Bayu's posts with tag: customs

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag customs
Posted by Bayu on Jul 15, '08 5:30 AM for everyone
[Catatan: Berhubung sudah terjadi berkali-kali, maka akhirnya harus jadi tulisan. Padahal males bahas soal etika, secara seharusnya it's a common sense.]

Apa yang anda lakukan kalau menerima pesan seperti berikut di guestbook anda?


[Jawaban saya ada di tanda panah]

Sebenernya silakan aja kalau mau buka toko dan jualan di MP... itu hak masing-masing pribadi. Tapi mampir ke user lain secara random dan ujug-ujug masang iklan di guestbooknya adalah tindakan yang sangat OOT (Out OF Topic).

Bukannya dipake buat say hi sama yang punya rumah, eh malah numpang masang iklan baris! Apalagi, kalau si pengiklan tidak kenal dengan pemilik guestbook yang anda mampiri tersebut! Nah kalo ini selain OOT tidak etis! Blog itu personal space lhoo, bukan koran apalagi papan pengumuman!

Jikalau sesama penjual ada aturan khusus untuk boleh saling beriklan di guestbook masing-masing, ya silakan saja, tapi diluar lingkup itu, common netiquette kembali dipake yah. (bay)

Posted by Bayu on Mar 2, '08 4:35 AM for everyone
Nemu tulisan terkait sains dan teknologi dalam perspektif Islami, menarik untuk dikaji. Terlebih ada beberapa pointers di bagian akhir yang berguna buat dijadikan titik awal penelitian.

Sains dan Kemandirian Muslim

Agus Purwanto, DSc.*)


Pendahuluan
        Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat di masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi massif atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.

        Dunia Islam melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Bitruji (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), ibnu Sina (kedokteran), ibnu Rusyd (filsafat), ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lain.

        Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Spirit al-Qur’an
        Ketika masa keemasan Islam berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1491, masyarakat Barat kemudian mengambil alih. Barat dengan sains dan teknologinya terus memimpin peradaban sampai saat ini sementara Islam terus dalam kegelapan dan ketakberdayaan. Bahkan selama kurang lebih tiga abad negara-negara muslim dijajah oleh kolonialisme Barat yang diperankan oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Lebih memilukan lagi, sesama negeri muslim sulit bersatu dan mudah diadu seperti kasus paling aktual resolusi PBB nomor 1747 tentang nuklir Iran yang juga disetujui negeri muslim Indonesia dan Qatar.

        Kini umat Islam mencoba bangkit dari keterpurukan dalam sains dan teknologi. Umat Islam, untuk saat ini harus mengkaji kembali kekuatan mereka berupa sains dan kemudian melahirkan teknologi, yang mereka genggam erat selama abad 8-15 M.

        Umat Islam di masa lampau telah meletakkan ilmu pengetahuan pada posisi yang benar dan memandang sebagai pemilik yang sah. Pandangan ini mempunyai landasan yang kokoh yakni hadis nabi Muhammad saw, "Ilmu itu adalah harta (kearifan) yang hilang dari orang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka menemukannya, mereka harus memungutnya kembali". Di dalam riwayat lain disebutkan: "Jika engkau menginginkan kebahagiaan dunia, maka carilah dengan ilmu. Jika kau mencari kebahagiaan akhirat, maka cari juga dengan ilmu."

        Sedangkan landasan dari kitab suci juga tidak kurang banyaknya. Spirit umat Islam awal adalah wahyu pertama yang memerintahkan umat Islam agar membaca, membaca, dan membaca (QS 96: 1-3). Ayat tersebut dan hadis-hadis terdahulu yang memerintahkan pentingnya menuntut ilmu dan hendaknya jadi pelecut umat Islam agar kembali mencintai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dorongan seperti ini tidak dimiliki oleh umat beragama apapun di dunia ini.

Problem Aktual
        Fakta-fakta kegemilangan sains masa lampau dan landasan-landasan normatif bagi umat Islam untuk menguasai sains cukup banyak dan jelas tetapi realitas lapangan memperlihatkan hal sebaliknya. Umat Islam tidak mempunyai kepedulian yang memadai terhadap sains, bahkan lebih ekstrim umat Islam memperlihatkan kecenderungan sikap antisains. Sains seolah tidak terkait dan tidak mengantar umat Islam ke surga sebagaimana zakat, anak yatim, kaum duafa dan pendirian masjid. Banyak umat Islam mempunyai pemahaman dan persepsi bahwa sains adalah kafir dan membawa pada kekafiran karena merupakan produk orang kafir (baca Eropa dan Amerika).

        Pandangan salah tersebut tidak hanya terjadi di kalangan awam berpendidikan rendah melainkan juga sebagian elit umat. Akibatnya tidak ada dukungan yang memadai untuk pengembangan sains. Jurusan-jurusan sains dan teknologi di perguruan tinggi islam didirikan seolah hanya untuk menampung mahasiswa baru dan strategi bisnis jangka pendek. Di kalangan mahasiswa, masuk jurusan eksakta (sains dan teknologi) hanya faktor latah dan gengsi sesaat karena setelah itu mereka kembali pada kecenderungan umum umat Islam yakni meninggalkan dan anti sains.

        Pada tahun 1930-an Syeh Jauhari Thonthowi di dalam tafsirnya al-Jawahir menggugat dengan menyebutkan bahwa ulama menghabiskan waktu, tenaga dan materi hanya untuk urusan fikih dan mengabaikan ayat-ayat kauniyah. Padahal ayat-ayat hokum di dalam al-Quran hanya sekitar 150 ayat sementara ayat kauniah sekitar 750 ayat. Dus, ayat kauniyah lima kali lebih banyak dari ayat hokum. Keadaan ini sampai sekarang belum banyak berubah.

        Ada sebagian orang dengan serampangan berargumen bahwa tidak tumbuh dan berkembangannya sains di dunia islam disebabkan kemiskinan dunia Islam. Alasan ini jelas sangat lemah. Tidak sedikit di antara negara-negara Islam memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, sehingga sulit dikatakan negeri muslim sebagai negeri miskin. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000 melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73 persen cadangan minyak dunia.

        Knowledge is power demikian pernyataan tokoh modernisme Francis Bacon. Amerika, Eropa dan Jepang sampai saat ini menjadi kiblat kemajuan dunia karena sains dan teknologinya. Taiwan dan Korea merupakan dua negeri industri baru sedangkan Cina dan India dikenal luas sebagai kandidat kekuatan pemimpin baru ekonomi dunia dua dasawarsa mendatang. Negara-negara tersebut adalah negara yang mengembangkan sains fundamental dan kemudian terapannya secara konsisten.

        Israel negeri yang sangat kecil menjadi sangat digdaya karena kemampuannya dalam sains dan teknologi. 16% pemenang nobel fisika dan kedokteran adalah ilmuwan berdarah Yahudi. Sekitar 200 peluru berhulu ledak nuklir dimiliki oleh negeri ini. Sementara Iran yang baru dikucilkan oleh PBB dengan resolusi 1747 baru bisa membuat satu senjata nuklir sepuluh tahun lagi.

Jalan Sains: Terjal dan Sunyi
        Untuk menguasai sains ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama sosialisasi bahwa sains adalah bagian dari islam dan diisaratkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an serta telah dipraktekkan oleh generasi muslim awal.  Kedua sosialisasi bahwa tidak ada jalan pintas bagi sains. Jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk serta pola hidup glamour.


        Dakwah dengan berceramah telah menjadi aktivitas harian di masyarakat kita. Sosialisasi sains bagian dari islam bisa disampaikan melalui ceramah-ceramah agama ini. Sekedar contoh ayat-ayat terkait dengan alam

Alam diciptakan dalam enam masa (QS 32:4)
Bumi diciptakan dalam dua masa (QS 41:9)
Penciptaan tujuh langit dalam dua masa (QS 41:12)
Awan dikirim ke bumi yang tandus (QS 32: 27)
Teknologi pembuatan baju besi dikuasi nabi Daud as (QS 34:10-11)
Rekayasa angin dan tembaga cair dikuasai nabi Sulaiman as (QS 34:12)
Sains dan rekayasa angin (QS 38:36; 41:16)
Dinamika udara dan awan (QS 35:9)
Pola air laut (QS 35:12)
Kesetimbangan langit dan bumi (QS 35:41)
Penciptaan pasangan materi-antimateri (QS 36:36, 42:11)
Dinamika benda langit (QS 36:38-40)
Perkapalan (QS 36:41-43; 42:33-34)
Relasi kapal laut dan gunung (QS 42:32)
Pola garis putih, merah dan hitam pekat di antara gunung (QS 35:27)
Materi-materi di langit, bumi dan antaranya (QS 42:12).
Api dari kayu hijau (QS 36:80)
Suluh api (QS 37:10)
Rahasia dan kekuatan petir (QS 41:13)
Fertilasi tanaman dan manusia (QS 41:47)

        Sosialiasi menjadi lebih konkrit bila kita dapat memperlihatkan naskah-naskah dari para sarjana muslim awal yang disebut di depan. Misalnya saja, bagaimana sebenarnya matematika yang dirumuskan al-Khawarizmi, astronominya al-Bitruji dan optic dari ibnu Haitsam. Tanpa contoh ini, sulit mengubah persepsi bahwa sains tidak ada kaitan dengan surga karena di saat awal Islam Rasulullah saw dan para sahabat tidak ada yang mengembangkan sains.

        Dengan tersosialisasinya pesan bahwa sains merupakan kesatuan dari islam maka diharapkan lebih banyak lagi mahasiswa yang mau menekuni dan memilih jalur sains dan teknologi sebagai profesinya. Selain itu diharapkan pengusaha muslim juga sadar untuk mengalokasikan dana bagi upaya pengembangan sains dan teknologi misalnya dengan memberi beasiswa mahasiswa potensial atau membuat funding bagi riset fundamental.

        Tanpa keterlibatan para pengusaha dan negara pengembangan sains tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, terjadi braindrain ilmuwan cemerlang negara dunia ketiga termasuk negara muslim ke negara maju. Realitas ini makin membuat negara ketiga makin tertinggal dari negara maju  

        Selanjutnya perlu dikenali bahwa jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi. Idealnya seorang ilmuwan telah melampaui pendidikan strata-3 lalu postdoctoral 2-3 tahun. Artinya, ilmuwan akan relatif matang setelah melalui fasa tersebut. Masa dan fasa tersebut harus dilalui di laboratorium dan perpustakaan yang jauh dari riuh-rendah publisitas.
Sebagai gambaran, universitas-universitas di Jepang buka selama 24 jam perhari. Laboratorium menjadi rumah kedua bagi mahasiswa S1 tingkat akhir ke atas. Diskusi antara mahasiswa dan profesornya seringkali berlangsung sampai larut malam dan profesor kadang juga bermalam dan tidur di laboratorium. Perpustakaan universitas kadang buka di hari Minggu. Jelas, di sinilah beratnya dunia ilmu bagi para mahasiswa yang cenderung ingin tampil cepat dan gegap gempita sebagaimana umumnya dunia politik dan selebriti.

        Tradisi sains adalah tradisi riset. Sedangkan tradisi riset akan melahirkan budaya mencipta dan memproduksi. Artinya, kemandirian material hanya bisa lahir dari budaya produksi dan menuntut penguasaan sains terlebih dulu. Tanpa tradisi riset dan produksi maka kita hanya akan mampu menjadi bangsa makelar yang bergantung kepada para bangsa produsen.

Penutup
        Penguasaan sains merupakan hal yang mendesak bahkan keniscayaan bagi negeri khususnya negeri muslim yang ingin eksis di percaturan global. Tanpa sains suatu negeri akan lemah dan menjadi negeri yang bergantung pada bangsa-bangsa maju. Indonesia yang luas dan kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak menguasai sains dan teknologi akhirnya menjadi sangat bergantung pada Amerika dan Jepang.

        Jembatan Suramadu dan lumpur Porong yang terkatung-katung juga merupakan akibat lemahnya penguasaan bangsa kita terhadap sains dan teknologi. Lumpur Porong yang berlarut-larut sesungguhnya mencerminkan aneka klaim hebat yang semu bangsa kita. Lumpur Porong menyodorkan realitas pseudoilmiah, pseudoilmuwan, pseudoinsinyur, pseudopakar, pesudoanalisa, pseudosolusi, pseudoserius serta pseudopolicy di depan kita.
Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan menempati area seluas 8 juta kilometer persegi tidak bisa terus-menerus menyerahkan pengelelolaan aneka kekayaan alam yang melimpah kepada orang asing. Indonesia harus mandiri karenanya harus cerdas dan terampil khususnya dalam sains dan teknologi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi bangsa makelar dan kuli baik kuli di negeri orang apalagi kuli di negeri sendiri.

        Kita harus bangkit, mandiri, berdaulat dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Syarat untuk itu tidak lain adalah iman dan ilmu (QS 58:11). Kedaulatan dan harga diri harus ditopang dengan kekuatan baik spiritual maupun material. Iman yang benar akan mendorong pada penguasaan sains. Sebaliknya pengabaian sains sebenarnya refleksi iman yang salah dan kebahlulan modern.

        Terakhir, meski tidak dianjurkan berperang tetapi kita harus kuat dan mampu mempertahankan diri dari serangan pihak lain termasuk dari kemungkinan serangan menggunakan peluru berhulu ledak nuklir. Aneka upaya diplomasi tetap akan tidak efektif bila kita lemah. Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 60 menegaskan agar umat Islam mempersiapkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada.

*) NBM: 547243, mantan ketua IMM-ITB, Doctor of Science, pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS.

Diunduh dari situs: http://jatim.imm.or.id/Wacana/Artikel/Sains-dan-Kemandirian-Muslim.htm

Posted by Bayu on Feb 21, '08 2:28 AM for everyone
Setelah merhatiin gimana meriahnya warna-warna yang tumpah-ruah di nikahan adiknya Nade beberapa waktu lalu, somehow gw ngerasa koq seperti ada kaitannya ya, antara budaya visual dengan budaya kuliner? Apakah perwujudan budaya visual justru malah dipengaruhi budaya kuliner?

Seragam nikahan Sumatera, buat gw adalah sangat "nge-jreng"; kaya warna mencolok, berkilauan disana-sini, dengan kesan akhir yang "sangat meriah" dan "heboh". Bedakan dengan pakaian adat Sunda yang Kebaya Putih itu, atau pakaian adat Jawa yang Kemben Hitam itu, walau masih menyiratkan kemegahan namun dari segi warna yang dipakai, masih jauh lebih kalem dan tidak mencolok. Adapun perlak-perlik dan glitters hanya diterapkan pada sebagian kecil saja dari penampilan sang pengantin.

Kalau dibandingkan dengan budaya kulinernya, seragam nikahan Padang yang rame dan penuh warna ternyata klop juga dengan prinsip kuliner mereka yang seringkali memakai aneka-ragam bumbu dengan jumlah melimpah, dan cara memasak yang rumit. Ketika di Sunda, cabe merah keriting dipakai beberapa buah untuk menambahkan rasa hangat pada masakan, atau diulek sebagai sambal, maka di Padang, cabe merah keriting ini ditambahkan pada masakan dengan jumlah yang fantastis; satu kilo, atau dua kilo sekaligus! Setelah itu, masih ada sekitar lima atau enam macam rempah lainnya yang harus ikut ditambahkan untuk mendapatkan rasa akhir yang "benar" dan sesuai pakem. Hasil akhirnyapun benar-benar berupa suatu sajian yang kaya rasa sekaligus nendang.

Bedakan dengan kalau makan Pepes Ikan Mas, Tutug Oncom, Sayur Asem atau Gudeg Yogya. Walaupun mungkin sama-sama melibatkan bumbu yang tidak sedikit, tapi rata-rata nuansa rasa yang ditampilkan adalah subtle, "sopan".

Kembali ke budaya visual, sudah merupakan pengetahuan umum kalau baju-baju yang dijual di Pasar Tanah Abang banyak berakhir di negara-negara Afrika. Dan untuk kebutuhan yang satu ini, salahsatu ciri khas yang harus dipenuhi adalah pilihan warnanya, harus warna-warna mencolok dan meriah. Bedakan dengan pakaian-pakaian di FO yang sebenarnya banyak diperuntukkan untuk pasar Eropa; rata-rata warna yang dipakai adalah jenis dari warna-warna yang lembut dan tidak terlalu mencolok, sebut saja misalnya warna-warna pastel. Dan pada kenyataannya juga, ratusan jenis rempah yang terdapat di dataran Eropa, sangat jarang yang bisa memberikan nuansa rasa nendang selayaknya rempah-rempah yang terdapat di Asia. Majoram, Thyme, Oregano, Basil, semuanya tak lebih tak kurang sekedar menambahkan karakter rasa yang lembut, atau "saheab" kalau basa Sundanya.

Lantas gimana kasusnya dengan jenis-jenis masakan yang menggunakan aneka rempah dari daerah berbeda? Nah, berbeda dengan trend, apa yang kita kenal sebagai "kebudayaan daerah" semuanya terbentuk pada masa dimana komunikasi antar daerah yang jauh masih sulit dilakukan. Akibatnya, pembentukan suatu kebudayaan akan sangat terpengaruh oleh lingkungan dimana suatu kebudayaan berasal, termasuk diantaranya, keterbatasan dari sumber alam yang dapat mereka temukan disekitar tempat tinggalnya.

Jadi apakah betul gaya masakan berpengaruh pada gaya penampilan? Jika lebih meriah masakannya, maka lebih meriah juga budaya visualnya? Lebih kalem masakannya, lebih kalem juga penampilannya? I think so. Menurut anda?(bay)

Posted by Bayu on Dec 25, '07 6:42 AM for everyone
Sambil nemenin bokap yang mulai membaik, pikiran gw saat ini masih disibukkan dengan urusan-urusan yang nggak penting, tapi terkait kepada kesembuhan bokap sendiri. Dan ini terkait sangat erat dengan standar kualitas di tempat ini. Apa aja masalahnya?

01. Udud Surudud
Lagi-lagi problema soal rokok!... Mungkin karena dah dianggap sebagai budaya, maka larangan merokok sama sekali nggak berlaku disini, di Rumah Sakit Umum Dokter Slamet, Garut. Ini juga komplain nyokap dari hari pertama bokap dirawat disini; nggak ada penerapan disiplin. Padahal baik disebelah pintu masuk maupun disekitar kompleks rumah-sakit, bertebaran terpasang tanda peringatan dilarang merokok. Tapi tanda tinggal tanda, penerapannya? Nol. Dengan dalih bukan di ruangan pasien, para pengunjung dengan bebas merokok disana-sini, termasuk di teras dari ruangan dimana bokap dirawat.

Padahal bokap udah berenti ngerokok sejak 20 tahun lalu, pun selama ini menghindari exposure terhadap barang yang satu ini. Sedangkan nyokap lebih parah lagi, karena sensitivitasnya terhadap asap rokok sudah sampai ke tahap alergi berat; maka nyokap bisa langsung pusing-pusing dan sesak napas begitu nyium asep rokok. Namun terlepas dari semua alasan pribadi, lha di tempat yang harusnya jadi "ground-zero" pengobatan dan pemeliharaan kesehatan, kegiatan merokok koq malah nggak dilarang?!

Sedangkan gw dan keluarga disini saat memperingatkan mereka yang berlaku sedemikian, setidaknya dalam radius 5 meter dari tempat bokap dirawat, seringkali berasa seakan sedang berusaha menistakan suatu adat-istiadat yang sakral, dibandingkan menuntut hak pasien akan udara bersih. Dan ini terjadi di tempat yang semestinya memang menjadi sarana penyehatan, bukan kelab malam loh.

Akan masalah yang satu ini, konon menurut informasi dari beberapa staff, banyak keluarga pasien yang menolak larangan ini dan mengancam akan pindah rumah-sakit kalau tidak diijinkan merokok! Dahsyat ya?

02. Common Sense
Budaya lain yang cukup mengganggu adalah ketidak-pekaan lingkungan. Common sense semisal dilarang ribut, nampaknya nggak berlaku disini. Banyak keluarga pasien, termasuk yang menginap di kamar sebelah kamar bokap, membawa serta seluruh anggota keluarganya termasuk dua anak mereka yang masih kecil. Masalahnya dengan anak-anak kecil adalah, mereka gemar membuat keributan dan susah diatur. Jadinya, bahkan pada larut malam, saat para pasien sedang berusaha untuk beristirahat, para anak-anak dengan asiknya berlarian kesana-kemari sambil tertawa-tawa. Jika pada kesempatan lain mungkin gw bisa berujar "oh, so cute..." tapi pada kesempatan seperti ini di mata gw mereka lebih nampak sebagai wabah tuyul yang harus diruwat supaya pulang kembali ke dunia asal mereka.

Selain dari para anak-anak, para orang-tua pun rupanya tak mau ketinggalan juga. Sementara gw dan keluarga bakalan berusaha se-diam mungkin saat hari mulai malam, supaya bokap dan pasien lain tidak terganggu saat mulai beristirahat, banyak para orangtua yang asik ngobrol dan tertawa-tawa, bahkan hingga jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kalaupun nggak ada bahan obrolan, ada aja kegiatan mengganggu lainnya untuk dilakukan, semisal nyoba-nyoba ringtone henpun, atau malah maen gaple semalaman! Dan ini dilakukan tepat disebelah ruangan pasien!

Kembali saat diperingatkan pun, mereka cuma bengong dan bingung... seakan-akan kamilah yang aneh dan mengada-ada. Padahal Rumah Sakit seharusnya menjadi tempat yang ideal buat kesembuhan pasien, bukan malah bikin pasien marah-marah karena nggak bisa istirahat. Gw khawatir karena gangguan-gangguan intriwili kecil ini bokap malah emosi (as happened several times), trus kondisinya bukan membaik malah memburuk...

Setelah masalah ini dilaporkan ke suster dan dokter pun, kelihatannya tidak ada perubahan... seakan-akan seisi Rumah Sakit Umum ini memang lebih berkiblat kepada "what visitor wants" daripada "what patient needs".

Dan jadilah gw sebagai "si galak" yang rajin menghardik orang-orang disekitar kamar kalau kebiasaan-kebiasaan mereka yang dirasa mengganggu mulai muncul lagi. Mereka mau menafsirkan gimana? Sabodo teuing lah.

03. Standarisasi Pelayanan
Sedangkan dari sisi perawatan, hal yang juga unik adalah pelayanan staff. Selain dari kelas VIP, maka dipastikan suster nyaris tidak akan pernah berkunjung! Jangankan untuk memandikan pasien, bahkan untuk urusan pengadaan plus pemberian obat-obatan pun harus dilakukan mandiri oleh keluarga pasien! Ade sempat bingung dan mempertanyakan kalau demikian kerja para suster disini itu apa? Soalnya di Rumah Sakit sebesar ini, kelas VIP nya dipastikan tidaklah terlalu banyak.

04. Dan lain-lain
Budaya lain yang tak kalah mengherankan adalah; kebiasaan botram. Padahal Rumah Sakit bukanlah taman kota atau kebon binatang, tapi pada kenyataannya pada setiap hari Minggu disini, terlihat banyak keluarga yang duduk-duduk ngampar (gelar tiker) di area taman rumah-sakit, sambil makan siang, piknik dadakan! Fenomena yang mengherankan namun cukup bisa dimengerti, jika mengingat bahwa banyak keluarga pasien yang dirawat disini berasal dari daerah seputar Garut yang membutuhkan waktu tempuh cukup lama untuk menuju Rumah Sakit. Nggak mengganggu juga jadi ya biarlah.

Sedangkan enaknya, hawa udara yang sejuk membuat suasana terasa nyaman tanpa perlu bantuan AC. Banyak makanan enak dan lumayan murah disekitar Rumah Sakit, plus, basis keluarga bokap dan nyokap adalah seputar Garut - Tasikmalaya, jadinya cukup gampang buat saudara berkunjung. Selain dari itu? Wah, no comment lah.

05. Kesimpulan
Ada uang ada barang? Itukah kasus yang terjadi disini? Mungkin benar adanya dalam hal fasilitas dan perawatan. Namun kalau soal budaya dan adab berkunjung, seharusnya pihak Rumah Sakit lah yang berkuasa menentukan dan menegakkan peraturan. Toh demi kesehatan para pasien sendiri. (bay)

Posted by Bayu on Nov 24, '07 7:36 PM for everyone
Seiring merebaknya globalisasi, salahsatu masalah yang sering muncul dalam komunikasi lintas negara adalah soal nama. Bukan soal pelafalan, itu sih udah pasti, tapi soal prioritas nama.

Kalau jaman SD dulu, ada temen gw yang nggak punya nama belakang, ada juga yang punya nama sampe panjang banget. Kami (me & friends) mengenalnya sebagai "nama", "nama panjang", dengan prioritas pada "nama". Beda dengan konfigurasi nama bule yang menerapkan sistem "nama depan", "nama belakang", serta "nama tengah", dengan prioritas pada "nama belakang". Aplikasinya, kalau ada temen yang namanya "Sony Ahmad Rafiq", maka di Indonesia dia bakalan dipanggil "Sony" dan cuma orang-orang deket yang tau bahwa dia punya nama belakang "Ahmad Rafiq". Sedangkan di Amrik, ybs bakalan dipanggil sebagai "Mr. Rafiq", dan cuma orang-orang deket aja yang tau kalau dia punya nama depan "Sony Ahmad".

Hal yang berbeda lainnya, adalah soal fungsi nama. Kalau di Amrik, nama belakang adalah nama keluarga, sedangkan di Indonesia, cuma strata atau etnis masyarakat tertentu yang menerapkan sistem nama keluarga. Di Jawa misalnya, "Siti Hardiyanti Rukmana", atau di Sunda misalnya, "Sari Asih Joedawinata". Secara etnis, misalnya "Nadia Hutagalung", "Mellyana Manuhutu". Sedangkan gw, Bayu Yunantias Amus nggak berarti gw berasal dari marga Amus, karena format nama gw adalah "nama", "nama panjang", dan "nama akhir". Dimana nama depan adalah nama panggilan gw sehari-hari (Bayu), nama panjang cuma diketahui sama temen-temen dan keluarga (Yunantias), sedangkan nama akhir (Amus) bener-bener cuma segelintir orang aja yang tau*. Gitu juga halnya dengan sodara-sodara gw, Ramdhani (Dani), yang sekarang lantas jadi "Ramdhani Suherman" (ngutip nama bokap) karena di kantornya perlu ybs buat punya nama belakang. Atau adik gw, Bella Wulandari Fitriani (Dea), yang bukan dari fam Wulandari apalagi Fitriani.

*Walaupun akhirnya banyak juga yang tau setelah gw memutuskan buat mem-"publish" nama akhir ini setelah lulus kuliah, sesuai petunjuk dari almarhum kakeknya nyokap via nyokap.

Masalah muncul kala terjadi urusan lintas negara. Kala ada paket dari luar negeri dateng untuk "Mr. Bayu Amus" (first name, last name), maka yang tertulis di KTP gw adalah "Bayu Yunantias" (nama, nama panjang). Rada bermasalah sekiranya penjelasan gw sama petugas paket pos nggak meyakinkan, atau alamat KTP nya beda.

Masalah nama ini keliatannya nggakan cepet-cepet berubah dalam waktu deket. Plus, banyak negara dan etnis yang juga nggak mengadopsi struktur nama bule ini. Jadi seharusnya, justru, konfigurasi nama internasional lah yang dibuat lebih mewadahi keberagaman penyusunan format ini, jangan terlalu bule-sentris. (bay)

Posted by Bayu on Aug 23, '06 11:30 AM for everyone
Sebenernya pertanyaan ini muncul sudah sejak jaman gw kuliah dulu, which is about... hmm... 13 taun lampau? Sayangnya karena lupa, dan kurangnya resources yang bisa diakses dengan mudah dan cepat, maka pertanyaan ini dibiarkan tak terjawabkan untuk waktu sekian lamanya.

"Benarkah dalam menghadiri pemakaman, kita harus mengenakan pakaian hitam?"

Sempat ada informasi dari bokap kalau kebiasaan memakai pakaian hitam untuk berkabung, adalah kebiasaan agama Yahudi. Hmm... gawat kalo betul... karena bisa-bisa kasusnya jadi dosa: ngikut-ngikut kebiasaan dan ibadah agama lain.

Sejak saat itu, berdasarkan kepercayaan pada bokap, gw pun mulai menghadiri acara-acara berkabung dengan memakai pakaian putih... Bukankah putih itu warna yang baik dan melambangkan kesucian? Dan bukankah upacara pemakaman adalah suatu prosesi yang suci, regardless bagaimana sebab atau implikasi dari kematian tersebut?

Namun karena sebaiknya kita mengerti suatu permasalahan hingga ke akarnya, apalagi kalau kita punya kemampuan membaca, plus akses ke sumber bacaan, maka perlu dilakukan penggalian fakta... tapi ya itu dia, kelupaan melulu.

Alhamdulillah, secara kebetulan salahseorang rekan online tiba-tiba memuat mengenai kunjungan berkabung, dan pertanyaan ini pun kembali terkuak! Dan dengan adanya Google, dan semakin luasnya dunia maya internet, ternyata pencarian jawaban kini tidaklah serumit dimasa lampau... so here we go!

Dari manakah asalnya kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung?

Menurut Wikipedia, kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung, bisa ditelusuri asalnya hingga ke masa kekaisaran Romawi. Sedangkan menurut The Widow's Rumble dari berbagai sumber, kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung bermula dimasa ratusan tahun silam saat masyarakat masih percaya bahwa dengan memakai pakaian hitam saat berkabung akan menyamarkan mereka dari pandangan Kematian, dan menghindarkan mereka dari menjadi target berikutnya.

Sedangkan menurut ajaran Yahudi dalam berkabung (Shivah), pemakaian pakaian hitam tidaklah diharuskan. Namun anjuran ini terdapat secara tersirat dalam kitab mereka, Talmud. Menurut sumber yang sama, aturan pemakaian warna hitam juga tidak terdapat dalam Injil (cmiiw).

Masyarakat Eropa abad pertengahan pun lebih memilih warna putih untuk pakaian berkabung, seperti yang dipraktikkan di Spanyol hingga akhir abad ke-16.

Jika kita perhatikan (misalnya dari film-film kungfu), masyarakat China dan negara-negara Asia lainnya pun cenderung memilih warna putih sebagai warna berkabung.

Sedangkan dalam Islam, ternyata tidak ada aturan mengenai warna dari pakaian yang harus dipakai pelayat atau anggota keluarga pada saat berkabung. Yang ada, adalah anjuran untuk mengucap "innalillahi wa inna illaihi raji'un" ("Truly to Allah we belong and truly to Him we shall return"), saat kita sedang ditimpa atau mengetahui adanya kemalangan / kesedihan / bencana / kematian. Perkara warna pakaian, tidak ditentukan secara khusus.

Dengan demikian, mempertimbangkan data-data tersebut, maka bagi seorang muslim, pemilihan pemakaian warna hitam pada saat berkabung justru berpotensi sebagai bid'ah, jika sekedar berdasar pada ikut-ikutan terhadap kebudayaan atau kebiasaan yang tidak Islami.(bay)

foto dari: http://www.twinrosesdesigns.com


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help