Bayu's posts with tag: epicurean diary

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag epicurean diary
Posted by Bayu on May 3, '08 4:06 AM for everyone
Kunjungan tadi malam ke Mall Ambassador menuntun gw dan isteri untuk bernostalgia, makan di warung padang di deretan warung penghuni jalanan sempit belakang mall. Aneka ragam makanan tersaji di jalanan ini, mulai dari mie baso, mie ayam, ketoprak, soto betawi, gado-gado, sate, ayam bakar, dan jenis-jenis makanan kakilima lainnya. Kalau siang hari kerja, bisa dipastikan lokasi ini akan dipenuhi oleh aneka ragam manusia, mulai dari mbak dan mas OB, para pegawai toko di mall, hingga ke penghuni-penghuni kantor di bilangan Mega Kuningan yang relatif tampil keren-keren.

Di jalanan sempit inilah, terletak salahsatu warung padang langganan gw sejak taun 2003; RM Gantino. Dulu ditempat ini, menu favorit saya seharga Rp. 4500 rupiah adalah nasi plus telor kembung. Ada faktor-faktor pengiritan memang, tapi jangan lupa juga kalau pada dasarnya saya ini adalah seorang maniak telur dadar.

Kunjungan kami kemaren sore, ternyata membawa sedikit perubahan dari skenario standar kami. Walaupun isteri tetap makan di warung padang ini, namun perhatian gw nggak bisa lepas dari warung seberang yang keliatannya baru beberapa lama saja buka; "Warung Empat Belas Tiga" Mas Andi. Hidangan utamanya? Nasi Rawon!

Wah, berani juga masang Rawon jadi menu utama... Soalnya warga Jakarta keliatannya nggak terlalu tergila-gila dengan soto berkuah hitam kecoklatan ini. Anyway, karena penasaran dan sampe saat ini masih belum nemu jualan Rawon yang berkelas juara, nekadlah gw menyeberang ke warung itu dan memesan satu porsi Rawon komplit untuk dimakan di warung padang nemenin isteri.

Waktu dateng, hidangan Rawon nya terlihat cukup menggoda; kuah pekat kehitaman, dengan lapisan tipis minyak di pinggiran kuahnya. Porsi cukup generous, dan smells good. Ternyata porsi standarnya hadir tanpa telur asin. Jadilah gw memesan tambahan telur asin ini supaya sensasi makan rawon nya lebih yahud.

Ketika diciduk, Rawon ini ternyata menyimpan kejutan lain; permukaannya penuh ditutupi oleh irisan layu cacahan bawang daun. Ketika diseruput, ternyata panasnya luar biasa. Bleh... kepaksa deh tahan liur dan tiup-tiup dulu... Namun demikian, sempet kerasa sensasi rasa kuahnya yang rich sekaligus gurih... exciting! Dan bener saja, ketika sesendok kuah itu sukses diseruput, sensasi rasa yang tadi sempet hadir sekilas, kini hadir sekuat tenaga! Kuah rawon yang gurih, dengan emulsi keluwak dan bumbu entah apa lagi yang berpadu dengan klop dan menciptakan sensasi rasa khas rawon dengan sedikit tendensi kearah pahit, ditingkahi juga dengan sekilas rasa manis dari bawang-bawang layu tadi. Tidak terlalu pekat tapi sangat enjoyable, wow! Seruput lagi ahhh....

Waktu menyendok potongan daging sapinya yang melimpah juga, ternyata bumbunya meresap dengan sukses diantara serat daging yang empuk minus lemak ini. Seketika itu juga, langsung saja otak gw menampilkan data-data pembanding dari sekian belas mangkuk Rawon yang pernah gw santap di seantero Jakarta ini.

Kesimpulan para juri di kepala gw adalah anonymous; this is my Champion!

Setelah nyaris putus asa nyoba aneka rawon di Jakarta, kecewa dengan rawon-rawon berlemak di pinggir jalan, kecewa dengan Rawon Setan Saharjo yang katanya jawara di Surabaya sana (duapuluhlima rebu perak pula), sekarang semangat gw kembali muncul!

Yang lebih seru lagi, adalah waktu gw tanya berapa harga total yang harus gw keluarkan untuk semangkuk Rawon fantastis plus Telor Asin yang sangat nendang tersebut?

Limabelas ribu? Tujuhbelas ribu?...

"Sepuluh ribu mas" jawab si Ibu
"Heh? Udah sama telor asin nya bu?" jawab gw kaget
"Iya mas, sudah"

"Wow!" reaksi gw, walau cuma dalem ati. Mengingat, selain kuahnya yang mantap, potongan daging yang disertakan juga cukup generous. Sepuluh rebu aja? Perut kenyang hati gembira dompet tetep sehat dong. Andai saja si Mas Andi ini berjualan di Tebet, Kemang, atapun daerah jajanan lain yang happening (dan lebih mudah dijangkau), dijamin si ibu akan segera punya banyak pelanggan yang fanatik, walaupun harganya dinaikkan 50% sekalipun.

Lantas gimana soal stikernya? Merunut dari pengalaman ini dan pengalaman yang sudah-sudah sih, gw kepikiran aja nih untuk bikin semacem stiker by Epicurina, buat ditempelin di kios-kios atau gerobak-gerobak kakilima, khusus buat mereka yang gw / juri lainnya anggap "lulus" ujian food tasting. For free tentunya, karena tujuan utamanya buat ngasi tau khalayak Good Food Hunters, apa tempat makanannya itu sudah "Epicurina certified" atau nggak =D. Selain dari, tentunya, membantu mempromosikan para food vendors yang walaupun less-known, tapi dianggap layak buat dikenal. Warung Empat Belas Tiga (143) ini contohnya, sepi dari pengunjung (malam hari itu), tapi sebenernya punya menu Rawon yang yahud!

"Besok mampir lagi ya mas" lanjut si ibu memecah lamunan gw.

Hehehehe, next time ya bu kalau sedang ke daerah sini lagi. Sementara itu, saya kasih hadiah tulisan ini aja dulu ya =). (bay)

n.b: nggada foto. selain dari penampilan sih nothing spectacular, juga karena tangan keburu sibuk buat nyomot toge, sambel, dan telor asin.

Posted by Bayu on Apr 9, '08 9:29 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini satu lagi tempat makan favorit isteri selain Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang (BALBT), lokasinya di daerah Ciledug. Yah nggak sampe sana juga sih, secara lebih deket ma pertigaan kearah Kreo (?) sebelum Giant (kalo dari Blok-M), di daerah yang banyak jualan craft & furniture. Posisinya masuk ke halaman toko-toko kecil, bersebelahan sama kios nasi uduk.

Pilihan disini cuma ada empat; Nasi Goreng Ayam / Ati-ampela / Pete / Campur. Semua toppingnya itu disiapkan terpisah, sedangkan base nasi gorengnya sendiri dimasak tersendiri. Rasa nasi gorengnya lumayan gurih dan 'bulet', dan bukan dari jenis yang ngandelin kecap manis jadi item berlebih. Dari tampilan sendiri lebih kearah coklat untuk yang gak pedes, coklat agak merah buat yang pedes. Sebagai temen makannya, ada se-toples gede acar (sayangnya nggak asem) di tiap-tiap meja.

Waktu penyajian cepet, kecuali kalau ada special order (telur ½ mateng misalnya), bakalan rada lama dikit. Yang membuat kagum, adalah bahwa warung sekecil ini sampe punya dua kompor plus tujuh staff buat operasionalnya! Dua tukang nasi goreng, dua tukang nyiapin, tukang bikin minum, tukang siapin bahan, dan satu lagi buat pulang-pergi bawa nasi putih, yang semalemnya bisa abis sampe beberapa dulang ini (foto #3).

Total kerusakan buat makan berdua? Sekitar 25K saja. (bay)

Posted by Bayu on Feb 16, '08 11:36 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berbekal informasi dari temen kantornya Nade mengenai Mie Ayam ter-enak se-Jakarta, mampirlah kami ke Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, dimana "Mie Ayam Boy" ini berada.

Dan sungguh kami salah informasi, karena apa yang diharapkan sebagai mie ayam versi jawa seperti Mie Ayam Yunus di Tebet, dan rata-rata mie ayam gerobak yang berseliweran di jalanan, ternyata adalah mie ayam versi Chinese seperti yang banyak ditemukan di... restoran Chinese food.

Gw nggak prejudice sama jenis mie ayam yang satu ini koq, cuma antara keduanya (Chinese vs. Javanese), gaya penyajian maupun sensasi makannya jauh berbeda:

Mie Ayam Chinese lazimnya disajikan kering dengan kuah terpisah, dengan topping standar berupa ayam rebus dan pilihan lauk antara bakso, pangsit kuah, atau pangsit kering (dua-duanya pake filling daging). Kuahnya sendiri biasanya berupa kaldu ayam kental dengan bumbu merica dan asinan sawi.

Sedangkan Mie Ayam Jawa lazimnya disajikan dengan kuah dicampur, topping standar berupa ayam semur (manis) dan pilihan lauk antara bakso, atau pangsit kering crispy tanpa daging. Kuahnya sendiri biasanya hanya air biasa, jarang yang pake kaldu kental.

Mie Ayam Boy, menyajikan hidangan jenis pertama; ala Chinese. Namun hal ini baru kami ketahui setelah masuk ruangannya yang kecil dan sesak itu, tanpa ada management pengaturan waiting list sama-sekali (siapa cepat dia dapat). Tapi mungkin disinilah salahsatu daya tarik dari restoran sedemikian; dimana untuk mendapatkan meja kosong saja sudah termasuk prestasi yang bisa dibanggakan.

Setelah menjaga dua meja dengan pelanggan yang masih menyeruput mie nya, akhirnya salahsatu dari mereka menyerah dan meninggalkan mejanya untuk kami (setelah bayar2 tentunya). Tak lama berselang, akhirnya meja kamipun dibersihkan dan kak lama berselang seorang pelayan berpakaian sipil (tanpa seragam) pun mendekati kami.

Yang pertama terlontar dalam hati adalah "astaghfirulloh!", bukan karena ada menu B2 dalam daftar makanannya, tapi memperhatikan bahwa semangkuk komplie mie ayam disini (plus baso, pangsit kuah dan pangsit kering), dibandrol dengan harga sedemikian sehingga makan berdua disini (including minum) harus ditukar dengan selembar uang rupiah warna biru, bahkan lebih!

Tapi terlanjur sudah nyampe, sudah ngantri, sudah dapet duduk, sudah dapet menu, dan sudah lapar, jadilah kamipun memesan dua macam menu. Gw nge-tes Bihun Ayam Bakso Pangsit Kuah nya, sementara isteri menjajal Mie Ayam Pangsit Gorengnya. Oh nggak lupa segelas Es Jeruk dengan warna aduhai memikan yang membuat isteri jatuh cinta pada pandagan pertama.

Tak terlalu lama berselang pesanan kamipun hadir, dan gw dengan antusias segera membolak-balik campuran bihun, ayam rebus, dan sayur sawi di mangkuk gw. Menyumpit sejumput, memasukkannya ke mulut, dan mulai menganalisis...

Rasanya sih lumayan enak, dengan kadar minyak yang rada berlimpah. Ayamnya sih standar, dengan potongan yang nggak terlalu besar dan kandungan kulit yang cukup banyak. Pangsitnya oke deh, baksonya juga gitu; pejal dan meaty. Pangsit gorengnya sendiri juga lumayan. Es Jeruknya sendiri ternyata memang diambil dari variant jeruk peras manis yang warnanya memang aduhai. Personally gw prefer yang lebih kecut.

On overall complaint gw sih cuma karena kadar minyak plus kualitas topping ayam yang rada kebanyakan kulit daripada daging. Dan tentunya, harga. Seporsi Bihun Ayam dengan porsi yang lebih melimpah di Megaria misalnya, atau Bihun Kering superb dengan topping ayam cincang di langganan gw di Naripan Bandung misalnya, dua2nya dibandrol dengan harga yang lebih reasonable dengan tingkat kenikmatan yang nggak kalah enaknya.

Akhirul kata, dibanding Mie Ayam Boy (MAB) isteri merasa secara kontekstual lebih worthed buat mampir ke Bakmi GM. Gw ndiri walaupun bukan maniac GM (prefer to adventure not to settle), mengiyakan saran isteri tersebut. Apalagi selain harga yang anehnya relatif lebih murah (padahal GM dah gw anggap mahal), interior yang nyaman (vs ala kedai mie tempo doeleoe di MAB), pelayan yang sigap (vs cuma empat orang untuk all the chores di MAB), waiting list nya juga bener (vs harus rebutan bangku sendiri).

Kalau diluar konteks, kami sepakat tetep menjagokan Mie Ayam Yunus di Tebet. (bay)

Posted by Bayu on Jan 10, '08 5:27 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Turun dari bis Primajasa Lebak Bulus - Garut, kami langsung masuk ke Poins Square disebelah Terminal Lebak Bulus ini buat nyari makan siang. Apa boleh buat, walaupun food-court nya di lantai 4 terlihat cukup sophisticated, rata-rata gerai disana masih tutup. Jadinya balik lagi ke lantai dasar deh.

Dibanding Dunkin Donuts dan Oh La La Cafe, tempat ini jelas memiliki keunggulan dalam hal nyediain aneka variasi masakan Indonesia dan Asia dengan harga cukup terjangkau. Suasananya juga lumayan nyaman, sayangnya disini larangan merokok nggak berlaku.

Walaupun menu-menu yang kami pesan nggak satupun yang memuat bawang putih secara berlebih (as we thought earlier), namun secara keseluruhan rasanya sih oke-oke saja. Acceptable (bay)

Posted by Bayu on Jul 30, '07 6:58 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berbekal kepenasaran karena gagal menyambangi tempat ini pas acara surprise party nya bu Presiden MP, pertengahan Juli kemaren kami menyempatkan diri untuk maen-maen kesini.

Berbekal pemantauan via peta digital, kamipun menyusuri Jl. Mpu Sendok tempat "Omah Sendok" berada (so obvious eh?) dan sempat berhenti di pelataran tempat yang ternyata adalah salon. Setelah agak jauh menelusuri jalanan, dekat tikungan di sebelah kiri terlihatlah tempat yang mungil asri ini. Setelah memarkir mobil di pelatarannya yang tidak terlalu luas, kamipun masuk ke dalam. Berdasarkan informasi dari temen-temen, di sebelah belakang rumah terdapat juga area makan di tepi kolam renang. Sounds exciting, tapi mengingat salahsatu tujuan gw kesana adalah juga persiapan buat meeting malemnya, maka mau nggak mau harus nyari tempat nangkring yang ada outlet listrik nya.

Dari segi pilihan menu, semua menu disini adalah menu lokal! Kalaupun asalnya foreign, maka sudah di-nasionalkan, misalnya hidangan bistik sapi, salahsatu andalan tempat ini.

Karena penasaran dengan deskripsinya sebagai Nasi Ulam khas daerah Karet (Sudirman - Casablanca) dengan kacang ijo rebus dan aneka side dish lainnya, hati gwpun terpaut. Sebenernya pengen nyobain bistik nya juga, plus rawon nya, and sop buntut. Bakmoy nya juga menarik. Cuma mo gimana lagi, perut dah ada takerannya ndiri...

Untuk minumannya dipilihlah Es Bir Pletok yang juga khas Betawi ini, sedangkan isteri memutuskan buat nyoba bubur sumsum nya plus es coklat (atau choco milkshake gw lupa).

Pertama-tama dateng bir pletok nya. Dengan warna merah ala sirop abang-abang jaman dulu, minuman ini terlihat menarik dengan lapisan buih tipis diatasnya. Alih-alih beralkohol, minuman ini menawarkan kehangatan melalui kandungan jahe dan rempah-rempah nya. Dijamin halal sekaligus menyegarkan!

Berikutnya, bubur sumsum pesanan isteri yang datang. Dengan tampilan yang sederhana, hidangan ini cukup potensial; buburnya cukup kental, dengan saus gula merah asli yang manis legit (bukan gula kelapa yang agak asem tuh). Minusnya? Buburnya kurang asin dikiiit.

Bersamaan dengan itu, lumpiah pesanan gw pun datang. Isinya gw lupa apa aja, tapi rasanya enak... Sayangnya saus cocolnya adalah sambel kacang, bukan larutan kental lengket manis plus batang bawang daun. Tapi gapapa lah, toh dimakan polos juga okeh.

Nasi ulamnya hadir dalam sajian yang manis; berbentuk kerucut tinggi ditutupi "topi" daun pisang. Sekilas sudah terlihat kandungan parutan kelapa nya yang berwarna agak kecoklatan. Gimana rasanya? Hmm... menarik! Selain dari nasi pulen dan aroma kelapa panggang yang harum, ternyata terdapat juga sedikit aroma terasi, cukup membangkitkan selera perut lokal gw ini.

Setelah seluruh hidangan tersebut habis dilahap, sedangkan kerjaan masih terus digarap, maka giliran isteri buat re-order... tapi nggak yang berat-berat, appetizers aja deh. Dan kembali terhidanglah satu porsi Tahu Cocol dan Risoles... Untuk pilihan menu yang terakhir itu sebenernya isteri salah pesen, karena maksudnya pengen mesen lagi Lumpiah nya tapi somehow silap lidah... Yah gapapa, jadi ada kesempatan nyoba menu yang laen. Hehehehe.

On overall tempat ini nyaman buat hang-out dan mojok santai. Suasana interiornya kalem dan homy, dengan aneka hidangan yang unik khas Indonesia tempo doeloe. Tastewise cenderung kearah kalem dan nggak terlalu mengumbar bumbu, just correct dan enough. Pilihan menu banyak, trus dari segi harga juga sangat friendly. Makanan berkisar antara 20-30 K, dengan minuman dan appetizers rata-rata sekitar 7.5 K or below.

Selain dari makanan, Omah Sendok juga memiliki ruangan yang difungsikan sebagai toko buku. Konsep yang menarik. Diantara para tamu yang berdatangan juga terlihat banyak yang berasal dari kalangan keluarga, dan beberapa pasangan muda dan dewasa. Tempat yang cocok kalo mo menikmati cita rasa kuliner Indonesia yang unik dan khas, tanpa perlu menjebol kantong.

Ditambah Es Tomat sebagai penutup, pengalaman kuliner sore hari itu cukup menyenangkan dan mencerahkan... keliatannya bakalan jadi langganan nih. (bay)


Posted by Bayu on Jul 30, '07 6:34 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Selagi jemput isteri sehabis ikutan seminar di Balai Sarbini, karena sama-sama laper maka kamipun menyempatkan diri berkelana ke pelosok pusat pertokoan ini... yang tahun lalu nyaris tiap hari kami kunjungi sepulang kantor.

Diantara salahsatu restoran di lantai empat, Shabu Tei merupakan salahsatu merchant yang ikutan program spesial diskon 50% off nya HSBC. Ngeliat ada menu sushi, jadinya tertarik juga buat mampir. Isteri sih nurut-nurut aja secara exposure sama Japanese food nya udah mulai lumayan dibanding pertama kenalan dulu...

Hidangan tempat ini sebenernya sesuai namanya adalah Shabu-shabu. Tapi karena lagi lebih tertarik sama sushi, jadinya mesen sushi-set aja deh. Kalo isteri mesen Beef butter yaki. Yang mana nggak berasa butter sama sekali malahan mirip BBQ sauce tapi agak pedes. Miso Shiru nya lucu, pake potongan kembang tahu yang spongy instead of regular tofu. Sushi nya yah lumayan lah, cukup enak tapi nggak sampe "sparkling".

Menu pilihan program HSBC nya sendiri ternyata terbatas. Gak semua item di 50% off, tapi ini dah mencakup beberapa signature menu mereka sih.

Nice ambience, nice service, moderate pricing. Mungkin laen kali beneran nyoba shabu nya aja deh. (bay)


Posted by Bayu on Jul 14, '07 4:04 AM for everyone
Kegemaran baru gw kalo lagi kehausan, mumet, dan butuh kesegaran... es buah! Kebetulan di deket tempat tinggal sekarang ada satu penjual sajian ini yang rasa dan kualitasnya cukup oke.

Isinya sih standar; irisan buah melon, labu, kelapa muda, alpukat, plus sekoteng merah dan rumput laut crunchy, dengan kuah es bercampur susu manis dan gula.

Walaupun kelihatannya cukup menjamur di Jakarta, hidangan yang satu ini agak tricky juga sebenernya. Karena si buah-buahan ini cepet busuk (apalagi di udara terbuka), maka kadang kalau salah pilih penjual maka bisa jadi dapet stock content yang dah rada off. Yuck.

Yang di Jl. Kramat Sentiong ini (depan Alfa Mart) isi buahnya cukup melimpah, dan yang crucial, kuah susu nya manisnya pas. Beda sama es campur Oyen - Bandung yang manisnya cukup buat bikin sugar shock... brrr... yang ini actually very refreshing... even kalopun makannya lewat jam 10 malem, tetep poll. Empat ribu perak, puassss. (bay)

Posted by Bayu on Jul 14, '07 12:46 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sabtu, awal Juli 07. Perut yang sedang bingung akhirnya menuntun kami ke arah Cipete, Jaksel, karena teringat akan promosi mas Lala tentang satu tempat makan baru di daerah ini; Kafe Halaman. Menilik patokan posisinya yang pas sebelah Abuba, pastinya nggak sulit nyari tempat ini. Dan benar saja, setelah melewati kemacetan yang cukup parah, kamipun melihat sign board dari tempat ini, setelah sebelumnya melewati Boka Buka di sebelah kiri jalan (dari arah Fatmawati). Sayangnya, selain dari sign board, kami juga melihat satu "sign" lainnya yang cukup penting; janur kuning, tanda ada hajatan nikahan.

Oh darn... no disrespect to the wedding couple, tapi ini berarti kunjungan kami kali itu gagal. Nah lantas teringet promosi beberapa teman soal Boka Buka yang katanya nice, homy, dan with reasonable price, kamipun tergerak buat mampir kesana instead. Sudah nyampe situ, dan males buat going around lagi.

Boka Buka menempati satu paviliun kecil, beberapa rumah sebelah Abuba Steak. Suasananya cozy, nice, dan dihiasi pula dengan aroma yang unik... Pewangi ruangan? Oh bukan! Rupanya diatas area duduk pengunjung, terdapat aneka rempah-rempah yang disebar dengan rapi di hamparan kawat kasa, agaknya dari sinilah aroma unik itu berasal.

Area makan utama menempati area di sebuah lorong, bersebelahan dengan bar dan tangga ke lantai atas (dapur). Di sebelah belakang, terdapat area duduk outdoor dengan dua meja. Secara keseluruhan tempat ini memang mungil, namun demikian menurut pramusaji yang melayani kami, tempat ini mampu menampung sekitar 40 orang.

Sajian menu nya, ternyata tidaklah terlalu French seperti dugaan awal kami, but European nonethelesss. Diluar dugaan kami juga, rata-rata menu ternyata tidak ada yang murah-meriah; secara main courses rata-rata berada disekitar kisaran 70K! Padahal niatnya malem itu mau take it easy aja. Oh well, jadilah sesi serious dining dadakan. Isteri tanpa banyak ragu memesan Spaghetti Bolognaise (around 50K), dan gw setelah banyak pertimbangan memutuskan untuk memilih Escargot (around 65K). Bagi yang kurang ngeh apa itu Escargot, maka hidangan ini merupakan saudara dekat dengan siput taman yang kadang anda temui sedang melaju santai di halaman rumah anda. Hanya saja, karena made-in France, maka statusnya meningkat drastis dari hama menjadi gourmet delicacies.

Terbersit pengalaman dulu nyoba hidangan sama di Bistro, Senayan, maka gw ngerasa punya patokan yang cukup valid buat perbandingan. As I told dear Nade, rasa dari Escargot itu bisa disamakan dengan rasa lidah. So, buat doi yang penggemar fanatik Sate Padang, maka harusnya Escargot pun nggak sulit buat ia "kuasai".

Jadi ketika hidangan lucu ini hadir ke hadapan kami di pinggan kuningan, Ade pun tanpa banyak ragu memberanikan diri untuk mencobanya, setelah sebelumnya bertanya dulu mengenai fungsi dari alat capit aneh yang turut hadir sebagai alat bantu makan. Tapi tidak setelah sebelumnya di test-taste dulu oleh sang suami barangkali ada karakter-karakter rasa yang sekiranya bakalan menjebol culinerimmune system (daya tahan kuliner) sang isteri...

Hmm... walaupun butter dan garlic yang dipakai disini cukup melimpah, namun sayangnya dari segi rasa masih kalah dengan Bistro's; karakter daging nya lembut dan empuk, dengan aroma lumpur/daun yang masih cukup kentara. Sedangkan untuk rasanya, cuma kentara rasa asin. Penonjolan pada karakter rasa dan aroma asli daging siput? Hmm... I think Bistro's was done better.

Nade, walaupun nggak terlalu suka, ternyata sanggup menghabiskan dua pcs dari keseluruhan 12 pcs. Dan walaupun terlihat cetek, hidangan ringan ini ternyata cukup mengisi perut dengan sukses. Sehingga yang tadinya berniat mau memesan satu menu lagi buat uji-coba pun batal.

On overall, nice concept. Walaupun pada weekend nights seringkali tempat ini over booked, Boka Buka kelihatannya lebih cocok untuk dijadikan sebagai "little getaway haven" bagi masyarakat Jakarta yang sibuk. Sejenak menikmati suasana yang kalem dan agak rustic, dengan aneka hidangan berat dan ringannya. Di bagian belakang ruangan, terdapat aneka permainan (board games) yang bisa dipinjam cuma-cuma oleh para pelanggan. Selain itu, terdapat juga "wheel of fortune" yang berfungsi sebagai penentu besaran diskon yang bisa pengunjung dapatkan. Dengan menyumbang 5K untuk menggunakan fasilitas ini, maka pengunjung bisa mendapatkan diskon hingga 50% off... atau berakhir dengan 10% mark up on the current bill. Uang sumbangannya sendiri, menurut pramusaji yang bertugas diperuntukkan untuk sumbangan kepada mereka yang kurang mampu. Generous. Sang isteri yang sedang merasa beruntung, tak menyia-nyiakan kesempatan ini... Dan walaupun nggak score big seperti waktu di Bombay Blue tempo hari, it was a nice try; 10% off for main course.

Sayangnya dari segi rasa, so far menu-menu yang kami coba statusnya cuma so-so. Dan karena nggak ada promo soal healthy food atau organic food or sorts, maka kami menduga kalau style masakan disini memang disesuaikan dengan nuansa ruangannya; kalem dan tenang. (bay)

More photos are available at Epicurina here.


Posted by Bayu on Jun 20, '07 10:55 PM for everyone
[catatan: berhubung digicam masih dipinjem adek ipar, maka epicurean diary nya pindah ke blog dulu ya.]

Sejak beberapa bulan lampau lewatin restoran seberang TIM ini, nggak pernah sekalipun kepikiran buat mampir. Apalagi setelah sebelumnya tempat ini ditempati "Happy Belly"; restoran all u can eat yang rada ambiguous, restoran berikutnya ternyata muncul dengan image yang nggak kalah membingungkannya;

"Bombay Blue"


Udah lah image India itu masih terlalu identik dengan Bollywood plus tarian tiang nya, eh tiba-tiba ada pengusaha yang berani majang nama sedemikian sebagai nama usahanya. Tempat apa sih ini? Indian nite club? Kafe dangdut?

Jadinya dilewatin terus tanpa sedikitpun niat buat mampir... apalagi 90% gw lewat sini, tempat ini selalu super-sepi. Yang ada juga gw keep on wondering gimana mereka generate revenue dan kapan matinya... serta restoran apa berikutnya yang nekad buka disini?

Tapi hal ini mulai berubah ketika beberapa waktu lalu tempat ini dipenuhi tamu, plus ada tenda, plus berjejeran kendaraan plat CD (Corps Diplomatic). Lagi ada hajatan? Atau malah grand opening? Lha... after all that long? Bad business plan? Nunggu tanggal khusus? Ah well whatever... tetep nggak tertarik buat mampir.

Mulai terbersit untuk dateng kesini, baru terjadi beberapa bulan silam, yaitu saat lagi ngumpul di rumah mbot dan ida bersama Tria. Dari kabar mereka sih, ternyata makanan di tempat ini surprisingly lumayan enak, ada delivery service, dan dengan harga yang juga cukup bersaing. Tinggal masalahnya sekarang gimana caranya gw mampir kemari, sedangkan isteri jarang sekali muncul mood afoodturir nya.

Dan kesempatan itu dateng ketika ada sms masuk yang mengabari kalau Bombay Blue termasuk satu tempat yang ikutan program promo Citibank Clear Card yang dipegang isteri. Tawarannya cukup menggiurkan; diskon sampe 100%! Barangkali ini bisa jadi tambahan motivasi buat isteri?

Setelah secara halus isteri mengindikasikan mau nraktir makan enak semalem, kamipun sepakat untuk mencoba Bombay Blue ini. Isteri sebenarnya khawatir nggak ada menu yang bisa dia makan disini, untungnya dari bocoran, gw tau kalo makanan yang ditawarkan nggak terbatas Indian food only. Kalo iya sih gawat... Gw aja yang doyan nyoba makanan baru, dalam menghadapi makanan India seringkali masih mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, what kind of pleasure is this??? Memang secara taste, makanan India nggak terlalu asing, apalagi di Indonesia sendiri banyak makanan dengan karakter rasa yang khas, dibangun dengan aneka ragam rempah. Nah masalahnya, makanan India itu bisa melibatkan 2x hingga 3x lipat lebih banyak jenis rempah dibandingkan masakan Padang! Sehingga bagi lidah (dan perut) yang nggak terbiasa, it could mean disaster... berasa seperti gule kambing tapi ada karakter manis dan rasa jinten sekaligus pedas? Things like that... confusing.

Tapi jangan gentar juga. Beberapa jenis makanan India bisa diterima lidah "awam" dengan cukup baik, misalnya Chicken Tandoori atau aneka macam kebab (sate) nya. Atau mungkin udah cukup familar dengan nasi Biryani yang mirip Kebuli? No worries, mate!

Kembali ke soal Bombay Blue, malam itu ternyata kami adalah satu-satunya tamu. Dengan sigap front officer membukakan pintu depan restoran, serta para greeter menyambut dengan ramah. Interiornya rada2 gelap, jadi cukup menyembunyikan fakta bahwa tempat ini memiliki interior yang nggak terlalu luas, on the contrary dengan tempat parkir mereka yang keliatan lega. Gw dan isteri pun memutuskan untuk memilih tempat duduk di dekat jendela, nice view, nice ambience. Tak lama kemudian dua orang pramusaji datang menghampiri, satu untuk menyiapkan cutlery (peralatan makan), satu lagi memberikan daftar menu. Segeralah kami mengamati apa saja yang mereka tawarkan disini... and it's quite alot, wonderful! Lalu selain dari menu Indian, ada juga menu International, dan "Chindian". Mungkin anda bisa nebak jenis makanan apa yang terakhir tersebut?

Jumlah total menu adalah sekitar 300! Tapi ini menurut Marchel dari Appetite Journey, gw sih nggak ngitung atu-atu tapi keliatannya bener koq, soalnya ada sekitar 7 - 8 halaman menu.

Seperti biasa untuk kunjungan awal, mengantisipasi itu adalah juga kunjungan terakhir, maka yang gw lakukan pertama-tama adalah nanya menu spesialnya apa. Setelah mendapatkan penjelasan singkat dari pramusaji yang bertugas, sekaligus rekomendasi menu, maka gw pun memutuskan untuk memesan saut menu kari, satu menu kebab, beserta nasi putih. Untuk nasi putihnya sendiri, gw milih yang dari beras Basmati, supaya total Indian sekalian. Sedangkan isteri, tanpa kejutan berarti, dengan mantap berujar "Chicken Cordon Blue, satu!". Oh well... still a long journey to travel for her...

Untuk minumannya, gw nyobain satu menu yang banyak orang pasti ngganggap nggak lazim; yoghurt asin. Namun walau terdengar aneh, Sourary Lassy adalah salahsatu minuman khas India, dan rasanya masih lebih terhitung aman dibanding misalnya Masala Tea.

Pesanan kami datang dalam waktu yang cukup singkat, dan segera saja kami serbu. Kashmiri Rogan Gosh (42.5K) yang gw pesan bisa dibilang sebagai "gulai kambing", dengan kuah  gurih manis pedas spicy, dan potongan daging domba yang super lembut... Beda dengan kambing nya Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, yang nyaris nggak bisa dikunyah. Ah tapi beda level anyway... pokonya this one is good.

Isteri menyatakan rasanya memang mirip gule... tapi tetep lebih prefer masakan Padang. Dan kembali gw tuduh doi nepotism, secara gw adalah orang Sunda yang lebih demen Sushi dibanding ikan mas bakar.

Kebab yang kami pesan, Hazarvi Kebab (25K) adalah potongan daging dada ayam yang direndam dalam yoghurt, serta dibumbui bawang putih dan rempah lainnya. Lagi-lagi kami kagum dengan kualitas daging ayam yang disajikan; sangat firm; padat empuk! Rasanya? Juara! Safe bet buat lidah awam, delicious enough buat lidah gatelan.

Basmati Rice (10K) nya sendiri datang dalam porsi besar, cukup untuk dua orang. Isteri kagum dengan bentuk fisik bulir nasi Basmati yang emang panjang lonjong ini, beda dengan beras kita yang cenderung buntet. Btw kami dapet pilihan nasi ini karena ditawarkan oleh si pramusaji, padahal pilihan ini nggak ada di menu.

Satu hal yang gw lupa warning ke isteri, bahwa Indian food di restoran seperti ini tends to cater for two or more, alias porsi makan bareng, bukan sendirian. Dan jadilah gw dengan susah payah menghabiskan hidangan tersebut sendirian... sedangkan isteri seperti biasa cuma mau nyoba sesuap dua suap.

Di sisi meja lain, Chicken Gordon Blue (39.5K) yang dipesan isteri hadir juga dengan porsi yang dahsyat. Dan lucunya, selain kami menyadari di daftar menu Bombay Blue nggak ada pilihan menu daging sapi (cmiiw), maka dalam pesenan isteri pun demikian, contentnya nggak terdiri dari beef bacon dan keju, tapi jamur dan saus putih. Well perhaps, karena yang mereka jual sendiri bukanlah yang biasa isteri pesen... namanya aja Chicken Gordon Blue (pake G, bukan C). Hehehe. Still a nice treat to our taste buds though...

Untuk dessertnya, isteri nyobain Sizzling Brownies (22.5K) yang hadir dalam sajian memukau: potongan (rather small) brownies dengan es krim diatasnyak, disajikan dalam pinggan hot plate panas yang bertaburkan kacang tanah. Saus coklatnya, lantas diguyurkan keatas brownies dan langsung sizzling ketika bersentuhan dengan pinggan hotplate yang panas! Woo hoo! Keren! Lautan saus coklat ini pada beberapa bagian lantas menggumpal dan mengeras menjadi choco-caramel, nice!

Untuk minumnya, setelah memperhatikan bahwa Ice Tea (12K) yang dipesan isteri harganya nggak terlalu beda dengan Equil (15K), jadilah malam itu juga kami mengakhiri status kami sebagai mineral water - virgin. Setelah meminum beberapa teguk real mineral water tersebut, isteri mendapat kesempatan berikutnya. Gw bilang buat konsentrasi dan mengamati, apa yang doi rasain waktu minum air itu. Isteri pun meminum dengan cenderung hati-hati dan terlihat agak berpikir... lalu mengeluarkan beberapa komentar mengenai karakter rasa air mineral nomor dua di dunia ini. Amazing, walaupun belum bisa nyebut dengan tegas apa yang gw rasain, tapi definitely rasa air mineral ini sangat friendly di lidah, selain tentunya, sangat refreshing! Satu hal yang gw rasain adalah karakter logam nya yang light, nggak sampe pahit ala Aqua, dan menyebar rata di sisi lidah. Nggak se-memualkan rasa air plus garam mineral pula... very light... Isteri sendiri bilang kalau airnya seperti "kental" walau dia tau itu just plain water. Hal lainnya yang unik, rasa dingin nya yang stay agak lama di lidah, tapi mungkin ini sih lebih kepada pemilihan suhu yang tepat.

Btw, kalo bingung kenapa Aqua gw bilang pait, belajar dulu bedain mana air Aqua asal Babakan Pari, mana asal Cipondoh, mana asal Pandaan =)

On overall, pengalaman makan gw malam itu terhitung berhasil, walaupun isteri nggak sependapat (dan gw nggak terkejut for that). Total pesanan 3 main courses plus tiga minuman dan dessert, adalah 183K. Itupun dengan catatan kami menyerah dan memutuskan untuk membawa pulang sisa (3/4) Chicken Gordon Blue nya isteri, plus sebongkah terakhir Kebab. Selain harganya yang jauh lebih bersahabat dibanding misalkan... Hazara, rata-rata hidangan mereka adalah porsi untuk dua orang (perut normal). Jadi dinner kami malam kemarin sebenarnya cukup untuk tiga atau malah empat orang. Not bad, really, recommended indeed!

Masalahnya, seiring kami makan, akhirnya ada sekitar 10 pengunjung lainnya yang datang bergabung. Menggembirakan... karena a good eateries should not be dead. Tapi jelas dalam hal ini artinya mereka masih kurang promosi.

Btw, makanan yang kami bawa pulang pun ternyata tidak dibungkus box kertas, styrofoam, atau malah kantong plastik, melainkan mangkuk dari kertas timah! Unique.

Kejutan terakhirnya, waktu isteri bayar pake Citibank Clear Card yang dimaksud, maka kamipun diminta mas kasir untuk milih satu kupon dari sekian banyak yang disimpan di kotak khusus, untuk menentukan bonus diskon nya. And guess what? Kupon yang isteri pilih, setelah dikerok ternyata bertuliskan "makan gratis".

Wow!!! (bay)

BOMBAY BLUE
Jl. Cikini Raya No. 40 Jakarta Pusat
Telp: (021) 3142864 / 3162864  Fax: (021) 3162865

Posted by Bayu on Jun 4, '07 12:44 AM for everyone
Akhirnya, setelah penasaran abiss dengan informasi rekan epicurean soal salahsatu restoran baru, gw dan isteri berhasil menyempatkan diri mampir ke tempat ini, mengakhiri long weekend warga Jakarta di Minggu sore. Walaupun dengan "catch"nya... terpaksa muter kesana-kemari nyari tempat yang nyempil tapi nggak ini.

Masalahnya? Kebetulan yang gw inget hanyalah sekedar tempat baru ini berada di Jl. Panglima Polim, alias satu lokasi dengan salahsatu tempat fave tempo doeloe; Galeri-J, dan resto Manadonese Chamoe-Chamoe. Nama resto nya? Hell I don't even remember it! Cuma dengan janji pada isteri bahwa "pokonya ntar kalo ketemu tempatnya aku bisa confirm deh, tempatnya itu atau bukan". Hehehehehe

Namun setelah berkali-kali lewat daerah tersebut dan bingung koq nggak ada tempat yang dimaksud, akhirnya gwpun mencoba buat merunut informasi yang gw punya dengan lebih objektif... hmm... Panglima Polim kan nggak cuma jalan ini doang? Apalagi ternyata daerah yang gw maksud bukanlah jalan utama dari keluarga jalan dengan nama Panglima Polim.

Tapi setelah ngubek-ngubek kesana-kemari dan tetep nggak ketemu, termasuk setelah menelusur sampe ke Jl. Fatmawati, maka dengan berat hati gw pun memutar balik menuju Blok-M. Sambil tetep bingung sih mau nyari alternatifnya apa, secara target dah kadung di-set buat jajal ni tempat. Semua jenis Panglima Polim dah gw lewati, beberapa dua-tiga kali...

Akhirul kata setelah diputuskan mau bergerilya ke Kemang aja, gw nekad lewat untuk terakhir kalinya ke Panglima Polim, daerah yang gw tau sebagai restaurant area, sekalian motong jalan ke Kemang. Berhubung langit mulai gelap, adzan Maghrib baru saja berkumandang, maka suasana kali ini agak berbeda dari dua - tiga kali lewat sini sebelumnya; neon sign dari para restoran ini mulai menyala!

Dan di keremangan sore, plus harapan yang nyaris nol, sekilas gw pun melihat satu restoran di sisi Selatan jalan tersebut, sejajar dengan Galeri-J, dan dengan ciri-ciri yang menjanjikan: looks cozy, sepi, dan ada papan nama dengan tulisan sekilas mirip "barbeque"... hmm...

Muter balik, dan merhatiin papan namanya dengan lebih seksama...

"Q Smokehouse Factory"


Oh Mi God!... ini dia tempat yang gw cari-cari! Padahal dah kelewatan berkali-kali dari 3-4 trip gw lewat jalan ini tadi... hiks... akhirnya!!!

Dan begitu akhirnya kami turun dari mobil di tempat ini, tak lupa gw pun berpelukan bahagia dengan sang isteri di depan tempat parkir*...

Moral of the story:
+ Catet alamat lengkap si resto tujuan, plus nomer telponnya kalo ada.
+ catet nomer telepon informan/wati kalo-kalo butuh guidance.

Trus berhubung prolognya dah cukup buat jadi tulisan sendiri, maka reviewnya baca aja disini yah: http://epicurina.multiply.com/reviews/item/115

*Btw, gimane, endingnya cukup sinetron nggak?
foto dari: ah kebaca kan?

Posted by Bayu on Apr 10, '07 12:52 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berawal dari gagalnya kunjungan yang gagal ke tempat makan yang menurut Agung merupakan "ayam bakar ter-enak se-Indonesia", maka ketika akhirnya gw dan isteri melewati kembali tempat ini, diniatkanlah untuk berkunjung.

Alhamdulillah, ternyata kali ini buka, walaupun kalender sedang tanggal merah.

Ayam Bakar Christina merupakan salahsatu diantara deretan tempat makan di daerah Margonda yang super meriah ini. Lokasinya mungkin agak rancu bagi first-timers, karena tidak ada tanda-tanda yang terlalu jelas selain dari papan nama di depan restorannya. Yang mana nggak memuat sama sekali informasi kontak semisal alamat, apalagi nomer telepon.

Sebagai patokannya, dari arah UI setelah Detos (Depok Town Square) siap-siap di sebelah kiri jalan. Trus kalo nggak salah, nyaris berseberangan dengan jalan masuk ke salahsatu kampus Gunadarma.

Tempatnya sederhana sekali, dengan wallpaper yang sudah lumayan lusuh dan berumur. Begitu liat daftar menunya, ternyata rada-rada mengarah ke Sundanese, lengkap dengan lalapan (walaupun harus diorder khusus). Hidangan utamanya? Ayam Bakar dan Ayam Goreng, trus dari secarik kertas di dinding diketahui juga kalau mereka menyajikan Ikan Bakar. Sesuai dengan tujuan semula, maka kami semua kompak memesan Ayam Bakar. Sebagai tambahannya, tempe & tahu goreng, ati ampela goreng, dan lalapan.

Hasilnya? Dari penampilan cukup meyakinkan, satu potong besar ayam bakar dengan saus kecap yang melimpah ruah, dan sebutir jeruk nipis, siap diperas.

Rasanya? Hmm... okeeh!?!

Bumbunya cukup meresap, tapi rasanya simple aja nggak aneh-aneh. Keliatannya ayamnya juga dah pre-cooked dulu sebelumnya, soalnya kadar lemaknya minimalis nggak eksibitionis. Perbandingan paling deket agaknya sama Ayam Bakar Mas Imam di Jl. Tambak yang udah "mendiang" itu; hanya saja variannya mas Imam lebih lengket karena kandungan lemaknya masih tinggi, trus kadang-kadang nggak cooked thoroughly jadi masih ada bagian2 medium welldone nyah. Variannya Christina matengnya lebih merata, juga lebih nggak anyir, relatif aman deh buat yang picky eater. Sambelnya juga enak, dengan "sheuhah" factor lumayan tinggi (pedes gitu).

Faktor lain yang juga penting, adalah harga. Satu porsi ayam bakar dipatok pada harga 8K, jadi total jenderal makan kenyang per-orang disini adalah sekitar 15K

Akhirul kata, setuju koq sama propaganda Agung, ayam bakarnya enak! Walaupun untuk status sebagai terenak se-Indonesia, hmm... terserah anda deh =)

(bay)

Posted by Bayu on Apr 2, '07 2:31 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hasil ngadat pengen japanese food sewaktu ke Bandung akhir taun 2006 lalu. Nemu resto ini di Ciwalk, setelah bingung muter2 nyari resto Jepun yang ada menu udon nya dan nggak berhasil.

Suasana nyaman dan friendly, service juga cukup atentif, ppq (price per quality) juga termasuk bagus; worth the rupiahs spent. Pilihan menu, banyak ragam tapi sedikit pilihan (nah, bingung kan?), maksudnya ada menu jenis ramen, udon, nasi2an, katsu, dll. tapi masing-masing jenis, pilihannya nggak terlalu banyak. Trully understandable sih, mengingat untuk satu jenis hidangan yang disajiin pun butuh effort yang gak sedikit.

Harga, masih termasuk standar, antara 20K - 50K afaik, porsinya juga cukup gede.

On overall oke koq, cukup mengena buat para japanese food maniacs, recommended. (bay)


Posted by Bayu on Oct 22, '06 3:18 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pasar Cikini diwaktu malam... hiruk pikuk pasar terhenti, dan sebagai gantinya bermunculanlah tenda-tenda makanan kakilima di pelataran parkir pasar.

Awalnya gw dan isteri mau nyobain nasi uduk di pasar ini yang dah mayan ngetop diantara para makan-enak-ers Jakarta. Tapi karena isteri tiba-tiba switch mood kearah seafood, jadilah kami pindah sasaran ke tenda sebelahnya yang jualan seafood.

Khawatir mahal, karena as usual menunya gak nyantumin harga, jadinya kami mesen dikit aja dulu. Tapi kalo ngeliat dari banyaknya pengujung yang dateng sih, keliatannya standar-standar aja lah, around 20K per porsi...

Nade yang mulai "nemu" enaknya Kangkung Cah, buru-buru nulisin ini di daftar pesenan, selain itu, kita sepakat buat nyoba Udang Pancet Saus Mentega nya. Cukup? Nggak juga, gw lagi in the mood buat makan kerang rebus, jadinya ditambahkanlah satu porsi Kerang Darah Rebus. Hidangan yang dateng pertama kali ini langsung gw serbu dengan suka hati. Isteri yang awalnya ragu-ragu, setelah ngeliat saus kacangnya langsung mau ikut nyoba! Padahal do'i termasuk newbie dalam hal seafood (baru dua bulanan), itupun resume nya baru memuat hal-hal lazim semisal Cumi Goreng Tepung dan Udang Saus Padang... sekarang dah bisa makan kerang... lonjakan prestasi!

Tapi karena Nade lebih terbiasa ama variant Kerang Hijau, seperti yang banyak dijual di abang-abang penjual keliling Kerang Hijau bumbu kare di daerah perumahan, maka kamipun memesan satu lagi menu; Kerang Hijau Rebus... dan menu yang tersaji 5 menit kemudian inipun disambut Nade dengan lebih antusias.

Ketika pesenan Udang dan Kangkung Cah nya datang tak lama kemudian, kami masih dalam ekspedisi menghabiskan dua porsi kerang rebus tadi... yang ternyata cukup untuk menenangkan lambung-lambung shaum kami. Kangkung Cah nya memiliki karakter rasa gurih asin masam, terpengaruh saus tauco yang dipakai. Udangnya sendiri, memiliki rasa yang mirip dengan ebi-teppan; mentega, bawang putih, merica. On overall, cukup worthed, dibandingin tempat-tempat terakhir yang dikunjungi. Udangnya menurut Nade berbau tanah, sedangkan menurut gw, nggak ada perubahan rasa yang signifikan... cuma saja, udangnya masih sedikit kurang kering untuk bisa masuk kategori istimewa... tapi yah, namanya juga ditumis, bukan deep-fried, jadi tetep recommended lah...

Apalagi setelah melihat bahwa ternyata total kerusakan berada jauh berada dibawah perkiraan awal kami... PLUS, pelayanannya termasuk cepat kilat! Memang waktu itu lagi agak kosong sih, cuma ada 4 - 5 meja pengunjung, tapi jadi bisa ketauan waktu persiapan rata-ratanya kan? Gw perkirakan cuma sekitar 10 - 15 menit saja! Mayan, gak usah cape-cape ngantri, atau jauh-jauh ke Sabang atau Garuda... (bay)

p.s. buat Imansoe: Nggak man, masih kalah, jadi nanyanya yang laen aja =D

Posted by Bayu on Oct 8, '06 5:30 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Salahsatu tempat makan di bilangan Karet Casablanca, dekat fly-over Karet - Sudirman, yang menyajikan hidangan khas Sunda; "NTO" alias Nasi Tutug Oncom! Sementara di Bandung dan kota Sunda lainnya saja hidangan ini sulit ditemui, ternyata ada yang malah nekad berjualan menu ini di Jakarta.

Tempat yang menamakan dirinya Warung Nasi Bu Elly (WNBE) ini pertamakali terdeteksi oleh Lia, rekan epicurean, yang walaupun keturunan Padang dan berdomisili di Jakarta, telah menumbuhkan rasa kecintaan terhadap bahan makanan khas Bandung; Oncom.

Kebetulan hari ini agenda kegiatan gw dan isteri mengharuskan kunjungan ke daerah Casablanca, maka diputuskanlah untuk mampir ke warung ini dan menjajal NTO (Nasi Tutug Oncom). Tadinya akan dikunjungi belakangan, namun karena gw dan isteri masing-masing sedang mengidap pusing rada parah, jadinya kami baru keluar rumah sekitar pukul 17:15 sore hari. Jadilah WNBE ini sebagai tempat pertama yang dikunjungi sekalian menunggu waktu berbuka puasa.

Setelah penantian mendebarkan selama sekitar 20 menit, kamipun lantas bergerak menuju meja display yang menampilkan aneka hidangan lauk-pauk untuk menemani makan di sore hari itu. Untuk pilihan nasinya, gw tentu saja memesan NTO, sedangkan Nade memesan nasi biasa. Lauknya, satu kerat gepuk (sundanese empal), perkedel kentang, dan pepes jamur for me, dan satu potong ayam goreng, sayur asem, serta dua buah perkedel jagung buat Nade.

Proses pematangan yang memakan waktu hanya lima menitan ini membuat proses penantian adzan maghrib menjadi lebih mendebarkan, apalagi dua gelas Frestea sudah tersaji juga dimeja kami. Alhamdulillah, tak lama setelah semua hidangan tersaji, adzan maghrib pun berkumandang dan kamipun segera membatalkan puasa.

Penasaran dengan NTO nya, gwpun langsung merubuhkan gumpalan nasi pejal ini untuk melihat komposisi isinya; panggang oncom berwarna coklat kehitaman... hmm... apa yang kurang ya? Cocol sedikit sambal, ternyata rasa NTO nya cukup lumayan! Hanya saja buat hardcore-ist seperti gw, nampaknya NTO di WNBE ini rasanya sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Hal ini terbukti dengan minimnya kandungan bawang merah tumbuk, dan yang paling crucial; aroma khas kencur giling. Oncom yang dicampurkan memiliki karakter agak lembek dan sudah dibumbui, dan dugaan gw bukan dari jenis prima karena terasa kurang kecambah kacangnya.

Namun demikian, aneka lauk yang kami pilih rata-rata dengan sukses memanjakan lidah; gepuknya gurih dan manis, ayamnya garing dan bumbunya meresap, perkedel jagungnya manis dan cukup lembek, serta sayur asem nya memiliki karakter rasa yang lembut; gurih manis asem tanpa pedes berlebih, dengan karakter rasa terasi yang ringan. Pilihan lainnya, ada aneka ikan goreng, sate cumi, sate udang, jambal roti, pepes jamur, pepes tahu, pepes ayam, tahu-tempe, dan emping.

Sebagai signature khas makanan Sunda, WNBE inipun menyajikan hidangan lalab + sambel yang cukup komplit. Terdapat empat macam sambal yang bisa dipilih sesuai selera; Sambel Dadak (hijau), Sambel Terasi (pedas), Sambel Tomat (agak pedas), dan Sambel Oncom. Cukup untuk mengakomodasi selera pelanggan dari beragam kelompok berbeda.

Berita menggembirakan lainnya, jika untuk hidangan sejenis kami menghabiskan sekitar 55K di RM Laksana (Blok M), maka di tempat ini cukup membayar 2/3 nya saja, alias lebih murah 20-30%! Huhuhu, definitely will be coming back! (bay)

Posted by Bayu on Oct 8, '06 5:06 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Menurut Nade, salahsatu pempek ngetop yang dia tau. Dan berdasar pengembaraan berburu pempek enak bertahun-tahun, maka tiba saatnya untuk kembali menjajal Pempek Garuda ini setelah beberapa tahun berselang.

Gerai pempek tunggal (tanpa cabang) yang sudah beroperasi sejak tahun 1980 ini memasang harga yang tergolong reasonable, dan koleksi pempek yang cukup beragam (lihat gambar Menu). Penyajian tergolong cepat, dengan pelayan-pelayan yang kawakan dalam mengingat pesanan pelanggan tanpa perlu dicatat.

Hidangan yang juga ramai dipesan di tempat ini, adalah Bakso Garuda. Menempati tempat yang sama, dengan harga yang tampaknya resonable juga. Pilihan minum banyak, namun di malam itu kelihatannya beberapa sudah out of stock. Namun demikian, Zestea sebagai minuman resmi masih tetap tersedia, hanya sayangnya cuma terdapat satu variant dan ukuran (Jasmine 350ml). Oh ya, satu hal yang patut mendapat acungan jempol, adalah digunakannya es batu jenis industrial, yang rasanya lebih aman konsumsi dibandingkan es batu balokan yang dipakai di warung-warung. (bay)


Posted by Bayu on Oct 8, '06 4:11 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Buka puasa bareng temen kantornya Nade, ke salahsatu warung seafood di daerah Garuda, Kemayoran, yang konon murmer dan enak. Kami tiba di lokasi by Bajaj, dari kantor Nade di Juanda. Cukup deket ternyata, walau sempet tertahan sedikit macet dan dua kali KRL lewat.

Tempatnya sendiri sederhana, cuma terdapat dua meja kapasitas 8 orang, plus satu meja kecil disebelah area penggorengan. Servis kurang atentif alias cenderung malaweung; untung aja makanan tiba sesuai pesenan, kecuali untuk item minuman yang ketuker-tuker. Waktu penyajian cukup lama, karena kami mesen udah semenjak pukul 17:30an tapi makanan (4 jenis) baru beres pukul 18:15 an, padahal kami adalah pelanggan pertama.

Dari segi rasa, secara mengejutkan ternyata cukup berkualitas! Cumi saus tiram nya dimasak dengan kematangan pas, sehingga potongan putih daging cumi ini memiliki tekstur yang lembut tapi masih cukup kenyal. Udang saus padang nya sendiri cukup pedas dan nendang, sayang rata-rata porsinya kecil. Sedangkan Gurame goreng kering nya, bagi beberapa dari kami dirasa masih bau tanah, tapi karakter ini lebih karena bawaan ikan nya, bukan pengolahannya. Kangkung cah nya lumayan, bumbu2nya cukup kerasa, hanya saja hati-hati bagi para vegetarian... u might find a nasty surprise.

Total biaya plus minuman teh manis adalah 20K/orang dipukul rata (kami berenam). On overall rasa makanannya sendiri is not bad at all, hanya saja keteteran dalam hal kecepatan, ketanggapan, dan kebersihan. (bay)


Posted by Bayu on Oct 3, '06 4:14 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini dari gerai Sushi - Tei terbaru di Senayan City waktu buka puasa beberapa waktu lalu. Setelah pengambilan dua gambar pertama, seorang pramusaji manis mendekati kami dan menginformasikan kalau kami TIDAK BOLEH MENGAMBIL GAMBAR MAKANAN.

Oh yeah, like I care... Tapi karena ternyata tampilan hidangannya juga pada STANDAR ABIS, maka akhirnya gw cuma mood buat nambah jepret beberapa pesenannya Fabee (+ orangnya).

Foto-foto acara ditempat ini yang gw hadiri, bisa diliat disini:
+ http://kangbayu.multiply.com/photos/album/174

Btw, Sushi Tei ini merupakan restoran kedua dari beberapa restoran yang pernah penulis kunjungi, yang melarang pemotretan makanan. Kualitas sih cukup lumayan, harga juga cukup reasonable karena banyak pilihan yang berharga hanya 5K - 9K, pilihan menunya juga banyak yang menarik. But will I be back?

Hmm... keliatannya masih banyak alternatif lain yang lebih pas ama hobby gw.(bay)


Posted by Bayu on Sep 24, '06 10:46 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Buka puasa pertama di rumah mertua, menunya adalah Ayam Balado dengan petai, Rendang Sapi, serta oseng Kangkung (by special request). Pembukanya, es mentimun yang segar buatan Dian*!

Selamat berbuka, semoga shaum kita hari ini diterima oleh Alloh SWT.

*adiknya Ade

Posted by Bayu on Sep 24, '06 9:55 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Warung seafood jagoannya Winda di Taman Cibeunying, Bandung. Ternyata ngantrinya bujubune, pas udah dapet tempat dudukpun, nunggunya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa sekali, beda jauh sama service-nya Seafood 94 Mulyono di Gn. Sahari, Jakarta, yang sebegitu instantnya padahal yang ngantri juga gak abis-abis.

Tapi all in all, makanannya enak, affordable, dan penampilannya lumayan heboh. Empat menu yang kami pesen malem itu (udang, cumi, ayam*, kangkung cah), nasi plus minum, cuma ngabisin sekitar 24K per orangnya. Recommended, soalnya Ade aja, yang bukan seafood lovers, sekarang ini secara berkala tercetus pengen makan seafood (sampe-sampe disangka lagi ngidam).... Tapi kalo kesini, siap2 bawa cemilan (atau TTS, atau pe-er, atau bantal) buat nemenin nunggu se-jam nya, okeh?!

Gambar-gambar diambil sehari sebelum Pasar Seni ITB 2006.

*nope, Agung gak convert, kalo Ida sih emang dah doyan seafood dari dulunya.


Posted by Bayu on Sep 24, '06 9:29 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Salahsatu hasil dari "ngidam"nya Ade atas makanan seafood. Tadinya sempet ragu ngeliat lokasinya (Jl. Sabang) yang bukan main area buat makanan jenis seafood. Tapi ngeliat pengunjungnya yang lumayan banyak, kami putuskan buat nyoba... Apalagi display bahan baku yang dipajang terlihat sangat menarik.

Nggak lupa tanya-tanya harga dulu (aturan WAJIB dalam berkunjung ke tenda seafood), dan ternyata cukup affordable;

+ Udang 17K
+ Cumi 13K
+ Kepiting 60K (satu porsi 2 ekor, boleh pesen setengah porsi)

Dari segi rasa, well... nothing special, tapi cukupan lah.


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help