
Akhirnya... diringi perasaan sesak dan galau, buku laris "Laskar Pelangi" pun habis dibaca. Terpukul sekali ngebaca kisah akhir Lintang. Ikut ngerasain kehilangan dan kerinduan pada A Ling, bahagianya membaca akhir kisah A Kiong dan Sahara, dan Samson. Terenyuh oleh Trapani, tersenyum membaca nasib Laskar Pelangi lainnya. Ikut sebal dengan PN Timah dan arogansinya. Semuanya lah!
Andrea Hirata (
MPers juga lho), sejak bab pertama sudah berhasil menciptakan beban... Beban pertama adanya di hati, karena walaupun masih ingin terus membaca, kaki sudah kesemutan dan waktu toilet visit sudah habis, harus mandi tuk berangkat kerja. Beban kedua, physically speaking memang versi
paperback nya saja sudah lumayan berat (apalagi kalau dibaca sambil tiduran miring). Andrea menuturkan pengalamannya di masa kecil bersekolah di SD Muhammadiyah dengan jenaka, tanpa harus melucu. Bagaimana ia memandang dirinya saat itu, bagaimana ia menggambarkan dunianya, caranya melihat teman-temannya, memperhatikan detail-detail khusus yang menarik dan simple. Seperti misalnya ketika ia baru tahu setelah besar, kalau gambar pria bergitar penutup bolong dinding kelasnya dulu, dengan tulisan besar-besar "Hujan Duit", tak lain tak bukan adalah Rhoma Irama.
Namun dibalik gaya penulisan yang hangat dan lugu, sesekali Andrea "pindah frekuensi" dan memasukkan unsur science yang njlimet, termasuk serentetan nama latin dari aneka flora dan fauna Belitong.
Kemunculan Andrea Hirata setuju nggak setuju, memang adalah sebuah fenomena. Novel "Laskar Pelangi" nya ini memberikan suatu bacaan yang segar bagi para pembaca Indonesia, ditengah serbuan chicklit dan novel-novel impor semisal Harry Potter dan DaVinci Code. Jangan lupakan juga, sebelum ini Andrea tidak pernah menulis apapun di tatar media massa (cmiiw). Juga, buku "Laskar Pelangi" ini juga aslinya tidak disusun dengan tujuan untuk diterbitkan massal, karena awalnya hanya diedarkan pada beberapa teman saja. Sial (eh untung)nya, ada salahseorang teman Andrea yang kemudian nekad mengirimkan tulisan Andrea ini ke penerbit. Dan jadilah si "ikal" ini ngetop... dan Belitong pun ikutan ngetop... komplit beserta kenyataan pahit mengenai masyarakat marginal yang tersisih di bumi pertiwinya sendiripun jadi ikut terangkat.
"Laskar Pelangi" adalah drama kehidupan yang berkisah mengenai persahabatan 10 orang anak satu kelas SD Muhammadiyah Belitong, yang walau berdiri di latar belakang kemiskinan yang akut akibat kesewenangan pemerintah terhadap masyarakat Belitong, malah muncul dengan menghibur. Istilah "Laskar Pelangi" itu sendiri, muncul dari ide bu Muslimah, guru tercinta mereka di SD tersebut. Tuh kesimpulannya buat yang masih belum ngeh.
Selain buat Andrea, sebenernya gw harus congratulate myself too... karena inilah novel lokal pertama yang gw baca dalam kurun waktu entah seberapa lama. Waktu jaman "Supernova"nya Dee booming aja dulu gw masih rada ogah-ogahan dan nggak pernah selesai baca (sorry ya
Fab). Kala isteri tekun mendalami seri demi seri dari "Harry Potter" pinjeman dari
Agung pun gw sudah puas menunggu film layar lebarnya selesai dibuat. Kala "DaVinci Code" mengheboh pun, gw sempetin beli novel aslinya di QB Sunda, demi supaya bisa menikmati novel sensasional tersebut dalam 'rasa' aslinya. Selesai? Boro-boro.
"Laskar Pelangi" inipun tadinya nggak terlalu menggugah selera walaupun sang adik berkali-kali memuji novel ini sambil mengetengahkan cuplikan-cuplikan cerita yang emang lucu. Hasrat kuat mulai muncul, ketika
OGOL terbit... dan harus baca karena
tulisan gw ikut nongol disana. Kepalang basah, sekalian jugalah gw beli beberapa buku yang sekiranya bisa buat referensi dari apapun yang lagi gw kerjakan / niatkan saat ini.
Kalau dari segi menyentuh, seperti dah gw bahas panjang-lebar, ya, menyentuh. Tapi kalau dari sisi menghibur, jauh lebih sinting "
Drunken Monster"nya
Pidi. Dari sisi karakterisasi, masing-masing tokoh di Laskar Pelangi ini punya kekhasan masing-masing yang dideskripsikan cukup baik, sayangnya, masih kurang berbekas dalam pikiran gw. Misalnya, ketika baca
Wiki nya, gw baru sadar kalau Kucai sang ketua kelas abadi misalnya, sebenernya memiliki mata yang agak juling sekaligus rabun jauh. Atau Harun sebenarnya memiliki keterbelakangan mental. Semestinya, ke-khasan mereka masing-masing ini masih bisa lebih digali lagi. Ah, tapi tiap orang punya pertimbangannya masing-masing toh? Selain itu, secara general kisahnya memang menghanyutkan...
Jadi cukuplah buat gw menganggap "Laskar Pelangi" ini sebagai salahsatu novel lokal terbagus yang pernah gw baca. Salut buat Andrea Hirata. Semoga
versi filmnya yang digarap sama Riri Riza dan Mira Lesmana, bisa menggambarkan dengan baik muatan drama dan humor di novel bagus ini. (bay)
Image dari Wikipedia, screenshot dari MetroTV.