Bayu's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Posted by Bayu on Jun 24, '06 10:20 PM for everyone
Ti'ah dalam usianya yang masih balita duduk dengan tenang dipundak Abah*, sambil pandangannya menerawang kearah "balong gede". Dalam usianya itu, belumlah ia bisa mengerti betul perbedaan antara "balong", kolam ikan yang biasa didapati di kampung-kampung, dengan badan air maha luas yang orang sebut sebagai "laut".

[*Abah: Panggilan lain untuk "bapak" dalam Bahasa Sunda]

Ti'ah dan abah saat itu sedang berada di pesisir pantai Pameungpeuk. Bersama beberapa orang pengangkut barang, mereka hampir mencapai tujuan akhir setelah jauh berjalan dari Garut. Di kisaran tahun 1916 itu, jalan setapak yang mereka lalui bisa menghemat perjalanan hingga satu-dua hari, dibanding jika harus mempergunakan jalan memutar biarpun sambil menumpang pedati.

Tak lama kemudian Ti'ah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya diarah laut, dan pupil matanya pun membesar.

Ia lalu menepuk lengan abah yang sedang memeganginya dan berbicara dekat pada telinga abah... "Abah, itu saha di balong?" (Bapak, itu siapa di kolam?)

Abah menengok kearah telunjuk tangan Ti'ah yang mengarah ketengah laut, dan ia pun terhenyak kaget...

Sambil membaca istighfar, ia pun menginstruksikan pada Ti'ah untuk diam, serta menginstruksikan rombongan untuk untuk tidak berbincang-bincang lagi dan berjalan lebih cepat... keringat dingin terasa keluar dari pundak abah...

Dan walau tidak begitu mengerti mengapa ia harus diam, Ti'ah duduk dengan tenang sambil terus memandangi sang "tamu" di balong... sesosok tubuh hitam legam dengan rambut kribo yang melebar seperti "ayakan" (tampi beras) di lepas laut sana...

Sosok yang terlihat berdiri agak jauh dari batas pantai, terendam air laut hingga ke batas pinggang, dengan badan yang menjulang tinggi dari permukaan laut. Sosok misterius ini terlihat berulang kali membungkuk kearah ombak yang datang...

Segera setelah mereka meninggalkan daerah pantai tersebut dan masuk ke daerah hutan, abah pun bisa bernapas lega... lalu di desa tujuan mereka, mereka mengadakan acara syukuran atas keselamatan mereka. Saat itulah Ti'ah bisa mendapat penjelasan yang cukup memuaskan... abah bilang kalau mereka saat itu sangat beruntung, karena angin sedang mengarah dari laut kedarat dan bukan sebaliknya... jikalau tidak, entah apa yang akan terjadi seandainya raksasa itu mencium bau mereka.

foto dari: http://www.stevequayle.com/Giants/charts/charts.html

further reading:
+ http://www.mysteriousworld.com/Journal/2003/Summer/Giants/
+ http://ourworld.compuserve.com/homepages/dp5/ape2.htm
+ http://media.mnginteractive.com/media/paper36/0105bigfootgraf.gif
+ http://www.mtblanco.com/html/tour.html


Posted by Bayu on Jan 6, '06 11:26 PM for everyone
"Warteg deket Inkoppol??"... Pikirku sambil mempercepat langkah menyusuri jalan Tambak ini, berusaha mengakomodasi biota-biota di perutku yang minta jatah.

"Hmm... keliatannya dah pada abis tuh lauknya"... sambil berhenti sejenak dan memandang dari luar pintu kearah etalase makanan yang letaknya lebih tinggi. Jadilah perjalanan diteruskan, melewati kedai Indomie "Bang Doel" yang entah memakai nama siapa karena si pemilik setahuku bukan Doel namanya.

"Indomie rebus?... Weleh, masa jam segini?" Ku berjalan walau lebih lambat, melewati kedai indomie ini, dan sebuah gerobak dorong...

"Atau pempek si pak tua ini?..." Mengacu pada jajanan baru di depan Inkoppol ini. Rasa pempeknya sebenarnya lumayan, presentasi dan kelengkapannya juga lumayan... tapi yang aku paling ingat adalah ekspresi agak sendu dari pak tua pemilik dorongan ini.

Senyum bentar ke tukang jaga warung Indomie yang sama-sama asli Garut.

"Ah kurang kenyang kalau pempek"... "Sorry ya pak..."

Dan akupun berjalan terus, kali ini mendekati pelataran rumah dimana cak Tjokro mangkal dengan warung mie goreng Jawa Timurannya. Cak Tjkro yang konon pernah bekerja di restoran ini emang enak masakannya, termasuk ketika dulu ia masih memasukkan Puyunghay kedalam daftar menunya. Entah kenapa sekarang menu favoritku ini hilang, dan tinggal ada menu-menu biasa saja semisal mie, kwetiau, bihun dan tentunya nasi goreng.

Namun untuk perbandingan, masakan cak Tjokro ini masih merupakan yang terbaik yang pernah aku coba selama lima tahun pengembaraanku di Jakarta ini. Sayang divisi R&D nya kurang maju, sehingga nggak ada inovasi produk atau produk unggulan yang bisa bikin dagangannya booming. Aku sarankan buat include Nasi Goreng Sosis saja si cak nggak sanggup...

Tapi... kelihatannya Nasi Goreng asik juga nih... walau porsinya bakalan kebanyakan sehingga harus dibawa pulang... dan lagi... aku perlu makan sayuran... jadi keliatannya pass lagi deh...

Senyum pada si cak yang kadang berprofesi double dengan jadi tukang ojek juga. Keliatan sulit ya, rakyat kecil kalo nyari nafkah...

Berjalan lagi...

"Pecel Lele deket restoran Arab?" Teringat pada langganan tempo doeloe dimana menu favoritku adalah Nasi Uduk + Pecel Lele + Tahu goreng. Sambalnya disini luar biasa... sayangnya kualitas lauknya sering nggak konsisten. Selain dari harus menyaksikan didepan mata bagaimana si lele dipukul hingga mati, dibersihkan (bagian ini gak keliatan, cuma keliatan dari gerakan si tukang jagal) lalu dicelup bumbu lantas digoreng, kadangkala Lele yang digoreng nggak matang secara tuntas. Kalau pas pemesanan sedang sedikit pengunjung, maka minyak di ketelnya kurang panas jadinya Lelenya masih anyir kala dihidangkan. Beda kalau sedang peak season, saat minyaknya panas membara, maka si Lelenya pun tersaji dengan sempurna; bagian luar renyah, bagian dalam keras dan gurih.

"Tapi vetsin dalam sambelnya cukup membahayakan..." Jadinya apa dong ya?

Sementara itu cacing-cacing di perut semakin protes minta jatah... Dan sekantung modem GPRS yang aku jinjing turut memperkeruh suasana.

"Yahh... Ayam Bakarnya tutup!" Seruku dalam hati melihat keseberang jalan ke tempat gerai ayam bakar dan mie ayam langgananku. Disebelahnya terdapat warung nasi "elite" dimana pilihan lauknya beragam dan unik-unik (misalnya sate udang), tapi harganya juga unik... Kalau kita pesen even cuma pakai ikan kembung, maka jatuhnya sebelum kenaikan BBM adalah sekitar 7 ribu rupiah... sedangkan kalau kita makan hidangan non-daging, jatuhnya malah murah banget... Kelemahannya? Gak ada sayuran segar semacem sayur sop atau sayur asem... sayuran kuah disini pastilah berkuah santan dan kari, dengan bumbu yang agak nggak balance juga...

Pilihan terakhir... Warteg biru sebelum toko film... Soto Ayamnya enak... langganan aku dan Ade untuk makan, kalau kebetulan lagi mampir. Ya suww... kesana saja deh... Kalaupun soto ayamnya habis, rasa sayuran disini masih lebih bearable, selain tentunya juga lebih affordable.

Kulangkahkan kaki memasuki warung ini, beberapa orang yang makan melirikkan mata sejenak lalu kembali ke kesibukannya mengunyah dan menelan... Ketika mencari-cari wajah familiar dari para pelayan warung yang biasanya suka genit, ternyata yang ada adalah wajah-wajah baru. Langsung saja aku membuat pesanan...

"Soto Ayamnya ada mbak??"
"Ada mas!" Sahutnya langsung.

Akupun beranjak mendekat etalase hidangan mereka.

"Eh, sebentar mas..." Seru si mbak sambil meneliti piring Ayam Goreng yang kelihatannya sudah kosong.

"Aabiiisss... maap mas" Sambungnya dengan nada agak menyesal.

Tapi aku nggak surut semangat dan lantas mendekati etalase bagian depan... Teringat dulu pernah minta dibuatkan soto Ati Ampela dan mereka menyanggupinya. Si ibu gendut pemilik warung masih belum kelihatan wujudnya dan senyum ramahnya, baru suaranya saja dari arah dapur. Kalau ada dia tentu beres... Sambil meneliti content etalase bagian depan, seorang pengunjung yang makan didaerah situ terlihat gelisah... dan berkali-kali menengok.

"Kalau ati ampelanya bisa dibikin soto?" Tanyaku kembali sambil menunjuk piring berisi sate Ati dan Ampela goreng telur.

Si mbak mengangguk dengan mantap. Akupun lantas memesan satu porsi soto Ati-Ampela. Mas yang duduk disitu masih tetap gelisah dan membuatku heran... ada apa sih? Apa dia ini salahsatu crew dari penjaga malam yang biasa menyapaku kala pulang larut malam? Atau pria yang waktu itu marah-marah di warung yang sama dan berusaha memancing emosiku? Hmm... keliatannya bukan dua-duanya... ah ya suww... dipikirin amat...

Akupun beranjak ke etalase samping untuk melihat kira-kira side-dish apa yang menarik. Terlepas dari pengalaman burukku melihat seekor serangga hinggap dan bertelur gundukan berwarna pink disalah satu hidangan mereka beberapa tahun lalu, aku tetap suka mampir kesini.

Karena dirasa akan jadi hidangan yang cukup eksotik, maka aku memesan juga side-dish kare udang untuk dicampur ke soto... Soto Udang? Dimana lagi bakalan aku nemu hidangan macem begini?

Dan akhirnya, setelah menunggu sekitar 5 menit, pesanankupun siap... diantar oleh dua pelayan warung yang mengaku sebagai dayang-dayang ditempat itu, salahsatunya cekikikan rada genit juga (duh, ada apa dengan penjaga warung disini ya?).

Tak lupa sebagai condiment wajib buatku, si ibu gendut menyertakan dua siung bawang putih mentah di piringku untuk teman makan soto yang full force, full santan ini.

Pilihan akhir: Semangkuk Soto Ati Ampela plus Udang kare. Plus nasi setengah dan sayur sop, total damage: 6.5K IDR.

Nasip anak kost... tour d'warung 3X sehari, 7 hari seminggu...


Posted by Bayu on Jul 15, '05 3:30 AM for everyone
Rupanya pesawat yang dinanti tak kunjung tiba. Petugas di bagian pengumuman pun ketika gw tanya, cuma bilang kalau belum ada kabar dari petugas maskapai. Jadi kembalilah aku ke counter Javabooks untuk mencari-cari bacaan bagus... Didalam ruangan Executive Lounge tadi gw dah bosen ngemil kacang-kacangan dan kue-kuean yang emang cuma begitu keadaannya. Apalagi banyak anak kecil yang (orang tuanya) tak tahu diri... Dibiarin bikin keributan dan bising... Manalah mungkin anak-anak memiliki kesadaran lingkungan yang baik... kalau menurut mereka ruangan lapang diantara tempat duduk sudah cukup untuk main pedang-pedangan, ya bertempurlah dengan gagah berani!

Lucu sih... dan memang wajar dari konteks umur... Cuman tak jarang interaksi antar anak-anak seperti ini juga menimbulkan gangguan pada lingkungan. Misalnya ketika mereka secara tak sadar mulai berteriak-teriak kegirangan, padahal di dalam ruangan terdapat beragam jenis manusia... mulai dari yang kegirangan karena hendak berlibur, galau menunggu pesawat tak kunjung datang, baru mengalami musibah sehingga harus cepat pulang, atau mungkin para pebisnis yang kecapean sehabis urusan kantor... yang mana membuat polusi suara dari mulut-mulut mungil itu bisa terasa semakin mengganggu.

Harusnya orang tua yang baik mengerti kapan anak-anaknya harus dilarang. Membiarkan mereka tumbuh berkembang bukan berarti seperti membiarkan suatu tanaman merambat liar hingga sanggup melebur dinding suatu benteng... harus ada batasan dan bentukan... Apalagi kalau si anak sudah bertindak diluar dari fungsi dan peruntukan ruang.

Kecuali kalau para penumpang nebeng nunggu di ruangan playground, atau taman hiburan, atau pasar, wajar lah segala keributan itu... tapi kalau ruangan tersebut ditujukan buat bersantai sekaligus beristirahat, cobalah bertenggang rasa... Membuat anak senang bukanlah dengan cara membiarkan mereka meraja-lela.

Ih... jadi ngeluh...

Tapi whatever... setelah bosan browsing buku dan pesawat tak kunjung ada kabar, akhirnya terpaksa gw masuk kembali ke ruangan Executive Lounge tadi. Kali ini di sebelah tempat duduk gw adalah seorang ibu-ibu separuh baya yang ramah dan komunikatif... Hampir saja gw sangka ia berhasrat menawarkan gw suatu bentuk bisnis jaringan... Tapi ternyata memang cuma sekedar ramah...

[Maaf, habis gak sekali dua kali diramahi oleh orang asing, tapi ternyata hanya berbuntut ke prospecting... ]

Setelah bercakap sejenak, gw mengambil sebotol Frestea dari Cooler box, duduk santai, lalu mendengarkan lagu-lagu yang sudah gw siapkan dalam Mp3 player kesayanganku. Dengan volume tak terlalu keras tentunya, biar pengumuman pemberangkatan pesawat bisa tetap terdengar...

Sementara itu, cucu si ibu bolak-balik antara kursi kami, dengan kursi di depan TV... Namun tingkahnya sama sekali tidak mengganggu... apalagi kelihatannya ia takut kalau neneknya sudah mulai tegas...

.....................

Setelah lama berselang, akhirnya pesawat yang dimaksud siap untuk dinaiki... Tak buang waktu lagi, akupun pamitan sama ibu ramah tadi, lalu beranjak keluar ruangan nyaman itu, menuju antrian penumpang yang mulai panjang. Penerbangan dengan Lion Air sore itu ternyata dilayani oleh pesawat yang lebih besar dari Boeing 737-400 nya Adam Air. Bentuknya sebenarnya familiar... namun karena wawasan pesawat terbang komersil ku kurang baik, maka jenisnya tak dapat kutebak... Wahh... payah nih kalau ada kuis...

Maka ketika aku menempati tempat duduk ku, segera aku cari lembar instruksi keselamatan dimana biasanya tercantum jenis dari pesawat yang dinaiki....

Setelah mencari, ternyata ketahuan.... Boeing MD-82....

Hee? "MD" itu bukannya singkatan "Mc Donell Douglas?", lho kenapa jadi Boeing? Gw salah inget kali ya?... Ya sutra lah...

Seragam dan desain interior kabin dari maskapai ini kurang menarik... mungkin maksudnya meniru seragam maskapai yang lebih konservatif, tapi jadinya terlihat lesu... tidak ada excitement... Namun hal yang langsung aku ingat adalah pramugarinya ternyata jauh lebih ramah... tidak seperti "angels" nya Adam Air yang kadang terkesan bete...

Dan ketika saat take-off tiba... kembali hati ini deg-deg an... mau tak mau, di dalam batok kepala ini kembali terngiang-ngiang gambar rekaman kecelakaan pesawat saat tak bisa take-off...

Tapi memperhatikan keramahan pramugari, yang mungkin berpikiran serupa... berkali-kali dalam satu hari, aku jadi malu... Saat itu, detik itu, kelihatannya tidak ada seorang pun dari kru pesawat yang tidak menginginkan penerbangan yang aman dan lancar... Jadi pasti merekapun berusaha sekuat kemampuan untuk menghindari bencana...

Dan saat itu terasa tarikan mesin jet semakin berat... pesawat dengan turbin jet di bagian belakang ini memang membutuhkan momentum yang lebih besar dibandingkan Boeing 737-400, sesuai ukurannya... Terasa kalau gas pun ditekan lebih poll pada saat pesawat berlari di landasan pacu...

makin cepat....

makin cepat.........

tapi koq tidak naik-naik ya?

uhh.....

Namun akhirnya pesawat pun meninggalkan landasan dan langsung menukik tajam ke langit... meninggalkan Yogya di sore hari, menuju dunia atas awan dimana hari masih terasa siang...

Ahh... kembali aku disambut awan-awan beriringan... indahnya...

(Tamat)

Posted by Bayu on Jul 15, '05 12:53 AM for everyone
Untuk terbang pulang dari Yogya, ternyata kantor beliin tiket Lion Air. Pertama kali gw liat slip tiketnya, pikiran buruk udah mulai merambah... Soalnya masih terngiang-ngiang rekaman TV yang menampilkan runtuhan pesawat maskapai satu ini, kala gagal mendarat di salahsatu bandara di Indonesia... Plus beberapa berita koran lain yang mengabarkan pesawat-pesawat maskapai yang sama yang gagal mendarat atau jatuh. Will I be next?

Ehh... hush! Gak boleh suudzon....

Tapi emang kalo ada pilihan lain sih, gw prefer gak milih Lion Air karena reputasinya... Peduli amat ama undian de el el... toh peruntungan gw dalam hal undian sudah terbukti sangat teruk...

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini kami tidak mengunjungi Salatiga sehingga tidak pulang melalui Semarang. Maka setelah bahagia dapet kaos Adam Air paginya, meeting client siangnya, dan jalan-jalan ke Malioboro after meeting, gw pun dengan berat hati mengarahkan tujuan ke bandara Adisucipto, Yogya. Kalau saja bisa nginep, tentu gw gak keberatan buat menghabiskan lebih banyak waktu di kota resik (dan murmer) ini.

[Sarapan Nasi Kuning plus Telor dan Ayam - 4000 perak, es teh manis - 600 perak]
[Makan siang Nasi Rames pake Udang, Otak, es teh manis - 8600 perak, es campur buah - 3000 perak]

Bandara Adisucipto terlihat sederhana, dengan penumpang yang membludak... Rata-rata mereka datang beserta keluarga dan anak-anak kecil. Antrean didepan tempat check-in pun cukup berisi, walau tidak sampai antre lama.

Di dalam bandara, suasananya lebih nyaman... Mungkin karena hanya terdiri dari ruangan tunggal, maka Galeri Tunggu ini mendapat fasilitas yang cukup lengkap, bahkan dibandingkan Galeri Tunggu nya Soekarno - Hatta pun terasa lebih layak huni. Di bagian samping terdapat beberapa kios makanan dan kerajinan tangan, sedangkan bangku duduk penumpang berderet rapi memenuhi ruangan yang cukup luas ini... Gw sendiri, sibuk melayangkan mata ke penjuru ruangan untuk mencari dimana gerangan tempatnya ruangan tunggu khusus, alias Executive Lounge berada di bandara ini.

Bila dalam kunjungan sebelumnya masalah akses dicover oleh kartu kreditnya boss, maka sekarang gw mencoba kembali keberuntungan gw dengan kartu standar salahsatu bank internasional. Bank yang udah dengan sukarela gw sumbang sebagian jerih payah gw mencari penghasilan, dalam bentuk bunga pinjaman 3.3%.

Ketika menapakkan kaki masuk ke ruangan yang terasa lebih adem itu, gw pun menghadap petugas reception dan menanyakan soal kemungkinan akses memakai kartu ku itu... Namun ternyata, kartu yang mereka terima adalah kartu Gold, sedangkan punyaku masih yang standar... Huhh!... Teringat jawabanku pada CS dari bank bersangkutan ketika menawarkan upgrade kartu ku ke Visa dan Master Gold (karena gw nasabah yang rajin ngutang)...

"Ah, saya gak butuh diskon nginep di hotel, atau fasilitas ruang tunggu khusus di bandara mbak!"

Lha wong sepuluh tahun terakhir itu paling banter jalan jauh pake kereta-api...

Jadi rada nyesel... Tapi gw gak bisa nyalahin diri juga waktu dulu ditawarin, karena daripada kena charge biaya taunan yang lebih gede, dan fasilitasnya gak (belon) gw butuhin, ngapain di upgrade?

Tapi karena kebetulan.... err... karena memang harusnya begitu... waktu bareng boss tempo hari, gw liat ada calon penumpang yang ngeluarin kartu yang rada gak nyambung... Kartu Belanja Carrefour! Maka lantas gw tanya lagi sama si mbak soal kartu yang satu ini.

"Oh ya, Kartu Belanja Carrefour bisa..." serunya....

Dan langsung saja gw mengeluarkan dompet untuk mengeluarkan kartu belanja bulanan ini ke si mbak... Hi hi... ajaib... koq kartu yang satu ini bisa? Padahal kan termasuk satu yang menurut gw underdog... Gak tau sih, apa ntar bakalan kena charge atau nggak... yang pasti, gw gak mau nunggu sejam lebih di ruang tunggu diluar sana, ditengah-tengah orang-orang asing, sementara gw bisa duduk didalem sini dan bebas ngemil/nonton/baca/dengerin musik sambil menunggu waktunya boarding... Kalopun kena charge? Yaa reimburse...

He he he he he...

(to be continued)

Posted by Bayu on Jul 6, '05 10:34 AM for everyone

Akhirnya kakiku menapaki lagi lantai bandara ini... tempat dimana sepuluh tahun lalu aku berharap cemas menunggu bunda yang tak kunjung datang... padahal di kantong dan dompet gak bawa duit selain dari recehan buat ongkos atau beli teh botol... padahal waktu itu mau jalan-jalan ke Singapur ama temen-temen mata kuliah Isyu Arsitektur...

Atau teringat juga waktu menjemput kakanda yang bertandang dari Batam bersama keluarga... itupun rasanya sudah tahun lalu... waktu itu sempat bertanya-tanya, kapan yah terbang lagi?

Sepanjang perjalanan ke bandara pun rasanya hati ini sumringah... he he he... padahal aku udah bukan anak kecil lagi... hanya saja, aku sudah lupa bagaimana rasanya excitement terbang di langit itu... apa sekarang masih sama rasanya? Setelah ada jet coaster dan "Halilintar" di Dufan?

Mengenai excitement ini sendiri, jadi teringat sewaktu masih kecil, adikku yang masih mungil, keriting bermata belo, ketika pesawat lepas landas dan tekanan G (gravitasi) pada tubuh meningkat, yang ia serukan dari mulut mungilnya adalah "E..naaaaaaakkkkkk!!!"... Yang kontan saja disambut tawa dan senyum penumpang lain... si adik memang menyukai sensasi rasa itu... sama seperti sukanya ia kalau kendaraan yang bapak setiri, melaju kencang saat melewati jalan yang tiba-tiba menurun...

Satu hal yang aku lupakan dari bepergian dengan pesawat terbang, adalah menunggu... Setelah daftar dan menyerahkan tiket, masih ada waktu sekitar sejam untuk menganggur menunggu jadwal keberangkatan... Sangat membosankan... apalagi Executive Lounge yang kami singgahi hanya memutar telenovela di TV berukuran 31 inchi nya... Sedangkan di rangkaian meja kecil di sudut ruangan, hidangan paling mewah yang ada disitu adalah goreng tahu... Terpaksa deh harus puas menikmati orange juice dan lemon tea yang rasanya sedikit absurd...

Ketika tiba waktu keberangkatan, beranjak kaki ini pun melangkah menyusuri lorong kelam dengan bilah grill logam di sisi kiri-kanan nya, dimana pemandangan di balik grill sebelah kiri menampakkan sosok gagah pesawat Boeing 737-400 yang akan kami tumpangi... Deretan staff dari maskapai yang akan membawaku terbang ini, berderet rapi di beberapa bagian lorong... sementara mataku masih mencuri-curi pandang kebalik grill logam, memperhatikan bentuk air intake dari dua mesin jet yang tergantung di sisi kiri dan kanan pesawat, dimana dibagian bawahnya terlihat agak datar.... Jadi teringat ilustrasi yang aku dan rekan kerjaku buat saat mengajukan proyek simulasi pelatihan pilot 737-600 bagi Garuda, beberapa tahun lalu... awalnya akupun mengira bahwa bentuk depan dari mesin jet ini adalah bulat sempurna... namun ternyata dibagian bawahya sedikit rata...

Deretan penumpang lantas berbelok kekiri kearah Garba Rata, benda yang menurut teori, bisa dikendalikan belokan dan kemiringannya, mirip seperti ular mekanik, dan kami para penumpang berjalan di perutnya... Sewaktu menunggu giliran masuk kabin pesawat, terdengar salahsatu kru sedang berbicara dengan tower soal keberangkatan yang nampaknya belum beres...

Mungkin dahulu aku masih terlalu kecil untuk mengingat itu semua... atau sekarang bisnis penerbangan memang sudah bukan suatu hal yang elit lagi? Sehingga kru bisa bebas berdebat mengenai hal penting dengan menara, saat masih banyak penumpang antri disampingnya? Ah tapi memang... semenjak beberapa tahun belakangan ini, pemain di dunia penerbangan domestik semakin berwarna-warni, dan berakibat kepada persaingan harga tiket yang semakin kompetitif... Bayangkan saja, untuk jarak yang sama, dan waktu yang lebih cepat, penumpang hanya perlu membayar sedikit lebih mahal dibandingkan ongkos angkutan standar... Bahkan salahsatu maskapai ada yang mematok harga tiketnya lebih murah dibanding ongkos bis patas antar provinsi dengan tujuan sama.

Kembali ke antrian, banyak diantara para penumpang adalah keluarga, dengan rangkaian anak-anak kecilnya, yang sesekali terdengar tertawa ceria dalam percakapannya dengan sang bunda. Kelihatannya mereka ini siswa yang sedang libur sekolah. Kala memasuki kabin pesawat, penumpang-penumpang ini mendapat sambutan hangat dan bersahabat dari para pramugari yang cantik-cantik yang berdiri disamping pintu masuk... Cukup membuat ngiri.

Setelah aku meletakkan tas ransel dan tas video projector di ruang bagasi diatas tempat duduk, perhatianku lantas teralih ke lingkungan sekelilingku... Nampaknya paduan warna oranye dan krem yang dipakai maskapai ini memang cukup menyegarkan mata, apalagi kalau ditambah dengan mbak-mbak yang hilir mudik dalam seragam maskapai yang juga berwarna serupa... he he he

Tak lama kemudian AC mati... kelihatannya ada masalah.... ataukah ini normal? Bossku terlihat agak bingung sementara aku berusaha pura-pura tak khawatir... kalau didarat saja sistem elektriknya sudah kacau... bagaimana kalau nanti sedang diatas awan?

Namun kekhawatiran itu aku tepis, karena aku masih ingin menyerap sebanyak mungkin sensasi yang ada dalam penerbangan pertamaku ini, setelah sepuluh tahun absen dari kabin pesawat terbang...

Setelah AC kembali menyala, walau masih dalam udara yang panas dan membuat keringetan, pesawat lantas dipersiapkan untuk lepas landas, dan dimulailah hiburan gratis aksi pantomim oleh para pramugari, menunjukkan kegunaan beberapa barang yang vital untuk keselamatan kala kecelakaan terjadi... Ah... ya... keselamatan... Agaknya itulah hal yang paling diperhatikan dalam suatu penerbangan... sampai-sampai ada badan yang mengatur khusus mengenai hal ini secara internasional... Petunjuk di lembar terlaminasi pun menunjukkan dengan cukup jelas apa-apa saja yang harus dilakukan kala terjadi kemalangan, termasuk didalamnya, posisi duduk, cara memakai masker oksigen, cara memakai pelampung, dan cara membuka pintu darurat.

Petunjuk di lembar mengenai pemakaian pelampung terlihat agak ribet... awalnya aku bingung menerjemahkan arti dari ilustrasi yang dimuat disana... padahal aku mengantongi ijazah desain dari salahsatu perguruan terkemuka negeri ini... Hmm... kelihatannya si pembuat ilustrasi lupa mencantumkan atau mengindikasikan bahwa dua macam ilustrasi yang ia buat sebenarnya berlaku untuk dua jenis pelampung yang berbeda, bukan pelampung yang sama...

Namun penjelasan lebih lanjut ditangani dengan baik oleh pantomim pramugari yang terlihat serius dalam memperagakan cara pemakaian pelampung ini... Terbayang olehku bagaimana risihnya mereka saat pertama kali harus melakukan pantomim yang informatif sekaligus menghibur penumpang (pria) ini. Aku saja yang melihatnya merasa agak risih... Apalagi gerakan-gerakan yang diperagakan bisa terlihat mirip salahsatu segmen dari modern dance...

Beberapa cuplikan hiburan pantomim ini sempat terambil oleh kameraku, namun karena aku merasa risih untuk menggunakan lampu kilat, maka yang tertangkap oleh kamera poket digital ku mungkin lebih tepat disebut "penampakan"...

Lalu tiba saat yang dinanti-nanti... lepas landas... Setelah sekian lama menanti akhirnya terasa ada pergerakan badan pesawat kearah belakang... sepengetahuanku, yang menjadi sebab dari gerakan ini adalah tarikan dari mobil pengait airport, bukan dari mesin pesawat... Dan benar saja, ketika pesawat telah berada dalam posisinya, kulihat sebentuk mungil mobil seukuran mobil golf*, dengan pengait yang panjang di bagian depannya... Sungguh ajaib, mobil sekecil itu bisa menarik pesawat sebesar ini...

Lantas mesin pesawatpun mulai dinyalakan... Derunya terdegar gagah, dengan frekuensi yang kian meninggi... meninggi... dan meninggi... terasa mirip sensasi yang didapat dari mendengarkan musik metal... higher! stronger! higher!... he he he... dari suaranya saja sudah cukup memicu adrenalin...

Lantas akupun mencoba mensimulasi diri menjadi seorang yang takut terbang... apa sih sebenarnya yang perlu ditakutkan dari terbang dengan pesawat?... Deru mesin saja sebenarnya sudah bisa membuat nervous... dan pesawat yang berjalan perlahan-lahan menuju runway pun seakang menyimpan kejutan besar dan masa depan yang tak pasti... After all, diatas sana tidak ada istilah minggir jalan untuk reparasi... Glek...

Badan pesawat mulai berguncang kecil saat menapaki jalan tak mulus menuju runway... Suara berisik dari AC dari langit-langit di samping kiri ku pun cukup memancing keraguan... apakah rusak? Apakah memang seharusnya begitu?

Namun kutepis perasaan itu jauh-jauh saat pesawat telah mencapai runway dan bersiap lepas landas... Terdengar lonjakan frekuensi suara mesin jet disamping pesawat, dan ketahuanlah kalau kedua mesin Pratt & Whitney ini baru mulai unjuk gigi... Teriakan mereka yang banyak teredam oleh badan pesawat, terasa semakin melengking saat pesawat melaju dengan percepatan tinggi... hey... rasanya mulai mirip seperti naik Halilintar di Dufan... dan sensasi peningkatan G yang terasa oleh tubuh memang membuat excited.... Sedangkan excitement memang dekat dengan anxiety (kegelisahan), sehingga bisa kupahamilah bagaimana perasaan unik ini justru bisa menjadi suatu terror bagi sebagian penumpang yang lain...

Sedangkan aku... pikiranku saat itu berusaha merekam tiap detik dari apa yang aku rasakan saat pesawat mulai meluncur tajam, menunggangi udara yang tipis dengan semburan jet nya, agar bisa aku ingat dengat baik di masa-masa mendatang... siapa tau bisa buat bahan tulisan? He he he... Tak lupa pula aku coba membayangkan bagaimana rasanya badanku ini kalau pesawat yang aku tunggangi bukanlah pesawat komersial kelas sedang seperti ini, namun pesawat pemburu F-14 yang harus tinggal landas dari landasan pacu teramat pendek di kapal-kapal induk... Hmm... tentu luar biasa perasaan excited nya...

Kala ban pesawat tidak lagi menyentuh tanah... aku perhatikan sayap pesawat disampingku, sambil memuji keagungan Ilahi, dimana sebagian orang yang mau berpikir, ternyata telah berhasil menemukan kalau udara yang terlihat hampa ini sebenarnya bisa bersifat lebih fluid dan kental dalam kecepatan tertentu... Bukti dari keagungan-Nya yang menciptakan mahluk dengan kemampuan berpikir sedemikian canggih...

Dan lambat laun... pesawat pun menanjak ke ketinggian 2700 kaki, menembus lapisan awan yang seakan seperti kue lapis, karena terlihat terkonsentrasi hanya pada ketinggian tertentu, dan menyisakan ruangan lowong diantaranya... Contoh lain dari keagungan Ilahi... bagaimana langit yang sepertinya kosong ternyata menciptakan batas-batas yang saklek dan ketat...

Aku pun terbang semakin tinggi dengan pemandangan gumpalan awan yang semakin indah... Subhanallah... akankah orang banyak mengetahui keindahan ini kalau mereka tidak pernah terbang? Akankah mereka mampu memberikan tafsir yang benar dan bulat terhadap ayat-ayat Kitab Suci jika mereka tidak pernah membuka mata dan pikiran akan dunia dari tempat pandang yang berbeda?

Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ku melihat keluar jendela pesawat, mengagumi awan-awan bergumpal yang maha luas... sementara boss ku telah terlelap disampingku, setelah tadi adu potret pramugari... aku dengan kamera poket digitalku, dan dia dengan O2 XDA nya yang bisa terlihat lebih manipulatif saat memotret...

Dan pesawat pun beranjak makin tinggi... menembus awan, menjelajah angkasa, berjalan mulus sambi sesekali terguncang-guncang saat melalui awan berwarna gelap... Dengan sayap yang melambai-lambai cukup ganas... bukti lain dari kecanggihan teknologi... bagaimana sayap sekecil itu ternyata sanggup menahan beban sekian besar yang ditimbulkan oleh hantaman angin pada badannya yang pipih...

Sekarang berkaitan dengan ketinggian terbang... Soal isyu "mile high club", dan juga salahsatu episode CSI soal hubungan antara ketinggian terbang dengan perubahan perilaku sex... Dan pikiranpun lantas rada melantur... Tapi nampaknya, kalau dalam penerbangan di pesawat penuh sesak seperti ini, agaknya tidak mungkin... Boro-boro bisa turned on, apalagi perjalanan cuma sekitar satu jam saja...

Atau... ada yang punya pengalaman pribadi? (Hus!) he he he

Tak lama kemudian akupun terlelap... sedikit saja, karena pramugari yang manis-manis itu lantas membagi-bagikan.... sedotan, yang untungnya diikuti dengan pembagian air mineral kemasan gelas... Ada logo maskapainya... Jadinya aku terpikiran untuk menyimpannya saja untuk koleksi... Yang pasti, tidak ada cemilan lagi selama perjalanan ini... Kecuali bagi bossku yang kini telah terbangun dan mengeluarkan sebungkus lapis legit yang rupanya ia kantongi sejak dari Executive Lounge tadi di bandara...Coklat dan permen yang tadi aku dengar ditawarkan oleh seorang pramugari, agaknya hanya ditujukan bagi para penumpang kecil di kabin ini, yang sedang dalam masa liburan sekolah mereka...

Dan tak terasa, 45 menit telah berlalu dan pesawat kamipun mulai beranjak turun untuk bersiap-siap mendarat di bandara Adisucipto, Yogya... Pesawat turun dengan hidung menaik... gunanya agaknya agar meningkatkan daya angkat ketika pesawat harus mengurangi kecepatan... dan flap kecil di belakang sayap pun terlihat bergerak menunduk untuk menghasilkan lebih banyak lagi daya angkat bagi pesawat berpenumpang puluhan manusia ini...

Tampak perumahan yang semakin jelas...

Atap rumah yang semakin banyak...

Puncak pohon yang semakin dekat...

Hingga mobil yang terlihat berseliweran di jalan...

Dan pemandangan diluar pesawat pun terlihat mulai familiar... hanya saja dalam kecepatan yang sangat tinggi... Tak lama kemudian, terasa ada guncangan dan pesawatpun menyentuh tanah... hanya saja karena kecepatannya memang terlalu tinggi, maka setelah itu terasa ada tarikan sangat kuat kearah depan saat pesawat mengerem dengan sekuat tenaga... Penumpang disampingku geleng-geleng kepala, sementara bossku berujar dengan kalem bahwa pesawatnya kelihatannya agak kecepetan buat landing...

Dan setelah perjuangan penuh tenaga, pesawat kamipun berhenti tepat di bagian akhir landasan, saat pesawat harus berbelok ke tempat parkir untuk menurunkan penumpang...

Alhamdulillah, perjalanan yang terekam baik oleh indra-indra ku... sementara bapak di sebelahku masih menggeleng-gelengkan kepalanya seakan kesal dengan ulah si sopir... eh pilot yang mendarat dengan kecepatan terlalu tinggi...

Sekian.

* Setelah dilihat lebih teliti, ternyata ukuran mobil penariknya cukup besar, kurang lebih seukuran minibus Carry, dengan 2/3 panjang badan nya adalah tempat mesin... Pantas saja kuat...


Posted by Bayu on Jun 15, '05 7:12 AM for everyone
Waktu tempo hari makan siang di Sari Bundo Juanda, sehabis menyantap sepiring nasi rendang padang nan gurih, mataku berkelana sembari berusaha mengurangi sesak di perut... Sementara rekan kerja ku yang lebih senior, tak henti-hentinya menawarkan aku mengambil lauk tambahan, nasi tambahan, atau juice dan minuman lain. Semuanya dengan berat hati aku tolak... sungguh... rasanya perut sudah menggelembung, padahal di masa kuliah sepuluh tahunan lalu, sepiring nasi beserta lauknya sih tak ada apa-apanya. Mungkin dalam hal ini faktor usia sangat berperan...

Sembari celingukan kanan-kiri melihat-lihat fenomena menakjubkan di restoran ini; semua bangku terisi, tiba-tiba mataku terpaku pada meja sebelah, dimana penghuninya nampak sedang asyik menikmati gulai kikil sambil makan dengan tangan... Yang menarik bukan kikilnya, tapi orangnya... Dan setelah beberapa saat memastikan, ternyata itu memang teman saya, sesama pemburu makan enak; Rusmin. Terlihat ia sedang makan bersama seorang wanita yang kemungkinan besar adalah calon isterinya, sebagaimana email Rusmin beberapa waktu lalu yang berisi pesan singkat, "Minta alamat, saya mau kirim undangan".

Karena tak enak menggangu orang makan, maka aku pun menunggu hingga saat kami harus pergi, lantar menghampiri Rusmin di mejanya. Ketika saya sapa, ia terlihat terkejut, in a good way tentunya. Rusmin sekilas berujar mengenai rencana pernikahannya itu sambil terlihat agak kesal, dan saya pun lantas menanyakan kapan undangannya sampai, atau setidaknya kapan dan dimana deh tempatnya, biar saya bisa hadir. Rusmin pun lantas berujar "Lho?! udah koq minggu lalu!".

Jderr!... Rupanya acara nikahan Rusmin sudah berlangsung... Dan aku pun dengan tampang melongo bilang pada Rusmin kalau undangan yang dimaksud tidak pernah sampai ke tempatku... Rusmin pun lantas bercerita siapa-siapa saja yang datang waktu pesta pernikahannya, sambil tak lupa memperkenalkan wanita yang sedang bersamanya, sebagai isterinya. So, tebakanku tadi tak salah dong? Aku pun lantas mengucapkan selamat kepada keduanya sambil bersalaman. Rusmin yang masih belepotan tangannya lantas bingung memilih mau menyodorkan tangan yang mana... Setelah berbincang sejenak, aku pun mohon pamit karena rekan kerja ku sudah menunggu di depan kasir. Kami masih harus pergi ke suatu tempat untuk menghadiri acara pembukaan lelang proyek.

Aku ingat betul kejadian itu terjadi tanggal 11 Juni, karena beragam kejadian unik berkaitan penyerahan proposal proyek yang sempat bikin stress... Dan sampai beberapa hari kemudian, hati ini masih kesal, karena tidak berhasil menghadiri pernikahan salah seorang rekan sesama epicurean, karena masalah undangan yang tidak pernah sampai...

Pagi hari tanggal 15 Juni... Aku melangkah masuk kantor sambil memakai baju yang sama dengan hari kemarin. Hal ini terjadi karena aku semalam menginap di seorang teman dan bermaksud mengganti baju sesampainya di kantor... Namun rupanya kesibukan terlalu menyita waktu sehingga untuk hal sesederhana itupun aku tak sempat.

Ditengah kegentingan mengejar deadline, man kirman kirman, office boy kantorku, masuk ke ruangan dalam dan menyerahkan sepucuk surat... "Ini pak, ada surat buat bapak..." Katanya sambil malu-malu...

Terkejut, aku perhatikan nama pengirim dan menebak apa isinya, lantas balik bertanya pada Kirman yang telah kembali ke posnya di depan.

"Ini dateng kapan man?" Tanyaku.
"Barusan pak" seru Kirman tanpa masuk lagi ke ruangan dalam...

Sambil menggerutu, aku pun melempar surat yang dimaksud keatas meja... surat yang aku yakin berisi undangan pernikahan Rusmin yang seharusnya sampai tiga minggu lalu... Lantas kenapa bisa setelat ini datangnya?... Maka dengan penasaran, aku pun kembali bertanya pada Kirman.

"Siapa yang nganter man?" Tanyaku sambil membayangkan nama salahsatu kurir surat untuk didamprat...
"POS pak" Jawab Kirman.

"OOOO PANTEEEEESSSS" Seruku menutup pembicaraan.

Hidup PT. POS! Surat berperangko Rp. 3.000 dengan tujuan dalam kota, akhirnya bisa sampai setelah dua mingguan...

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help