Bayu's posts with tag: bandung

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bandung
Posted by Bayu on Apr 3, '07 10:06 PM for everyone
Hehe... Gara-gara postingan jazzterday yang ini, mau nggak mau jadi terkenang ke masa silam. Masa-masa pertengahan 80an, waktu gw masih SMP something. Kebetulan di keluarga, cuma bokap dan kakak yang maniak sepak bola sampe rela begadang jauh malem buat nonton siaran-siaran langsung dari pertandingan luar negeri. Gw sih ogah, berkali-kali maen pas pelajaran olahraga atau pertandingan antar kelas aja malah banyakan malu-maluin nya. Dapet bola muntah di goal area, malah gw tahan pake tangan, terang aja jadi penalti... Adu lari gak pernah menang, apa lagi rebutan bola. Termasuk nyundul bola pake muka pun pernah gw lakuin... hih.

Tapi maniak or not, beda kasusnya kalo Persib maen! Pasti sekeluarga langsung pada tekun konsentrasi di depan layar TV, dengan semangat tinggi mendukung tim kebanggaan Bandung ini sepenuh hati. Apalagi kalo permainan "cantik" short pass ala Persib dipertemukan dengan permainan keras ala "musuh" bebuyutan Persib... Siapa lagi kalo bukan... PSMS Medan! Wah! Pasti deh aneka ungkapan geram keluar tiap kali menyaksikan para pahlawan Bandung dijegal dengan kasar oleh lawan rutinnya di putaran final Piala PSSI ini.

Mungkin karena saking seringnya berhadapan juga, maka PSMS selalu mendapat tempat spesial sebagai "musuh bebuyutan" Persib, regardless Persib di masa itu pernah dijegal juga oleh Persija, Persebaya, PSDS (Deli Serdang), bahkan Perseman (Manokwari).

(Eh... masih pada inget sama Adolf Kabo? =)

Di masa-masa itu juga, sekiranya Persib menang pertandingan besar, either semi-final atau final, gw baru nyadar kalo bokap punya kebiasaan yang unik... Ngajak jalan-jalan keliling Bandung pake mobil, komplit sekeluarga, dan kalo ketemu orang di jalan, atau fellow pawai-ers pada tereak-tereak...

"HIDUP PERSIB!!!"

Dan rata-rata yang ditereaki akan menyambut balik dengan sama antusiasnya. Tapi pernah juga pada suatu ketika waktu lagi muncul isengnya, dan suasana kebetulan rada sepi, bokap manggil seorang pemuda yang lagi nyebrang di perempatan lampu merah...

"Jang, jang, kadieu jang..." panggil si bokap.

"Ya, aya naon pa?" sambut si pemuda dengan sopan namun agak bingung.

"HIDUP PERSIB!!!", seru kami satu mobil!

Si pemuda kelihatan kaget, tapi nyahut juga disela gelak tawa kami,

"oh, ya, ya, hidup, hidup..." sambil tak lama kemudian ngeloyor pergi

hehehehe

Tapi lambat laun kebiasaan ini hilang juga, mungkin setelah para bobotoh Persib cenderung berlaku brutal dan vandalis, baik setelah kekalahan maupun kemenangan Persib. Apalagi kemudian nama Persib semakin tenggelam diantara bermunculannya tim-tim bagus dari penjuru tanah air. Sempat fanatisme kedaerahan ini kembali merebak ketika pada kompetisi Liga Indonesia, Bandung memiliki jagoan lain dalam klub Bandung Raya. Klub papan bawah yang tadinya terseok-seok ini mendadak jadi mesin penggilas ulung ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk "meminjam" Dejan Glucevic dari salahsatu tim nasional. Dejan yang dianggap kurang berprestasi (makanya dipinjamkan) ternyata menemukan pola permainan terbaiknya kala dipasangkan dengan Peri Sandria di Bandung Raya. Dua-duanya sempat termasuk dalam jajaran top scorer, walau bukan yang terbaik.

Sayangnya prestasi Bandung Raya kembali terpuruk ketika Dejan ditarik kembali ke tim asalnya karena masa peminjaman sudah habis.

Tapi yah, nevertheless, Bandung pernah punya dua tim sepakbola kebanggaan.

Dan di keluarga kami sendiri, sekarang udah nggak ada lagi yang namanya nonton bareng Persib... gw juga cuma ngikutin sekilas aja tanpa terlalu interest juga, apalagi Persib udah kehilangan ciri khasnya sebagai satu-satunya tim yang nggak make pemain import.

Tapi yah, kalo ditanya tim sepakbola favoritnya mana? Forget MU, Kolamhati, AC Milan, Barcelona, dll. it's still...

"HIDUP PERSIB!!!"
(bay)

gambar dari: http://www.brandsoftheworld.com

Posted by Bayu on Apr 2, '07 2:31 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hasil ngadat pengen japanese food sewaktu ke Bandung akhir taun 2006 lalu. Nemu resto ini di Ciwalk, setelah bingung muter2 nyari resto Jepun yang ada menu udon nya dan nggak berhasil.

Suasana nyaman dan friendly, service juga cukup atentif, ppq (price per quality) juga termasuk bagus; worth the rupiahs spent. Pilihan menu, banyak ragam tapi sedikit pilihan (nah, bingung kan?), maksudnya ada menu jenis ramen, udon, nasi2an, katsu, dll. tapi masing-masing jenis, pilihannya nggak terlalu banyak. Trully understandable sih, mengingat untuk satu jenis hidangan yang disajiin pun butuh effort yang gak sedikit.

Harga, masih termasuk standar, antara 20K - 50K afaik, porsinya juga cukup gede.

On overall oke koq, cukup mengena buat para japanese food maniacs, recommended. (bay)


Posted by Bayu on Jan 5, '07 3:34 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Salahsatu restoran steak favorit di Bandung "Suis Butcher", terletak di daerah Setiabudi. Berawal dari butcher dan deli; toko kecil yang jualan daging mentah, plus hidangan makanan mateng nya, maka keliatannya kalo sekarang sih main business nya udah lebih condong ke hidangan makanan jadi nya.

Menu utama di tempat ini adalah steaks, dengan variasi yang cukup beragam. Sayangnya nggak sempet di-test soal kualitas daging dan skill masak steak nya (di kematangan medium / medium rare), tapi on overall sih kualitas makanannya lumayan baik, dan pastinya, harga yang cukup bersahabat buat kantong.

Nggak sukanya, interior terlalu temaram, plus kalo pas liburan kayak kemaren cenderung over-crowded... tapinya soal yang terakhir itu, sama aja kasusnya buat resto2 Bandung pas weekend bukan?

Kalo mau kesini, dari Bandung Selatan / Kota, ambil jalan kearah Enhaii / Surabi Gaul / Ledeng / Lembang. Ntar setelah pertigaan Setiabudi / Sukajadi yang satu arah tuh, terus aja mengarah ke Utara sekitar 500 meter-an. Suis Butcher ada di kompleks ruko di sebelah kanan jalan, sebelum lampu merah pertigaan Setiabudi / Geger Kalong. Kalo mo pake angkot juga gampang, naek aja angkot jurusan Ledeng, ntar turun pas sebrang Suis Butcher. (bay)


Posted by Bayu on Jan 4, '07 4:36 AM for everyone
Salahsatu kejutan menarik dari liburan di Bandung yang baru lalu, adalah pertemuan tak terduga dengan pasangan Ida & Mbot, Aya & Ness, serta Blitz Megaplex. Hmm... harusnya Salahtiga dong ya, bukan salahsatu?

Berawal dari sms dari Ida, maka kamipun sepakat untuk nonton bareng di Bandung. Sewaktu ida bilang "Blitz" di Sukajadi, somehow namanya terdengar cukup familiar, namun ndak ring a bell... Gw cuma nyangka kalo di Bandung ada bioskop 21 baru di daerah Sukajadi.

Tapi setelah insomnia nya berlalu, baru deh keinget kabar dari Winda soal dibukanya outlet multiplex bioskop baru di Bandung utara ini. Yupp, tempat tujuan kita hari itu adalah Blitz Megaplex di pusat pertokoan "Paris van Java" di daerah Sukajadi.

Maka segeralah rencana disusun, gw ngasi tau sang adik supaya bergabung, walaupun masih belum tau pastinya seperti apa sih film yang bakalan diliat nanti?... "Happy Feet", terdengar film anak-anak sekali dan mungkin kurang mengena buat khalayak yang lebih dewasa.... Tapi ah biarlah, yang asik kan nonton bareng nya.

Begitu sampai di kompleks pertokoan yang masih setengah jadi ini, gw, Nade, dan Dea, berkumpul di dekat loket pembelian tiket film. Setelah diperhatikan, ternyata ada sekitar 10 film yang main secara bersamaan! WOW! Judulnya sendiri cukup beragam, mulai dari film-film terbaru, film lokal, hingga film rada jadoel semisal "The Grudge". Sebagai akibatnya, bagi para movie-buffs yang kadung datang berhalangan untuk menyaksikan film yang dituju, maka masih terdapat banyak alternatif lainnya. Cocok juga buat yang sekedar pengen nonton, tapi belon tau pasti film apa yang pengen diliat.

Harga tiket saat ini adalah IDR 25K, dilayani di sekitar 8 loket pemesanan tersebar di dua lokasi berbeda (ground floor dan first floor) yang sifatnya online. Harga tiket ini sendiri berbeda untuk film lokal, yang dipatok di IDR 15K.

Lucunya lagi, semua front officer yang bertugas adalah para remaja, dengan gaya yang fresh, "gaul", penguasaan teknologi yang baik, plus pelayanan yang ramah dan cukup baik. Dari segi harga makanan pun, walaupun tidak ada larangan untuk membawa makanan / minuman dari luar (seperti di lazimnya bioskop2 Group-21), keliatannya para pengunjung tidak terlalu keberatan untuk memanfaatkan gerai snack corner yang Blitz miliki. Yah gimana nggak? Untuk satu paket popcorn plus soft drink, pengunjung hanya perlu mengeluarkan dana IDR 13K, bandingkan dengan di bioskop2 Group-21 yang bisa mencapai bilangan IDR 30K!

Sayangnya, untuk seating, Blitz kurang memperhatikan masalah ketinggian kursi, sehingga sering terjadi pandangan kita terhalang oleh kepala penonton di depannya, padahal yang bersangkutan tidak memiliki postur tubuh yang spesial.

Namun demikian, karena pengalaman menonton "Happy Feet" cukup memuaskan (dari segi kenyamanan), maka besoknya gw dan keluarga kembali ke Blitz buat nonton "Curse of The Golden Flowers". Apalagi, dengan kartu HSBC maka harga tiket di korting jadi cuma IDR 15K! Kapan lagi coba, nonton di bioskop bagus cuma bayar limabelas rebu?? Hehehe. Pada kesempatan nonton kedua kalinya ini muncul kejutan menggembirakan lainnya; Aya dan Ness!

Tadinya kunjungan ke Blitz ini masih akan berlanjut keesokan harinya untuk menonton "Deja Vu", namun karena satu dan lain hal maka dibatalkan dan jadinya kami malah safari FO.

Semoga Blitz Megaplex di Jakarta ntar, harganya nggak mahal juga, amiiiin...
(bay)

Posted by Bayu on Jan 4, '07 3:37 AM for everyone
Tahun baru, baju baru...

Barangkali kalo gw masih duduk di bangku SD, maka aturan ini masih berlaku. Namun demikian, untuk alasan yang berbeda, maka kegiatan "Tahun Baru - Baju Baru" ini pun harus berlangsung. Kebetulan banyak alasan untuk pulang ke Bandung (kunjungan ke client, Idul Adha, libur Tahun Baru, ketemuan ma ortu), maka kegiatan belanja ini pun dilaksanakan dengan menelusuri FO - FO yang banyak bergelimpangan di sepanjang Jl. Dago dan Riau.

Agenda belanja kali ini: formal men's clothes. Karena suasana kerja di kantor saat ini sangatlah santai, maka otomatis koleksi kemeja lengan panjang gw sangat minim... adapun beberapa potong yang tersisa sudah mulai2 bluwek dan degradasi warna... makanya harus diperbarui.

Dari sekian banyak FO yang berhasil kami kunjungi di liburan lalu ini, FO favorit gw; Blossom (Dago) ternyata sudah tidak kompetitif lagi dalam hal harga, dengan pilihan yang semakin berkurang untuk range harga menengah. Namun dari soal koleksi, terutama untuk baju2 yang lebih "gaul", Blossom masih bisa dipertimbangkan. Di tempat ini pula terdapat beberapa koleksi pakaian pria dengan bahan unik, misalnya dari bahan Rayon. Sayangnya, rata-rata koleksi pakaian pria sekarang dibandrol dengan harga 80K ++, yang mana di masa sebelumnya, masih banyak terdapat koleksi dari range harga 50 - 60K. Namun diluar semua itu, Blossom masih merupakan satu2nya FO dengan koleksi kaos kaki murah dan bagus, serta koleksi kaos yang sangat beragam, khususnya untuk pria berlingkar badan XXL seperti gw, juga dengan harga yang sangat menarik; mulai 35K.

Sedangkan Rumah Mode (Setiabudi), selain dari layout yang agak memusingkan, pengunjung yang super-penuh, ternyata koleksi pakaian kemeja lengan panjangnya kurang beragam. Itupun dengan range harga yang lumayan tinggi; sekitar 90K ++. Tempat ini kelihatannya lebih cocok untuk kaum wanita, karena sekitar 75% layout toko memang diperuntukkan bagi perlengkapan busana kaum hawa. Untuk beberapa jenis pakaian pun, kelihatannya dibandrol dengan harga sedikit lebih tinggi dibandingkan tempat lainnya, misalnya jaket pria model jas. Untuk model x dari merk x, dibandrol dengan harga 185K, sedangkan di Victoria (Dago) dibandrol dengan harga 150K, itupun dengan pilihan model dan ukuran yang lebih sedikit pula.

Victoria (Dago), terlepas dari layout yang kurang menarik dan agak sepi, menyimpan cukup banyak koleksi pakaian dengan harga cukup ekonomis; the true spirit of FO! Walaupun untuk koleksi pakaian formil pria nya sangat minim, itupun dengan model2 yang cenderung tidak konvensional, namun koleksi jaket jas disini sangat beragam, dengan ukuran yang super besar pula (hingga XXXL). Range harga jaket jas antara 120K hingga 180K, dan harga kemeja pria berkisar pada harga 80K ++. Sedangkan untuk pakaian wanita, terdapat banyak koleksi kemeja / blouse menarik dengan harga sekitar 40 - 50K. Selain dari koleksi pernak-pernik yang cukup unik, di lantai atas bisa kita temui pula gerai oleh-oleh artistik khas Bandung dari Maha Nagari. Sayangnya informasi mengenai mereka masih sangat minim, bahkan di lantai dasar dari Victoria FO ini sendiri, nyaris tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Salahsatu kejutan menggembirakan datang dari FO Grande (Dago), yang masih terhitung baru. Walaupun kondisi WC nya cukup mengerikan, dengan setting mirip WC umum di terminal, namun suasana interior dan cafe nya cukup nyaman dan menarik. untuk pakaian pria terdapat banyak pilihan busana formil dengan kualitas baik, berkisar antara 80K ++, dan beberapa dari kisaran 50K - 60K! Koleksi celana formil sedikit namun cukup menarik, sayangnya ukurannya normal semuah, gak cukup di badan gw. Disini gw juga nemu sejenis celana cargo model pipe; sama lebar dari paha ke bawah, jadi rada2 terlihat mirip hakama; enak dipake dan nggak nojolin lekuk-lekuk yang gak perlu (bottom down, kalo kasus gw). Harganya? Cuma 65K.

Terminal Tas (Riau) memiliki koleksi tas pria dan wanita yang beragam, dengan harga yang terjangkau pula, mulai 35K untuk ransel sekolah, hingga kisaran 200K untuk ransel multi-pocket dengan kantung protektif untuk menyimpan Notebook PC, dan lebih tinggi lagi untuk back pack / carrier yang lebih serius.

Galeri Lelaki For Men (Riau), diluar dugaan, ternyata bukanlah FO melainkan butik, hal ini bisa dilihat dari koleksi barangnya yang walaupun spesial untuk lelaki, namun dibandrol rata2 dengan harga 100K++. Bahkan untuk kemeja kutung bahan flanel saja mereka memilih merchandise dari kelas harga 200K++. Untuk koleksi dasi dan hand-cuffs pun sama saja; berkisar antara 150K ++. Padahal, dibandingkan sepotong dasi di Grande dengan harga hanya 25K (lebih murah dan jauh lebih bagus dari yang ada di Carrefour), tidaklah terlihat perbedaan yang mencolok bagi mata orang kebanyakan. Sayang, padahal tadinya disangka tempat ini menyajikan koleksi yang kental nuansa lelaki nya, namun bersahabat pula bagi kantong.

Rena Ricci, dan The Island, hanya sempat ditengok sekilas saja karena kelihatannya kurang memiliki focus of interest yang jelas dan cenderung sekedar memiliki koleksi yang beragam.

Jadi begini kesimpulannya:

Recommended FO(s) for men:
1. Grande (Dago) - Koleksi tidak terlalu banyak, tapi bisa dapet barang bagus harga murah.
2. Blossom (Dago) - Koleksi cukup beragam, tapi harga2 cenderung sudah agak tinggi untuk kemeja.
3. Victoria (Dago) - Koleksi agak terbatas, tapi pilihan jaket cukup beragam.

Sedangkan untuk tempat seperti The Heritage (Riau), Rich & Famous (Dago), dan tempat ngetop lainnya, karena berdasarkan kunjungan terakhir dianggap kurang bersahabat dari segi harga, dan cenderung lebih bersifat butik daripada FO, maka nggak diagendakan untuk dikunjungi pada kesempatan yang baru lalu ini.

Sekian. (bay)

image dari http://www.puriayu.com

Posted by Bayu on Jan 4, '07 1:31 AM for everyone
Masalah utama dalam naek angkot di Bandung adalah... ngetem! Berbeda dengan angkot2 di Jakarta yang cenderung menganggap jalan raya sebagai sirkuit balap, maka di Bandung berlaku kebalikannya; pit-stop di sepanjang jalan!

Para pengemudi angkot di kota ini cenderung lebih suka untuk berdiam dan menunggu penumpang datang di tempat-tempat favorit tertentu, dibandingkan berpacu untuk mengejar calon penumpang yang mungkin bisa mereka raih jika mereka bergerak cepat.

Contohnya, angkot Kb. Kalapa - Dago yang gw dan isteri tumpangi dari Jl. Pungkur beberapa waktu lalu. Setelah mengetem di perempatan Pungkur - Ciateul, maka angkot ini, dan rata2 angkot lainnya, akan mengetem lagi di awal Jl. Karapitan (depan Unwin) untuk menunggu "limpahan" penumpang dari angkot jurusan lain (Buah Batu). Maju sedikit, maka di perempatan Jl. Karapitan - Cikawao, angkot akan kembali mengetem, menunggu para calon penumpang dari Jl. Cikawao.

Agak cepat sebentar, lalu angkot akan kembali mengetem di sekitar pertigaan Lengkong Kecil menunggu limpahan penumpang dari angkot jurusan lain (Cicadas), atau di depan mulut gang sebelumnya. Lepas Parapatan Lima, angkot akan kembali mengetem di pinggir jalan untuk kembali menunggu limpahan penumpang dari angkot jurusan lain (Gede Bage).

Jika tak ada Polisi, maka sekitar 300 meter setelahnya, di perempatan Jl. Veteran - Sunda, angkot akan kembali mengetem. Setelah daerah ini, angkot biasanya akan agak laju karena rute telah memasuki daerah non-hunian padat (sekolah, gedung pemerintahan).

Di perempatan Jl. Dago - Merdeka, salahsatu spot favorit para angkot adalah... di hadapan lampu lalu lintas. Antara 2 atau 3 angkot biasanya akan memaksakan diri untuk nangkring di lajur tengah jalan, walaupun lampu lalu lintas telah berganti menjadi hijau. Hal ini sangat menggangu kelancaran lalu-lintas.

Lepas perempatan tersebut, atau bila tak sempat berhenti karena ada Polisi berjaga, maka spot favorit alternatif adalah sedikit setelah perempatan; di sekitar pelataran Dago Plaza.

Setelah itu, perjalanan akan mulai lancar dengan hanya diselingi perhentian2 sporadis kala menawarkan angkot bagi calon penumpang yang dianggap malas atau malu2 untuk menyetop angkot (atau memang karena tahu tujuannya berbeda dengan tujuan angkot).

Hal ini mungkin berlangsung hingga tujuan akhir yaitu terminal Dago, namun gw sendiri kurang pasti karena paling banter akhir2 ini cuma naek sampe Simpang Dago, dilanjutkan dengan perjalanan kearah pool Citi Trans di Jl. Dipati Ukur.

Total jenderal, perjalanan naek angkot ini bisa memakan waktu 2 - 2.5x waktu perjalanan jika menggunakan kendaraan pribadi. Terkait hitungan ini, jadi pengen tau juga... untuk rute-rute lain seberapa besarkah perbedaannya? Soalnya kalo di Jakarta, rute Matraman - Sudirman bisa ditempuh para angkot dengan perbedaan waktu hanya sekitar 10% dengan kendaraan pribadi, even ojek.

Kecuali P-67 dodol tentunya.

(bay)

Posted by Bayu on Sep 24, '06 9:55 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Warung seafood jagoannya Winda di Taman Cibeunying, Bandung. Ternyata ngantrinya bujubune, pas udah dapet tempat dudukpun, nunggunya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa sekali, beda jauh sama service-nya Seafood 94 Mulyono di Gn. Sahari, Jakarta, yang sebegitu instantnya padahal yang ngantri juga gak abis-abis.

Tapi all in all, makanannya enak, affordable, dan penampilannya lumayan heboh. Empat menu yang kami pesen malem itu (udang, cumi, ayam*, kangkung cah), nasi plus minum, cuma ngabisin sekitar 24K per orangnya. Recommended, soalnya Ade aja, yang bukan seafood lovers, sekarang ini secara berkala tercetus pengen makan seafood (sampe-sampe disangka lagi ngidam).... Tapi kalo kesini, siap2 bawa cemilan (atau TTS, atau pe-er, atau bantal) buat nemenin nunggu se-jam nya, okeh?!

Gambar-gambar diambil sehari sebelum Pasar Seni ITB 2006.

*nope, Agung gak convert, kalo Ida sih emang dah doyan seafood dari dulunya.


Posted by Bayu on Jun 14, '06 5:40 AM for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Steak
Location:Citarum, Bandung
Secara lokasi, strategis dan mudah dijangkau. Secara interior, hmm... minimalis dan seadanya, suram pula. Secara pilihan menu, juga gak banyak... Tapi secara harga, luarbiasa murah! Masih ada menu makanan komplit yang harganya dibawah 10K lho!, ditambah lagi rasanya juga cukup enak buat kelas warung steak.

Buat perbandingan, Cikawao Steak yang gw kunjungi tempo hari dengan harga nyaris 2 kali lipat dan rasa yang gitu-gitu aja, Steak & Shake masih lebih oke!

Recommended buat traktir temen sekantor, atau kalo lagi mau rada-rada makan mewah tapi kantong cekak.

Btw, fotonya mungkin lebih mirip semur daging daripada steak, tapi believe me, dibalik saus melimpah itu ada potongan daging yang cukup generous untuk harga yang dipatok.

Steak Goreng : Sekitar 7K
Steak Panggang: Sekitar 12.5K



Posted by Bayu on Jun 14, '06 3:58 AM for everyone
Sewaktu iseng-iseng menjelajah FO "Victoria" di Jl. Dago depan RS Borromeous, Ade, Dea, dan gw menyempatkan diri untuk mampir ke "Distro apa gitu..." di lantai atas, sekedar untuk menggenapkan perjalanan kami di sore hari itu. Di ruangan tengah lantai atas berukuran sekitar 6x6 itu, ternyata terdapat aneka merchandise yang katanya khas Bandung. Awalnya sih sekedar liat-liat... sampai akhirnya gw menyadari kalau banyak sekali image dari Aula Timur nya ITB di rancangan-rancangan mereka, dan mulailah gw curious...

Kebetulan di rack stand tempat mereka memajang kaos, terdapat profil beberapa dizainer yang merancang merchandise2 tersebut, salahsatunya adalah Hanafi, yang nggak lain adalah junior gw di FSRD ITB. Lainnya kurang gw kenal, tapi lebih karena mereka masang nama asli dan bukan nama gaulnya serta foto yang ekspresif namun kurang informatif.

(Info tambahan dari Putra menyatakan kalau Distro ini emang dimotori Hanafi dan Ben Ben)

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata rata-rata merchandise mereka memang mengundang senyum. Di jajaran kaos, gw akhirnya menemukan tempat dimana Agung membeli kaos unik rute angkotnya itu... Ada juga kaos dengan gambar saluran pencernaan lengkap dengan content nya dan waktu (cappucino jam xx:xx, sampeu goreng jam xx:xx, bapaw jam xx:xx, dll), dan aneka ragam kaos dengan celetukan khas Bandung. Ada juga kaos yang bisa dipake bolak-balik dengan tulisan yang bertolak belakang tapi satu tema, ada kaos yang dibolak-balik pun tulisannya tetep "bandung", dll. Hillarious! Pokonya kreatip lah...

Sayangnya, gw liat semuanya ini terlalu "penduduk-based", alias cukup menarik buat para turis, tapi lebih menarik lagi buat warga Bandung itu sendiri. Makanya di lembar komentar, Ade lantas menuliskan pesan supaya mereka membuat juga dizain yang lebih "outsider-based", semisal "Betah maen ke Bandung", atau "Cinta mati ama orang Bandung", dll. hehe.

Selain dari kaos, terdapat juga aneka pin, stiker mini, poster Bandung Tempo Doeloe, aneka publikasi made-in Bandung (atau about Bandung), dan macem-macem lagi. Rak-rak yang mereka pake, rata-rata dibuat dari bahan kardus, termasuk juga box kaos yang diserahkan ke pembeli, unik dan menarik!

Selain di Victoria, mereka juga memiliki gerai lain di Cihampelas Mall. Dan kalau mereka meng-klaim sebagai satu-satunya toko yang tepat untuk mencari oleh-oleh merchandise khas Bandung, keliatannya cukup beralasan. Dizain merchandisenya unik, harga cukup terjangkau buat kantong Jakarta, dan ragam pilihannya banyak.

Kaos: 75K
Pin: 3K - 5K
Stiker: 2.5K and up

Met belanja! (bay)

p.s: Oh iya, Ade juga nulis soal Maha Nagari ini disini, dan ini URL Friendsternya Maha Nagari: http://www.friendster.com/user.php?uid=21995555




Posted by Bayu on Nov 20, '05 1:06 PM for everyone

Padahal gw ini pernah bernapas di Bandung selama lebih dari duapuluh tahun... tapi setelah lima tahun merantau di kota yang kini cuma 2 jam jauhnya ini, pas balik Bandung (kembali ke Bandung, bukan istilah sepakbola) gw kebingungan buat nyari tempat makan.

Setelah ada pembangunan jembatan layang Pasopati, ternyata warung Cak Jali langganan gw ikutan tergusur, pindah entah kemana. Sedangkan dulu karena ada rumah di Bandung maka waktu sarapan ya makan dirumah, boro-boro boleh jajan... Tapi karena sekarang dah nggak ada lagi rumah tinggal, walhasil akhirnya gw ikut2an mereka para fanatik BAMHO (Bubur Ayam Mang Haji Oyo) buat nyantap hidangan ini buat sarapan... mungkin sekedar nostalgia, berusaha meraih kembali kenangan yang dulu pernah lekat didalam diri. Terwakilkankah dengan semangkuk bubur? Kurang lebih begitu... Duduk di cafenya yang baru sambil menikmati segarnya udara pagi Bandung, pikiran melayang ke masa silam saat makan bubur seperti ini bukanlah hal yang terlalu menarik. Nggak jarang BAMHO ini gw banding-bandingin sama bubur ayam seberang Sekeloa - Dipatiukur yang rasanya lebih lekoh dan topping lebih beragam. Tapi apa daya sang saingan yang buka malam hari ini nampaknya sudah tergeser perubahan jaman... akibat dari kurang kuatnya branding dan konsistensi.

Dalam sarapan pagi itu... mungkin yang gw beli bukan sekedar bubur... tapi sebuah nilai kenangan

Anyway, berikut ini daftar sebagian tempat makan ngetop di Bandung, jenis non-restoran:

  1. Bubur Ayam (Talaga) Mang Haji Oyo. Buburnya variant kental lengket, kalau mangkuknya dibalik juga gak akan tumpah. Setelah pindah dari lokasi aslinya, sekarang ada dua kubu; Kubu binaan Mang Oyo asli, dengan pusat di Jl. Sulanjana, dan cabang di Gelap Nyawang, serta kubu binaan "teteh" di sebelah Edward Forrer, Dago.
  2. Bubur Ayam "PR", mangkal didepan kantor redaksi HU Pikiran Rakyat Jl. Asia-Afrika. Perasaan gak terlalu spesial sih, apalagi dulu sempet dikuasai preman dan calo bubur.
  3. Gudeg Yogya deket perempatan Riau - Cihapit arah Bank NISP. Rasanya mungkin nggak se-top Gudeg Yogya asli karena taste-nya sudah lebih Sundawi, tapi rasanya konsisten, kualitas makanan baik, harga murah, makanya jadi inceran para pengantor sebelum berangkat kerja, serta para ibu rumah tangga sehabis mengantar anak sekolah. Biasanya jam 9 pagi sudah sold-out.
  4. Gudeg Yogya Pasar Gempol, deket pasar Rangga Gempol. Rasa lebih tajem dibanding yang Cihapit, tapi harganya juga lebih mahal.
  5. Kupat Tahu Citarum, perempatan seberang Bank NISP. Bukanya siang. Rasanya sendiri gak terlalu spesial tapi konsisten dan pelayanannya cepet.
  6. Kupat Tahu Gempol, bertahan sejak jaman dahulu kala. Bumbunya medok dan kental, gurih, manis, kalau beli selalu ngantri. Langganan para pembesar dan kasepuhan Bandung.
  7. Gado-gado Angkasa, Jl. Angkasa (belakang UNPAD). Porsi dahsyat, bumbu kental gurih manis. Seporsinya rada mahal (buat standar Bandung) tapi worth it.
  8. Warung Ma' Uneh, Jl. Pajajaran seberang GOR. Kalau dulu ada warung aslinya ma' Uneh yang nyempil rada kedalem, buka hingga sore hari. Sedangkan malamnya, ada gerai portabel mangkal didepan bengkel dibagian muka jalan masuk warung ma' Uneh. Kalau yang ini binaan putra dari ma' Uneh. Hidangannya khas Sunda, tapi kadang ada menu-menu yang unik dan nggak ada di tempat lain.
  9. Nasi Goreng Cirebon, Simpang Dago (malam). Nasi gorengnya pedes luar biasa! Dan sebenernya termasuk gak terlalu enak, tapi spesialnya, dia punya daftar topping mulai dari telor dadar, kornet, keju, daging kambing, daging ayam, daging sapi, baso, udang, kerang, sosis, ati-ampela, dll. yang bisa dipilih salahsatu, atau tumplek semua sekaligus! "Nasi Gila" Jakarta? Kalah insane...
  10. Nasi Goreng Kumis Helm, Jl. Dipatiukur antara UNPAD - Sekeloa. Nasgornya cross antara ala Jawa Timuran dan ala Chinese. Murmer porsi banyak, tapi si pak kumisnya suka rada sewot dan metode order kacau.
  11. Nasi Goreng Cak Jali, Jl. Cikapayang belakang Gereja. Ada nasgor "mawut" yang merupakan percampuran antara nasi dan mie goreng. Nasgor standarnya warnanya merah, believe it or not. Gayanya padahal Jawa Timuran, tapi karena Cak Jalinya pernah lama kerja di restoran Chinese Food, jadi cara masaknya gak full Jatim-an. Kadar vetsin makanan-makanannya luar biasa, tapi Fuyunghaynya gak bisa dilupakan...
  12. "Pisang Nanas" dengan taburan gula tepungnya (malam), awalnya mangkal didepan Diponegoro (sekarang Islamic Centre), lalu pindah ke daerah Citarum deket SPBU.
  13. Road Cafe (malam -- gak tau masih ada atau nggak), spesialis steak dan Italian food dengan harga mahasiswa. Terakhir ketauan masih ada dan mangkal deket Rumah Nenek, Citarum juga.
  14. Soto Betawi Citarum (siang), bisa dibandingin rasanya sama soto betawi di Jakarta itself! Terakhir dagang didepan masjid Istiqomah, sisi dekat MQ Cafe.
  15. Jagung Bakar Lima Rasa Dago! (malem only) Entah kenapa makanan murmer dan gampang ini gak pernah sampe ke Jakarta, mungkin karena gak enak makan Jagung Bakar di Jakarta? Think again... Jagung Bangkok yang manis dibakar dengan lima pilihan rasa; manis, asin, asem, pedes, dan keju, atau campur semuanya sekaligus... masa sih gak akan laku di Jakarta? Di daerah Dago sendiri, gerai yang menjual makanan jenis ini tersebar mulai Pasar Simpang hingga ke perempatan Jl. Dago - Merdeka. Tiap gerai memiliki saus racikan masing-masing. Yang gw rasa paling top, adalah yang mangkal didepan kantornya Melsa Net. Pisang Bakar Keju ditempat ini juga termasuk dahsyat walaupun hyper-calorie; Potongan pisang bakar disiram susu kental manis hingga meleleh-leleh, lalu ditaburi meses coklat, kacang tanah tumbuk, dan keju yang menggunung. Siap-siap eneq tapi nikmat.
  16. Seafood Moro Seneng, buka malem. Dulunya di Jl. Sulanjana, tapi terakhir gw liat pindah mangkal ke Jl. Tamansari deket kompleks pertokoan gusuran Balubur. Aneka ragam seafood dengan aneka bumbu, harga murah porsi murah hati, biasanya pesanan dilakukan lewat si ibu untuk lantas dimasak oleh si bapak yang selalu kelihatan bete (tapi orangnya baek koq).
  17. Ayam Goreng Balubur (dulu), trotoar BAAK ITB, depan toko-toko Pasar Balubur, buka malam hari. Yang meladeni adalah sepasang manula Tionghoa! Istimewanya dari gerai ini, adalah nasi putihnya gratis!

Segitu dulu kayaknya, jadi laper nih...


Posted by Bayu on Aug 11, '05 3:15 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Jalan-jalan ke Bandung nengok nyokap, dan adek ku yang lagi ulang taun... Foto-foto ini diawali di Stasiun Bandung, yang pagi itu terasa cukup nyaman dengan sinar matahari pagi yang menyapa ramah...

Camera: Canon A400, ASA 50/100/200/400, Vivid, Auto White Balance, PS 5.5, JPEG 60%

Posted by Bayu on Jul 19, '05 6:39 AM for everyone
Berkaitan dengan acara resepsi perkawinan rekan kita Ida dan Agung tempo hari, maka tim sorak Multiply pun menyusun serangkaian acara untuk turut mensukseskan hari yang berbahagia tersebut. Dan pada hari H-1 diputuskanlah untuk berkumpul dan makan siang di salahsatu tempat di Bandung, sekaligus rapat rahasia untuk menyusun penyerahan hadiah kejutan keesokan harinya kepada kedua mempelai.

Setelah cukup lama menanti kabar, akhirnya tiba sms yang memberi tahu kalau acara makan siang akan dilaksanakan di Kampung Daun! Siang itu, di weekend itu, dimana anak2 sekolah mulai libur itu, dan mayoritas kami berada di Bandung Selatan.... Glek... Saya sendiri selaku (mantan) warga Bandung merasa pilihan tersebut rada kurang pas... Tapi karena sudah deal dan jadi keputusan bareng, oh well yeah.... the show must go on...

Dan dimulailah perjalanan menyiput (lambat, lalaunan), dan meng-gogog (saling gonggong dengan kendaraan lain) menuju ke lokasi Kampung Daun yang sampai saat itu baru saya tau dari desas-desus. Maklum, untuk lokasi yang jauh dan butuh macet serta ngantri, biasanya saya lebih suka bilang "tidak".

Dan seperti dugaan semula, saat kami berhasil mencapai lokasi, waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, alias waktunya minum teh dan kue-kue kecil (dan kadang nasi goreng komplit). Untungnya waktu itu termasuk waktu yang agak 'kagok', jadi pengunjung masih jarang...

Diluar dugaan, ternyata tempatnya menarik... bukan "restoran" seperti terbayang awalnya di benak, namun lebih kepada "outdoor/environmental eateries" dimana tempat-tempat makannya adalah berupa pondok-pondok yang eksklusif (per grup), dengan lingkungan yang sangat alamiah. Jadinya serasa trekking sambil makan enak, minus pegel betis (kecuali yang nyetir).

Nah, gimana review soal makanan, pelayanan, dll? Baca di bagian review disini, dan foto-foto disini.

Posted by Bayu on May 10, '05 3:19 PM for everyone
Ternyata, desas-desus itu benar adanya... Ke Bandung lewat Tol Cipularang adalah pengalaman menyenangkan! Mungkin buat sebagian orang sih cuma karena faktor waktunya doang, sementara buat gw mah, Tol Cipularang itu cukup experience-ful.

Berbeda sama landscape Tol Cikampek yang luar biasa bikin boring, dimana hiburan yang ada cuman ngecek speedometer dan hitung mundur perkiraan waktu tiba, kalau di Tol Cipularang ("TCP" aja yah, biar ringkas) kasusnya beda.

Pertama, jalan tolnya berkelok-kelok, dengan contour daratan yang cukup dinamis. Di satu saat kita bisa ngeliat bentangan jalan sampai beberapa kilometer kedepan karena sedang berada di puncak bukit, dan di saat bersamaan kita bisa juga merhatiin bentuk interaksi dari TCP ini dengan lingkungan sekitar. Salahsatu bentuk paling lazim dari interaksi ini adalah, dibangunnya jembatan-jembatan penyebrangan dan fly-over jalan raya diatas kita.

Rata-rata jembatan ini ditopang dengan pilar yang kaku, sterile, namun dalam ke disiplinannya itu, malah memberi suatu impresi tersendiri. Soalnya kan bentuk jembatan ini bermacam-macam, dan beragam arah, jadinya ada jembatan yang terbentang nyaris diagonal dengan TCP, tapi ada juga yang sekedar nyebrang dan memberi bayangan tipis di landasan jalan semen ini.

Ditambah lagi, penampilan sterile nya ini terlihat sangat rapi kala semennya masih berwarna putih, konstruksi masih bebas kusam, benteng-benteng tanah yang terpaksa ada di beberapa bagian jalan, menyaksikan jalan ini memotong bukit raksasa, atau mengangkangi lembah serasa kita sedang berkendaraan di negeri atas awan.

Lantas sisa-sisa show of force kekuatan manusia terhadap alam ini masih terlihat jelas dengan banyaknya bukit-bukit yang terlihat terpotong di kiri-kanan jalan, bebas tumbuhan kecuali rumput yang mulai tumbuh, dramatis! Selain itu, kita bisa juga menyaksikan konstruksi jembatan KA di beberapa tempat, karena kebetulan TCP ini dibangun berdekatan dengan jalur rel KA Jakarta - Bandung.

Selain dari itu, corak lingkungan yang beraneka ragam juga cukup bikin seru. Kalau pertama-tama kita banyak menyaksikan pemukiman atau pepohonan ala kadarnya, maka tak lama kemudian pemandangan akan berubah menjadi setting kebun karet, kebun teh, dan bukit-bukit kapur... seakan ber-revolusi dalam waktu. Revolusi? terang saja, karena kita berangkat dari ketinggian nol meter (Jakarta) menuju ketinggian 700 meter (Bandung), yang seri tumbuhan alami nya saja sudah berbeda.

Dan begitu sampai di Bandung, jika kita memilih untuk masuk melalui pintu tol Pasteur, maka kita akan kembali disambut oleh konstruksi megah dari jalan layang Pasopati yang kelihatan sedang dalam tahap kerja lembur. Daerah Pasteur yang tadinya teduh oleh tumbuhan berusia puluhan tahun, kini kembali teduh karena adanya payung beton raksasa yang tak lama lagi akan mengurangi kemacetan di daerah ini (walau cuma memindahkan titik macet, bukan menghilangkan).

Melihat potensi TCP, sebenarnya banyak panorama yang bisa digali atau dimodifikasi untuk keperluan hiburan, atau monumental. Misalnya, kita melihat ada beberapa bongkah batu raksasa yang nongol dari dinding bukit disamping jalan, yang kalau di "beri" kan pada anak Senirupa buat diolah, tentu bakalan jadi karya yang aduhai spesial. Atau meniru contoh dari beberapa perusahaan yang nekat menorehkan namanya di gunung-gunung kapur yang ia garap, agar terlihat dari jauh, kenapa kita nggak meniru Amerika yang menorehkan wajah pemimpin-pemimpin negaranya di salahsatu bukit sehingga menjadi monumen yang unik? TCP memiliki banyak potensi kearah sini. Diantara beberapa tembok penahan erosi pun saat ini sudah ada beberapa keisengan muncul... misalnya tiba-tiba ada patung kepala macan... Walau bentuknya rada-rada "Pemda-is", tapi cukup lucu.

Sungguh, andai saja pengelolaan pemandangan di lingkungan TCP ini diserahkan khusus kepada satu pihak tersendiri, tanpa perlu ada arogansi dari tiap kecamatan yang dilalui TCP untuk mengekspresikan diri, niscaya TCP ini bisa menjadi sarana berkendaraan yang sangat menarik. Coba saja bayangkan... Di suatu tempat, anda akan menemui papan pengumuman berbunyi "Pemandangan Monumen Tokoh Pendidikan, 500m kedepan, sebelah kiri", dan di tempat yang dimaksud lalu anda bisa melihat pemandangan megah wajah-wajah tokoh pendidikan Indonesia dari masa ke masa terpampang... niscaya para guru akan bangga akan profesi mereka.

Atau misalnya dengan menghias jembatan-jembatan penyeberangan yang ada sehingga masing-masing mewakili gaya desain yang berbeda, so, selain dari fungsionalisme, masyarakat sekaligus terdidik untuk lebih mengenal desain dengan benar...

Atau anda punya ide lain?

Btw, perjalanan mulai dari percabangan Tol Cikampek - TCP hingga keluar di pintu tol Pasteur, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit, dengan kecepatan rata-rata 80km/jam. Tadi siang saja, perjalanan kembali ke Jakarta dimulai dari pintu tol Pasteur hingga menembus jantung Jakarta di kawasan Semanggi, hanya ditempuh dalam waktu dua jam saja, dan ini sudah termasuk beragam gangguan lalu-lintas selepas masuk Tol Cikampek yang banyak dihuni bus dan truk dengan pengemudi dari Amerika (nyetir di kanan bo'). Sedangkan KA Parahyangan saja butuh waktu tempuh 3.5 jam, dan dulu kalau nyetir sendiri bisa kurang dikit dari itu, asalkan nyetirnya gahar dan gak takut sama truk-truk ber-ban 18 biji dalam memperebutkan hak guna jalan...

Semoga saja, bus dan truk yang seperti demikian tidak akan pernah diperkenankan untuk memakai TCP ini... Walau kelihatannya, harapan ini cuma seperti mimpi di siang bolong. (bay)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help