Bayu's posts with tag: daily life
Posted by Bayu on Jul 17, '08 10:58 PM for everyone  Jum'at pagi pukul 8:30 - Terminal Blok-M. Gw berlari kecil sambil mengincar gagang besi pegangan di pintu metromini 66 jurusan Manggarai. Nyaris nggak berhasil karena si metromini terlambat berhenti. Tapi tangan gw dah terlanjur berpegangan erat ke si gagang. Ouch! Kayaknya bahu gw terkilir. Sesuai rumusan yang gw pelajari setelah beberapa lama berangkat kantor dari rumah mertua, maka dengan cepat gwpun memilih tempat duduk di sebelah kiri dari metromini. Walaupun tempat-tempat duduk di sisi ini tekena terik matahari saat di terminal, namun 3/4 perjalanan nantinya justru sisi ini akan terlindung dari sinar matahari. Beda dengan kondisi di metromini 69 jurusan Ciledug - Blok M yang sebaliknya; duduk di sisi kanan, maka 100% aman dari sorotan sinar matahari pagi. Bukannya tidak butuh vitamin D, tapi jalur perjalanan pagi yang penuh titik kemacetan ini cenderung membuat kehadiran sinar sang surya selain menyemangati, juga menggerahkan. Sampe di Bundaran Senayan, mendadak laju perjalanan kendaraan terhambat. Seujung mata memandang, terlihat antrean kemacetan yang parah. Mungkin sampai Semanggi sana. Kendaraanpun terpaksa merayap lambat, padahal waktu tidak memberikan dispensasi bagi siapapun, termasuk gw yang berusaha untuk datang tepat waktu di pagi ini. Sudah berkorban repot-repot berangkat sebelum jam 7 pagi soalnya. Kemacetan yang ternyata masih terus berlanjut hingga entah dimana, Bunderan HI mungkin, akhirnya melepaskan cengkeramannya ketika metromini kami berbelok kiri naik jembatan Semanggi menuju arah Kuningan. Namun walaupun sudah terlepas dari cengkeraman macet, ternyata kami masih tercengkeram kuku-kuku lain; filosofi kejar setoran! Dan metromini yang tiga perempat kosongpun tetap berjalan pelan walau kemacetan sudah jauh kami tinggalkan. "Anda butuh waktu kami butuh uang*"? Ah teori! [*Salahsatu semboyan jadoel khas angkot mengulas relasi antara waktu vs. uang] Dalam perjalanan yang membosankan itu mau tak mau pikiran pun lantas mencari pelarian dari dunia nyata dan mulai membuka-buka kotak penyimpanan informasi yang selama ini berada dalam kondisi stand-by; silakan dibuka hanya kalau tidak ada hal lain yang lebih produktif yang bisa dilakukan. Tidur? Ah sudah tidak mood, lagian di perjalanan dari Ciledug tadi pagi sudah cukup lelap. Salahsatu pikiran yang tersimpan di kotak-kotak dalam kondisi stand-by ini ternyata adalah pemikiran mengenai metafisika lagi; riak waktu. Bukan sekali-dua kali gw mengalami sendiri, atau mendengar cerita orang lain bahwa mereka bisa menduga, atau "mendapat bocoran" tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Ramalan? Bukan juga, karena biasanya bocoran seperti ini didapat tidak dengan usaha khusus, dan dalam bentuk yang abstrak namun unik. Bayangkan munculnya suatu dorongan kuat untuk pergi ke tempat anu, atau melihat kearah anu, untuk kemudian mendapati bahwa ternyata kita ada disana untuk suatu hal yang penting - atau justru menghindari suatu hal yang berbahaya. Awalnya kita tidak mengerti dorongan urgency yang kuat tersebut, namun setelah selubung tabir peristiwa terkuak, maka kitapun melihat adanya suatu skenario khusus yang terjadi. Apakah kemampuan melihat masa depan ini eksklusif terjadi hanya dalam peran pengaturan nasib saat terjadi campur-tangan "langsung" dari Tuhan? Ataukah waktu memang memiliki riak? Dan manusia memiliki kemampuan natural untuk mendeteksi riak tersebut? Bayangkan sebuah kolam yang tenang. Setitik embun yang jatuh akan segera membuat riak circular dari pusat jatuhnya embun, menjalar menjauh dari titik pusat. Bayangkan manusia sebagai perahu mainan yang berada di kolam itu, berjalan menuju suatu arah dengan kecepatan konstan. Saat setitik embun jatuh di jalur perjalanan perahu, maka sebelum sampai ke titik jatuh embun, perahu akan terlebih dahulu merasakan riak air akibat jatuhnya si embun. Mungkin kecil, nyaris tidak terasa, tapi ia ada. Dalam kondisi khusus, saat riak cukup besar, atau kapal memiliki sensor yang lebih sensitif, riak bisa terdeteksi. Teori riak waktu ini sebenernya udah rada lama terpikirkan, tapi belum ada konklusi yang memuaskan, sementara gw sendiri sudah jarang sekali bereksperimen. Yang mengherankan, banyak kejadian belakangan ini yang muncul, seakan seperti ketukan kecil di kaca jendela rumah... sayup terdengar tapi memiliki pattern yang artifisial sehingga menarik perhatian (dan tindakan)... tanda ada tamu yang sedang berkunjung. Selayaknya tamu yang datang berkunjung, maka biasanya ini terjadi karena ybs memiliki kebutuhan dengan gw. Ada apa nih? Mendadak pikiran gw kembali membumi sewaktu sadar kalau metromini sudah melewati halte Mega Kuningan dan Depkes. Jangan sampe kelewatan halte lagi kayak waktu itu. Simpan kembali pikiran dalam kotak stand-by, siap-siap turun kendaraan, sambil cek & recheck apa ada barang ketinggalan. Hari Jum'at telah dimulai, dengan bahu sedikit keseleo. (bay) image dari: http://worshipconverse.blogspot.com
Posted by Bayu on Jul 8, '08 5:46 AM for everyone  "Kerenyed" dalam bahasa Sunda artinya lekat dengan listrik dan getaran. Istilah lainnya yang sering dipakai adalah "nyetrum", dari asal kata "setrum" alias "listrik", cuma istilah ini dipakai untuk kasus tersengat listrik yang lebih parah. "Salam Kerenyed" biasanya gw terima saat berjalan-jalan di Mall / Pusat perbelanjaan, yang penghawaannya 100% full AC. Saat masuk Mall yang super dingin dan menyentuh railing logam, BZZZT~! salam kerenyed pun diterima, nggak jarang dibarengi dengan bunyi lentik seperti saat lighter kompor gas menyala, atau, kadang diikuti pula dengan loncatan segaris listrik mirip kilat mini! Tapi hal ini biasanya terjadi hanya pada sentuhan pertama saja, setelah itu kalau menyentuh railing lagi niscaya aman. Makanya gw namain sedemikian, karena sifatnya yang mirip "sapaan" atau "salam perkenalan" dari si Mall yang gw datangi. Kalau sudah kena salam kerenyed biasanya bagian yang bersentuhan akan terasa sakit dan pedih, seperti ditusuk jarum. Nggak anehlah kalau serangan listrik seringkali diistilahkan sebagai "sengatan", karena rasanya ya memang seperti disengat. Diikuti raut muka meringis, plus pandangan heran dari orang lain, biasanya tangan langsung ngusap-ngusap cepat, berusaha ngurangin rasa sakit yang timbul. Konon, penyebabnya adalah listrik statis, dan ini terkait langsung dengan keberadaan udara dingin dari AC yang cenderung memiliki muatan ion negatif yang tinggi, dan lantas ion2 tersebut terakumulasi pada bagian-bagian ruangan yang terbuat dari besi / logam, misalnya railing tangga. Walhasil, begitu ion2 tersebut menemukan pasangan ion positifnya di permukaan kulit seseorang, ZAP! Salam kerenyed pun terjadi. Alah bisa karena biasa, maka lama kelamaan gwpun punya kebiasaan untuk langsung toel-toel dengan cepat railing besi di mall-mall begitu masuk, ngetes kadar listrik statis si railing sekaligus discarging muatan listriknya. Atau, gw sentuh dulu dengan bagian badan lain yang terlindung pakaian, supaya electric shock nya nggak terlalu parah. Yang seringkali nggak bisa dipersiapkan, adalah kala salam kerenyed ini terjadi di lingkungan yang tidak biasanya, dan dengan "obyek" yang tidak biasanya juga... misalnya kala incidentally bergesekan tangan sama rekan kerja (haii Chik!). Tapi segitu sih masih terbilang untung... karena ada temen yang katanya mengalami hal serupa dengan pacarnya. Dalam kasus sedemikian, maka bisa jadi rasa-rasa "sparkling" dan "electricity" yang muncul dalam sebuah relationship, bukan hanya muncul sekedar sebagai kiasan, namun benar terjadi secara real. Ada yang punya pengalaman / kebiasaan kena salam kerenyed juga? (bay)
Posted by Bayu on Jul 7, '08 3:05 AM for everyone Kabarnya PLN telah kembali mengibarkan bendera SOS krisis listrik. Dari blog nya Anne juga diperoleh jadwal pemadaman bergilir yang akan menimpa ibu kota Jakarta dalam kurun waktu dekat ini. Di Medan, konon (lagi) listrik dari PLN sering mati. Nyaris setiap hari. Di kota-kota lainnya pun pemadaman aliran listrik sudah bukan barang baru lagi. Harga minyak bumi semakin mahal, dan kelangkaan LPG, konon (lagi!) merupakan penyebab-penyebab dari lambatnya pertumbuhan kemampuan supply listrik dari PLN. Aneh bin ajaib, saat diversifikasi energi dicanangkan pemerintah, yang disarankan waktu itu adalah eliminasi subsidi Minyak Tanah (kerosene) dan pengalihan kebutuhan BBM rumah tangga ke... LPG! Yang notabene sebelum program diversifikasi ini dimulaipun sudah seringkali menghilang dari pasaran. Loncat bentar ke negara-negara sub-tropis... Di luar sono, seiring dengan semakin gencarnya program kesadaran lingkungan dan perang terhadap Global Warming, banyak masyarakat yang kemudian melirik ke alternative energy; sumber energi non-BBM, yang sebenarnya telah ada sejak jaman dahulu kala dan bersifat gratis; renewable unlimited natural energy. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: sinar matahari, angin, dan air. Istilah "off the grid" mungkin masih terdengar janggal di telinga kita, namun tidak demikian halnya dengan para penganut alternative energy ini. Istilah ini merujuk pada suatu sistem energi listrik, yang terputus sama-sekali dari sistem listrik konvensional yang disediakan oleh sumber listrik massal. Kalau di-nasionalkan, maka ini berarti "listrik gak nyambung PLN". Lah lantas gimana caranya ada listrik tapi gak nyambung PLN? Ya karena pemanfaatan alternative energy tadi: sinar matahari, angin, dan air! Bagi yang satu generasi dengan saya, pasti pernah terpukau kala menyaksikan ada temen sekolah yang bawa kalkulator tanpa batre! Cukup dihadapkan ke sinar matahari (kadang sinar lampu juga bisa) maka si kalkulator bisa berfungsi dengan baik. Santetkah? Rupanya kemampuan ini didapat bukan dari ilmu hitam, melainkan dari teknologi yang namanya "photovoltaic cell", alias perangkat yang mampu mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Di era modern ini, perangkat photovoltaic cell sudah mengalami perkembangan lebih maju lagi sehingga bisa menyalakan tidak hanya kalkulator atau game watch, karena kapasitas produksi listriknya sudah semakin besar. Di luar negri sono, sudah banyak rumah yang memanfaatkan teknologi solar cell untuk memenuhi kebutuhan listriknya sehingga "totally off the grid". Solusi lain untuk alternative energy yang bisa dipakai rumahan, adalah penggunaan wind turbine generator; pembangkit listrik mini yang digerakkan oleh tenaga angin. Konon (iya, lagi) hanya dengan biaya 6 juta rupiah saja maka sudah bisa diperoleh wind turbine generator dengan kemampuan lumayan. Sistem wind turbine generator ini selain dianggap lebih ekonomis, juga lebih konstan karena angin selalu berhembus, beda dengan sinar matahari yang tersedia dalam rentang waktu terbatas. Pilihan lain yang lebih ekonomis, namun butuh kondisi khusus, adalah "small water generators" atau "micro-hydro system"; pembangkit listrik mikro tenaga air. Susahnya sistem ini adalah karena ia butuh aliran air yang konstan, dengan beda ketinggian minimal 2 meter. Plus kalaupun nemu sumber aliran air sedemikian, besar kemungkinan air tersebut bukan milik pribadi tapi milik umum. Perlu pertimbangan dan perlakuan khusus dalam hal etika. Kembali ke Indonesia... Apakah Indonesia kekurangan sinar matahari? Berbeda dengan negara-negara sub-tropis yang kadang tidak menikmati kehangatan sinar matahari selama berbulan-bulan, di Indonesia, matahari bersinar terik 12 bulan selama setahun, dengan pengecualian saat musim hujan berlangsung. Apakah Indonesia kekurangan angin? Sudah jelas nggak juga, bahkan di daerah paling nggak ada angin sekalipun kita tinggal memanjat cukup tinggi maka angin pun tersedia. Apakah Indonesia kekurangan air mengalir? Diluar sungai-sungai ibukota yang 90% mampet karena sampah, maka di daerah pedalaman, aliran air yang konstan dan deras cukup mudah ditemui. Berdasarkan kenyataan ini maka seharusnya Indonesia tidak kekurangan energi bukan? Sayangnya, ternyata rata-rata perangkat penyedia alternative energy ini yang dibuat di luar negeri, sehingga harganya relatif tinggi. Untuk menambah masalah, import perangkat jenis inipun masih dikenai pajak tinggi karena dianggap termasuk kategori "barang mewah". Masih kurang masalah? PLN selaku otoritas tunggal berkuasa penuh tanpa saingan monopolistik total dan bersifat dewa terkait penyediaan listrik di Indonesia, juga menerapkan aturan yang njlimet bagi para pemakai alternative energy ini! Selain aturan yang ketat, bisa-bisa para pemakai alternative energy malah dikenai pula pajak energi! Seperti halnya yang berlaku bagi kalangan industri yang memiliki genset sendiri di pabrik / kantornya. Lieurr? Sudah pasti! Padahal katanya (bosen pake konon), cadangan minyak Indonesia hanya cukup untuk diproduksi hingga tahun 2020. Itupun dipastikan harganya akan sangat muskil untuk bisa dibeli oleh Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri sendiri! Memang butuh penanganan strategi yang lebih global-thinking untuk mengatasi masalah yang bersifat nasional ini, tapi mungkin ada baiknya pula bila pemerintah (dan PLN) tidak lantas menciptakan hambatan-hambatan yang tidak perlu bagi para peminat alternative energy. Kalau perlu, malah disubsidi! Seperti di AS sana. Anyway basway, memang terdapat sejumlah dana yang tidak sedikit untuk mengadakan sistem listrik berbasis alternative energy ini di rumah kita. Misalnya, untuk satu set solar cell lengkap dengan regulator, accu, dan inverter, untuk memenuhi 40% kebutuhan rumah tangga (sumber listrik masih hybrid; join dengan listriknya PLN), maka diperlukan biaya sekitar Rp. 15 juta (perkiraan kasar), lumayan mahal kan? Tapi sistem yang dibangun ini akan berjalan selama 3 tahunan tanpa memakan biaya apapun! Setelah tahun ketiga, biasanya sudah harus dilakukan penggantian accu sebagai penyimpan daya, sedangkan panel solar cell nya sendiri rata-rata tahan dipakai hingga waktu 15 tahun. Penghematan? Untuk yang biasa make listrik PLN hingga 400 ribu per-bulannya, bisa dipangkas menjadi hanya 150 ribuan saja! Dengan rate seperti ini, maka investasi anda akan balik modal dalam waktu 3 hingga 4 tahun. Selebihnya? Untung! Daripada kembali menetapkan aturan-aturan aneh (pemadaman bergilir, siaran TV dibatasi, waktu produksi pabrik dikurangi), bukanlah inisiatif swadaya pengadaan listrik oleh masyarakat bisa membantu mengurangi beban listrik PLN? Kenapa pemerintah tidak mendukung dengan lebih aktif? Kenapa kacang? (Why nut?) Bagi anda yang tertarik mempelajari pengadaan listrik dari alternative energy ini di Indonesia, silakan mengikuti tulisan dan diskusi di rekan blogger: http://dewo.wordpress.com/category/energi/ , atau Googling untuk sumber lainnya (ada yang mau nambahin?). Sedangkan untuk yang tertarik untuk langsung mengaplikasikan teknologi ini di tempat anda, silakan hubungi para penyedia berikut ini: + LEN Industri - http://www.len.co.id/+ WIKA Intrade - http://www.coenergy-wi.com/+ Azet Surya Lestari - http://tokosurya.com/+ Suntech Solar System - http://www.suntechsolarsystem.com/ + Aneka Surya - http://www.anekasurya.com/+ Heksa Prakarsa Teknik - http://heksahydro.com/index.htmAtau maen-maen ke del.icio.us nya kangbayu untuk update list of vendors / resources. Semoga bermanfaat. (bay)
Posted by Bayu on May 5, '08 5:48 AM for everyone  Bagi yang "bermata empat", beli kacamata adalah suatu kegiatan yang rutin dilakukan. Entah karena pertimbangan gaya dan fashion, atau karena keterpaksaan akibat frame kacamata sebelumnya harus beristirahat selamanya. Gw termasuk kelompok yang kedua. Hal ini tak lepas dari kebiasaan baca dan nonton yang intensif, dan dilakukan dalam beragam gaya. Apalagi kalau kasusnya, hari sudah malam, badan sudah cape, tapi masih pengen nonton film. Jadilah gw nonton sambil tiduran, yang berakibat munculnya beban-beban abnormal pada frame kacamata yang gw pake. Kalo sampe ketiduran, kadang-kadang si kacamata ini memiliki nasib akhir yang mengenaskan; terlindas gaya sekitar 900 Newton selamaman penuh. Hasilnya? Deformasi bentuk. Karena kebiasaan yang nggak kunjung berubah tersebut, sudah beberapa kacamata harus dipensiunkan karena alasan deformasi. Beberapa masih bisa dipaksakan dipelintir, tapi biasanya umurnya nggakan lama lagi, beberapa rusak total alias patah. Berhubung kacamata nempelnya di muka, maka keberadaannya sulit buat tidak menarik perhatian. Karena itu juga kemunculan cacat di piranti bantu penglihatan ini akan sangat kentara. Dari sisi pemakai (tapi bukan pengedar lho), deformasi kacamata juga berdampak buruk karena mengakibatkan perubahan titik fokus dan mata harus membiasakan ulang. Sedangkan proses pembiasaan ulang ini 99% pasti melibatkan hal-hal nggak nyaman seperti pusing dan sakit leher. Begitu juga kasusnya dengan kacamata gw yang sekarang ini. Setelah dengan sukses tertidur seperti biasa, pagi-pagi saya dapetin si kacamata ini dalam posisi nyaris patah, kelindes baju kaos yang (kebetulan) berisi saya. Dengan HHC (Harap Harap Cemas) berusaha dikembalikan ke posisi normal, anehnya si kacamata masih mau nurut dan kembali ke bentuk semula! Namun tak bisa dipungkiri, sambungan diantara kedua bilah frame sekarang sudah terkoyak, mungkin tinggal 25%nya saja tersisa. Ini berita gawat. Gawat karena frame kacamata ini harganya tega lara tega pati. Kalau berjalan-jalan ke toko kacamata di mall-mall, dan anda naksir salahsatu frame keren yang dipajang di etalasenya, jangan kaget kalau si penjual nawarin harga yang buat sebagian orang adalah sebulan gaji. That expensive. Belum lagi kalau untuk pilihan kacanya anda meminta lensa kualitas top, ditipisin, dilapisin anti glare, supersin lah, dll. Niscaya belanja kacamata bukanlah hal yang menyenangkan... kalau terjadi karena terpaksa. Gitu juga kasusnya dengan gw, walaupun selalu berburu ke daerah Pasar Baru untuk mendapatkan harga yang lebih ramah kantong / gaji, biasanya gw tetep harus berkorban duit sekitar empat kali makan sushi di Sushi Tengoku. That's big. Apalagi saat duit lagi cekak akibat duit proyek yang tak kelar turun-turun. Jadinya ngambil jalan pintas deh. Alih-alih nyari kacamata baru (minimal 200 rebu untuk frame entry level), gw nyari tukang reparasi yang bisa nge-las sambungan kacamata gw yang goyah. Dapetnya di Pasar Baru ini juga via toko langganan gw. Sayangnya, karena outsourcing maka harganya tetep nggak murah. Tapi ya apa boleh buat lah... Walaupun cool untuk kalangan tertentu, kacamata patah yang diplester kurang cocok buat menghadap client-client dari kalangan pemerintahan untuk urusan bisnis serius. Anyway, ada yang punya tempat langganan kacamata murah? Atau tempat reparasi yang hasilnya bagus? Punya gw masih loncer nih... (bay)
Posted by Bayu on Jan 6, '08 12:55 PM for everyone  Tisaprak nga-blog sigana teh can pernah sim kuring nulis ku basa Sunda. Sanes poho ka karuhun, tapi da rumaos basa Sunda na kacida goreng, bareto basa SD wae langganan peunteun genep weh mun palajaran basa Sunda mah. Malahan basa SMP, leuwih gedean nilai Bahasa Inggris tibatan Basa Sunda atawa Bahasa Indonesia. Padahal da sapopoe mah dipake terus Basa Sunda teh, ngan nya eta... Basa Sunda ala okem, maklum di Bandung tea... salian ti rada kasar, tara kaliwat unjang-anjing mun ngobrol jeung batur teh. Terus mun geus repeh ngobrol jeung saha wae, hiburan peuting nu sok didengekeun khusyuk teh naon deui mun lain Wayang Asep, nuturkeun polah laku gelo si Cepot jeung dulur-dulurna. Puguh weh atuh nu ngarana kabisa ngomong lemes ge beuki sirna... Komo deui atuh mun di imah, atawa keur nganjang di imah dulur, unggal maksakeun ngomong Sunda nu rada serius, pok weh kolot teh sok sasadu... "Boy, tong ngomong Sunda lah, teu pantes". Haiyah! (bay)
Posted by Bayu on Nov 24, '07 7:36 PM for everyone Seiring merebaknya globalisasi, salahsatu masalah yang sering muncul dalam komunikasi lintas negara adalah soal nama. Bukan soal pelafalan, itu sih udah pasti, tapi soal prioritas nama.
Kalau jaman SD dulu, ada temen gw yang nggak punya nama belakang, ada juga yang punya nama sampe panjang banget. Kami (me & friends) mengenalnya sebagai "nama", "nama panjang", dengan prioritas pada "nama". Beda dengan konfigurasi nama bule yang menerapkan sistem "nama depan", "nama belakang", serta "nama tengah", dengan prioritas pada "nama belakang". Aplikasinya, kalau ada temen yang namanya "Sony Ahmad Rafiq", maka di Indonesia dia bakalan dipanggil "Sony" dan cuma orang-orang deket yang tau bahwa dia punya nama belakang "Ahmad Rafiq". Sedangkan di Amrik, ybs bakalan dipanggil sebagai "Mr. Rafiq", dan cuma orang-orang deket aja yang tau kalau dia punya nama depan "Sony Ahmad".
Hal yang berbeda lainnya, adalah soal fungsi nama. Kalau di Amrik, nama belakang adalah nama keluarga, sedangkan di Indonesia, cuma strata atau etnis masyarakat tertentu yang menerapkan sistem nama keluarga. Di Jawa misalnya, "Siti Hardiyanti Rukmana", atau di Sunda misalnya, "Sari Asih Joedawinata". Secara etnis, misalnya "Nadia Hutagalung", "Mellyana Manuhutu". Sedangkan gw, Bayu Yunantias Amus nggak berarti gw berasal dari marga Amus, karena format nama gw adalah "nama", "nama panjang", dan "nama akhir". Dimana nama depan adalah nama panggilan gw sehari-hari (Bayu), nama panjang cuma diketahui sama temen-temen dan keluarga (Yunantias), sedangkan nama akhir (Amus) bener-bener cuma segelintir orang aja yang tau*. Gitu juga halnya dengan sodara-sodara gw, Ramdhani (Dani), yang sekarang lantas jadi "Ramdhani Suherman" (ngutip nama bokap) karena di kantornya perlu ybs buat punya nama belakang. Atau adik gw, Bella Wulandari Fitriani (Dea), yang bukan dari fam Wulandari apalagi Fitriani.
*Walaupun akhirnya banyak juga yang tau setelah gw memutuskan buat mem-"publish" nama akhir ini setelah lulus kuliah, sesuai petunjuk dari almarhum kakeknya nyokap via nyokap.
Masalah muncul kala terjadi urusan lintas negara. Kala ada paket dari luar negeri dateng untuk "Mr. Bayu Amus" (first name, last name), maka yang tertulis di KTP gw adalah "Bayu Yunantias" (nama, nama panjang). Rada bermasalah sekiranya penjelasan gw sama petugas paket pos nggak meyakinkan, atau alamat KTP nya beda.
Masalah nama ini keliatannya nggakan cepet-cepet berubah dalam waktu deket. Plus, banyak negara dan etnis yang juga nggak mengadopsi struktur nama bule ini. Jadi seharusnya, justru, konfigurasi nama internasional lah yang dibuat lebih mewadahi keberagaman penyusunan format ini, jangan terlalu bule-sentris. (bay)
Posted by Bayu on Aug 18, '07 12:11 AM for everyone Tahun 1997: Jeep Buta Hejo gw ditabrak samping sama mobil kijang yang lagi mundur. Gara-garanya parkir di pinggir jalan yang gelap, dan warna mobil gw ijo tua. Sialnya, yang nabraknya tentara. Tau dong akhirnya gimanah? Sedekah buat abdi negara.
Tahun 1996: Feroza dengan nomer plat cantik gw ditabrak bus antar kota dari belakang. Ringsek pintu, kaki nyokap bengkak gede.
Tahun 1995: Classy nyokap yang lagi gw setirin, dihajar samping sama Taft merah yang ugal-ugalan. Dikejar sampe ke jalan buntu di gunung, sampe jadinya selain pintu ancur, kaca jendela ancur, sokbreker ikutan mati. Bayangin aja gimana rasanya sedan kecil harus kebut2an di jalan kerikil, sementara yang dikejar adalah jip?
Tahun 1989: Zebra gw ditabrak samping sama motor yang nggak mau berenti di perempatan. Untung kena pas ban, minimal damage.
Tadi pagi: "Nggak jadi ke warung pak?" tanya pak Satpam yang ngeliat gw jalan balik dari warung "Belum ada makanan" jawab gw sambil berjalan kedalam "Wah, baru jam setengah sembilan lewat lima, tadi gw pas dateng gak telat dong?" pikir gw dalem ati sambil liat jam dinding di pos satpam...
Lalu terdengar suara "BRAAAK" diiringi alarm mobil meraung-raung, dari arah gw markir si Avanza sekitar tiga menit lalu
"Loooooh!" "Yaaaaaah!" "Weeh, mobil sapa tuh baru parkir ketabrak?!" begitu kurang lebih obrolan beberapa staff yang sedang ngobrol2 di depan Gw hapal bunyi alarm nya, dan gwpun bergegas balik ke depan dengan bete... Terlihat si truk yang baru maju lagi (tadi mundur), Avanza gw meraung-raung, dengan kap mobil penyok, dan rada ngangkat... berarti lumayan kenceng kenanya. Sopir truk nya turun dan keliatan bingung... gak maaf atau apa... "Lho kenapa mas??!" tanya gw kesel... "Tadi nggak ada mobil..." jawabnya
"MASA SEGEDE GINI GAK KELIATAN??!?!?!?!" sambut gw nunjuk si Avanza yang jelas-jelas bukan bajaj atau sepedah...
&$%@!#*^%$@*!!!!!!!
Langsung gw tinggal pergi aja tu supir, dan pak satpam yang bergegas menghampiri... percuma marah-marah, lagian dua2nya mobil perusahaan ini =P.
Tapi gw gak mau tau, gak akan gw urus ke bengkel. Urus ndiri asuransi ma reparasinya sono! (bay)
Posted by Bayu on Nov 28, '06 3:12 AM for everyone
 Perhatikan gambar disamping ini... Bagi yang sering bergaul dengan Aqua gallon (beli, masang di dispenser, ngamen), mungkin akan sadar dengan kejanggalan ini: "Gallon Aqua koq tutupnya warna merah?" Soo, apakah ini Aqua jenis baru? Oo bukaaan... ini adalah sekedar akibat dari langkanya supply air minum merk terkenal ini di sekitar tempat tinggal gw. Sejak beberapa minggu belakangan ini, dari mulai pengecer langganan yang nganter pake sepedah, sampe ke tempat-tempat lainnya pun idem ditto; stock Aqua gallon kosong! Bahkan di tempat 'bandar' daerah kami, yang biasanya jadi last-resource karena letaknya rada jauh, terlihat deretan ratusan botol gallon Aqua kosong berjejer, yang entah kapan akan di re-supply. Awalnya sempet bingung mau gimana, terutama karena semenjak tinggal bareng isteri, konsumsi air minum pun jadinya meningkat tajam; dari satu gallon biasanya cukup untuk satu bulan, kalau sekarang terkadang seminggu setengah pun sudah harus isi ulang. Masak aer ndiri? Pliss deh! Bukannya centil, tapi tools buat masak nasi di tempat gw hanyalah berupa teko listrik 2 liter-an yang mana butuh waktu sekitar 30 menitan buat mendidihkan aer... belon lagi, setelah itu aernya masih harus didinginkan supaya laik minum. Secara Jakarta itu panas, maka supply air es adalah hal yang sangat vital buat kami berdua. Beli botolan? Duh... secara air minum di botol 1.5 liter berharga antara 2000 - 3000 rupiah, maka berarti akan ada extra pengeluaran sekitar 20 - 28 ribu rupiah untuk kapasitas air minum yang sama. Lantas solusinya gimana? Daripada harus nyari tukang isi ulang Aqua lainnya (yang pastinya cukup jauh), ternyata bandar air minum di tempat kami sudah menawarkan solusi yang cukup praktis dan memuaskan; isi-ulang dengan air minum produk lain!Dan karena kelihatannya solusi ini semakin laris sehingga mereka semakin mahir, maka proses inipun ditempat bandar berlangsung tanpa bantuan alat khusus, cukup dua moncong gallon air minum didekatkan, lalu dirotasi 180°. Nyaris nggak ada aer yang tumpah! Dan jadilah sekarang, sudah 2x19 liter air "oplosan" ini kami konsumsi. Merk yang dioplos sendiri sebenernya masih bersaudara sih, "VIT" yang sama-sama keluaran Danone. Bedanya, Aqua memposisikan diri sebagai "air alami", sedangkan Vit memposisikan diri sebagai air minum dengan "teknologi pengolahan dari Perancis". Dan malah setelah nyoba dua gallon aer merk ini, gw dan isteri malah jadi tergoda untuk pindah merk karena rasa air yang agaknya lebih segar dibandingkan Aqua... Hmm... mending pilih "alamiah" atau "teknologi Perancis" ya..?  Oh ya, satu hal lagi yang cukup penting!... menurut Ki Yohan Vinowino  , rata-rata merk AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) yang berasal dari Indonesia, tidaklah tepat disebut sebagai "air mineral", karena semuanya telah melalui proses pengolahan terlebih dahulu. "Air mineral" menurut standar internasional, adalah air yang dibotolkan langsung dari sumber mata airnya. Artinya, air dari sumber air tersebut haruslah memiliki kualitas layak minum, dan terbebas dari kuman maupun zat berbahaya lainnya secara alamiah! Maka dari itu, jangan heran kalau harga sebotol air mineral import, bisa lebih mahal dibandingkan se-'gallon' (19 liter) air minum lokal. Harga selangit ini diakibatkan tak lain karena langkanya sumber air yang memiliki kualitas yang dimaksud. Untuk pengawasan dan standar kualitas air mineral ini sendiri, terdapat lembaga internasional EEC Directive Natural Mineral Water (Eropa) dan Codex Alimentaris Commision, yang keduanya adalah bentukan dari WHO dan FAO. Satu-satunya air mineral merk lokal yang beredar saat ini di pasaran, bisa kita temui dengan merk "Equil" (kependekan dari kata "Equilibrium"), dengan harga yang (sayangnya) mirip-mirip dengan saingan importnya semisal "Evian" dari Perancis. Jadi kalau untuk Aqua, Vit, Ades, dll., maka istilah yang lebih tepat untuk mereka ini adalah "Air Minum", bukan "Air Mineral". (bay) Sumber bacaan: Republika, Foto: koleksi pribadi
Posted by Bayu on Oct 16, '06 5:01 AM for everyone
 Begitu turun dari P 502 di perempatan Thamrin - Kebon Sirih, gak lama kemudian bis kota jurusan Depok - Kota pun muncul. Dipikir-pikir, daripada naek Trans Jakarta yang harus naek-turun dulu jembatan penyebrangan depan BI yang extended version itu (panjang banget bo!), mendingan naek bis biasa ini aja deh, toh sama-sama AC, tapi hemat energi... Dan perjalanan di Minggu pagi yang lumayan lancar itupun berakhir di lampu merah deket stasiun Kota (Beos) yang selalu macet. Selanjutnya, gw pun beranjak mencari ojek untuk meneruskan perjalanan. Ojek? Hmm... sebenernya ini pilihan terakhir gw untuk sarana transportasi. Bukan masalah nyaman atau apa, tapi biasanya mereka masang harga yang gak senonoh... Terakhir gw nawar ojek di depan kantornya Eriq, Monas, untuk jarak nggak sampe 1km aja si mas-mas minta ongkos 10 rebu! Padahal kalo naek taksi tarif mahal sekalipun, palingan abis 7 rebu-an saja! Males nawar, gwpun beralih ke nyetop bis reguler aja, keringetan dikit biarin deh... Kasus lain yang cukup mengenaskan, adalah kalo gw turun bis di daerah Imam Bonjol - Agus Salim. Tukang ojek yang mangkal di samping gedung Gani Djemat situ seringkali lebih milih buat kembali tidur daripada nganter gw ke kantor (Kosgoro - BII Thamrin) dengan ongkos tiga ribu rupiah. Padahal jaraknya cuma sekitar 10-15 menit jalan santai, atau serebu perak pake metromini P-15. Atau jarak Sabang - Kosgoro yang rata-rata minta ongkos 7-8 rebu rupiah! Seringkali seperti itulah kejadiannya, gw males nawar dan ilfil, kalo belon apa-apa si abang ojek
dah masang harga pembuka yang "nunggu durian runtuh"; lebih mahal dari tarif taksi untuk jarak
yang sama. Motor 125 cc + debu vs. sedan 2000 cc + AC gitu loh... pilih
mana? Dan kalau dihitung berdasarkan biaya pengadaan kendaraan,
perijinan, perawatan rutin, biaya BBM, plus jasa sopir, maka seharusnya
ongkos tarif ojek adalah sekitar ¼ atau maksimal ½ tarif taksi...
Tarif segitupun, sudah dengan pertimbangan adanya biaya ekstra untuk menutupi "kerugian operasional" dalam hal
bahwa para ojek ini cenderung cuma bisa narik penumpang dari "pangkalan"
tertentu, sehingga seringkali setiap kali jalan maka jarak yang harus
ditempuh adalah dua kali jarak tujuan penumpang. Sedangkan kalau taksi,
kan bisa narik penumpang dari mana saja. Memang betul, ada kalanya
sarana transport yang satu ini sangat berguna kala sedang diburu waktu
plus harus menembus kemacetan yang parah... dan memang banyak juga tukang ojek yang menyadari kelebihan mereka ini. Tapi seperti
yang sering gw bilang pada tukang ojek "narsis" seperti ini: "Yee bang! Kalo nggak macet, buat apa saya naek ojek?"Tapi seiring bertambahnya "jam bonceng" gw, lambat laun gw pun menyadari bahwa ternyata MO "nunggu durian runtuh" seperti ini tidaklah selamanya berlaku... Untuk jarak yang lumayan antara Mc D Saharjo - Pasar Kodok (Tebet), biasanya para tukang ojek disana masang harga hanya 5 rebu rupiah saja... Dan yang lebih mencengangkan lagi buat gw, adalah standar ongkos ojek untuk daerah Pasar Ciledug;
- Ciledug - Pepabri cuma 6 rebu rupiah saja! itupun Nade masih sering diomelin kakak-kakaknya karena dianggap merusak "harga pasar" yang harusnya cuma lima rebu rupiah saja.
- Ciledug - Blok M cuma 20 rebu! Dan mungkin masih bisa ditawar lagi cuma gwnya yang gak tega, mengingat perjalanan rute ini biasanya ditempuh dalam waktu satu jam dengan bis, dan bahkan lebih lagi kalau sedang macet...
Pengalaman-pengalaman terakhir itu mau gak mau dah mengubah pendapat gw terhadap sarana transportasi yang satu ini... Jadi masih mungkin-mungkin aja ojek ini jadi pilihan gw, kalo kondisinya memang menuntut... Kembali ke Kota, di wilayah ini terdapat dua jenis ojek; ojek motor dan ojek sepeda. Tapi walaupun ojek sepedah memiliki nilai nostalgia, gw ragu sarana transportasi ini bisa dengan efektif membawa gw nyebrang jembatan fly-over maupun menembus kemacetan setelahnya. Kenapa gak pake taksi? Soalnya dari pengalaman terakhir gw, perjalanan Kota - Jembatan Dua jika ditempuh pake taksi ternyata adalah suatu hil yang penuh mudharat dan kesia-siaan... lon lagi tarif nya. Soalnya, jalan Pangeran Tubagus Angke yang harus dilalui itu termasuk jalan rawan macet tipe "A" alias Always macet. Maka dari itu, gwpun bertekad untuk mencoba transportasi merakyat ini. Jadi yah terpaksa deh pake ojek... Untuk perkiraan harga, dikira-kira aja lah berdasarkan ongkos taksi yang harus gw keluarin tempo hari (sekitar 23K untuk taksi tarif 2006). Perkiraan ini penting, karena kalopun gak tau harga pasaran, minimal pengeluaran masih sesuai dengan budget. Tapi ternyata si abang pun gak pasang harga langitan, dan nawarin ongkos cukup 10K aja untuk perjalanan Kota - Jembatan Dua. Walaupun bisa nawar, tapi karena gw rasa cukup sepadan ama repotnya dan jaraknya, jadi langsung gw iya-in ajah. Gw puas karena ongkos transportasi murah, plus cepat, si abang ojek pun dapet harga sesuai keinginannya. Jadi perkiraan gw sebelumnya bener... bahwa kalau dari daerah yang termasuk high transaction, atau daerah yang udah lebih "mimggir", maka standar harga pun cenderung akan turun... Sedikit rumusan penentuan harga ojek buat mereka yang nggak hapal jalan: + Ongkos yang ditawarkan diatas sepuluh ribu rupiah; tawar 25% off. + Ongkos yang ditawarkan antara 5 - 10 rebu rupiah: tawar 30% atau sekitar 3 rebu rupiah. + Ongkos yang ditawarkan dibawah 5 rebu rupiah: biasanya masih bisa berkurang serebu rupiah, maksimal dua rebu rupiah... inipun kalau jaraknya sangat dekat atau anda penduduk daerah situ. Btw sebagai penutup, istilah ojek (Jakarta) atau ojeg (Sunda) sendiri, sebenarnya memiliki latar belakang yang cukup bias. Dari beberapa narasumber diketahui, kalau istilah ini konon berasal dari paduan kata "otto + jegang" [(otto = mobil, jegang = ngangkang (sunda)]. Pendapat alternatifnya menyatakan kalau istilah ini berasal dari paduan kata "ongkos jegang". Sedangkan peralihan istilah menjadi "ojek" di daerah Jakarta dan sekitarnya, penulis tuduhkan kepada kebiasaan perusakan istilah yang rawan terjadi lingkungan metropolis, seperti... "Ciledug" (Sungai Keruh) menjadi "Cileduk". "Comro" (Oncom dijero (didalam)) menjadi "Combro". "Leupeut" (lontong nasi) menjadi "Lepet". (bay) foto dari: http://www.harapan.co.jp
Posted by Bayu on Jun 28, '06 8:55 AM for everyone
"Tapi kan dah connect, tuh liat icon nya" seru Ros sambil menunjuk icon koneksi USB di layar monitor nya. "IYA, nah sekarang double click iconnya..." Sela gw cepet-cepet. "TUH kan, devicenya belon nyala, drivernya error!" Tambah gw dengan puas "Ooooooohhh.... error", bales Ros "Dah sini gw cek dulu...", si jagoan beraksi... Ros pun beringsut dari mejanya dan membiarkan gw mengotak-atik PC nya seperti biasa. USB Hard Disk yang baru dia beli ini keliatannya gak kepasang sempurnya softwarenya... Sementara dalem boks nya, gak ada disket atau CD driver apapun. "Plug and Play my ass!" dumel gw ngomong sendiri Jadi seperti yang udah-udah, langsung aja gw proceed buat update driver and sourcenya dipilihlah "Windows Update" alias by internet. Sapa tau ni USB HD emang butuh driver khusus atau driver terbaru, just like henpun nya Nade yang baru sembuh dari flu berat itu. Tapi itu adalah cerita sekitar 20 menit lewat... dan karena ternyata si USB HD ini teuteup gak ke-detect dengan baik, maka gwpun berinisiatif buat connect si USB HD ini ke PC gw yang paling canggih di kantor ini. Mungkin PC nya Ros yang bermasalah, lha lagian udah beberapa kali buat detect USB disk aja gagal, sering clogging dan lelet, dlsb. "USB 2.0" gitu tulisan di casing USB HD yang ringan dan looks elegant ini... Tapi yah, gw coba aja connect ke front usb panel di PC gw, biasanya juga cuma bakalan ada penurunan kinerja, gak sampe erroneous. Dan disambungkanlah USB HD ini ke PC gw... Wes jewes jewes, begitu ter-connect, niscaya mouse dan keyboard gw menolak buat berfungsi alias nge-hang... Walah... ya su, setelah beberapa lama gak ada progress maka gw cabutlah USB HD bermasalah itu karena biasanya system akan kembali normal. Well I'll be damn...Dua jam kemudian, barulah gw berhasil membereskan kerjaan yang tadi sempat tertunda gara-gara PC jagoan gw mendadak mati total right after ntu USB HD gw cabut, dan sampe sekarang gak mau idup lagi  . Ihihik.... data sih gak ada yang rusak, HD ge aman jadi kerjaan2 dan sidejob gw juga terselamatkan. HD bisa di-install ke PC cadangan yang untungnya baru gw beresin sistemnya minggu lalu, jadi sekarang bisa langsung resuming works. Cuma kerjaan yang seharusnya ge deliver sore ini jadi molor, plus gw gak bisa store ke CD karena CD writernya di PC gw yang (presumably) angus, sedangkan di PC yang sekarang ternyata gak cukup jumlah power cable nya. Ya udah gw print aja lah, gimana ntar... padahal harusnya malem ini utang gw tinggal beresin naskah buat sitkom baru nya Trans TV (telat 2 hari), sementara buat Presentasi dan Demo Integrated Library System besok di Perpustakaan Nasional udah beres. Jadinya, jam segono masih di kantor, dyaaammnnn! Masa bisa angus gara2 USB device doang??!? Naseeeeeeppphhh
Posted by Bayu on Jun 18, '06 3:14 PM for everyone 
"Maaf, habis!"
Begitu seru si staff catering, saat antrian didepanku
tinggal dua orang saja. Hee? Resepsi baru mulai 15 menit, kambing
gulingnya dah abis?
Gimana sih! Ini salah catering atau salah mempelai?
Huh! Lantas
dengan rada bete karena antrian tadi cukup ketat, termasuk bertebal
muka gak ngasi jalan ke bapak-bapak (dan istri dan dua orang anak) yang coba
nyela antrean, gwpun langsung
ngeloyor ke stand makanan utama dan mulai menyiuk sendok demi sendok,
hidangan apa saja yang terlihat menarik (read; all of them). Setelah itu gw beranjak
mendekati Ade, dan mulai menilai-nilai rasa dari makanan yang gw
santap, sambil kepikiran untuk membuat seri review baru di MP soal Catering pesta nikahan.
[Oh iya, bercermin dari rasa bete tersebut, maka gw mengingatkan Ade
buat
menghapus saja menu Kambing Guling dari resepsi kami kelak, kalo
ternyata kami cuma sanggup menyediakan setengah ekor kambing saja...
lebih baik menyediakan ekor kambing yang banyak untuk sop buntut! Tull gak?!]
Kisah makanan habis sebelum pesta berakhir, sebenarnya bukanlah cerita baru. Tapi
kalau salahsatu hidangannya habis dalam waktu 15 menit, terus terang
saja ini rekor baru. Apakah pihak mempelai kurang berusaha yang
terbaik...? Of course not! Perkara
ngurusin nikahan bukanlah hal yang gampang... dan masalah supply kambing
guling pasti bukanlah hal yang terlalu mereka prioritaskan.
Gw ndiri yang berencana
mo merid... tadinya gak mau pake resepsi segala, karena ngerasa diri gak
mau ngerepotin orang2 disekeliling gw, sedangkan nanganin sendiri sudah tentu gak
akan sanggup.... Nikah tamasya? Hmm... interesting...
"Telah menikah, Bayu dan Ade, pada tanggal xx/xx/xx dan sekarang sedang bertamasya honeymoon ke Bangkok"
Oh so sweet... walaupun dengan resiko kami akan menjadi bahan
perbincangan favorit di arisan keluarga, hingga bertahun-tahun
kedepan... mungkin sampai arisan generasi berikutnya, atau sampai jadi
legenda yang ditulis di daun lontar.
Ditambah lagi setelah ngeliat nilai nominal dari
paket-paket pernikahan yang ditawarkan di seantero Jakarta...
Haaa?!?! WT...? We need a very serious sidejob!!! Jadi kalopun nanti
sampe tercapai hajatan resepsi, pastilah itu terlaksana setelah jerih
payah yang nggak sedikit... Dan
gw
yakin seperti ini pulalah kasusnya pada banyak pasangan.
Lain padang lain belalang, lain kacamata lain minusnya... Sementara
diantara para tamu, "lucunya", gak jarang pembicaraan yang beredar
nggak jauh-jauh dari:
+ Makanannya enak / gak enak.
+ Makanannya cukup / gak cukup.
+ Pengantennya keliatan cakep / rusak.
+ Foto2 pre-wed nya keren / looks romantic / gitu doang / siapa yang motret.
+ Perbandingan terhadap resepsi lain yang pernah mereka hadiri.
Seakan-akan, resepsi adalah seorang kontestan perlombaan... dan para tamu undangan adalah Simon-nya American Idol.
Mengenai butir kedua, Ade sendiri cerita kalau di kantornya, kabar
mengenai kawinan si-X yang makanannya abis padahal resepsi baru
setengah jalan, masih terus beredar sampai berbulan-bulan setelahnya...
mungkin sampe mati keinget terus! Omigod!
So superficial... Padahal dari sisi keluarga mempelai, suatu resepsi
pasti memakan biaya yang nggak sedikit, dan para tamu yang hadir adalah
mereka yang terpilih karena dianggap penting / teman baik / dekat / dan
nilai2 spesial lainnya... kecuali kalo resepsinya emang mampu nampung
tamu dalam jumlah tak terbatas (Tapi gw yakin even di kelas konglomerat
pun keterbatasan ini ada...). Sedangkan tamu yang hadir, bukannya
berusaha buat behave sebagai pihak yang dihormati, tapi malah seringnya
taking advantages... makan rakus (udah itu gak abis), nyicip sesendok
trus tinggalin, nyerobot antrean, plus... ngomongin mempelainya juga!
Hwarakadah.
[Btw, Would hanging a sign "Makanan tersisa akan dikenakan charge" would help?]
Sementara itu, bagi para tamu sendiri, sebagian besar acara resepsi
adalah berarti sibuk berhias berjam-jam (atau nunggu pasangan ganti
baju X kali), macet dijalan, susah cari parkir, salaman, makan, pulang.
Enjoyment nya nyaris gak ada, kecuali kalo di resepsi tersebut ketemu
temen lama, atau orang2 yang dianggap menarik, atau makanan
kegemaran... tapi itupun pasti gak bisa berlanjut lama karena so very
soon, the place will be deserted. Jadi sebenernya apa sih manfaat
pengadaan resepsi ini bagi pihak keluarga maupun tamu?
Pengumuman! Tentu! Selain juga buat syukuran atau berpesta merayakan suatu peristiwa gembira.
Kalo gw ndiri lebih setuju dengan konsep entertaining, dimana pihak keluarga
mempelai mengundang para tamu to have a good time.
Terkait dengan ini, maka ada beberapa resepsi yang terus terngiang-ngiang
dikepala gw. Tiga diantaranya, adalah resepsi nikahannya Ceuceu Asih, Lala + Victor, dan Agung
+ Ida. Kenapa tiga ini? Karena nilai experience-nya yang beda...
Live Music di Kawinan Ceuceu
Ceuceu pada pernikahannya di tahun 98an, menggelar pesta kecil di
halaman rumahnya; ibunya masak sendiri (one great cook), tanpa
ada pelaminan sehingga sang mempelailah yang berjalan2 kesana-kemari menyambut tamu, tanpa
formil2an jadi sangat santai tanpa wajib pakai batik, plus nanggap orkes dangdut!
Hillarious! Mungkin karena sekeluarga pada berjiwa seni (bokap dosen
dan seniman, ibu seniman, Ceuceu nya sendiri dizainer plus aktifis
teater dan kesenian), makanya berani nekad bikin acara resepsi yang unik.
Close and Intimate di Lala + Victor
Resepsinya Lala + Victor berlangsung hangat, walaupun dengan jumlah
undangan yang sangat terbatas (atau justru karena ini?), dengan acara
yang nyaris sepenuhnya diisi para teman dekat, termasuk PARA MANTAN PACAR.
Ada sumbangan clip Flash buatan Ness dan gw, nyanyian
dari paduan suara dadakan Groundcoffee, MC nya gw dan Chelle, plus
ketua panitianya yang gak lain adalah temen sekantornya Lala.
Kopdar di nikahan Ida Baik dan MbotNikahannya Ida dan Agung, tidak semata-mata soal resepsi, tapi
lebih kepada proses yang ditempuh MPers untuk hadir disana... Secara
spektakuler menyatukan para warga MPers,
yang dengan spektakuler juga menyajikan beberapa kejutan, diantaranya
piala, hadiah dan sumbang suara. Gak lupa juga ada atraksi dari sang
mempelai pria sendiri yang penuh gaya dan menghibur (padahal
dilaksanakannya dengan serius). Dan tak lupa setelah itu ada juga acara
yang lebih intimate diantara para temen sehingga bondingnya kerasa
betul dan memorinya membekas kuat.
Sungguh, banyak pesta resepsi lain yang juga marvelous dan luar biasa
dalam hal makanan, artis pengisi acara, dll. Tapi we could always go to
a good resto kalo sekedar ngejar makan enak, nonton konser atau pergi
ke cafe kalo mo denger live music (mostly are much better too), atau
nodong temen ultah kalo sekedar pengen ditraktir gratisan... Bukan juga
berarti resepsi temen-temen gw yang laennya itu buruk... tapi rata2
it's all that; resepsi, and nothing more.
Haha...! Tapi ini gak berarti gw juga gak akan terjebak ke ngadain resepsi secara
konvensional sih, secara belum tentu pihak-pihak kunci dari kedua belah
keluarga kami setuju dengan ide-ide yang terlalu "keluar jalur" atau melanggar adat, atau kesanggupan kaminya dalam
menyelenggarakan hiburan sedemikian rupa.
[Ehhh btw, kalo durhaka sama mertua dari suku Padang, gw bakalan jadi batu juga nggak?]
Cumannn... kalo my dream
wedding reception sih bukanlah dipajang di pelaminan dengan
bermegah-megah, tapi lebih pada acara yang betul-betul memaksimalkan
interaksi antara mempelai, keluarga, dan tamu.
Jadiin event resepsinya berfungsi sebagai suatu acara kebersamaan
antara mempelai dengan mereka yang memang berarti... Atau minimal
dimana para
tamu bisa enjoy themselves dan gak sekedar melakukan ritual berhias -
macet - susah cari parkir - salaman - makan - pulang.
Tapi satu hal yang pasti... kalaupun sampai ada resepsi, maka ia akan
terselenggara dengan niat syukuran... bersyukur atas takdir baik dari
Nya sehingga hubunganku dengan sang kekasih bisa berjalan sampai ke
tahap yang berbahagia... Kalaupun kelak sampai ada tamu-tamu yang tetep
ungrateful dan dibelakang atau dikemudian hari ngomongin yang
nggak-nggak, hey... tetep terima kasih banyak, apalagi sumbangan mereka
rupanya lebih dari sekedar angpauw, tapi juga sebagian pahala mereka
yang ditransfer ketika menghina-hina dan mencela-cela suatu acara
syukuran... hehehehe. Lagian we can never satisfy everyone...
And on the brighter side... kami yakin para sobat akan mengerti, gimanapun bentuk syukuran kami kelak...
[Tapi tetep... keliatannya menu Kambing Guling akan kami coret, karena
cenderung membawa mudharat daripada manfaat. Sebagai gantinya, mungkin
hmm.... Kebo Guling?.... Lho...]
Sebagai penutup...
Rasulullah SAW dalam hadistnya menyatakan kalau kita menerima undangan
(acara syukuran) dari sesama muslim, maka harus kita penuhi. Kalo nggak salah, beliau
sendiri apabila menerima undangan syukuran dari para sahabat, sedangkan
beliau sedang shaum (puasa), maka shaum akan dibatalkan dan beliau akan
memenuhi undangan.
"Dari
Baro’ bin ‘Azib berkata: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk
menjenguk yang sakit, menghantar jenazah, mendoakan orang bersin, berbuat
baik (adil) dalam pembahagian, menolong orang yang dizalimi serta
mendatangi/ memenuhi undangan dan menyebarkan salam". (Hadis Riwayat
Bukhari)
Bahkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: "Barangsiapa
diundang kemudain dia tidak memenuhi undangan tersebut, maka ia telah
membangkang Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa masuk tanpa diundang,
maka ia masuk sebagai pencuri."
Karena alasan ini juga, isyaalloh kalo ada temen ngundang ke resepsi
nikahan / walimah, selalu gw penuhin... Kecuali yang emang diluar
kemampuan. (bay)

Posted by Bayu on May 25, '06 2:24 PM for everyone
Sebenernya materi obrolan ini dah lama gak pernah kedengeran di circle
of friends gw, tapi ya berarti orang2 di sekeliling gwlah yang mulai
terseleksi... bukan karena isyunya sendiri gak ada...
"Kenapa sholat harus pake bahasa Arab? Kan gw jadinya gak ngerti?"
Kalo saya, karena biasanya kalo ditanya malah bales nanya  , jadi saya tanya balik aja deh...
"Kenapa keharusan belajar bahasa [Inggris/Jerman/Jepang/Prancis/dll] gak pernah dipermasalahkan?"
["Keharusan" disini bukan dalam artian diwajibkan sama pemerentah ya,
tapi harus dalam artian "wajib, terkait urusan yang hendak
dibereskan/tujuan yang hendak diraih".... ]
Kuliah gak bisa English? Sementara bahan-bahan materi kuliahan masih
banyak karya penulis asing? Kelaut tentunya... (atau ke pantai,
minimal). Mo menjalin bisnis dengan orang Hongkong jadinya harus
belajar bahasa Mandarin? Mo mikat si neng geulis jadi harus bisa Basa
Sunda dikit-dikit? Mo keliatan metroseksual jadi belajar slang-slang bahasa gaul? Keliatannya lancar-lancar aja tuh dijalani tanpa protes berarti...
Tapi... kenapa kalo terkait Islam jadi masalah?
Cuma titip pesen aja... jangan sampe sinisme terhadap Islam atau aturannya itu dimunculkan semata-mata berdasarkan sentimen terhadap Arab dan kebudayaannya.
Kalo ternyata dulu Alloh SWT memutuskan bahwa Rasul terakhirnya ini
turun di jazirah Arab, ya kitanya yang lantas ngikut belajar bahasa
Arab... supaya pemahaman terhadap Al-Qur'an, serta muatan ajaran Islam
secara keseluruhan, bisa lebih mendalam dan tepat...
"Atau.... hmmm.... Terjemahin aja Al-Qur'an nya biar gak susah?"
Hmm juga.... begini... Buat yang pernah ngerasain nerjemahin bahasa A
ke bahasa B, mereka pasti tau bener kalau proses translasi itu gak akan pernah bisa mengconvert 100% muatan dari materi aslinya. Banyak istilah yang cuma bisa dicari padanannya yang paling deket, alias penafsirannya dan bukan terjemahan tepatnya.
Untung lho, Al-Qur'an dipertahankan dalam bahasa aslinya, jadi gak timbul masalah-masalah terkait perubahan muatan karena terlalu banyak dialihbahasakan.
Akibatnya, sampe saat ini, setelah pemikiran manusia jauh lebih
berkembang dibandingkan 1400 tahun lampau, saat perkembangan teknologi
sudah sedemikian maju, maka penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an pun bisa
terus di-upgrade dan di-update, dilihat berdasarkan kerangka baru
sesuai perkembangan ilmu tafsir kontemporer. Pemahaman kita akan
muatannya pun jadinya semakin sophisticated. Kalau orang jaman dulu
mungkin bingung kenapa manusia itu dinyatakan tercipta dari "segumpal
darah" (QS Al-Alaq), maka teknologi kedokteran modern ternyata mampu
mengkonfirmasi dan menjelaskan lebih mendetail mengenai pernyataan
Al-Qur'an tersebut, seiring dengan berkembangnya pemahaman dunia akan
perilaku penyatuan sel, mitosis, perkembangan embrio, dll.
Bahwa Gunung diciptakan sebagai pasak bagi daratan? Baru bisa
dimengerti jelas ketika teori geologi mengenai pergerakan lempeng bumi
ditemukan... Bahwa ada laut-laut yang antara air tawar dan air asinnya
terpisah bagai ada tabir diantara keduanya? Baru bisa dibuktikan ilmu
pengetahuan ketika teknologi penginderaan dan penyelaman laut dalam
semakin maju.
Gimana kalo orang2 jaman dahulu terlanjur menerjemahkan istilah-istilah
yang asing pada jamannya ini ke bahasa mereka dijaman itu? (bahasa
Al-Qur'an dan bahasa Arab itu beda lho, walaupun based-on) Sehingga arti dan muatan sebenarnya dari ayat-ayat Al-Qur'an malah hilang terjebak dalam kelemahan pola pikir, perkembangan teknologi, kosa kata, kontemporer dijamannya, sedangkan tools-tools
tersebut sifatnya selalu obsolete dan terus berkembang dari waktu ke
waktu? Cilaka duabelas dong... ntar pemahaman kita terhenti di pola
pikir manusia dari suatu abad tertentu, bukannya fleksibel dan terus
berkembang...
Di sisi lain, pasti Alloh SWT memiliki maksud khusus ketika memilih
untuk memakai bahasa Al-Qur'an yang kita kenal sekarang ini. Mungkin
yang paling abstrak namun precise? Sekaligus paling fleksibel untuk di- porting ke bahasa manusia lainnya? Wallahualam, cuma Alloh yang tau.
"Porting?"
Kalau asing dengan istilah IT ini, silakan Googling atau Wikipedia-ing.
Saya pribadi merasa, ayat mengenai ilmu-Nya yang tak akan habis
dituliskan seandainya mempergunakan tinta sebanyak jumlah air di lautan
di Bumi, tidak semata-mata terkait pada jumlah atau ukuran kuantitas,
tapi juga terhadap persepsi atau pemahaman manusia atas ilmu-Nya.
Ilustrasinya begini...
Bisakah anda menjelaskan mengenai sebab-sebab pergerakan nilai saham di
pasar modal kepada anak anda yang berumur lima tahun? Mungkin saja...
tapi yang pasti tidak dalam "bahasa" yang sama dengan yang anda pakai
untuk menjelaskan hal yang sama pada kolega anda yang lulusan
universitas ngetop.
Kala anda melihat dari balik kaca, sepasang pria dan wanita sedang
bicara berhadapan dengan body language tegang, anda mungkin bisa
menduga apa yang terjadi... Tapi kala tools anda untuk mengindera lalu
bertambah, misalnya ketika anda lantas mendekatkan telingan ke kaca
untuk menguping, maka dari nada-nada suara tinggi dan bentakan-bentakan
sayup terdengar, anda bisa mengerti lebih jelas apa yang terjadi. Dan
kala kemampuan tools pengindera anda itu meningkat, misalnya ketika
anda akhirnya membuka jendela karena ingin mendengarkan langsung
perdebatan seru yang terjadi, maka anda bisa dengan lebih tepat
menyimpulkan apa yang terjadi... karena data yang anda dapatkan semakin
komplit. Tapi tetep... karena anda takut ditabok si wanita, atau
ditonjok si pria karena menguping terlalu dekat... katakanlah, dengan
pura-pura nunggu bis didepan mereka padahal anda sedang kemping di Puncak, maka informasi yang anda dapat tak
akan pernah 100% tepat.
Seperti itulah kasusnya jika antara emitor (pemancar) dan reseptor
(penerima) terdapat kesenjangan... dan dalam halnya hubungan Tuhan -
Manusia, kesenjangan ini terjadi dalam dimensi yang lebih akbar...
Tuhan dengan segala ke Maha-an nya, sedangkan manusia dengan segala
keterbatasannya... Bayangkan menayangkan gambar holografik ala Star
Wars melalui proyektor 3D (teknologi kita dah nyampe lhooo), dan
bandingkan dengan menampilkan obyek yang sama dalam media monitor
komputer biasa.... kesan 3D nya hilang kan, atau berkurang jauh. Lalu
bandingkan menampilkan obyek yang sama dalam monitor RGB tempo doeloe
yang cuma bisa menampilkan 4 warna, trus dah over-used? Tentu beda
hasilnya kan? Padahal aslinya image 3D Princess Leia Organa yang
meminta bantuan Obi Wan Kenobi... tapi yang muncul malah pixel art
bergerigi... blur pula.
Salahsatu alasan kenapa Alloh SWT dulu memilih bahasa Arab sebagai
basis bahasa Al-Qur'an, saya perkirakan adalah karena format bahasa
inilah yang mampu untuk menampung data secara mendalam, namun sekaligus
tetap fleksibel terhadap kemampuan pemahaman manusia dari masa ke masa.
Jadi sewaktu diturunkan pertama kalinya sudah bisa dimengerti, dan
ketika manusia semakin maju, maka lebih banyak lagi detail dan
pemahaman extra yang bisa digali.
Jadi kembali ke permasalahan diawal, aturan bahwa sholat itu dilakukan
dengan bahasa Arab, (selain karena sunnah Rasulullah SAW), saya
perkirakan adalah juga karena keterkaitan dengan kondisi, bahwa Islam
itu diturunkan dalam lingkungan berbahasa Arab, dengan dasar bahasa
Arab, dan contoh aplikasi / penjelasan dalam bahasa Arab juga... Suka nggak suka, beginilah faktanya.
Lagipula... dengan "paksaan" ini, bukankah lambat laun kita jadi bisa
mengerti bahasa Arab sedikit-sedikit? Ada maksud pendidikan juga dalam
aturan ini lho...
Kalau dari Jakarta mau nyampe ke Bandung, ya pergilah ke Bandung...
bukan nyuruh Bandung yang dipindah ke Bogor biar lebih deket yah...
Comments? Inputs?
Wassalam
Posted by Bayu on May 12, '06 12:18 AM for everyone 
*Inpired by Leonie's
Seberapa banyak dari kita yang lantas berpikir "hantu", manakala dihadapkan pada kata "Malam Jum'at"?.
INTRODUKSI
Dulu sewaktu masih duduk dibangku SMP, saya sempat terlibat
perbincangan rada seru soal pemakaian istilah "Malem Jum'at", "Malem Minggu", dll., dengan tetangga yang
kebetulan wong Jowo aseli dan baru beberapa bulan saja tinggal di Bandung.
Entah kenapa, si tetangga rupanya nggak mengerti konsep istilah dengan rumusan f(x) = "malam" + (nama hari) untuk mengacu kepada waktu malam sebelum hari yang dimaksud dimulai.
Padahal setahu saya, sedari kecil dulu, sudah ada kesepakatan tak tertulis mengenai hal ini.
Jadi... kalau menurut saya (dan lingkungan saya), "Malem Minggu" actually adalah "Sabtu
malam", maka buat tetanggaku ini, "malem minggu" itu ya berarti "minggu
malem", cuma beda susunan katanya saja.
[Anyway, pembicaraan yang gak penting sekaligus penting ini berakhir
dengan saya dan tetangga masing-masing tetep pada pendirian awal...
alias gak ada kata sepakat.]
Bertahun-tahun kemudian, pemakaian istilah yang sebenarnya rancu inipun
tetap saya pakai dengan gencar, toh istilah ini sudah saya dengar sejak
masih balita... dan orang-orang disekeliling sayapun kelihatan
sama-sama mengerti apa yang dimaksud. Jadi ketika terjadi percakapan
berikut dengan teman;
"Kapan atuh mau ketemuan teh?"
"Yaa.... Malem Rebo aja kali ya?"
Maka kita sepakat untuk bertemu dihari Selasa Malam, bukan Rabu Malam, tidak pernah ada kesalahpahaman. Namun mau nggak mau, pemakaian istilah ini tetep membuat saya
bertanya-tanya... kenapa koq (sebagian) masyarakat kita bisa sedemikian
terbiasanya dengan kerancuan ini...
Hingga pada suatu ketika, ada petunjukNya yang membantu pemahaman atas hal ini...
Suatu hari... setelah melaksanakan ibadah shaum (puasa) Ramadhan
bertahun-tahun, saya baru menyadari alasan "Kenapa pada malam terakhir
di
bulan Ramadhan tidak ada sholat tarawih?", adalah karena
pada malam itu menurut penanggalan Islam, sudah masuk bulan Syawal
alias sudah masuk penanggalan bulan berikutnya! Jadi dalam Islam,
penanggalan dan pergantian hari baru itu tidak terjadi pada pukul 00:00
dini hari sebagaimana konvensi internasional, namun dihitung semenjak tenggelamnya matahari... Jadi kenapa koq istilah
"Malam Jum'at" itu mengacu kepada Kamis malam, dan bukannya Jum'at
malam, adalah karena:
Hari Jum'at menurut penanggalan Islam, dimulai sejak tenggelamnya matahari dihari Kamis.
Jadi istilah "Malem Jum'at" kalau diartikan sesuai konteks kosakata lokal,
adalah mengacu pada penanggalan Islam yang berarti Kamis malam pada
penanggalan Masehi (Internasional).
HARI RAYA, TERKABULNYA DO'A, DAN KEKEJIAN IBLIS
Entah kapan mulainya... "Malam Jum'at" menjadi identik dengan malam
dimana setan bergentayangan. Dan kepercayaan inipun dianut oleh nyaris
seluruh kalangan masyarakat, termasuk (terutama) kalangan media hiburan
yang lantas menjadikan Kamis malam sebagai waktunya untuk memutar
tayangan seram dan berbau mistis. Jadilah image "Malam Jum'at" sebagai
malam hantu semakin melekat... Masyarakat cenderung takut untuk keluar
malam disaat itu, termasuk berlama-lama bangun malam karena takut
tiba-tiba dimalam yang spesial ini dia didatangi tamu dari alam lain...
hiiyyy.... Lebih baik tidur awal dan terhindar dari kemungkinan masalah
seperti itu. Kalaupun kita nggak terpengaruh dengan anggapan umum ini, ya bagus... Namun apa yang telihat seperti suatu kepercayaan yang harmless, bisa jadi memiliki aplikasi yang berbuntut panjang atau berdampak besar secara tidak disadari. Karena itulah harus diluruskan...
Berdasarkah titah-Nya, Hari Jum'at adalah Hari Raya nya ummat Islam! Hari yang
ditetapkan oleh Alloh SWT sebagai hari istimewa bagi ummat Islam, mendahului hari raya nya ummat Yahudi dan Nasrani. Oleh karena penanggalan Islam menghitung pergantian hari adalah semenjak
saat terbenam matahari, berarti Hari Raya ummat Islam ini sudah dimulai
semenjak tenggelamnya matahari dihari Kamis.
Mungkinkah di Hari Raya ummat Islam ini, setan-setan justru
berkeliaran merajalela?
Sebaliknya..! Beberapa hadist justru menyatakan bahwa pada
dinihari di hari Jum'at (Malam Jum'at), Alloh SWT secara khusus
menurunkan para Malaikatnya ke Bumi... "Malam Jum'at" sebenarnya adalah
saat dimana do'a mendapat kemungkinan yang lebih besar untuk dikabulkan,
"Malam Jum'at" menurut Islam, sebenarnya adalah malam yang paling baik
diantara malam-malam hari lainnya dalam suatu minggu!
Sedangkan pada kenyataannya di Indonesia saat ini... "Malam Jum'at"
adalah saat yang sangat identik dengan nuansa mistis yang negatif...
Hasil karya siapakah pemahaman yang salah ini? Apakah ini hasil program
propaganda terstruktur, yang selama berpuluh-puluh tahun melalui disebarkan di Bumi Indonesia untuk menyematkan image yang
buruk pada suatu malam yang sebenarnya sangat mulia? Sehingga banyak
orang (termasuk muslim) justru berusaha menjauhinya bahkan menakutinya?
(Clue: lihat judul bagian ini =P)
Soo... masih percaya "Malam Jum'at" itu malam yang mengerikan saat hantu berkeliaran? Think again...
foto dari http://i27.photobucket.com/albums/c198/thmfman

Posted by Bayu on Apr 16, '06 2:51 PM for everyone 
Entah karena benci, atau karena takut, kadangkala orang suka jadi
hostile. Kembali ke postingan sebelumnya soal lapisan kulit persepsi...
si dog whisperer bilang sama Oprah kalau kebiasaan anjingnya untuk
menyerang anjing lain, sebenernya muncul dari rasa tidak nyaman si anjing saat berjumpa dengan anjing lainnya.
Dan dalam kasus ini, si anjing memilih untuk jadi hostile... berupaya
mengusir si permasalahan sehingga nggak perlu dia hadapi.
Mungkin sama juga kasusnya dengan diri kita... alih-alih deal with the uncomfortable,
kadangkala kita malah nunjukin sifat agresif, sekedar buat menutupi
rasa nggak nyaman kita tersebut. Daripada harus menghadapi permasalahan
yang bakalan bikin gak enak... mendingan si sumber permasalahannya itu
yang dikerdilkan, hingga ukuran akhirnya cukup mudah buat ditelan...
atau injek-injek sampe rata sekalian dan jadi bukan ancaman samasekali.
Makanya sebenernya, bisa dibilang
bahwa rata-rata bully, tukang tindas, bersikap demikian justru karena
demi menyembunyikan rasa khawatirnya. Soalnya beda sama real "tough
guy", mereka biasanya kalem dan controlled, sampe tiba saatnya buat
"unleash the hell".
Ini juga yang seringkali saya amati dalam berdiskusi di dunia maya...
banyak orang yang cenderung bukannya berdiskusi tapi getting hostile at
each-other... mungkin karena merasa integrasi dirinya diusik, mungkin
merasa kepercayaannya sedang berusaha digoyahkan, mungkin takut
mengakui lawan diskusinya benar, mungkin karena ego... dan serangkaian
ketakutan dan kekhawatiran lainnya.
Memang nggak bisa dipukul rata... tapi saya liat sebagian besarnya bisa
dikelompokkan kesana. Terdesak diskusi lantas calling names? Nyerang
pendiskusi, bukannya materi diskusinya? Character Assasination?
Keliatannya di tiap diskusi hangat selalu ada aja orang-orang yang
bertindak sedemikian.
Terkait dengan menghadapi para hostile ini, dan terhadap pertempuran online secara general, maka secara pribadi, saya punya tiga
pilihan; cuekin, lawan, atau bimbing. Yang pertama gampang, tinggal
tutup mata dan click close window atau browse ke halaman lain... Yang
dua berikutnya rada rumit... untuk bisa melawan, arsenal
persenjataannya harus lengkap; fakta, logika, POV, kecermatan, dan
sedikit kemampuan untuk menduga2 mengenai lawan diskusi kita. Yang
menarik adalah saat lawan diskusi kemudian lengah atau terdesak, dan
kemudian pertahanannya turun... disini kita bisa pilih untuk
"membunuh".... atau mengupayakan hasil akhir yang lebih bijak... yaitu
pilihan ketiga, membimbing, dimana kita kurang lebihnya "mengconvert"
pemahaman si lawan diskusi. Tapi jarang bisa sampe ke titik ini, jarang
ada orang yang mau mengakui terang2an kalau dia salah... atau bahwa ia
merasa si lawan diskusi sebenarnya memiliki point2 yang ia setujui.
Kalau karena pertimbangan terakhir tersebut lantas kita menerapkan
bahwa tiap pengacau itu harus "dibunuh"... bisa jadi kita memperoleh
kepuasan bathin dari merasa menang, tapi jangan lupa... dampak sampingnya adalah anda bisa juga memancing
permusuhan berlarut-larut... hal yang pasti akan mengganggu jika tidak
sekarang, mungkin dimasa-masa mendatang.
Walaupun tetep, terkadang, ada point penting yang harus ditekankan sehingga ada saat-saat dimana ungkapan ini berlaku...
"One enemy is too many... but some few are unavoidable."
Just pick ur battle wisely lah...
foto dari: http://www.istockphoto.com/

Posted by Bayu on Apr 5, '06 3:13 AM for everyone Pada suatu statement keluaran GE Consumer Finance...
Pembayaran - xxx.xxx
Bea Materai Lunas - 3.000
Biaya Via ATM Bank Niaga - 5.000
Lho?!?
Dasar gendeng... Udahlah kena biaya dari Bank buat bayar ke rekening
kartu kreditnya, eeh... sama CC (Credit Card) issuernya ditarik lagi
biaya! Belon lagi sejak awal taun ini, minimal payment secara nasional
naek dari 5% jadi 10%... yang mana berarti dobel pengeluaran, buat mereka yang nyicil bayaran CC. Huh!
Hal lainnya, seperti kasus tempo hari di bank XXX'46 (hehehe), pas mau
masukin dana ke rekeningnya paman, gw kena charge karena gw bukan sipemilik rekening. Atau sebelumnya di bank (L**O?), dimana setor untuk rekening beda cabang kena biaya tambahan juga...
Blah... biaya-biaya "duit preman" macem gini nih yang bikin neq... dan
yang makin bikin sadar bahwa mo dikatain gimana keq, Bank itu badan bisnis mutlak berorientasi profit, yang mana kalo mungkin, kita ngisep AC di ruangan teller dia aja bakalan diduitin dehhh.
[NGEDUMEL MODE ON]
Posted by Bayu on Apr 5, '06 12:40 AM for everyone Bandung... dulu jalan-jalan di sepanjang jalan Dago bukanlah hal yang
memberatkan, karena selain sejuk, lingkungannya asri, juga belum banyak
kendaraan lalu-lalang. Buahbatu pada tahun 80-an adalah lingkungan
suburban yang mayoritas komposisinya adalah tempat hunian, biasanya jam
8 malem udah sepi. Buahbatu sekarang? Hehh... jangan tanya... jalan
yang tadinya adalah rute alternatifku berangkat sekolah ini, sekarang
udah luar biasa padetnya. Apalagi sekarang selain dari bengkel,
institusi pendidikan, kantor lainnya, udah banyak pula bertumbuhan
tempat-tempat bisnis yang cenderung membuat jalanan semakin macet.
Apalagi dengan semakin berkembangnya Bandung Selatan sebagai daerah
hunian.
Apa yang masih tercetak dipikiran kita mengenai masa lalu yang indah,
sudah pasti tidak akan pernah kembali. Kalaupun kita berusaha untuk
menciptakan masa kini yang seperti dahulu, kelihatannya nggak mungkin
juga. Dunia berkembang, tanpa akan pernah memutar balik... Mungkin
terkadang jejak masa lalu bisa tiba-tiba muncul lagi kepermukaan
sebagai suatu cetusan trend yang fashion, atau sekedar sebagai kulit
dan baju dari suatu ide kontemporer lainnya... Cetusan dunia mimpi
sesaat... atas sesuatu yang dulu pernah melekat indah.
Waktu-waktu bersama keluarga... suka dan duka, apapun itu, bisa jadi
suatu pisau yang mengiris tajam kala kembali dalam ingatan, terlebih
bila pada saat ini para aktor dalam ingatan tersebut sudah pergi untuk
selamanya... Manusia akan selalu bergerak bersama waktu dengan
membawa-bawa serangkaian muatan bernama... memori. Dan dalam masa
perjalanannya tersebut, manusia secara rutin akan dikunjungi
hantu-hantu dari masa silam. Baik itu kenangan buruk, atau penyesalan
yang datang terlambat... atau bisa juga kegembiraan masa silam yang tak
akan pernah bisa kita raih ulang...
Belajar dari pengalaman... tentunya kita bisa merancang serangkaian
rencana untuk diterapkan dimasa mendatang... rencana yang akan
meminimalisir munculnya hantu-hantu masa silam tersebut... Masa lalu
takkan pernah kembali, tapi bukan berarti esensinya tidak akan pernah
berulang... Tiap masa memiliki cirinya sendiri... tiap masa adalah
sesuatu yang baru... tiap masa menjanjikan kesempatan yang baru...
petualangan yang baru... KEGEMBIRAAN dan KEBAHAGIAAN yang baru...
Dan apa yang kita lakukan semata-mata adalah "merajut hidup" dari hari
kehari dengan benang-benang baru yang datang seiring waktu yang terus
bergulir... masa lalu mungkin menghantui, tapi jangan melulu ngeliat
kebelakang doong... ntar kejeduk...
Jangan tunggu hidup untuk mendatangimu... lakukan SEKARANG apa yang
membuatmu merasa hidup, apa yang menurutmu terbaik untuk dirimu dan
prioritas2mu dimasa sekarang dan mendatang... sehingga kelak nanti,
memori masa lalu tidak akan lagi muncul sebagai hantu... namun sebagai kawan...
Hiks... kangen masa-masa silam waktu masih ngumpul serumah...
Posted by Bayu on Mar 19, '06 8:58 PM for everyone 
"Seperti telah saya uraikan diatas", sambung saya di presentasi tugas kuliah itu.
Dan pak dosenku yang baik hati (pun intended), spontan melirik keatas ruangan...
"Mana? Nggak ada tuh?" katanya sambil (sok) meneliti langit-langit diatas...
Sayapun mendadak serasa ingin garuk2 meja (aspal jauh, gw di lantai tiga bo')
"Euh, maksud saya, di penjelasan alinea sebelumnya pak", jawabku membela diri
"Ya kalau begitu, nyatakan seperti itu!" sahut si pak dosen dengan raut muka dingin
"Anda kan siswa desain interior, tentu mengerti mengenai konsep ruang kan?", or something alike, but close enough...
"Euh, iya pak", sahutku antara bete dan merasa beliau benar juga.
"Kala anda bicara di presentasi seperti ini, kala hadirin diruangan mendengarkan anda berbicara, bukannya membaca makalah, maka pemakaian kata 'diatas' atau 'dibawah' harus dicermati dengan benar...", sambung pak dosen memberi penjelasan.
"Supaya, apa yang anda bicarakan bisa tetap benar dan sesuai konteks...
" sambungnya sambil tersenyum penuh kemenangan, mengakhiri pembicaraan.
"Baik pak, masukan saya perhatikan", kataku rada dongkol, sambil menyoret kata "diatas" pada halaman-halaman makalahku...
Semenjak saat itu, sekitar sepuluh tahun lalu, akupun berhenti
mempergunakan istilah "diatas" atau "dibawah" untuk ilustrasi navigasi
dalam tulisan, dan lebih memilih untuk menggunakan istilah "di
bagian sebelumnya" atau "di alinea sebelumnya", or something alike.
foto dari: http://image.blog.livedoor.jp/r_hmh/imgs/b/9/b940794c.jpg

Posted by Bayu on Mar 7, '06 5:29 AM for everyone 
Semalem sehabis ketemuan buat ngobrolin acara RCP2, ketika ngeliat
kulkas mungil gw gak ada aer dinginnya, maka gwpun mengambil salahsatu
botol plastik bekas Mizone, yang gw isi ama beberapa butir anggur sisa
minggu lalu. Beberapa butir anggur dingin, cukup buat menyejukkan perut
bukan? Yepp....
Tapi tau apa yang kemudian terjadi waktu gw buka tutup botolnya?
DUAAAARRR !!!!
Yepp... terjadi ledakan! Botolnya masih utuh tapi isi anggurnya
bertebaran dan berceceran dilantai sekitar kulkas... rata2 bentuknya sudah membesar 2X lipat
ukuran asli, tapi masih berbentuk anggur. Tercium juga bau khas dari
gas, dan karena itu perkiraan awal gw menyimpulkan adanya penumpukan
gas metan didalem botol yang tertutup rapat itu, dari anggur yang
terlalu mateng dan lantas membusuk.
Segera gw lakuin self-check, apa ada bagian tubuh gw yang luka?
Baik
oleh ledakannya maupun oleh lontaran proyektil tutup botolnya,
kali-kali perlu ke UGD ditengah malem begitu? Soalnya dari pengalaman
gw yang dulu rutin kecelakaan, biasanya luka sobek itu gak akan
langsung kerasa, tapi ada delay sampe beberapa detik setelah
kejadian... Biasanya "sensasi rasa"nya adalah sebagai berikut: ba'al
(mati rasa), hangat (ketika darah mengalir dari luka), baru setelah itu
ada rasa pedih (karena luka)....
Gwpun beranjak jalan
kedepan cermin, dan mulai meneliti... Kacamata gw masih utuh, ternasuk bola mata dibaliknya... pun di
dahi atau bagian badan lain juga nggak ada yang terlihat salah... so
keliatannya nggak ada luka... Syukurlah.... Tapi yang kemudian kerasa paling sakit adalah
telapak tangan kanan gw yang nerima langsung ledakan itu... lukakah?
Dari pengamatan, gw perhatiin daerah telapak tangan sekitar pangkal telunjuk itu masih kotor
sama serpihan2 sisa anggur. Segera setelah dibersihkan, maka
keliatanlah kulit yang mulai menggembung bengkak, disertai dengan pola warna
sulur-sulur yang makin menghitam... Oh... perdarahan dalem rupanya.
Segera aja tangan itu gw cuci dengan air bersih, sambil merasa-rasa
lagi apa ada bagian lain yang sakit, untungnya nggak ada. Kulkas gw
juga masih utuh... jadi efek sampingan lainnya, palingan sekedar gangguan suara ke
tetangga sebelah kamar... (But I would never know that, since we have no
diplomatic connection dan dia lebih suka ngomel2 ke pembantu pas gw gak ada).
Untungnya dalem kulkas masih ada genangan air tetesan freezer yang dinginnya
minta ampun. Segera saja tangan yang mulai membengkak ini gw rendam
dalem air tersebut, dan rasa sakitnyapun berkurang.
Sedangkan satu botol isi anggur lainnya yang masih tersisa, membuat gw
amat parno... dan dengan hati-hati gw pindahin ke tempat yang sekiranya
lebih aman. Kedua botol itu memang sudah menghuni kulkasku lebih dari
semingguan... dan selama itu mereka ditempatkan di rak dengan mulut
botol yang menghadap keluar, mengarah tepat ke badan gw saat buka pintu
kulkas... Apa jadinya kalau botol2 itu meledak disaat gw melakukan
kunjungan rutin nengok isi kulkas? Wheww....
Setelah agak lama
direndem, treatment pengompresan itupun gw akhiri. Tapi buat mencegah
supaya nggak lebih bengkak, maka gwpun tidur sambil memegang segelas
kecil air mineral dingin.
Paginya, tangan udah kerasa jauh lebih baik... tinggal sakit sedikit aja dan keliatannya
pembengkakan berhasil dicegah, yippee!. Gak ada gumpalan darah, atau tanda-tanda
darah macet yang harus dikeluarkan dengan paksa, warna kulitnya juga
dah normal lagi, Alhamdulillah.
Si botol yang tersisa itu tadinya mau dibuang aja, tapi gimanapun gw khawatir
juga kalau-kalau ada orang laen yang malah kena getahnya (Kepikiran
kalo punya pistol maka bisa gw tembak aja dari jauh... hehehe). Tapi
akhirnya karena toh harus ditangani, maka gw pun berusaha untuk
melepaskan gas dari dalem botol itu, sambil coba mengamankan sebisa
mungkin proses defusing tersebut.
Bungkus pake kaen tebel, pegang botolnya dengan kuat, sanderin ke alas
besi, sambil kencengin otot-otot tangan seakan mau meres kering cucian
celana jeans... (tapi pelan pelan tentunya...)
"PSSSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHH....." Terdengar suara dari udara bertekanan keluar
dari mulut botol, segera setelah gw memelintir tutupnya beberapa
milimeter... Alhamdulillah... Melihat pengeluaran gas yang ternyata bisa secara gradual,
maka gwpun gak khawatir lagi... Gak lama kemudian tutup botolpun gw
buka sempurna, semua gas keluar, dan yang tersisa hanyalah udara beraroma anggur busuk...
Misson accomplished!
Besok2 gw puasa dulu dari nyimpen buah seger dalam kulkas, dan stick to jus Buahvita, atau Berri... Ngeri meeen.

Posted by Bayu on Mar 4, '06 1:32 PM for everyone 
Dimulai dengan marahan dulu ama Ade, akhirnya gw nyadar diri ada yang lagi kangen, dan dah lama gak nonton konser. Awalnya sih gw nolak abisss... kenapa?
Pertama, Titi DJ walaupun termasuk Diva tapi dia bukan favorit gw, just
"not my cup of coffee" gitu, bukan apa-apa... Titi Kamal atau Titi Nur
Haliza (ih maksa) masih lebih mending lah.
Kedua, mengenai kata "konser gratis". Dua kalimat itu kalau dipadu
akibatnya bisa luar biasa berbahaya buat mahluk Phlegmatis Melankolik
macem gw... Emang sih gw berpedoman pada konser2 macem Slank atau Iwan
Fals yang tak jarang harus bayar aja tetep heboh dan ricuh... Dalam
bayangan gw, konser Titi DJ inipun bakalan penuh sesak dengan manusia;
ada fan(atics) berat, ada yang bau ketek, ada yang bau mulut, ada yang
sekedar manfaatin gratisnya, bahkan ada juga yang copet... males banget
kan?
Ketiga, masih banyak "Tasks" yang belon kecontreng di PDA gw, mostly
dah overdue semingguan. Jadi wajar dong kalau gw mikir mendingan
beresin kerjaan daripada nonton konser?
Tapi yah, akhirnya kamipun memutuskan buat berangkat juga ke Plangi,
walau dengan wanti-wanti kalau yang ngantri banyak dan desek2an, aku
tetep gak mau! Dan Ade setuju, a deal is made...
Begitu kita mo nyetop P19 yang lewat Semanggi, Ade pun nanya...
"A, emang konsernya hari ini yah, bukan besok?"
Wa Dzigh! Gw speechless... informasi sepenting itu kenapa gak dicari
dari tadi? Tapi toh dah dipinggir jalan ini, dan lagi kalo ke Plangi
bisa sholat dulu... jadilah kamipun berangkat kesana.
Sampai di Plangi, Ade nanya Information Centre soal konser ini, dan
dapet informasi yang bisa memperparah posisi gw dalam deal ini: Bahwa
betul malem itu ada konser gratis, tapi yang manggung bukanlah Titi DJ
melainkan Rossa dan Ruth Sahanaya.
Titi itu besoknya, bareng Ikke Nurjannah. Karena Ruth ini menempati
posisi cukup tinggi dalam daftar penyanyi favorit Ade, maka ngedenger
ini tentu aja Ade
makin nelangsa dan berharap banget bisa nonton... yang mana gw bakalan
makin gak tega kalopun nanti perlu tegas...
Sampe didepan lobbynya Balai Sarbini, ternyata yang ngantri dah banyak.
Terlihat Neneng pacarnya Agus (Jomblo) dapet prioritas buat masuk
gedung duluan. Dan ternyata semua pengunjung yang ada disitu datang
sambil bawa tiket masuk. Lha.. katanya gratisan? Setelah dikonfirmasi
ternyata walaupun gratisan tapi tetep ada tiket yang harus diambil di
ANTV. Maka kitapun sholat Maghrib dulu sambil mikir next stepnya gimana.
Sambil nggak lupa, mencoba "jalan belakang" dengan ngontak Uthe
(Regina, bukan Sahanaya) selaku "orang dalem" nya ANTV. Sayang banget
Uthe gak bisa dihubungi... nggak aktif kata si voice message... atau mungkin juga
phonebook gw yang dah gak up to date...
Sesudah sholat, Ade pun nanya salahsatu panitia dan menurut si mbak,
emang gratis dan gak pake tiket juga gapapa. Namun demikian ngeliat
semua yang dateng itu bawa tiket, keder juga lah gw... Dan kamipun
mendekat kearah pintu gerbang dimana tiga orang sekuriti bertampang
serius, menyelidik pengunjung ala bouncer di club2 di film2 Holllywood,
yang nentuin siapa boleh masuk siapa nggak. Kamipun makin mendekat ke
gerbang... Tiba-tiba
"Bay, Bay?! Eeh dateng juga?" Sesosok pria besar menyapa gw dari sisi pagar bagian dalam.
Rupanya sobat SR gw, Bo'im,
pianisnya Mulia Senayan (udah jago nyanyi dan maen kibor sejak
empatbelas taun silam saat pertama gw kenal dia), sedang mendampingi
seorang temen kampus lain, Adit, yang ternyata malem itu bakalan maen
mendampingi Ruth Sahanaya di show jam 10.
Jam 10? Weleh... Ade mana sempet nonton dong? Paling malem dia bisa naek AC44 kan jam 9? Dilemma baru buat kami berdua...
Ngobrol dikit sama Bo'im yang keliatannya bawa ekstra tiket,
berhasil ketauan kalau do'i mo balik ke Senayan dan gak ikutan
nonton... Strange, padahal dia fans beratnya Ruth. Pasti karena bentrok
jadwal manggung dia sendiri. Namun dari data ini pula maka gw melihat
ada kemungkinan bisa minjem tiketnya Bo'im toh dia juga gak akan make
bukan?
Setelah dia keluar pager depan with Adit cs, gwpun bertanya... "Im,
punya tiket lebih nggak?" Dan doipun dengan rada mengomel bilang kalau
tiket2 yang dia pegang itu (enem biji kali?) adalah buat temen-temennya
yang dah nunggu. "Tapi masih ada sisa nih" katanya sambil menyerahkan
dua tiket masuk ke gue diiringi senyum ramah khas Bo'im.
Yiihaaa!
Kamipun berterimakasih berat sama doi, dan lantas ikutan
antrean masuk. Mission accomplished! Tinggal mikirin gimana ntar urusan
Ade pulang, urusan kami belum makan malem, dan urusan lainnya... yang
penting bisa masuk dulu buat liat suasananya kayak gimana jadi gak
penasaran lagi.
Anyway, jadinya malem itu gw menghabiskan sekitar 150 shoot untuk membidik Rossa dan Uthe.
Sayangnya, cuma sekitar 60an yang dianggap berhasil, 40an yang laik
tayang... lainnya kebanyakan blur karena goyang... atau telat jepret...
Btw, ini adalah pertamakalinya setelah cukup lama gw gak motret event
pagelaran macem gini.
Jadi kangen ama masa dulu waktu suka hunting pake
SLR, yang sekarang dah raib digondol maling...
Thanks ya Bo'im buat makes Ade wishes comes true
Oh iya... Sedikit catatan pemotretan:
+ Perhatiin banget masalah shutter-lag
kalo mo jepret sebuah aksi. A 400 gw ini punya sekitar 0.25 detik
shutter lag, buat potret biasa ya gak masalah, tapi kalo buat nangkep
aksi
gerak cepat, ini bisa berarti scene yang kita buru bakalan kelewat kalo
nggak ngantisipasi dengan tepat kapan harus neken tombol shutter...
+ Ikutin ritme obyek
foto biar bisa memperkirakan apa yang bakalan dia lakuin next
(merentangkan tangan? ngadep sini? ekspresi wajah dramatis?), jadinya
bisa siap-siap jepret pada saat yang tepat, arah yang tepat.
+ Flash still kills...
walaupun masih ada sumber cahaya lain buat mengimbangi, hasil jepretan
pake flash rata-rata bakalan tetep berkesan "flat", datar... jadi
mendingan naekin ISO seoptimal mungkin.

Posted by Bayu on Feb 28, '06 5:25 AM for everyone 
"Dua hari mas", begitu jawab si penjaga counter atas PDA yang lagi aku timang-timang itu.
"Hmm... cukup bagus dong?", seruku dalam hati, mengingat desas-desus
yang beredar soal PDA Phone Thera Verizon yang konon cuma bertahan
hidup selama 4 jam saja. Padahal siapa yang mau kesana-kemari bawa PDA
tapi juga harus selalu bawa-bawa charger?
Tapi beranjak dari pengalaman terdahulu kalau penjual itu kebanyakan
penipu, maka plus-minus dari informasi ini aku pertimbangkan dengan
catatan... bukan untuk ditelan mentah-mentah. Dan walaupun kekuatan
baterai merupakan salahsatu faktor penentu, kita tinjau dulu
karakteristik dasar dari sebuah perangkat yang bernama PDA ini supaya
nggak ada kesalah pengertian.
Oh iya, ini PDA dari jenis PPC yah
(Pocket Personal Computer), jenis yang pastinya akan dianggap hina dina
oleh para pengguna Palm OS dengan segala kekurangan (dan kelebihan)
uniknya ini. Obyek percobaan disini adalah PPC Toshiba e740ku, dengan
usia cukup muda, processor 400 MHz, dan lain-lainnya yang kurang
relevant untuk dibahas disini.
Beragam jenis memori pada PDA
Ketika tiba dirumah, setelah proses initialisasi berhasil (ngisi data
pribadi, set tanggal dan waktu, timezone dll.), gw lantas mencoba
feature Hard Reset sebagai latihan penanggulangan bencana dalam mengenal feature paling sering bawa sial ini. Bawa sial? Yah... satu hal yang gw akhirnya sadari dari perangkat nan-canggih ini adalah Hard Reset pada PDA fungsinya sama dengan Hard Drive Format pada PC.
Begitu hard-reset ini diaktifkan, niscaya anda seperti memiliki PDA
yang baru, fresh, dalam artian, semua data anda hilang secara permanen
dan anda harus mulai dari awal (termasuk setting tanggal dan waktu).
Kenapa demikian?
Masalahnya begini.... Sebagian besar PDA pada usia2 kelahiran seperti PDAku ini (2003), dibuat hanya dengan dua macam memori: ROM dan RAM,
tanpa Flash memori atau media lainnya untuk penyimpanan data secara
permanen! ROM sebagaimana dicerminkan oleh artinya (ROM - Read Only
Memory), memiliki arti bahwa muatan dari memori jenis ini adalah
permanen dan tidak dapat diubah dengan cara-cara biasa. Sedangkan RAM
(Random Access Memory), sebenarnya adalah jenis memori yang sudah
familiar bagi para pengguna PC dari jaman baheula... ia berguna dalam
menyediakan memori "kerja", namun begitu aliran listrik terputus maka
semua ingatannya tersebut hilang.
Familiar dengan teriakan2 perang, atau koor seriosa dikantor anda kala listrik tiba-tiba mati sedangkan kerjaan belum di-save?
Sesuai dengan sifatnya tersebut, pada PDA pun ketika pasokan listrik
terputus dari RAM, maka otomatis isi RAM akan terhapus. Yang membuat
kondisinya lebih parah dari PC, adalah karena RAM pada PDA berfungsi juga sebagai media penyimpan (storage) data.
Iya betul, data keuangan harian yang anda susun selama seminggu penuh,
data appointment di kalender anda, buku alamat dan nomer telepon,
sekaligus dengan segala program aplikasi yang sudah pernah anda pasang?
Semua ini akan hilang lenyap ketika anda iseng bermain-main dengan PDA
anda dan tiba-tiba mendapati layarnya mati serta baterai PDA sudah
terlepas dan jatuh dilantai karpet (pengalaman pribadi)... Pada
saat-saat demikian, barulah ungkapan "SAVE OFTEN" benar-benar terngiang
dikepala anda, dibalik tatapan mata nanar tersebut.
Untuk itulah, nyaris semua pengguna PDA akan memiliki juga sejenis
kartu memori semacam MMC (Multi Media Card), SD (Secure Digital), atau
CF (Compact Flash) sebagai media penyimpan data yang lebih bisa
diandalkan karena kemampuan menyimpan datanya walau tanpa ada aliran
listrik (mirip Hard Disk pada PC). Memang pada masa kini, PDA keluaran
baru rata-rata menyertakan juga built-in memori jenis
Flash, yang kurang lebih bertindak seperti memory card yang disebutkan
tadi. Namun biasanya ukurannya terbatas, dan tidak bisa diupgrade.
Tetapi hal inipun tidaklah secara otomatis menghapus permasalahan
keamanan data pada PDA, karena ketika hard reset terjadi, walaupun
Windowsnya tidak ikut hilang, namun segala setting dan modifikasi
Windows yang telah anda lakukan akan turut hilang. Karena itulah
diperlukan untuk selalu melakukan backup data secara rutin.
Backup data ini sendiri bisa dilakukan dengan independent, tanpa
bantuan PC, dimana data dari RAM akan diduplicate dan disimpan dalam
suatu file di memory card anda. Pada saat terjadi musibah, dengan
adanya backup ini maka PDA anda akan kembali 100% seperti saat ia
sebelum meninggal (tapi tergantung kapan anda buat backupnya juga
dong). Maka dari itu, kegiatan backup adalah suatu hal yang harus rutin
dilakukan oleh para pengguna PDA.
Alternatif backup lainnya adalah backup ke PC melalui program
ActiveSync. Dengan metode ini, maka anda memiliki backup data yang
tersimpan lebih aman dalam PC anda (tentatively tentu!).
Jadi, aturan pertama bagi para pengguna PDA adalah... SAVE OFTEN!
Selanjutnya, pembahasan akan dilakukan terkait dengan penelaahan atas
mahluk apa itu gerangan PPC (Pocket Personal Computer), dan apa
perbedaannya dengan PC biasa?
Pocket PC?
Dari segi cara kerja, PPC memiliki sistem dan logic kerja yang sama
dengan desktop PC pada umumnya (atau Notebook). Bedanya pada PPC, OS
(Operating System) tersimpan dalam ROM dan tidak bisa diupgrade dengan
cara-cara normal. Maksudnya, jika PPC yang anda miliki memakai OS
Windows CE 2002, maka kemungkinan besar ia tak dapat diupgrade menjadi
OS dari seri lebih baru lagi, katakanlah Windows Mobile 5, walaupun
spec hardwarenya mungkin masih mendukung.
Namun walaupun memiliki kemiripan dengan PC biasa, hal ini tidak
berarti semua program PC bisa dipasang untuk PPC juga, salah besar! PPC
adalah dunianya sendiri dengan aturannya sendiri, dan software-software
yang dibuat khusus untuknya. Namun untungnya, format file yang dipakai
adalah sama dengan PC... Artinya, anda bisa membuka file2 kerjaan anda
di PPC ini, cute eh? Walau tentu karena perbedaan-perbedaan yang ada
maka tidak berarti file akan diconvert 100% sama persis... Tapi on
overall bisa dilakukan dan dengan hasil cukup baik (no data loss but
perhaps formulas and formats).
Saingan dari sistem PPC ini, sudah tentu tak lain adalah Palm based PDA
("Palm" singkatnya). Bagi yang masih awam tentunya bingung dan tak
terlalu peduli akan perbedaan ini bukan? Lagipula apalah bedanya?
Palm merupakan brand kenamaan dan pemain utama dalam dunia PDA. Bahkan
Palm adalah perusahaan pioneer pemroduksi PDA. Palm OS memiliki ciri
khas ukuran yang kecil, sehingga membutuhkan resource yang jauh lebih
kecil pula... Processor yang tidak usah terlalu kencang, media
penyimpanan yang tidak usah terlalu besar, dan tentunya, baterai yang
tidak usah terlalu besar sehingga rata-rata Palm PDA memiliki ukuran
yang tipis dan mungil. Data pada PDA Palm juga konon tidak akan hilang
walaupun pasokan listrik baterai terputus!
Namun karena dibuat tidak berdasarkan paradigma Windows, maka Palm
memiliki karakteristik berikut, yang cukup merepotkan buat mareka yang
terbiasa menggunakan PC berbasis Windows untuk pekerjaan sehari-harinya:
+ No Multitasking, anda hanya dapat menjalankan satu macam program dalam satu waktu.
+ Komunikasi data yang buruk dengan desktop PC; tidak semua file dari
PC anda bisa dibuka pada Palm PDA, juga sinkronisasi data tidak
berjalan sempurna. Kalaupun bisa, hanya dicapai melalui software dari
pihak ketiga bukannya feature standard.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mengutip ucapan seorang
rekan yang pro-Pocket PC: "Palm adalah PDA yang bagus, sebagai sebuah
alat organisator... Tapi siapa sih yang butuh
PDA secara stand-alone, sekedar sebagai organisator saja?"
Sinkronisasi data dengan PC adalah salahsatu masalah utama Palm PDAs,
terlepas dari bagaimana efektifnya dia dalam bertindak sebagai asisten
pribadi kita.
Lalu gimana kaitannya dengan pernyataan pembuka mengenai "baterai tahan
dua hari?". Apa artinya? Apakah itu suatu performance yang spektakuler
untuk sebuah PDA PPC?
(Bersambung...)

| |