Bayu's posts with tag: islam

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag islam
Posted by Bayu on May 9, '08 6:50 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Sitcom terbitan CBC Canada ini masih tergolong baru dalam penayangan, namun sudah dianggap gebrakan di negeri asalnya dengan sekitar 2 jutaan pemirsa. Sebagai perbandingan, suatu serial tv dianggap mencetak hit di Canada jika disaksikan oleh 1 juta pemirsa, sedangkan pada penayangan pilot dari serial drama komedi bertema Islami ini, CBC memperkirakan jumlah 1.2 juta pemirsa TV.

Mengapa serial ini menjadi hit? Hal ini tak lepas dari tema cerita yang sangat langka di dunia Barat: dinamika hidup keluarga dan komunitas Islam, ditengah lingkungan masyarakat Barat dengan segala paranoid dan stereotyping yang ada. Dibawakan dengan gaya komedi pula! Suatu hal yang dunia barat nyaris tak pernah terdengar dari dunia Islam; guyon.

Berawal dari menyewa salahsatu bangunan milik Gereja, Yasir dengan usaha konstruksinya kemudian menyisihkan sebagian ruangan yang ia sewa untuk dijadikan mesjid. Bertindak sebagai imam adalah Baber, seorang penganut Islam yang cenderung 'orthodox' dalam pola pikir dan menjalankan hidup secara Islam. Sifat Baber yang cenderung keras dan extrim, membuat kaum muslimin kota kecil Mercy ini, memutuskan untuk mendatangkan imam dengan pandangan yang progresif dan modern, dan dimuatlah iklan di koran. Menyambut iklan ini, adalah Amaar, seorang ustad muda ganteng asal Toronto yang sebelumnya memilih profesi sebagai pengacara. Amaar pun kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ummat Islam di Mercy, dimana selain menjadi imam mesjid, Amaar harus mampu pula menyelesaikan masalah-masalah domestik antara warganya, membentuk persepsi penduduk kota, termasuk menangani pertikaian rutin antara Baber yang keras dan kolot, dengan Dr. Rayaan yang muda, berpikiran modern dan tukang protes.

Kelucuan-kelucuan dalam serial ini sendiri ditampilkan dengan subtle; halus dan sopan. Sedangkan isyu2 yang diangkat, tak lain tak bukan adalah isyu kontemporer yang dihadapi sehari-hari oleh ummat muslimin di dunia barat akibat adanya Islamophobia. Mesjid yang baru dibuat ini saja di hari pertamanya sudah mengundang kecurigaan warga yang kemudian mendesak pendeta Magee untuk mencabut ijin sewa perusahaan Yasir di tempat tersebut. Radio setempat yang beraliran kanan pun tak henti-hentinya mencari isyu terkait bahaya laten Islam untuk diangkat menjadi topik pembicaraan. Imam Amaar sendiri sempat harus berhadapan dengan sekuriti bandara udara ketika seorang penumpang tak sengaja menguping pembicaraan Amaar di telepon yang menyangkut kata-kata "jihad", dan "suicide", padahal yang dibicarakan adalah mengenai keputusannya meninggalkan dunia hukum (career suicide) demi tujuan mulia di jalan-Nya (jihad).

Selain dari diangkatnya isyu-isyu yang menarik dan aktual, serial ini juga seringkali memilih untuk menyajikan jalan keluar yang 'aman' dan liberal, dalam mengatasi permasalah yang dihadapi ummat Islam di kota tersebut. Sayangnya, hal ini pulalah yang kemudian menuai protes dari dari banyak kelompok Islam internasional, yang merasa penyelesaian masalah dalam serial ini kurang atau malah tidak Islami sama sekali. Tapi seperti dikutip dari sindiran imam Amaar dalam salahsatu penyelesaian masalah di mesjidnya itu; "allright, nobody happy, that's a perfect Islamic solution". hehehehehe

Namun terlepas dari kaidah fikih (hukum Islam), serial LMOTP ini menawarkan kesegaran, dan gebrakan terhadap image Islam yang selama ini sudah terlanjur sangat miring di dunia Barat. Suatu sajian yang menarik untuk diikuti. (bay)


Posted by Bayu on May 3, '08 9:13 PM for everyone
Start:     Jul 1, '08 9:00p
End:     Jul 2, '08
Location:     Hotel Gran Melia Jakarta
Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan fakta ini saja, Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi pusat industri makanan halal dunia. Selain dari dukungan pasar, SDA dan SDM Indonesia pun sebenarnya sangat memadai untuk mendukung industri makanan halal dunia.

Terkait hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan konferensi halal tingkat global yang bertajuk "The 1st Indonesia Global Halal Summit" pada tanggal 1-2 Juli 2008 yang bertempat di Hotel Gran Melia, Jakarta. Acara ini sendiri rencananya akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Tujuan dari diadakannya acara ini sendiri adalah untuk memberikan para pengusaha yang berkecimpung didalam industri halal lebih banyak informasi lagi mengenai perdagangan halal di dunia, dan untuk mengambil bagian di dalam industri halal yang kian berkembang.

Halal tidak hanya terkait dengan makanan dan minuman saja, namun termasuk didalamnya farmasi, produk-produk kosmetik dan kecantikan, gaya hidup, keuangan, asuransi, pariwisata, pendidikan, dan lain sebagainya..

MENGENAI THE 1ST INDONESIA GLOBAL HALAL SUMMIT 2008:

Industri halal merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang di dunia; memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi para pelaku bisnis di industri halal di segala aspek.

Ada terdapat banyak peluang untuk melakukan bisnis di industri halal, baik Muslim maupun non-Muslim yang ingin mengukuhkan perusahaannya di pasar ini.

Para ahli dari dunia yang berkecimpung dalam industri ini dari sektor swasta dan pemerintah akan berkumpul selama dua hari di Jakarta untuk menjabarkan tentang masa depan dari industri halal.

Acara selama dua hari ini akan meliputi tentang dua hal penting di industri halal; barang dan jasa. Acara akan menjadi landasan dasar yang penting bagi para pelaku bisnis yang berkecimpung di industri halal dunia untuk membicarakan dan membangun aliansi-aliansi baru di industri halal.

MATERI SECARA GARIS BESAR:

  • Melihat Pangsa Pasar Halal Secara Global – Peluang & Tantangan

  • Keuntungan Yang Bisa Didapatkan Dari Pangsa Pasar Halal Dunia

  • Pentingnya Sertifikasi Dan Standarisasi Untuk Pengembangan Usaha

  • Pentingnya Mempunyai Merk Halal Untuk Memperluas Pangsa Pasar

  • Peluang & Tantangan Dalam Bisnis Produksi Makanan

  • Peluang & Tantangan Dalam Industri Halal

  • Syarat-syarat Yang Harus Dimiliki Sebuah Industri Agar Mendapatkan Kredibilitas Halal Dalam Pangsa Pasar Dunia

  • Perkembangan Sektor Keuangan Syariah Dan Peluang Yang Terdapat Didalamnya

  • Membuka Kesempatan Untuk Berinvestasi Di Industri Halal Yang Tersedia Di Indonesia


TUJUAN & MANFAAT:

  • Untuk mempromosikan, mengembangkan dan menstimulasi pertumbuhan industri halal

  • Untuk mengevaluasi peluang-peluang yang ada di industri halal dan mencari cara untuk masuk kedalamnya

  • Pentingnya sertifikasi dan standar halal untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen

  • Berbagi pengalaman, pandangan dan pengetahuan sesama pelaku bisnis di industri halal

  • Untuk mengembangkan dan mempromosikan merek dagang yang berlabel Halal

  • Untuk mendukung para pelaku bisnis dalam menggunakan transaksi syariah


PESERTA:

  • Semua pelaku bisnis yang berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan industri Halal

  • Pelaku bisnis yang terlibat dalam industri barang konsumsi (Consumer Goods) seperti makanan & minuman, kesehatan, kosmetik, farmasi, dll

  • Penyedia pakan ternak dan pertanian

  • Para pelaku bisnis dalam industri supermarket dan toko-toko retail

  • Pebisnis di industri rumah-rumah penjagalan

  • Akademisi/Peneliti/Asosiasi Industri/ Konsultan

  • Perwakilan dari pemerintah

  • Institusi-insitusi Keuangan (bank, asuransi dan jasa keuangan lainnya)


Untuk lebih jelasnya mengenai acara ini, silahkan menghubungi Niken di 0816 1343 920 / (021) 3190 9775 / (021) 390 3177 / (021) 314 0547 atau melalui e-mail di niken_l4@yahoo.co.id / ms.nikenlarasati@gmail.com

Posted by Bayu on Mar 4, '08 1:29 AM for everyone
Catatan: Ini bukan soal dendam apalagi daftar korban, tapi list mengenai hal yang harus dipersiapkan dalam pengurusan kematian.

Walaupun sudah terlibat mungkin puluhan kali dalam acara pemakaman, baru kali ini gw berada dalam posisi sangat dekat dengan jenazah, sampe ke ngebantuin untuk urusan pemandian dan pengkafanan. Semua ini terjadi karena yang meninggal adalah ayah mertua, alias bokapnya isteri. Kalo sekedar gotong keranda, nganter ke kuburan dan bantu nurunin jenazah ke liang lahat sih udah lumayan resume nya.

Akibat kedekatan ini pula maka banyak hal dibalik layar yang baru gw tau keberadaannya, yang harus diurus. Bukannya nggak tau juga sih, tapi lebih ke nggak terlalu ngerti, karena biasanya udah ada orang yang ngurusin.

Ternyata, banyak hal yang bikin nyesek kala harus berhadapan dengan birokrasi, termasuk dalam hal pengurusan jenazah ini. Soalnya walaupun dalam keadaan duka, seringkali business is business.
 
Tapi ya sudahlah, biar jadi bahan pembelajaran dan persiapan, kalo kelak kita yang jadi jenazah nanti, nggak sampe ngerepotin keluarga yang ditinggal.

List hal-hal yang harus disiapin dalam acara kematian, Islamic way:
  1. Ruang melayat; tempat jenazah disemayamkan sebelum diproses lebih lanjut.
    Ini penting keberadaannya kalau di Indonesia, secara bakalan banyak tetangga dan kerabat yang datang berkunjung melayat ahli musibah (keluarga yang ditinggalkan). Ruang melayat ini in most cases, berarti ruangan terbesar di rumah, dan biasanya settingnya adalah duduk di lantai, jadi siapin alas duduk yang memadai. Karpet atau tiker sudah cukup.

    Biaya: 0 (nol), karena biasanya bisa minjem tetangga secara gratis.

  2. Pelaporan ke pemerintah setempat (RT/RW), mengenai berita kematiannya dulu, masalah ngurus perubahan KK dll sih belakangan.

    Biaya: harusnya sih 0 (nol)

  3. Lahan Kuburan; tempat peristirahatan terakhir jenazah. Untuk hal yang satu ini, koordinasikan dengan masyarakat setempat, RT, atau Masjid. Karena biasanya mereka punya informasi mengenai hal ini. Cari contact-person nya siapa, liat lokasinya, dan negosiasi harga. Disini maksud gw business is business; ketersediaan lahan akan sangat terkait dengan ketersediaan dana. Pengurusannya harus a.s.a.p., karena berdasarkan aturan Islam, jenazah harus se-segera mungkin dikebumikan. Nggak ada istilahnya disemayamkan sampai dua atau tiga hari kecuali dalam keadaan darurat. Selekasnya, itu lebih baik.

    Biaya: Sangat bervariasi, kami yang daerahnya agak "minggir" kena tarif IDR 3JT untuk pemakaman umum di daerah Regency Bintaro - Ciledug. Dan ini sudah termasuk ongkos gali kubur.

  4. Kain Kafan; secukupnya sesuai aturan Islam; untuk wanita biasanya membutuhkan lebih banyak dibanding untuk pria.

    Biaya: Sekitar IDR 300K untuk pria dewasa, 400K untuk wanita dewasa, 250K untuk anak-anak.

  5. Memandikan dan mengkafani jenazah; biasanya dilakukan oleh sanak-saudara, dan dibantu oleh warga / DKM yang ahli memandikan jenazah.

    Biaya: Sekitar 50K - 100K per orang yang membantu, 50K untuk belanja keperluan extra dalam memandikan dan mengkafani; kembang, air kembang, kapur barus, dll.

  6. Mensholatkan jenazah; kadang di rumah, atau kadang di masjid supaya lebih banyak orang yang mensholatkan.

    Biaya: 0 (nol)

  7. Tenda & Kursi; untuk mengatasi jumlah pelayat yang membludak, tenda membantu memberikan extra space bagi pelayat berteduh dan duduk.

    Biaya: Sekitar IDR 300K untuk tenda 3x4m, dengan 50an kursi, pemakaian dua-tiga hari

  8. Angkutan jenazah; either ambulance atau menyewa kendaraan bak, dua-duanya butuh biaya

    Biaya: Sekitar 300K - 450K untuk mobil bak. Mobil Jenazah nggak tau.

  9. Angkutan pelayat; untuk membawa keluarga ke pekuburan. Biasanya sih ter-cover dengan kendaraan pribadi plus numpang pada mobil2 pelayat. Tapi seandainya perlu lebih, maka bisa sewa mobil sendiri.

    Biaya: Sekitar 300K - ... untuk sewa kendaraan pribadi. Kalau angkot atau Metromini, silakan nego tergantung jarak.

  10. Sajian pelayat; pengisi perut bagi para pelayat.

    Biaya: Antara IDR 500/orang (Air minum cup), atau 5K/orang (snack+minum), atau >10K/orang (makan besar).

  11. Konsumsi untuk acara Pengajian; buat yang merasa perlu menyelenggarakan. Di beberapa daerah, adat menganjurkan pelayat untuk menyumbang bahan makanan kepada tuan rumah, sehingga tidak memberatkan mereka. Good custom.

    Biaya: 5K/orang (snack+minum), atau >10K/orang (besek; take-home dishes)
Kalau di-total jenderal, untuk pemakaman sederhana saja maka biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga yang berduka adalah sekitar IDR 5.000.000,00 ! Bukan jumlah yang sedikit buat rata-rata masyarakat, apalagi pada saat berkabung.

Dalam hal ini, sabda Rasululloh SAW yang dalam hadistnya MELARANG para pelayat untuk makan dan minum ketika menghadiri/melayat mereka yang terkena musibah, adalah suatu hal yang tepat. Sungguh, selain dari duka, biaya pengurusan jenazah itu nggak dikit (as u see), apalagi kalau sampai harus nyediain suguhan buat tamu juga. Memang dalam pelaksanaannya sih sulit, karena keluarga yang berduka seringkali ngerasa nggak enak sama pelayat, kalau nggak menyuguhkan hidangan apa-apa... tapi kalaupun sampai nggak menghidangkan juga sebenarnya nggak apa-apa, malu dimata manusia, benar dimata Alloh. Mending mana?

Satu hal yang pasti, walaupun kewajiban pengurusan jenazah ini sifatnya Fardhu Kifayah (kalau ada yang sudah menguruskan maka gugur kewajiban pribadi -- kalau tidak ada yang bantu menguruskan terkutuk masyarakat sekitarnya), sebisa mungkin bantu deh apapun yang kita bisa, sukur-sukur nyumbang dana dan tenaga.

Memang ada daerah-daerah dimana komunitas masyarakatnya solid dan bahkan sudah punya SOP untuk pengurusan masalah ini (termasuk dananya), sehingga keluarga yang berkabung tidak perlu repot-repot mengurus segala sesuatunya sendiri. Ada juga keluarga yang telah secara sadar ikutan yayasan pengurusan kematian jadi dari segi kerepotan juga sangat terkurangi. Tapi buat mereka yang nggak ikutan apa-apa, jangan lupa buat bersiap-siap yah, kasian yang ditinggalin... Dan untuk keluarga serta temen, jangan lupa buat saling bantu ya, karena pertolongan anda akan sangat berguna bagi si ahli musibah. (bay)

image dari: http://luqies.blogspot.com/

Posted by Bayu on Mar 2, '08 4:35 AM for everyone
Nemu tulisan terkait sains dan teknologi dalam perspektif Islami, menarik untuk dikaji. Terlebih ada beberapa pointers di bagian akhir yang berguna buat dijadikan titik awal penelitian.

Sains dan Kemandirian Muslim

Agus Purwanto, DSc.*)


Pendahuluan
        Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat di masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi massif atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.

        Dunia Islam melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Bitruji (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), ibnu Sina (kedokteran), ibnu Rusyd (filsafat), ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lain.

        Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Spirit al-Qur’an
        Ketika masa keemasan Islam berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1491, masyarakat Barat kemudian mengambil alih. Barat dengan sains dan teknologinya terus memimpin peradaban sampai saat ini sementara Islam terus dalam kegelapan dan ketakberdayaan. Bahkan selama kurang lebih tiga abad negara-negara muslim dijajah oleh kolonialisme Barat yang diperankan oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Lebih memilukan lagi, sesama negeri muslim sulit bersatu dan mudah diadu seperti kasus paling aktual resolusi PBB nomor 1747 tentang nuklir Iran yang juga disetujui negeri muslim Indonesia dan Qatar.

        Kini umat Islam mencoba bangkit dari keterpurukan dalam sains dan teknologi. Umat Islam, untuk saat ini harus mengkaji kembali kekuatan mereka berupa sains dan kemudian melahirkan teknologi, yang mereka genggam erat selama abad 8-15 M.

        Umat Islam di masa lampau telah meletakkan ilmu pengetahuan pada posisi yang benar dan memandang sebagai pemilik yang sah. Pandangan ini mempunyai landasan yang kokoh yakni hadis nabi Muhammad saw, "Ilmu itu adalah harta (kearifan) yang hilang dari orang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka menemukannya, mereka harus memungutnya kembali". Di dalam riwayat lain disebutkan: "Jika engkau menginginkan kebahagiaan dunia, maka carilah dengan ilmu. Jika kau mencari kebahagiaan akhirat, maka cari juga dengan ilmu."

        Sedangkan landasan dari kitab suci juga tidak kurang banyaknya. Spirit umat Islam awal adalah wahyu pertama yang memerintahkan umat Islam agar membaca, membaca, dan membaca (QS 96: 1-3). Ayat tersebut dan hadis-hadis terdahulu yang memerintahkan pentingnya menuntut ilmu dan hendaknya jadi pelecut umat Islam agar kembali mencintai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dorongan seperti ini tidak dimiliki oleh umat beragama apapun di dunia ini.

Problem Aktual
        Fakta-fakta kegemilangan sains masa lampau dan landasan-landasan normatif bagi umat Islam untuk menguasai sains cukup banyak dan jelas tetapi realitas lapangan memperlihatkan hal sebaliknya. Umat Islam tidak mempunyai kepedulian yang memadai terhadap sains, bahkan lebih ekstrim umat Islam memperlihatkan kecenderungan sikap antisains. Sains seolah tidak terkait dan tidak mengantar umat Islam ke surga sebagaimana zakat, anak yatim, kaum duafa dan pendirian masjid. Banyak umat Islam mempunyai pemahaman dan persepsi bahwa sains adalah kafir dan membawa pada kekafiran karena merupakan produk orang kafir (baca Eropa dan Amerika).

        Pandangan salah tersebut tidak hanya terjadi di kalangan awam berpendidikan rendah melainkan juga sebagian elit umat. Akibatnya tidak ada dukungan yang memadai untuk pengembangan sains. Jurusan-jurusan sains dan teknologi di perguruan tinggi islam didirikan seolah hanya untuk menampung mahasiswa baru dan strategi bisnis jangka pendek. Di kalangan mahasiswa, masuk jurusan eksakta (sains dan teknologi) hanya faktor latah dan gengsi sesaat karena setelah itu mereka kembali pada kecenderungan umum umat Islam yakni meninggalkan dan anti sains.

        Pada tahun 1930-an Syeh Jauhari Thonthowi di dalam tafsirnya al-Jawahir menggugat dengan menyebutkan bahwa ulama menghabiskan waktu, tenaga dan materi hanya untuk urusan fikih dan mengabaikan ayat-ayat kauniyah. Padahal ayat-ayat hokum di dalam al-Quran hanya sekitar 150 ayat sementara ayat kauniah sekitar 750 ayat. Dus, ayat kauniyah lima kali lebih banyak dari ayat hokum. Keadaan ini sampai sekarang belum banyak berubah.

        Ada sebagian orang dengan serampangan berargumen bahwa tidak tumbuh dan berkembangannya sains di dunia islam disebabkan kemiskinan dunia Islam. Alasan ini jelas sangat lemah. Tidak sedikit di antara negara-negara Islam memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, sehingga sulit dikatakan negeri muslim sebagai negeri miskin. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000 melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73 persen cadangan minyak dunia.

        Knowledge is power demikian pernyataan tokoh modernisme Francis Bacon. Amerika, Eropa dan Jepang sampai saat ini menjadi kiblat kemajuan dunia karena sains dan teknologinya. Taiwan dan Korea merupakan dua negeri industri baru sedangkan Cina dan India dikenal luas sebagai kandidat kekuatan pemimpin baru ekonomi dunia dua dasawarsa mendatang. Negara-negara tersebut adalah negara yang mengembangkan sains fundamental dan kemudian terapannya secara konsisten.

        Israel negeri yang sangat kecil menjadi sangat digdaya karena kemampuannya dalam sains dan teknologi. 16% pemenang nobel fisika dan kedokteran adalah ilmuwan berdarah Yahudi. Sekitar 200 peluru berhulu ledak nuklir dimiliki oleh negeri ini. Sementara Iran yang baru dikucilkan oleh PBB dengan resolusi 1747 baru bisa membuat satu senjata nuklir sepuluh tahun lagi.

Jalan Sains: Terjal dan Sunyi
        Untuk menguasai sains ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama sosialisasi bahwa sains adalah bagian dari islam dan diisaratkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an serta telah dipraktekkan oleh generasi muslim awal.  Kedua sosialisasi bahwa tidak ada jalan pintas bagi sains. Jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk serta pola hidup glamour.


        Dakwah dengan berceramah telah menjadi aktivitas harian di masyarakat kita. Sosialisasi sains bagian dari islam bisa disampaikan melalui ceramah-ceramah agama ini. Sekedar contoh ayat-ayat terkait dengan alam

Alam diciptakan dalam enam masa (QS 32:4)
Bumi diciptakan dalam dua masa (QS 41:9)
Penciptaan tujuh langit dalam dua masa (QS 41:12)
Awan dikirim ke bumi yang tandus (QS 32: 27)
Teknologi pembuatan baju besi dikuasi nabi Daud as (QS 34:10-11)
Rekayasa angin dan tembaga cair dikuasai nabi Sulaiman as (QS 34:12)
Sains dan rekayasa angin (QS 38:36; 41:16)
Dinamika udara dan awan (QS 35:9)
Pola air laut (QS 35:12)
Kesetimbangan langit dan bumi (QS 35:41)
Penciptaan pasangan materi-antimateri (QS 36:36, 42:11)
Dinamika benda langit (QS 36:38-40)
Perkapalan (QS 36:41-43; 42:33-34)
Relasi kapal laut dan gunung (QS 42:32)
Pola garis putih, merah dan hitam pekat di antara gunung (QS 35:27)
Materi-materi di langit, bumi dan antaranya (QS 42:12).
Api dari kayu hijau (QS 36:80)
Suluh api (QS 37:10)
Rahasia dan kekuatan petir (QS 41:13)
Fertilasi tanaman dan manusia (QS 41:47)

        Sosialiasi menjadi lebih konkrit bila kita dapat memperlihatkan naskah-naskah dari para sarjana muslim awal yang disebut di depan. Misalnya saja, bagaimana sebenarnya matematika yang dirumuskan al-Khawarizmi, astronominya al-Bitruji dan optic dari ibnu Haitsam. Tanpa contoh ini, sulit mengubah persepsi bahwa sains tidak ada kaitan dengan surga karena di saat awal Islam Rasulullah saw dan para sahabat tidak ada yang mengembangkan sains.

        Dengan tersosialisasinya pesan bahwa sains merupakan kesatuan dari islam maka diharapkan lebih banyak lagi mahasiswa yang mau menekuni dan memilih jalur sains dan teknologi sebagai profesinya. Selain itu diharapkan pengusaha muslim juga sadar untuk mengalokasikan dana bagi upaya pengembangan sains dan teknologi misalnya dengan memberi beasiswa mahasiswa potensial atau membuat funding bagi riset fundamental.

        Tanpa keterlibatan para pengusaha dan negara pengembangan sains tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, terjadi braindrain ilmuwan cemerlang negara dunia ketiga termasuk negara muslim ke negara maju. Realitas ini makin membuat negara ketiga makin tertinggal dari negara maju  

        Selanjutnya perlu dikenali bahwa jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi. Idealnya seorang ilmuwan telah melampaui pendidikan strata-3 lalu postdoctoral 2-3 tahun. Artinya, ilmuwan akan relatif matang setelah melalui fasa tersebut. Masa dan fasa tersebut harus dilalui di laboratorium dan perpustakaan yang jauh dari riuh-rendah publisitas.
Sebagai gambaran, universitas-universitas di Jepang buka selama 24 jam perhari. Laboratorium menjadi rumah kedua bagi mahasiswa S1 tingkat akhir ke atas. Diskusi antara mahasiswa dan profesornya seringkali berlangsung sampai larut malam dan profesor kadang juga bermalam dan tidur di laboratorium. Perpustakaan universitas kadang buka di hari Minggu. Jelas, di sinilah beratnya dunia ilmu bagi para mahasiswa yang cenderung ingin tampil cepat dan gegap gempita sebagaimana umumnya dunia politik dan selebriti.

        Tradisi sains adalah tradisi riset. Sedangkan tradisi riset akan melahirkan budaya mencipta dan memproduksi. Artinya, kemandirian material hanya bisa lahir dari budaya produksi dan menuntut penguasaan sains terlebih dulu. Tanpa tradisi riset dan produksi maka kita hanya akan mampu menjadi bangsa makelar yang bergantung kepada para bangsa produsen.

Penutup
        Penguasaan sains merupakan hal yang mendesak bahkan keniscayaan bagi negeri khususnya negeri muslim yang ingin eksis di percaturan global. Tanpa sains suatu negeri akan lemah dan menjadi negeri yang bergantung pada bangsa-bangsa maju. Indonesia yang luas dan kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak menguasai sains dan teknologi akhirnya menjadi sangat bergantung pada Amerika dan Jepang.

        Jembatan Suramadu dan lumpur Porong yang terkatung-katung juga merupakan akibat lemahnya penguasaan bangsa kita terhadap sains dan teknologi. Lumpur Porong yang berlarut-larut sesungguhnya mencerminkan aneka klaim hebat yang semu bangsa kita. Lumpur Porong menyodorkan realitas pseudoilmiah, pseudoilmuwan, pseudoinsinyur, pseudopakar, pesudoanalisa, pseudosolusi, pseudoserius serta pseudopolicy di depan kita.
Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan menempati area seluas 8 juta kilometer persegi tidak bisa terus-menerus menyerahkan pengelelolaan aneka kekayaan alam yang melimpah kepada orang asing. Indonesia harus mandiri karenanya harus cerdas dan terampil khususnya dalam sains dan teknologi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi bangsa makelar dan kuli baik kuli di negeri orang apalagi kuli di negeri sendiri.

        Kita harus bangkit, mandiri, berdaulat dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Syarat untuk itu tidak lain adalah iman dan ilmu (QS 58:11). Kedaulatan dan harga diri harus ditopang dengan kekuatan baik spiritual maupun material. Iman yang benar akan mendorong pada penguasaan sains. Sebaliknya pengabaian sains sebenarnya refleksi iman yang salah dan kebahlulan modern.

        Terakhir, meski tidak dianjurkan berperang tetapi kita harus kuat dan mampu mempertahankan diri dari serangan pihak lain termasuk dari kemungkinan serangan menggunakan peluru berhulu ledak nuklir. Aneka upaya diplomasi tetap akan tidak efektif bila kita lemah. Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 60 menegaskan agar umat Islam mempersiapkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada.

*) NBM: 547243, mantan ketua IMM-ITB, Doctor of Science, pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS.

Diunduh dari situs: http://jatim.imm.or.id/Wacana/Artikel/Sains-dan-Kemandirian-Muslim.htm

Posted by Bayu on Mar 1, '08 7:01 PM for everyone
Berfirman Alloh SWT dalam surat An-Naml ayat 40:

[id] Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". [27:40][1]

Ayat tersebut adalah cuplikan dari salahsatu kisah dalam Al-Qur'an mengenai Nabi Sulaiman A.S. ketika kerajaannya menerima kunjungan dari Ratu Balkis. Lebih spesifik lagi, cuplikan ayat ini adalah bagian dari kisah ketika Sulaiman A.S. menanyakan pada rakyatnya, siapakah yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balkis kehadapannya saat itu juga? Kisah selengkapnya silakan rujuk ke Al-Qur'an surat "An Naml" [27th].

Kalau ditilik dari tafsir ayat tersebut, maka secara jelas dan tersurat kita dapati catatan sejarah mengenai terjadinya teleportasi. Ayat ini sekaligus membantah anggapan sebagian orang yang percaya kalau yang memindahkan singgasana Ratu Balkis tersebut adalah Jin Ifrit. Science Fiction? Sebagaimana banyak percikan-percikan advanced science lainnya dalam Al-Qur'an, biasanya sih, justru nalar dan pemahaman teknologi kita yang belum nyampe, bukan sebaliknya.

Lantas gimana dengan landasan teori, teknik serta aplikasi penerapan dari ilmu teleportasi ini? Nah, ini yang masih perlu digali, disinilah tantangannya. Berat? Mungkin... apalagi penelitian dalam bidang keilmuan sedemikian masih lebih tepat digolongkan sebagai parascience[2] atau malah lebih parah lagi; paranormal. Namun satu hal yang pasti, berdasarkan keterangan Al-Qur'an, teknologi ini pernah muncul di muka bumi, dan menurut ayat tersebut, si ilmuwan menggali pengetahuan atas hal ini dengan cara mempelajari Al-Kitab[3].

Berani terima tantangan ini? (bay)

[1] Source: http://quran.degromiest.nl
[2] Encarta: parascience [ párrə sī ənss ]. noun. Definition:. study of things beyond science: the study of phenomena that cannot be explained or tested by conventional
[3] Kitab Suci dari Alloh SWT yang masih ada pada jaman Sulaiman A.S.

Posted by Bayu on Jan 29, '08 10:06 PM for everyone
Catatan: Ini adalah amanah dari Achi (Aishen), supaya diteruskan ke teman-teman sekalian. Silakan disebarkan juga ke komunitas maupun lingkungan masing-masing, siapa tau ada yang memang membutuhkan dan berhak.

SMART Ekselensia Indonesia (SMART-EI) adalah sekolah tingkat  menengah berasrama dan bebas biaya yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa. Didirikan pada tahun 2004, sekolah ini telah memiliki siswa didik berjumlah 137 untuk 4 angkatan.

Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan dhuafa yang berprestasi dari seluruh Indonesia ini digagas untuk meningkatkan harkat dan derajat kaum dhuafa melalui program pendidikan dan pembinaan yang komprehensif dan berkesinambungan. Diharapkan, setelah melalui proses pendidikan dan pembinaan di SMART EI, setiap siswa memiliki bekal berkarya untuk bangsa, negara dan agamanya.

Proses seleksi hingga kedatangan calon siswa, serta pendidikan selama berada di kampus SMART EI, tidak dipungut biaya apapun.

Persyaratan Umum
1) Berasal dari keluarga dhuafa (sesuai kriteria Dompet Dhuafa )
2) Laki-laki
3) Lulus/Tamat SD atau sederajat
4) Bersedia untuk mengikuti program belajar 5 tahun atau hingga selesai
5) Memeroleh izin dari orang tua/wali
6) Memiliki prestasi akademik, dengan kriteria
7) Mendapat Rangking 1-5 di Kelas IV–VI
8) Rata-rata Nilai Rapor minimal 7,0 dan Rapor tidak ada nilai 5
9) Memiliki prestasi kegiatan pendukung, seperti olah raga, kesenian,
organisasi, atau keterampilan Bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi
sesuai dengan ketentuan yang berlaku
10) Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular

Persyaratan Khusus
1) Mengisi formulir pendaftaran calon peserta seleksi
2) Fotokopi rapor kelas IV – VI yang telah dilegalisir oleh sekolah asal.
3) Fotokopi ijasah/STTB/ STK
4) Fotokopi piagam penghargaan/ sertifikat
5) Surat keterangan tidak mampu dari Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM).
6) Surat Keterangan Gaji/Penghasilan orang tua/wali dan/atau anggota keluarga yang menopang/ikut membantu pendapatan keluarga dari RT atau RW atau Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) setempat.
7) Surat pernyataan/izin mengikuti pendidikan di SMART EI dari orang tua
8) Fotokopi rekening listrik 2 bulan terakhir
9) Fotokopi KTP/Surat Keterangan Domisili Tetap dari RT atau RW.
10) Fotokopi Kartu Keluarga/KK.
11) Pas Foto Calon Peserta ukuran 4 X 6 sebanyak 4 lembar.

Waktu dan Tempat Pendaftaran
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 01 Januari 2008 sampai dengan tanggal 28 Februari 2008. Peserta dapat mendaftarkan diri di di Panitia Daerah yang terdekat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Panitia Nasional Seleksi SMART Ekselensia Indonesia
Bumi Pengembangan Insani,
Jl. Raya Parung Bogor Desa Jampang Kec. Kemang
Kabupaten Bogor–Jawa Barat 16330
Telp. 0251-610817 /610 818 Ext 11
www.lpi-dd.net

Panitia Daerah Seleksi SMART Ekselensia Indonesia
Daerah Seleksi : Bali
Bapak Hendry Sulistiono
LAZ DSM BALI
Jl. Diponegoro No. 157 Sangrah, Denpasar - Bali
Telp: 0857 3711 1100/ 0813 3812 3124/ 0361-855 7285

Daerah Seleksi : Banten
Ibu Sifa/ Bapak Ade
KONSORSIUM PEMBAHARU BANTEN
Jl. KM Idris No. 54 Neglasari Timur Rt 04/ Rw 13 Benggala, Serang Banten
42117
Telp: 0856 9236 4906/ 0254-209392

Daerah Seleksi: Bogor
Bapak Setia Budi/ Asep Nurhalim
ETOS BOGOR
Jl. Babakan Tengah RT 02/ Rw 08 No. 107 Desa babakan Tengah Kecamatan
Darmaga 16680
Telp: 0818 0895 5849/ 0813 1515 0768

Daerah Seleksi: Jakarta
Bapak Abdurrahman
ETOS JAKARTA
Jl. Kedoya No. 39 Rt 01/ Rw 02 Pd. Cina Depok 16424
Telp: 0813 1084 5934

Daerah Seleksi: Gorontalo
Bapak Sumantimaku
YAYASAN AYATUL IKHWA
Jl. Limboto Raya No. 15 Ds. Tuladenggi Kec. Telaga Biru Gorontalo 96181
Telp: 0813 1659 2022/ 0435-838950

Daerah Seleksi: Bandung
Bapak Yudi Supriatna
DOMPET DHUAFA BANDUNG
Jl. Pasirkaliki No. 143 Lantai II Bandung - Jawa Barat 40173
Telp: 0813 2299 9211/ 022-6032281

Daerah Seleksi: Semarang
Bapak Efendi Nugroho
ETOS SEMARANG
Jl. Timoho III No. 30 Tembalang Semarang- Jawa Tengah
Telp: 0815 7509 0400/ 0817 954 1858/ 024-76482311

Daerah Seleksi: Surabaya
Ibu Nurul Aisyah
ETOS SURABAYA
Jl. Arif Rahman Hakim No. 58 B Sukolilo Surabaya-Jawa Timur
Telp. 0817 934 0271/ 031-71074803

Daerah Seleksi: Banjarbaru
Bapak Qomarudin Sukri
INTELLECTUAL MOSLEM YOUTH COMMUNITY (IMYCo)
Jl. Putri Junjung Buih Gg. Kelinci II No. 4 Banjar Baru-Kalsel 70511
Telp. 0812 9933 284/ 0511-7751720

Daerah Seleksi: Pontianak
Bapak Duin/ Kiryan
DOMPET UMMAT
Jl. Tanjungsari NO. 40 Pontianak-Kalimanta n Barat
Telp: 0561-7032360/ 735978

Daerah Seleksi: Balikpapan
Bapak Kamaludin
DOMPET DHUAFA KALTIM
Jl. Mr. Iswahyudi No. 10 Rt 56 Sepinggan Gunung Bahagia Balikpapan - Kaltim
Telp: 0813 1761 6260/ 0542-7209738

Daerah Seleksi: Lampung
Bapak Juperta Panji Utama
LAZ LAMPUNG PEDULI
Jl. S. Parman 19 Palapa Tanjung Karang Pusat, Bandar lampung 35113
Telp: 0815 4048 877/ 0721-267582

Daerah Seleksi: Tual-Ambon
Bapak Musalim Temawut
YAYASAN DARUL ISTIQOMAH
Jl. Tanah Putih Utara No. 3 Rt 03/ Rw 04 Kel. Lodar Tual - Maluku Tenggara
Telp: 0852 4301 2050/ 0916-21705

Daerah Seleksi: Kupang
Bapak Muhsin Thalib
YAYASAN IBADURRAHMAN
Jl. Keuangan Negara No. 32 Kupang - NTT
Telp: 0813 3941 7280/ 0380-882046

Daerah Seleksi: Sorong
Bapak Daeng Risabang/ Said Karim
SDIT AL- IZZAH
Komplek Masjid Agung Al- Akbar Sorong - Papua Barat
Telp: 0813 4390 9221/ 0813 4441 6886

Daerah Seleksi: Jayapura
Bapak Juandi
YAYASAN AS-SALAM PAPUA JAYAPURA
Jl. Raya Abepura No. 3A Entrop Jayapura Selatan 99224
Telp: 0813 4440 3303/ 0967-551904

Daerah Seleksi: Pekanbaru
Bapak Dwi Purwanto
LAZ SWADAYA UMMAH
Jl. Tuanku Tambusai Perkantoran Mella Lt. 2 Blok G No. 5 Pekanbaru Riau
Telp: 0813 7834 3431/ 0761-572314

Daerah Seleksi: Makassar
Bapak Anwar
ETOS MAKASSAR
Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea-Makassar 90245
Telp: 0813 4292 5665/ 0411-4772803

Daerah Seleksi: Banggai
Bapak Hidayat Mondarfa
FORUM KOMUNIKASI REMAJA MASJID BANGGAI
Jl. P. Komodo No. 39 Kel. Simpong Kec. Luwuk Kab. Banggai Sulawesi Tengah
Telp: 0815 2476 2220/ 0461-324093

Daerah Seleksi: Kendari
Bapak Lamalesi
YAYASAN BINA DHUAFA SULAWESI TENGGARA
Perumahan Dosen Blok P No. 8 Anduonohu Kendari Sulawesi Tenggara
Telp: 0813 8146 8445/ 0401-392481

Daerah Seleksi: Padang
Bapak Firmansyah
DOMPET DHUAFA SINGGALANG
Jl. Veteran No. 17 padang 25116
Telp: 0751-823 5775/ 705 4086

Daerah Seleksi: Palembang
Ibu Desi/ Ani
DOMPET SOSIAL INSAN MULIA
Jl. Kapten Anwar Sastro No. 20 Komplek Masjid Baitul Miraj Palembang 30129
Telp: 0813 7346 3825/ 0711-7076437

Daerah Seleksi: Medan
Bapak Ir. Simatupang
LAZ PEDULI UMAT WASPADA
Jl. Brigjend Katamso No. 1 Medan 20151 Medan - Sumatera Utara
Telp: 0813 6144 6225/ 061-4511936

Daerah Seleksi: Yogyakarta
Bapak Untoro Wahyu/ Bapak Syafi'i
LEMBAGA ADVOKASI PENDIDIKAN YOGYAKARTA (LAPY)
Jl. Kaliurang Km 6 Pandega Padma II/ 15 Ds. Sinduadi Kec. Mlati Kab. Sleman - DIY
Telp: 0817 5455 393/ 0274-885127

Posted by Bayu on Nov 27, '07 6:42 AM for everyone
Nyokap bilang... kalau cobaan itu dateng dari Alloh, sedangkan godaan itu dateng dari Iblis. (bay)

Posted by Bayu on Nov 7, '07 6:14 AM for everyone
Setelah semakin banyaknya bermunculan aliran-aliran baru Islam yang dianggap menyesatkan, akhirnya MUI mengeluarkan ketetapan mengenai "Sepuluh Kriteria (Islam) Aliran Sesat". Ketetapan ini muncul setelah dibahas dalam Rakernas MUI 2007, dengan rincian sebagai berikut:

Sepuluh Kriteria Aliran Sesat
  1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
  9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar'i 
Namun demikian, ditambahkan pula bahwa penentuan ini tidak boleh dilakukan (apalagi ditindak) oleh sembarang orang, melainkan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Data, informasi, bukti, dan saksi tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut diteliti oleh Komisi Pengkajian.
  2. Selanjutnya, Komisi Pengkajian memanggil pimpinan aliran atau kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang didapat. Hasilnya kemudian disampaikan kepada Dewan Pimpinan.
  3. Bila dipandang perlu, Dewan Pimpinan dapat menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa.
Lebih lanjut, menurut Sekretaris MUI, Ichwan Sam; ''Di batang tubuh fatwa mengenai aliran sesat, juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat hukum dan menyeru masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri". [source: Republika]

Walaupun pasti akan mendapat tentangan dari sebagian masyarakat, langkah ini merupakan inisiatif yang berguna sebagai standarisasi penyelidikan untuk kasus-kasus yang muncul di kemudian hari. Komentar? (bay)

Posted by Bayu on Oct 29, '07 12:12 AM for everyone
"Sama Alloh minta melulu, malu tau!" Kurang lebih begitulah inti ungkapan seorang rekan muslim yang (merasa) mandiri...

Tapi yang gw tau justru sebaliknya. Merupakan salahsatu kewajiban ummatNya adalah untuk meminta kepadaNya. Bahkan Alloh membenci mereka yang tidak pernah meminta kepadaNya. Strange? Lagi-lagi, itulah sistem yang IA telah tetapkan; aneh nggak aneh, that's the way it works with HIM. Lagipula Alloh Maha Kaya... tinggal kita pelajari aja sistem nya, gimana caranya dengan "hanya" jalur IMAN maka rejeki bisa tetep terjamin lancar.

Sebenernya (tadinya) gw pribadi termasuk orang yang percaya kalau "hasil" itu cukup ditentukan oleh "usaha". Secara logis, kalau seorang manusia berhasil melakukan ini itu ini itu dalam hidupnya, maka ia akan berhasil mencapai ini itu ini itu. Lagipula Alloh sudah melengkapi manusia dengan tools yang sedemikian canggihnya; akal untuk berpikir, hati untuk merasa, dan aneka tools untuk mengindera. Based on exacta dan ilmu pasti, sudah cukup dong modal mengarungi hidup? Kenapa harus ngerepotin Alloh lagi dengan minta-minta kepadaNya?

Tapi... dalam jagad pemikiran Islam ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar... karena akan selalu ada "faktor Alloh" =). Dan ini berarti, mempelajari apa siapa dan bagaimana itu Alloh, minimal dalam kaitannya dengan "operating system" dari dunia yang IA selenggarakan ini. Gimana tuh?

Jika terkait metode menghadapi tantangan, maka seinget gw dalam Islam setidaknya ada empat pilar yang harus selalu diaplikasikan secara bersamaan tiap menghadapi suatu tantangan;

Ikhtiar, Do'a, Sabar, Tawakal.

Ikhtiar (berusaha bersungguh-sungguh) harus dibarengi Do'a (memohon keberhasilan padaNya), serta dihadapi dengan Sabar (dalam menempuh tantangan) sambil sekaligus menerapkan sikap Tawakal (Percaya dengan keputusan Alloh sebagai keputusan terbaik).

Dan setelah gw dah melatih diri dari Jan-Aug dalam mengandalkan skill untuk menjawab permasalahan, Sep-Okt dalam melatih ketabahan dan memunculkan optimisme, mungkin jalannya bakalan masih panjang... tapi yang gw tau sekarang ini saatnya gw untuk merendahkan diri dihadapanNya Yang Maha Kuasa...

Mohon ampunanmu ya Alloh, dan mohon kelancaran atas ikhtiar yang sedang kami upayakan, dan semoga derma yang kami keluarkan bisa menjadi pelancar kucuran rejekiMu, sebagaimana yang telah engkau janjikan... amin. (bay)

image dari: http://prawfsblawg.blogs.com/

Posted by Bayu on Aug 6, '07 7:42 AM for everyone
Seperti sudah diutarakan oleh baginda Rasulullah, keimanan seseorang itu ada pasang-surut nya, naik-turunnya. Rasulullah menyadari itu, dan barangkali kita sendiri juga pernah menyadari betapa banyaknya rutinitas kehidupan (tidak melulu harus berupa godaan!) yang membuat kita menjauh dari hal dan kegiatan Islami yang justru berfungsi untuk menjaga kualitas dan tingkat keimanan kita.

Kerja keras ngejar target, sementara karena merasa kagok nyelesaikan kerjaan, jadinya sholat ditunda-tunda... eh akhirnya kebablasan... Sekali-dua kali ngerasa gerah... eh lama-lama kebiasaan dan jadi tebal muka...

"Ah toh Alloh pasti maklum... iman saya nggak goyah koq..."

Terus menerus geser dikit-dikit sampe akhirnya nganggap sholat itu nggak penting, puasa itu nggak penting, zakat itu nggak penting, dan syahadat itu cukup diucapkan saja sudah sah. Tambah lagi, dengan embel-embel keyakinan bahwa keimanan kita pada Nya tidak berubah sedikitpun, walaupun kita tidak melaksanakan ibadah secara Islami...

"Ah, toh Alloh lebih tau apa yang ada dalam diri saya, tidak perlu lah ibadah ini-itu, toh pada esensinya saya seorang muslim".


Nyatanya keimanan seseorang itu tidak incorruptible... hanya saja yang tidak disadari, seringkali proses degradasi ini berlangsung secara lambat... dan akan semakin melemah manakala dibiarkan menyurut dan menipis...

Rasulullah yang sudah dijamin masuk Surga saja masih tekun beribadah. Dan dalam posisinya sebagai The Model (sang Teladan), beliau pun tidak pernah meninggalkan kewajiban melaksanakan ibadah-ibadah rutin dan ritual dari Islam. Kenapa??? Padahal sudah jelas kadar keimana beliau...

[Atau adakah muslim yang cukup tidak waras untuk meragukan tingkat keimanan Rasululloh?]

Segala contoh dan tindakan beliau tersebut secara konsisten dilakukan, karena baginda Rasulullah menganggap dengan cara-cara itulah iman akan selalu terbina dan terjaga. Aneka kewajiban, anjuran, dan larangan, semuanya dirancang sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu tatanan hidup yang insyaalloh akan menjaga dan meningkatkan kadar keimanan ummat Islam.

Jadi, kala anda dapati diri sudah (sangat) jauh dari praktik-praktik Islami tersebut, berarti sudah saatnya untuk "Recharging of Faith". Atau meminjam istilah populer dewasa ini "Isi ulang (pulsa) keimanan anda!"

Caranya sendiri beragam, mulai dari mengikuti majelis taklim, pengajian, baca buku-buku Islami, mendekatkan diri dengan mesjid, dengan orang-orang yang keimanannya lebih kuat, banyak cara...

Saya sendiri seringkali berhasil melakukan ROF ini dengan cara membaca pengalaman mereka-mereka yang... kembali ke Islam.

[Islam mengenal reverts, bukan converts, karena pada dasarnya seorang bayi yang baru lahir adalah Islam].

Membaca kisah-kisah para Muallaf yang baru memeluk Islam, dengan latar belakang yang sangat beragam, mau nggak mau buat saya menumbuhkan kembali bibit-bibit kecil keimanan yang telah mulai lesang. Mengetahui hal-hal yang mungkin sepele mengenai bagaimana mereka tertarik akan Islam (atau justru hal-hal luar biasa yang melibatkan kehendak-Nya dalam cara yang lebih megah), membantu saya untuk menilik kembali hal-hal mendasar dalam Islam, yang menjadikan mengapa para Muallaf itu tertarik dan rela melalui aneka rintangan berat dari keluarga dan lingkungannya... tak jarang berujung ancaman nyawa pula.

Hal-hal mendasar tersebut, seringkali sebenarnya (apalagi sebagai muslim dari lahir), telah kita pelajari berulangkali, telah kita anggap mengerti... dan akhirnya kita anggap enteng...

[Mungkin istilah "taken for granted" nya bule pas betul dalam konteks kejadian ini].

Dengan bantuan kisah para Muallaf yang kembali ke Islam, kita bisa menyadari kembali betapa berharganya apa yang sudah (atau pernah) kita miliki, dan menempatkannya kembali ke posisi yang tepat. Mau nggak mau hati kembali terbuka... kembali luluh... dan menyadari bahwa menjadi seorang muslim tidaklah seberat yang kita bayangkan akhir-akhir ini... Dan kitapun kembali siap untuk menerima pencerahan lebih lanjut dari Nya. Amiiiin...

Nah, bagaimana dengan para rekan? Apa yang anda lakukan untuk Recharging of Faith?

Dan terakhir, jangan lupa... insyaalloh jika Alloh berkenan, maka dalam satu bulan-an lagi, kita akan segera berjumpa kembali dengan sang Tamu Agung; bulan suci Ramadhan. Ayo cek ulang hitung-hitungan anda, apa masih ada kewajiban yang tertunda dari Ramadhan lalu? Apa sudah mulai persiapan-persiapan menyesuaikan diri untuk menyambut Ramadhan? Mari berbenah. Wassalam. (bay)

Posted by Bayu on Aug 6, '07 2:24 AM for everyone
Sebenernya kali ini bukan soal jurig atau hantu, tapi pastinya apa, wallahualam... silakan simak sendiri.

Tika (nama samaran), adalah seorang wanita muda khas Jakarta yang supel, nice, heboh, plus suka dugem. Pertemanan gw ma dia, berawal gara-gara sekian tahun lalu waktu masih kuliah gw "dengan terpaksa" harus menemani nyokap ke acara reunian sekolahnya dulu di Malang; STHD (Sekolah Tinggi Hakim - Djaksa).

Reunian nya sendiri sih berlangsung di Jakarta, di kampung wisata nya TMII. Agenda acaranya sendiri seperti yang sudah diperkirakan well, yah, boring. Tapi yang nggak terduga adalah... ternyata banyak mereka-mereka yang seumuran yang juga "dengan terpaksa" harus berada disana karena satu dan lain hal. Dimana salahsatunya akhirnya... ehm... lain cerita lain waktu.

Pada salahsatu kesempatan Tika maen ke Bandung, ia bersama teman-temannya nyempetin diri buat maen ke salahsatu discotheque yang ada di Bandung; Studio East. Besoknya ketika ketemuan ma gw, dia nyeritain sesuatu yang dia anggap mengagumkan namun agak ganjil... begini ceritanya.

Tika: "Gini lho bay, sehabis dari Studio East tuh kan gw ma temen-temen terus keliling-keliling Bandung tuh, nyari makanan... Denger-denger kan di daerah Gardu apa gitu banyak jajanan".
Gw: "Gardu Jati? Iya sih emang disitu biasanya, rada pagian masih ada jualan makanan".
Tika: "Nah waktu itu sih gw ama temen-temen pengen nyarinya yang di daerah atas, jadi berangkatlah kami kearah Lembang"
Gw: (buset)
Tika: "Terus waktu mobil lewat ke mesjid apa tuh yang di daerah situ juga? Dipinggir jalan gede yang banyak pohon rindangnya, masih deket SE"
Gw: "Ooh, Mesjid Raya Cipaganti kali? Di jalan yang sejajar Cihampelas?"

Tika: "Iya, nah disitu waktu itu gw liat banyak banget orang lagi sholat, sampe pada meluber keluar-keluar gitu... Pada rajin (sholat) ya orang-orang Bandung? Sampe malem-malem gitu mesjid masih rame. Ada acara apa sih?"

Gw pun mulai curiga... kayaknya ada yang nggak "bener" nih...

Gw: "Oh ya?.... Jam berapa Tik?"
Tika: "Yaa jam dua pagi gitu deh... emang kenapa?"
Gw (bingung): "Nggak ada lah acara sholat bareng jam dua pagi... nggak ada acara khusus koq setau gw... emang yang elo liat kayak gimana?" tanya gw penasaran
Tika: "Yang sholat banyak banget, pada pake pakean putih-putih..."
Gw: "... Hmmm... oke, trus lo liat ada bis atau mobil atau motor gitu parkir didepan masjid?"
Tika: "... nggak"
Gw: "Lo liat ada sendal berserakan gitu didepan masjid?"
Tika: "... nggak"
Gw: "...... Nggak ada kendaraan, nggak pake alas kaki, trus mereka pada nyampe situ gimana dong?" tanya gw...

Tika pun bengong sejenak dengan pertanyaan gw, sebelum akhirnya kaget sendiri...

Tika: ".........HIIIII! ASTAGHFIRULLOH! YANG GW LIAT APAAN DONG?"

Gw: "Hihihi... tauk... malaikat kali?" jawab gw asal-asalan...
Tika: "ASTAGHFIRULLOH! PERTANDA BUAT GW SUPAYA TOBAT KALI YA? AMPUN DEH JADI TAKUT GW!"

Gw pun tersenyum lebar sambil coba ngebayangin suasa malem itu... mesjid penuh sesak, jam 2 pagi, dengan pengunjung yang semuanya berpakaian putih-putih... brrr... merinding.

Untungnya karena dapet shock-therapy seperti itu, Tika memutuskan buat berenti ngelakuin hal-hal yang nggak-nggak... sementara gw amaze bahwa pengalaman seperti itu bisa terjadi , dan sama orang seperti Tika ini. Apa yang Tika liat? Wallahualam... tapi pastinya untuk tujuan yang baik. Semoga beneran tobatnya, amiiiin. (bay)



image dari: http://i6.photobucket.com/albums/y206/Miss_Dahlia/

Posted by Bayu on Jun 2, '07 12:21 AM for everyone
Jum'at 01/06/07 kemaren, karena libur makanya gw terpaksa nyari mesjid yang deket tempat tinggal. Sejak hampir enem bulan lalu numpang tinggal disini, nggak pernah sekalipun sholat jum'at di sekitar sini. Adapun mesjid kecil di seberang depan (yang sering pengajian super kenceng sampe lewat jam 10 malem walau hari kerja), ternyata nggak dipake buat jum'atan.

Nguntit salah satu anak ibu kost, akhirnya gw pun di-guide menuju mesjid lewat jalan pintas, menelusuri lorong-lorong (maaf) kumuh dengan jarak clearance cuma 1 - 1.5 meter an, dan dengan kualitas sanitasi 1/5. Kinda like got-got kotor dengan warna ijo begitu deh. Uhh...

Sampe keluar gang, mesjid yang dimaksud ternyata terletak di daerah pasar sebelah Kelurahan tempat gw nitip parkir mobil, jadi soal kebersihan lingkungan yah kembali jadi masalah. Di mesjidnya sendiri, orang udah pada rame ngambil posisi, tapi tetep suretep, yang milih bediri nunggu juga banyak. Di lantai atas, untungnya masih ada beberapa ruang kosong.
Selama acara ibadah berlangsung, iseng-iseng perhatikan, ternyata komposisi pengunjung mesjid ini secara general bisa dikategorikan sebagai berikut:
  1. Para muslimin yang dateng ke mesjid buat beribadah.
  2. DKM (Dewan Keluarga Mesjid) sebagai penyelenggara.
  3. Mereka yang Jum'atan buat sosialisasi dan selama ceramah asik ngobrolin apa tau.
  4. Mereka yang Jum'atan semata-mata karena ngerasa wajib, trus ntar pas iqomah harus dibangunin temen sebelahnya.
  5. Anak-anak yang dateng ke mesjid untuk memeriahkan suasana (no pun intended); waktu ceramah gak bisa diem, waktu sholat saling goda, senggol, dorong, lalu adu kenceng tereak "amin", dan setelah sholat langsung lari ngabur (no pun intended either).
  6. Para pemuda dan bapak-bapak yang selama ceramah malah asik nongkrong di luar mesjid sambil ngobrol dan ngerokok.
Dan baru gw sadari kalau keliatannya struktur pengunjung ini selalu ada di mesjid-mesjid yang pernah gw kunjungi sepanjang ingetan gw. Komposisi standar pengunjung mesjid saat Jum'atan?

Yang menyedihkan, suasana mesjid saat seperti ini adalah chaotic. Khotbah nggak kedengeran karena lingkungan berisik, mau sholat tenang juga kadang masih ter-intervensi dengan keinginan namparin anak-anak kecil yang sepanjang sholat malah ketawa-ketawa terus (lihat tipe pengunjung jenis ke-5). Yang parahnya, baik DKM selaku pengelola mesjid, maupun pengunjung lainnya, nggak ada yang lantas saling mengingatkan untuk tidak berisik, terutama kepada anak-anak tadi.

Memang ada larangan Rasulullah SAW untuk saling menegur selama khotbah, tapi saya nggak percaya kalau karena alasan ini maka kendali pun dilepas dan khalayak dibiarkan berbuat semaunya. Rasulullah pasti punya maksud yang luhur atas larangan ini, mungkin untuk melatih kesabaran kita? Atau informasi mengenai cara mengelola jama'ah Jum'at sudah hilang ditelan waktu?

Nggak baik dibiarkan, harusnya dicari cara supaya ketertiban tetap terjaga, dan ummat nggak lantas mendapatkan kesan yang salah. Generasi mudanya nakal trus nggak dibenahi, apa jaminannya sudah besar nanti kenakalannya bakalan ilang? Kalau jaman dulu, bercermin pada cerita-cerita dari bokap-nyokap, para biang kerok ini masih punya rasa takut atau segen, manakala saat Jum'atan hadir pula guru-guru ngaji mereka (minimal takut dilaporin ke orang tua masing-masing). Memang jadinya diam karena takut, tapi dalam hal ini saya setuju dengan "intimidasi" seperti demikian.

Kalau sekarang saat acara ngaji sendiri sudah langka? Para "perusuh mesjid" merasa bebas bertindak karena toh nggak pernah ada dampak buruknya buat mereka? Apa nggak takut standar kualitas ummat makin menurun?

Memang suatu saat seperti dicantumkan dalam hadith Nabi(corected), ummat Islam itu kelak akan seperti buih di lautan.... banyak... but practically nothing. Kitakah yang akan bantu mewujudkannya? Relakah ini terjadi di masa kita hidup? (bay)

Posted by Bayu on Mar 24, '07 2:15 AM for everyone
Tulisan ini tentunya akan berbau rada miring kalau ditinjau dari sudut pandang umum, apalagi dari pluralism, liberalism dan ism2 lainnya yang ditelorkan oleh para "pembaharu" agama semisal JIL. Kalau sekiranya tulisan ini akan nggak cocok dengan selera anda, silakan navigate away...

Keluhan gw dalam hal ini adalah sama dengan keluhan gw mengenai kurang baiknya fasilitas musholla di mall-mall yang ada di Jakarta.

Gw nggak akan menuduh bahwa mayoritas penduduk muslim di Jakarta banyak diabaikan hak-hak nya, cuma mungkin terkadang terlupa... Dalam hal ini permasalahannya akan ditinjau dari segi fungsionalitas dan kematangan proses perancangan.

Begini... suatu ruangan yang tercipta, dalam proses perancangannya haruslah memikirkan mengenai kegiatan yang ada di dalamnya. Jadi bagi ruangan belajar, sudah sepantasnya lah tersedia bangku duduk, meja belajar, serta furniture lainnya yang menunjang proses belajar. Juga di ruang dapur, sepantasnyalah tersedia kompor, tempat cuci, table-top untuk persiapan memasak, dst.

Terkait dengan toilet, perkembangan teknologi modern cenderung menciptakan sistem-sistem yang ringkas dan otomatis, misalnya teknologi auto-flush pada urinoir yang memungkinkan pengunjung menuntaskan hajatnya dengan lebih cepat... mampir, buka garasi, buang hajat, tutup garasi, menjauh... kelihatannya sangat praktis. CUMA masalahnya, di Jakarta ini sebagian penduduknya adalah kaum muslim (kalaupun udah nggak mayoritas lagi, tapi gw yakin tetep berjumlah besar). Dan terlepas dari adanya sebagian pihak yang menganggap tidak perlunya berbasuh, cukup di peper-peper ke dinding atau di sentil-sentil, aturan Islam dengan jelas menyebutkan bahwa istinja (berbasuh) adalah hal yang wajib untuk menghilangkan hadas kecil (pipis). Boleh ditawar kalau dalam keadaan darurat.

Nah terkait hal tersebut, karena saya yakin perancangan WC di tempat-tempat umum bukanlah proses yang kebetulan, apalagi darurat, maka sepantasnyalah kebutuhan unik untuk berbasuh ini menjadi suatu hal yang perlu dipikirkan dan tentunya difasilitasi. Namun bagaimanakah kenyataannya?

Ternyata banyak gedung-gedung modern yang memilih untuk menggunakan urinoir jenis otomatis, auto flush, tanpa adanya fasilitas untuk mengeluarkan air lebih untuk berbasuh. Padahal di urinoir seri lama atau standar, yang dioperasikan dengan tombol, hal ini masih mungkin dilakukan, karena pemakai bisa mendapatkan air untuk berbasuh, saat diperlukan. Pada beberapa seri auto flush seri lama pun bahkan masih bisa ditemukan tombol "over ride" manual walaupun letaknya tersembunyi di bagian bawah unit sensor cahaya nya.

Bukankah high-tech harusnya bersanding dengan high-touch? Bukannya malah mengejar fungsi-fungsi yang sophisticated namun mengabaikan fungsi-fungsi mendasar yang justru lebih penting? Atau memang kami yang perlu berbasuh setelah pipis ini, cuma boleh prihatin dan nrimo, saat menyadari kebutuhannya sudah nggak dipikirkan lagi oleh para pengelola gedung modern? Saya yakin yang dirugikan dalam hal ini nggak cuma kaum muslim koq.

(bay)

Posted by Bayu on Dec 26, '06 4:19 AM for everyone
[Ditulis terkait keprihatinan bang Jonru di jurnalnya yang ini: "Apakah Saya Sedemikian Miskinnya?"]

Berkaitan dengan ibadah Qurban yang sebentar lagi ummat muslim akan selenggarakan, terutama mengenai kemampuan untuk berkurban. Pemahaman umum yang dianggap patokan, adalah satu orang muslim berkorban satu ekor kambing (minimal, lebih boleh). Sedangkan untuk sapi, boleh untuk tujuh orang muslim.

Namun bagaimana hukumnya kalau ada satu keluarga yang tidak mampu untuk berkurban lebih dari satu kambing saja? Dapatkah sebuah keluarga berkurban hanya satu ekor kambing saja?

Berikut hasil googling dan referensi lainnya:




Imam Syafi'i berkata: Andaikan berkurban itu wajib maka tidaklah cukup bagi satu rumah kecuali mengurbankan setiap orang satu kambing atau untuk tujuh orang satu sapi, akan tetapi karena tidak berhukum wajib maka cukuplah bagi seorang yang mau berkurban jika menyebutkan nama keluarga pada kurbannya ... dan jika tidak menyebut-kannya pun tidak berarti meninggalkan kewajiban (Al-Umm 2: 189).

(Sumber Rujukan: Min Ahkamil Udhiyyah, Asy-Syaikh Al-Utsaimin)

Sumber: http://www.nabble.com/Hukum-BerQurban-t2838117.html




Satu
Hewan Qurban Cukup Untuk Satu Keluarga


Jika seseorang berqurban dengan satu ekor kambing atau domba, maka itu sudah cukup untuk qurban diri dan keluarganya yang ia tanggung kehidupannya. Semuanya mendapatkan pahala atas qurban itu. Hal ini berdasarkan hadits Ibn Majah dan Tirmidzi dan ia men-shahihkannya. Para sahabat pun melakukan hal yang demikian.

Sumber: http://www.siwakz.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=7




Satu hewan kurban bisa untuk satu orang berikut keluarganya. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika menyembelih kurban beliau mengucap, “Ini kurban dari muhammad dan keluarganya.”

Abu Ayyub juga berkata, “Pada masa Nabi saw orang menyembelih seekor kambing atas nama dirinya sendiri dan keluarganya. Akan tetapi kemudian banyak orang yang bermegah-megahan sehingga menjadi seperti yang kalian lihat sekarang.”

Sumber: http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/18/cn/24214

(Catatan: Sayangnya disini nggak diungkapkan sanad lengkap dari hadistnya.)




Penulis sendiri pernah beberapa tahun lalu menghadiri sholat jum'at yang materinya adalah pembahasan soal 1 kambing untuk 1 keluarga ini. Kebetulan penceramah sampai rela menyediakan fotokopi selebaran yang isinya kutipan hadist Rasulullah SAW soal ketentuan/kemudahan (kontroversial?) ini.

Sayangnya saya nggak inget bunyi hadist lengkapnya seperti apa, atau dimana kertas selebarannya sekarang...



Adakah diantara para pembaca yang lebih mengerti dan bisa bantu memberi komentar? Soalnya jika keterangan ini memang benar, berarti dalam satu keluarga yang kurang mampu, bisa dilaksanakan patungan antar anggota keluarga untuk menjalankan ibadah Qurban ini.

Tengkyu

Posted by Bayu on Oct 22, '06 10:22 AM for everyone
Di rumah mertua sini lagi ada sedikit perselisihan... topiknya apa lagi kalo bukan "Kapan Lebaran?". Soalnya semenjak Muhammadiyah menyatakan penetapan hari Lebaran (Idul Fitri) yang berbeda dengan keputusan Negara (via MUI), maka bibit-bibit perpecahan pun mulai muncul...

Mengapa Muhammadiyah menetapkan keputusan berbeda? Ini terjadi karena perbedaan cara perhitungan. MUI menerapkan sistem pemantauan terhadap "hilal" (tanda munculnya bulan baru), alias metode "rukyat", sedangkan Muhammadiyah cenderung mempergunakan sistem "hisab" (perhitungan).

Lantas kalau dikaitkan mengenai pemerintah Arab Saudi yang ternyata menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Senin, 23 Oktober 2006, gw gak terlalu peduli... kenapa? Bukannya karena sistem perhitungan mereka cacat, namun antara Arab Saudi dan Indonesia terdapat perbedaan letak geografis yang cukup significant, sehingga tidak secara otomatis apa yang berlaku di Arab Saudi, berlaku pula di Indonesia. Sedangkan bedasarkan sunnah Nabi, seorang muslim harus memakai perhitungan berdasarkan lokasi dimana ia berada, bukan berdasarkan perhitungan di Arab... Jadi dalam hal ini ummat muslim harusnya mengikuti keputusan yang dibuat oleh para alim ulama dari negaranya, kecuali kalau memang dianggap tidak ada yang kompeten.

Kalo dulu-dulu gw dan keluarga selalu kompak, dan selalu ngambil kata sepakat, maka keliatannya di keluarga mertua sistem ini kurang berjalan... Salahsatu ipar isteri, menyatakan pertimbangan bahwa menurutnya, MUI tidak menerapkan sistem perhitungan yang komprehensif dan cenderung hanya mengandalkan pada rukyat. Padahal ada beberapa metode yang harus ditempuh untuk penentuan hal ini... Jadi karena khawatir melaksanakan yang haram (jika ternyata benar 1 Syawal 1427H jatuh pada hari Senin, maka puasa hari itu diharamkan), maka ia memutuskan untuk menerima pendapat Muhammadiyah akan penentuan tanggal 1 Syawal; hari Senin, 23 Oktober 2006.

Duh bingung... Namun dengan tidak mengecilkan pendapat ipar (maupun negara), maka gwpun melakukan apa yang biasa gw lakukan kalau menghadapi ambiguity; Googling!

Hal pertama yang gw perlu ketahui adalah, "Bagaimanakah pendapat ormas dan orpol Islam lainnya mengenai hal ini?"

Jika pendapat Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama sudah sering diudarakan di TV, bagaimanakah dengan pendapat pihak lain? Pihak yang kredibilitasnya bisa gw percaya secara pribadi? Maka gwpun berusaha mencari tahu gimana keputusan dari Partai Keadilan Sejahtera, alias PKS; orpol Islam yang dalam kampanye dan aksi2 nya selalu melancarkan image positif, simpatik, dan santun.

Ternyata berbeda dengan pendapat ipar, Dewan Syariah Pusat PKS dalam website resmi PKS menyatakan keputusan untuk menetapkan tanggal 1 Syawal 1427H pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, mengikuti keputusan negara. Lucunya, salahsatu hal yang mereka "garisbawahi" adalah perkara "berjama'ah".

Mengenai berjama'ah ini sendiri kebetulan sudah pernah gw temui pada beberapa wacana dari teman-teman MP maupun artikel-artikel di web, mengenai adanya hadist Nabi yang mengharuskan "berjama'ah" ini sebagai salahsatu aturan dasar penentuan. Tapi in the mean time, gimana sih pendapat ormas / orpol Islam lainnya?

Dari NU, Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH Ghozali Masroeri, di Jakarta menyatakan, melihat bulan dengan mata kepala (ru`yatul hilal bil fi`li) untuk menentukan awal bulan Qomariyah atau Hijriah, khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sesuai dengan perintah Nabi Muhammad SAW. Adapun hisab atau perhitungan menurut cara ilmu pengetahuan (astronomi) hanya berfungsi sebagai pembantu belaka.
(http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=269234&kat_id=23)

Sedangkan dari Persis, didapatkan juga hal yang sama; 1 Syawal 1427H jatuh pada hari Selasa, tanggal 24 Oktober 2006. (http://www.persis.or.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=28)

Oke, ternyata sebagian besar dari ormas/orpol Islam ini menyatakan "rukyat" (melihat bulan secara visual) sebagai dasar penentuan mereka. Lantas pertanyaan berikutnya adalah, "Gimana sih sebenernya posisi atau kedudukan antara dua metode; rukyat vs. hisab ini?"

Kembali ke Googling... dan dapet satu artikel yang isinya cukup komplit walaupun dipasang bukan di website yang gw kenal... Dan beginilah runtutan fakta yang bisa gw telaah....

FirmanNya:
Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah:: "Sesungguhnya ia adalah penentu waktu bagi manusia. (QS Al Baqarah:189).
Sabda Nabi:
Berpuasalah kalian dengan melihatnya, dan berbukalah dengan melihatnya. (Hadits).
Berdasarkan dua sumber hukum itu saja sudah tertera jelas bahwa cara perhitungan / penentuan awal bulan Islami adalah melalui metode melihat hilal secara visual.

Lalu bagaimanakah jika ternyata hilal tidak bisa dilihat pada saat diperkirakan sudah waktunya berganti bulan?

Dari Abu Umair bin Anas dan paman-pamannya dari kalangan kaum Anshar , berkata:
"Awan menutupi kami pada hilal Syawal. Maka pagi tersebut kami berpuasa. (Kemudian) datanglah kafilah pada sore harinya, Mereka bersaksi kepada Rasulullah, bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk berbuka saat itu juga, dan keluar besok paginya untuk shalat Id". 15
Jika belum terlihat hilal, maka teruslah berpuasa! Dan karena para pengamat MUI di pelosok tanah air ini per-Maghrib hari Minggu 22 Oktober 2006 ini belum ada yang melihat hilal, maka berarti untuk wilayah Indonesia tanda pergantian bulan belum terlihat, jadi pada hari Senin 23 Oktober 2006 kaum muslim masih diharuskan untuk berpuasa.

Lantas pertanyaan berikutnya, "Bagaimanakah penyelesaiannya jika ternyata antara para ahli ada yang berbeda pendapat?"

Sabda Rasulullah:
"Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, lalah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih.'

Ash Snan'ani, ketika mensyarah hadits ini berkata: "Dalam hadits ini, dalil yang menetapkan hari raya sesuai dengan (kebanyakan) manusia, karena orang yang sendirian mengetahui hari raya dengan ru'yah, wajib baginya untuk mengikuti orang lain dan diharuskan shalat, berbuka dan kurban bersama dengan mereka". 14

Ternyata untuk penentuan bulan baru yang terkait dengan ibadah-ibadah khusus (Sholat Id, Qurban) maka faktor bersama-sama adalah penting! Dan bukankah Islam berulangkali menempatkan masalah berjama'ah ini sebagai suatu prioritas?

Dan dalam hal ini, walaupun Republik Indonesia bukanlah negara Islam, namun karena pemerintah Republik Indonesia memiliki dewan yang dianggap cukup credible untuk menentukan penanggalan Islami (termasuk penentuan jatuhnya tanggal 1 Syawal), maka keputusan negara memiliki kedudukan yang prioritas. Apalagi metode yang mereka pakai adalah metode yang memang kuat landasan hukumnya.

Lalu jika kembali ke pembahasan diawal mengenai "khawatir melaksanakan shaum yang haram pada tanggal 1 Syawal, jika ternyata negara membuat keputusan yang salah", ternyata ada hadistnya juga dari Nabi:

Nabi bersabda tentang para penguasa:
"Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka"
Jadi, kesalahan dan kelalaian pemerintah, tidak ditanggung kaum Muslimin yang tidak melakukan kelalaian atau kesalahan.17

Jadi dalam hal ini, Nabi menjamin bahwa seorang muslim berada dalam posisi yang aman, jika dikaitkan terhadap kemungkinan kesalahan keputusan pemerintah / penguasa. Sedangkan sikap memutuskan untuk tidak berpuasa pada hari Senin, 23 Oktober 2006 karena khawatir melaksanakan sesuatu yang haram, dan tokh bisa diganti (qodho) dengan shaum dilain waktu, gw anggap sebagai suatu sikap yang kurang tegas...

Jadi sebagai kesimpulan akhirnya:

Berdasar pada metode rukyat, plus hadist Nabi mengenai keutamaan melaksanakan 1 Syawal bersama-sama, dan anjuran Nabi untuk mengikuti keputusan pemerintah, maka gw pun memilih untuk mengikuti 1 Syawal-nya Pemerintah RI: pada hari Selasa, 24 Oktober 2006.

Sekian, kalau ada rekan-rekan yang memutuskan untuk merayakan 1 Syawal 1427H pada hari Senin 23 Oktober 2006 ini, silakan... anda pasti punya pertimbangan tersediri yang anda yakini benar... Lagipula tanggung-jawabnya tokh bukan dengan teman/sahabat/lingkungan, tapi terhadap our own conscious dan dengan Alloh SWT. Yang pasti, sekarang gw udah nggak galau lagi karena keputusan gw udah berdasarkan pengertian, bukan ikut-ikutan semata . (bay)

Catatan:
14 Subulus Salam (2/134).
15 Hadits dengan lafadz ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab (Idza Lam Yakhrujil Imam Ul 'Id...) no. 1.157.
17 Majmu' Fatawa (25/206).

Sumber2 dalil tersebut dikutip dari: http://forsitek.brawijaya.ac.id/index.php?do=detail&cat=fatwa&id=ftw-hariraya, dicopy dari: Majalah As-Sunnah Edisi 07 [Tahun VIII/1425H/2004M]

Foto dari: http://www.observetheheavens.homestead.com/

Posted by Bayu on Aug 23, '06 11:30 AM for everyone
Sebenernya pertanyaan ini muncul sudah sejak jaman gw kuliah dulu, which is about... hmm... 13 taun lampau? Sayangnya karena lupa, dan kurangnya resources yang bisa diakses dengan mudah dan cepat, maka pertanyaan ini dibiarkan tak terjawabkan untuk waktu sekian lamanya.

"Benarkah dalam menghadiri pemakaman, kita harus mengenakan pakaian hitam?"

Sempat ada informasi dari bokap kalau kebiasaan memakai pakaian hitam untuk berkabung, adalah kebiasaan agama Yahudi. Hmm... gawat kalo betul... karena bisa-bisa kasusnya jadi dosa: ngikut-ngikut kebiasaan dan ibadah agama lain.

Sejak saat itu, berdasarkan kepercayaan pada bokap, gw pun mulai menghadiri acara-acara berkabung dengan memakai pakaian putih... Bukankah putih itu warna yang baik dan melambangkan kesucian? Dan bukankah upacara pemakaman adalah suatu prosesi yang suci, regardless bagaimana sebab atau implikasi dari kematian tersebut?

Namun karena sebaiknya kita mengerti suatu permasalahan hingga ke akarnya, apalagi kalau kita punya kemampuan membaca, plus akses ke sumber bacaan, maka perlu dilakukan penggalian fakta... tapi ya itu dia, kelupaan melulu.

Alhamdulillah, secara kebetulan salahseorang rekan online tiba-tiba memuat mengenai kunjungan berkabung, dan pertanyaan ini pun kembali terkuak! Dan dengan adanya Google, dan semakin luasnya dunia maya internet, ternyata pencarian jawaban kini tidaklah serumit dimasa lampau... so here we go!

Dari manakah asalnya kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung?

Menurut Wikipedia, kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung, bisa ditelusuri asalnya hingga ke masa kekaisaran Romawi. Sedangkan menurut The Widow's Rumble dari berbagai sumber, kebiasaan mengenakan pakaian hitam saat berkabung bermula dimasa ratusan tahun silam saat masyarakat masih percaya bahwa dengan memakai pakaian hitam saat berkabung akan menyamarkan mereka dari pandangan Kematian, dan menghindarkan mereka dari menjadi target berikutnya.

Sedangkan menurut ajaran Yahudi dalam berkabung (Shivah), pemakaian pakaian hitam tidaklah diharuskan. Namun anjuran ini terdapat secara tersirat dalam kitab mereka, Talmud. Menurut sumber yang sama, aturan pemakaian warna hitam juga tidak terdapat dalam Injil (cmiiw).

Masyarakat Eropa abad pertengahan pun lebih memilih warna putih untuk pakaian berkabung, seperti yang dipraktikkan di Spanyol hingga akhir abad ke-16.

Jika kita perhatikan (misalnya dari film-film kungfu), masyarakat China dan negara-negara Asia lainnya pun cenderung memilih warna putih sebagai warna berkabung.

Sedangkan dalam Islam, ternyata tidak ada aturan mengenai warna dari pakaian yang harus dipakai pelayat atau anggota keluarga pada saat berkabung. Yang ada, adalah anjuran untuk mengucap "innalillahi wa inna illaihi raji'un" ("Truly to Allah we belong and truly to Him we shall return"), saat kita sedang ditimpa atau mengetahui adanya kemalangan / kesedihan / bencana / kematian. Perkara warna pakaian, tidak ditentukan secara khusus.

Dengan demikian, mempertimbangkan data-data tersebut, maka bagi seorang muslim, pemilihan pemakaian warna hitam pada saat berkabung justru berpotensi sebagai bid'ah, jika sekedar berdasar pada ikut-ikutan terhadap kebudayaan atau kebiasaan yang tidak Islami.(bay)

foto dari: http://www.twinrosesdesigns.com


Posted by Bayu on Jul 14, '06 9:24 PM for everyone
True, harta yang dibelanjakan dijalan Alloh tidak akan pernah hilang, alias akan kembali ke diri kita lagi someday. Tapi, ada kasus dimana seorang sahabat malah dimarahi Rasululloh karena menghabiskan hartanya untuk beramal, sementara anak-anaknya hidup serba kekurangan.

True, beribadah adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Nya. Tapi ada sahabat yang dimarahi Rasululloh karena beribadah sepanjang waktu sedangkan kewajiban terhadap isteri nya diabaikan.

Intinya? balance

True, dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang keras dan tegas mengenai relasi kaum muslim terhadap para kafir. Tapi Al-Qur'an diturunkan tidak tanpa "penterjemah". Maka dari itu ada Rasululloh dari kaum manusia, supaya aplikasi dari Al-Qur'an bisa dicontohkan kedalam aplikasi yang memang sesuai bagi manusia.

[Pernah nemu kasus Rasululloh menyebar terror diantara kaum kafir semasa hidupnya? Seperti yang dianggap sahid oleh para teroris Islam?]

Sebenarnya kalau bingung mengenai penerapan suatu ayat dalam Al-Qur'an, lihat dan pelajari saja contoh aplikasinya dari Rasululloh, karena itulah yang paling tepat bagi kita ummat manusia.

Intinya? learn by examples

Banyak kaum muslim yang merasa keterlibatan dalam hal-hal duniawi adalah hal yang bodoh... Tapi lihatlah perekonomian dunia sekarang yang dikuasai segelintir konglomerat Yahudi, arus informasi yang dikuasai segelintir mogul media massa, teknologi yang dikuasai (dan dipatenkan) oleh negara-negara raksasa industri. Sedangkan kekuatan ditangan penindas selalu berwujud buruk... dan kita bisa bercermin mengenai ini dari sejarah.

Arab mungkin masih memiliki kekuatan selagi sumur minyak belum kering. Tapi apa manfaatnya kalau itu gak dipake buat mempersiapkan daya saing dimasa mendatang? Saat kelak duit minyak makin surut, akankah eksistensi Arab di dunia internasional turut memudar? Kala saat inipun walaupun duitnya kenceng, tapi suaranya tidak tedengar?

Akankah Islam juga surut menjadi sekedar ajaran spiritual? Padahal Islam itu "dien"; pedoman hidup, bukan sekedar pedoman ibadah. Sekarang saja saat Palestina diganyang, tidak ada saudara muslimnya yang bisa membantu. Kedepannya nanti gimana? Di dunia yang konkrit ini, kekuatan fisik juga penting... tanpa kekuatan, gak akan terwujud keadilan. AS bisa semena-mena menginvasi Irak karena mereka memiliki kekuatan, dan Irak nggak... AS gak bisa semena-mena terhadap Korea Utara, karena walaupun mungil, sekutu Korea Utara gak bisa dianggap sepele... dan apalagi mereka sekarang punya senjata nuklir.

Kalau Islam tidak memiliki kekuatan... lantas siapa yang akan memperjuangkan hak-hak kaum muslimin?

Kalau ummat muslim terlalu sibuk mencari akhirat, siapa yang akan berperan menjadi khalifah di muka Bumi? Kalau ummat muslim terlalu sibuk mempelajari ayat-ayat dalam Al-Qur'an, siapa yang akan mempelajari ayat-ayat Nya yang tersebar di alam semesta?

Kenapa koq ummat muslim gak berusaha untuk meraih kekuatan strategis padahal dunia sudah berkembang kompleks, kala senjata saat ini bernama "teknologi", "informasi", "public relations", "diplomasi", "media coverage", dan "pasar modal"... akankah kaum muslim keukeuh pada pekik "Allohuakbar!" dan acungan pedang sebagai satu2nya senjata?

Ataukah kaum muslim lebih suka duduk manis dan menunggu datangnya bantuan dari langit?(bay)

Ref: Constant Gardener, The West Wing ep 601 - 603
Foto dari http://www.whiterose.org/dr.elmo/GPMMC/Outsider/



Posted by Bayu on May 25, '06 2:24 PM for everyone
Sebenernya materi obrolan ini dah lama gak pernah kedengeran di circle of friends gw, tapi ya berarti orang2 di sekeliling gwlah yang mulai terseleksi... bukan karena isyunya sendiri gak ada...

"Kenapa sholat harus pake bahasa Arab? Kan gw jadinya gak ngerti?"

Kalo saya, karena biasanya kalo ditanya malah bales nanya , jadi saya tanya balik aja deh...

"Kenapa keharusan belajar bahasa [Inggris/Jerman/Jepang/Prancis/dll] gak pernah dipermasalahkan?"

["Keharusan" disini bukan dalam artian diwajibkan sama pemerentah ya, tapi harus dalam artian "wajib, terkait urusan yang hendak dibereskan/tujuan yang hendak diraih".... ]

Kuliah gak bisa English? Sementara bahan-bahan materi kuliahan masih banyak karya penulis asing? Kelaut tentunya... (atau ke pantai, minimal). Mo menjalin bisnis dengan orang Hongkong jadinya harus belajar bahasa Mandarin? Mo mikat si neng geulis jadi harus bisa Basa Sunda dikit-dikit? Mo keliatan metroseksual jadi belajar slang-slang bahasa gaul? Keliatannya lancar-lancar aja tuh dijalani tanpa protes berarti...

Tapi... kenapa kalo terkait Islam jadi masalah?

Cuma titip pesen aja... jangan sampe sinisme terhadap Islam atau aturannya itu dimunculkan semata-mata berdasarkan sentimen terhadap Arab dan kebudayaannya. Kalo ternyata dulu Alloh SWT memutuskan bahwa Rasul terakhirnya ini turun di jazirah Arab, ya kitanya yang lantas ngikut belajar bahasa Arab... supaya pemahaman terhadap Al-Qur'an, serta muatan ajaran Islam secara keseluruhan, bisa lebih mendalam dan tepat...

"Atau.... hmmm.... Terjemahin aja Al-Qur'an nya biar gak susah?"

Hmm juga.... begini... Buat yang pernah ngerasain nerjemahin bahasa A ke bahasa B, mereka pasti tau bener kalau proses translasi itu gak akan pernah bisa mengconvert 100% muatan dari materi aslinya. Banyak istilah yang cuma bisa dicari padanannya yang paling deket, alias penafsirannya dan bukan terjemahan tepatnya.

Untung lho, Al-Qur'an dipertahankan dalam bahasa aslinya, jadi gak timbul masalah-masalah terkait perubahan muatan karena terlalu banyak dialihbahasakan. Akibatnya, sampe saat ini, setelah pemikiran manusia jauh lebih berkembang dibandingkan 1400 tahun lampau, saat perkembangan teknologi sudah sedemikian maju, maka penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an pun bisa terus di-upgrade dan di-update, dilihat berdasarkan kerangka baru sesuai perkembangan ilmu tafsir kontemporer. Pemahaman kita akan muatannya pun jadinya semakin sophisticated. Kalau orang jaman dulu mungkin bingung kenapa manusia itu dinyatakan tercipta dari "segumpal darah" (QS Al-Alaq), maka teknologi kedokteran modern ternyata mampu mengkonfirmasi dan menjelaskan lebih mendetail mengenai pernyataan Al-Qur'an tersebut, seiring dengan berkembangnya pemahaman dunia akan perilaku penyatuan sel, mitosis, perkembangan embrio, dll.

Bahwa Gunung diciptakan sebagai pasak bagi daratan? Baru bisa dimengerti jelas ketika teori geologi mengenai pergerakan lempeng bumi ditemukan... Bahwa ada laut-laut yang antara air tawar dan air asinnya terpisah bagai ada tabir diantara keduanya? Baru bisa dibuktikan ilmu pengetahuan ketika teknologi penginderaan dan penyelaman laut dalam semakin maju.

Gimana kalo orang2 jaman dahulu terlanjur menerjemahkan istilah-istilah yang asing pada jamannya ini ke bahasa mereka dijaman itu? (bahasa Al-Qur'an dan bahasa Arab itu beda lho, walaupun based-on) Sehingga arti dan muatan sebenarnya dari ayat-ayat Al-Qur'an malah hilang terjebak dalam kelemahan pola pikir, perkembangan teknologi, kosa kata, kontemporer dijamannya, sedangkan tools-tools tersebut sifatnya selalu obsolete dan terus berkembang dari waktu ke waktu? Cilaka duabelas dong... ntar pemahaman kita terhenti di pola pikir manusia dari suatu abad tertentu, bukannya fleksibel dan terus berkembang...

Di sisi lain, pasti Alloh SWT memiliki maksud khusus ketika memilih untuk memakai bahasa Al-Qur'an yang kita kenal sekarang ini. Mungkin yang paling abstrak namun precise? Sekaligus paling fleksibel untuk di-porting ke bahasa manusia lainnya? Wallahualam, cuma Alloh yang tau.

"Porting?"

Kalau asing dengan istilah IT ini, silakan Googling atau Wikipedia-ing.

Saya pribadi merasa, ayat mengenai ilmu-Nya yang tak akan habis dituliskan seandainya mempergunakan tinta sebanyak jumlah air di lautan di Bumi, tidak semata-mata terkait pada jumlah atau ukuran kuantitas, tapi juga terhadap persepsi atau pemahaman manusia atas ilmu-Nya.

Ilustrasinya begini...

Bisakah anda menjelaskan mengenai sebab-sebab pergerakan nilai saham di pasar modal kepada anak anda yang berumur lima tahun? Mungkin saja... tapi yang pasti tidak dalam "bahasa" yang sama dengan yang anda pakai untuk menjelaskan hal yang sama pada kolega anda yang lulusan universitas ngetop.

Kala anda melihat dari balik kaca, sepasang pria dan wanita sedang bicara berhadapan dengan body language tegang, anda mungkin bisa menduga apa yang terjadi... Tapi kala tools anda untuk mengindera lalu bertambah, misalnya ketika anda lantas mendekatkan telingan ke kaca untuk menguping, maka dari nada-nada suara tinggi dan bentakan-bentakan sayup terdengar, anda bisa mengerti lebih jelas apa yang terjadi. Dan kala kemampuan tools pengindera anda itu meningkat, misalnya ketika anda akhirnya membuka jendela karena ingin mendengarkan langsung perdebatan seru yang terjadi, maka anda bisa dengan lebih tepat menyimpulkan apa yang terjadi... karena data yang anda dapatkan semakin komplit. Tapi tetep... karena anda takut ditabok si wanita, atau ditonjok si pria karena menguping terlalu dekat... katakanlah, dengan pura-pura nunggu bis didepan mereka padahal anda sedang kemping di Puncak, maka informasi yang anda dapat tak akan pernah 100% tepat.

Seperti itulah kasusnya jika antara emitor (pemancar) dan reseptor (penerima) terdapat kesenjangan... dan dalam halnya hubungan Tuhan - Manusia, kesenjangan ini terjadi dalam dimensi yang lebih akbar... Tuhan dengan segala ke Maha-an nya, sedangkan manusia dengan segala keterbatasannya... Bayangkan menayangkan gambar holografik ala Star Wars melalui proyektor 3D (teknologi kita dah nyampe lhooo), dan bandingkan dengan menampilkan obyek yang sama dalam media monitor komputer biasa.... kesan 3D nya hilang kan, atau berkurang jauh. Lalu bandingkan menampilkan obyek yang sama dalam monitor RGB tempo doeloe yang cuma bisa menampilkan 4 warna, trus dah over-used? Tentu beda hasilnya kan? Padahal aslinya image 3D Princess Leia Organa yang meminta bantuan Obi Wan Kenobi... tapi yang muncul malah pixel art bergerigi... blur pula.

Salahsatu alasan kenapa Alloh SWT dulu memilih bahasa Arab sebagai basis bahasa Al-Qur'an, saya perkirakan adalah karena format bahasa inilah yang mampu untuk menampung data secara mendalam, namun sekaligus tetap fleksibel terhadap kemampuan pemahaman manusia dari masa ke masa. Jadi sewaktu diturunkan pertama kalinya sudah bisa dimengerti, dan ketika manusia semakin maju, maka lebih banyak lagi detail dan pemahaman extra yang bisa digali.

Jadi kembali ke permasalahan diawal, aturan bahwa sholat itu dilakukan dengan bahasa Arab, (selain karena sunnah Rasulullah SAW), saya perkirakan adalah juga karena keterkaitan dengan kondisi, bahwa Islam itu diturunkan dalam lingkungan berbahasa Arab, dengan dasar bahasa Arab, dan contoh aplikasi / penjelasan dalam bahasa Arab juga... Suka nggak suka, beginilah faktanya.

Lagipula... dengan "paksaan" ini, bukankah lambat laun kita jadi bisa mengerti bahasa Arab sedikit-sedikit? Ada maksud pendidikan juga dalam aturan ini lho...

Kalau dari Jakarta mau nyampe ke Bandung, ya pergilah ke Bandung... bukan nyuruh Bandung yang dipindah ke Bogor biar lebih deket yah...

Comments? Inputs?

Wassalam

Posted by Bayu on May 12, '06 12:18 AM for everyone
*Inpired by Leonie's

Seberapa banyak dari kita yang lantas berpikir "hantu", manakala dihadapkan pada kata "Malam Jum'at"?.

INTRODUKSI

Dulu sewaktu masih duduk dibangku SMP, saya sempat terlibat perbincangan rada seru soal pemakaian istilah "Malem Jum'at", "Malem Minggu", dll., dengan tetangga yang kebetulan wong Jowo aseli dan baru beberapa bulan saja tinggal di Bandung.

Entah kenapa, si tetangga rupanya nggak mengerti konsep istilah dengan rumusan f(x) = "malam" + (nama hari) untuk mengacu kepada waktu malam sebelum hari yang dimaksud dimulai. Padahal setahu saya, sedari kecil dulu, sudah ada kesepakatan tak tertulis mengenai hal ini.

Jadi... kalau menurut saya (dan lingkungan saya), "Malem Minggu" actually adalah "Sabtu malam", maka buat tetanggaku ini, "malem minggu" itu ya berarti "minggu malem", cuma beda susunan katanya saja.

[Anyway, pembicaraan yang gak penting sekaligus penting ini berakhir dengan saya dan tetangga masing-masing tetep pada pendirian awal... alias gak ada kata sepakat.]

Bertahun-tahun kemudian, pemakaian istilah yang sebenarnya rancu inipun tetap saya pakai dengan gencar, toh istilah ini sudah saya dengar sejak masih balita... dan orang-orang disekeliling sayapun kelihatan sama-sama mengerti apa yang dimaksud. Jadi ketika terjadi percakapan berikut dengan teman;

"Kapan atuh mau ketemuan teh?"
"Yaa.... Malem Rebo aja kali ya?"

Maka kita sepakat untuk bertemu dihari Selasa Malam, bukan Rabu Malam, tidak pernah ada kesalahpahaman. Namun mau nggak mau, pemakaian istilah ini tetep membuat saya bertanya-tanya... kenapa koq (sebagian) masyarakat kita bisa sedemikian terbiasanya dengan kerancuan ini...

Hingga pada suatu ketika, ada petunjukNya yang membantu pemahaman atas hal ini...

Suatu hari... setelah melaksanakan ibadah shaum (puasa) Ramadhan bertahun-tahun, saya baru menyadari alasan "Kenapa pada malam terakhir di bulan Ramadhan tidak ada sholat tarawih?", adalah karena pada malam itu menurut penanggalan Islam, sudah masuk bulan Syawal alias sudah masuk penanggalan bulan berikutnya!

Jadi dalam Islam, penanggalan dan pergantian hari baru itu tidak terjadi pada pukul 00:00 dini hari sebagaimana konvensi internasional, namun dihitung semenjak tenggelamnya matahari... Jadi kenapa koq istilah "Malam Jum'at" itu mengacu kepada Kamis malam, dan bukannya Jum'at malam, adalah karena:

Hari Jum'at menurut penanggalan Islam, dimulai sejak tenggelamnya matahari dihari Kamis.

Jadi istilah "Malem Jum'at" kalau diartikan sesuai konteks kosakata lokal, adalah mengacu pada penanggalan Islam yang berarti Kamis malam pada penanggalan Masehi (Internasional).


HARI RAYA, TERKABULNYA DO'A, DAN KEKEJIAN IBLIS

Entah kapan mulainya... "Malam Jum'at" menjadi identik dengan malam dimana setan bergentayangan. Dan kepercayaan inipun dianut oleh nyaris seluruh kalangan masyarakat, termasuk (terutama) kalangan media hiburan yang lantas menjadikan Kamis malam sebagai waktunya untuk memutar tayangan seram dan berbau mistis. Jadilah image "Malam Jum'at" sebagai malam hantu semakin melekat... Masyarakat cenderung takut untuk keluar malam disaat itu, termasuk berlama-lama bangun malam karena takut tiba-tiba dimalam yang spesial ini dia didatangi tamu dari alam lain... hiiyyy.... Lebih baik tidur awal dan terhindar dari kemungkinan masalah seperti itu.

Kalaupun kita nggak terpengaruh dengan anggapan umum ini, ya bagus... Namun apa yang telihat seperti suatu kepercayaan yang harmless, bisa jadi memiliki aplikasi yang berbuntut panjang atau berdampak besar secara tidak disadari. Karena itulah harus diluruskan...

Berdasarkah titah-Nya, Hari Jum'at adalah Hari Raya nya ummat Islam! Hari yang ditetapkan oleh Alloh SWT sebagai hari istimewa bagi ummat Islam, mendahului hari raya nya ummat Yahudi dan Nasrani. Oleh karena penanggalan Islam menghitung pergantian hari adalah semenjak saat terbenam matahari, berarti Hari Raya ummat Islam ini sudah dimulai semenjak tenggelamnya matahari dihari Kamis.

Mungkinkah di Hari Raya ummat Islam ini, setan-setan justru berkeliaran merajalela?

Sebaliknya..! Beberapa hadist justru menyatakan bahwa pada dinihari di hari Jum'at (Malam Jum'at), Alloh SWT secara khusus menurunkan para Malaikatnya ke Bumi... "Malam Jum'at" sebenarnya adalah saat dimana do'a mendapat kemungkinan yang lebih besar untuk dikabulkan, "Malam Jum'at" menurut Islam, sebenarnya adalah malam yang paling baik diantara malam-malam hari lainnya dalam suatu minggu!

Sedangkan pada kenyataannya di Indonesia saat ini... "Malam Jum'at" adalah saat yang sangat identik dengan nuansa mistis yang negatif... Hasil karya siapakah pemahaman yang salah ini? Apakah ini hasil program propaganda terstruktur, yang selama berpuluh-puluh tahun melalui disebarkan di Bumi Indonesia untuk menyematkan image yang buruk pada suatu malam yang sebenarnya sangat mulia? Sehingga banyak orang (termasuk muslim) justru berusaha menjauhinya bahkan menakutinya?

(Clue: lihat judul bagian ini =P)

Soo... masih percaya "Malam Jum'at" itu malam yang mengerikan saat hantu berkeliaran? Think again...

foto dari http://i27.photobucket.com/albums/c198/thmfman