Bayu's posts with tag: analogi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag analogi
Posted by Bayu on May 31, '08 9:10 PM for everyone
Nyari pasangan, atau temen idup, adalah juga proses yang lebih kurang seperti Sales. Produk yang ditawarkan disini: diri anda sendiri. Prinsip dan komponen sales umumnya juga berlaku; good product knowledge, proper approach, dan confirmed needs.

Product knowledge: anda harus tau kelebihan / kekurangan anda dibanding pesaing.
Proper approach: pe de ka te ada ilmunya, kuasai.
Adanya kebutuhan: yang ditarget memang sedang nyari.

Kalau product knowledge anda sudah baik, biasanya anda akan melihat kekurangan-kekurangan produk anda. Sebagian sifatnya permanen, sebagian sifatnya dinamis. Nah untungnya, selain dari jadi Sales, sebenernya anda juga memiliki akses untuk kegiatan R&D (Research & Development) dari produk anda, sehingga bisa merancang dan melakukan perubahan2 yang diperlukan untuk menjawab kebutuhan pasar.

Kalau tampang pas-pasan, atasi dengan prestasi di bidang yang lain. Maximize the way you look and appearance, tapi pikirkan juga untuk fokus ke hal selain penampilan. Banyak model menikah dengan pasangan yang tampangnya pas-pasan. Bukan karena ketipu (sebagian ada sih), tapi karena ada specific trait dari si pasangan yang menurut mereka penting dan memberikan nilai lebih. Kearifan? Kedewasaan? Agama? Kemampuan untuk menghandle mereka? Atau Kekayaan? Banyak hal yang bisa dikembangkan selain berkutat tanpa habis berusaha mengubah, atau mengutuk kekurangan permanen yang kita miliki.

Sammy Davis Jr. adalah salahsatu contoh klasik dalam hal ini. Item, pendek, kurus, tampang boro2 rupawan, tapi berkali-kali dapet isteri yang cantik. Sammy memilih untuk tidak bersaing dalam hal tampang dalam memperoleh yang ia inginkan, tapi mengasah hal lain dimana ia jauh lebih memiliki bakat: seni.

Kalau tampang terlanjur aduhai, maka jangan malas, jangan puas jadi sekedar trophy buat diperebutkan (dan tiap taun ganti pemenang), tapi kembangkan diri juga untuk memiliki nilai jual lebih. Intinya, go above the competition, miliki nilai lebih dibanding kompetitor anda.

Kalau produk dirasa sudah sesuai standar kualitas dan mutu, silakan bidik prospects yang menarik buat anda, dan susun rencana buat approach secara proper, secara benar. Inget, ini prospect, silakan pilih sebanyak mungkin calon yang anda mau buat di-prospect, tapi lakukan secara benar. Baik dalam etika, maupun dalam teknik. Shy prospect? Outgoing prospect? Conservative? Liberal? Religious? Masing-masing butuh teknik pendekatan yang berbeda-beda, cari yang sesuai dan tepat sasaran.

Kemudian pelajari, apakah ada special request yang prospect anda butuhkan? Kembangkan, atau susun approach anda untuk menunjukkan pada prospect bahwa produk anda (anda sendiri) adalah solusi yang selama ini mereka cari (pasangan / pasangan hidup ideal). Sebaliknya, kalau ternyata prospect emang sedang nggak butuh, move on to the next prospect, keep the data for future reference. Atau... ciptakan kebutuhan.

Good luck. (bay)

Posted by Bayu on May 18, '07 9:33 PM for everyone
Kegiatan favorit pasca jam sekolah usai...
   
The Truf...

Jaman-jaman akhir SMA dulu, biasanya setelah lonceng bubaran berbunyi, maka beberapa dari kami tidak langsung pulang, melainkan menyempatkan diri untuk "mojok" mengelilingi satu meja... dan siap untuk permainan kartu! Permainan favorit kami saat itu adalah "Truf", versi ringan dari Bridge, versi lebih kompleks dari Cangkulan.

Pada permainan Truf (troef, trump), peraturannya sangat mirip dengan Cangkulan. Bedanya:
  1. Pemain harus empat orang, dan kartu dibagikan hingga habis (masing2 13 kartu).
  2. Terdapat kartu "truf", atau kartu sakti yang bisa dipakai untuk mem-veto kemenangan kartu lain, kecuali kalau balik di-veto oleh kartu sakti yang lebih besar tentunya. Genre kartu yang menjadi truf, ditentukan dari penawaran terbesar (lihat nomor 3).
  3. Tiap pemain pada awal permainan diharuskan melakukan "penawaran", yaitu prediksi seberapa banyak kartu yang akan mereka menangkan.
Terkait butir nomor dua, bila dari jajaran kartu yang ia miliki misalnya, si pemain merasa bisa memenangkan setengah dari kartunya; yaitu 6 atau 7 kartu dari 13 total kartu (atau 13 ronde pertarungan*), maka ia melakukan penawaran dengan jumlah tersebut. Uniknya, penawaran ini harus dilakukan melalui salahsatu kartu yang ia miliki. Dan pada praktiknya, jarang sekali pemain bersangkutan memiliki kartu dengan nilai yang sesuai dengan nilai penawarannya; biasanya lebih, atau kurang. Disinilah pemain harus mengambil keputusan; nilai (kartu) mana yang menurutnya paling pas untuk dijadikan target? Akankah ia melakukan penawaran lebih dari perkiraan awalnya? Atau kurang dari?

[*13 ronde -- sesuai dengan jumlah kartu tiap pemain; 13 buah]

Jika si pemain melakukan penawaran kurang dari target, maka ia harus jeli dalam mencari ronde-ronde pertarungan dimana ia bisa "membuang" kartu-kartu unggulannya tanpa jadi menang, sehingga hasil akhirnya tetap sesuai penawaran. Atau sebaliknya, mencari mana ronde-ronde lemah dimana kartu kurang kuatnya bisa tetap memenangkan pertandingan, sehingga hasil akhirnya tetap sesuai penawaran awal yang ia lakukan.

Jika pada kondisi akhirnya, si pemain berhasil mengumpulkan kemenangan sesuai penawaran awal yang ia lakukan, maka ia mendapat nilai sesuai kemenangannya. Jika tidak sesuai, dan berlawanan dengan kondisi global**, maka kekurangannya dijadikan denda setelah dikali dua.

[**kondisi global yang dimaksud adalah "main atas" atau "main bawah". Main atas berlaku jika penawaran total dari semua pemain jumlahnya lebih dari 13, dan main bawah sebaliknya. Jika terjadi jumlah total penawaran adalah sama dengan 13, maka si pemegang penawaran terbesar harus menentukan kondisi global ini. This is where the fun, if you've been there, you know what i mean =)]

...of Life

Analoginya dalam hidup, modal dan potensi yang kita miliki atau "kartu" yang ada di tangan, bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Bagaimana si "pemain" bisa memanfaatkan "kartu-kartunya" untuk mencapai tujuan, adalah hal yang jauh lebih penting.

Ada kalanya seseorang dengan modal hanya 100 ribu rupiah, lambat laun berhasil membangun bisnisnya hingga menjadi bisnis raksasa dan menghasilkan keuntungan yang besar. Namun ada pula yang memiliki modal awal hingga puluhan atau ratusan juta rupiah, namun karena menempuh jalan investasi yang salah, maka berakhir dengan kebangkrutan plus utang.

Ada yang lulusan sekolah ternama tapi sampai akhir hayat karir dan posisinya nggak banyak berkembang, tapi ada juga lulusan sekolah kurang terkenal yang di puncak karirnya menjabat sebagai direktur, menteri, atau posisi strategis lainnya. That's the story of life.

Apa yang membedakan mereka? Nasib?? Bukan, tapi lebih ke kemampuan me-manage dan mengembangkan resources yang mereka miliki, serta mengusahakan mendapatkan hasil yang diharapkan. Nasib sendiri, biasanya sangat banyak bergantung pada usaha yang kita lakukan, seperti janji Alloh SWT, bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya sendiri.

Jadi sebenernya, nggak terlalu masalah apa yang kita miliki, asal bisa mengelolanya dengan baik, maka hasilnya akan memuaskan. Dan sebaliknya, sebagus apapun IQ/bakat/modal yang kita miliki, kalau tidak bisa kita kelola dan kembangkan, maka hasilnya jangan harap akan baik. The secret is in the cooking, not the ingredients.(bay)




Posted by Bayu on May 3, '05 9:27 PM for everyone
Dibuat masa-masa pengembangan "guludug", Knight level 69 di server Chaos RO Indonesia -- 05/08/03

The Real RPG

Desas desus yang beredar menyatakan bahwa pada setiap tahun, Ragnarok meminta korban nyawa di negara asalnya; Korea Selatan. Kaum muda disana bermain online games ini layaknya orang sinting. Seorang anak pernah diketemukan mati di sebuah "warnet", karena sudah berhari-hari bermain Ragnarok tanpa tidur. Seorang rekan senegara menulis di forum ragnarok.co.id, bahwa di warnet nya juga ada seorang pemuda yang sudah tidak pulang selama seminggu, memainkan game ini di Warnet miliknya. Kelihatannya anak kuliahan, karena selama itu tidak ada ibu-ibu yang masuk warnet dengan marah-marah mencari anaknya (happens).

Gw sendiri juga dulu sangat terhanyut dalam rupa-rupa games juga. Dimana lagi gw bisa menyalurkan kekecewaan gw terhadap hidup? Dimana lagi gw bisa merasa memiliki kendali yang mantap atas perjalanan hidup (karakter) gw? Jadi, gw bisa deh ngerti dikit-dikit alasan kenapa mereka melakukan kegilaan semacem itu. Jaman lagi ketagihan PS juga, gw bisa tiga - empat hari begadang terus... aktivitas game cuma di seling sama hal-hal crucial saja.... social life? WHAT SOCIAL LIFE?

Syukur Alhamdulillah, sekarang gw sadar kalau hidup nyata itu lebih mengasyikkan, kalau gw bisa melihatnya sebagai sebuah permainan (game).

Belajar untuk memulai percakapan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi -- Comm Skill +1

Belajar untuk mempertahankan percakapan berdasar input dan clues yang diberikan lawan percakapan -- Comm Skill +2

Belajar untuk menghidupkan percapakan dengan seseorang, mempergunakan fakta yang kita ketahui mengenai mereka, ditambah dengan input dan clues dari mereka, dan pengetahuan kita mengenai topik yang dibicarakan -- Comm Skill +3

Belajar untuk mengatasi kesalah pahaman dalam komunikasi -- Comm Skill +4

dll.

Yah, memang dalam dunia nyata, kita memiliki kesulitan untuk melihat "status" kita, karena dalam hidup nyata, nggak ada tuh keyboard shortcut buat nampilin gimana stat skill kita, kesehatan, mood, dan attribut2 lainnya. Namun sebagaimana game, kehidupan nyata juga berkembang dalam tahapan... Dan skills bisa dibangun. Dan betul, skills yang kita pelajari tersebut bisa membantu kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik (pelajar / pekerja / kekasih / teman / dll.), atau membuat kita menjadi lebih mampu dan handal dalam mengatasi tugas yang harus kita selesaikan.

Dapatkan terlebih dahulu skill untuk memetakan hidup kita, untuk mengetahui bagaimana meneliti mengenai "siapa saya", "dimana saya", dan "apa yang ingin saya capai". Setelah itu, kembangkan skill untuk "menentukan tujuan", "membuat rencana", "mengatur sumber daya", "mengatasi rintangan", dll. Kalau memang dilaksanakan, pasti kita akan cepat "naik level"...

Tuh, bener kan, hidup itu adalah sebuah permainan...

Walau "manual" dan "cheat sheet" nya terbatas banget

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help