Salahsatu kegiatan favorit gw adalah hunting buku... Entah itu dengan
menelusuri toko buku - toko buku Jakarta di beragam tempat, mengunjungi
pameran, kios buku bekas, atau browsing online, semuanya sama
mengasyikkan...
Well sebenernya banyak membosankan dan makan atinya sih... karena gw
berfokus pada pencarian buku-buku import dengan harga murah, sedangkan
tau sendiri dong kalau harga buku import itu rada-rada gak realistis?
Tapi kenikmatan tiada tara adalah waktu nemu buku bagus dengan harga
impian... Salahsatu
catch
paling berhasil gw adalah buku berisi portfolio jepretan salahseorang
fotografer cukup ngetop dengan harga 35 ribu rupiah, sedangkan buku
yang sama, di toko semisal QB masih dibandrol dengan harga 400an ribu
rupiah!
Memang QB, Kinokuniya, Aksara, atau Basheer seringkali memasang harga yang
sombong...
Kalau anda tak terbiasa jalan-jalan ke toko buku import, dan merasa 60
ribu adalah harga terlalu mahal untuk sebuah buku, maka siap-siaplah
jantungan kala menyaksikan bandrol-bandrol harga dengan enam, bahkan
tujuh digit! Suatu pengeluaran yang kelihatannya tak bisa dibenarkan
dengan alasan apapun mengingat uang sebesar itu cukup untuk memberi
makan orang sekampung...
Namun adakah alternatif solusi yang efektif? Dikala penelitian dan
inovasi anak bangsa banyak tertinggal dari dunia luar, dan kalaupun
ada, tidak ada penulis yang mau repot-repot menuliskannya menjadi buku,
sedangkan kita dituntut untuk selalu berkembang dan menyesuaikan diri
dengan perkembangan jaman?
TGFI (Thanks God For Internet), proses pembelajaran jadi sedikit lebih
minim memakan biaya, karena materi yang tadinya secara eksklusif
terdapat hanya di buku-buku hard cover dengan harga aduhai, sekarang
sudah bisa dicari padanannya yang setara di internet... Informasi
tersebar makin luas dengan bebas, dan seringkali, gratis...
beruntunglah para pelajar sekarang yang bisa memanfaatkan internet
untuk mencari data... Pada masa saya masih kuliah dulu sekitar tahun
95, akses internet (dan sources internet) masihlah belum sekaya
sekarang ini... Dan pada tahun 97, barangkali skripsi gw adalah yang
pertamakalinya di jurusan yang secara explisit mencantumkan halaman
website sebagai sumber referensi, dan diterima oleh para pembimbing dan
penyidang.
Namun selama teknologi informasi masih belum bisa menyediakan media yang lebih baik dan ringkas semisal
electronic paper,
maka buku konvensional akan tetap menjadi sumber utama dari penyebaran
informasi. Dan karena itulah berburu buku buat gw akan tetap menjadi
suatu
hobby yang perlu ditekuni...
Basically, gw ngincer aneka ragam buku dari aneka ragam
topic of interest, tapi pencarian gw diutamakan pada buku-buku yang memiliki kualitas
timelessness. Dalam artian, topik-topik yang tidak akan pernah basi... Kalaupun sekarang si buku masih dianggap memiliki muatan yang
avant-garde,
maka sepuluh-duapuluh tahun kedepan akan dianggap sebagai bagian dari
sejarah. Hey, tua tidak selalu identik dengan kuno dan boring lho...
Buku mengenai gaya dizain Art Deco misalnya... tak akan pernah jadi
basi karena gaya tersebut sudah menjadi bagian dari gaya yang diakui
dan dikenal oleh dunia... Belum lagi melihat kecenderungan pergerakan
dizain, maka biasanya gaya-gaya tempo doeloe ini pada suatu masa
tertentu akan kembali menjadi suatu
fashion, atau paling tidak, menjadi landasan dari suatu gaya yang lebih maju....
Adapun jenis buku yang gw hindari, tentunya yang berlawanan dan
memiliki umur manfaat yang rendah. Termasuk dalam buku seperti ini,
adalah buku2 panduan penggunaan komputer, software, soal-soal ujian,
dll.
Kalaupun ada buku-buku yang setelah lima tahun dibeli masih tetep belum
sempet gw baca, ya gapapa... minimal buat anak-cucu gw nantinya bisa
ketiban warisan yang bermanfaat; perpustakaan ilmu.
Foto: hasil tangkapan Feb 06; buku perjalanan ke Antariksa dengan harga awal 350K, turun jadi 65K