Bayu's posts with tag: aceh

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aceh
Posted by Bayu on Feb 1, '08 9:15 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kompilasi foto hasil jalan-jalan ke Banda Aceh. Sebagian besar (terkait makanan) sudah termuat di album photonya Epicurina.


Posted by Bayu on Jan 25, '08 9:47 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Tempat nginep selama bertugas di Banda Aceh ini. Termasuk satu dari empat hotel baru yang dibangun pasca bencana Tsunami.

Harga cukup premium, tapi masih termasuk cukup murah untuk standar Aceh; 500 rb an buat standard room. Gile ya? But anyway jaraknya cuma 15 menitan dari Airport, service is nice and professional, breakfast is good, and I like the Muesli alot!


Walaupun fasilitas minim (no welcome drink, no pool, no spa, no fitness centre), tapi yang paling penting adalah tersedianya WiFi gratis! Dengan speed yang lumayan kenceng juga. Buktinya ini gw rela upload foto-foto Aceh dari hotel, secara kalo ntar dari kantor di Jakarta, gw malah pesimis bisa selancar ini. Yah, enjoy it while it lasts... lagian pas pulang nanti pasti waktunya bakalan greatly occupied...

Bukan oleh kerjaan, tapi oleh sang isteri yang udah panas-dingin nungguin suamina pulang. Honey, see u shortly! (bay)

Posted by Bayu on Jan 25, '08 8:12 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
"Tuh dia" kata si boss
"Hah, mana...?" sahut gw penasaran karena ngerasa nggak ada yang aneh
"Itu" balas si boss sambil nunjuk bangunan besar di kejauhan
"HAH? ITU KAPALNYA?" seru gw kaget!

Terkejut dan ngerinya gw menyaksikan apa yang gw kira sebagai bangunan gudang milik PLN tersebut. Ternyata, sosok raksasa yang kami lihat dari kejauhan itu adalah kapal laut Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, PLTD Apung I yang terdampar ditengah-tengah kompleks pemukiman Punge Blang Cut, Banda Aceh, akibat terjangan ombak tsunami di akhir 2004 lalu. Tingginya kurang-lebih seperti gedung empat tingkat!

Sambil tercengang-cengang menyaksikan pemandangan spektakuler ini, hati pun diselimuti kengerian yang dalam dan perasaan betapa kecil dan tak berdayanya kita sebagai manusia, jika dihadapkan pada kemarahan alam... Dibawah si kapal, terlihatlah sisa-sisa puing rumah, yang rata dengan tanah akibat ditiduri raksasa ini. Barangkali masih ada sisa mayat disana... hiks.

Kapal laut berukuran sekitar 65x 20 meter dengan bobot sekitar 200 ton ini, setelah tiga tahun berselang ternyata masih didiamkan di tempat pendaratan daruratnya tersebut. Ada selentingan untuk menjadikan kapal laut ini sebagai monumen pengenang tragedi tsunami, namun rencana ini sendiri agak terlalu berlebihan mengingat kapal ini tadinya merupakan salahsatu pemasok penting listrik untuk daerah Aceh. Dan walaupun telah dihempaskan sedemikian jauhnya, ternyata kapal ini masih berada dalam kondisi baik dan operasional. Sayangnya, tidak sembarang pihak mampu memindahkan raksasa berukuran 200 ton ini kembali ke posisi benarnya di sekitar 2.500 meter jauhnya. Adapun untuk menggunakan jasa kontraktor yang mampu, dana yang dibutuhkan juga tidaklah sedikit.

Sedikit cerita terkait terdamparnya kapal ini, menurut saksi mata, kapal laut raksasa ini terseret ombak tsunami dalam posisi horizontal, dan sehingga secara tak langsung berfungsi sebagai "perisai" yang menciptakan ceruk bebas terjangan banjir selama kapal tersebut terseret. Karena fungsi perisainya tersebut, kapal laut ini juga merupakan batas antara daerah dengan kerusakan parah, dan daerah dengan kerusakan tidak terlalu parah.

Cerita lengkapnya click disini.

Jadi kalau merunut pada ceritanya, sebenarnya si raksasa yang terdampar ini adalah suatu sajian horror?

Atau malah monumen kepahlawanan? (bay)


Posted by Bayu on Jan 23, '08 4:38 PM for everyone
Walau masih dalam satu wilayah waktu, beda antara Banda Aceh dan Jakarta sebenernya adalah sekitar 45 menit. That is, artinya, kalau Subuh di Jakarta itu jam 04.30 pagi, maka disini baru jam 05.15. Good news is, kemungkinan kelewat Subuh lebih kecil, karena jam segitu sih udah nggak terlalu sulit buat bangun. Bad news is, buka puasa jam 7 malem! Jadi sebenernya sih, semuanya cuma mind games; same deal, cuma beda nominal angka di jam. Hehehehe

Walau Banca Aceh terhitung cukup "daerah" dibandingin Jakarta, tapi nyatanya harga-harga makanan disini nggak bisa dibilang murah, yang termasuk kategori makanan ngetop terutama. Satu porsi Ayam Tangkap yang kami coba kemaren aja, ternyata dibandrol 55K seporsinya. Ngopi di warung kopi Ulee Kareng aja bertiga abis sekitar 60K, ini mencakup tiga minuman, tiga tangkep roti, dan satu buah donat. Fenomena ini gw nggak tau dimulainya sejak kapan. Sudah dari jaman dahulu kala? Atau just recently gara-gara bertaburannya para expat NGO pasca Tsunami dengan gaji dollar?

Walau Banda Aceh berbatasan langsung dengan laut, dikelilingi malahan, tapi ternyata udara disini cenderung sejuk (yes, this fact I will repeat over and over again). Ini ajaib, dan walau disanggah oleh rekanan lokal kami sebagai "ah, kalau siang panas", berdasarkan pengalaman gw sendiri mampir di beberapa kota pantai, Banda Aceh ini sangat sejuk. Bandingkan dengan Jakarta, yang sampe daerah Depok pun masih gerah (40 km dari laut?), atau Denpasar yang matahari siangnya luar biasa menyengat. Disini? Ya masih keringetan sih, teuteup, tapi kecuali elo motah banget, maka rata-rata suhu udaranya masih sangat acceptable.

Yang ini mungkin bukan komparasi, tapi lebih ke keunikan daerah aja:

Toko-toko harus tutup pada saat maghrib! Nggak sampe ngusir pengunjung sih kayaknya, tapi nggak nerima pengunjung baru for the time being.

Standar pakaian wanita adalah tertutup, ini sebabnya even visitors (bukan pribumi) harus selalu siap kerudung kalaupun nggak berjilbab.

Lainnya? Wah, kalau gw stay lebih lama mungkin bakalan nambah list, tapi buat sekarang, dah dulu yee. (bay)

Posted by Bayu on Jan 23, '08 1:03 AM for everyone
Akhirnya...Banda Aceh. Setelah penerbangan yang lumayan bikin bosen, sekeliling pesawat juga awan putih aja nggada UFO, manuver landing yang lumayan Halilintar, ternyata Bandara Iskandar Muda ini termasuk kecil, dan banyak yang berkeliaran disini adalah dari kalangan orang-orang pemerintahan plus expat.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Banda Aceh itu adem! Suhu pagi itu (10:30) pas kami landing adalah sekitar 26`C, jauh lebih rendah dari perkiraan awal gw terhadap kota pinggir laut ini. Oh iya, penerbangan ke Banda Aceh ini ternyata masih dilayaninya sama Boeing 737-400, nggak seperti perkiraan gw yaitu pake Boeing 737-900. Dan kecele yang lain adalah... Lion Air ternyata pake sistem nomer tempat duduk... Maklum biasa naek penerbangan rakyat, ya nggak curiga soal nomer tempat duduk ini. Walhasil gw kebagian duduk di deket gang, padahal bisa minta supaya dapet yang di sebelah jendela.

Nunggu rada lama gara-gara call-drop berkepanjangan -- tapi masih lebih mending dibandingin Esia gw yang mati total -- akhirnya kami dijemput juga sama business partner dan makan siang dulu di Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek Cabang MNS, Manyang. Buat yang (hari gini masih) belum tau Ayam Tangkap itu seperti apa, ini adalah masakan khas Aceh yang kadang disebut juga sebagai Ayam Tsunami, atau bahkan, Ayam Sampah, karena penampilannya yang awut2an ini. Intinya sih, Ayam Tangkap ini hidangan ayam goreng biasa, tapi yang nggak bikin biasanya adalah keikutsertaan dedaunan, cabai hijau, serta bawang merah yang turut dimasak bersama ayam ini. Daun nya digoreng sampe crispy, bawang merah nya sampe lembek. Menurut pak Bondan Winarno, Ayam Tangkap juga kadang dipakai bahan gurauan sebagai hidangan yang ayamnya harus nangkep dulu, saking lamanya waktu penyajiannya. Yah, Ayam Tangkap ini memang paling top kalau disajikan panas, secara kalau dibiarkan lama, maka dedaunannya akan layu dan beda rasanya.

Oke, cukup soal makan siangnya, sekarang ini gw sama boss lagi rehat dulu di hotel, sebelum barang yang harus kami install dateng dari Jakarta. Hotelnya lumayan enak, seperti yang banyak diceritakan rekan-rekan bloggers di internet. Memang masih baru, dan fasilitas juga rada minimalis (cuma ada Spa, itupun belum buka) tapi yang paling asik ya ini dia; ada WiFi!

Dasar internet-addict...

Kabar baiknya, forwarder / kurir udah confirm barang kami bakalan dateng jam 13:30 ini pake Garuda. Kabar buruknya, kemungkinan gw batal ke Medan karena ada perubahan jadwal kerja... =| (bay)

Foto: Papan petunjuk obyek wisata Aceh, lokasi di exit gate bandara.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help