah bukan horor ya? |
 | kangbayu wrote on Sep 26, '07, edited on Sep 26, '07 *setiap nonton ga pernah ngeh itu film2nya siapa....... ;p  Kalo gw "kepaksa" dhi, soale dengan learning names gw bisa dengan cepet nentuin suatu film layak tonton atau nggak. Jadi semacem keywords gituh...
Misalnya kalo ada film baru kategori Action / Fantasi, yang buatnya James Cameroon / Wachowski Brothers / Luc Besson, yang maennya Jason Statham, Jet Li, no second thought; a must see!
Tapi kalo ada film Sci-Fi, produsernya bukan top Holywood's (Paramount, Colombia, Universal), bintangnya nggak terkenal, maka kemungkinan besar nggak laik tonton. Soalnya film Sci-Fi relies mostly on visual effects, dan ini sangat terkait erat duit, meaning, must have "big names" involved.
Berguna banget saat gw gak ada akses ke imdb.com... Oh ya, satu contoh lagi:
Horror: Wes Craven = yes, Shyamalan = NO! |
 | ini kan penjelasan (sok) ilmiahnya berasal dari teori bahwa alien itu entitas yang benar-benar berbeda dg mahluk bumi, baik dalam budaya (akibatnya produk budaya spt baju ceritanya tidak dikenal :p ) maupun dalam struktur fisik (kimiawi -> jadi air malah sumber kematian).
ini malah aliran yang lebih maju (dalam kebenaran khayali) dibanding ragam film alien yang menceritakan mahluk yang datang jutaan tahun cahaya, persenjataan canggihnya akhirnya masih bisa kalah dg. persenjataan bumi (independence day lah paling gampang diinget).  Nah, sayangnya, asumsi ilmiah yang berkembang justru lebih mendukung teori bahwa jika mahluk tersebut dari jenis kompleks dan berwujud seperti manusia (humanoid) dan strukturnya carbon-based, maka peranan air itu penting. Kalau peranan oksigen nggak penting nggak apa lah, toh terbukti ada bakteri-bakteri yang anaerob, yang malah mati kalau kontak dengan oksigen.
Dari sisi logika, untuk pelaksanaan invasi dalam skala besar maka perencanaan juga nggak sembarangan, termasuk perihal scout dan intelligence, dan kalau masalah pakaian saja mereka gagal buat melihat kepentingannya, berarti perencanaan sudah gagal di langkah awal.
Dari sisi sejarah, sebagian besar penampakan mahluk asing (yang diduga dari luar angkasa) digambarkan selalu mengenakan pakaian protektif, bahkan sampai tahap anti peluru.
Oke lah, karena topiknya sci-fi maka "everything is possible". Tapi pada kenyataannya si penulis tetep harus punya dasar-dasar logis juga untuk penulisan khayalannya tersebut sehingga cerita tetep bisa relatable. Kalau dari logika biologi nggak kena, dari logika strategi juga gagal, Shyamalan udah gagal dalam ngasi dasar yang solid. Sekalian aja bikin alien nya dateng ke bumi buat arisan sama komunitas cacing di hutan bakau, jangan buat invasi?
Jangan salah, Independence Day masih lebih "terhormat" dengan solusi counter-attack berupa uploading virus computer ke mainframe nya kapal induk (despite all the impossibility in language, interface, etc.). |
 | selalu menyenangkan kalau bicara dengan ahlinya. :D *yg kek gini bisa muncul lebih sering tanpa perlu dipancing? :p* |
 | Mas Bay, saya barusan nonton 1408. Gue rasa cukup jelas dipaparkan koq apa yg menjadi gerutuan loe di review ini.
Gue rasa dibiarkan gada penjelasan karena menyangkut faktor fenomena alam gaib, kan menjadi tidak signifikan kalo dipaparkan sejarah dibalik angkernya kamar itu, dibiarkan gak jelas biar jadi misteri donk, seperti contoh hantu-hantu di Indonesia, banyak versi cerita kan untuk satu hantu, nah daripada jadi gosip mana yang benar asal usul-nya, mending dibiarkan ga dijelaskan.
Mengenai kenapa tokoh utama jadi dihadapkan dengan sejarah kelam kehidupannya pun, itu mungkin cara kamar 1408 ”menghukum” karakter Mike Enslin, dengan membawa kembali memori masa lalu-nya untuk dijadikan sebauh mimpi buruk, bahkan bisa diambil sisi positif-nya, dengan dia disadarkan seperti itu, dia jadi punya pilihan untuk memperbaiki hidupnya kan.
Sayang, ketika ia berhasil melewati ujian 60 menit itu dan ditawarkan untuk keluar, dia mengambil untuk tidak keluar dari kamar itu, melainkan terus melawan, padahal kesempatan dia keluar hidup-hidup dan menjadi pemenang sangat besar. Gue rasa faktor istri-nya ga mau balik, anak-nya udah terlanjur meninggal dan bokapnya udah ga sadar membuat dia nekad ngelawan. Coba kalo semua-nya masi utuh, dia mungkin akan memilih untuk keluar.
Btw, sori nih mas bay, jadi spoiler abis2an gue disini, abis cari tandem buat film ini susah sih :D |
| |