Bayu's posts with tag: food & drinks

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag food & drinks
Posted by Bayu on Jun 12, '08 4:36 AM for everyone
"maaf tadi ibu pesennya nasi goreng spesial, tapi kami anternya nasi goreng seafood" kata mas-mas yang sedari tadi bolak-balik nganterin pesenan ke meja kami, kini berdiri disamping meja deket si boss

"loh, emang kami pesennya nasi goreng seafood mas" sanggah gw
"nasi goreng spesial pak, bukan seafood" jawab si mas-mas
"mana Ros, liat bon nya" Ian nanya ke Ros, Ros ngeluarin bon yang udah dibayar tadi
"disini ketulis... nasi goreng spesial... tapi aku tadi nulisnya nasi goreng seafood koq" jawab Ros
"iya, kita tadi mesennya nasi goreng seafood koq, udah dateng tuh" Fera ikut komentar
"di bon nya tertulis nasi goreng spesial, jadi tadi salah antar" mas-mas tetep keukeuh
"coba liat tulisan tangan saya tadi mas, ayo cek sana" tantang Ros
"kami mencatatnya nasi goreng spesial bu" jawab mas-mas tak bergeming
"lho terus salah siapa?" boss gw mulai panas
"ya udah mas, jadi kita kurang bayarnya berapa?" ros males ribut gak penting
"kalau nasi goreng seafood sama nasi goreng spesial beda... seribu bu"

***GUBRAK!!!***

"nih nih..." temen gw ngasi duit seribu perak

Kami nerusin makan sambil suasana makan jadi nggak enak. Nggak berapa lama kemudian...

"maaf bu, ini uangnya kami kembalikan" mas-mas tadi balik ke meja
Ros memandang mas-mas dengan penuh tanda tanya
"ternyata kasir kami nyatetnya nasi goreng spesial, tapi harganya sudah nasi goreng seafood" jelas si mas-mas

***GUBRAK MASSAL***

"..... oh" no comment lebih lanjut dari kami
"makasih bu" lanjut mas-mas
"ya mas" jawab Ros

Boss gw mulai nyeletuk panas lagi, karena ada satu pramusaji lain yang coba ikut menjelaskan permasalahan. Sedangkan gw nerusin nyendok nasi capcay yang mulai terasa plain gara-gara keburu kenyang nyoba makanan kiri-kanan tadi. Worthed ya, duit seribu dibahas?

Bukannya uang segitu nggak ada artinya, masih bisa beli dua kerupuk atau naek angkot dari mulut gang ke jalan gede, tapi comparatively value duit segitu dibanding value customer satisfaction seberapa gede sih? Diganggu ditengah2 makan, trus dibuat harus berdebat, dan ternyata murni kesalahan restoran.

Akhirnya, walau bill makan kami berlima tadi siang sampe 200 ribu an, no tip. Boss gw terutama yang geuleuh berat dengan kejadian tersebut. Dan tadi itu kami bukan makan di warteg atau warung pecel lho, dimana seribu rupiah mungkin berpengaruh besar sama margin pendapatan harian, tapi ini restoran mie lumayan ngetop, adanya di Mall, dengan menu per item diatas 20 ribu semua, dan spending customer rata-rata 30 ribu sekali makan. (clue: depannya "Gang", belakangnya "Kelinci" =P)

Kalo gw yang jadi pihak restoran sih bakalan diem aja tuh, secara jumlahnya sama sekali nggak significant, sementara tamu2 tersebut billing nya gede, dan tindakan sedemikian bisa bener2 ngancurin mood dan customer loyalty. Customer loyalty; hal yang membuat pelanggan memilih untuk kembali mengunjungi tempat kita, walaupun belasan pilihan lain bertebaran di area yang sama. (bay)

Posted by Bayu on May 27, '08 2:14 AM for everyone
Category:Other
Buat yang seumuran ma gw, mungkin pada lupa kalau sebelum masuk Pocari dan industri isotonic drinks booming seperti sekarang ini, dulu pernah ada produk namanya Gatorade. Ya, Gatorade sudah lebih dulu masuk di pasar nasional sebagai minuman isotonik, jauh sebelum Pocari ada (cmiiw). Harganya juga relatif terjangkau, bukan seperti versi Gatorade yang sering muncul di imported goods stores. Anehnya, seperti hilangnya permen Cocorico can Chelsea yang dulu sangat ngetop, Gatorade ini tiba-tiba juga menghilang dari pasar... dan terlupakan.

Mungkin gatel ngeliat pasar minuman isotonik yang kembali membesar, diam2 Gatorade kembali menjajal pasar Indonesia, dan produknya diluncurkan dalam tiga variant rasa dengan kemasan praktis 500 ml. Harganya juga relatif terjangkau, satu range dengan Prosweat (Coca-Cola) dan Pocari di kisaran 5000 rupiah.

Mencoba buat bernostalgia, gw beli yang warnanya biru (again) karena seinget gw rasanya dulu adalah sirsak or grapefruit. Eh ternyata sekarang rasanya Raspberry... dan jadilah karakter rasanya asem cukup menyengat, relatif lebih 'keras' dibandingin minuman isotonik lainnya. Tapi on overall oke lah, kecuali soal harganya yang relatif rada tinggi. Mungkin emang mau nantangin Pocari. (bay)


Posted by Bayu on May 27, '08 12:04 AM for everyone
Category:Other
"Another isotonic drink"... gitu pemikiran gw waktu ngeliat iklan produk ini di TV. Iklannya lumayan sih, plus dengan visualisasi packaging produk yang unik, jadilah si Fatigon Hydro+ ini masuk daftar belanjaan tersier.

Waktu ke CaFo beberapa waktu lalu, akhirnya diketemukanlah produk yang satu ini. Variant rasanya masih manunggal, hiji wungkul, dan gw assume pasti rasa grapefruit, menilik strategi dari minuman lain sejenis. Dan memang selain dari rasa standar ini (Pocari Sweat's), keliatannya cuma aroma sirsak lah yang cocok dengan image kesegaran yang ditawarkan dari minuman sejenis ini; asem, light, sedikit gurih.

Waktu kemasannya dibolongin pake ujung jempol (right size for this), warna airnya memang bening. Sruput dikit dan mulai menganalisis.... Lho? Koq karakter rasa air kelapa nya kuat banget? Haha! Setelah dibaca lagi kemasannya, ternyata emang ini variant rasa air kelapa! Bahkan hebatnya, dibuat dari air kelapa asli! Produsen kemudian cuma menambahkan stabilizer dan beberapa vitamin tambahan, jadi bisa dibilang sebagian besar manfaatnya emang didapet dari air kelapa.

Asik, karena bisa me-replikasi dengan cukup baik karakter rasa air kelapa beneran, minus karakter rasa 'basi' yang biasanya selalu muncul. Manisnya juga sedeng, masih dalam range normal rata-rata minuman isotonik.

Bisa jadi pilihan yang menarik buat yang suka dengan air kelapa, nyari manfaatnya (aneka vitamin dan mineral), tapi males bawa2 gembolan buah kelapa kesana kemari. (bay)


Posted by Bayu on May 26, '08 11:40 PM for everyone
Category:Other
Tertarik dengan warnanya (blue lover), gw nekad nyoba variant Fanta yang satu ini. Walaupun dari pemahaman udah fixed betul, bahwa Fanta ini soft drink yang bener2 soft karena lebih mirip limun dengan sedikit gelitik -- expect no punching -- apalagi jika dibandingkan dengan sodara se-pabriknya; Coca Cola yang dari segi rasa maupun soda jauh lebih garang.

Dan bener saja, walaupun dalam keadaan freshly opened, tendangan dari si biru ini kurang mantap. Sedangkan dari segi rasa, yah, blueberry deh. Untungnya nggak jadi terlalu tipis karakter rasanya karena ternyata e ternyata... variant Fanta yang satu ini mengandung pula... teh hijau! Teh hijau di minuman soda? It's new. Like it? Hmm... lumayan lah, dah kelewat bosen sama rasa dari Fanta merah.


Posted by Bayu on May 3, '08 9:13 PM for everyone
Start:     Jul 1, '08 9:00p
End:     Jul 2, '08
Location:     Hotel Gran Melia Jakarta
Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan fakta ini saja, Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi pusat industri makanan halal dunia. Selain dari dukungan pasar, SDA dan SDM Indonesia pun sebenarnya sangat memadai untuk mendukung industri makanan halal dunia.

Terkait hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan konferensi halal tingkat global yang bertajuk "The 1st Indonesia Global Halal Summit" pada tanggal 1-2 Juli 2008 yang bertempat di Hotel Gran Melia, Jakarta. Acara ini sendiri rencananya akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Tujuan dari diadakannya acara ini sendiri adalah untuk memberikan para pengusaha yang berkecimpung didalam industri halal lebih banyak informasi lagi mengenai perdagangan halal di dunia, dan untuk mengambil bagian di dalam industri halal yang kian berkembang.

Halal tidak hanya terkait dengan makanan dan minuman saja, namun termasuk didalamnya farmasi, produk-produk kosmetik dan kecantikan, gaya hidup, keuangan, asuransi, pariwisata, pendidikan, dan lain sebagainya..

MENGENAI THE 1ST INDONESIA GLOBAL HALAL SUMMIT 2008:

Industri halal merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang di dunia; memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi para pelaku bisnis di industri halal di segala aspek.

Ada terdapat banyak peluang untuk melakukan bisnis di industri halal, baik Muslim maupun non-Muslim yang ingin mengukuhkan perusahaannya di pasar ini.

Para ahli dari dunia yang berkecimpung dalam industri ini dari sektor swasta dan pemerintah akan berkumpul selama dua hari di Jakarta untuk menjabarkan tentang masa depan dari industri halal.

Acara selama dua hari ini akan meliputi tentang dua hal penting di industri halal; barang dan jasa. Acara akan menjadi landasan dasar yang penting bagi para pelaku bisnis yang berkecimpung di industri halal dunia untuk membicarakan dan membangun aliansi-aliansi baru di industri halal.

MATERI SECARA GARIS BESAR:

  • Melihat Pangsa Pasar Halal Secara Global – Peluang & Tantangan

  • Keuntungan Yang Bisa Didapatkan Dari Pangsa Pasar Halal Dunia

  • Pentingnya Sertifikasi Dan Standarisasi Untuk Pengembangan Usaha

  • Pentingnya Mempunyai Merk Halal Untuk Memperluas Pangsa Pasar

  • Peluang & Tantangan Dalam Bisnis Produksi Makanan

  • Peluang & Tantangan Dalam Industri Halal

  • Syarat-syarat Yang Harus Dimiliki Sebuah Industri Agar Mendapatkan Kredibilitas Halal Dalam Pangsa Pasar Dunia

  • Perkembangan Sektor Keuangan Syariah Dan Peluang Yang Terdapat Didalamnya

  • Membuka Kesempatan Untuk Berinvestasi Di Industri Halal Yang Tersedia Di Indonesia


TUJUAN & MANFAAT:

  • Untuk mempromosikan, mengembangkan dan menstimulasi pertumbuhan industri halal

  • Untuk mengevaluasi peluang-peluang yang ada di industri halal dan mencari cara untuk masuk kedalamnya

  • Pentingnya sertifikasi dan standar halal untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen

  • Berbagi pengalaman, pandangan dan pengetahuan sesama pelaku bisnis di industri halal

  • Untuk mengembangkan dan mempromosikan merek dagang yang berlabel Halal

  • Untuk mendukung para pelaku bisnis dalam menggunakan transaksi syariah


PESERTA:

  • Semua pelaku bisnis yang berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan industri Halal

  • Pelaku bisnis yang terlibat dalam industri barang konsumsi (Consumer Goods) seperti makanan & minuman, kesehatan, kosmetik, farmasi, dll

  • Penyedia pakan ternak dan pertanian

  • Para pelaku bisnis dalam industri supermarket dan toko-toko retail

  • Pebisnis di industri rumah-rumah penjagalan

  • Akademisi/Peneliti/Asosiasi Industri/ Konsultan

  • Perwakilan dari pemerintah

  • Institusi-insitusi Keuangan (bank, asuransi dan jasa keuangan lainnya)


Untuk lebih jelasnya mengenai acara ini, silahkan menghubungi Niken di 0816 1343 920 / (021) 3190 9775 / (021) 390 3177 / (021) 314 0547 atau melalui e-mail di niken_l4@yahoo.co.id / ms.nikenlarasati@gmail.com

Posted by Bayu on May 3, '08 4:06 AM for everyone
Kunjungan tadi malam ke Mall Ambassador menuntun gw dan isteri untuk bernostalgia, makan di warung padang di deretan warung penghuni jalanan sempit belakang mall. Aneka ragam makanan tersaji di jalanan ini, mulai dari mie baso, mie ayam, ketoprak, soto betawi, gado-gado, sate, ayam bakar, dan jenis-jenis makanan kakilima lainnya. Kalau siang hari kerja, bisa dipastikan lokasi ini akan dipenuhi oleh aneka ragam manusia, mulai dari mbak dan mas OB, para pegawai toko di mall, hingga ke penghuni-penghuni kantor di bilangan Mega Kuningan yang relatif tampil keren-keren.

Di jalanan sempit inilah, terletak salahsatu warung padang langganan gw sejak taun 2003; RM Gantino. Dulu ditempat ini, menu favorit saya seharga Rp. 4500 rupiah adalah nasi plus telor kembung. Ada faktor-faktor pengiritan memang, tapi jangan lupa juga kalau pada dasarnya saya ini adalah seorang maniak telur dadar.

Kunjungan kami kemaren sore, ternyata membawa sedikit perubahan dari skenario standar kami. Walaupun isteri tetap makan di warung padang ini, namun perhatian gw nggak bisa lepas dari warung seberang yang keliatannya baru beberapa lama saja buka; "Warung Empat Belas Tiga" Mas Andi. Hidangan utamanya? Nasi Rawon!

Wah, berani juga masang Rawon jadi menu utama... Soalnya warga Jakarta keliatannya nggak terlalu tergila-gila dengan soto berkuah hitam kecoklatan ini. Anyway, karena penasaran dan sampe saat ini masih belum nemu jualan Rawon yang berkelas juara, nekadlah gw menyeberang ke warung itu dan memesan satu porsi Rawon komplit untuk dimakan di warung padang nemenin isteri.

Waktu dateng, hidangan Rawon nya terlihat cukup menggoda; kuah pekat kehitaman, dengan lapisan tipis minyak di pinggiran kuahnya. Porsi cukup generous, dan smells good. Ternyata porsi standarnya hadir tanpa telur asin. Jadilah gw memesan tambahan telur asin ini supaya sensasi makan rawon nya lebih yahud.

Ketika diciduk, Rawon ini ternyata menyimpan kejutan lain; permukaannya penuh ditutupi oleh irisan layu cacahan bawang daun. Ketika diseruput, ternyata panasnya luar biasa. Bleh... kepaksa deh tahan liur dan tiup-tiup dulu... Namun demikian, sempet kerasa sensasi rasa kuahnya yang rich sekaligus gurih... exciting! Dan bener saja, ketika sesendok kuah itu sukses diseruput, sensasi rasa yang tadi sempet hadir sekilas, kini hadir sekuat tenaga! Kuah rawon yang gurih, dengan emulsi keluwak dan bumbu entah apa lagi yang berpadu dengan klop dan menciptakan sensasi rasa khas rawon dengan sedikit tendensi kearah pahit, ditingkahi juga dengan sekilas rasa manis dari bawang-bawang layu tadi. Tidak terlalu pekat tapi sangat enjoyable, wow! Seruput lagi ahhh....

Waktu menyendok potongan daging sapinya yang melimpah juga, ternyata bumbunya meresap dengan sukses diantara serat daging yang empuk minus lemak ini. Seketika itu juga, langsung saja otak gw menampilkan data-data pembanding dari sekian belas mangkuk Rawon yang pernah gw santap di seantero Jakarta ini.

Kesimpulan para juri di kepala gw adalah anonymous; this is my Champion!

Setelah nyaris putus asa nyoba aneka rawon di Jakarta, kecewa dengan rawon-rawon berlemak di pinggir jalan, kecewa dengan Rawon Setan Saharjo yang katanya jawara di Surabaya sana (duapuluhlima rebu perak pula), sekarang semangat gw kembali muncul!

Yang lebih seru lagi, adalah waktu gw tanya berapa harga total yang harus gw keluarkan untuk semangkuk Rawon fantastis plus Telor Asin yang sangat nendang tersebut?

Limabelas ribu? Tujuhbelas ribu?...

"Sepuluh ribu mas" jawab si Ibu
"Heh? Udah sama telor asin nya bu?" jawab gw kaget
"Iya mas, sudah"

"Wow!" reaksi gw, walau cuma dalem ati. Mengingat, selain kuahnya yang mantap, potongan daging yang disertakan juga cukup generous. Sepuluh rebu aja? Perut kenyang hati gembira dompet tetep sehat dong. Andai saja si Mas Andi ini berjualan di Tebet, Kemang, atapun daerah jajanan lain yang happening (dan lebih mudah dijangkau), dijamin si ibu akan segera punya banyak pelanggan yang fanatik, walaupun harganya dinaikkan 50% sekalipun.

Lantas gimana soal stikernya? Merunut dari pengalaman ini dan pengalaman yang sudah-sudah sih, gw kepikiran aja nih untuk bikin semacem stiker by Epicurina, buat ditempelin di kios-kios atau gerobak-gerobak kakilima, khusus buat mereka yang gw / juri lainnya anggap "lulus" ujian food tasting. For free tentunya, karena tujuan utamanya buat ngasi tau khalayak Good Food Hunters, apa tempat makanannya itu sudah "Epicurina certified" atau nggak =D. Selain dari, tentunya, membantu mempromosikan para food vendors yang walaupun less-known, tapi dianggap layak buat dikenal. Warung Empat Belas Tiga (143) ini contohnya, sepi dari pengunjung (malam hari itu), tapi sebenernya punya menu Rawon yang yahud!

"Besok mampir lagi ya mas" lanjut si ibu memecah lamunan gw.

Hehehehe, next time ya bu kalau sedang ke daerah sini lagi. Sementara itu, saya kasih hadiah tulisan ini aja dulu ya =). (bay)

n.b: nggada foto. selain dari penampilan sih nothing spectacular, juga karena tangan keburu sibuk buat nyomot toge, sambel, dan telor asin.

Posted by Bayu on Apr 27, '08 8:00 AM for everyone
Sebenernya gw seringkali speechless nyaksiin aneka ragam iklan produk kopi di TV Indonesia. Karena minuman ini termasuk raja-nya beverages Indonesia, dan digemari aneka kalangan masyarakat dari mulai tukang parkir sampe boss nya boss, maka tiada hari lepas dari kehadiran iklan kopi di TV. Sayangnya, entah karena dana yang pas-pasan, atau target pasar utamanya dianggap menengah kebawah, seringkali iklan kopi ini muncul rada absurd; misalnya terlalu berlebihan dalam menggambarkan kualitas, atau mengasosiasikan diri dengan kegiatan yang tidak benar.

Misalnya iklan Kopi ABC Plus ini, dalam dua versinya. Versi pertama: Sepasang suami isteri sedang duduk di meja makan dan si isteri protes mengenai suaminya yang tidak mau makan masakan yang sudah ia siapkan dengan susah payah. Hasilnya? Si suami disiram kopi oleh si isteri sampai terjungkal jatuh dari kursi!

Versi kedua: Masih dalam setting sama, namun tanpa percakapan. Tiba-tiba si isteri meraih cangkir kopi, dan si suami dengan tergesa-gesa meloncat dari kursi menyelamatkan diri! Si isteri tersenyum sinis dan mengambil kopi untuk diminum.

Mungkin asosiasi awalnya adalah kearah "strong", tapi koq yang muncul malah mengaitkan diri dengan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)? (bay) 

Posted by Bayu on Apr 26, '08 8:23 AM for everyone
Alkisah di sebuah Sekolah Dasar (ingat, Sekolah Dasar, dengan anak-anak mungil, lucu, kesayangan hati orang tuanya), ibu guru udang sedang mengabsen kehadiran anak-anak didiknya satu persatu, yang sesuai tema ceritanya, adalah juga udang (iya, iklan ini mengambil setting negara antah-berantah dimana udang-udang kecil bersekolah layaknya manusia)

(barangkali di dunia tersebut, anak didik yang lambat menangkap pelajaran dinamakan "otak orang")

Selayaknya anak-anak Sekolah Dasar yang gemar bermain, maka acara absen inipun tak lepas dari canda gurau antar satu teman dan teman lainnya. Eniwei, setelah satu persatu nama anak didiknya dipanggil; ebi katsu, ebi fried, dll., tibalah gilirannya pada satu anak udang diabsen, namanya Ebi Soshu. Setelah beberapa kali dipanggil tidak menjawab, dan teman-temannya celingukan mencari temannya tesebut, akhirnya ketahuanlah ada dimana si anak Sekolah Dasar tersebut berada.

Si kecil Ebi Soshu ternyata sudah jadi menu baru di Hoka-Hoka Bento! Digoreng tepung dan dimakan dengan tiga macam saus!

Anda tega makannya? =) (bay)

Posted by Bayu on Apr 21, '08 1:31 AM for everyone
Category:   Breakfast & Brunch
Style:   Soulfood
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   1

Description:
Versi meriah dari sarapan oatmeal yang cenderung plain. Idenya ngambil dari sajian muesli di hotel-hotel pas breakfast, tapi ini versi malesnya.

Variasi yang dibuat ini dioptimalkan dari sisi praktisnya saja, karena mudah disiapkan, sepenuhnya dibuat dengan jenis bahan baku yang mudah diperoleh (setidaknya di Jakarta), tahan disimpan lama, dan biaya relatif terjangkau.

Manisan Pala Hijau dipilih karena relatif murah dibandingkan harga manisan lain sejenis, dan punya karakter rasa yang sedikit pedas untuk nambah nendang sensasi rasa oatmealnya.

Manisan Mangga dipilih karena rasanya yang "kaya", berguna banget buat ningkatin rasa oatmeal yang plain itu.

Catatan: karena manisan buahnya sendiri cenderung sudah manis, jadi soal penambahan 1/2 sdt gula pasirnya silakan terserah masing-masing ya, perlu atau nggak nya.

Ingredients:
20 gr Oatmeal instant
1/2 sdt gula pasir
1/2 sdt nutrisari
1/2 sdt manisan pala hijau bulat
1/2 sdt manisan mangga
sejumput garam

Directions:
Letakkan oatmeal di mangkuk, campur dengan gula pasir dan nutrisari, juga sejumput garam, aduk hingga merata.

Seduh oatmeal instant dengan air panas (dari dispenser cukup), sambil terus diaduk-aduk supaya tidak menggumpal.

Masukkan manisan pala dan manisan mangga, ketika oatmeal masih panas.

Biarkan lima menit, siap disantap panas-panas!


Posted by Bayu on Apr 9, '08 9:29 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini satu lagi tempat makan favorit isteri selain Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang (BALBT), lokasinya di daerah Ciledug. Yah nggak sampe sana juga sih, secara lebih deket ma pertigaan kearah Kreo (?) sebelum Giant (kalo dari Blok-M), di daerah yang banyak jualan craft & furniture. Posisinya masuk ke halaman toko-toko kecil, bersebelahan sama kios nasi uduk.

Pilihan disini cuma ada empat; Nasi Goreng Ayam / Ati-ampela / Pete / Campur. Semua toppingnya itu disiapkan terpisah, sedangkan base nasi gorengnya sendiri dimasak tersendiri. Rasa nasi gorengnya lumayan gurih dan 'bulet', dan bukan dari jenis yang ngandelin kecap manis jadi item berlebih. Dari tampilan sendiri lebih kearah coklat untuk yang gak pedes, coklat agak merah buat yang pedes. Sebagai temen makannya, ada se-toples gede acar (sayangnya nggak asem) di tiap-tiap meja.

Waktu penyajian cepet, kecuali kalau ada special order (telur ½ mateng misalnya), bakalan rada lama dikit. Yang membuat kagum, adalah bahwa warung sekecil ini sampe punya dua kompor plus tujuh staff buat operasionalnya! Dua tukang nasi goreng, dua tukang nyiapin, tukang bikin minum, tukang siapin bahan, dan satu lagi buat pulang-pergi bawa nasi putih, yang semalemnya bisa abis sampe beberapa dulang ini (foto #3).

Total kerusakan buat makan berdua? Sekitar 25K saja. (bay)

Posted by Bayu on Mar 18, '08 7:17 AM for everyone
Dua orang sahabat dikisahkan sedang melakukan perjalanan keluar kota melewati daerah perbukitan yang meliuk-liuk dengan jurang disana-sini. Waktu berenti di toko, salahseorang mereka sempet beli minuman buat nemenin jalan dan temennya yang nyopir inipun dibagi.

Si temen yang nyupir inipun lantas berterimakasih sama temennya dah ngebagi Coca-Colanya. Temennya menampik, lha yang elo minum tuh bukan Coca-Cola broer. Si supir balik nanya dengan heran, koq bisa? Soalnya rasanya mirip banget Coca-Cola. Dijawab ama temennya"

"It tastes like Coca-Cola but it has zero sugar"

Denger jawaban begini si supir kaget

"What? Zero sugar? No way!"

...dan mengalihkan perhatian dari jalan sehingga mobil pun masuk jurang!

Didasar jurang, dalam keadaan terbalik, si temen akhirnya bilang kalau itu emang Coca-Cola dan dijawab dengan sebal oleh temannya yang nyupir tadi.

Pengenalan fitur "zero sugar but still tastes like original Cola" nya sih dah kena. Cuma yang rada bikin gw bingung... Emang pemuda-pemuda jaman sekarang segitu concern nya sama kandungan gula? Secara yang ditampilkan adalah dua pemuda biasa yang (walaupun bule) adalah pemuda yang bisa ditemui sehari-hari sebagai ordinary guys, yang lazimnya setau gw gak gitu peduli sama fitur beginian. Contohnya aja, rata-rata temen gw kalo disuruh milih antara Coke klasik dengan Diet Coke aja pasti milih yang klasik karena pertimbangan utamanya bukan health-concern tapi flavour-concern. Beda kasusnya kalau yang heran tersebut adalah mereka yang diet-ers, body-buildingers, atau specialized community lainnya.

Makanya walaupun iklannya ini asik-asik aja, tapi konsep dasarnya malah ngga kena menurut gw... terhadap dunia yang gw kenal, setidaknya. (bay)

Posted by Bayu on Feb 21, '08 2:28 AM for everyone
Setelah merhatiin gimana meriahnya warna-warna yang tumpah-ruah di nikahan adiknya Nade beberapa waktu lalu, somehow gw ngerasa koq seperti ada kaitannya ya, antara budaya visual dengan budaya kuliner? Apakah perwujudan budaya visual justru malah dipengaruhi budaya kuliner?

Seragam nikahan Sumatera, buat gw adalah sangat "nge-jreng"; kaya warna mencolok, berkilauan disana-sini, dengan kesan akhir yang "sangat meriah" dan "heboh". Bedakan dengan pakaian adat Sunda yang Kebaya Putih itu, atau pakaian adat Jawa yang Kemben Hitam itu, walau masih menyiratkan kemegahan namun dari segi warna yang dipakai, masih jauh lebih kalem dan tidak mencolok. Adapun perlak-perlik dan glitters hanya diterapkan pada sebagian kecil saja dari penampilan sang pengantin.

Kalau dibandingkan dengan budaya kulinernya, seragam nikahan Padang yang rame dan penuh warna ternyata klop juga dengan prinsip kuliner mereka yang seringkali memakai aneka-ragam bumbu dengan jumlah melimpah, dan cara memasak yang rumit. Ketika di Sunda, cabe merah keriting dipakai beberapa buah untuk menambahkan rasa hangat pada masakan, atau diulek sebagai sambal, maka di Padang, cabe merah keriting ini ditambahkan pada masakan dengan jumlah yang fantastis; satu kilo, atau dua kilo sekaligus! Setelah itu, masih ada sekitar lima atau enam macam rempah lainnya yang harus ikut ditambahkan untuk mendapatkan rasa akhir yang "benar" dan sesuai pakem. Hasil akhirnyapun benar-benar berupa suatu sajian yang kaya rasa sekaligus nendang.

Bedakan dengan kalau makan Pepes Ikan Mas, Tutug Oncom, Sayur Asem atau Gudeg Yogya. Walaupun mungkin sama-sama melibatkan bumbu yang tidak sedikit, tapi rata-rata nuansa rasa yang ditampilkan adalah subtle, "sopan".

Kembali ke budaya visual, sudah merupakan pengetahuan umum kalau baju-baju yang dijual di Pasar Tanah Abang banyak berakhir di negara-negara Afrika. Dan untuk kebutuhan yang satu ini, salahsatu ciri khas yang harus dipenuhi adalah pilihan warnanya, harus warna-warna mencolok dan meriah. Bedakan dengan pakaian-pakaian di FO yang sebenarnya banyak diperuntukkan untuk pasar Eropa; rata-rata warna yang dipakai adalah jenis dari warna-warna yang lembut dan tidak terlalu mencolok, sebut saja misalnya warna-warna pastel. Dan pada kenyataannya juga, ratusan jenis rempah yang terdapat di dataran Eropa, sangat jarang yang bisa memberikan nuansa rasa nendang selayaknya rempah-rempah yang terdapat di Asia. Majoram, Thyme, Oregano, Basil, semuanya tak lebih tak kurang sekedar menambahkan karakter rasa yang lembut, atau "saheab" kalau basa Sundanya.

Lantas gimana kasusnya dengan jenis-jenis masakan yang menggunakan aneka rempah dari daerah berbeda? Nah, berbeda dengan trend, apa yang kita kenal sebagai "kebudayaan daerah" semuanya terbentuk pada masa dimana komunikasi antar daerah yang jauh masih sulit dilakukan. Akibatnya, pembentukan suatu kebudayaan akan sangat terpengaruh oleh lingkungan dimana suatu kebudayaan berasal, termasuk diantaranya, keterbatasan dari sumber alam yang dapat mereka temukan disekitar tempat tinggalnya.

Jadi apakah betul gaya masakan berpengaruh pada gaya penampilan? Jika lebih meriah masakannya, maka lebih meriah juga budaya visualnya? Lebih kalem masakannya, lebih kalem juga penampilannya? I think so. Menurut anda?(bay)

Posted by Bayu on Feb 19, '08 2:29 AM for everyone
Category:Other
Nyobain minuman ini waktu ada promonya di CaFo Ciledug. Sebenernya dah ngambil se-pet kecil (seperti di gambar) tapi karena penasaran jadinya langsung minta sample juga sama mbak-mbak SPG nya.

[Btw, trolley Coca Cola Zero nya lucu, technically guessing, ada perangkat buat jaga suhu dingin si minumannya juga, jadi sample yang dikasih ke pengunjung tetep sangat dingin]

Dari segi rasa, sample yang kami coba kadar nyereng nya tinggi jadi rada bikin kaget mulut dan leher. Sedangkan kadar manisnya, walaupun zero calory nggak berarti zero taste, malah manis banget! Buat yang dah biasa minum Diet Coke, mungkin bakalan nyadar kalau karakter rasa manisnya ini mirip banget, cuma, lebih "colorful" lagi. Setelah liat botol kemasannya, ternyata memang produk ini nggak pake gula biasa, tapi gula low calory sampe dua macem. Mungkin dari sinilah muncul rasa manis yang lebih colorful dibandingin rasa manisnya Diet Coke.

Dari segi dizain, cool! Perpaduan logo classic nya Coke dengan warna jet black dan striping merah, membuat produk ini terkesan ganteng sekaligus misterius =)

Kesimpulannya, gw sih suka-suka aja, tapi isteri yang nggak suka, malah terlalu manis katanya. (bay)


Posted by Bayu on Feb 16, '08 11:36 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berbekal informasi dari temen kantornya Nade mengenai Mie Ayam ter-enak se-Jakarta, mampirlah kami ke Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, dimana "Mie Ayam Boy" ini berada.

Dan sungguh kami salah informasi, karena apa yang diharapkan sebagai mie ayam versi jawa seperti Mie Ayam Yunus di Tebet, dan rata-rata mie ayam gerobak yang berseliweran di jalanan, ternyata adalah mie ayam versi Chinese seperti yang banyak ditemukan di... restoran Chinese food.

Gw nggak prejudice sama jenis mie ayam yang satu ini koq, cuma antara keduanya (Chinese vs. Javanese), gaya penyajian maupun sensasi makannya jauh berbeda:

Mie Ayam Chinese lazimnya disajikan kering dengan kuah terpisah, dengan topping standar berupa ayam rebus dan pilihan lauk antara bakso, pangsit kuah, atau pangsit kering (dua-duanya pake filling daging). Kuahnya sendiri biasanya berupa kaldu ayam kental dengan bumbu merica dan asinan sawi.

Sedangkan Mie Ayam Jawa lazimnya disajikan dengan kuah dicampur, topping standar berupa ayam semur (manis) dan pilihan lauk antara bakso, atau pangsit kering crispy tanpa daging. Kuahnya sendiri biasanya hanya air biasa, jarang yang pake kaldu kental.

Mie Ayam Boy, menyajikan hidangan jenis pertama; ala Chinese. Namun hal ini baru kami ketahui setelah masuk ruangannya yang kecil dan sesak itu, tanpa ada management pengaturan waiting list sama-sekali (siapa cepat dia dapat). Tapi mungkin disinilah salahsatu daya tarik dari restoran sedemikian; dimana untuk mendapatkan meja kosong saja sudah termasuk prestasi yang bisa dibanggakan.

Setelah menjaga dua meja dengan pelanggan yang masih menyeruput mie nya, akhirnya salahsatu dari mereka menyerah dan meninggalkan mejanya untuk kami (setelah bayar2 tentunya). Tak lama berselang, akhirnya meja kamipun dibersihkan dan kak lama berselang seorang pelayan berpakaian sipil (tanpa seragam) pun mendekati kami.

Yang pertama terlontar dalam hati adalah "astaghfirulloh!", bukan karena ada menu B2 dalam daftar makanannya, tapi memperhatikan bahwa semangkuk komplie mie ayam disini (plus baso, pangsit kuah dan pangsit kering), dibandrol dengan harga sedemikian sehingga makan berdua disini (including minum) harus ditukar dengan selembar uang rupiah warna biru, bahkan lebih!

Tapi terlanjur sudah nyampe, sudah ngantri, sudah dapet duduk, sudah dapet menu, dan sudah lapar, jadilah kamipun memesan dua macam menu. Gw nge-tes Bihun Ayam Bakso Pangsit Kuah nya, sementara isteri menjajal Mie Ayam Pangsit Gorengnya. Oh nggak lupa segelas Es Jeruk dengan warna aduhai memikan yang membuat isteri jatuh cinta pada pandagan pertama.

Tak terlalu lama berselang pesanan kamipun hadir, dan gw dengan antusias segera membolak-balik campuran bihun, ayam rebus, dan sayur sawi di mangkuk gw. Menyumpit sejumput, memasukkannya ke mulut, dan mulai menganalisis...

Rasanya sih lumayan enak, dengan kadar minyak yang rada berlimpah. Ayamnya sih standar, dengan potongan yang nggak terlalu besar dan kandungan kulit yang cukup banyak. Pangsitnya oke deh, baksonya juga gitu; pejal dan meaty. Pangsit gorengnya sendiri juga lumayan. Es Jeruknya sendiri ternyata memang diambil dari variant jeruk peras manis yang warnanya memang aduhai. Personally gw prefer yang lebih kecut.

On overall complaint gw sih cuma karena kadar minyak plus kualitas topping ayam yang rada kebanyakan kulit daripada daging. Dan tentunya, harga. Seporsi Bihun Ayam dengan porsi yang lebih melimpah di Megaria misalnya, atau Bihun Kering superb dengan topping ayam cincang di langganan gw di Naripan Bandung misalnya, dua2nya dibandrol dengan harga yang lebih reasonable dengan tingkat kenikmatan yang nggak kalah enaknya.

Akhirul kata, dibanding Mie Ayam Boy (MAB) isteri merasa secara kontekstual lebih worthed buat mampir ke Bakmi GM. Gw ndiri walaupun bukan maniac GM (prefer to adventure not to settle), mengiyakan saran isteri tersebut. Apalagi selain harga yang anehnya relatif lebih murah (padahal GM dah gw anggap mahal), interior yang nyaman (vs ala kedai mie tempo doeleoe di MAB), pelayan yang sigap (vs cuma empat orang untuk all the chores di MAB), waiting list nya juga bener (vs harus rebutan bangku sendiri).

Kalau diluar konteks, kami sepakat tetep menjagokan Mie Ayam Yunus di Tebet. (bay)

Posted by Bayu on Feb 16, '08 9:27 PM for everyone
Category:Other
Nemu produk ini di salahsatu mini market. Produknya dari jenis sereal; cocok buat sarapan maupun "ganjel perut" yang relatif sehat. Saat ini Cerevita beredar dalam tiga pilihan rasa, dengan menawarkan pilihan rasa yang unik, sesuai taglinenya "Cereal With A Twist Of Taste":
  • Jazzy Jackfruit Goes Banana

  • Barley Sweet Corn ... (lupa)

  • Chocolate (not so twisting)

Buat percobaan, gw nyoba yang kira-kira rasanya paling harmonious; "Jazzy Jackfruit Goes Banana". Setelah gw baca-baca lebih teliti, ternyata produk ini memuat juga potongan (chips) dari buah beneran! Wow, kejutan menarik. Selain itu, sereal ini juga mengklaim diri bisa dinikmati panas, atau dingin, pertama dalam kategori sereal.

Berhubung gw suka yang dingin-dingin, dan serealnya sendiri memang dari jenis manis (bukan asin ala Quaker dan Simba). Jadilah gw coba alternatif seduh pake air dingin. Seperti dugaan awal, serbuk serealnya nggak larut dengan baik dan malah membentuk butiran2 berisi kantong udara, jadinya harus dibantu dengan sedikit intervensi dari sendok untuk memaksa kantong2 serbuknya ini buyar. Didiamkan sebentar supaya fruit chipsnya melunak, dan dengan nggak sabar gwpun mulai "meneliti" sereal unik ini.

Dari segi rasa, nice, ambience nya lembut dengan sentuhan manis legit beserta aroma dan rasa paduan pisang dan nangka. Untuk kandungan serealnya, dengan kemasan @ 30 gram per-sachet, memang nggak banyak yang bisa dijaring. Jadinya produk ini lebih cocok kalau diadu dengan minuman sereal instan semisal Energen. Keunggulannya, ya dari segi pilihan rasa serta adanya fruit chips.

Gimana dengan rasa2 lainnya? Next step deh, tapi yang gw coba ini sudah cukup memuaskan.

Tips: Untuk penyajian dingin, perlakukan SOP untuk produk granular secara general aja; seduh dulu dengan air panas sampe semua butiran serbuknya larut, baru ditimpa sama air dingin. (bay)


Posted by Bayu on Feb 16, '08 12:24 PM for everyone
Category:Other
Yoghurt secara alamiah dipercaya dapat membantu pencernaan, apalagi ditambah fitur probiotiknya. Dengan brand "Activia" ini, Danone kembali meluncurkan produk baru, kali ini dengan interest kearah kesehatan. Berbeda dengan lazimnya produk yoghurt standar yang beredar dipasaran, Danone memilih untuk mengemas Activia seperti produk yoghurt import. Dikemas dalam satu pak berisi empat (dijual juga satuan) harga promosi sebesar Rp.2000 merupakan faktor penarik yang besar, apalagi jika dibandingkan terhadap produk import dengan harga 3x lipat atau bahkan lebih.

Pilihan yang ada untuk saat ini adalah dua rasa; Mango dan Strawberry. Membidik preferensi yang berbeda-beda, maka dua rasa ini cukup menawarkan pilihan yang beragam; Mango untuk yang suka varian dengan aroma manis, Strawberry untuk aroma yang lebih masam dan segar. Dua2nya menawarkan tingkat kekentalan yang cukup tinggi, dengan tekstur yang lembut, nice. Sayangnya, even yang varian Strawberry, tingkat masamnya masih kurang nendang, apalagi yang Mango, lebih berasa seperti krim manis dibandingkan yoghurt.

Gimana efek dari fitur probiotiknya? Sama seperti kala mengkonsumsi Yakult or VitaCharm, sejujurnnya, gw gak tau! Secara dalam kasus cerna-mencerna sih naturally gw gak bermasalah, cuma suka aja sama taste dari para minuman probiotik tersebut (I'm one yoghurt maniac), plus kesan bahwa I'm eating something good for my body. =)

Anyway, Nade ngerasain something different, for better of course.

Semoga harga normalnya nggak jauh-jauh dari noceng juga. (bay)


Posted by Bayu on Jan 13, '08 9:44 AM for everyone
Sosro insyaf, akhirnya mereka ngeluarin produk green tea yang beneran green tea, alih-alih bikin sirop buah-buahan dengan embel-embel manfaat kesehatan.

Dari segi karakter rasa, karena green tea nya Indonesia memang beda jenis dan rupa sama green tea nya Jepang, jadi rasanya sih mirip-mirip aja dengan teh nya Indonesia. Tampilannya juga. Dibandingin Teh Botol Sosro, karakter rasanya lebih "fresh", nggak terlalu pekat, sekaligus nggak terlalu intense rasa fermentasi nya. "Light", itu kata yang tepat buat menggambarkan karakter rasanya.

Dibandingkan produk sejenis (Frestea, Nu, Artea), Joy Tea menawarkan sensasi yang jauh lebih ringan; lebih mirip ke drinking water dibandingin tea drink, apalagi soft drink. Jadi buat para penggemar imported green-tea, Joy Tea bukan alternatif lokal. Tapi buat yang suka dengan karakter rasa teh Indonesia tapi tidak terlalu intense; Joy Tea pilihan yang tepat. (bay)

Posted by Bayu on Jan 13, '08 8:39 AM for everyone
Barangkali karena produk dasarnya 7-Up itu punya dasar karakter rasa yang udah mirip sama Pocari Sweat, pelopor minuman isotonik di Indonesia (sama-sama rasa jeruk), makanya dengan mudah saja produk ini meluncur. Bukannya diversifikasi, tapi bisa-bisa malah dianggap sekedar next generationnya 7-Up; sour-flavoured soft drink with added vitamins. Ini terjadi karena dalam meluncurkan produk minuman terbarunya ini, 7-Up nggak melakukan gebrakan berani, melainkan bermain aman dengan menerapkan nuansa rasa mirip dengan produk utamanya tersebut.

7-Up Revive Isotonic Drinks (selanjutnya disingkat "Revive") memang mengandung aneka vitamin sebagaimana layaknya minuman isotonik yang banyak beredar saat ini. Rasanya sendiri mengadopsi karakter rasa yang sudah lazim dipakai di produk minuman isotonik lainnya; yaitu Grapefruit alias Jeruk Bali yang kecut seger itu. Namun demikian, kandungan sodanya menjadikan minuman ini lebih menjurus kearah soft-drink daripada isotonic drinks, makanya nggak heran kalau Revive ini satu-satunya minuman isotonic drinks non-imported yang tersedia dalam kemasan 1,5 liter.

Waktu nemu produk ini di Carrefour Ciledug pada awal W2 Januari 08, niat beli sempet urung waktu tulisan "carbonated" terbaca. Namun setelah mencoba tester yang disediakan, ternyata rasanya sangat menyegarkan (kalau dingin tentunya). Sedangkan karakter rasanya yang kecut segar dan tidak terlalu manis, membuat minuman ini lebih nendang dibandingin standar 7-Up yang wangi dan (terlalu) manis itu. Very good alternative to the regular lime/sour flavoured soft drinks.

On scale 1 to 5

Metal: 1 (nyaris gak kerasa)
Sour: 3.5 (kecut segerrr)
Sweet: 1.5 (nggak semanis soft drink umumnya)
Salty: 1 (nyaris gak kerasa)
Fizz: 3 (kadar soda cukup nendang)

xTra: B Vitamins; B3, B6, B12

Closest taste: Tengah-tengah antara 7-Up dan Calpico Soda.

Verdict: It's now my top choice for soft drink, karena seger dan nggak terlalu manis. Tapi buat Isotonic, tetep Mizone Lychee atau Vita Zone kuning. (bay)

Posted by Bayu on Jan 10, '08 5:27 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Turun dari bis Primajasa Lebak Bulus - Garut, kami langsung masuk ke Poins Square disebelah Terminal Lebak Bulus ini buat nyari makan siang. Apa boleh buat, walaupun food-court nya di lantai 4 terlihat cukup sophisticated, rata-rata gerai disana masih tutup. Jadinya balik lagi ke lantai dasar deh.

Dibanding Dunkin Donuts dan Oh La La Cafe, tempat ini jelas memiliki keunggulan dalam hal nyediain aneka variasi masakan Indonesia dan Asia dengan harga cukup terjangkau. Suasananya juga lumayan nyaman, sayangnya disini larangan merokok nggak berlaku.

Walaupun menu-menu yang kami pesan nggak satupun yang memuat bawang putih secara berlebih (as we thought earlier), namun secara keseluruhan rasanya sih oke-oke saja. Acceptable (bay)

Posted by Bayu on Dec 6, '07 10:53 AM for everyone
Link: http://epicurina.multiply.com/reviews/item/129

Mungkin rada telat nge-reviewnya, tapi emang baru sempet aja mampir. Silaken...

Pages:12345
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help