Akhirnya kakiku menapaki lagi lantai bandara ini... tempat dimana
sepuluh tahun lalu aku berharap cemas menunggu bunda yang tak kunjung
datang... padahal di kantong dan dompet gak bawa duit selain dari
recehan buat ongkos atau beli teh botol... padahal waktu itu mau
jalan-jalan ke Singapur ama temen-temen mata kuliah Isyu Arsitektur...
Atau teringat juga waktu menjemput kakanda yang bertandang dari
Batam bersama keluarga... itupun rasanya sudah tahun lalu... waktu itu
sempat bertanya-tanya, kapan yah terbang lagi?
Sepanjang perjalanan ke bandara pun rasanya hati ini sumringah... he
he he... padahal aku udah bukan anak kecil lagi... hanya saja, aku
sudah lupa bagaimana rasanya excitement terbang di langit itu... apa sekarang masih sama rasanya? Setelah ada jet coaster dan "Halilintar" di Dufan?
Mengenai excitement ini
sendiri, jadi teringat sewaktu masih kecil, adikku yang masih mungil,
keriting bermata belo, ketika pesawat lepas landas dan tekanan G
(gravitasi) pada tubuh meningkat, yang ia serukan dari mulut mungilnya
adalah "E..naaaaaaakkkkkk!!!"... Yang kontan saja disambut tawa
dan senyum penumpang lain... si adik memang menyukai sensasi rasa
itu... sama seperti sukanya ia kalau kendaraan yang bapak setiri,
melaju kencang saat melewati jalan yang tiba-tiba menurun...
Satu hal yang aku lupakan dari bepergian dengan pesawat terbang, adalah menunggu...
Setelah daftar dan menyerahkan tiket, masih ada waktu sekitar sejam
untuk menganggur menunggu jadwal keberangkatan... Sangat membosankan...
apalagi Executive Lounge yang kami singgahi hanya memutar telenovela di
TV berukuran 31 inchi nya... Sedangkan di rangkaian meja kecil di sudut
ruangan, hidangan paling mewah yang ada disitu adalah goreng tahu...
Terpaksa deh harus puas menikmati orange juice dan lemon tea yang
rasanya sedikit absurd...
Ketika tiba waktu keberangkatan, beranjak kaki ini pun melangkah
menyusuri lorong kelam dengan bilah grill logam di sisi kiri-kanan nya,
dimana pemandangan di balik grill sebelah kiri menampakkan sosok gagah
pesawat Boeing 737-400 yang akan kami tumpangi... Deretan staff dari
maskapai yang akan membawaku terbang ini, berderet rapi di beberapa
bagian lorong... sementara mataku masih mencuri-curi pandang kebalik
grill logam, memperhatikan bentuk air intake dari dua mesin jet yang
tergantung di sisi kiri dan kanan pesawat, dimana dibagian bawahnya
terlihat agak datar.... Jadi teringat ilustrasi yang aku dan rekan
kerjaku buat saat mengajukan proyek simulasi pelatihan pilot 737-600
bagi Garuda, beberapa tahun lalu... awalnya akupun mengira bahwa bentuk
depan dari mesin jet ini adalah bulat sempurna... namun ternyata
dibagian bawahya sedikit rata...
Deretan penumpang lantas berbelok kekiri kearah Garba Rata, benda
yang menurut teori, bisa dikendalikan belokan dan kemiringannya, mirip
seperti ular mekanik, dan kami para penumpang berjalan di perutnya...
Sewaktu menunggu giliran masuk kabin pesawat, terdengar salahsatu kru
sedang berbicara dengan tower soal keberangkatan yang nampaknya belum
beres...
Mungkin dahulu aku masih terlalu kecil untuk mengingat itu semua...
atau sekarang bisnis penerbangan memang sudah bukan suatu hal yang elit
lagi? Sehingga kru bisa bebas berdebat mengenai hal penting dengan
menara, saat masih banyak penumpang antri disampingnya? Ah tapi
memang... semenjak beberapa tahun belakangan ini, pemain di dunia
penerbangan domestik semakin berwarna-warni, dan berakibat kepada
persaingan harga tiket yang semakin kompetitif... Bayangkan saja, untuk
jarak yang sama, dan waktu yang lebih cepat, penumpang hanya perlu
membayar sedikit lebih mahal dibandingkan ongkos angkutan standar...
Bahkan salahsatu maskapai ada yang mematok harga tiketnya lebih murah
dibanding ongkos bis patas antar provinsi dengan tujuan sama.
Kembali ke antrian, banyak diantara para penumpang adalah keluarga,
dengan rangkaian anak-anak kecilnya, yang sesekali terdengar tertawa
ceria dalam percakapannya dengan sang bunda. Kelihatannya mereka ini
siswa yang sedang libur sekolah. Kala memasuki kabin pesawat,
penumpang-penumpang ini mendapat sambutan hangat dan bersahabat dari
para pramugari yang cantik-cantik yang berdiri disamping pintu masuk...
Cukup membuat ngiri.
Setelah aku meletakkan tas ransel dan tas video projector di ruang
bagasi diatas tempat duduk, perhatianku lantas teralih ke lingkungan
sekelilingku... Nampaknya paduan warna oranye dan krem yang dipakai
maskapai ini memang cukup menyegarkan mata, apalagi kalau ditambah
dengan mbak-mbak yang hilir mudik dalam seragam maskapai yang juga
berwarna serupa... he he he
Tak lama kemudian AC mati... kelihatannya ada masalah.... ataukah
ini normal? Bossku terlihat agak bingung sementara aku berusaha
pura-pura tak khawatir... kalau didarat saja sistem elektriknya sudah
kacau... bagaimana kalau nanti sedang diatas awan?
Namun kekhawatiran itu aku tepis, karena aku masih ingin menyerap
sebanyak mungkin sensasi yang ada dalam penerbangan pertamaku ini,
setelah sepuluh tahun absen dari kabin pesawat terbang...
Setelah AC kembali menyala, walau masih dalam udara yang panas dan
membuat keringetan, pesawat lantas dipersiapkan untuk lepas landas, dan
dimulailah hiburan gratis aksi pantomim oleh para pramugari,
menunjukkan kegunaan beberapa barang yang vital untuk keselamatan kala
kecelakaan terjadi... Ah... ya... keselamatan... Agaknya itulah hal
yang paling diperhatikan dalam suatu penerbangan... sampai-sampai ada
badan yang mengatur khusus mengenai hal ini secara internasional...
Petunjuk di lembar terlaminasi pun menunjukkan dengan cukup jelas
apa-apa saja yang harus dilakukan kala terjadi kemalangan, termasuk
didalamnya, posisi duduk, cara memakai masker oksigen, cara memakai
pelampung, dan cara membuka pintu darurat.
Petunjuk di lembar mengenai pemakaian pelampung terlihat agak
ribet... awalnya aku bingung menerjemahkan arti dari ilustrasi yang
dimuat disana... padahal aku mengantongi ijazah desain dari salahsatu
perguruan terkemuka negeri ini... Hmm... kelihatannya si pembuat
ilustrasi lupa mencantumkan atau mengindikasikan bahwa dua macam
ilustrasi yang ia buat sebenarnya berlaku untuk dua jenis pelampung
yang berbeda, bukan pelampung yang sama...
Namun penjelasan lebih lanjut ditangani dengan baik oleh pantomim
pramugari yang terlihat serius dalam memperagakan cara pemakaian
pelampung ini... Terbayang olehku bagaimana risihnya mereka saat
pertama kali harus melakukan pantomim yang informatif sekaligus
menghibur penumpang (pria) ini. Aku saja yang melihatnya merasa agak
risih... Apalagi gerakan-gerakan yang diperagakan bisa terlihat mirip
salahsatu segmen dari modern dance...
Beberapa cuplikan hiburan pantomim ini sempat terambil oleh
kameraku, namun karena aku merasa risih untuk menggunakan lampu kilat,
maka yang tertangkap oleh kamera poket digital ku mungkin lebih tepat
disebut "penampakan"...
Lalu tiba saat yang dinanti-nanti... lepas landas... Setelah sekian
lama menanti akhirnya terasa ada pergerakan badan pesawat kearah
belakang... sepengetahuanku, yang menjadi sebab dari gerakan ini adalah
tarikan dari mobil pengait airport, bukan dari mesin pesawat... Dan
benar saja, ketika pesawat telah berada dalam posisinya, kulihat
sebentuk mungil mobil seukuran mobil golf*, dengan pengait yang panjang di bagian depannya... Sungguh ajaib, mobil sekecil itu bisa menarik pesawat sebesar ini...
Lantas mesin pesawatpun mulai dinyalakan... Derunya terdegar gagah,
dengan frekuensi yang kian meninggi... meninggi... dan meninggi...
terasa mirip sensasi yang didapat dari mendengarkan musik metal...
higher! stronger! higher!... he he he... dari suaranya saja sudah cukup
memicu adrenalin...
Lantas akupun mencoba mensimulasi diri menjadi seorang yang takut
terbang... apa sih sebenarnya yang perlu ditakutkan dari terbang dengan
pesawat?... Deru mesin saja sebenarnya sudah bisa membuat nervous...
dan pesawat yang berjalan perlahan-lahan menuju runway pun seakang
menyimpan kejutan besar dan masa depan yang tak pasti... After all,
diatas sana tidak ada istilah minggir jalan untuk reparasi... Glek...
Badan pesawat mulai berguncang kecil saat menapaki jalan tak mulus
menuju runway... Suara berisik dari AC dari langit-langit di samping
kiri ku pun cukup memancing keraguan... apakah rusak? Apakah memang
seharusnya begitu?
Namun kutepis perasaan itu jauh-jauh saat pesawat telah mencapai
runway dan bersiap lepas landas... Terdengar lonjakan frekuensi suara
mesin jet disamping pesawat, dan ketahuanlah kalau kedua
mesin Pratt & Whitney ini baru mulai unjuk gigi...
Teriakan mereka yang banyak teredam oleh badan pesawat, terasa semakin
melengking saat pesawat melaju dengan percepatan tinggi... hey...
rasanya mulai mirip seperti naik Halilintar di Dufan... dan sensasi
peningkatan G yang terasa oleh tubuh memang membuat excited....
Sedangkan excitement memang dekat dengan anxiety
(kegelisahan), sehingga bisa kupahamilah bagaimana perasaan unik ini
justru bisa menjadi suatu terror bagi sebagian penumpang yang lain...
Sedangkan aku... pikiranku saat itu berusaha merekam tiap detik dari
apa yang aku rasakan saat pesawat mulai meluncur tajam, menunggangi
udara yang tipis dengan semburan jet nya, agar bisa aku ingat dengat
baik di masa-masa mendatang... siapa tau bisa buat bahan tulisan? He he
he... Tak lupa pula aku coba membayangkan bagaimana rasanya badanku ini
kalau pesawat yang aku tunggangi bukanlah pesawat komersial kelas
sedang seperti ini, namun pesawat pemburu F-14 yang harus tinggal
landas dari landasan pacu teramat pendek di kapal-kapal induk... Hmm...
tentu luar biasa perasaan excited nya...
Kala ban pesawat tidak lagi menyentuh tanah... aku perhatikan sayap
pesawat disampingku, sambil memuji keagungan Ilahi, dimana sebagian
orang yang mau berpikir, ternyata telah berhasil menemukan kalau udara
yang terlihat hampa ini sebenarnya bisa bersifat lebih fluid dan kental
dalam kecepatan tertentu... Bukti dari keagungan-Nya yang menciptakan
mahluk dengan kemampuan berpikir sedemikian canggih...
Dan lambat laun... pesawat pun menanjak ke ketinggian 2700 kaki,
menembus lapisan awan yang seakan seperti kue lapis, karena terlihat
terkonsentrasi hanya pada ketinggian tertentu, dan menyisakan ruangan
lowong diantaranya... Contoh lain dari keagungan Ilahi... bagaimana
langit yang sepertinya kosong ternyata menciptakan batas-batas yang
saklek dan ketat...
Aku pun terbang semakin tinggi dengan pemandangan gumpalan awan yang
semakin indah... Subhanallah... akankah orang banyak mengetahui
keindahan ini kalau mereka tidak pernah terbang? Akankah mereka mampu
memberikan tafsir yang benar dan bulat terhadap ayat-ayat
Kitab Suci jika mereka tidak pernah membuka mata dan pikiran akan dunia
dari tempat pandang yang berbeda?
Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ku melihat keluar jendela
pesawat, mengagumi awan-awan bergumpal yang maha luas... sementara boss
ku telah terlelap disampingku, setelah tadi adu potret pramugari... aku
dengan kamera poket digitalku, dan dia dengan O2 XDA nya yang bisa
terlihat lebih manipulatif saat memotret...
Dan pesawat pun beranjak makin tinggi... menembus awan, menjelajah
angkasa, berjalan mulus sambi sesekali terguncang-guncang saat melalui
awan berwarna gelap... Dengan sayap yang melambai-lambai cukup ganas...
bukti lain dari kecanggihan teknologi... bagaimana sayap sekecil itu
ternyata sanggup menahan beban sekian besar yang ditimbulkan oleh
hantaman angin pada badannya yang pipih...
Sekarang berkaitan dengan ketinggian terbang... Soal isyu "mile high
club", dan juga salahsatu episode CSI soal hubungan antara ketinggian
terbang dengan perubahan perilaku sex... Dan pikiranpun lantas rada
melantur... Tapi nampaknya, kalau dalam penerbangan di pesawat penuh
sesak seperti ini, agaknya tidak mungkin... Boro-boro bisa turned on,
apalagi perjalanan cuma sekitar satu jam saja...
Atau... ada yang punya pengalaman pribadi? (Hus!) he he he
Tak lama kemudian akupun terlelap... sedikit saja, karena pramugari
yang manis-manis itu lantas membagi-bagikan.... sedotan, yang untungnya
diikuti dengan pembagian air mineral kemasan gelas... Ada logo
maskapainya... Jadinya aku terpikiran untuk menyimpannya saja untuk
koleksi... Yang pasti, tidak ada cemilan lagi selama perjalanan ini...
Kecuali bagi bossku yang kini telah terbangun dan mengeluarkan
sebungkus lapis legit yang rupanya ia kantongi sejak dari
Executive Lounge tadi di bandara...Coklat dan permen yang tadi aku dengar ditawarkan oleh seorang
pramugari, agaknya hanya ditujukan bagi para penumpang kecil di kabin
ini, yang sedang dalam masa liburan sekolah mereka...
Dan tak terasa, 45 menit telah berlalu dan pesawat kamipun mulai
beranjak turun untuk bersiap-siap mendarat di bandara Adisucipto,
Yogya... Pesawat turun dengan hidung menaik... gunanya agaknya agar
meningkatkan daya angkat ketika pesawat harus mengurangi kecepatan...
dan flap kecil di belakang sayap pun terlihat bergerak menunduk untuk
menghasilkan lebih banyak lagi daya angkat bagi pesawat berpenumpang
puluhan manusia ini...
Tampak perumahan yang semakin jelas...
Atap rumah yang semakin banyak...
Puncak pohon yang semakin dekat...
Hingga mobil yang terlihat berseliweran di jalan...
Dan pemandangan diluar pesawat pun terlihat mulai familiar... hanya
saja dalam kecepatan yang sangat tinggi... Tak lama kemudian, terasa
ada guncangan dan pesawatpun menyentuh tanah... hanya saja karena
kecepatannya memang terlalu tinggi, maka setelah itu terasa ada tarikan
sangat kuat kearah depan saat pesawat mengerem dengan sekuat tenaga...
Penumpang disampingku geleng-geleng kepala, sementara bossku berujar
dengan kalem bahwa pesawatnya kelihatannya agak kecepetan buat
landing...
Dan setelah perjuangan penuh tenaga, pesawat kamipun berhenti tepat
di bagian akhir landasan, saat pesawat harus berbelok ke tempat parkir
untuk menurunkan penumpang...
Alhamdulillah, perjalanan yang terekam baik oleh indra-indra ku...
sementara bapak di sebelahku masih menggeleng-gelengkan kepalanya
seakan kesal dengan ulah si sopir... eh pilot yang mendarat dengan
kecepatan terlalu tinggi...
Sekian.
* Setelah dilihat lebih teliti, ternyata ukuran mobil penariknya
cukup besar, kurang lebih seukuran minibus Carry, dengan 2/3 panjang
badan nya adalah tempat mesin... Pantas saja kuat...