Selasa, 25 Juli 06... Salahsatu hari ter-dodol dalam sejarah pendaftaran proyek...Waktu lagi sibuk (ngempi) di pagi hari, perhatian gw tertuju pada percakapan telepon
Chika dengan salahsatu boss dari perusahaan rekanan. Kenapa? Karena nama gw disebut... jadi gw
harus nguping...
Oh rupanya pendaftaran proyek... dan terkait posisi gw sebagai "roda penggerak" perusahaan (pake mobil bergerak kesana kemari bawa-bawa surat kuasa buat daftar proyek), maka ini artinya gw harus segera siap lagi buat jalan ke kantor nya anu di lokasi anu.
Ketika drivernya boss ngasi tau kalau proyeknya adalah dari Pemda DKI, gw nyante aja... Pemda DKI di Monas gitu lho? No big deaaalll.....
Tapi ternyata setelah ditanya lebih lanjut, "Pemda DKI" yang dimaksud buka kantor pendaftaran proyeknya di...
Cilincing! "Tembus Kelapa Gading, Cakung, sonoan lagi dari daerah yang macet banget", gitu kurang lebih kata si driver...
***GLEK***
Kamipun beranjak berangkat sekitar jam 11 siang via rute Diponegoro - Salemba - Pramuka - Ahmad Yani - Kelapa Gading - Cilincing. Perjalanan dihiasi dengan berkali-kali antri dan berebut jalan dengan truk-truk segede gaban, plus encounters dengan motor-motor imut yang mungkin pengendaranya punya
jimat kebal kegiles tronton, jadi ngerasa berhak nyetir seenak dhewe. Sekitar jam 12:15 sampailah kami di suatu bangunan gedung Gelanggang Remaja mungil yang menurut gw berada di daerah antah berantah.
Karena sudah jam segitu berarti...
bentrok dengan waktu istirahat! Jadilah gw dan driver harus bengong sampe jam satu-an, nunggu para panitia kembali dari istirahat. Well yah gak bengong original sih... Soalnya sempet makan siang dulu di kantin setempat, dan sholat di mesjid madrosah sebelah gedung,
yang ternyata penghuninya 90% wanita... Halah... serasa langsung jadi paling cakep begini... Seandainya tau dari awal, apa gw bakalan urung sholat disitu yah?
Sambil duduk-duduk di area taman dan nunggu panitia siap, gw gak abis pikir kenapa koq proyek dengan nilai nyaris 6M sampe harus di-tenderkan dari tempat sedemikian ini...
- Apakah supaya para calon peserta keburu bete jadi males daftar?

- Ataukah berfungsi ganda sebagai seleksi alamiah dalam nentuin mana yang serius mana yang nggak?

Oh well, dengan berlakunya
Keppres No. 80 tahun 2003, bisa ditekan kemungkinan adanya "permainan"... Aturan tender proyek negara jadi lebih baku dan ketat, dan terbuka. Ini artinya sekarang siapapun yang memang capable, maka ia memiliki kemungkinan untuk jadi pemenang tender. Beda dengan dimasa sebelumnya saat pemenang tender bisa dibilang 99% sudah pasti dan peserta tender lainnya cuma dummy (atau malah rekanan).
Tapi ini gak menutup kemungkinan buat "ada maen" lhoo... banyak cara yang bisa ditempuh panitia supaya bisa
securing their own winner. Walaupun dengan kondisi panitia yang secara konstan ditakut-takuti bakalan disantroni
kantornya Leonie, plus kemungkinan didemo sama LSM, kalo proyeknya terkait fokus perhatian si LSM.
Dengan pendaftaran proyek yang inipun gw gak terlalu optimis... walaupun selama masih ada kesempatan ya dicoba aja kan?
Sewaktu akhirnya para panitia siap, gwpun menuju meja pendaftaran dan disambut dengan "
Surat Pernyataan Kesediaan Ikut Proyek nya mana pak?", kata si bapak yang mirip Col. Frank Fitts di film
American Beauty. Dan langsung gw mules... yah... harus ribut lagi deh...
Segala alasan mengenai bahwa persyaratan tersebut tidak tercantum di iklan koran yang mereka muat, jadi mentah cuma dengan "ada di
pengumuman di dinding" dan "tuh yang barusan bawa?". Aaaaaahhhh....!
Seribu Juta Topan Badai!!! &%@#^&^!!! 
Gw dah bersiap-siap dengan jurus intimidasi terkait tiga keywords; "perlu", "diadukan", dan "KPK", tapi pastinya gak akan berakibat baik buat perusahaan gw. Bisa-bisa bukannya diloloskan, tapi malah dicatet di daftar black-list informal mereka...
Jadilah gw lapor ke boss kalau ada masalah ini. Dan dasar orang bisnis, dah tau tempatnya nun jauh dari kantor, dan waktu mepet (pendaftaran tutup jam tiga sore), beliau malah bilang "oke, gw susulin pake motor ya!"... hehe... sedangkan kalo it's up to me, gw cuma bakalan bilang "oh ya udah", trus pulang ke kantor dan nulis jurnal ini, plus c.c. ke
Leonie... tapi pake kop surat dan diawali dengan "Kepada Yth. KPK".
Eh lho tapi... kalo up to me,
gw gak akan ada di tempat antah berantah itu in the first place kan?!Jadilah kembali gw harus nunggu ditempat itu, sambil dengerin obrolan-obrolan gak jelas dari oom oom berbaju seragam soal betapa enaknya nginep di Ubud bawa cewe, sebelum parno akibat soal bom... Ooh kapan negara ini mau maju dengan image pemimpin macem begono? True, that ur personal life is ur damn private business, but also keep it that way lah...
Kalo ada
Agung, mungkin dah terlontar celetukan khas yang
ditakuti membuat blushing
Eriq...
"Jadi duit pajak gua cuma dipake buat itu?!?!"Untungnya gw bisa lepas dari nguping obrolan gak mutu karena si oom harus masuk ruangan. Lalu karena masih penasaran dengan teori konspirasi maka gwpun nanya ke mas-mas batak di sebelah gw...
"Maaf ya mas, mau tanya... Tau harus bawa surat pernyataan kesediaan ikut proyek dari mana ya?"
Yang dijawab cuma dengan,
"Kemarin ada tertulis di
pengumuman di dinding"
Alias,
cingcangkeling manuk cicing ditampiling, prosesnya buat semua pendaftar adalah tetep:
1. Pendaftar penuh perjuangan datang ke lokasi dengan membawa persyaratan sesuai iklan di koran.
2. Panitia menolak karena persyaratan tidak lengkap, sesuai
pengumuman di dinding.
3. Pendaftar pulang dengan tangan hampa, mandi keringat, dan kesetanan teh botol.
4. Pendaftar kembali ke lokasi dengan persyaratan tambahan dari
pengumuman di dinding.
5. Pendaftar pulang dengan dokumen tender dan RKS, atau loop ke nomer 2-5 selama masih ada persyaratan yang kurang.
Khusus butir pertama dan kedua sebenarnya banyak kelucuan.... U see... walaupun sudah terikat dengan Keppres No. 80/2003 tadi, nyatanya persyaratan administrasi untuk tiap tender adalah berbeda-beda. Mulai dari yang cuma minta
fotokopi SIUPP, sampe ke yang minta dihadirkan SIUPP, NPWP, Akte, IUJK, SBU, Pelunasan SPT, PPh 25/21/23, TDP, TDR, Kadin, Domisili, KTP Direktur, Akte Notaris plus Pengesahan Akte dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia... dan fotokopinyah.
Dan indahnya, persyaratan tersebut kadang nggak tercantum di iklan koran tapi harus dilihat di
pengumuman di dinding di kantor yang bersangkutan. Atau... secara intuitif pendaftar harus bisa menebak maksud terkandung (tersirat) dibalik tulisan iklan di koran. Seperti jawaban salahsatu panitia lelang ketika kembali gw confront:
"Lho, kan ini ditulis 'bersedia mengikuti proses proyek', berarti harus ada surat kesediaan ikut proyek dong!", yang kembali cuma gw apresiasi dengan senyum sopan walau dalam hati mulai bertanduk. Iya ya pak, jadi harusnya saya lebih teliti dalam membaca dan menafsirkan tiap kata yang termuat dalam iklan bapak, karena pasti ada makna lebih dibalik sekedar kata-kata tersurat yang begitu sederhana...
Hey, siapa tau tersembunyi juga kode buntut buat penarikan Rabu besok!
Tapi hal positifnya, dari mas-mas batak itu diketahui pula kalau pada masa pendaftaran kemaren, mereka yang pada kecele soal harus adanya
Surat Pernyataan Kesediaan Ikut Proyek itu ternyata lebih memilih buat
ngakalin panitia. Daripada harus bolak-balik ke kantor ngurus selembar surat, mereka memilih buat...
"Ngetik di rental mas, trus di-print", jelas mas batak.
"Eh... pinter juga!" tertegun gw dalem ati... para punggawa ahli pendaftaran itu emang harus cerdas dalam nyari celah, dan terbukti mereka bisa brilliant kalo soal ngakalin panitia...
"Lho, terus cap perusahaannya mas?", tanya gw soal persyaratan lainnya.
"Ya cari aja cap yang ada di rentalnya", jawabnya lebih lanjut...
Buset dah... walaupun gw gak yakin dengan saran terakhir,
but it might actually works... So, gwpun pamitan ama si mas dan driver buat nyari warnet dan
do some forgery. Untung kop surat perusahaan gw gak rumit, dan capnya juga standar, jadi optimis bisa gw duplikat dengan sedikit
skill with plastic eraser and cutter.
Masalahnya cuma...
gak ada rental komputer deket situ... Baru setelah sekitar 15 menit jalan kaki dibawah terik matahari dan keringet ngucur deras, ge nemu rental komputer yang bisa nge-print warna... itupun setelah ngetik sekian lama, gw baru tau kalau
printernya gak bisa ngeprint warna merah...
"Iya pak, kalau di printer, itu namanya Magenta", mas penjaga menjelaskan pada daku yang awam soal komputer dan soal warna ini, mengenai warna pink keunguan di kop surat palsu gw...
"Lha ini saya pilih merah tua juga, jadinya malah ungu", sambung gw yang lugu ini sambil menunjukkan hasil print lain.
"Ya, kalau printer komputer emang gitu pak", sambung mas penjaga dengan sangat bijaksana...
Gwpun pilih untuk bungkam daripada memberi saran pada sang dewa untuk mengkalibrasi printernya. Pastilah pengalaman gw bergaul dengan printer mulai dari LX-800 sampe ke printer gajah seharga BMW nya Samafitro gak akan berguna disini...
Tapi whatever... artinya batal lah niat gw buat forgery karena bakalan terlalu ketauan pengibulannya... huhuhu... petualangan tanpa hasil dengan biaya 10 rebu rupiah... dan baju basah sama keringet...



Setelah akhirnya sang kurir bermotor dari kantor sampai di lokasi, pada limabelas menit menjelang pukul tiga sore, gwpun berhasil melalui
base pertama dan menuju ke
base kedua pendaftaran;
Loket Pemeriksaan Persyaratan.
Disinilah kembali gw bertekad untuk mencari tau, dimana dan kapan saja Pemda DKI membuka kursus penafsiran iklan lelang mereka di koran, karena walaupun di iklan tertulis hanya "
fotokopi SIUPP dan menunjukkan aslinya", walhasil di loket kenyataanya berbeda...
"Domisili Perusahaan?"
"TDP?"
"Akte? Akte?"
Untung aja sebelum berangkat tadi, gw ngikut firasat dan bawa segala macem surat-surat yang menyatakan perusahaan yang gw wakili ini ada dan sah... Kalo nggak, heuhh...
Tapi teuteup koq, pihak panitia punya jurus pamungkas maha dahsyat...
"Koq nggak ada fotokopinya?"**GUBRAK**
Udahlah gw harus nunjukin persyaratan yang gak diminta, masih ditagih fotokopinya juga...



Kembali ke kantor jam 4 sore, membawa RKS dan aneka dokumen pelelangan lainnya, gw bengong didepan kompie dengan badan bau keringet dan muka tebel ama debu... Perjalanan pulang tadi considerably lebih manusiawi karena pak driver berhasil menemukan jalan tembus ke Pondok Kopi - Tol Cikampek - Tol Dalam Kota - Pancoran - Cikini - Thamrin...
Agak muter memang, tapi saves alot of unnecessary stresses.
Tapi walau demikian, teuteup... gw dapet "hadiah" pusing akut yang gak ilang-ilang sampe larut malem... Even setelah minum Neuralgin...
Yah beginilah kisah si "roda penggerak" perusahaan!
Lalu kalo dikaitkan dengan "every cloud has it's silver lining"; tiap peristiwa selalu memiliki sisi positif, lantas "silver lining"nya dari peristiwa ini apaan?....
Untung aja gw dulu gak jadi macarin neneng* yang ngaku rumahnya di Cilincing**! (bay)
* Neneng = wanita muda, dalam bahasa Sunda.
** Maaf, gak ada maksud menghina penduduk Cilincing cs., cuma kalo sampe kejadian, bisa jadi si
neneng itu bakalan lebih cemberut dari
cintaku yang gw apelin ke rumahnya lebih jarang dari sebulan sekali.