Bayu's posts with tag: aparat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aparat
Posted by Bayu on Apr 12, '07 6:38 AM for everyone
Akhirnya... kalo di masa2 dulu punya becking yang cukup ampuh; temen-temen nyokap di aneka Kejaksaan, maka kali ini gw mati kutu kala kena tilang. Tapi gapapa, mencoba lebih bertanggung-jawab sama kesalahan sendiri.

Gara-gara males ngantri, di exit tol kearah Kemayoran dari Grogol gw nekad nyalip deretan truk trailer yang berjalan bak keong, kala exit ramp tinggal 200-300an meter lagi. Walhasil gw nikung tajem beberapa belas saat sebelum exit, dan disana telah menunggu dua orang polisi dengan pandangan mata berbinar-binar (asumsi gw pribadi tentunya). Karena bego, dah lama gak ditangkep polisi, maka dengan pede nya gw tetep masuk ke barisan antrean yang menurut gw masih "just in time".

Yang mana kejadian berikutnya sudah pasti berujung ke sapaan hangat dari para abdi negara ini yang meminta gw menepi. Gw pun nyiapin surat-surat kendaraan plus argumen...

Singkat kata, gw kena tilang karena memotong garis lurus tak terputus. Dan karena si pak polisinya nggak nunjukin gelagat pengen damai, maka gw pun nggak berusaha nyari alternatif, daripada nekad nawar ntar malah kena kasus usaha penyogokan. Jadi nerimalah gw surat tilang form merah (terdakwa nggak ngerasa salah jadi dipersilakan debat sama pak Hakim) dari pak Polisi.

Tadinya pas hari sidang, gw pengen dateng karena penasaran... "kayak apa sih sistem peradilan tilang ini?". Yah minimal buat bahan tulisan di sini. Tapi apa daya, waktunya nggak lucu sekali; pas tanggal merah di long weekend. Mendingan mudik dooong?? Kebetulan  juga pernah baca beberapa postingan yang berseliweran di internet soal sidang ini, dimana katanya kalo nggak ikut sidang pun nggak apa-apa, nanti tinggal tebus tilang nya di loket di Pengadilan Negeri yang ditunjuk (biasanya berdasarkan daerah kejadian).

Pilihan Pengadilan Negeri nya nggak banyak koq, untuk Jakarta tentu either Jakarta Pusat, Utara, Selatan, Barat, atau Timur. Gw diarahkan ke Jakarta Utara karena kejadiannya di tol Wiyoto Wiyono sekitar Kemayoran.

Namun ketika akhirnya gw sempet buat menjalani proses, ternyata ada masalah besar yang muncul...

"DIMANA GERANGAN PENGADILAN NEGERI JAKARTA UTARA BERADA?"


Setengah mampus nyari informasinya di internet nggak dapet-dapet. Di website Polisi nggak ada, di-Googling aja nyerah! Ajegile, padahal informasi yang segini rutinnya bakalan ditanyain masyarakat, nggak ada satupun referensi informasi internet yang bisa didapet! Ketika akhirnya desperate dan nanya langsung sama pak Polisi juga jawabannya beragam;

"Di Terminal Tanjung Priuk pak, tepat sebrangnya", dan

"Bapak tau PRJ? Jalan di seberangnya ke kiri nanti lihat kanan"
...

... glek... mana yang bener??

Karena informasi kedua datang dari pak polisi BM (Brigade Motor) yang mangkal dibawah jembatan layang PRJ, maka gw anggap lebih valid. Dan mulailah gw menyusuri jalanan Sunter yang penuh restoran di kiri-kanannya itu tanpa hasil...

Dan ketika setengah jam muter2 tanpa hasil, akhirnya gw teringat satu sumber informasi lain yang dulu pernah gw ragukan performance nya... 021 108! Nomer telepon Penerangan Telkom!

Ah untungnya nomer telepon untuk lembaga penting ini nggak salah, jadi langsunglah gw berbicara dengan mbak-mbak operator telepon Pengadilan Negeri Jakarta Utara di 021 6471 0276, bagian informasi. Dan ternyata setelah mendapatkan petunjuk dari mbak informasi, ternyata informasi pak polisi BM tadi nggak salah-salah amat... cuma perlu diperjelas sebagai berikut:

"Bapak tau PRJ? ikuti Jalan di seberangnya terus sampe ketemu perempatan di sebelah kali setelah deretan ruko. Dari sini belok ke kiri terus kearah utara, sampai nanti kalau sudah kelihatan jalan tol, lihat di sebelah kanan setelah pool truk sampah".

(Ahhh... informasi dalam bentuk .zip rupanya...)

Selanjutnya, pertanyaan yang juga penting:

"BERAPA JUMLAH DENDA YANG HARUS DIBAYARKAN?"

Setelah sebelumnya sempat baca-baca Tabel Denda Tilang edisi 2005* (thanks to Anung Waskito), maka gw tau bahwa pelanggaran yang gw lakukan adalah pelanggaran kelas ringan dan dendanya adalah Rp. 50.000,00

Sampe di Pengadilan Negeri, gw dengan pede nya masuk untuk parkir mobil di halaman dalem, tempat yang aman untuk menghindari serbuan calo. Tapi ah apa daya, waktu gw minta ditunjukkin loket penebusan tilang ke para petugas di pintu masuk, langsung aja mereka berbasa-basi dan nawarin jasa penebusan... Dibilangnya untuk tilang seperti kasus gw, dendanya antara Rp. 75.000 sampai Rp. 600.000! Bleeh! Emang bener sih bahwa dalam kasus yang gawat, dendanya bisa sampe sedemikian, tapi on most cases, berlaku tarif standar aja.

Lalu dengan segala cara mereka berusaha meyakinkan gw bahwa biayanya memang segitu. Padahal menurut kabar di internet, biaya penebusan biasanya hanyalah biaya dasar dari tabel denda, plus biaya sidang... yang mana dari contohnya hanyalah sebesar Rp. 300 rupiah!
Setelah tau MO mereka mengintimidasi, gw pun menolak dan memutuskan untuk mengurus sendiri saja ke loket yang dimaksud (tapi para double agent ini tetep gak mau ngasi tau loketnya dibagian mana dari gedung =P). Sayangnya, informasi tambahan dari mereka adalah, bahwa tilang gw gak bisa diurus di tempat tersebut karena telah lewat tanggalnya, dan hanya bisa ditebus di Jl. Tongkol, yang mana adalah Kantor Kejaksaan Jakarta Utara... disini gw mulai bimbang. Tapi tetep gw nolak tawaran para double agent ini.

Diluar gedung, salahnya, gw bertanya pada tukang parkir yang sedang ditemani staff2 lain... yang ternyata adalah double-agent juga! Hihih... Ironis, calo di gedung pengadilan... tepat di "jantung" dari sistem peradilan hukum Indonesia... HAHAHAHAHA!

Iseng gw tawar lagi, kali ini dengan backup data kalo para double-agent didalam minta cuma 75K, gw berusaha nawar 60K... dan tentu saja mereka jual mahal. Next step, jangan kelihatan bingung atau kalah, gw pun mohon diri dan berlalu... Setelah jalan rada jauh pura-pura mau ke tukang teh botol, terdengar double agents tersebut memanggil-manggil... tapi tentu gw cuek pura-pura nggak denger dong... hehe

Setelah ngaso sebentar di warung, kembali gw teringat untuk nelpon ke bagian informasinya Pengadilan Negeri Jakut tadi... Tapi apa daya... ternyata menurut informasi lebih lanjut, pengurusan tilang setelah tanggal sidang memang harus diurus ke Kejaksaan... wah payah...

Jadi berbeda dengan informasi yang gw dapet di internet, setelah tanggal sidang lewat, maka pengurusan penebusan Tilang harus dilakukan di Kantor Kejaksaan, nggak bisa lagi di Pengadilan Negeri... (cmiiw).

Karena males kalo harus jalan lagi ke arah Terminal Tanjung Priuk, ditambah gw harus cepet2 balik lagi ke kantor, akhirnya gw milih buat make jasa double-agent aja =(. Huh! Dan dalam waktu 10 menitan untuk pp pake motor, SIM A sudah kembali berada di tangan gw ditukar duit 70 rebu.

Bercermin dari sini, pengurusan Tilang ternyata ruwet bener... di era teknologi seperti ini, ATM dah dimana-mana, ternyata teknis pembayaran masih harus diurus by person ke tempat-tempat tertentu... Kala informasi di internet dah bisa diakses kapan saja dimana saja, informasi mengenai pengurusan Tilang ini masih sangat-sangat misterius.... Adapun informasi yang cukup mendetail ternyata datang dari klub-klub pengendara motor! Bukan dari Kepolisian itself. Dan laen kali kalo kena Tilang mendingan nyerah aja ngaku salah dan minta form biru... Jadi bayarnya cukup ke Bank BRI yang ditunjuk, dan ngambil tawanan SIM/STNK nya di kantor polisi penilang.

Tetep repot sih, tapi duitnya 100% buat negara... (bay)

*Mengenai keabsahan tabel tilang tersebut kelihatannya cukup shahih, karena bersarangnya di website Ditjen Perhubungan Darat (which takes forever to load).
Attachment: gakkumllaj.pdf

Posted by Bayu on Dec 11, '06 12:59 AM for everyone
Karena warna kulit yang sama?
Karena sama-sama masih muda?
Karena saling mengerti dan menghormati?
Karena sama-sama mahluk Tuhan?
Karena tinggal di tempat yang sama?
Karena nggak sadar mereka berbeda?

Atau karena ngerti... kalopun ada perbedaan, maka nggak perlu dibesar-besarkan?
...
Ah... tapi kan mereka hewan, mana mungkin manusia ngerti?

Apalagi kalo pada punya pestol [1][2][3][4][5][6][7][8][9]

(bay)

Posted by Bayu on Jul 25, '06 6:59 AM for everyone
Selasa, 25 Juli 06... Salahsatu hari ter-dodol dalam sejarah pendaftaran proyek...

Waktu lagi sibuk (ngempi) di pagi hari, perhatian gw tertuju pada percakapan telepon Chika dengan salahsatu boss dari perusahaan rekanan. Kenapa? Karena nama gw disebut... jadi gw harus nguping...

Oh rupanya pendaftaran proyek... dan terkait posisi gw sebagai "roda penggerak" perusahaan (pake mobil bergerak kesana kemari bawa-bawa surat kuasa buat daftar proyek), maka ini artinya gw harus segera siap lagi buat jalan ke kantor nya anu di lokasi anu.

Ketika drivernya boss ngasi tau kalau proyeknya adalah dari Pemda DKI, gw nyante aja... Pemda DKI di Monas gitu lho? No big deaaalll.....

Tapi ternyata setelah ditanya lebih lanjut, "Pemda DKI" yang dimaksud buka kantor pendaftaran proyeknya di... Cilincing!

"Tembus Kelapa Gading, Cakung, sonoan lagi dari daerah yang macet banget", gitu kurang lebih kata si driver...

***GLEK***

Kamipun beranjak berangkat sekitar jam 11 siang via rute Diponegoro - Salemba - Pramuka - Ahmad Yani - Kelapa Gading - Cilincing. Perjalanan dihiasi dengan berkali-kali antri dan berebut jalan dengan truk-truk segede gaban, plus encounters dengan motor-motor imut yang mungkin pengendaranya punya jimat kebal kegiles tronton, jadi ngerasa berhak nyetir seenak dhewe. Sekitar jam 12:15 sampailah kami di suatu bangunan gedung Gelanggang Remaja mungil yang menurut gw berada di daerah antah berantah.

Karena sudah jam segitu berarti... bentrok dengan waktu istirahat! Jadilah gw dan driver harus bengong sampe jam satu-an, nunggu para panitia kembali dari istirahat. Well yah gak bengong original sih... Soalnya sempet makan siang dulu di kantin setempat, dan sholat di mesjid madrosah sebelah gedung, yang ternyata penghuninya 90% wanita... Halah... serasa langsung jadi paling cakep begini... Seandainya tau dari awal, apa gw bakalan urung sholat disitu yah?

Sambil duduk-duduk di area taman dan nunggu panitia siap, gw gak abis pikir kenapa koq proyek dengan nilai nyaris 6M sampe harus di-tenderkan dari tempat sedemikian ini...
  • Apakah supaya para calon peserta keburu bete jadi males daftar?
  • Ataukah berfungsi ganda sebagai seleksi alamiah dalam nentuin mana yang serius mana yang nggak?
Oh well, dengan berlakunya Keppres No. 80 tahun 2003, bisa ditekan kemungkinan adanya "permainan"... Aturan tender proyek negara jadi lebih baku dan ketat, dan terbuka. Ini artinya sekarang siapapun yang memang capable, maka ia memiliki kemungkinan untuk jadi pemenang tender. Beda dengan dimasa sebelumnya saat pemenang tender bisa dibilang 99% sudah pasti dan peserta tender lainnya cuma dummy (atau malah rekanan).

Tapi ini gak menutup kemungkinan buat "ada maen" lhoo... banyak cara yang bisa ditempuh panitia supaya bisa securing their own winner. Walaupun dengan kondisi panitia yang secara konstan ditakut-takuti bakalan disantroni kantornya Leonie, plus kemungkinan didemo sama LSM, kalo proyeknya terkait fokus perhatian si LSM.

Dengan pendaftaran proyek yang inipun gw gak terlalu optimis... walaupun selama masih ada kesempatan ya dicoba aja kan?

Sewaktu akhirnya para panitia siap, gwpun menuju meja pendaftaran dan disambut dengan "Surat Pernyataan Kesediaan Ikut Proyek nya mana pak?", kata si bapak yang mirip Col. Frank Fitts di film American Beauty. Dan langsung gw mules... yah... harus ribut lagi deh...

Segala alasan mengenai bahwa persyaratan tersebut tidak tercantum di iklan koran yang mereka muat, jadi mentah cuma dengan "ada di pengumuman di dinding" dan "tuh yang barusan bawa?". Aaaaaahhhh....!

Seribu Juta Topan Badai!!! &%@#^&^!!!

Gw dah bersiap-siap dengan jurus intimidasi terkait tiga keywords; "perlu", "diadukan", dan "KPK", tapi pastinya gak akan berakibat baik buat perusahaan gw. Bisa-bisa bukannya diloloskan, tapi malah dicatet di daftar black-list informal mereka...

Jadilah gw lapor ke boss kalau ada masalah ini. Dan dasar orang bisnis, dah tau tempatnya nun jauh dari kantor, dan waktu mepet (pendaftaran tutup jam tiga sore), beliau malah bilang "oke, gw susulin pake motor ya!"... hehe... sedangkan kalo it's up to me, gw cuma bakalan bilang "oh ya udah", trus pulang ke kantor dan nulis jurnal ini, plus c.c. ke Leonie... tapi pake kop surat dan diawali dengan "Kepada Yth. KPK".

Eh lho tapi... kalo up to me, gw gak akan ada di tempat antah berantah itu in the first place kan?!

Jadilah kembali gw harus nunggu ditempat itu, sambil dengerin obrolan-obrolan gak jelas dari oom oom berbaju seragam soal betapa enaknya nginep di Ubud bawa cewe, sebelum parno akibat soal bom... Ooh kapan negara ini mau maju dengan image pemimpin macem begono? True, that ur personal life is ur damn private business, but also keep it that way lah...

Kalo ada Agung, mungkin dah terlontar celetukan khas yang ditakuti membuat blushing Eriq...

"Jadi duit pajak gua cuma dipake buat itu?!?!"

Untungnya gw bisa lepas dari nguping obrolan gak mutu karena si oom harus masuk ruangan. Lalu karena masih penasaran dengan teori konspirasi maka gwpun nanya ke mas-mas batak di sebelah gw...

"Maaf ya mas, mau tanya... Tau harus bawa surat pernyataan kesediaan ikut proyek dari mana ya?"

Yang dijawab cuma dengan,

"Kemarin ada tertulis di pengumuman di dinding"

Alias, cingcangkeling manuk cicing ditampiling, prosesnya buat semua pendaftar adalah tetep:

1. Pendaftar penuh perjuangan datang ke lokasi dengan membawa persyaratan sesuai iklan di koran.
2. Panitia menolak karena persyaratan tidak lengkap, sesuai pengumuman di dinding.
3. Pendaftar pulang dengan tangan hampa, mandi keringat, dan kesetanan teh botol.
4. Pendaftar kembali ke lokasi dengan persyaratan tambahan dari pengumuman di dinding.
5. Pendaftar pulang dengan dokumen tender dan RKS, atau loop ke nomer 2-5 selama masih ada persyaratan yang kurang.

Khusus butir pertama dan kedua sebenarnya banyak kelucuan.... U see... walaupun sudah terikat dengan Keppres No. 80/2003 tadi, nyatanya persyaratan administrasi untuk tiap tender adalah berbeda-beda. Mulai dari yang cuma minta fotokopi SIUPP, sampe ke yang minta dihadirkan SIUPP, NPWP, Akte, IUJK, SBU, Pelunasan SPT, PPh 25/21/23, TDP, TDR, Kadin, Domisili, KTP Direktur, Akte Notaris plus Pengesahan Akte dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia... dan fotokopinyah.

Dan indahnya, persyaratan tersebut kadang nggak tercantum di iklan koran tapi harus dilihat di pengumuman di dinding di kantor yang bersangkutan. Atau... secara intuitif pendaftar harus bisa menebak maksud terkandung (tersirat) dibalik tulisan iklan di koran. Seperti jawaban salahsatu panitia lelang ketika kembali gw confront:

"Lho, kan ini ditulis 'bersedia mengikuti proses proyek', berarti harus ada surat kesediaan ikut proyek dong!", yang kembali cuma gw apresiasi dengan senyum sopan walau dalam hati mulai bertanduk. Iya ya pak, jadi harusnya saya lebih teliti dalam membaca dan menafsirkan tiap kata yang termuat dalam iklan bapak, karena pasti ada makna lebih dibalik sekedar kata-kata tersurat yang begitu sederhana...

Hey, siapa tau tersembunyi juga kode buntut buat penarikan Rabu besok!

Tapi hal positifnya, dari mas-mas batak itu diketahui pula kalau pada masa pendaftaran kemaren, mereka yang pada kecele soal harus adanya Surat Pernyataan Kesediaan Ikut Proyek itu ternyata lebih memilih buat ngakalin panitia. Daripada harus bolak-balik ke kantor ngurus selembar surat, mereka memilih buat...

"Ngetik di rental mas, trus di-print", jelas mas batak.

"Eh... pinter juga!" tertegun gw dalem ati... para punggawa ahli pendaftaran itu emang harus cerdas dalam nyari celah, dan terbukti mereka bisa brilliant kalo soal ngakalin panitia...

"Lho, terus cap perusahaannya mas?", tanya gw soal persyaratan lainnya.

"Ya cari aja cap yang ada di rentalnya", jawabnya lebih lanjut...

Buset dah... walaupun gw gak yakin dengan saran terakhir, but it might actually works... So, gwpun pamitan ama si mas dan driver buat nyari warnet dan do some forgery. Untung kop surat perusahaan gw gak rumit, dan capnya juga standar, jadi optimis bisa gw duplikat dengan sedikit skill with plastic eraser and cutter.

Masalahnya cuma... gak ada rental komputer deket situ... Baru setelah sekitar 15 menit jalan kaki dibawah terik matahari dan keringet ngucur deras, ge nemu rental komputer yang bisa nge-print warna... itupun setelah ngetik sekian lama, gw baru tau kalau printernya gak bisa ngeprint warna merah...

"Iya pak, kalau di printer, itu namanya Magenta", mas penjaga menjelaskan pada daku yang awam soal komputer dan soal warna ini, mengenai warna pink keunguan di kop surat palsu gw...

"Lha ini saya pilih merah tua juga, jadinya malah ungu", sambung gw yang lugu ini sambil menunjukkan hasil print lain.

"Ya, kalau printer komputer emang gitu pak", sambung mas penjaga dengan sangat bijaksana...

Gwpun pilih untuk bungkam daripada memberi saran pada sang dewa untuk mengkalibrasi printernya. Pastilah pengalaman gw bergaul dengan printer mulai dari LX-800 sampe ke printer gajah seharga BMW nya Samafitro gak akan berguna disini...

Tapi whatever... artinya batal lah niat gw buat forgery karena bakalan terlalu ketauan pengibulannya... huhuhu... petualangan tanpa hasil dengan biaya 10 rebu rupiah... dan baju basah sama keringet...



Setelah akhirnya sang kurir bermotor dari kantor sampai di lokasi, pada limabelas menit menjelang pukul tiga sore, gwpun berhasil melalui base pertama dan menuju ke base kedua pendaftaran; Loket Pemeriksaan Persyaratan.

Disinilah kembali gw bertekad untuk mencari tau, dimana dan kapan saja Pemda DKI membuka kursus penafsiran iklan lelang mereka di koran, karena walaupun di iklan tertulis hanya "fotokopi SIUPP dan menunjukkan aslinya", walhasil di loket kenyataanya berbeda...

"Domisili Perusahaan?"
"TDP?"
"Akte? Akte?"

Untung aja sebelum berangkat tadi, gw ngikut firasat dan bawa segala macem surat-surat yang menyatakan perusahaan yang gw wakili ini ada dan sah... Kalo nggak, heuhh...

Tapi teuteup koq, pihak panitia punya jurus pamungkas maha dahsyat...

"Koq nggak ada fotokopinya?"

**GUBRAK**

Udahlah gw harus nunjukin persyaratan yang gak diminta, masih ditagih fotokopinya juga...



Kembali ke kantor jam 4 sore, membawa RKS dan aneka dokumen pelelangan lainnya, gw bengong didepan kompie dengan badan bau keringet dan muka tebel ama debu... Perjalanan pulang tadi considerably lebih manusiawi karena pak driver berhasil menemukan jalan tembus ke Pondok Kopi - Tol Cikampek - Tol Dalam Kota - Pancoran - Cikini - Thamrin... Agak muter memang, tapi saves alot of unnecessary stresses.

Tapi walau demikian, teuteup... gw dapet "hadiah" pusing akut yang gak ilang-ilang sampe larut malem... Even setelah minum Neuralgin...

Yah beginilah kisah si "roda penggerak" perusahaan!

Lalu kalo dikaitkan dengan "every cloud has it's silver lining"; tiap peristiwa selalu memiliki sisi positif, lantas "silver lining"nya dari peristiwa ini apaan?....

Untung aja gw dulu gak jadi macarin neneng* yang ngaku rumahnya di Cilincing**! (bay)

* Neneng = wanita muda, dalam bahasa Sunda.
** Maaf, gak ada maksud menghina penduduk Cilincing cs., cuma kalo sampe kejadian, bisa jadi si neneng itu bakalan lebih cemberut dari cintaku yang gw apelin ke rumahnya lebih jarang dari sebulan sekali.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help