Bayu's posts with tag: jurnal kerja

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jurnal kerja
Posted by Bayu on May 31, '08 9:10 PM for everyone
Ternyata jadi Sales (person) itu nggak susah, walaupun bukan berarti tanpa tantangan juga. Kalau dulu image yang gw dapet dari profesi ini adalah annoying; karena seringkali kesannya Sales itu gak tau malu dan bakalan ngejar terus2an, ternyata setelah sekarang kecemplung ke dunia ini, alhamdulillah ada pencerahan. Profesinya sendiri sebenernya nggak se-negatif itu. Ya iyalah, Sales ini adalah ujung-tombaknya perusahaan dalam dapetin revenue alias penghasilan. No sales, no money, no gajian! Mana bisa dianggap profesi negatif ?!?

Permasalahan bahwa ada Salesperson yang ngotot setengah idup dan ngejalanin hal-hal yang mengerikan untuk nutup penjualan, adalah masalah individual dan preferensi cara saja. Sedangkan inti dari Sales sendiri adalah: menemukan kebutuhan dengan ketersediaan. That simple! Dan dari pengalaman langsung, gw dapati bahwa seandainya pengetahuan produk kita baik, approach memadai, dan client memang sedang butuh, maka gak perlu trick2 aneh maka Sales bisa terjadi! Masalah akan muncul kala client emang nggak butuh, dan inilah yang seringkali berimbas pada overactive dan overdetermined nya para Sales dalam mengapproach client

Challenge (tantangan, bukan masalah) yang muncul, pada sebagian besar kasus adalah: menemukan kebutuhan. Maka dari itu salahsatu senjata utama seorang Salesman adalah : prospect lists. List ini bisa didapat dari existing clients dari pekerjaan sebelumnya, networking, dan data mining. Terkait networking, maka dari itu seorang Salesman harus b'gaul, know people. Dalam bisnis, kenalan itu sangat penting, makanya rata-rata salesman yang berhasil juga punya attitude yang friendly dan helpful; dua karakter yang juga penting dalam pertemanan.

Prospect list idealnya memuat data sebagai berikut: contact person, contact address data (phone, mailing address, eMail), dan secukupnya data mengenai bisnis mereka.

Dari prospect list, yang perlu diketahui kemudian adalah mencari tahu siapa yang sedang membutuhkan produk yang ditawarkan? Dan ini didapat melalui cara yang paling lazim; cold call, atau cold visit (maap kalau istilahnya salah). Dua2nya berarti melakukan panggilan telepon atau kunjungan tanpa perjanjian terlebih dahulu. Cold visit memakan waktu dan tenaga, sangat. Namun dengan iklim bisnis Indonesia, terlebih terhadap client pemerintah, maka cara ini seringkali sangat efektif. Dikala panggilan telepon ke departemen-departemen pemerintah seringkali tersambung dengan "hantu" (busy tunes forever, please wait forever, no operator exist, ping-pong), kunjungan langsung biasanya lebih membuahkan hasil, karena mau tak mau kita akan bertemu dengan prospect / prospect's business secara fisik, bertemu empat-mata, dan bisa dijadikan referensi untuk follow-up. Masalahnya nggak setiap prospect suka didatengi, atau bisa dikunjungi tanpa perjanjian terlebih dahulu, misalnya instansi militer.

Kalau sudah berhasil terhubung dengan prospect yang memiliki kebutuhan, maka kumpulkanlah data-data terkait produk yang akan ditawarkan. Misalnya untuk perpustakaan, cari tau jumlah koleksi yang dimiliki beserta jenisnya (buku, audio, CD, dll.), existing library system, jenis perpustakaan (umum vs. khusus, terbuka vs. terbatas, dll), dan kalau mungkin, budget. Kalaupun prospect ternyata mengatakan "tidak", usahakan data tetap terkumpul, karena di masa mendatang mungkin saja "tidak" akan berganti menjadi "ya".

Setelah itu janjian buat presentasi, atau langsung ke pembuatan proposal.

Setelah selesai tahap ini challenge lainnya masih bakalan muncul, misalnya masalah internal perusahaan prospect, atau masuknya kompetitor. Disinilah perlunya terpelihara komunikasi baik dengan prospect sehingga kita selalu mendapat informasi yang benar dan up to date. Dan jangan lupa, lebih dari sekedar hubungan bisnis, pada tahapan ini Salesman sudah terhubung dengan prospect dalam level yang lebih manusiawi pula, dan segala aturan mengenai hubungan sosial dan pertemanan pun mulai berlaku.

Annoying sales umumnya terjadi kala sales tidak peka dengan kebutuhan client, berlebihan dalam mencari tahu, atau melaksanakan serangkaian SOP (Standard Operating Procedures) yang memang dirancang untuk mengarahkan client dari "tidak" menjadi "ya" dengan segala cara, termasuk menggunakan trick psikologis. Jenis terakhir ini kerap ditemui di shopping centres dalam bentuk penawaran barang2 elektronik yang memberlakukan prospect sebagai "si sangat beruntung" sehingga bisa dijebak untuk membeli peralatan2 dengan harga sangat overcharged. Atau dalam versi lebih mild; sales Credit Card yang menawarkan aneka hadiah sebelum menawarkan produknya sendiri. Jadi ada yang caranya proper (good guy), ada yang manipulative (bad guy), ada yang on border (most of the guy)... Kenapa banyak yang rada-rada nekad? Karena lazimnya Salesperson, biasanya dipatok dengan target sales yang ketat.

Masalah menuhin target Sales emang seringkali identik dengan sport jantung, karena dengan segala keterbatasan dan rintangan, seorang sales selalu dipatok dengan jumlah tertentu yang harus dia penuhi setiap bulannya untuk dianggap berprestasi. Apalagi rata-rata Sales dapet gaji yang seadanya, walau besar di komisi. Sales besar, maka pendapatan bisa lebih gede daripada manajer atau direktur! Tapi sebaliknya, gagal memenuhi target, kelaut.

Tapi pemenuhan target sih masalah lain, cerita lain. Pada intinya tetep, tugas utama dari profesi sales adalah: menemukan kebutuhan dengan ketersediaan.

Semoga buat yang masih serem dan memandang negatif sama profesi ini (like I was), baik yang sering diterror sama sales maupun yang nggak berani jadi sales, bisa sedikit dapet pencerahan =). (bay) 

Posted by Bayu on Apr 28, '08 1:04 AM for everyone
Masih soal film di O Channel Minggu malem kemaren.

Temanya sih drama keluarga, tanpa tendensi berlebih untuk keluar dari batas kemampuan, atau membuatnya jadi super dramatis ala KP (Klan Punjabi). Makanya walaupun yang maen nggak terkenal sama sekali, plus tema ini udah diangkat ribuan kali ke layar kaca, filmnya tetep bisa menarik sekaligus heart warming. Dan film yang nggak tendensius seperti ini, nggak jarang malah membawa muatan pesan yang terngiang-ngiang sampe lama; simple things yang sekiranya everybody knows tapi disampaikan dengan tepat jadinya memorable.

Begini... alkisah setelah menempuh perjalanan sekitar 800 Km dari tempat kediaman asal mereka, kakak-beradik yang baru ditelantarkan ibunya di pelataran parkir sebuah shopping mall ini berhasil mencapai peternakan kediaman nenek (kandung) mereka... Hanya untuk dihadapkan pada kondisi bahwa si nenek tidak suka dengan kedatangan mereka, dan orang kota menganggap si nenek agak gila. Namun demikian si nenek masih berbaik hati menawarkan kakak-beradik tersebut tempat untuk menginap semalam saja. Karena keesokan harinya mereka harus kembali kemanapun mereka berasal.

Menghadapi hal ini, si kakak tertua kemudian menyusun rencana sebagai berikut:

"Mulai besok kita akan bantu membereskan rumah dan kebun, apapun yang bisa kita lakukan. Pekerjaan ini tidak akan selesai dalam sehari, sehingga nenek terpaksa membiarkan kita menginap semalam lagi, hingga pekerjaan selesai".

Waks!!! Nampar sekali! Karena dalam praktiknya, maka sebagai pegawai / pengusaha pun sebenernya prinsip kerja kita harusnya seperti itu:

Berusaha setiap hari untuk menghasilkan prestasi (prospects contacted, follow-ups, schedule created, project managed, clients handled, documents created, dll.) sehingga si boss puas dan membutuhkan kita untuk kerja di hari berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya.

Bukan duduk-duduk enak, browsing internet dan telepon temen-temen, sementara kerjaan ter-delay terus menerus. Apalagi kalo sampe pada pemikiran bahwa pekerjaan kita disana bisa di-keep dengan cara-cara jalan melintir atau off-road (carmuk, ass-licking, dll.), atau adu petenteng sama company karena tau berdasarkan UU, kita nggak bisa dipecat kecuali dengan kompensasi dan pesangon sekian sekian sekian.

Yuk ngaca ah. (bay)

image dari: http://www.ilkeryoldas.com/

Posted by Bayu on Feb 5, '08 2:32 AM for everyone
Mengiringi "dilepas"nya gw buat nginstall system seorang diri, maka perlengkapan pertama yang perlu gw miliki adalah toolbox. Walaupun normal installationnya cuma butuh kunci hexa, obeng plus, dan cutter, namun boss nyaranin buat beli komplit aja sekalian, makanya dengan segera gwpun menyusun list items yang harus dibeli, plus perkiraan biaya. Sebagai tempat belanja, dipilihlah Kenari Mas deket kost gw, supaya bisa belanja pagi-pagi sebelum masuk kantor.

Pertokoan Kenari Mas, adalah satu dari tiga sekawan kompleks pertokoan specialized market khusus peralatan listrik dan pernak-pernik bangunan yang ada di daerah Kramat / Matraman. Setelah kompleks pertokoan Pasar Kenari original direnovasi (tapi tetep rada kumuh), kemudian tak lama kemudian berdirilah kompleks pertokoan Pasar Kenari Baru berlantai lima disebelahnya, dan terakhir, Kenari Mas ini yang berseberangan dengan dua kompleks terdahulu, dan menempati bangunan mewah ala shopping mall. Kesinilah gw nyarinya, bukan gaya-gayaan, tapi dalam persepsi gw relatif lebih aman dah, plus (diharapkan) minus calo.

Ternyata calo tetep ada! Yah ape mau dikate? Tapi nggak seperti di dua pertokoan Kenari lainnya, disini pertanyaan pembukaannya adalah "mau jual barang pak?". Lho?!.  Berarti banyak juga yang dateng ke kompleks pertokoan ini buat jual barang ya? Bukannya belanja...

Sedangkan di pertokoan Kenari yang biasa, para calo umumnya berkeliaran di muka pertokoan menawarkan jasa "quick shop" dengan mencarikan barang yang kita perlukan tanpa kita perlu jalan-jalan dari satu toko ke toko lainnya. Atau, nangkring didepan toko berlagak seperti karyawan toko tersebut, tapi pas kita tanya barang yang dimaksud, doi ngeloyor ke belakang kompleks pertokoan... apess... ternyata calo juga.

Sayangnya, walaupun menawarkan jasa yang sebenarnya bermanfaat, sebagai "bayarannya" mereka menaikkan harga barang yang kita cari dengan cukup tinggi. Makanya seringkali kalau ke tempat-tempat sedemikan gw milih buat pura-pura ngelamun atau tuli kala disamperin mereka.

Kembali ke Kenari Mas, pertama-tama gw mencari toko yang serba-ada, selayaknya Rumah Kita atau sejenisnya, dimana barang2 jualannya dipajang di rak-rak dan pembeli tinggal browse around sambil liat harga-harga yang tertera.

Item #1: Hex Key
Atau dikenal juga sebagai "Allen" atau "Zeta" key, dengan special request; ukurannya inci. Soalnya items yang dipasang juga ukurannya pake standar Imperial/US.

Gila! Setelah ngeliat-liat harga di toko serba ada ini gw langsung ciut, pesimis budget gw bakalan cukup... Lalu gwpun nyoba toko lain yang sejenis. Sayangnya sama aja; mahal bo! Dari yang tadinya ngira bisa dapet harga affordable buat barang yang bagus, ternyata bener-bener diluar range. Untuk Hex Key set yang gw incer tersebut, rata-rata nawarin harga diatas 100K (sedangkan versi "warung" nya cuma 15K doang).

Mundur dari toko serba ada, gw mulai gerilya ke kios2 yang bertebaran disini. Tapi ternyata idem aja. Walaupun ada sedikit diskon, rata-rata harganya masih diatas 100K. Pesimis deh.

Untungnya, di salahsatu toko yang gw datengi terakhir, ada yang jual Hex Key yang dimaksud dengan harga sangat murah; 60K! Buatan Jepang, imperial size, good material, puas deh. Setelah item utama ini terbeli, barulah gw mulai belanja lain-lainnya:

Item #2: Tool Box
Buat bawa-bawa installation toolsnya lah! Special request (dari gw), bodinya tahan banting, mekanisme kunci nya dari logam, supaya gak mudah patah. Trus, bisa digembok. Perkara tahan banting dan digemboknya ini vital, karena si toolbox kemungkinan bakalan dibawa-bawa ke daerah, dan harus tetap utuh sampe di tujuan.

Setelah sebelumnya muter2 di Carrefour nggak nemu yang bagus, di toko yang sama ini juga gw nemu model yang dicari, plus, ternyata bodinya dari logam juga. Klop deh, spec teknis terpenuhi, spec estetik juga kena. Harganya nggak terlalu mahal, 100K, tapi somehow gw ngerasa harusnya masih bisa lebih murah

Item #3: Obeng magnet
Obeng yang ujungnya magnet itu lho, supaya sekrup nggak jatuh pas dipasang/dilepas dari soketnya.

Dah! Sebenernya segini dah cukup buat standard installation. Tapi mengantisipasi satu dan lain hal, maka list belanjaannya ditambah lagi menjadi:

Item #4: Tang Jepit
Mempermudah buat masang/nyabut cap nya jumper di panel elektronik.

Item #5: Testpen
"First Aid" untuk masalah listrik; gw milih yang digital karena kemampuannya buat mendeteksi medan elektromagnetik dari jarak jauh.

Item #6: AVO Meter

Advanced diagnostic tool kalau ada masalah yang lebih rumit lagi terkait panel elektronik.

On overall, belanja segitu aja udah nyaris ngabisin 300K. Dan ini belum termasuk item lainnya semisal palu, cutter, socket adaptor, dan spidol. Gw pikir, sisanya itu menyusul deh.

Sampe kantor, si boss antusias pengen ngeliat hasil belanjaan gw ini. Dia suka ngeliat casingnya yang terlihat serius dan professional. Tapi waktu buka isinya...

"Lho, bay? Isinya cuma segini?"

Halah... sekrup yang ada di barang2nya cuma dua macem, what do you expect?

Walaupun gw dah jelaskan ke si boss kalau tools sedemikian itu udah mencukupi, doi berpikir lebih jauh lagi untuk mikirin kondisi2 lapangan yang mungkin perlu diatasi pake tools juga.  Bener juga sih. Jadilah gw dikasi budget tambahan lagi buat belanja extra tools yang menurut dia perlu; Tang besar (all purpose) dan Tang Potong. Tadinya dia ngusulin buat beli Wrench set dan Kunci Inggris juga cuma gw tolak mentah-mentah secara sangat nggak perlu dan sangat bikin berat.

Alamak... emangnya mau buka jasa servis karburator keliling boss?

Sekalian ngurus pengiriman barang di pabriknya, gw mampir ke Giant Bekasi Timur daerah Tambun.  Dan ternyata...

Banyak tools yang umum dengan kualitas cukup bagus, bisa didapet disini. Harganya juga bersaing, malah beberapa lebih murah dibandingin yang gw dapetin di Kenari Mas tadi.

Damn.

Emang untuk specialized tools seperti Hex Key yang inci, dan toolbox casing logam sih nggak ada. Tapi sebaliknya, untuk tools2 "biasa" malah dijual disini dengan fitur2 extra yang menarik. Misalnya Tang Potong yang gw beli, gagangnya diberi insulator yang bisa nahan listrik sampe 1000 volt! Digital Testpen yang gw beli 25K di Kenari Mas juga ternyata disini ada merk lain (AS) yang harganya cuma 15K. Trus socket adaptor yang di Kenari Mas ditawarin 10K, disini barang sama persis dijual cuma 6K! Udahlah kualitas lebih terjamin, ada garansi, belanjanya nyaman, nggak usah repot-repot nawar 20 menit dan dikasi diskon cuma goceng...

Jadi moral of the story is:

Pasar tradisional atau specialized market, nggak menjamin harga bakalan murah! 

Sebaliknya, Hypermarkets yang kadang dianggap nggak jual barang yang "serius" karena isi tokonya terlalu general, seringkali malah bisa jual barang sejenis dengan harga relatif lebih murah --branded pula-- karena diuntungkan oleh besarnya volume pembelian yang mereka lakukan. Jadi kalau mau belanja ke specialized market, sebaiknya tetep cari tau dulu harga pasaran atau perbandingan harganya di hypermarkets.

Anyway, gini nih hasil akhir dari "perlengkapan perang" yang sekarang kantor miliki. (bay)




Posted by Bayu on Jan 23, '08 1:03 AM for everyone
Akhirnya...Banda Aceh. Setelah penerbangan yang lumayan bikin bosen, sekeliling pesawat juga awan putih aja nggada UFO, manuver landing yang lumayan Halilintar, ternyata Bandara Iskandar Muda ini termasuk kecil, dan banyak yang berkeliaran disini adalah dari kalangan orang-orang pemerintahan plus expat.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Banda Aceh itu adem! Suhu pagi itu (10:30) pas kami landing adalah sekitar 26`C, jauh lebih rendah dari perkiraan awal gw terhadap kota pinggir laut ini. Oh iya, penerbangan ke Banda Aceh ini ternyata masih dilayaninya sama Boeing 737-400, nggak seperti perkiraan gw yaitu pake Boeing 737-900. Dan kecele yang lain adalah... Lion Air ternyata pake sistem nomer tempat duduk... Maklum biasa naek penerbangan rakyat, ya nggak curiga soal nomer tempat duduk ini. Walhasil gw kebagian duduk di deket gang, padahal bisa minta supaya dapet yang di sebelah jendela.

Nunggu rada lama gara-gara call-drop berkepanjangan -- tapi masih lebih mending dibandingin Esia gw yang mati total -- akhirnya kami dijemput juga sama business partner dan makan siang dulu di Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek Cabang MNS, Manyang. Buat yang (hari gini masih) belum tau Ayam Tangkap itu seperti apa, ini adalah masakan khas Aceh yang kadang disebut juga sebagai Ayam Tsunami, atau bahkan, Ayam Sampah, karena penampilannya yang awut2an ini. Intinya sih, Ayam Tangkap ini hidangan ayam goreng biasa, tapi yang nggak bikin biasanya adalah keikutsertaan dedaunan, cabai hijau, serta bawang merah yang turut dimasak bersama ayam ini. Daun nya digoreng sampe crispy, bawang merah nya sampe lembek. Menurut pak Bondan Winarno, Ayam Tangkap juga kadang dipakai bahan gurauan sebagai hidangan yang ayamnya harus nangkep dulu, saking lamanya waktu penyajiannya. Yah, Ayam Tangkap ini memang paling top kalau disajikan panas, secara kalau dibiarkan lama, maka dedaunannya akan layu dan beda rasanya.

Oke, cukup soal makan siangnya, sekarang ini gw sama boss lagi rehat dulu di hotel, sebelum barang yang harus kami install dateng dari Jakarta. Hotelnya lumayan enak, seperti yang banyak diceritakan rekan-rekan bloggers di internet. Memang masih baru, dan fasilitas juga rada minimalis (cuma ada Spa, itupun belum buka) tapi yang paling asik ya ini dia; ada WiFi!

Dasar internet-addict...

Kabar baiknya, forwarder / kurir udah confirm barang kami bakalan dateng jam 13:30 ini pake Garuda. Kabar buruknya, kemungkinan gw batal ke Medan karena ada perubahan jadwal kerja... =| (bay)

Foto: Papan petunjuk obyek wisata Aceh, lokasi di exit gate bandara.

Posted by Bayu on Oct 5, '07 12:27 AM for everyone
Salesmanship, adalah suatu hal yang menurut gw masih jauh berada diluar jangkauan gw... Dan ini gw sadari dari tahun ke tahun gw kerja, tapi tanpa ada usaha untuk secara sadar ningkatin skill gw dibidang ini. Yang gw tau, kalau udah terkait profesi Sales (apalagi kalo ditawarin posisi sedemikian) , secara instan gw bakalan nolak! Sales is a scary profession... elo dikejar target berjualan, make people buy/believe, sementara in the end, that's totally their decision to make, not mine!

Masalahnya gw terbiasa hidup dalam kondisi kerja yang terkontrol dan teratur. Gajian tiap bulan pasti dateng. Kerjaan kalo dah deal sama customer tinggal work my magic dan after several revisions pasti beres. Deket-deket Lebaran pasti dapet THR. Pasti, pasti, pasti!

Sedangkan sebagai Sales, umumnya struktur pendapatannya adalah base salary yang kecil, tapi plus bonus prestasi. Score a deal, then there will be some for you in it. Tapi kalo nggak nge-goal in proyek, siap-siap miskin... Beda sama posisi-posisi lain di perusahaan yang "pasti, pasti, pasti" tadi.

Waktu bicara soal kekurangan ini sama boss gw di Malacca, jawabannya enteng aja "ya tinggal belajar aja". Karena kebetulan walaupun lulusan bukan dari bidang bisnis, tapi pengalaman dan track-record beliau menunjukkan kalau he's a good salesman. Apalagi sekarang doi bikin bisnis sendiri (in which I worked for), mana bisa kalau sekedar managing projects tapi nggak jualan..?

Di pekerjaan berikutnya juga, gw belajar dengan cepat mengenai perbedaan privileges antara departemen-departemen yang termasuk "cost center" (tukang makan duit -- mine included), dibanding departemen dan gugus kerja yang termasuk "profit center" (tukang bikin duit). Misalnya kalo untuk urusan maintenance (cost center), maka dana seret. Udah tau armada yang sekarang kondisinya udah ringkih, bukannya diremajakan malah cuma diakali secara minor. Justifikasinya? Cost center, jangan spent too much on that. Beda kalau kaitannya sama divisi Sales atau Marketing. Butuh dana rada diluar budget? Bisa diatur...

Gak adil? Ah nggak juga, secara tujuan bisnis dimanapun adalah profit making, dan ini mencakup minimalisir expenses yang nggak crucial atau nggak berdampak langsung sama peningkatan profit. Dan secara bertujuan untuk profit making, maka Sales adalah ujung tombaknya... segimanapun (kadang) bau keringetnya mereka, selengeannya mereka, nyablaknya mereka... merekalah penentu berjalan nya suatu bisnis.

Mungkin ini juga yang bedain kenapa sebagian orang bisa jadi good businessmen, sementara lainnya lebih prefer jadi good workers; Salesmanship skills.

So, akankah gw pernah bisa dapetin skill Salesmanship ini? Benerkah kalau ini bukan skill tapi bakat, dan cuma "gifted" persons aja yang bisa jadi sales? Maybe... setidaknya begitulah pandangan awal gw dulu... Untuk bisa jadi sales elo harus tebel muka, harus sok akrab, harus mau rada-rada carmuk juga. Dan sedari jaman sekolah dulu gw dah sering ketemu tipe-tipe orang seperti ini, and I tend to hate them. So, is salesmanship a genetic thingy?

..........

Titik terang muncul setelah nggak sengaja ngobrol sama adik yang kerja di Marketing, she make it clear that; "Marketing itu how to invite people to come into store, Sales itu how to make people who enters the store turn into buyers". So simple... And that simplicity is what attract me the most. Karena lazimnya segala sesuatu, kalau dasar ilmunya itu sederhana (dan ter-petakan), berarti mungkin dipelajari...

Salahsatu artikel dari MAPP yang pernah gw baca, ternyata juga menyatakan bahwa sebenernya leadership dan managerial skill are both learnable skills. Walaupun bedanya, para pemimpin dan manajer yang sukses, biasanya mencapai keberhasilannya tersebut karena adanya "sinergi" antara skill plus bakat yang memang mereka miliki secara genetik. But nevertheles, both are learnable skills, keahlian yang dapat dipelajari!

Gimana dengan salesmanship? IDEM! Salesmanship itu skill yang bisa dipelajari, bukan bawaan orok, apalagi ilmu sihir!

Knowing that it's empirical, replicable and learnable, is the key.

And so begin my next quest for knowledge... (bay)

Posted by Bayu on Aug 16, '07 1:56 AM for everyone
"Kerja", adalah apa yang saya dan anda lakukan setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga 6 sore; duduk dibelakang meja menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan si boss, plus sesekali keluar kantor (atau variasi lainnya yang mirip), dengan tujuan yang sama; menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan si boss. Akhir bulan, gajian.

Sedangkan "karir", adalah rangkaian atau susunan perjalanan pekerjaan yang kita ambil dari masa ke masa. Untuk pekerja kantoran dan para birokrat, karir ini sangat penting. Kenapa? Karena biasanya posisi-posisi kerja yang tinggi (dalam tanggung-jawab plus reward), menuntut adanya suatu catatan perjalanan karir yang terfokus. Untuk menjadi manajer pada suatu perusahaan misalnya, biasanya dibutuhkan jenjang karir sebagai berikut: staff - senior staff - supervisor - asisten manajer - manajer. (Dalam bidang yang sama tentunya).

Bercermin pada pengalaman pribadi di tempat kerja, banyak lowongan pelamar yang masuk kemudian terpaksa harus ditolak di tahap awal karena jalan karir yang nggak nyambung... Misalnya untuk posisi drafter, pelamar ada yang memiliki background sebagai tukang las, staf akunting, even kurir ekspedisi... Bukannya memandang rendah atau tidak mau memberi kesempatan, tapi perusahaan secara default akan mencari dulu dari antara mereka yang memiliki career track yang lebih nyambung, misalnya, yang selama perjalanan karirnya memang menekuni skill yang dicari tersebut. Seperti yang pernah saya tulis di lain waktu, perusahaan itu bukan dinas sosial, tapi suatu badan usaha yang bertujuan mendatangkan profit.

Hopping around antara satu bidang pekerjaan ke bidang pekerjaan lainnya, sebenernya bukanlah hal yang tabu, jika dalam rancangan jangka panjang kita, kita tahu persis guna dari masing-masing jenis pekerjaan yang sudah pernah kita ambil tersebut. Namun jika sekedar loncat sana-sini tanpa tujuan jelas, maka kemungkinan anda nggak akan sempat lagi membangun catatan karir yang terfokus untuk jabatan yang anda incer... sedangkan (sayangnya), usia sudah tidak sesuai lagi. Akibatnya? Hilang kesempatan...

Bagi yang sedang berada ditengah-tengah usia karir (like me), kalaupun masih ada niat buat mengubah jalur karir, rencanakan dengan baik dan terukur. Jangan karena terdorong emosi atau trend, lantas mendadak banting setir.

Jadi bagi adek-adek yang baru mulai masuk ke lapangan pekerjaan, walaupun nyari kerja itu sulit, tapi jangan lantas dijadikan alasan untuk nggak merancang perjalanan karir anda sedari awal. Masalah dapur ngebul memang vital, tapi kelangsungan karir anda juga demikian. Jangan sampe anda menempatkan diri anda pada posisi mati kutu karena skill-set yang anda miliki kelak, sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan pasar yang muncul. Atau usia udah gaek, tapi anda terjebak di jalur karir yang tidak anda cintai (bahkan malah anda benci)... ya jadinya ntar kerja sebagai paksaan, bukan petualangan yang berkesan. Think early, plan early.

Hal serupa pernah saya sampaikan juga sama salah seorang staf Satpam yang jaga kantor. Kebetulan doi perlu tebengan dan tujuannya deket dengan tujuan saya. Di perjalanan dia nanya; "pak, apa sih rahasianya sukses?" (yang gw presume maksudnya sukses dalam berkarir). Gw jawab aja "mau terus belajar"... karena dari apa yang gw alami dan amati, kalo nggak mau belajar maka kita nggakan berkembang, akibatnya nggak ada progress, dan bye-bye sukses. Sedangkan dengan belajar, banyak kesempatan baru yang terbuka... kabish?

Trus terkait karir, saya tanya juga sama yang bersangkutan, gimana ceritanya doi bisa jadi satpam, soalnya doi sempet bertanya apa belajar komputer bisa merubah nasib? Atau meningkatkan jenjang karir? Well ternyata doi jadi satpam by coincidence, bukan by choice. Terkait ini gw bilang kalau skill komputer bermanfaat, tapi dengan background yang cuma SMU, maka computer skill saja nggak cukup buat menelorkan pekerjaan yang significant rewardnya. Malah saya anjurkan beliau buat menekuni dunia security aja, kalau emang masih ada minat. Maksudnya? Ningkatin skill-set yang dia punya supaya bisa dapet kerja yang lebih menantang dan rewarding... dari satpam jadi petugas armored car misalnya, trus naek ke level supervisor, nambah pendidikan soal keamanan, then tambahin skill lainnya supaya bisa jadi skilled security guard... sukur-sukur keterima di salahsatu lembaga keamanan yang sekarang banyak disewa para pejabat dan cukong itu lho... siapa tau setelahnya bisa jadi personal body guard pejabat, atau jadi manajer security di perusahaan gede... there you go... a career plan.... bisa koq terwujud, tinggal tekun aja ngejalaninnya.

Bahkan jika anda kelak bercita-cita untuk menjadi seorang enterpreneur pun, maka perancangan karir yang tepat, tetaplah diperlukan. Enterpreneurship butuh relasi, koneksi, informasi, dan ini semua bisa didapat dan dilatih dengan mengambil pekerjaan-pekerjaan yang dianggap menunjang.

Bagamana jika dalam jenjang karir yang kita rencanakan, kita mendeteksi adanya kemungkinan masalah di masa mendatang? Antisipasi lah sejak awal. Contoh: untuk menjadi seorang Sutradara mungkin bisa dimulai dengan bekerja sebagai graphic designer, sebelum lantas melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih dekat dengan posisi yang kita cita-citakan tersebut. Nah, jika untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi tersebut (misalnya asisten sutradara), terdapat skill-set yang kita belum kuasai, ya pelajari dan latih lah sejak dini. Kalaupun pengembangan skill tersebut nggak bisa dilakukan di tempat kerja, ya lakukan di waktu luang lah! Pokonya, lengkapi skill-set yang diperlukan, then advance.

Nah, kalau segalanya sudah direncanakan dari tahap awal (lengkap dengan target waktu dan deadline nya), maka dalam keseharian pun kita akan secara sadar melengkapi diri dan terus mencari-cari kesempatan. Dan kalau kita bisa disiplin dalam merencanakan rencana yang tersusun tersebut, maka secara otomatis karir kita pun akan berkembang... Sounds magical but true, tapi itulah kekuatan dahsyat dari perencanaan.

Yuk ah, kembali ke corat-coret career planning... (bay)

Posted by Bayu on Aug 4, '07 2:30 PM for everyone
Kabel di Notbuk kantor tu dah twisted di bagian koneksi ke adaptornya, dan akhirnya cuma bisa charging kalo kabelnya diputer ke posisi tertentu. Tanda-tanda pasti kabel aus.

Daripada reparasi ke tukang servis ngabisin waktu, gw lakuin apa yang bisa gw lakuin dalam hal ini: bedah darurat! Si kabel gw potong thn sambung ulang secara darurat aja. And it worked!

Mungkin si boss rada bingung ngeliat adaptor yang jadi keliatan berantakan gitu, tapi karena nature nya doi gak suka ngeributin hal kecil maka jadinya gak ada komentar.

Selama beberapa waktu lancar-lancar aja dipake, baik itu di kost, rumah, kantor, cafe, nggak ada masalah. Sampai di suatu ketika... eng ing eng...

Pada kunjungan dua minggu lalu ke salahsatu cafe di Menteng, gw secara rutin ngeluarin notbuk dan siap-siap nyolokin kabel ke steker listrik. Yang terjadi kemudian adalah, suara ledakan dan keluar kilatan cahaya dari steker, plus lampu yang juga konek ke steker tersebut mati! Waktu gw cek colokan kabel, ternyata salahsatu dari konektor logam nya sampe angus dan lapisan logam nya terkelupas! Damn $@%#@!

Waktu gw coba lagi di rumah, dengan posisi kuda-kuda siap-siap lari, eh ternyata si adaptor berfungsi baek-baek aja! Jadi kenapa malem itu sampe ngabeledug yah? Besoknya di kantor pun nggak ada masalah... Sampe di suatu ketika...

Balik lagi ke cafe yang sama, dan dengan waswas nyolokin lagi adapter ke steker listrik... dan kejadian beledug + kilatan cahaya + lampu mati kembali terjadi. Walah... maka walhasil malem itu gak buka notbuk karena khawatir ngerusakin steker lain di cafe tersebut.

Sekarang jadinya parno kalo mau back to that cafe lagi... sayangnya gw lon nemu tempat lain yang mudah dijangkau, cozy dan enak buat meeting sampe malem banget (around 11 p.m.). Masalah beledug nya nggak tau dimana, tapi aneh tapi nyata dugaan utama gw adanya di socket adaptor dari colokan 3 kaki (USA) ke socket dua kaki (Endonesah) yang baru gw ganti. Cuma seinget gw nothing fancy happening there deh, yang mungkin bisa nyebabin korsleting.

Ada yang tau gimana solusinya? Apa gw trial and error aja ganti socket adaptor dan coba (bikin korslet) lagi di cafe tersebut? Atau ada yang tau di seputaran menteng ada tempat nongkrong sampe malem buat informal meeting? (bay)

Posted by Bayu on Jul 10, '07 11:38 PM for everyone
Setelah melalui tahap wawancara yang melelahkan dan panjang (atau pendek dan menyenangkan -- one in a million case), maka hari yang dinanti-nantikan pun tiba... hari pertama bekerja.

Setelah berpamitan dengan penuh haru di kantor lama anda (atau mereka tumpengan saat anda akhirnya cabut), maka kini saatnya anda membuka lembaran baru di tempat kerja anda yang baru.

Sebelum masuk kerja, pastikan dulu sebelumnya mengenai culture atau kebudayaan kerja di tempat baru ini... terutama mengenai dress-code. Anda tak ingin terlihat canggung kala muncul dengan setelan jas sementara boss dan staff anda datang pake jeans plus helm proyek kan? Basic rule nya adalah, celana kain plus kemeja polos lengan panjang plus dasi, untuk staff kantoran. Dan antithesis dari itu semua kalau anda kerja di tempat yang dinilai kreatif dan "gaul". So dress accordingly.

Selain dari penampilan, maka hal yang lebih esensial adalah; pekerjaan anda (tentunya). Selain terkait produktivitas, maka hal yang tak kalah penting adalah: performance review. Lho, baru masuk kerja udah di-review? Bukan, bukan begitu... Tapi di mayoritas perusahaan besar dan established, proses review ini adalah rutin. Malah, bisa jadi review ini adalah tools utama dalam menentukan nasib anda di perusahaan baru ini! Kriterianya berbeda-beda, tapi biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

Disiplin
Seberapa sering anda masuk terlambat? Nggak masuk tanpa alasan jelas? Minta izin nggak ngantor? Banyak masalah yang potensial muncul di kemudian hari, berawal dari sikap yang tidak disiplin. Karena itu walaupun terlihat sepele, masalah disiplin ini biasanya mendapat perhatian penting dari perusahaan.

Produktivitas
Seberapa produktif anda? Seberapa baik hasilnya? Tepat sasaran? Bagaimana Inisiatif kerja anda? Jangan pernah sekalipun melenceng dari pikiran anda bahwa perusahaan adalah vessel untuk mencari keuntungan. Bukan dinas sosial! Kala kontribusi anda pada perusahaan minimal, atau malah negatif, maka lazimnya anda akan didepak. Memang beda perusahaan beda toleransi, tapi sadarilah bahwa alasan utama anda berada disana adalah karena anda dianggap bisa bekerja-sama untuk menunjang produktivitas perusahaan. Jangan lupakan juga kemungkinan ada banyak orang mengincar posisi anda, jadi jangan pernah lengah.

Kerjasama & Komunikasi
Sanggupkah anda berkomunikasi dengan efektif? Baik sesama rekan satu departemen (similar goals & culture), maupun lintas departemen (different works, culture & regulations)? Bagaimana cara anda meng-handle masalah komunikasi yang pasti muncul? Kala file yang dibutuhkan tidak kunjung datang sementara deadline dari boss semakin dekat? Banyak masalah di kantor, muncul karena komunikasi yang tidak baik antar elemen-elemen yang diperlukan untuk menghasilkan suatu kerja / keputusan.

Kepribadian
Apakah anda cukup bertanggung-jawab terhadap tindakan2 anda? Jujur? Bersikap ramah? Lagi-lagi hal yang kelihatannya tidak terkait pada produktivitas, tapi sebenarnya dianggap penting karena terkait pada masalah stabilitas mood kerja di kantor anda. Kalau anda rajin melipir dan mangkir dari tanggung-jawab, rutin mencari kambing-hitam atas kesalahan anda, maka dipastikan suasana kerja di lingkungan anda akan berkembang tidak sehat pula. Sadarilah kalau anda adalah seorang pekerja di kantor, bukan aktor antagonis di sinetron Tersanjung season 12.

KPI (Key Performance Indicator)
Nah yang satu ini barulah terkait dengan hal-hal spesifik pekerjaan di departemen dimana anda ditempatkan. Jika faktor-faktor penilaian lainnya bisa dianggap umum, maka yang satu ini harus diperhatikan lebih teliti.

Seringkali dalam keseharian kerja anda, anda dihadapkan pada beragam tugas berbeda, mulai dari mengerjakan pesanan client, kordinasi dengan vendor dan supplier, mempersiapkan suatu event internal perusahaan, hingga (mungkin) cuci mobil boss. Dalam hal ini, anda harus pandai-pandai menilai mana diantara tugas-tugas tersebut yang akan masuk ke penilaian!

Jangan sampai salah menempatkan prioritas sehingga KPI anda malah tidak terpenuhi dengan baik. Untuk hal yang satu ini, jangan segan untuk bertanya kepada supervisor anda, hal dan kriteria apa saja yang akan dipakai untuk menilai kinerja anda. Jangan sesekali coba menyimpulkannya dengan cara tebak kancing atau cap cip cup kembang kuncup. Seorang supervisor yang baik, dipastikan akan terbuka dengan anda mengenai kriteria-kriteria apa saja yang akan dijadikan dasar penilaian performance nantinya. After all, performance kerja dirinya akan terkait langsung dengan performance kerja anda juga.

Nah, kalau segala sesuatunya sudah jelas, maka andapun akan bisa dengan baik menyusun daftar prioritas atas pekerjaan2 yang anda hadapi sehari-harinya. Jadi ketika tiba saatnya untuk performance review, anda tidak akan (terlalu) terkejut dengan hasilnya. (bay)

Posted by Bayu on Mar 29, '07 3:20 AM for everyone
Tadi siang presentasi di depan kelas Desain Interiornya Universitas Pelita Harapan, Alhamdulillah lancar, nggak ada sekalipun kejadian blank-ing yang biasanya kerap terjadi. Ada beberapa mahasiswa yang nanya ini dan itu, tapi lebih ke arah produknya itu sendiri. Usut punya usut, ternyata mereka mau ada penugasan pembuatan exhibition stand dengan memanfaatkan produk yang dipresentasikan di hari itu... yang mana gw gak membahas mengenai ini sama sekali. Dasar Hengky gendeng... dia cuma bilang kalo gw perlu ngomong soal perkembangan desain didepan anak-anak desain UPH. Kalo tau yang dibahas fokusnya adalah produk, either gw tune-in materi presentasinya ke arah product knowledge, atau sekalian langsung aja para Product Officer yang ngomong. Tapi yah sudahlah, jadinya gw punya materi siap saji soal "Proses Desain Produk untuk Produksi Massal".

Selain dari kampusnya yang keren, tertib, dan food-court nya yang memukau (after all i'm one true epicurean inside), hal lain yang menjadi kejutan adalah ketika pak Kuntara bertanya mengenai latar-belakang pendidikan gw, dan lalu menghubung-hubungkan dengan keberadaan beberapa temen seangkatan gw disitu. Yah, gw tau kalau beberapa temen gw ngajar disini; Toni, July, dan Yukka. Tapi yang diluar dugaan adalah ketika beliau bertanya, "Kalau sama Kuya kenal?", disambut tatapan mata keheranan dari gw... Heu? Si Kuya ngajar disini juga? "Sama Diah Sunarini juga dong?", lanjut si bapak. "Heee??!?" Si Doel ngajar disini juga?? Trus si bapak ngasi tau kalo si Cherboy dan Yandi ('93) juga ternyata ngajar disini! Weleh weleh... bedol desa! FSRD ITB kepenuhan dosen kali ya, makanya mereka pada ngabur ke Jakarta... eh Karawaci.

Yang lucu waktu kemudian pak Kuncara nelpon July trus ngoper henpun nya ke gw... Si July jadi rada-rada lemot gitu waktu gw bilang lagi ada "disini", hehehehe. Begitu juga si Kuya, yang ternyata sedang ada di kampus juga saat itu. Waktu gw bilang sedang ada di ruangan 446, doi merespon "Heh? Eta mah kelas aing atuh?", hahaha. True, gw presentasi di kelas yang si Kuya kuliahi.

Waktu gak lama kemudian stunt double Rano Karno ini muncul, seperti biasa kalo ketemuan, ya gw salaman sambil rangkulan bahu... anak-anak pada ketawa. Dan jadilah si Kuya ngikutin pembicaraan gw dari awal sampe akhir... Udahnya July bergabung dan jadilah kami reunian kecil dahulu. Didapat kabar kalau ternyata Piping juga ngajar disini, dan dia bolak-balik setiap minggu pake kereta dari Surabaya!

Hmm... gaji ngajar disana covers buat ongkos transport bolak-balik Jakarta-Surabaya tiap minggu? Barangkali makanya pada bedol desa juga yah? =)

Hendi yang juga bergabung di detik-detik terakhir gw presentasi, pamit pulang duluan. Tadinya gw pengen menjajal dulu kantin UPH ini tapi ternyata mereka gak bisa gabung, dan duit gw tinggal cukup buat parkir dan tol! Hiks... makan di Padang deket kantor lagi deh...

Yang pasti, pada perjalanan pulang ke kantor terassa muncul suatu perasaan yang familiar sekali... Duh, kangen juga bicara didepan kelas... (bay)

Posted by Bayu on Mar 15, '07 6:03 AM for everyone
Akhirnya, setelah penantian yang melelahkan dan bikin bete, our internet connection is up! Kemaren udah terpasang anti petir nya, dan sore ini terpasang jaringan wireless transceivernya. Hasilnya? Koneksi cepet dan stabil... semoga begini seterusnya, soalnya denger-denger bandwidthnya mau dibagi ke sister companies... oh well nothing is perfect... manfaatin aja apa yang ada selagi sempet =)

Bad news is... the temptation to evade "real" work will be high... =|

Tapi manfaatnya juga gede... nggak ada lagi istilahnya email ke/dari luar kantor telat nyampe sampe sehari-dua hari, dan gw bisa cepet nyari data2 yang gw butuhin buat nyusun program kerja.

Nggak perlu lagi keluar modal cepe-ceng pulsa Fren buat sekedar terima/kirim email2 crucial kantor! =P

Posted by Bayu on Mar 13, '07 10:39 PM for everyone
Satu kesalahan cukup fatal yang sering dilakukan pelamar adalah: tidak mencantumkan identitas pada materi lamaran. Terutama pada lamaran yang bersifat elektronik, misalnya data-data yang terkirim via email.

Lazimnya surat lamaran yang terkirim ke perusahaan, biasanya disertai lampiran data tambahan. Data tambahan ini bisa berupa fotokopi ijazah, transkrip nilai akademis, atau portfolio. Baik dalam pengiriman via moda konvensional (pos surat), ataupun elektronik (email), para dokumen dan lampiran ("attachment") besar kemungkinan pada akhirnya akan tersimpan sebagai file yang tercerai-berai.

Misalkan suatu bundel amplop lamaran sampai ke department HRD dari suatu perusahaan. Selanjutnya, biasanya dokumen yang berisi surat lamaran, cv, dan portfolio ini akan disampaikan ke para manager / owner untuk seleksi awal. Jika ada pelamar yang lantas dianggap layak sebagai kandidat, maka owner akan kemudian menginformasikan kepada HRD, siapa-siapa saja yang patut dipanggil untuk interview. Dalam tahap ini, kemungkinan semua data akan dikembalikan utuh kepada pihak HRD, namun tidak menutup kemungkinan lampiran portfolio akan ditahan oleh owner untuk dipelajari lebih lanjut (atau ditunjukkan kepada supervisornya). Masalahnya, jika dalam satu periode penerimaan terdapat belasan atau puluhan pelamar yang masing-masing menyerahkan satu CD portfolio, maka kesalah-pahaman rawan untuk muncul...

"Ini gambarnya bagus, tapi gw lupa punya siapa... hmm punya si Budi kali..."
(padahal punya si Iwan)

"Lho, ini CD apaan ya? Ooo cd rusak bekas burn film2 3gp kemaren, ya udah gw buang"
(padahal portfolio si Wati)

Jadi ketika saat penentuan siapa yang mau dipanggil interview, bisa-bisa yang diincer malah gak kena... Buat perusahaan mungkin masalah juga, karena jadinya employee baru nya nggak secemerlang yang seharusnya... Tapi work goes on, dan si employee grasshopper yang tadinya sebenernya cuma second-best candidate, ternyata bisa fill-in ekspektasi dari perusahaan, so no problem at all... Sementara buat si kandidat yang ter-eliminasi gara-gara portfolionya ketuker dalam proses seleksi di rimba dokumen meja manajer, barangkali kerugiannya lebih gede... karena biasanya kalo sampe ngelamar ke suatu posisi berarti emang lagi butuh kan? Sementara lowongan kerja yang ideal gak muncul seminggu sekali... hell sebulan sekali juga nggak... atau bahkan setaun sekali juga nggak! Padahal masalahnya simpel; cuma masalah (tidak) mencantumkan identitas diri...

So, berikut ini beberapa tips pencantuman identitas diri pada materi lamaran yang akan dikirimkan:

1. Cantumkan nama dan nomor kontak yang bisa dihubungi dengan jelas. Font cukup untuk terbaca tanpa kaca pembesar, font-face cukup simple untuk terbaca tanpa membuat migrain, dan kalo tulisan tangan, buat dalam huruf balok dan kapital. Kalo anda merasa punya skill dalam tulisan tangan plus enkripsi, yang butuh kode khusus atau sudut tertentu untuk terbaca, jangan diterapkan disini.

2. Lokasi penulisan identitas pada dokumen kertas harus memudahkan pencarian. Jaman SD dulu kala ulangan masih harus nulis nama di lembar jawaban, sempat ada polemik antara lokasi mana yang ideal: kanan atas? atau kiri atas? Jika kita berpedoman pada cara menumpuk lembaran dokumen kertas, dan mayoritas manusia adalah right-handed, maka kanan atas adalah posisi yang memudahkan dalam pencarian; tangan kiri memegang bundel kertas, sementara tangan kanan browsing diantara bundel kertas tersebut. Kiri atas adalah posisi ideal berikutnya.

3. Cantumkan identitas pada file / dokumen yang mudah terpisah. Jika anda membundel portfolio atau dokumen lamaran anda dalam satu binder yang di jilid, maka halaman depan dan halaman akhir sudah cukup untuk mewakili keseluruhan dokumen. Tapi, jika anda menyertakan 10 halaman terpisah, sertakan identitas diri anda di setiap dokumen tersebut. Termasuk dalam hal ini, lampiran yang berupa hard-copy atau soft-copy dalam media CD/disket. Memang ada sih, employer2 yang baik hati mencantumkan data ini pada lamaran-lamaran yang datang tidak lengkap, tapi jangan anggap ini sebagai fitur standar.

Dan terakhir, sebenarnya masih terkait butir no.3,

4. Cantumkan identitas (singkat) pada dokumen elektronik yang anda kirim. Lebih dari sering (90%) dokumen elektronik yang gw terima pribadi, belum menerapkan hal ini. Para pelamar seringkali dengan lugu nya mengirimkan gambar2 dengan judul "kursi pak cecep.gif", "image01.jpg", "foto_ganteng.bmp", atau nama-nama lainnya (bahkan "CV.doc"!!!) yang mungkin dari sisi si pelamar adalah sangat masuk akal, tapi buat para calon employer adalah sangat generic dan rawan duplikasi. Instead, buat nama file yang sedikitnya mengindikasikan identitas anda juga, semisal:

meimei_pasfoto_jan07.jpg
ucrit_portfolio_web_unyildotkom_01.jpg
cuplis_logo_berandal_final.gif

Walaupun tidak lengkap, tapi setidaknya ada data yang bisa mengaitkan file tersebut dengan file utama si pelamar, sehingga file tersebut relatif lebih mudah dikenali.

Oh, jangan lupa konsisten ya! Misalnya:

bayu_cv_creative_0701.doc
bayu_portfolio_web_0612.pdf
bayu_pasfoto_0501.jpg << ceritanya bukan manusia narsis

Jangan:

menhariq_cv_jan07.doc
fhoto.eyiq.0701.jpg
smu-ijazah-eriq.pdf

(Same aje beƩng kalo gitu mah).

Terakhir, jangan lupa berdo'a... biasanya kalo diiringi ridho-Nya maka akan ada aja hal-hal terjadi yang memberikan kemudahan. (bay)

Posted by Bayu on Mar 6, '07 3:50 AM for everyone
Hehehe.... tulisan ini sebenernya gak valid untuk disebut sebagai "tinjauan", apalagi dalam skala nasional. Sebenernya tulisan ini lebih ke sekedar berbagi asa dan rasa aja, hasil dari kunjungan ke sebuah pameran yang kebetulan mengusung tema serupa:

Pameran Furnicraft Indonesia
The 8th Export Funiture & handicraft Show
Jakarta International Expo
Kemayoran, Jakarta - Indonesia
March 3 - 6, 2007

Sebagai pengunjung, maka yang pertama perlu dilakukan adalah mendaftar di stand yang disediakan. Informasi umum yang diminta dalam form isian seperti biasanya adalah data diri, dan data perusahaan yang diwakili plus kartu nama.

Setelah mendaftar, maka pengunjung bebas untuk memasuki kedua area yang dipakai untuk pameran (Hall A & Hall B).

Hall A banyak memuat pengusaha furnicraft (furniture + craft) dalam konteks yang lebih harafiah; barang kerajinan, dan barang hand-made eksklusif. Orientasinya rata-rata export. Sedikit saja yang benar-benar berusaha memadukan antara potensi negeri ini (cieeh) dengan kecanggihan teknologi, misalnya dengan konstruksi bending steel. Ada juga sih beberapa pengusaha yang kelihatannya sudah berpikiran lebih kepada sisi ekonomis dan praktis, misalnya dengan memanfaatkan bahan-bahan craft hanya untuk material finishing, atau terbalik; memanfaatkan bahan-bahan teknologi tinggi untuk meniru tampilan traditional craft. Usaha yang cukup menarik. Namun selain mereka, lebih banyak lagi pengusaha yang menampilkan produk-produk padat karya (labour intensive) dengan craftmanship yang tinggi, misalnya ukiran-ukiran intricate, atau furniture yang kelihatannya dibentuk dari bongkahan kayu utuh, seperti meja-meja solid wood dengan ukuran yang insane; panjangnya 4 meter lebih!

Di Hall B, sebaliknya, banyak terdapat pengusaha-pengusaha yang berorientasi kearah sinergi antara material lokal dan teknologi maju. Sebut saja misalnya OXO, yang mengetengahkan material surfacing yang bisa sekaligus berfungsi sebagai materi pencahayaan. Bahan yang terbuat dari resin cetakan, dengan ukuran standar 1.2 x 2.4 m, ketebalan 6 mm hingga 30 mm ini terlihat unik karena adanya penambahan elemen khusus. Elemen yang dimaksud adalah tumbuhan-tumbuhan organik yang sudah dikeringkan dan lantas berfungsi sebagai elemen estetis dari bidang cetakan tersebut. Hasilnya, suasana alami di dalam ruangan, tanpa perlu khawatir mengenai alergi, gangguan serangga, atau masalah pemeliharaan. Diantara elemen alamiah yang mereka integrasikan kedalam cetakan resin antara lain adalah: rumput ilalang, rumput gajah, dan dedaunan kering. Untuk melihat contoh aplikasinya, silakan kunjungi Executive Lounge Intercontinental Hotel, Sushi Tei PIM2, atau browsing ke www.oxoideas.com.

Sedangkan untuk inovasi yang lebih terkait dengan furniture, Aida Rattan Industry menawarkan aneka ragam furniture berbahan dasar rotan, dengan maksimalisasi penggunaan bahan khas Indonesia ini. Bedanya, ada campur tangan dizainer asing disini. Sehingga tak heran kalau hasilnya tidak hanya indah, tapi juga design-wise; baik dalam hal konstruksi rangka, pemilihan material untuk seating dan sandaran, hingga ke pemilihan warna. Semuanya berpadu menjadi suatu rancangan yang indah, dan thoughtful.

Peserta lain yang juga cukup mencolok, adalah Yamakawa Contemporary Rattan; dan ditilik dari namanya, maka kita pun bisa dengan cepat menduga adanya  (lagi-lagi) keterlibatan kuat dari dizainer asing. Yamakawa, walaupun mengintegrasikan juga teknologi maju, namun lebih membidik kearah tampilan furniture yang modern classic; dizain yang sederhana, dipadukan dengan material rotan yang eksotik.

Untuk melihat hasil-hasil karya Aida dan Yamakawa Rattan, anda bisa mengunjungi showroom mereka di Block Duku Setu, Desa Bodesari, Plumbon, Cirebon. Atau kontak melalui email ke info@aida-rattan.co.id (Aida) dan ke isaml@yamakawa-rattan.co.jp (Yamakawa).

On overall, terlihat adanya kecenderungan para pelaku bisnis kita yang masih enggan untuk ber-eksperimen, atau enggan untuk menerapkan pola pandang yang lebih international dalam hal gaya, atau lebih industrial dalam hal perancangan (mass production, cheaper, faster). Semoga trend-nya nggak begini terus, soalnya kita already sudah kalah jauh dibanding negara-negara tetangga dalam hal spirit bisnis dan dan iklim inovasi.
Gara-gara masih terbius dengan banyak peringkat-peringkatan juara di masa silam?

Kemampuan ingenuity dan keberadaan local genius(es) memang merupakan suatu kelebihan yang patut dilestarikan. Tapi semuanya itu harus bisa diintegrasikan dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi, kalau ingin bisa bersaing secara maksimal di dunia yang semakin serba cepat ini. (bay)

Posted by Bayu on Nov 17, '06 9:14 PM for everyone
Walaupun sebelumnya dah berkali-kali membuat rancangan X Banner untuk client, namun selama itu pula gw gak tau dimana si client melakukan proses cetaknya. Jadi ketika gw diharuskan membuat barang serupa sampe produk akhir, muncullah masalah. Sebelum berkutat dengan kemungkinan masalah dalam hal teknis percetakan (ketepatan warna, details, typo, presisi), maka yang lebih utama adalah masalah... HARGA.

Secara rata-rata tempat digital printing yang dihubungi memberi penawaran harga diatas 400K untuk satu set X-Banner beserta stand nya, sedangkan gw serasa turun pamor kalo ternyata diluaran ada yang ngasi harga lebih murah, maka pencarian pun dimulai... =)

Bermula dari postingan di bagian Market (jangan tanya gimana caranya mengaktifkan bagian yang satu ini ya, soale dah gak bisa buat user2 baru), mengenai kebutuhan informasi tempat percetakan yang murah dan bagus, maka gw pun menjajagi nama-nama yang dimaksud. Ada beberapa nama yang juga didapat dari internet dan Googling, namun sayangnya gak ada yang lokasinya deket; satu di Jakarta Barat, satu lagi di Margonda (Depok).

Ketika ditelusur, printer rekomendasinya Agung gak bisa dihubungi, dan setelah dapet nomer alternatifpun si contact person bilang kalau mereka ada di daerah Pondok Kelapa. Hmm.... Sedangkan printernya Dartz teuteup gak mau ngasi harga 'khusus temen'. Sedangkan info dari Ness baru kebaca setelah gw balik dari event.

Setelah berkomunikasi dan menetapkan hati untuk memilih percetakan Sindoro di Tebet Barat (thx to masdhim), gawatnya pada Hari-H ternyata semua kontak gw ke telepon mereka gagal. Padahal gw ma isteri dah tinggal cabut pake taksi.

Khawatir gak ada alternatif lain kalo ternyata Sindoro tutup, maka dengan berat hati kamipun bergerak ke kawasan Benhil (Bendungan Hilir) yang dikenal memiliki banyak gerai digital printer, beberapa bahkan buka 24 jam. Beratnya kenapa? Karena di daerah pusat kota seperti ini biasanya dipasang harga yang melangit, dan banyak diantara mereka yang udah punya nama besar, secara natural biasanya kurang terlalu minat sama job yang cuma ngelibatin item tunggal seperti yang akan gw tawarkan ini.

Satu demi satu gerai pun kami datangi dengan berjalan kaki. Isteri pun menemani perjalanan dibawah terik matahari siang itu dengan setia, serta menolak ide pilihan makan siang duluan tanpa suami. Padahal kakinya sedang agak bengkak.

Rata-rata tidak membawa kabar baik, karena nyaris semuanya menawarkan harga di kisaran 400K untuk kualitas yang sama.

Bicara soal kualitas, maka di pasaran terdapat setidaknya dua jenis banner: indoor dan outdoor. Outdoor banner biasanya memiliki biaya produksi yang lebih rendah, karena memakai bahan yang lebih kasar plus cetak resolusi sedang. Sedangkan indoor banner cenderung lebih mahal karena memakai bahan yang lebih bagus, serta memiliki kualitas cetak resolusi tinggi.

Adapun beberapa toko yang memasang harga agak beda, adalah di gerai Jaya Agung serta gerai Multiplus. Keduanya menawarkan harga sedikit dibawah 400K. Teuteup... gak deh, secara dari informasi di postingan Market yang disinggung sebelumnya, seharusnya harga pasaran untuk X-Banner adalah sekitar 150-175K.

Titik terang didapat ketika ditengah perjalanan, kami menemukan suatu tempat yang agak nyempil, karena letaknya yang berada di lantai dua suatu tempat fotokopian, jadi gak ketauan dari luar, namanya "Aneka Warna Bendhil". Tanpa segan-segan, doi ngasi harga pembuka dibawah 200K! Sampe-sampe gw curiga kalau yang dia tawarin adalah dari kualitas rendahan!

[dasar curigation ]

Tapi setelah melihat contoh yang diberikan, plus keterangan lebih mendetail dari operatornya, keliatannya whatever jenis yang dia tawarkan, adalah cukup worthed dan cukup bagus. Dengan mengucap bismillah, paling nggak gw dah ikhtiar, maka gwpun menyatakan mo nyetak disini.

Tapi masalah gak selesai, karena waktu dia re-check, ternyata stand bannernya lagi abis . Alternatif yang mereka tawarkan adalah, nyetak disono dengan diskon, lantas standnya nyari sendiri... Sedangkan gw rada yakinnya bakalan jarang tempat2 printer itu yang mau jual stand nya doang jadi pilihan ini rada mustahil...

Hiks! Jadi deh dengan sisa waktu yang ada (dah sore dan mendekati jam tutup), kami pun kembali menyusuri jalanan Bendungan Hilir Raya itu sampe deket-deket ujung (ujung apaan? gak tau!).

Di satu gerai terakhir yang kami kunjungi, penawaran harganya ternyata cukup murah juga, sekitar 280K. Namun selain diluar budget, pengerjaannya pun gak dijamin bisa cepet. Lah...

Trus lucunya waktu gw bilang butuh stand nya doang untuk salahsatu banner yang ada di kantor, mereka bilang bisa ngusahain tapi baru bisa ngabarin malemnya. Sewaktu ditanya harga, mereka bilang...

"Yaa sekitar 250 ribu deh mas, tapi belum pasti"

OMIGOD!!!

Langsung ilfil jadi kamipun gak berlama-lama disana.

Setelah mempertimbangkan tawaran isteri untuk meminjamkan stand punya kantornya, seandainya kami gak berhasil nemu printer yang harganya sesuai, maka gwpun memutuskan untuk kembali ke Aneka Warna, sementara isteri ditinggal di RM Sunda deket situ karena sedang "ngidam" Sayur Asem.

Setelah berhasil teryakinkan bahwa stand akan siap Senen pagi, maka gwpun langsung bayar uang muka untuk printing X-Banner yang dimaksud. Tadinya mo sekalian printing poster ukuran A1 juga (sekitar 80X60 cm), tapi ternyata walau harganya sesuai, mereka kehabisan stok kertas.

Duh, apa karena ini weekend ato stok mereka emang morat-marit?

Jadinya untuk poster masih harus nyari tempat lain. Tapi berhubung dah laper berat dan ditungguin isteri, maka gwpun kembali ke tempat tadi nge-drop isteri, kali ini naek bemo dong!

Di tempat makan, gwpun memilih untuk memanfaatkan teknologi dan menelepon saja rangkaian gerai2 digital printing yang tadi dah pernah dikunjungi. Lagi-lagi, rata-rata mereka memasang harga yang aduhai... sekitar 150K untuk selembar poster ukuran A1! Byuh byuh byuh...

Sukur alhamdulillah, dan rada diluar dugaan, "Jaya Agung" yang buka 24 jam dan cukup besar, ternyata memasang harga cuma 60K saja! Setelah memastikan dua atau tiga kali bahwa gw gak lagi ngigau, maka diputuskanlah untuk nge-print poster di tempat ini.

Oke, se-sorean yang berakhir mulus karena gw jadinya nemu dua tempat digital printing yang harganya ekonomis:


+ Aneka Warna Bendhil untuk cetak X-Banner (175K, negotiable), Jl. Bendungan Hilir Raya No. 15B Lt.2, 021 574 9126 - 9127, Jakpus. 1 Unit X-Banner selesai dalam waktu 1 - 2 jam saja (tergantung antrean).

+ Jaya Agung (24 jam) untuk cetak poster A1 (60K, fixed), Jl. Bendungan Hilir (Raya) No.9, 021 571 9286, 572 0055, 573 6630, Jakpus. 1 Unit poster ukuran A1 selesai dalam waktu sekitar 30 menit saja (juga tergantung antrean). Website: http://www.jaya-agung.com/


Sayangnya, karena masih harus dapetin frame buat poster yang gw baru print ini, mau gak mau jadinya harus beranjak ke bagian pasar yang agak shady buat nyari tukang bikin frame.

Dari awal udah ketauan sih, intention mereka buat ngasi harga yang 'nembak surembak', misalnya dengan keukeuh ngejelasin spek dan lain2, minta liat posternya, trus langsung mereka simpen, tapi gak mau ngasih harga.... Cuma karena gak ada pilihan laen kepaksa ge ladeni juga! Dari penawaran awal yang mereka kasih, yaitu 250K (tuh kan?), dicapailah kesepakatan akhir 110K. Somehow gw masih ngerasa gak puas, tapi dipikir-pikir daripada korban waktu dan ongkos untuk nyari ke... Mampang misalnya, ya suw lah...

Setelah dipelajari ulang, kayaknya mereka bakalan mau settle dengan harga sekitar 65K, soalnya trend penawaran harga kakilima di Jakarta sekarang adalah mark-up 300%! Jadi kalo anda dapet penawaran harga 200K, coba tawar 25% dari harga penawaran, karena biasanya penjual dah dapet untung dalam harga segitupun. Sadistik? Emang...

Hikmah lainnya, hmm... kenapa ge gak sekalian cetak dua X-Banner aja tadi ya? Daripada bikin poster yang biayanya sama-sama aja?

Ah ya suw, yang penting kerjaan dah beres dan masih masuk budget... (bay)


p.s.: Silakan tambahin informasi lain sekiranya punya printer langganan juga ya



Posted by Bayu on Nov 17, '06 10:43 AM for everyone
Jimbaran... Setelah berhasil mencapai tujuan tanpa nyasar, kamipun beranjak turun dari mobil. Para greeter pun menyambut kami dari antara deretan warung-warung seafood yang berjajar. Dari area parkir, hanya terlihat deretan warung tempat makan biasa, yang juga sepi... Teringat pesan teman perjalanan di pesawat tadi sore, gw pun lantas bergerak menuju deretan ujung warung untuk mencari "Sekar Agung" yang dimaksud. Sayangnya nggak ketemu, padahal cuma ada sekitar enam atau delapan deretan warung disana. Adapun salahsatu warung dibagian depan memang memiliki nama yang mirip, namun gw gak mau gambling dan milih nurut saja dengan rekomendasi boss untuk mampir ke Menega. Somehow that name sounds familiar...

Setelah terkagum-kagum dengan aneka pilihan seafood yang mereka sajikan, dan memilih menu untuk santapan kami malam itu, kamipun beranjak ke bagian belakang warung. Disinilah keajaiban dimulai.

Di hadapan kami, dalam suasana malam yang gelap, terhamparlah puluhan cahaya lilin dari atas meja-meja kayu yang ditempatkan diatas pasir pantai. Spektakuler... ditambah lagi dengan banyaknya cahaya rumah di kejauhan yang menambah romantis suasana. Memang tempat ini cocoknya buat pacaran, bukan business meeting. Walaupun kadang udara panas cukup terasa, namun hembusan sepoi angin laut membantu mendinginkan udara. Untung aja waktu itu gw pake kaos kutung jadinya gak terlalu berkeringet.

Kami memilih lokasi yang tidak terlalu jauh dari deretan awal, dan ternyata berada pas disebelah "ground zero" nya Bom Bali II. Beberapa turis terlihat sedang berfoto bersama disana. Oh, mungkin karena inilah kenapa nama "Menega" terdengar familiar di telingaku.

Area "ground zero" ini sendiri diperlakukan tidak selayaknya suatu tempat kemalangan, karena kami dapati banyak umbul-umbul dan hiasan janur didirikan disana, selain dari semacam tugu sederhana yang dikelilingi oleh pagar bambu setinggi setengah badan. Teringat cerita teman seperjalanan tadi yang juga berujar kalau Bali masih belum pulih dari tragedi tersebut karena masih belum dianggap aman oleh negara-negara utama asal turis semisal Jepang dan Australia.

Tak lama kemudian, perasaan sendu pun kembali berganti dengan perasaan excited saat makanan pesanan kami datang. Gw coba mengambil beberapa gambar namun kurang berhasil. Gelapnya pencahayaan di meja kami membuatku kesulitan untuk melakukan framing yang benar. Plus, wajib memakai blitz. Acara pemotretan tidak berlangsung lama karena rasa lapar sudah mendesak... segera saja piring kami diisi dengan nasi dan aneka lauk yang tersaji dan... kamipun membisu diantara kesibukan tangan dan mulut...

Acara malam itu diakhiri dengan jalan-jalan ke Nusa Dua, dimana terdapat hotel-hotel super mewah dalam satu area yang dijaga ketat. Di Westin kami sempat berfoto-foto, sebelum akhirnya masuk ke bagian dalam hotel. Personally menurutku suasananya terlalu "sterile" untuk bisa menangkap excitement Bali, dan untuk mendapatkan suasana seperti ini tidaklah harus jauh-jauh ke Bali. Namun demikian, hotel dengan tarif kamar mencapai 2 juta rupiah ++ per-malam ini rupanya sudah fully booked hingga beberapa waktu kedepan.

Dalam perjalanan pulang, si boss menyetir dengan mantap sementara gw mulai kalah oleh rasa capai dan kenyang. Sesudah lembur di weekend sebelumnya, mempersiapkan keberangkatan hingga siang hari tadi, dan akhirnya tiba di Bali malam ini, rasanya tubuh gw udah butuh istirahat. Bessoknya si boss bbercerita kalau malem itu gw mendengkur dengan keras... hehehe... sorry ya boss.

Pagi keesokan harinya, barulah ge temui suatu masalah; toilet di kamar yang kami tempati tidak memiliki water sprayer, alias harus cebok pake tisyu... eeeuuuuggghhhhhhh! Plis deh, gw sebagai orang timur akan sangat tersiksa dengan tissue-based toilets. Namun karena gak ada pilihan akhirnya yo wis... ngosongin tengki sebelum long day ahead.

Nyempetin buat ke pantai dulu sebentar kalo-kalo besoknya gak sempet, pagi itu pantai masih sepi dan hanya terdapat beberapa pelancong sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Banyak yang mengubur diri di pasir... hmm... demi keperluan medis kah? Pagi itu pula terdapat sekelompok pria yang mengambil air dari laut dan dimasukkan kedalam jerigen-jerigen 20 liter untuk kemudian dibawa pergi oleh mobil bak. Mungkin mereka ini mirip dengan tukang jualan aer bersih di pelosok Jakarta, hanya saja konsumennya adalah para pemilik aquarium aer laut.

Pulang ke hotel untuk sarapan, ternyata buffet breakfastnya not bad at all! Walaupun pilihan menunya terbatas, tapi ada beberapa yang cukup menarik; nasi goreng, sosis, baked veggie with mozarella, dan cheese omelette. Di sisi lain terdapat pilihan bubur ayam, miso shiru, sushi veggie, cold cuts dengan pilihan menu lokal (tahu, tempe, ayam panggang), serta salad dengan aneka dressings. Sedangkan bagi yang memilih untuk sarapan ringan, maka di sisi meja lainnya tedapat aneka macam roti toast dengan aneka selai, sereal dengan susu dingin, jus, dan buah segar. Namun nggak seperti buffet-buffet lainnya yang bisa dinikmati dengan santai, pagi itu kami harus bergegas karena walaupun jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, di Bali ini berarti sudah masuk pukul 8, akibat perbedaan waktu satu jam antara WIB - WITA. Ada satu stand kosong yang harus segera kami rias sebelum tamu berdatangan di pukul 10 pagi!

Rekan-rekan 3M security hari itu lebih santai karena mereka menyewa kontraktor untuk mengerjakan dan mempersiapkan stand yang akan mereka tempati. Bukan hanya soal persiapan, untuk berjagapun mereka memilih mengenakan t-shirt sementara kami memilih mengenakan batik! Huhuhuhuhu... padahal Bali di siang hari kan panas banget!

Posted by Bayu on Nov 16, '06 2:30 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri penutupan acara berupa makan malem bersama para pustakawan di heli-pad pinggir pantai nya hotel Discovery Kartika Plaza.

Plus, foto-foto hasil kunjungan ke salahsatu warung makan lucu disekitar Simpang Siur, Denpasar.


Posted by Bayu on Nov 16, '06 1:22 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri foto-foto makan malem di Jimbaran.

Daerah ujung Bali sebelah Selatan ini ngetop dengan aneka seafood bakar nya, yang dinikmati di meja-meja di sisi pantai berpasir... marvellous! Tadinya kirain bakalan kena "tembak" dan pulang dengan cemberut =P, tapi price-wise ternyata masih reasonable lah untuk itungan makan malem dengan experience "out-of-this-world" seperti ini.

Untuk ulasan lebih komplit soal makanan mampir kesini ya: http://epicurina.multiply.com/photos/album/112


Posted by Bayu on Nov 16, '06 12:49 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri jalan-jalan di pantai.


Posted by Bayu on Nov 16, '06 12:20 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri foto-foto bekerja; jaga stand dari pagi sampe sore. 8-}


Posted by Bayu on Nov 15, '06 11:10 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri foto-foto tempat nginep; "Rama Beach Hotel", Tuban, Bali, yang nggak ada "beach" nya samasekali karena masih berjarak 50 meter-an dari pinggir pantai... Tapi cukup asik buat sejenak melupakan penat nya kehidupan Metropolis.


Posted by Bayu on Nov 15, '06 10:09 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ngabur ke Bali di hari kerja buat menghadiri Seminar dan Kongres X Ikatan Pustakawan Indonesia. Seri foto-foto perjalanan udara.


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help