Bayu's posts with tag: career

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag career
Posted by Bayu on Jan 12, '08 11:00 PM for everyone
Link: http://www.linkedin.com/in/bayuamus

Linked-In (LinkedIn) adalah sebuah jejaring professional dimana kita bisa bertemu dengan sesama rekan pekerja, work opportunities, atau potential employers.


Posted by Bayu on Dec 4, '07 8:26 AM for everyone
Dari beberapa taun lalu ni iklan udah muncul, dan dari beberapa taun lalu itu juga requirementsnya selalu sama (liat butir nomor dua). Mau nggak mau, jadi bertanya-tanya...

1. Emang kualitas PT dalem negri pasti kalah sama sekolah luar ya?

2. Segitu banyaknya kebutuhan posisi ini di kantor tersebut, makanya lowongan ini selalu muncul?
(bay)

Posted by Bayu on Aug 21, '07 12:37 AM for everyone
Kira-kira kalau dari suatu perusahaan tertentu, dalam satu waktu, keluar beragam lowongan kerja sampe berentetan tiga halaman penuh (seperti contoh disamping ini), maka apa yang sebenernya terjadi?
  • Perusahaan tersebut sedang ekspansi besar-besaran?
  • Perusahaan tersebut adalah head hunter / staffing service yang baru kebanjiran clientèle?
  • Perusahaan tersebut terserang wabah eksodus massal sehingga ditinggalkan serentak oleh 50%-75% pekerjanya?
  • Perusahaan tersebut sedang berkabung massal karena former employee nya serentak meninggal bersama?
  • Perusahaan tersebut baru diambil alih pemodal baru dan memutuskan buat 'mulai dari nol'?

    atau

  • Lowongannya in one or another way, palsu.
Gw sebut "in one or another way", karena terkadang lowongan yang gw maksudkan ini, beneran ada juntrungannya, ada posisinya, cuma job-spec nya sama sekali berbeda dengan job-spec pekerjaan sejenis yang ada di pasaran, hanya dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat mirip.

Selamat datang ke dunia gelap penipuan terhadap para pencari kerja!

Di lowongan-lowongan tersebut, biasanya pada ujungnya, anda akan ditawarkan suatu jenis pekerjaan yang sama, walaupun "gelar"nya berbeda-beda. Atau, cv anda lantas diteruskan kepada pihak-pihak lain yang setali tiga uang.

Jadi jangan kaget kalau setelah anda melamar ke lowongan-lowongan as such, tiba-tiba anda dipanggil interview oleh perusahaan yang anda nggak inget kapan ngelamar kesana. Don't be fooled. Kalau anda menerima panggilan interview semacem ini, selalu minta nama perusahaan dengan jelas, alamat, serta contact person & number. Setelah itu, lakukan research.

Gimana caranya menghindari lowongan-lowongan bodong ini? Yang utama, hindari sebisa mungkin lowongan-lowongan yang mensyaratkan pengiriman dokumen ke email address gratisan (Yahoo, Gmail, dll.). Terutama untuk lowongan-lowongan di perusahaan besar atau cukup ternama.Misalnya, lowongan di Astra Group, tapi alamat email pendaftarannya hrd_astragroup@gmail.com.

Perusahaan bonafide biasanya punya alamat email sendiri koq, nggakan pake gratisan.

Tips & tricks selebihnya menyusul... (bay)

Posted by Bayu on Aug 17, '07 10:40 PM for everyone
Pertimbangan dalam memilih karir:
  1. Ketertarikan (sudah tentu). Kalau karir yang akan anda jalanin nggak anda sukai, alamat nggak akan ada sinergi. Akibatnya? Performance buruk, plus stress tinggi.

  2. Nilai jual. (akan) Seberapa laku profesi yang anda tekuni di pasaran? Gw tambahin "akan", karena perancangan karir berarti kita dah nentuin kedepannya ntar mau jadi professional di bidang apa. Kalau profesi anda gak / belum ada kebutuhannya, resiko pastinya adalah sulit cari kerja.

    [Kecuali kalau anda lantas banting setir jadi pebisnis, sekaligus trend-setter dari service yang anda miliki tersebut].

  3. Expiration. Terkait dengan butir nomor dua, kapan profesi anda akan expired, alias tidak dibutuhkan lagi? Cari tau, then susun rencana antisipasinya. Minimal supaya skill-set dan profesi yang kita tekuni bisa selalu dikembangkan kearah kebutuhan terkini. Contoh: keahlian reparasi mesin tik. Duapuluh taun lalu mungkin masih menjanjikan, tapi sekarang saat mesin tik sendiri secara pelan namun pasti mulai digantikan dengan komputer, siap2 punah kalau nggak ngembangin skill-set baru.

  4. Perkembangan industri & pasar. Bagaimanakah perkembangan dunia industri? Industri apakah yang akan laku di masa mendatang? Obsolete di masa mendatang? Gak bisa dipungkiri kalau anda memilih jadi pekerja, maka kemungkinan lowongan sangat ditentukan oleh trend industri & pasar. Di Indonesia, profesi stock broker mungkin cuma diminati segelintir orang di tahun 80-an kebawah, tapi booming di tahun 90-an. Profesi web designer pada taun 90an di Indonesia mungkin masih terbilang langka, soalnya pasarnya juga dikit banget, cuma segelintir perusahaan yang mau bikin website. Beda dengan sekarang dimana profesi ini menjamur, akibat revolusi dan penetrasi internet. Sampe-sampe bisnis rumahan aja butuh website.
Terkait butir terakhir, approach bisa juga dibalik; pilih lini bisnis / industri apa yang sudah terbukti tahan banting dan nggak obsolete, lalu susun skill-set supaya sesuai dengan kebutuhan di bidang tersebut.

Nah, lantas bisnis apa aja yang sudah terbukti tangguh dan diperkirakan masih bakalan ada dalam 5-10 tahun kedepan? Browse around. Bisa dipastikan mereka-mereka ini selalu ada, tumbuh, dan selalu butuh tenaga kerja:

  1. Pendidikan & Pelatihan. Kalau pendidikan dasar dan konvensional dianggap tidak menguntungkan dan kesannya stagnant (misalnya sekolah negeri), tapi bisnis pendidikan dan pelatihan nggak pernah mati! Saat ini selain dari pendidikan terkait ketrampilan kerja, bisnis pendidikan untuk balita juga berkembang pesat. Trend bentuk dan target pendidikan mungkin berbeda-beda dari waktu ke waktu, tapi this business is always growing!

  2. Kesehatan. Rata-rata rumah sakit selalu full-book, termasuk yang harga service nya nggak masuk akal (malah justru ini yang paling berkembang pesat). Orang nggak pernah nggak sakit, apalagi dengan pola hidup modern yang membuat orang rentan stress, dan penyakit baru terus bermunculan (AIDS, HIV, Ebola, dll), maka bisnis kesehatan nggak akan ada matinye!

  3. Industri -- Consumer's Good. Merk boleh ganti-ganti, marketing gimmick juga beda-beda, tapi dari jaman baehula sampe sekarang dan puluhan tahun kedepan, orang tetep butuh sabun mandi dan sikat gigi.

  4. Bank. Selama manusia masih make uang sebagai alat pembayaran, bank akan tetep exist. Produk boleh berkembang dan saling tumbuh berganti, tapi industrinya sendiri tetep; perbankan.

  5. Entertainment. Termasuk yang full-interaction macem clubbing, sampe ke usaha restoran dan panti pijet. Mo serius jadi DJ? Walaupun macem turn table dan media musik dah banyak berganti dari taun ke taun, the profession exists. Atau mau jadi ahli pijet? Kalo dulu yang ngetop itu pijet ala Thailand, then Refleksi, then Shiatsu, intinya orang tetep butuh buat ngerasa relaxed secara phisically, jadi kebutuhan panti pijet tetep ada.

    [Tolong bayanginnya "Bersih Sehat" ya, jangan Mangga Dua].

  6. Dan lain-lain. Sori contohnya cuma yang deket dengan lingkungan gw aja.
Sedangkan industri yang terbukti nggak tahan lama atau nggak maju-maju (setidaknya di Indonesia), antara lain:

  1. Industri Pesawat Terbang. Denger-denger setelah mem PHK banyak karyawannya, IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) ngerjain juga job-job terkait kebutuhan perabot rumah tangga? Mungkin cuma rumours tapi ngeliat product development mandek di CN-235 (prototype pertama terbang 30/12/83), keliatannya industri ini "kurang"berkembang.
  2. Industri surat menyurat. Beda dengan bisnis document service / business mail yang justru banyak dicemplungi jawara-jawara asing, industri traditional mail ("snail mail") malah mati lemes dicekek internet... kebutuhan tetep ada, tapi silakan tanya PT.POS berapa besar penurunan lalu-lintas barang pos semenjak internet menjamur dan sms / mms merebak? Berapa banyak dari anda tetep ngirim kartu pas Lebaran/Natal/Tahun Baru?
Memang diluar dari bisnis dan industri mana yang terus tumbuh, mana yang mandek, personal competence akan tetep berpengaruh. Tapi itu sih hal yang konstan dan umum, di bidang apapun masalah personal competence ini akan selalu berlaku. Jadi tinggal sesuaikan interest dengan industri, lalu telaah kebutuhan skill-set nya apa aja, dan lengkapi diri dengan skill-sets yang dibutuhkan tersebut.

Terkait (terkait mulu?!) alinea terakhir tersebut, melengkapi skill-set nggak harus selalu lewat sekolah. Justru bisa didapet sambil jalan selagi kita kerja. Contoh pribadi; di perusahaan gw sebelum ini, selain ngerjain web design gw dapet kesempatan juga buat terlibat di aneka tugas non-design related, seperti: IT consultancy, IT project management, supervision, govt. relationship, dan lain-lain yang pada gilirannya menelorkan kesempatan buat gw "loncat" ke industri furniture di level management... skill-sets yang kecil2 yang gw pernah dapet selama kerja sejak 7 taun silam, ternyata dah memenuhi syarat buat lolos ke level ini di industri ini.

Nah di kerjaan sekarang, gw jadi kenal proses produksi, proses manufaktur, supplier/vendor relationship, division management, standar mutu, ISO, dll. More goodies for my CV! Makanya seringkali mindset gw di pagi hari kala berangkat ngantor pun adalah buat "sekolah" =)

Jadi sebenernya, nggak menutup kemungkinan bahwa melalui kerja pun kita bisa jadi master of something, walaupun by experience not by education, alias tanpa ijazah. Tapi tentunya, kalau ternyata profesi yang kita bidik butuh gelar akademik, misalnya kalo pengen jadi pengajar, ya raihlah! Yang penting apa yang anda lakukan itu terarah dan terencana... waktu adalah satu-satunya asset manusia yang gratis, tapi nggak pernah bisa ditambah, nggak pernah bisa diperbarui! Jangan dibuang-buang dengan wandering around aimlessly.

Selalu awas, berpikir, berkembang dan belajar, itu dasar dari pertumbuhan. (bay)

Posted by Bayu on Aug 16, '07 1:56 AM for everyone
"Kerja", adalah apa yang saya dan anda lakukan setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga 6 sore; duduk dibelakang meja menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan si boss, plus sesekali keluar kantor (atau variasi lainnya yang mirip), dengan tujuan yang sama; menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan si boss. Akhir bulan, gajian.

Sedangkan "karir", adalah rangkaian atau susunan perjalanan pekerjaan yang kita ambil dari masa ke masa. Untuk pekerja kantoran dan para birokrat, karir ini sangat penting. Kenapa? Karena biasanya posisi-posisi kerja yang tinggi (dalam tanggung-jawab plus reward), menuntut adanya suatu catatan perjalanan karir yang terfokus. Untuk menjadi manajer pada suatu perusahaan misalnya, biasanya dibutuhkan jenjang karir sebagai berikut: staff - senior staff - supervisor - asisten manajer - manajer. (Dalam bidang yang sama tentunya).

Bercermin pada pengalaman pribadi di tempat kerja, banyak lowongan pelamar yang masuk kemudian terpaksa harus ditolak di tahap awal karena jalan karir yang nggak nyambung... Misalnya untuk posisi drafter, pelamar ada yang memiliki background sebagai tukang las, staf akunting, even kurir ekspedisi... Bukannya memandang rendah atau tidak mau memberi kesempatan, tapi perusahaan secara default akan mencari dulu dari antara mereka yang memiliki career track yang lebih nyambung, misalnya, yang selama perjalanan karirnya memang menekuni skill yang dicari tersebut. Seperti yang pernah saya tulis di lain waktu, perusahaan itu bukan dinas sosial, tapi suatu badan usaha yang bertujuan mendatangkan profit.

Hopping around antara satu bidang pekerjaan ke bidang pekerjaan lainnya, sebenernya bukanlah hal yang tabu, jika dalam rancangan jangka panjang kita, kita tahu persis guna dari masing-masing jenis pekerjaan yang sudah pernah kita ambil tersebut. Namun jika sekedar loncat sana-sini tanpa tujuan jelas, maka kemungkinan anda nggak akan sempat lagi membangun catatan karir yang terfokus untuk jabatan yang anda incer... sedangkan (sayangnya), usia sudah tidak sesuai lagi. Akibatnya? Hilang kesempatan...

Bagi yang sedang berada ditengah-tengah usia karir (like me), kalaupun masih ada niat buat mengubah jalur karir, rencanakan dengan baik dan terukur. Jangan karena terdorong emosi atau trend, lantas mendadak banting setir.

Jadi bagi adek-adek yang baru mulai masuk ke lapangan pekerjaan, walaupun nyari kerja itu sulit, tapi jangan lantas dijadikan alasan untuk nggak merancang perjalanan karir anda sedari awal. Masalah dapur ngebul memang vital, tapi kelangsungan karir anda juga demikian. Jangan sampe anda menempatkan diri anda pada posisi mati kutu karena skill-set yang anda miliki kelak, sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan pasar yang muncul. Atau usia udah gaek, tapi anda terjebak di jalur karir yang tidak anda cintai (bahkan malah anda benci)... ya jadinya ntar kerja sebagai paksaan, bukan petualangan yang berkesan. Think early, plan early.

Hal serupa pernah saya sampaikan juga sama salah seorang staf Satpam yang jaga kantor. Kebetulan doi perlu tebengan dan tujuannya deket dengan tujuan saya. Di perjalanan dia nanya; "pak, apa sih rahasianya sukses?" (yang gw presume maksudnya sukses dalam berkarir). Gw jawab aja "mau terus belajar"... karena dari apa yang gw alami dan amati, kalo nggak mau belajar maka kita nggakan berkembang, akibatnya nggak ada progress, dan bye-bye sukses. Sedangkan dengan belajar, banyak kesempatan baru yang terbuka... kabish?

Trus terkait karir, saya tanya juga sama yang bersangkutan, gimana ceritanya doi bisa jadi satpam, soalnya doi sempet bertanya apa belajar komputer bisa merubah nasib? Atau meningkatkan jenjang karir? Well ternyata doi jadi satpam by coincidence, bukan by choice. Terkait ini gw bilang kalau skill komputer bermanfaat, tapi dengan background yang cuma SMU, maka computer skill saja nggak cukup buat menelorkan pekerjaan yang significant rewardnya. Malah saya anjurkan beliau buat menekuni dunia security aja, kalau emang masih ada minat. Maksudnya? Ningkatin skill-set yang dia punya supaya bisa dapet kerja yang lebih menantang dan rewarding... dari satpam jadi petugas armored car misalnya, trus naek ke level supervisor, nambah pendidikan soal keamanan, then tambahin skill lainnya supaya bisa jadi skilled security guard... sukur-sukur keterima di salahsatu lembaga keamanan yang sekarang banyak disewa para pejabat dan cukong itu lho... siapa tau setelahnya bisa jadi personal body guard pejabat, atau jadi manajer security di perusahaan gede... there you go... a career plan.... bisa koq terwujud, tinggal tekun aja ngejalaninnya.

Bahkan jika anda kelak bercita-cita untuk menjadi seorang enterpreneur pun, maka perancangan karir yang tepat, tetaplah diperlukan. Enterpreneurship butuh relasi, koneksi, informasi, dan ini semua bisa didapat dan dilatih dengan mengambil pekerjaan-pekerjaan yang dianggap menunjang.

Bagamana jika dalam jenjang karir yang kita rencanakan, kita mendeteksi adanya kemungkinan masalah di masa mendatang? Antisipasi lah sejak awal. Contoh: untuk menjadi seorang Sutradara mungkin bisa dimulai dengan bekerja sebagai graphic designer, sebelum lantas melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih dekat dengan posisi yang kita cita-citakan tersebut. Nah, jika untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi tersebut (misalnya asisten sutradara), terdapat skill-set yang kita belum kuasai, ya pelajari dan latih lah sejak dini. Kalaupun pengembangan skill tersebut nggak bisa dilakukan di tempat kerja, ya lakukan di waktu luang lah! Pokonya, lengkapi skill-set yang diperlukan, then advance.

Nah, kalau segalanya sudah direncanakan dari tahap awal (lengkap dengan target waktu dan deadline nya), maka dalam keseharian pun kita akan secara sadar melengkapi diri dan terus mencari-cari kesempatan. Dan kalau kita bisa disiplin dalam merencanakan rencana yang tersusun tersebut, maka secara otomatis karir kita pun akan berkembang... Sounds magical but true, tapi itulah kekuatan dahsyat dari perencanaan.

Yuk ah, kembali ke corat-coret career planning... (bay)

Posted by Bayu on Aug 2, '07 3:04 AM for everyone
"Pareto Account", waktu pertama kali denger istilah ini di meeting, gw kira ini adalah salahsatu nama mall di Jakarta, yang mana adalah bukan, jadi gw anggap sekedar penamaan unik aja terhadap segmen pasar yang mau digarap.

Later setelah ngobrol dengan manager Sales di kantor, ketauanlah bahwa yang dimaksud dengan "Pareto" ini adalah salahsatu jargon di dunia sales. Lebih lengkapnya kita kutip Wikipedia:

The Pareto principle (also known as the 80-20 rule, the law of the vital few and the principle of factor sparsity) states that, for many events, 80% of the effects comes from 20% of the causes. Business management thinker Joseph M. Juran suggested the principle and named it after Italian economist Vilfredo Pareto, who observed that 80% of income in Italy went to 20% of the population. It is a common rule of thumb in business; e.g., "80% of your sales comes from 20% of your clients."

Tujuan bisnis adalah menciptakan keuntungan. Dan jika dari sekian banyaknya lini bisnis yang dimiliki suatu perusahaan, 80% nya dihasilkan dari sebagian kecil saja lini, maka sebagian kecil itulah yang harus mendapatkan prioritas pengembangan dan pelayanan... bukan semuanya!

Prinsip yang sama, ternyata bisa juga diaplikasikan pada pengembangan diri sendiri; dari sekian banyaknya strengths (kekuatan) yang kita punya, manakah yang benar-benar memberikan sumbangsih terhadap keberhasilan hidup kita selama ini? Kalau sudah kita telaah dengan benar, maka biasanya prisip Pareto ini akan berlaku juga; hanya 20% dari seluruh strengths yang kita miliki, berperan pada 80% keberhasilan kita.

Gimana cara mengetahui apa saja kekuatan kita sebenarnya? Peter Drucker menyarankan apa yang dinamakan sebagai metode "Feedback Analysis" (FA):

FA berjalan sebagai berikut:
  1. Kapanpun anda mengambil keputusan atau tindakan penting, catat response/hasil yang anda harapkan.
  2. Setelahnya, mungkin setelah beberapa hari, minggu, atau bulan, bandingkan hasil aktualnya terhadap hasil yang anda pernah harapkan itu.

Menurut Drucker, jika dilaksanakan dengan konsisten, FA akan menunjukkan pada anda:
  1. Apa saja kekuatan anda?
  2. Apa yang anda lakukan, atau tidak lakukan, yang mencegah anda dari mendapatkan keuntungan sesungguhnya dari kekuatan-kekuatan anda?
  3. Di bagian mana saja anda tidak terlalu kompeten? FA akan menunjukkan juga area-area dimana anda tidak memiliki kekuatan, dimana anda tidak akan bisa perform.

Drucker juga menyarankan tindakan-tindakan berikut, setelah anda mengenal kekuatan diri anda sendiri:
  1. Konsentrasi pada kekuatan-kekuatan anda. Tempatkan diri anda pada tempat dimana kekuatan-kekuatan anda akan membuahkan hasil.
  2. Berusahalah untuk meningkatkan kekuatan anda.
  3. Jauhi aktivitas dimana anda tidak memiliki kekuatan, dan memiliki hanya sedikit saja kesempatan, bahkan untuk sekedar menjadi pelaku yang payah.

Jadi, alih-alih berusaha untuk menguasai segala macam hal yang kita temui, fokuskan saja segala daya upaya anda, terhadap peningkatan kekuatan-kekuatan yang anda miliki.

Dan gw rasa ini masuk akal, mengingat dalam resources yang kita miliki, akan selalu ada keterbatasan... misalnya saja, resources yang namanya "waktu" dan "umur".

Stay focused. (bay)

Posted by Bayu on Jul 10, '07 11:38 PM for everyone
Setelah melalui tahap wawancara yang melelahkan dan panjang (atau pendek dan menyenangkan -- one in a million case), maka hari yang dinanti-nantikan pun tiba... hari pertama bekerja.

Setelah berpamitan dengan penuh haru di kantor lama anda (atau mereka tumpengan saat anda akhirnya cabut), maka kini saatnya anda membuka lembaran baru di tempat kerja anda yang baru.

Sebelum masuk kerja, pastikan dulu sebelumnya mengenai culture atau kebudayaan kerja di tempat baru ini... terutama mengenai dress-code. Anda tak ingin terlihat canggung kala muncul dengan setelan jas sementara boss dan staff anda datang pake jeans plus helm proyek kan? Basic rule nya adalah, celana kain plus kemeja polos lengan panjang plus dasi, untuk staff kantoran. Dan antithesis dari itu semua kalau anda kerja di tempat yang dinilai kreatif dan "gaul". So dress accordingly.

Selain dari penampilan, maka hal yang lebih esensial adalah; pekerjaan anda (tentunya). Selain terkait produktivitas, maka hal yang tak kalah penting adalah: performance review. Lho, baru masuk kerja udah di-review? Bukan, bukan begitu... Tapi di mayoritas perusahaan besar dan established, proses review ini adalah rutin. Malah, bisa jadi review ini adalah tools utama dalam menentukan nasib anda di perusahaan baru ini! Kriterianya berbeda-beda, tapi biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

Disiplin
Seberapa sering anda masuk terlambat? Nggak masuk tanpa alasan jelas? Minta izin nggak ngantor? Banyak masalah yang potensial muncul di kemudian hari, berawal dari sikap yang tidak disiplin. Karena itu walaupun terlihat sepele, masalah disiplin ini biasanya mendapat perhatian penting dari perusahaan.

Produktivitas
Seberapa produktif anda? Seberapa baik hasilnya? Tepat sasaran? Bagaimana Inisiatif kerja anda? Jangan pernah sekalipun melenceng dari pikiran anda bahwa perusahaan adalah vessel untuk mencari keuntungan. Bukan dinas sosial! Kala kontribusi anda pada perusahaan minimal, atau malah negatif, maka lazimnya anda akan didepak. Memang beda perusahaan beda toleransi, tapi sadarilah bahwa alasan utama anda berada disana adalah karena anda dianggap bisa bekerja-sama untuk menunjang produktivitas perusahaan. Jangan lupakan juga kemungkinan ada banyak orang mengincar posisi anda, jadi jangan pernah lengah.

Kerjasama & Komunikasi
Sanggupkah anda berkomunikasi dengan efektif? Baik sesama rekan satu departemen (similar goals & culture), maupun lintas departemen (different works, culture & regulations)? Bagaimana cara anda meng-handle masalah komunikasi yang pasti muncul? Kala file yang dibutuhkan tidak kunjung datang sementara deadline dari boss semakin dekat? Banyak masalah di kantor, muncul karena komunikasi yang tidak baik antar elemen-elemen yang diperlukan untuk menghasilkan suatu kerja / keputusan.

Kepribadian
Apakah anda cukup bertanggung-jawab terhadap tindakan2 anda? Jujur? Bersikap ramah? Lagi-lagi hal yang kelihatannya tidak terkait pada produktivitas, tapi sebenarnya dianggap penting karena terkait pada masalah stabilitas mood kerja di kantor anda. Kalau anda rajin melipir dan mangkir dari tanggung-jawab, rutin mencari kambing-hitam atas kesalahan anda, maka dipastikan suasana kerja di lingkungan anda akan berkembang tidak sehat pula. Sadarilah kalau anda adalah seorang pekerja di kantor, bukan aktor antagonis di sinetron Tersanjung season 12.

KPI (Key Performance Indicator)
Nah yang satu ini barulah terkait dengan hal-hal spesifik pekerjaan di departemen dimana anda ditempatkan. Jika faktor-faktor penilaian lainnya bisa dianggap umum, maka yang satu ini harus diperhatikan lebih teliti.

Seringkali dalam keseharian kerja anda, anda dihadapkan pada beragam tugas berbeda, mulai dari mengerjakan pesanan client, kordinasi dengan vendor dan supplier, mempersiapkan suatu event internal perusahaan, hingga (mungkin) cuci mobil boss. Dalam hal ini, anda harus pandai-pandai menilai mana diantara tugas-tugas tersebut yang akan masuk ke penilaian!

Jangan sampai salah menempatkan prioritas sehingga KPI anda malah tidak terpenuhi dengan baik. Untuk hal yang satu ini, jangan segan untuk bertanya kepada supervisor anda, hal dan kriteria apa saja yang akan dipakai untuk menilai kinerja anda. Jangan sesekali coba menyimpulkannya dengan cara tebak kancing atau cap cip cup kembang kuncup. Seorang supervisor yang baik, dipastikan akan terbuka dengan anda mengenai kriteria-kriteria apa saja yang akan dijadikan dasar penilaian performance nantinya. After all, performance kerja dirinya akan terkait langsung dengan performance kerja anda juga.

Nah, kalau segala sesuatunya sudah jelas, maka andapun akan bisa dengan baik menyusun daftar prioritas atas pekerjaan2 yang anda hadapi sehari-harinya. Jadi ketika tiba saatnya untuk performance review, anda tidak akan (terlalu) terkejut dengan hasilnya. (bay)

Posted by Bayu on Mar 13, '07 10:39 PM for everyone
Satu kesalahan cukup fatal yang sering dilakukan pelamar adalah: tidak mencantumkan identitas pada materi lamaran. Terutama pada lamaran yang bersifat elektronik, misalnya data-data yang terkirim via email.

Lazimnya surat lamaran yang terkirim ke perusahaan, biasanya disertai lampiran data tambahan. Data tambahan ini bisa berupa fotokopi ijazah, transkrip nilai akademis, atau portfolio. Baik dalam pengiriman via moda konvensional (pos surat), ataupun elektronik (email), para dokumen dan lampiran ("attachment") besar kemungkinan pada akhirnya akan tersimpan sebagai file yang tercerai-berai.

Misalkan suatu bundel amplop lamaran sampai ke department HRD dari suatu perusahaan. Selanjutnya, biasanya dokumen yang berisi surat lamaran, cv, dan portfolio ini akan disampaikan ke para manager / owner untuk seleksi awal. Jika ada pelamar yang lantas dianggap layak sebagai kandidat, maka owner akan kemudian menginformasikan kepada HRD, siapa-siapa saja yang patut dipanggil untuk interview. Dalam tahap ini, kemungkinan semua data akan dikembalikan utuh kepada pihak HRD, namun tidak menutup kemungkinan lampiran portfolio akan ditahan oleh owner untuk dipelajari lebih lanjut (atau ditunjukkan kepada supervisornya). Masalahnya, jika dalam satu periode penerimaan terdapat belasan atau puluhan pelamar yang masing-masing menyerahkan satu CD portfolio, maka kesalah-pahaman rawan untuk muncul...

"Ini gambarnya bagus, tapi gw lupa punya siapa... hmm punya si Budi kali..."
(padahal punya si Iwan)

"Lho, ini CD apaan ya? Ooo cd rusak bekas burn film2 3gp kemaren, ya udah gw buang"
(padahal portfolio si Wati)

Jadi ketika saat penentuan siapa yang mau dipanggil interview, bisa-bisa yang diincer malah gak kena... Buat perusahaan mungkin masalah juga, karena jadinya employee baru nya nggak secemerlang yang seharusnya... Tapi work goes on, dan si employee grasshopper yang tadinya sebenernya cuma second-best candidate, ternyata bisa fill-in ekspektasi dari perusahaan, so no problem at all... Sementara buat si kandidat yang ter-eliminasi gara-gara portfolionya ketuker dalam proses seleksi di rimba dokumen meja manajer, barangkali kerugiannya lebih gede... karena biasanya kalo sampe ngelamar ke suatu posisi berarti emang lagi butuh kan? Sementara lowongan kerja yang ideal gak muncul seminggu sekali... hell sebulan sekali juga nggak... atau bahkan setaun sekali juga nggak! Padahal masalahnya simpel; cuma masalah (tidak) mencantumkan identitas diri...

So, berikut ini beberapa tips pencantuman identitas diri pada materi lamaran yang akan dikirimkan:

1. Cantumkan nama dan nomor kontak yang bisa dihubungi dengan jelas. Font cukup untuk terbaca tanpa kaca pembesar, font-face cukup simple untuk terbaca tanpa membuat migrain, dan kalo tulisan tangan, buat dalam huruf balok dan kapital. Kalo anda merasa punya skill dalam tulisan tangan plus enkripsi, yang butuh kode khusus atau sudut tertentu untuk terbaca, jangan diterapkan disini.

2. Lokasi penulisan identitas pada dokumen kertas harus memudahkan pencarian. Jaman SD dulu kala ulangan masih harus nulis nama di lembar jawaban, sempat ada polemik antara lokasi mana yang ideal: kanan atas? atau kiri atas? Jika kita berpedoman pada cara menumpuk lembaran dokumen kertas, dan mayoritas manusia adalah right-handed, maka kanan atas adalah posisi yang memudahkan dalam pencarian; tangan kiri memegang bundel kertas, sementara tangan kanan browsing diantara bundel kertas tersebut. Kiri atas adalah posisi ideal berikutnya.

3. Cantumkan identitas pada file / dokumen yang mudah terpisah. Jika anda membundel portfolio atau dokumen lamaran anda dalam satu binder yang di jilid, maka halaman depan dan halaman akhir sudah cukup untuk mewakili keseluruhan dokumen. Tapi, jika anda menyertakan 10 halaman terpisah, sertakan identitas diri anda di setiap dokumen tersebut. Termasuk dalam hal ini, lampiran yang berupa hard-copy atau soft-copy dalam media CD/disket. Memang ada sih, employer2 yang baik hati mencantumkan data ini pada lamaran-lamaran yang datang tidak lengkap, tapi jangan anggap ini sebagai fitur standar.

Dan terakhir, sebenarnya masih terkait butir no.3,

4. Cantumkan identitas (singkat) pada dokumen elektronik yang anda kirim. Lebih dari sering (90%) dokumen elektronik yang gw terima pribadi, belum menerapkan hal ini. Para pelamar seringkali dengan lugu nya mengirimkan gambar2 dengan judul "kursi pak cecep.gif", "image01.jpg", "foto_ganteng.bmp", atau nama-nama lainnya (bahkan "CV.doc"!!!) yang mungkin dari sisi si pelamar adalah sangat masuk akal, tapi buat para calon employer adalah sangat generic dan rawan duplikasi. Instead, buat nama file yang sedikitnya mengindikasikan identitas anda juga, semisal:

meimei_pasfoto_jan07.jpg
ucrit_portfolio_web_unyildotkom_01.jpg
cuplis_logo_berandal_final.gif

Walaupun tidak lengkap, tapi setidaknya ada data yang bisa mengaitkan file tersebut dengan file utama si pelamar, sehingga file tersebut relatif lebih mudah dikenali.

Oh, jangan lupa konsisten ya! Misalnya:

bayu_cv_creative_0701.doc
bayu_portfolio_web_0612.pdf
bayu_pasfoto_0501.jpg << ceritanya bukan manusia narsis

Jangan:

menhariq_cv_jan07.doc
fhoto.eyiq.0701.jpg
smu-ijazah-eriq.pdf

(Same aje beéng kalo gitu mah).

Terakhir, jangan lupa berdo'a... biasanya kalo diiringi ridho-Nya maka akan ada aja hal-hal terjadi yang memberikan kemudahan. (bay)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help