Bayu's posts with tag: crime

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag crime
Posted by Bayu on Jan 6, '08 5:52 AM for everyone
Setelah mengobok-obok Temasek soal Telkomsel dan Indosat, kini KPPU beralih ke mempermasalahkan tarif SMS yang dinilai terlalu tinggi sehingga sangat merugikan masyarakat.

Menurut WordWeb, "kartel" itu definisinya:
"A consortium of independent organizations formed to limit competition by controlling the production and distribution of a product or service"

Dalam hal ini, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) yakin telah terjadi persekongkolan antara para provider komunikasi seluler untuk mematok harga SMS jauh lebih tinggi dari seharusnya. Menurut perhitungan KPPU seperti dilansir oleh Tempo Interaktif, biaya pengadaan jasa SMS per-sekali kirim adalah Rp. 75,00 -- jauh lebih rendah dibanding harga yang dipatok para provider komunikasi seluler sekarang di kisaran Rp. 250,00 - Rp. 350,00 per-SMS (kecuali sesama nomer satu network di beberapa provider).


KOMENTAR:


SMS lebih murah memang menarik dan menguntungkan masyarakat, salut atas usahanya KPPU! Tapi mungkin yang lebih crucial lagi adalah soal penurunan tarif bicaranya itu sendiri. Masa hari gini biaya nelpon per-menit dari GSM masih di kisaran Rp. 1.200,00? Semoga udah masuk agenda KPPU juga. (bay)

image dari: http://www.hempire.hu/

Posted by Bayu on Dec 13, '07 4:04 PM for everyone
"Kalau yang berikut ini, menggambarkan mengenai... pengembangan teknologi anti pencurian handphone" tutur gw pada sang calon client.

"Jadi ceritanya, ada seorang alumni *** yang kesel karena sering sekali kecurian handphone", lanjut gw sambil berusaha nyusun on the fly kata-kata berikutnya.

"Sehingga akhirnya dia men-develop sendiri teknologi yang memungkinkan pelacakan...", oke, quite correct.

"Dimana ketika si handphone dicuri, secara otomatis dia akan mengirimkan data-data identifikasi ke si pemilik". How? What kind of data? Dunno... must have forgotten it.

"Makanya saya gambarkan ketika ada tangan misterius yang hendak mengambil si handphone, data-data langsung terkirim ke si pemilik, untuk dicatat dan dianalisis. Tangannya saya gambarkan dengan tampilan dan warna yang menacing untuk kesan mengancamnya", lanjut gw nginget-nginget sebab-akibatnya gw ngegambar sedemikian.
Gwpun bengong sejenak gara-gara sebersit fakta yang mendadak muncul...

"Ilustrasi artikel ini dibuat tahun 2000... tujuh tahun lalu", sambung gw sambil menegaskan diri...

"Dan sampai sekarang entah apa jadinya dengan teknologi tersebut"
, tutup gw sambil dibarengi senyum kecut dan kesadaran bahwa apa yang baru gw utarakan sama sekali nggak penting buat si calon client.

"Ilustrasi berikutnya..." bla bla bla, bla bla bla, bla bla bla (...)


Menyedihkan... (bukan, bukan ilustrasinya!) fakta bahwa teknologi sedemikian (or at least proto-teknologi) sudah pernah dikembangkan setidaknya tujuh tahun lampau! Sedangkan pada praktiknya saat ini, kehilangan atau kecurian handphone adalah suatu hal yang mulai dianggap biasa oleh para warga perkotaan, khususnya Jakarta.

Tanpa ngeliat statistik gw bisa mengira-ngira kalau dalam satu hari saja, ratusan handphone berpindah-tangan secara paksa. Banyak yang kemudian berakhir di Roxy, dijual murah karena statusnya yang batangan (tanpa box, tanpa charger), dan dengan sedikit saja jerih-payah (unlocking, clear memory, beli charger China, beli boks bekas), handphone curian tersebut siap dijual kembali dengan harga bersaing! So easy.

Si mas penemu yang tujuh tahun lalu menciptakan teknologi teresebut, adalah contoh mereka yang berpikir dan berniat untuk do something atas kekurangan / kondisi tidak menguntungkan yang ia hadapi. Wajar, sebagai konsumen, dan memiliki skill yang cukup.

Tapi gimana kasusnya dengan pihak industri? Dengan dana terjamin, dengan tenaga ahli dan divisi riset mandiri. Apakah langkah nyata yang sudah diusahakan untuk mengatasi masalah pencurian ini? Gw bilang minim, sangat minim. Para produsen lebih concern untuk menambah fitur komunikasi dan gaya hidup ini-itu di produk-produk baru yang mereka luncurkan, tapi untuk masalah steal-proof? Nihil.

Tapi yah mungkin karena para pengguna handphone di Indonesia sendiri nggak pernah merasa benar-benar kehilangan kala handphonenya dicuri? Ah, toh masih bisa beli lagi dengan duit tabungan, proyek yang hampir goal, atau bonus gaji bulan depan... Jadinya nggak merasa ada keperluan untuk menuntut peningkatan fitur keamanan dari para produsen handphone.

Atau... semua ini memang disengaja? Ada semacam conspiracy theory yang membiarkan tingkat kehilangan handphone tetap tinggi, supaya industri handphone tetep bisa menangguk profit besar? Hehe

Tapi kalau seandainya bisa narik data dari Kepolisian RI, mungkin ada manfaatnya juga data mengenai pencurian handphone ini di-publish ke umum secara berkala. Minimal untuk:

"Menginformasikan jenis handphone apa saja yang menduduki ranking teratas dalam hal kehilangan, sehingga para konsumen bisa menghindari membeli handphone jenis tersebut supaya tidak rugi"
.

Mungkin kalau sudah begini, barulah para produsen handphone bakalan terbangun dari bobo nyenyak mereka, dan mulai berpikir mengenai fitur keamanan handphone. Kalau tidak, produk mereka akan selalu berada dalam top-list handphone langganan dicolong, dan sebagai akibatnya masyarakat pun rada males untuk beli produk-produk mereka lagi.

Btw, bisa nebak kira-kira handphone apa aja yang berada dalam top-list nya?

Dan siapa produsennya? (GPAN mode = On) (bay)

image by me, but copyrighted by Majalah Tempo


Posted by Bayu on Dec 9, '07 9:17 PM for everyone
Link: http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/423/Episode_UGD_Buka...

Pengalaman rekan dalam kasus emergency di salahsatu Rumah Sakit. Mengenaskan... Jadi makin pesimis kalau standar layanan kesehatan Indonesia bisa ningkat dalam waktu dekat. (bay)

Posted by Bayu on Dec 7, '07 2:13 AM for everyone
Sore jam 3an gw pamit dari kantor, ngantisipasi jalanan Tebet - Gatsu yang mungkin bakalan macet. Setelah batal naek ojek karena mintanya lumayan edun "jigow ya pak?", gw pake transport regular aja ah... Pake taksi mungkin cuma 15-20K tapi nginget pertimbangan pertama tadi (khawatir macet) maka gwpun miih pake 602 aja jurusan Kp. Melayu - Cilandak yang lewat Jl. Tebet Raya.

Cuaca mendung... pas turun dan switch ke bis jurusan Grogol dibawah overpass Trans-TV pun keadaan udah lumayan mengkhawatirkan. Semoga nggak ujan dulu ya Alloh...

Apesnya si bus masuk tol. Untungnya, gerbang tol nya pas didepan tujuan gw; Wisma Mulia, dimana GraPari nya Telkomsel untuk wilayah Jakarta Selatan berada. Gwpun berlari-lari kecil sambil nyebrang jalan yang lumayan rame dan motor-mobilnya pada kenceng ini. Kembali gw inget-inget pembicaraan dengan operator call-centernya 116 beberapa waktu lalu.

"Mbak, saya mau lapor kehilangan kartu, bisa diblokir?"
"Nomornya pak?"
"0813 1778 64xx"
"Saya samakan dulu data-data pribadinya ya pak"
"Silakan mbak..."

(...)

"Kalau saya pengen dapet nomer ini lagi bisa mbak?"
"Bisa pak, silakan datang ke GraPari untuk pengurusannya, dengan membayar biaya ganti kartu 15 ribu rupiah"
"Persyaratannya mbak?"
"Cukup tunjukkan KTP pak"
"Hmm... kan ikut ilang mbak... kalau surat keterangan kepolisian gimana?"
"Tidak perlu pak, kan bapak sudah ikut SimpatiZone jadi cukup KTP saja"
"Iya tapi KTP nya ikutan ilang mbak, satu paket sama henpun saya yang ilang juga"
"Kalau begitu bisa diganti dengan surat keterangan RT/RW tempat KTP dibuat"
"Walah... sulit mbak, KTP Bandung..."
"Maaf pak, tapi peraturannya memang begitu"
"Kalau... fotokopinya aja ngga apa-apa?"
"Nggak apa-apa pak, boleh"
"Oh ya sudah kalau begitu, jadi cukup fotokopi KTP saja ya mbak?"
"Iya pak, betul"
"Oke mbak, terimakasih"
"Terimakasih sudah menghubungi kami, selamat sore"
[click]

Fotokopi KTP, plus duit 15 rebu... inget gw, dan gwpun melangkah masuk ke GraPari yang luas dan nyaman ini. Kebetulan sedang tidak banyak pelanggan yang datang, jadi suasana cukup lengang.

"Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Satpam
"Mau ganti kartu pak"
"Halo atau Simpati?"
"Simpati"
"Hilang atau dicuri?"
"Dicuri pak"
"Bawa surat keterangan Kepolisian?"
[tuh kan]
"Ada pak"
"Oke, silakan masukkan nomor telepon anda", lanjut pak Satpam sambil menunjuk ke LCD touch-screen disamping kami.

0 8 1 3 1 7 7 8 6 4 ...

Dan keluarlah nomor tunggu, lalu pak Satpam mempersilakan gw buat duduk. Cuma menunggu semenit, nomor gw pun dipanggil. Setelah menjelaskan maksud kedatangan pada mas CS, iapun meneliti data yang muncul di layar monitornya, sementara gw mengeluarkan persyaratan yang diperlukan: Fotokopi KTP, plus Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian. Untung gw cerdas*! =P

[*well-prepared maksudnya]

Mas yang bertugas lalu menerima berkas-berkas tersebut (tanpa menanyakan KTP aslinya), mencocokkan dengan data di komputernya, lalu meminta gw untuk mengisi form standar untuk penggantian kartu. Sementara itu, ia menghilang sejenak untuk mengurus unit pengganti kartu gw tersebut.

Nggak sampe lima menit, si mas udah kembali dan kemudian meneliti form yang gw isi. Selanjutnya si mas membuatkan slip pembayaran, dan mempersilakan gw untuk bayar di kasir. Biayanya? Ternyata cuma 5 ribu rupiah saja, dikorting 10 ribu dari biaya standar 15 ribu. Why? Dunno... seldom ask on discounts =P

Setelah selesai bayar, gw kembali ke counter CS untuk menyerahkan bukti pembayaran dan menerima amplop berisi satu unit SIM card Simpati baru (tapi nomer lama), dengan kapasitas 32MB (200 entries address book), beserta berkas form administrasi.

Done, all under 30 mins! Nomer gw yang lama bisa kembali, plus sisa pulsa yang ada yang nggak kepake sama si maling.

Lessons learned:

1. Always ask for details.
Tanya mengenai persyaratan sampe hal mendetail, this will covers 80-100% accuracy.

2. Always be prepared
.
Commonly, kalo kasus kehilangan butuh Surat Kehilangan dari Kepolisian, siapin!

3. Always anticipating ahead
, terutama terhadap kasus kehilangan. Lucky me, seminggu sebelum dompet gw raib, gw dah scan semua kartu gw termasuk KTP. Jadi pas needed tinggal print aja hasil scan nya, helps both you and your banks/card issuers.

Jadi walaupun ada kesalahan informasi seperti kasus gw ngurus kartu Simpati ini (ternyata harus pake surat kehilangan), you'll be prepared. (bay)

image dari: http://www.phmnetwork.com

Posted by Bayu on Nov 22, '07 5:59 AM for everyone
Akhir-akhir ini di TV sedang marak diangkat mengenai fenomena merebaknya geng motor di kalangan anak muda SMA. Di Jakarta, kasus ini merebak setelah dilaporkannya kasus penganiayaan fisik terhadap seorang murid kelas 1 SMA oleh kakak-kakak kelasnya yang tergabung dalam geng motor sekolah tersebut. Sebagai buntutnya, lima orang penganiaya tersebut dikeluarkan dari sekolah dan sekarang sedang dalam tahap pemrosesan secara hukum.

Tak kalah marak pula, beredarnya video rekaman acara "inisiasi" salahsatu geng motor terkenal di Bandung; Brigez, yang sampai ke tangan Polisi. Pihak kepolisian lantas bermaksud memperkarakan para pelaku penganiayaan di video tersebut, walaupun kejadian yang terekam berasal dari dua-tiga tahun silam. Hal lain yang cukup mengejutkan adalah rekaman video kamera pengawas di suatu toserba Bandung yang merekam kejadian bagaimana toko tersebut diserang oleh sekawanan geng motor. Rupanya toserba tersebut adalah tempat nangkring salahsatu geng, dan malam itu kebetulan saja diadakan "kunjungan balasan" dari geng motor rival.

Pada segmen acara lain, ditampilkan pula profil-profil anggota geng motor dari kota-kota lainnya, yang sengaja atau tidak, terlibat dengan kegiatan kriminal. Baik itu perampokan, curanmor, hingga tindakan-tindakan yang berujung fatal, semisal pengeroyokan hingga pembunuhan. Salahseorang korban yang masih duduk di bangku SMA, mengaku sebagai korban "salah sasaran" dari anggota salahsatu geng motor yang menduga ia dari geng rival. Argumen yang sia-sia, berujung kepada ditusuknya si korban di bagian perut samping dan mengakibatkan harus diangkatnya limpa si korban. Korban lainnya yang ditampilkan adalah seorang bapak yang semenjak kehilangan tangan kanannya akibat penganiayaan anggota geng motor, hingga kini kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Yang juga mengejutkan, adalah kenyataan bahwa geng motor taun 80-an "Moonraker" masih hidup dan aktif di Bandung. Gitu juga dengan "GBR" yang marak jaman gw SMA dulu. Sedangkan "Brigez" yang muncul belakangan, memang sejak dulu dicurigai sebagai geng motor bertendensi kriminal. Yang agak berbeda, geng "Hell Angels" nya Bandung; "Biker's Brotherhood" sama sekali nggak dibahas. Mungkin karena basisnya sendiri adalah solidaritas antar penggemar motor tua.

Tapi dari keseluruhan hal tersebut, yang paling mengejutkan sebenarnya adalah bagaimana pihak pendidik tidak pernah berhasil menemukan solusi yang efektif terhadap kecenderungan kenakalan remaja ini. Apa kabar Diknas? Masa sejak saya sekolah di SD dulu hingga sekarang nyaris 30 tahun berlalu, tools yang anda ciptakan cuma Ekskul dan Guru BP? Padahal salahsatu elemen dari pendidikan, saya yakin, adalah mencakup juga pendidikan non-formal terhadap para siswa nya diluar jejalan-jejalan materi kurikulum. Termasuk dalam berperan aktif menciptakan kondisi yang kondusif untuk menahan gempuran pengaruh buruk baik dari luar maupun dari dalam lingkungan sekolah... Termasuk dalam hal ini, Narkoba dan Geng motor. Hayo dong jangan ribut ngotak-ngatik kurikulum melulu tiap ganti menteri... (bay)

image dari: pikiran-rakyat.com

Posted by Bayu on Sep 26, '07 7:18 PM for everyone
Pagi ini (27/9/7) di RCTI, ada laporan investigasi mengenai pengemis di Jakarta.

Yang diangkat, apalagi kalau bukan terkait rencana terbitnya Perda aturan ketertiban umum mengenai larangan mengemis dan memberikan uang bagi pengemis, dengan denda maksimal 30 juta rupiah.

Sebagai latar belakang; Semenjak bergulirnya isu akan terbitnya Perda ini, sudah tentu masyarakatpun mulai terkotak-kotak posisinya. Ada yang setuju, tapi ada pula yang menentang.

Mereka yang setuju (termasuk Pemda DKI) menganggap kalau isyu pengemis ini sudah melampaui batas toleransi sehingga harus diputus akar permasalahannya langsung. Sumbangan dan derma dari masyarakat, selanjutnya akan difokuskan dengan meningkatkan fungsionalitas dari badan-badan sosial sebagai sarana penyalurannya.

Mereka yang tidak setuju, beranggapan kalau keluarnya Perda ini akan semakin memperlebar jenjang kesenjangan sosial antara masyarakat mampu dan kurang mampu. Dan mereka yang terkena imbasnya, beranggapan kalau Perda ini tidak manusiawi karena akan memangkas sumber penghidupan mereka.

Kembali ke reportase RCTI, setidaknya ada empat jenis profil pengemis yang diangkat;

  1. Pengemis dengan anak, yang mengemis sambil menggendong anak (biasanya bayi atau batita). Atau mangkal di tempat-tempat tertentu (biasanya jembatan penyebrangan) dengan satu atau lebih anak.
  2. Pengemis bocah, yang mengemis di tempat-tempat jajanan malam dengan sistem shift, dan diorganisir oleh orangtua mereka masing-masing. Mereka mengemis, setelah si bapak sakit dan tidak mampu lagi bekerja.
  3. Pengemis cacat, yang mengemis di perempatan jalan raya, karena tidak mampu mencari pekerjaan lainnya. Si bapak mengemis, setelah harus menjalani amputasi akibat kecelakaan kerja di profesi sebelumnya (kenek).
  4. Pengemis profesional dan terorganisir, yang biasa mangkal di tempat-tempat tertentu misalnya mesjid-mesjid besar. Sebelum mulai "bertugas", mereka berkumpul di tempat tak jauh dari lokasi, lalu bersama-sama berganti kostum dari pakaian biasa ke pakaian untuk mengemis. Dan di akhir hari, mereka berkumpul di tempat yang sama untuk kembali bertukar ke pakaian biasa, sambil menyetorkan sebagian hasil mengemisnya kepada koordinator yang telah menunggu disana.

Menurut nomer dua, penghasilan harian mereka mencapai jumlah sekitar 60 ribu rupiah, alias sekitar 1.800.000 rupiah per bulan, maksimal. Jauh diatas Upah Minimum Regional untuk DKI Jakarta yang berada di kisaran xxx. Di satu sisi, mungkin perhitungan ini melegakan hati, karena ternyata para warga kota kelas tiga ini bisa mencari sendiri penghasilannya tanpa harus dibantu pemerintah.

Di sisi lain, dengan proyeksi penghasilan seperti ini, siapa yang tidak akan tergiur? Buat apa sekolah susah-susah, rebutan daftar kerja, kalau dengan mengemis bisa dapat penghasilan yang cukup lumayan?

Di sisi lainnya, proyeksi penghasilan seperti ini pulalah yang membuat beberapa kalangan masyarakat kemudian tega mengorganisir "ketidakmampuan" sebagian kalangan masyarakat lainnya dan menjadikan mereka sebagai lahan bisnis. Yaitu dengan melaksanakan pengorganisasian secara terlaksana. Jadi walaupun memang bisa bantu menyalurkan kemakmuran, pada nyatanya praktik pengemisan adalah praktik yang rawan penyalahgunaan dan eksploitasi.

Di sisi lainnya juga, kabar selentingan pernah muncul kalau bayi2 yang terlibat dalam profile nomer satu, keberadaannya bisa disewa! Dan beberapa kasus penculikan yang terungkap pun, diketahui memiliki modus pendayagunaan bayi dan batita yang diculik sebagai alat bantu pengemis. Dalam hal ini maka proyeksi keuntungan dari mengemis sudah terbukti bisa memicu pula tindakan kriminal dan perbudakan, terhadap anak dibawah umur pula!

Sedangkan di sisi lainnya lagi, penyaluran dana apapun jika ditangani oleh pemerintah maka asumsi umum masyarakat adalah dana tersebut tidak akan sampai utuh, atau dengan efektif. Selalu saja ada masalah, entah dalam pendataan, penyaluran, prosedur, hingga ke masalah penyusutan dana akibat "tercecer" dari meja satu ke meja lainnya.

Jadi mana yang lebih baik; membiarkan warga kurang mampu untuk mengais rejeki sendiri, membiarkan para oknum mengorganisir mereka, memicu kriminalitas, atau membiarkan pemerintah mengambil-alih pengurusan dengan resiko rakyat miskinnya sih tetap miskin?(bay)

foto dari pikiran-rakyat.com

Posted by Bayu on Aug 20, '07 7:32 AM for everyone
Maling ketangkep
Masih di masa SMP. Sore itu ada pria asing membawa mobil box mampir ke depan rumah... Ia bertanya apa bapak ada di rumah?

Minim senyum, perawakan tegap, terus terang saja tingkah lakunya mencurigakan... Dengan takut-takut gw panggil bokap di dalem rumah ngasi tau ada yang nyariin.

Bokap terlihat rada waswas tapi tetep beranjak keluar rumah. Aku mengikuti beberapa langkah dibelakang.

Terlihat mereka berbicara, lalu tak lama kemudian pria asing itupun pamit.

Sekembalinya ke rumah, bapak cerita kalau pria tersebut adalah polisi preman yang sedang mencari tahu barangkali ada korban pencurian baru-baru ini disekitar kompleks rumah, soalnya ia dan tim nya baru berhasil menangkap seorang maling kronis (profesional) yang langganan menggasak rumah-rumah disekitar situ. Malingnya dibawa terikat di boks belakang. Tapi untuk identifikasi, bokap rada khawatir backfired, takut si maling kalo bebas malah balas dendam. Kebetulan yang kemalingan beberapa waktu lalu bukan kami, tapi tetangga, itupun sedang tidak ada di rumah.

Kalo sekarang baru aku ngerti kalau si pak Polisi ini mungkin sedang nyari saksi.

Di-dor saja di bukit!
Kejadian serupa pernah terjadi juga di tempat tinggal kami yang lain, saat gw SMA. Kali ini yang datang serombongan polisi preman ber-mobil Kijang, dengan si maling yang terikat di dudukkan di jok tengah.

Pimpinan tim Polisi tersebut lantas berujar kalau mereka sudah pusing tujuh keliling berusaha menangkap si maling ini dan akhirnya berhasil. Bukan orang lokal Bandung tapi pendatang dari salahsatu daerah di Sumatera Selatan.

Motif kedatangan mereka pun sama, menanyakan apa kami pernah kemalingan oleh orang yang mereka tangkap tersebut. Namun karena syukurnya kami tidak pernah kemalingan, maka kami tidak bisa membantu lebih lanjut. Tapi gw sempat melihat si maling yang terduduk lemah di bangku tengah. Orangnya sendiri cukup ganteng dan berpakaian rapi... mana nyangka doi garong?

Salahseorang polisi lainnya lalu ikut berbicara, kalau mereka saat itu sudah kesal berat dengan tindak laku si maling, sehingga salahsatu alternatif rencananya adalah si maling mau dilepas saja di perbukitan diatas rumah kami, lalu di-dor saja dengan dakwaan kabur dari penangkapan! Yang penting lingkungan kembali aman.

Miris gw dengernya... tapi ngebayangin bete-nya para polisi itu buang sekian banyak waktu buat nangkep tu maling, somehow gw ngerasa tindakan mereka wajar-wajar aja.

Maling Import
Beberapa waktu lalu di kost, setelah kejadian kemalingan tempo hari. Tetangga depan rumah yang kebetulan adalah Polisi penyelidik, bercerita kalau baru-baru ini ia menangkap seorang expat yang sedang digebuki massa karena dituduh maling.

Hamid, sebut saja namanya begitu, tidak mengaku berniat maling ketika masuk ke sebuah kost-kostan di daerah Kebon Kacang. Hanya saja, penjaga kost disana merasa pernah melihat Hamid sewaktu terjadi kejadian kehilangan uang jutaan rupiah di kost nya. Tanpa pikir panjang si penjaga langsung membekuk Hamid.

Tetanggaku ini setelah menangkap Hamid lantas berkeliling ke Polsek untuk mencari info... Lah ternyata si Hamid ini memang maling kronis yang banyak dicari di Polsek-polsek seantero Jakarta.

Hamid pada awalnya tidak mau mengakui, dan berpura-pura tidak bisa berbahasa Indonesia. Setelah disodorkan bukti kalau ia sudah tinggal di Indonesia selama tujuh tahun, barulah ia mau bicara. Tapi tetep nggak mau ngaku.

Sayangnya, salahsatu bukti yang didapat tetanggaku ini adalah rekaman CCTV di tempat dimana Hamid pernah beraksi. Karena masih nggak mau ngaku juga, Hamid pun "di-proses". Apalagi setelah ketauan kalau Hamid ini pernah nyaris maling juga di kost-kostan kami, maka teman-teman tetanggaku memutuskan untuk mengerjai Hamid.

Sialnya, Hamid ditangkap tanpa bukti pencùrian. Adapun korban Hamid terbaru, seorang warga Philipina yang kehilangan hingga 36 juta rupiah, sudah kembali ke negaranya sehingga tidak bisa dijadikan saksi untuk memenjarakan Hamid.

Tak lama berselang teman-teman Hamid dari Kedutaan salahsatu negara Arab datang... dan dengan sabarnya nungguin Hamid dibebaskan. Karena dalam aturan hukumnya, seorang tertuduh cuma bisa ditahan 1x24 jam tanpa adanya bukti. Yang membuat tetanggaku salut, adalah wakil kedubes yang rela ngurusin orang macem Hamid ini, walaupun sudah terbukti maling.

Ah, andai saja para wakil kedubes kita bisa se-perhatian ini terhadap para TKW... keluhnya. (bay)

Posted by Bayu on Aug 20, '07 7:25 AM for everyone
Malem itu gw terbangun, mendapati suasana tegang dan para pria di rumah udah pada alert. Pamanku mengisyaratkan untuk tidak bersuara, sedangkan bapak sedang dengan hati-hatinya mengintip dari balik tirai.

Gak mau ketinggalan, gw yang masih SMP saat itu ikutan ngintip dengan pelan-pelan...

Mereka total ada tiga orang, satu berjaga dibalik pagar, dua orang sudah masuk halaman dan mengendap-endap pelan.

Lalu terdengar suara pintu samping ada yang mengotak-atik... Bapak pun meraih sebilah besar kayu dan bersiap disebelah pintu, rencananya begitu kepala si maling nongol, maka akan langsung dihantam!

Paman pun bersiap-siap, sementara aku mengamati dari jauh... lalu suara "click" terdengar, pintu samping berhasil mereka buka!

Bapak mengambil ancang-ancang...

Tiba-tiba nyokap keluar dari kamar tidur, mungkin menyadari bapak nggak ada di tempat tidur dan mendapati kamipun ternyata sedang dalam keadaan siaga.

Cepat-cepat paman memberi isyarat supaya nyokap jangan ribut, karena ada maling mau masuk rumah...

Mendengar keterangan ini nyokap malah panik!

"HAAAH!!! MALING!!! MALING!!!" teriaknya dengan desibel tinggi tanpa bisa dicegah.

Tentu saja si maling yang berhasil membuka pintu samping itu nggak jadi masuk, dan langsung bapak dan pamanpun mengejar keluar...

aku mengikuti...

Tapi yang namanya maling... loncat pager aja sih enteng, sementara kami harus buka pagar dulu. Nihil.

Udahnya, bapak rada negor nyokap, kenapa disuruh diem malah tereak-tereak =). Nyokap sih tentu aja berlaku demikian karena khawatir, walaupun sebenernya bapak sudah siap sepenuh hati buat nimpuk si maling. Walaupun rada tegang, tapi suasana malem itu lucu juga sih, nyokap dikasi tau jangan berisik malah tereak-tereak... hehehehehe. (bay)


Posted by Bayu on Aug 14, '07 10:30 PM for everyone
Sambil sesekali ngeliat siaran TV yang mulai gak seru, gwpun berkali-kali merubah posisi badan mengantisipasi udara malam itu yang lebih panas dari biasanya. Kipas gak nolong, buka jendela juga gak nolong. Walhasil rebahan di lantai aja, sambil maksain buat tidur soalnya dah jam 2 pagi...

Dalam keadaan setengah tidur itu, gw liat pintu kamar terbuka. Heh? Jam berapa ini? Gw liat jam diatas kulkas, baru sekitar jam empat pagi... isteri ke kamar mandi kah? Cepet-cepet gw lirik kearah tempat tidur, dan ternyata isteri masih tidur lelap disana! Lantas kenapa pintu gw kebuka?

Mendadak ada bayangan hitam berkelebat di lorong depan pintu kamar, diiringi dengan suara langkah kaki tergesa-gesa.

DAMN!

Secara reflek gw pun bangun dan mengejar keluar kamar!

Sayangnya nggak keliatan lagi bayangan misterius yang lantas gw duga sebagai uninvited guest di pagi hari itu. Begitu gw buka pintu depan pun, sambil siap-siap kalau-kalau si intruder masih ada, ternyata suasananya lengang. Pintu pagar ke lantai atas masih tertutup, begitu juga pintu pagar halaman kost. Aneh... cepet-cepet gw melongok kearah jalanan, nggak ada bekas apapun kecuali Dede dan temannya yang tidur di halaman luar, terbangun.

Mulai gaduh-gaduh, diduga si intruder masuk dari belakang, dan Dede diinstruksikan oleh bapak kost, yang juga sudah bangun, supaya meninjau ke belakang kalau-kalau ada yang hilang. Gw masuk kamar mendapati isteri yang lagi kebingungan. Gw bilang sama doi kalau tadi ada orang masuk kamar kita!

Cepat-cepat isteri bereaksi buat mengecek apa ada barang berharga yang hilang. Alhamdulillah nggak ada. Notbuk kantor terbungkus ama di tempatnya, henpun tetep di meja samping tempat tidur, dan barang2 gede macem TV dan DVD player masih di tempatnya. Notbuk mungkin aman karena posisinya pas di sebelah lokasi gw tidur. Selain dari itu, everything looks fine...

Kembali ke halaman depan buat mengamati suasana, gw dapati nggak ada satupun tetangga-tetangga kost kami yang terbangun. Kebluk! Sedangkan di sekitar rumah, para tetangga kelihatannya mulai terbangun dan beberapa melongokkan kepala dari jendela. Gw tanya sama yang jaga dibawah, kearah mana tu maling larinya? Tapi jawabannya nggak jelas.

Yang pasti, lantai atas tempat kamar kami berada, tingginya itu sekitar empat meter dari jalanan, dan posisi paling rendah buat seseorang bisa melewati pager adalah dengan loncat dari stair landing yang tingginya sekitar 2.5 meter dari jalanan. No normal people would survive that jump without serious injuries.

Dede bilang kalau ia nemu sandal si maling yang rupanya ketinggalan. Tapi gimana caranya itu bisa di trace-back ke si pelaku? Sidik jempol kaki? Atau mungkin berusaha dapetin sidik jari di handle kamar gw? Ah keliatannya gak mungkin, apalagi nggak ada kehilangan atau korban.

Ngeliat perilaku si intruder yang nggak ngambil apa-apa, keliatannya ini sih dari tipe "penyusup", bukan "perampok". Soalnya kalau memang diniatkan, sangatlah mungkin kejadian tadi berujung nahas buat gw dan isteri... sedangkan pada kenyataannya, henpun gak ilang, digicam gak ilang, jam tangan isteri juga keliatannya gak ilang, padahal semuanya tergeletak diatas meja samping tempat tidur. Notbuk gak ilang, gitu juga heavy electronics nggak ada yang disentuh. Jadi maksudnya apa nih? Bukannya nggak bersyukur, tapi jadi tanda-tanya juga... maling koq kayak yang iseng? Nggak ada barang high value yang ilang?

Trus koq dia tau kamar kami malem itu nggak dikunci? Apa sekedar luck, atau belajar dari pengamatan? Orang dalam? Teman orang dalam? Wah jadi suudzon...

Tapi kami bersyukur nggak ada barang yang ilang, dan gw terbangun saat si intruder masih sangat dekat... Somehow jadi keingetan salahsatu kepercayaan China, kalau orang dengan shio gw itu adalah perlindungan efektif terhadap tiga hal: kebakaran, maling, dan hantu. Bukti ramalan kah? Gw sendiri nggak terlalu ngerti apa yang buat gw terbangun tadi... secara perasaan nggak ada suara keras atau apapun... just tiba-tiba kebangun dan mendapati pintu kamar udah sedikit terbuka. Someone wake me up?

Setelah berusaha untuk kembali tidur, kamipun memulai kegiatan rutin di pagi harinya. Udah nggak terlalu kaget soal kejadian semalem, apalagi dibandingin dengan pengalaman temen yang sampe keilangan notbuk, henpun dll beberapa waktu sebelumnya. Kami masih bisa bersyukur...

Yang lucu, pas gw mau bayar sarapan di warung sebelah kantor, lha koq dompet gw nggak ada isinya??? Perasaan kemaren terakhir gw cek.... oww...

DAMN!

Ternyata ada korban, duit sekitar 250 rebu ilang dari dompet gw =| Kebetulan kemaren baru ngambil dari ATM buat beli charger notbuk, dan gak jadi dipake kecuali buat beli bensin doang.

Tapi anehnya lagi, kartu2 ATM dan CC gw nggak ada yang ilang. Duit yang gw selip2in di beberapa hidden pocketnya dompet juga gak ilang, even bon-bon yang disimpen barengan duitnya juga gak ilang! Ini artinya si maling sempet dengan leluasa ngambil dompet gw, ngutil cuma duitnya dan ngembaliin bon-bon serta kertas bukan uang lainnya, trus naroh lagi di tempat asal then cabut. Dan lupa nutup pintu. Kayaknya kalo dia sampe sempet nutup pintu, gw bakalan nggak ngeh sama sekali kalo malem itu ada bangsat masuk kamar kami...

Duit ilang ya udah... tinggal nyari lagi. Tapi gw tetep penasaran sama faktor "why" nya. Bukankah lebih mudah buat si maling bawa dompetnya aja sekalian? Daripada ningkatin resiko dia caught in action? Apa doi pake ajian sirep / bawa jin sehingga gw tetep tertidur lelap padahal pintu bunyinya kreat kreot plus ditempelin aneka kerincingan? Kalau ya dia bawa "sesuatu" sebagai pengawalnya, kenapa nggak bawa notbuk gw sekalian, dan score big dibanding sekedar ngutil sedikit duit di dompet?

Trus ngeliat damage nya is unseen at a glance, apa ada yang lain lagi yang ilang? Huh! Jadi score akhirnya tetep 1-0 buat si maling. Dia bisa bebas buka pintu kamar, masuk, ngambil dompet, milih isinya, ngembaliin dompet, lantas keluar kamar dengan tenang... dan kabur nggak ketangkep.

Eh... total 7-0 kalo gitu...

Dan ditambah lagi dengan gw harus ganti judul tulisan, dari something berbau "alhamdulillah, selamat", jadi ke tipe "bener, kemalingan".

Jadi kalo gitu 8-0 ding.... kalah telak! (bay)

image dari: http://www.tameside-owl.org.uk

Posted by Bayu on Aug 2, '07 12:30 AM for everyone
Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari pada Cosmo FM pagi ini berujar mengenai habisnya dana Askeskin untuk dibayarkan. Kala pada 2005 masih tersisa anggaran sebesar 1,8T, pada 2006 masih ada surplus sekitar 120M, gantian pada tahun kemarin defisit nyaris 2T!

Setelah diselidiki, ternyata terdapat banyak klaim yang tidak masuk akal. Sebagai studi kasusnya, sebuah rumah sakit kecil di  Baubau, mengajukan tagihan hingga 2M per-bulannya. Padahal di rumah sakit tersebut jumlah pasien per-bulannya hanyalah sekitar 160-170 orang. Ini berarti rata-rata biaya pengobatan untuk seorang pasien di rumah sakit tersebut adalah 100 juta rupiah!

Selain dari biaya operasional yang di mark-up, ternyata untuk biaya pengobatan pun sama hal nya. Seorang pasien dalam satu kali pengobatan bisa mendapat hingga 7 macam antibiotik! (Padahal ia bukan penderita AIDS or something). Dan yang lucunya, obat-obatan tersebut ternyata bisa ditukarkan kembali dalam bentuk uang, di cabang-cabang Kimia Farma tertentu.

Dari sisi dokter pun idem; jika biaya untuk operasi usus buntu biasa adalah sebesar 2 juta rupiah, maka demi memperoleh ganti rugi yang lebih besar maka laporan administrasinya sedikit "diolah" menjadi operasi usus besar (sama-sama usus), yang nilainya sebesar 20 juta rupiah!

Dan asiknya, dari sisi masyarakatnya juga ternyata setali tiga uang; surat keterangan tidak mampu (STKM) bisa dengan mudah diperoleh di rumah sakit besar, termasuk di RSHS (Rumah Sakit Hasan Sadikin -- Bandung). Dimana menurut bu menteri, di halamannya saja sudah berkeliaran para calo STKM. Dengan STKM, maka para pasien yang tergolong mampu (atau setidaknya bukan miskin menurut standar nasional), bisa menghemat biaya pengobatan cukup besar. Katakanlah seorang penderita kanker yang harusnya membayar biaya sebesar 20 juta rupiah, maka dengan STKM biaya bisa disunat menjadi hanya 2 juta rupiah saja... dan 18 juta rupiah yang harusnya jadi jatah rakyat miskin pun akhirnya salah jurusan. Akibat permainan perijinan pada oknum pemerintahan dan pihak rumah sakit.

Pihak PT. ASKES, dalam hal ini juga harus bertanggung-jawab. Karena seperti ucapan bu menteri, Depkes membayar Askes untuk bertindak sebagai validator sah atau tidaknya (termasuk normal atau tidaknya) klaim yang diajukan para rumah sakit tersebut. Sedangkan sekarang, kelihatannya Askes hanya bertindak sebagai "juru bayar" saja, tanpa peduli apakah klaim yang diajukan benar atau tidak.

Melihat adanya kerjasama antara masyarakat mampu dan para penyeleweng STKM, Rumah Sakit dengan Kimia Farma dan Pemerintah Daerah yang korup, serta antara Rumah Sakit dan Askes, maka kesimpulan bu menteri pun cukup menyedihkan... rakyat kita ternyata masih sulit untuk menghindari korupsi.

Kenapa nggak bercermin aja pada sistem yang dipakai RRC, bahwa para koruptor akan diganjar hukuman pancung? Saya rasa kalau taruhannya nyawa, mungkin para penyeleweng itu akan bisa lebih disiplin? (bay)

image dari: http://lifeinthemiddle.typepad.co.uk/

Posted by Bayu on May 25, '07 6:06 AM for everyone
Menyambung postingan sebelumnya soal motor, salahsatu akibat dari rutinnya dengerin Suara Metro, adalah gw jadi tau kejadian-kejadian seputar per lalu-lintas an di ibu kota ini. Namun satu informasi yang gw anggap cukup menarik baru-baru ini bukanlah soal kemacetan, tapi soal motor.

Sudah bukan hal langka lagi kalau denger cerita pengemudi mobil jengkel terhadap pengendara motor, terlebih, saat terjadi serempetan / senggolan yang mengakibatkan kerusakan mobil, tapi si pengendara motor (lepas benar atau salah) memilih untuk kabur meninggalkan lokasi. Tinggallah para pengemudi yang jengkel namun tidak tahu mau ngapain... lha gimana caranya  di kemacetan Jakarta ini mobil bisa ngejar motor?

Namun informasi yang gw dengar dari salahsatu siaran Suara Metro itu mungkin bisa sedikit mengurangi kadar kekesalan korban. Pertama, serempetan hingga terjadi kerusakan, sudah termasuk tindakan kriminal! Dampaknya, bila kejadian ini sampai dilaporkan ke Polisi, maka si pengemudi motor walaupun tidak bisa dikejar, tetap akan terkena sanksi. Kapan? Saat perpanjangan STNK.

Nggak tau gimana perwujudannya di lapangan, tapi karena informasi dateng dari radio nya Kepolisian, maka informasi ini bisa dianggap valid. Jadi, kalau anda menderita kesewenangan sedemikian dimana si pelaku melarikan diri, jangan lupa catat nomor kendaraan si pelaku.

Sistem ini fail-proof? Nggak juga. Masalah akan muncul kalau ada yang bertujuan memfitnah. Tanpa kehadiran si tersangka, gimana caranya polisi bisa memastikan si korban bercerita jujur? Wah nggak tau juga kalau soal detail nya... ada yang bisa bantu jelasin?

Tapi terkait hal ini, jadi kepikiran satu hal yang mungkin bila diberlakukan sama, maka hasilnya akan super-ciamik. Yaitu mengenai pelanggaran tilang. Skenarionya, jika terjadi pelanggaran, maka si pelaku cukup melakukan pembayaran via Bank pilihannya, ke nomor rekening terpusat Polri. Di sisi lain, Polri tinggal melakukan regular data update terhadap rekening tersebut dan dibandingkan dengan database pelanggaran Tilang untuk mengecek apakah denda sudah dibayarkan pelaku atau belum. Bila pelaku mangkir, maka retribusi atau sanksi bisa dijatuhkan pada saat pelaku memperpanjang SIM. Bukankah sistem tilang di negara maju sudah seperti ini? Tidak perlu ada penahanan SIM, atau STNK sehingga mengeliminir kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan atau pe-ribet-an prosedur oleh aparat.

Tapi kembali, sistem pendataannya memang harus mampu dulu untuk memastikan keabsahan identitas para pengemudi... Jangan sampe pelanggar berat bisa lepas tangan gara-gara mampu beli KTP palsu dan buat SIM baru. Wah... masih belum bisa diterapin hari-hari gini kayaknya... too bad. (bay)

Posted by Bayu on Dec 18, '06 1:15 PM for everyone
cape deeeeeehTadi pagi di pinggir jalan Kramat Raya, pas sebrang mulut jalan Kramat Sentiong...

Sesosok wajah menghampiri, dengan bekas luka yang masih basah di pelipisnya, meminta bantuan ongkos untuk pulang ke daerah Cileungsi. Raut mukanya yang kurus-tirus bisa dikategorikan sebagai mix antara emotionless, dan wajah pemadat... boro-boro bikin simpatik...

Sayangnya (sialnya), peminta-minta berkedok kehabisan ongkos ini bukan baru kali ini gw jumpai. Si keparat udah berkali-kali berusaha mengais rupiah dari gw, semenjak gw masih ngantor di Sudirman, enam tahun lampau! Benar-benar pengemis karir! Terakhir gw amati si keparat ini rajin berkeliaran di daerah Thamrin sepanjang Nikko - Sarinah, masih dengan MO yang sama. Tapi semenjak insiden tempo hari, gw gak pernah liat doi lagi disana... oh rupanya doi pintong (pindah tongkrongan) kemari.

Kalo dulu-dulu masih suka gw kasih, dan terakhir gw ajak berantem, kali ini gw kembali melunak dan berusaha dengan sangat sopan menolak dia...

Sayangnya (sialnya), bukannya mengalihkan sasaran ke mangsa lainnya (hehehe), doi malah keukeuh minta sama gw... dari gak percaya kalau gw gak punya duit, lantas sampe ke menyebutkan nominal... tadinya minta dua rebu... trus turun jadi serebu... tetep gak gw kasih karena emang gak niat ngasih. Trus alesannya mulai ganti jadi ibunya sakit... Halah!

Cape debat, gw tinggalin aja doi yang langsung kesel dan mengeluarkan berangkai kata-kata mutiara. Tadinya kepengen ngegamparin doi juga sih, apalagi ada polisi near by yang pastinya bakalan lebih pro dengan tampang pegawai baik-baik macem gw... =D

Tapi buat apa? Gw cuma bakalan ngumbar emosi, si do'i gak akan lantas berubah, ada kemungkinan gw malah jadi berurusan dengan sindikasi penodong, dan masa aja calon eksekutip harus berantem di pinggir jalan? Hihihihi

Kesalahan terakhir yang gw buat di pagi hari itu adalah, gw menjauh dengan arah menentang arus... yang mana berarti dia bisa leluasa bertindak dari belakang gw sementara gw mengamati lalu-lintas yang datang, dan doi jadinya tau angkot apa yang gw tumpangi. Terbukti, waktu bis 916 yang gw tunggu tiba, doi ikutan naek walaupun dari pintu belakang... Untungnya doi gak berusaha melakukan tindak provokasi diatas bis dan akhirnya turun di sekitar perempatan berikutnya...

...untuk kembali mencari mangsa, kali ini anak sekolah yang keliatan banget tegang dan terganggunya, tapi gak tau cara ngusir dia...

Kasian si adik, sayang kamera gw lagi dipinjem isteri jadinya gak sempet ngambil snapshot si pengintimidasi berkedok musafir kehabisan ongkos ini...

Besok-besok kalo masih ketemu do'i, keliatannya mending lapor Polisi aja ah... soalnya tingkah lakunya yang insist maksa itu udah termasuk kategori meresahkan... gimana kalo yang jadi sasaran adalah mereka yang less-courageous... atau isteri gw misalnya?

Sama seperti waktu gw nyaris dipalak sama anak-anak penghisap Aibon di depan lahan kosong sebelah Sari Pan Pasifik, langsung gw samperin pak Polisi yang biasa mangkal di perempatan Kb. Sirih sana dan cerita kejadiannya... besok-besoknya gerombolan krucil pemabok ini gak pernah gw temui berkeliaran disana lagi... Minus bogem, tapi jauh lebih efektif.

Eniwei, satu hal yang mau gak mau jadi kepenasaran gw... emang tampang gw terlihat se-"anak baek" itu ya? Tipe yang gak akan berani ngelawan, atau "bertindak", sehingga jadi sasaran berulang keparat2 macem ini? (bay)

Posted by Bayu on Dec 3, '06 10:40 PM for everyone
Sebuah mobil yang dikendarai seorang gadis remaja berhenti didepan putaran dengan tanda dilarang memutar. Karena suasana sangat sepi, dan hanya terdapat seonggok pohon kerdil, maka si remaja pun memutuskan untuk melanggar aturan dan memutar balik.

Tiba-tiba terdengar suara pluit polisi menyuruh berhenti, dan seonggok pohon kerdil yang tadi terletak di tepi jalan menjadi hidup, dan mendekati si remaja! Rupanya pohon tersebut hanyalah perwujudan dari seorang polisi yang menyamar. Lalu terjadilah dialog antara si remaja dan pak polisi penyamar sebagai berikut:

Polisi: "Selamat siang mbak, apa tidak lihat rambunya?"
Remaja: "Liat sih pak"
Polisi: "Lalu, kenapa masih dilanggar?"
Remaja: "Kan nggada yang... jaga..."
Polisi: "..."

(dari salahsatu iklan rokok versi televisi)

Iklan rokok, karena tersundut peraturan sana-sini akhirnya harus mengambil materi dan tema yang tidak terkait langsung dengan produknya, tapi dengan gaya hidup yang ingin di proyeksikan kepada para (calon) konsumennya. Tak jarang iklan-iklan rokok juga "berputar jauh" dalam menyampaikan pesan gaya hidup ini, namun dalam hasil akhir yang kreatif dan menarik.

Kembali ke dialog yang dikutip diawal tulisan, kampanye iklan "Tanya Kenapa" tersebut berhasil dengan kocak mengangkat salahsatu fenomena yang terjadi di masyarakat kita: kecenderungan untuk melanggar aturan jika tidak ada yang mengawasi.

Dan ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi pada kalangan masyarakat umum saja, tapi termasuk kepada kalangan petinggi negara dan kalangan industri.

Sedang marak beredar saat ini, rekaman video ponsel yang menggambarkan seseorang yang diduga kuat sebagai wakil rakyat dari fraksi G****r, sedang melakukan adegan ranjang dengan seorang penyanyi dangdut.

Sebelum yang satu tersebut menguak ke permukaan, masyarakat lagi-lagi dikejutkan oleh pemberitaan mengenai aksi penipuan yang dilakukan oleh pemain-pemain besar industri makanan Indonesia, diantaranya Danone dan 2 Tang sebagai pemegang lisensi dari produk minuman ringan Mizone dan Zestea. Hasil dari tim peneliti KOMBET(Komite Masyarakat Anti Bahan Pengawet) menyatakan bahwa produk-produk tersebut adalah dua dari sekian banyaknya produk yang beredar di pasaran dengan informasi yang menyesatkan dan membahayakan publik.

Mizone dari Danone (Aqua) sebagai pesaing utama Pocari Sweat dalam pasar minuman isotonik / bervitamin, ternyata mempergunakan jenis pengawet, natrium benzoat dan kalium sorbat, namun hanya menyebutkan satu diantaranya saja dalam informasi kandungan bahan. Sedangkan Zestea dari 2 Tang yang mulai memiliki sambutan positif dari pangsa pasar minuman teh hijau dalam kemasan, ternyata menggunakan juga dua jenis bahan pengawet dan malah "lupa" mencantumkannya sama sekali dalam informasi kandungan bahan.

Tak lama sebelum pembongkaran kasus skandal ini, masyarakat dikejutkan pula dengan ditariknya produk salahsatu pemain kuat di pasar obat (anti) nyamuk; Hit. Produk dari Megasari Makmur ini ternyata mengandung pestisida klorpirifos dan diklorvos yang penggunaannya telah dilarang pemerintah melalui Departemen Pertanian sejak tahun 2004.

Apakah penyebab semua pelanggaran ini terjadi?

Kelalaiankah? Ketidaktahuankah? Kealpaankah? Atau "ketidaksengajaan" yang terencana? Upaya menekan biaya? Suatu jalan pintas untuk meraih untung tanpa peduli dengan aturan dan norma etika?

Pemerintah, walaupun sangat lambat bertindak, untungnya masih memiliki kuasa untuk memerintahkan penarikan massal terhadap produk² bermasalah tersebut dari pasar. Namun sayangnya, untuk proses hukum dari kasus² yang melibatkan para pemain kelas paus ini proses pengurusannya tidaklah mudah. Ada uang, ada barang, plus ada pengacara2 handal yang siap dengan segudang pembelaan demi menyelamatkan kepentingan clientnya. Alih-alih memperjuangkan keadilan, yang ada adalah adu pintar dalam memanfaatkan pasal-pasal hukum untuk kepentingan pihak yang diwakili.

Namun diluar dari pertempuran di jalur hukum, ternyata yang lebih menarik lagi, adalah perilaku pasar kita.

"Aji no Moto" yang pada tahun 2001 pernah "lupa" dan memakai enzim porcine yang mengandung unsur hewan babi, sebagai pengganti dari bahan baku standar yang halal. Produk ini ternyata masih bisa diterima baik oleh masyarakat umum, setelah dinyatakan statusnya kembali halal. Begitu juga dengan Hit, setelah sedikit basa-basi bahwa produk mereka sekarang telah aman pestisida (tanpa perlu ada permintaan maaf), maka saat ini merekapun bisa dengan bebasnya kembali berjualan.

Di sisi lain, termasuk penulis, karena telah terbiasa dengan produk-produk dari Danone maka tetap rutin mengkonsumsi air minum merk Aqua dan Vit, walaupun mereka berasal dari produsen yang sekarang diketahui terlibat dalam perkara pembodohan dan penipuan terhadap masyarakat. Penjualan Frutang, AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), serta teh celup dari 2 Tang juga penulis yakin tidak mengalami perubahan berarti setelah insiden Zestea. Kemungkinan besar pula, kelak setelah serangkaian kampanye PR dan advertorial dari Danone, produk Mizone akan kembali dipulihkan reputasinya dan kembali diterima dengan gembira oleh masyarakat...

Kenapa ini semua bisa terjadi? Apakah masyarakat kita memang "maha" pemaaf?

Atau "maha" pelupa? (bay)



Posted by Bayu on Oct 2, '06 6:34 AM for everyone
Link: http://metrovert.multiply.com

Metrovert memuat Informasi mengenai kehidupan di Jakarta.

Memikat bagai tarian merak, Jakarta juga seringkali menyimpan bahaya tersembunyi dibalik ke-elokannya ini. Dualisme Jakarta ini seringkali membutakan para pemandangnya, yang kebanyakan adalah kaum pendatang. Bahkan bagi para penghuni pun, Jakarta adalah suatu habitat yang selalu tumbuh berkembang dan berubah, dengan percepatan tinggi. Selalu saja ada kelebihan / masalah baru yang muncul dari hari ke hari, yang jika lengah diikuti maka bisa berbuntut fatal.

Informasi yang termuat di Metrovert, ditujukan untuk membantu pemahaman terhadap karakter para penghuni dan dinamika kehidupan di daerah metropolitan ini. Harapannya, semoga bisa dijadikan acuan para pembaca untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri.

Topik yang dibahas meliputi: kriminalitas & keamanan, informasi kegiatan, trend, tempat-tempat ideal untuk aneka aktivitas, serta aneka tips & tricks.

Partisipasi aktif anda sangat diharapkan! Mari kita bangun jejaring maya informasi ini untuk keuntungan bersama.


Posted by Bayu on May 4, '06 11:46 PM for everyone
Humm... SBY mulai menuding kalau demo buruh yang baru lalu itu menunjukkan gejala adanya "pesan sponsor" dari pihak ketiga, atas masalah yang lebih lampau; ketidaksetujuan hasil Pemilu 2004. Atas tudingan ini, PDI-P menyanggah keterlibatan mereka (lho?!). Tudingan ini muncul ketika dalam demo yang berakhir rusuh itu, muncul tuntutan supaya SBY mundur dari kursi kepresidenan, bukan lagi menuntut mengenai penolakan UU mengenai buruh.

Campur tangan pihak ketiga? Kurangnya nalar dalam menentukan konteks demo? Atau memang kaum buruh ini sebenarnya sekedar kumpulan massa anarkis (tanpa struktur kepemimpinan), sehingga tentu saja out of questions jika berakhir rusuh?

Laporan dari asosiasi pengusaha menyatakan bahwa pada hari demo tanggal 3 Mei 06 itu, total kerugian pengusaha akibat aksi sweeping buruh, ditaksir sekitar 850 miliar rupiah. Kerugian ini dihitung berdasarkan terhentinya proses produksi, tertolaknya order yang harusnya bisa dikerjakan, dan kerugian2 lainnya. Hal ini dikhawatirkan bisa menurunkan minat investasi kalangan pengusaha untuk menanam modal di Indonesia.

Apakah akhirnya nanti, buruh mendapatkan semua yang mereka mau dengan cara "menodong" DPR/MPR seperti tempo hari, tapi akibat itu pula nggak banyak lagi industri besar yang mau bercokol di negeri ini? Apalagi banyak negara asing berpotensi pasar baik semakin membuka diri, China misalnya, dengan pasar buruh dan ongkos produksi murah namun cukup hi-tech. Akhir inikah yang diharapkan?

Balance... balance euy! Gimanapun buruh butuh pengusaha, dan sebaliknya! Ambil jalan tengah yang sama-sama menguntungkan, dan ajukan dengan cara yang cerdas dan baik. Demo boleh aja, tapi kalo bisa yang lebih konstruktif ya lebih baik... Gw sendiri udah mulai letih mendengar aspirasi rekan-rekannya yang dikit-dikit demo... dikit-dikit turun kejalan... plus hampir selalu berakhir rusuh.

Kenapa sih masyarakat kita sepertinya tumbuh jadi masyarakat yang vandalis?

foto dari: http://tell.fll.purdue.edu/JapanProj/FLClipart/Medical/headache.gif


Posted by Bayu on Apr 17, '06 11:40 PM for everyone
Masih dari berita tadi pagi di RCTI, diberitakan bahwa seorang anggota TNI (aktif / nonaktif / ?) menembakkan pistolnya dimuka umum ketika mobilnya yang sedang memutar balik didepan sebuah sekolah didaerah Tebet, mendadak disalib oleh pengendara motor sehingga mengakibatkan mobil sang anggota TNI bertabrakan (kurang jelas dengan apa, kelihatannya dengan tembok). Yang bersangkutan lantas menembakkan pistolnya, katanya membidik kaca spion dari si motor, namun yang kemudian tertembak adalah seorang bocah berusia sepuluh tahun yang baru keluar dari pintu gerbang sekolahan dimana insiden tersebut terjadi.

Menyadari insiden ini, anggota TNI itu lantas membawa si bocah ke rumah sakit, namun malangnya si bocah tak dapat bertahan akibat peluru yang mengenai dadanya dan akhirnya bersarang di tangannya itu. Pemeriksaan yang berlangsung di Polsek Tebet itu sendiri dijaga ketat oleh sepasukan CPM. Anggota TNI yang dimaksud entah jabatan fungsionalnya apa namun digambarkan mengenakan seragam abu-abu dan telah berusia cukup lanjut, serta berperawakan gemuk ala pejabat.

Mungkin TNI perlu menyertakan pelajaran Fisika bagi para anggotanya (termasuk pensiunan atau siapapun yang diperkenankan memegang pistol), supaya mereka mengerti bahwa laju proyektil peluru tidak akan cukup dihentikan oleh kaca spion berbahan plastik dan kaca (titanium atau carbon composit mungkin bisa), sehingga ada KEMUNGKINAN muntahan pelurunya yang tetap berbahaya dan mematikan itu mengenai sasaran lain.

Korban jatuh secara tidak sengaja, namun tindakan pencabutan pistol dan penembakan terhadap sasaran spion motornya, ini sengaja. Padahal seharusnya yang diperkenankan memegang pistol adalah mereka yang matang dan mentalnya kuat, bukan yang karena permasalahan sepele saja sudah maen tembak.

Ahhh seandainya hukum Qisash (a life for a life) berlaku di bumi Indonesia ini... mungkin orang akan lebih berhati-hati dari bertindak sembrono... termasuk para abdi rakyat yang terkadang berperan ganda juga sebagai momok masyarakat.

Basis ilustrasi: http://www.pfizer.co.uk/images/ty3_smiling_kid.jpg


Posted by Bayu on Jul 25, '05 6:04 AM for everyone
"Bisa bicara dengan bapak Bayu?"

"Ya, saya sendiri"

"Selamat siang pak, saya dari DEPARTEMEN PARIWISATA, hendak memberitahu kalau bapak terpilih untuk mendapatkan paket hadiah gratis"

[Sejak kapan Departemen Pariwisata bagi-bagi hadiah?]

"Oh ya, apa tuh mas?"

"Paket menginap gratis di hotel-hotel di Indonesia, dengan pilihan yang beragam"

[basi...]

"Ohh, makasih deh mas, nggak, sebelumnya saya udah pernah ditawarin juga"

"Tapi ini gratis pak?!"

"Nggak berminat, makasih"

"Sayang lho pak, cuma beberapa orang aja yang beruntung dapet kesempatan ini"

[basi banget... elo orang ke sekian dalam tiga bulan terakhir ini yang bilang gw beruntung, tau!]

"Tapi ada iuran nya kan?"

"Iya pak, tapi nggak besar koq"

"Iya, saya juga pernah ditawarin sama pihak lain, mereka bilang saya beruntung karena dapet undian khusus bagi pemegang kartu kredit utama, tapi ujung-ujungnya ada biaya..."

"Ooh, boleh tau berapa?"

"Dua jutaan gitu"

[salah, harusnya gak usah dijawab]

"Haa ha haa... Punya kami murah pak, cuma duaratus sekian ribu rupiah"

[tuh kan, jualan...]

"Iya, maap deh mas, soalnya saya nggak pernah bepergian keluar kota, apalagi nginep2 di hotel buat liburan, jadi nggak butuh"

"Walaupun gratis pak?"

[keukeuh... mau ngasi gratisan koq ngotot banget?]

"Euh... isinya apa aja mas?"

[Melunak, kasian ama yang ngotot]

[Ngedumel then tutup telepon]

Lha...?

[THE END]



FYI, telepon seperti ini biasanya berujung ke:

- Pemberitahuan adanya "sedikit" biaya dengan imbalan all the good (free) things yang disebutkan diawal.
- Pengecekan nomor kartu kredit utama, beserta batas validasi kartu, dan pada beberapa kasus yang kurang ajar, nomor PIN.
- Tagihan di kartu kredit, sedangkan barang yang diterima tak sesuai dengan yang dipromosikan, atau ada catatan khusus nya (yang hampir selalu merugikan).

Moral of the story:

Pada dasarnya orang Indonesia emang bangga banget kalo bisa dapet yang gratisan... Makanya banyak yang ketipu dengan jebakan telemarketing macem gini.

Kalau kedengaran seperti "too good to be true", biasanya emang bener (bener, gak mungkin)...

Nothing is free man... don't believe in "luck".

Posted by Bayu on Jul 23, '05 9:57 AM for everyone

Sebenernya kejadian yang mirip dengan ini pernah juga terjadi sebelumnya. Waktu itu gw baru balik dar kantor di hari Sabtu, makanya pake pakaian santai. Setelah turun dari metromini M44 jurusan Kampung Melayu - Karet, gw lantas nungguin angkutan di bawah fly-over Karet - Sudirman, di sisi Barat (arah HI). Tak lama setelah gw celingak-celinguk, ada seorang pemuda mendekati dan bertanya dengan cukup lantang...

"Kuliah dimana dek?"

[YUNA, bukti laen tuh! =P]

Tapi karena tampangnya rada kriminil, dan auranya rada "kasar", dan gak mungkin orang macem gitu mau nanya soal info kehidupan kampus... atau mau daftar buat kuliah dan sedang banding2in pilihan sekolah... (di kolong jembatan pula!) maka cepet-cepet aja gw jawab kalau gw gak kuliah, lalu langsung berjalan mendekati pinggir jalan.

"Hey... hargailah saya sedikit!" Gitu kurang lebih yang terdengar sewaktu gw melangkah menjauhi dia... Untungnya pas saat itu ada metromini P-19 melintas dan langsung gw setop.

[alasan lain yang memperkuat, kl iya mo minta tolong atau nanya, gak akan maksa]

Waktu itu gw masih sempet berbalik dan sambil mengangkat tangan tanda menyetop, gw bilang.

"Sorry mas, saya gak kuliah"

Dan langsung naek ke metromini...

Tebakan gw, dia akan membawa topik mengenai temennya baru aja ribut dengan anak kampus anu (info yang akan dia sesuaikan dengan jawaban kita), dan orangnya mirip gw...

Si bedebah itu lantas cuma melambaikan tangan sambil tersenyum dipaksakan, mungkin jaga gengsi karena niat buruknya ketauan...

Saat itu juga gw kepikiran buat lapor ke Polisi... tapi sepanjang jalan itu gak nemu...

Just a note... satu hal yang terperhatikan, baik kejadian itu maupun kejadian ini, dua-duanya dilakukan oleh orang dengan tampang dan logat daerah... Tapi bukan jawa... dan keliatannya bukan juga Sumatera... atau Ambon... mungkin Sulawesi / Kalimantan...

Ciri khas lain: memaksa, berusaha membuat kita merasa bersalah, pokonya intimidasi psikologis deh.


Posted by Bayu on Jul 22, '05 10:03 AM for everyone

Setelah Ade naek keatas bis, perlahan akupun menyusuri trotoar di daerah Tosari ini, menuju jembatan penyeberangan yang hanya berjarak beberapa langkah. Tidak seperti biasanya, kali ini ada seorang pria berbadan agak gemuk, dengan posisi agak menghalangi, memintaku untuk berhenti sejenak karena ada hal yang ingin ia tanyakan... Senyumnya ramah...

Setelah mengucapkan maaf beberapa kali, sambil tetap tersenyum ramah, ia pun memulai ceritanya dengan fakta bahwa ia berada disitu bersama seorang temannya (menunjuk ke seorang lain yang berdiri di sisi pilar)... pikirku tadinya, orang yang mau menanyakan jalan, makanya aku berusaha mendengarkan apa yang pria ini hendak katakan...

"Jadi begini, temen saya tadi disini jam lima sore ribut sama orang"...

Ow... I think I know where this conversation would lead into.... Kebetulan perkara orang yang pura-pura mengaku baru ribut dengan orang lain, dan menganggap kita mirip dengan deskripsi orang yang dimaksud, adalah modus operandi dari tindak penodongan. Dan Stevie, suaminya Chika, sempat hampir menjadi korban dari tindakan serupa.

Segera akupun mencari celah dimana aku bisa membalikkan omongannya, untuk melarikan diri!

"Nah, maap nih mas... tadi jam lima mas ada dimana?"

Kesempatan...

"Wah, sorry... saya... baru keluar kantor" jawabku sambil menunjuk kearah Bunderan HI.

Segera setelah itu akupun membalikkan badan dan bergegas pergi, naik ke jembatan. Sekilas masih terdengar perkataanya (lemah) kalau ia minta supaya lebih aku hargai sedikit... Rupanya berusaha membangkitkan rasa bersalahku karena telah membuat ia merasa tidak dihargai.

Pura-pura tidak mendengar, akupun mempercepat langkahku menyusuri jembatan yang dibangun era Busway mulai beroperasi ini. Sambil bergegas tapi tetap tenang, cepat-cepat aku tengokkan pandangan kearah samping, berusaha melihat dengan sudut mata, apakah bajingan itu berusaha mengejarku... Tapi rupanya tidak.

Setelah sampai diatas jembatan, aku kembali coba perhatikan orang-orang dibawah sana... namun kelihatannya mereka tidak ada lagi... sekilas saja... aku khawatir kalau mereka tahu aku mengenali maksud mereka, mereka akan jadi nekad.

Kuteruskan perjalanan ke sisi lain dari jalan Sudirman ini, dan di seberang sana kembali aku awasi jembatan di belakangku, dan posisi dimana tadi cecunguk itu mencoba menjaringku... Bah! Baru tersadar olehku, kalau tadi bisa saja aku mengajak mereka bertemu dengan Polisi, sekedar untuk melihat reaksi mereka... kalau sekarang, bisa-bisa mereka malah mencari mangsa lain!

Tapi uhh... kelihatannya mereka sudah tidak ada di seberang jalan sana, pun diatas jembatan penyeberangan, entah kemana menghilangnya. Sambil menunggu bis 213 ku tiba, kembali aku perhatikan seksama seberang jalan sana, sambil memberikan pandangan curiga pada orang-orang yang lewat didekatku... Beberapa dari mereka membalas dengan tatapan curiga pula, tapi aku tak perduli.

Ah, kemana para abdi masyarakat kala diperlukan? Sekiranya saat itu ada Polisi disekitar jembatan, sudah pasti aku datangi... Namun nyatanya hari ini tak seorangpun mereka terlihat, padahal biasanya ada patroli bermotor di seberang sana mengatur lalu-lintas.... Ah iya... maka dari itu pula kawanan penodong tadi berani beroperasi...

Perjalanan kembali ke kost ku pun lantas penuh dengan rasa waswas... Sambil mengucap syukur Alhamdulillah, sekaligus aku menyalahkan diri yang tadi bertindak kurang berani... Orang lain bisa saja menjadi korban mereka berikutnya, dan berhasil...

Teguran apakah ini bagiku? Dan apakah tampangku selugu itu untuk dipilih menjadi calon korban? Damn...!

Tapi satu hal yang pasti... para cecunguk itu memanfaatkan psikologi dengan baik... dalam menciptakan kesan ramah, lalu menjebak dengan rasa bersalah dan defensif... it's all a mind play...

Hati-hati kalau jalan sendirian, even di tempat ramai sekalipun (tadi banyak orang nunggu bis). Bahaya mengancam justru kalau kita sedang lengah...


Posted by Bayu on Jun 21, '05 11:34 PM for everyone
Nyambung dari journalnya mas Tian di sini

Kembali ke soal TV... Media dahsyat yang secara tidak sadar, berperan tinggi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat luas...

Seiring dengan makin banyaknya program TV asing yang masuk, baik itu yang dibeli aslinya, atau dijiplak mentah-mentah, maka terjadi pula pergeseran perhatian pemirsa. Beberapa termasuk sukses dan mendapat respect cukup tinggi, misalnya acara "who wants to be a millionaire". Beberapa mengucurkan air mata, misalnya acara "Uang Kaget" yang formatnya diadaptasi acara serupa dari Jepang. Beberapa menciptakan histeria sendiri, seperti acara Idol-Idolan yang sengaja dibuat dramatis dan menarik buat ditonton.

Di sisi lain, pengaruh asing juga mendat sambutan yang ambigue, atau kontras... Dipuja oleh sebagian kalangan masyarakat, tapi dicerca oleh sebagian kalangan masyarakat lainnya. Cuma sedikit saja karya orisinil yang lantas melaju kenceng, misalnya Si Doel Anak Betawi, dan Bajaj Bajuri. Selebihnya, banyak sinetron bodoh yang secara sembunyi-sembunyi membajak seri laris di Hongkong / India. Produser maupun manajemen TV kelihatannya lebih suka mendulang rating dengan cara apapun, tak peduli bagaimana dampak sosial yang ditimbulkan.

Saat TV kita masih hanya TVRI yang selesai siaran jam 1 siang, tentu pernyataan diatas adalah hal memancing gelak tawa... Lha iya... TVRI mana ada siaran yang termasuk berbahaya? Palingan "Flora dan Fauna"....

Tapi saat sekarang stasiun TV nasional makin banyak mengudara, sudah nyata kah upaya perusakan yang terjadi?

Kelihatannya kontrol masyarakat kita belum sensitif nih terhadap usaha pembodohan... Atau sudah sensitif tapi malas bertindak.

Kalau dalam masalah sex, salah judul dikit aja, misalnya pake kata "cium gue", aa Gym langsung bereaksi... sedangkan untuk hal-hal yang lebih ekstrim, misalnya tayangan kriminalitas sehari dua/tiga kali di beberapa stasiun TV, penuh dengan kekerasan, aliran darah dan mutilasi, gak pernah ada yang protes tuh...

Dalam film "Bowling for Columbine", salah seorang narasumber yang diwawancarai soal peningkatan tingkat kriminalitas di kotanya, cuma berujar...

"Sebenarnya tingkat kriminalitas di kota kami tahun ini menurun 20%... Namun liputan TV untuk masalah kriminilitas di tahun ini meningkat dua kali lipat". Menarik... rupanya yang meningkat tajam itu liputannya...

Gimana yah? Pas jaman tangan besi nya Harmoko dulu, masyarakat dunia hiburan TV pada tereak karena gak bisa berekspresi... lha waktu dikasi kebebasan, malah keasikan tereak2 gembira sambil gak merhatiin lagi apa yang mereka sodorin... atas nama ekspresi dan kreativitas? Bullsh*t... melacur tuh... UUDD... ujung-ujungnya duith doang...

Apa informasi2 gak mendidik dan berbahaya macem sekarang mau dibiarkan terus berkembang? Mau tetep berlindung dibalik kata sakti "penonton kita kan bodoh", sehingga tayangan yang disajikan pun harus ikut bodoh supaya diterima masyarakat luas?

Harus ada pihak yang peduli soal ginian dan bisa nyusun kampanye yang nendang... Atau minimal, badan sensor harus bikin aturan seleksi baru yang memuat juga masalah moral dan pembodohan bangsa... selain dari SARA sebagai filternya.

Atau kita coba ningkatin perhatian masyarakat dengan satu dan lain cara? Any idea?

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help