Bayu's posts with tag: critics

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag critics
Posted by Bayu on Sep 26, '07 7:18 PM for everyone
Pagi ini (27/9/7) di RCTI, ada laporan investigasi mengenai pengemis di Jakarta.

Yang diangkat, apalagi kalau bukan terkait rencana terbitnya Perda aturan ketertiban umum mengenai larangan mengemis dan memberikan uang bagi pengemis, dengan denda maksimal 30 juta rupiah.

Sebagai latar belakang; Semenjak bergulirnya isu akan terbitnya Perda ini, sudah tentu masyarakatpun mulai terkotak-kotak posisinya. Ada yang setuju, tapi ada pula yang menentang.

Mereka yang setuju (termasuk Pemda DKI) menganggap kalau isyu pengemis ini sudah melampaui batas toleransi sehingga harus diputus akar permasalahannya langsung. Sumbangan dan derma dari masyarakat, selanjutnya akan difokuskan dengan meningkatkan fungsionalitas dari badan-badan sosial sebagai sarana penyalurannya.

Mereka yang tidak setuju, beranggapan kalau keluarnya Perda ini akan semakin memperlebar jenjang kesenjangan sosial antara masyarakat mampu dan kurang mampu. Dan mereka yang terkena imbasnya, beranggapan kalau Perda ini tidak manusiawi karena akan memangkas sumber penghidupan mereka.

Kembali ke reportase RCTI, setidaknya ada empat jenis profil pengemis yang diangkat;

  1. Pengemis dengan anak, yang mengemis sambil menggendong anak (biasanya bayi atau batita). Atau mangkal di tempat-tempat tertentu (biasanya jembatan penyebrangan) dengan satu atau lebih anak.
  2. Pengemis bocah, yang mengemis di tempat-tempat jajanan malam dengan sistem shift, dan diorganisir oleh orangtua mereka masing-masing. Mereka mengemis, setelah si bapak sakit dan tidak mampu lagi bekerja.
  3. Pengemis cacat, yang mengemis di perempatan jalan raya, karena tidak mampu mencari pekerjaan lainnya. Si bapak mengemis, setelah harus menjalani amputasi akibat kecelakaan kerja di profesi sebelumnya (kenek).
  4. Pengemis profesional dan terorganisir, yang biasa mangkal di tempat-tempat tertentu misalnya mesjid-mesjid besar. Sebelum mulai "bertugas", mereka berkumpul di tempat tak jauh dari lokasi, lalu bersama-sama berganti kostum dari pakaian biasa ke pakaian untuk mengemis. Dan di akhir hari, mereka berkumpul di tempat yang sama untuk kembali bertukar ke pakaian biasa, sambil menyetorkan sebagian hasil mengemisnya kepada koordinator yang telah menunggu disana.

Menurut nomer dua, penghasilan harian mereka mencapai jumlah sekitar 60 ribu rupiah, alias sekitar 1.800.000 rupiah per bulan, maksimal. Jauh diatas Upah Minimum Regional untuk DKI Jakarta yang berada di kisaran xxx. Di satu sisi, mungkin perhitungan ini melegakan hati, karena ternyata para warga kota kelas tiga ini bisa mencari sendiri penghasilannya tanpa harus dibantu pemerintah.

Di sisi lain, dengan proyeksi penghasilan seperti ini, siapa yang tidak akan tergiur? Buat apa sekolah susah-susah, rebutan daftar kerja, kalau dengan mengemis bisa dapat penghasilan yang cukup lumayan?

Di sisi lainnya, proyeksi penghasilan seperti ini pulalah yang membuat beberapa kalangan masyarakat kemudian tega mengorganisir "ketidakmampuan" sebagian kalangan masyarakat lainnya dan menjadikan mereka sebagai lahan bisnis. Yaitu dengan melaksanakan pengorganisasian secara terlaksana. Jadi walaupun memang bisa bantu menyalurkan kemakmuran, pada nyatanya praktik pengemisan adalah praktik yang rawan penyalahgunaan dan eksploitasi.

Di sisi lainnya juga, kabar selentingan pernah muncul kalau bayi2 yang terlibat dalam profile nomer satu, keberadaannya bisa disewa! Dan beberapa kasus penculikan yang terungkap pun, diketahui memiliki modus pendayagunaan bayi dan batita yang diculik sebagai alat bantu pengemis. Dalam hal ini maka proyeksi keuntungan dari mengemis sudah terbukti bisa memicu pula tindakan kriminal dan perbudakan, terhadap anak dibawah umur pula!

Sedangkan di sisi lainnya lagi, penyaluran dana apapun jika ditangani oleh pemerintah maka asumsi umum masyarakat adalah dana tersebut tidak akan sampai utuh, atau dengan efektif. Selalu saja ada masalah, entah dalam pendataan, penyaluran, prosedur, hingga ke masalah penyusutan dana akibat "tercecer" dari meja satu ke meja lainnya.

Jadi mana yang lebih baik; membiarkan warga kurang mampu untuk mengais rejeki sendiri, membiarkan para oknum mengorganisir mereka, memicu kriminalitas, atau membiarkan pemerintah mengambil-alih pengurusan dengan resiko rakyat miskinnya sih tetap miskin?(bay)

foto dari pikiran-rakyat.com

Posted by Bayu on Feb 16, '06 11:56 PM for everyone
Oke, now... selain dari hal2 buruk yang sering kita alami sewaktu berbelanja produk/service/both dari para penjual, tentu ada juga sesekali hal-hal yang patut diberikan acungan jempol juga kan? Terlebih pada hal-hal bersifat complaint atau musibah, dan ditangani dengan baik?

Gw akan mulai dengan mencantumkan beberapa pengalaman pribadi. Harap di follow-up kalo punya cerita juga.

01
Tempat: Pizza Hut
Kasus: Cream Soup
Cerita:

Sekitar bulan Januari 06, gw ama Ade yang lagi ketagihan appetizer Sosis-nya Pizza Hut, bertandang ke gerai mereka yang ada di Plaza Semanggi. Waktu kita ngambil sup, ternyata setelah dirasa-rasa sup krimnya ini agak asem... Sekali, dua kali, tiga kali suap, ternyata emang rasa asem ini dateng dari si supnya, dan seinget kami bukan karakter rasa yang standar ada di sup krim mereka. Sewaktu agak bisik-bisik ngasi tau waiternya soal ini (biar mereka gak malu), si mbak lantas langsung pergi ke stand Salad & Soup dan (terdengar) melaporkan complaint kami ini sama petugas yang bertanggung-jawab... "Kapan ini terakhir diganti?", begitu kurang-lebih salahsatu pertanyaan yang sempet gw kuping...

Gak lama kemudian, Ade bilang kalau container sup krimnya mereka angkat dari display dan dibawa masuk dapur. Nggak lama kemudian waiter yang tadi nerima informasi kami lalu memberi tahu kalau supnya sedang dibuat ulang! Padahal waktu gw ngambil, si sup ini masih penuh sekitar 2/3-nya panci! Dan ia juga menawarkan kompensasi, kalau nggak salah, diganti dengan free salad, atau ngambil free salad dan ntar tetep dapet krim sup nya lagi. Great! Tapi karena kitanya cuma niat ngasi informasi, plus udah kenyang, maka tawaran itu kami tolak dan cuma minta ganti sup krimnya aja ntar kalo dah mateng lagi.

Rupanya kalau di Pizza Hut, hak-hak customer cukup diperhatikan, dan keliatannya mereka udah punya standar baku pelayanan termasuk complaint handling dan kompensasinya...


02
Tempat: Bersih Sehat
Kasus: Ketinggalan Digicam
Cerita:

Sekitar bulan Januari juga, di Bersih Sehat yang di belakang Pasar Mayestik, Keb. Lama. Abis dari musholla menuju WC, setelah mengemih dll. gw beres-beresin isi ransel gw yang rada berantakan, lalu turun ke lantai dasar buat menjalani pemijetan. Ditengah-tengah sesi, gw baru inget kalau kayaknya tadi pas di WC, digicam gw diletakkan di tutup container airnya si toilet duduk... dan ragu apa doi dah masuk lagi ke tas gw atau belum... Waktu gw liat ke tas, ternyata digicam gw gak ada sodara-sodara! Dan jadilah gw cepet-cepet minta tolong si mbak buat liatin apa benda ini ketinggalan di WC atau nggak. Harapan sudah tipis, dan badan rada panas-dingin jadinya... Gimana kalo ilang coba? (Kalo ilang ya ilang tentunya yeeee...=P)

Tak lama kemudian si mbak balik dan bilang kalau digicamku ditemukan oleh salahsatu staf dan diamankan di kasir. Wahh... terharu gw, padahal kalau mereka niatnya mo jahat, tentu bisa aja siapapun yang nemu gak ngaku, nyalahin customer, or alasan2 lainnya... soalnya kesempatan buat ini ada... tapi ternyata gak terjadi. Salut! Ternyata komitmen service dan perlindungan pelanggannya "Bersih Sehat" terbukti cukup bagus.

Posted by Bayu on Oct 13, '05 4:45 AM for everyone
Sesuai dengan bergulirnya bulan Ramadhan, maka terdapat juga kebiasaan baru gw; nonton tipi. Dan dari sekian acara yang ditayangkan, yang paling sering taken into notice biasanya adalah siaran iklan, karena sifatnya yang keukeuh dan nggak kenal malu; berulang dan lagi siaran apapun pasti nongol.

Secara obyek, ada satu iklan yang benar-benar mengganggu akhir-akhir ini, dan terkait sama identitas gender (men are men, women are women in general impression). Yaitu iklan salahsatu shampo untuk pria yang mengambil setting kelas dansa.

Saat si cowok di slow-motion dan diberi narasi soal kekhawatirannya akan rambut rontok berketombe... koq terasa ada something wrong ya? Terlebih waktu doi lantas berkelit dari sentuhan partner dansanya dan dengan gerakan melintir lantas menyibak rambut dan ...

AAARRGGHHH !!!?!?!?! EKSPRESI MUKA APA ITUU ??!?!?! Pake bibir rada menganga segala??!?!?!!

Bukannya chauvinist atau sexist, tapi gw sangat gak suka liat cowok yang dikemas sebagai cewek. Saat yang dikhawatirkan si cowok adalah "gawat, rambut gw berketombe dan mudah rontok" lalu sampe harus loose control, then something is very wrong.

Beda kalau karakter si cowok dalam peran itu adalah cowok jaim atau sengaja dibuat rada bandel, misalnya let's say... ganti ama Jamie Aditya dengan penampilan 70s yang after si ceweknya jatuh dia malah siul2 bersihin kuku, pura2 gak tau... atau penampilan ala John Travolta era Grease, jambul tinggi, yang kala si ceweknya jatuh doi malah dengan hati-hati benerin rambut... Konyol tapi tetep manly! Bukan lantas menempatkan wanita dalam tubuh pria!

Kalo targetnya si iklan adalah pria macem gue... bisa dipastikan shampo bersangkutan justru bakal gw hindari jauh-jauh macem flu burung!!!

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help