Bayu's posts with tag: movie

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag movie
Posted by Bayu on Jul 15, '08 7:46 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Posted by Bayu on Jul 10, '08 12:20 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Karena selesai urusan dari client dah sore-sore, maka pikiran pun bercabang... antara ngabisin waktu buat balik ke kantor cuma sekedar buat numpang duduk setengah jam-an (dan udahnya kejebak macet di Rasuna Said), atau... nonton film? Katanya "Hancock" bagus... udah niat sih, tapi terakhir waktu hadir ke acara Crocs is You! di SenCi ma isteri, gak sempet nonton.

Bicara soal SenCi, gw baru tau kalau harga tiket hari biasanya ternyata spektakuler juga; limabelas rebu saja! Kaget dong, secara tempatnya upscale banget. Walhasil karena niat ketemu kesempatan, akhirnya gw memutuskan untuk langsung terus aja ke tempat sasaran... sambil mikir-mikir lagi apa voucher hadiah Crocs kemaren mau dipake, atau dilepas, secara model yang ditawarkan bukan yang gw incer.

Eh OOT yah...

"Wanted" dibuka dengan narasi Wesley Gibson (James McAvoy) mengenai kehidupannya yang super biasa sebagai seorang pegawai biasa dengan masalah yang khas kaum pekerja kelas bawah. Tinggal di apartemen murahan bersama pacarnya yang berselingkuh dengan sobatnya, bokek, stres dengan kondisi di kantor, Wesley lantas didiagnosa memiliki masalah anxiety berlebih sehingga harus selalu memakan obat penenang dari dokter.

Kehidupan Wesley berubah ketika Mr. X (David O'Hara), seorang top agent dari "Fraternity", kelompok pembunuh bayaran super yang telah berdiri sejak 1.000 tahun lampau, dieksekusi oleh musuhnya. Segera setelah kejadian nahas itu, Wesley pun mendadak dikunjungi oleh Fox (Angelina Jolie), yang mengabarkan mengenai keberadaan Fraternity dan bahwa ayah kandung Wesley baru saja dibunuh oleh musuhnya, yang ternyata adalah seorang ex-agent yang membelot dari Fraternity, dan Fox pun menuntut Wesley untuk menuntut balas... Atau kelangsungan hidup para anggota Fraternity terancam. Mengapa Fraternity mengandalkan Wesley yang tidak memiliki kemampuan apa-apa? Hal ini tak lepas dari kemampuan khusus yang dimiliki Wesley dan mendiang ayahnya...

Kemampuan khusus?

Wesley kemudian dibawa ke markas Fraternity dan dipertemukan dengan Sloan (Morgan Freeman) yang kemudian membuka mata Wesley mengenai siapa dia sebenarnya, dan bahwa serangan anxiety yang selama ini ia rasakan bukanlah penyakit, melainkan suatu insting pembunuh super yang diturunkan secara genetik dari ayahnya. Wesley yang kalut lalu melarikan diri dari markas Fraternity, dan terbangun di pagi keesokan harinya, dengan merasa apa yang baru ia alami hanyalah mimpi. Benarkah hanya mimpi?

Visualisasi dalam film ini keren banget... sekaligus sadis abis... adegan tembak-tembakan dengan trick rumit dan gadget hi-tech, kejar-kejaran mobil dengan adegan terbang dan salto, serta hal-hal lainnya yang "impossible but beautiful", diiringi secara intens dengan adegan kepala pecah, darah muncrat dan adegan kekerasan lainnya ditampilkan dengan blak2an. Padahal drive dari film ini sendiri bukanlah kearah horror. Mencekam dan misterius memang, tapi cukup sarat muatan dark humornya juga. Mirip The Fight Club nya Edward Norton dan Brad Pitt.

Yang mengherankan adalah, munculnya muatan etnis Eropa Timur (terutama Russia) dengan sangat kuat di film ini; baik dari gaya karakter para tokoh utama, setting markas dan organisasi Fraternity, hingga ke elemen-elemen artistik dan penggabungan antara hi-tech dengan nuansa rustic. Suatu hal yang (sudah) jarang muncul di film-film mainstream.

Angelina Jolie di film ini ditampilkan sebagai karakter yang dingin, tegas, precise, skillful, dan irit kata-kata, walaupun selalu menebar senyum. Kesan pembunuh kawakannya terasa sekali, sambil tetap menyimpan sensualitas yang misterius. Jadi wajar saja ketika penonton nyaris satu bioskop langsung berdesah-desah dan tidak bisa duduk tenang waktu akhirnya muncul adegan ciuman hot antara Wesley dan Fox.

Film ditutup dengan penuturan Wesley yang cukup menyentuh... dan ditujukan bagi para penonton semua.

Wesley: Six weeks ago I was ordinary and pathetic, just like you. Who am I now? Account manager? Assassin? Just another tool who was mind fucked into killing his father. I am all of these. I am none of these. Who am I now? This is not me fulfilling my destiny. This not me following in my fathers footsteps. This is definitely not me saving the world.

Sloan: Still trying to figure out who you are?

Wesley: This is not me... this is just a mother fucking decoy.

Sloan: [Sloan looks down to a X made of post-it notes on the floor] Oh fuck.

Wesley: This *is* me taking control, from Sloan, from the fraternity, from Janis, billing reports, ergonomic keyboards, from cheating girlfriends and sack of shit best friends. This is me taking back control of my life. What the fuck have you done lately?

Dan setelah itu, jreeeeeng! Muncullah dengan jelas, nama sang sutradara di layar film... "Timur Bekmabetov". Keparat!!! Ini film dia toh??? Dan segala unsur unik yang diselipkan di film inipun mendadak membentuk kepingan yang utuh... Dan imho karyanya yang satu ini sudah jauh lebih bisa dicerna khalayak umum dibandingkan film-film terdahulunya: "Night Watch (2004)" (Nochnoy Dozor) dan "Day Watch (2006)" (Dnevnoy Dozor).

Silakan mampir ke review gw tentang "Dnevnoy Dozor" atau click link imdb ini buat cari tau lebih lanjut soal siapakah Timur Bekmabetov ini. (bay)


Posted by Bayu on Jun 27, '08 7:21 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Animation
Salahsatu film yang bikin gw meriang... Gara-gara ketawa dewa nyaris sepanjang film, walhasil udahnya berasa kayak gejala flu... kulit merinding dan sensitif... udah gitu dahak tiba2 aja muncul! Gawat... nonton film kartun koq bikin sakit...

Tapi emang Kungfu Panda ini luar biasa. Premise ceritanya sih sederhana: a hero rise from common ordinary people because of trust and believe. Humornya sendiri mayoritas slapstick, tapi tetep dengan sukses mengocok perut.

Alkisah Eriq... eh Po, adalah seorang Panda rakyat jelata yang bercita-cita ingin menjadi jagoan Kungfu, namun terbentur oleh dua hal:
1. Ayahnya sangat mengharapkan Po mewarisi usaha warung mie miliknya.
2. Postur Po yang tambun samasekali tidak cocok untuk menjadi jagoan Kungfu.

Namun Po yang hampir menyerah, tiba-tiba saja entah kenapa didaulat oleh Master Oogway yang bijak, untuk menjadi The Dragon Warrior, dan berhak untuk mempelajari kitab kungfu sangat rahasia dari kuil, dimana tidak seorangpun (kecuali Oogway) mengetahui apa isinya dan ilmu apa yang terkandung didalamnya.

Pengangkatan Po menjadi The Dragon Warrior sudah tentu memancing pula kekisruhan dalam suasana internal kuil, dimana Master Shifu (funny though, "Shifu" is actually means "Teacher/Master") telah melatih lima muridnya sendiri dengan sangat keras, untuk bisa mencapai gelar ini.

Pengangkatan Po ini sendiri sebenarnya sangat terkait dengan suatu prediksi yang Oogway lakukan, bahwa musuh bebuyutan kuil; Tai Lung, diramalkan akan segera muncul kembali. Padahal saat itu Tai Lung disekap di penjara khusus, dengan 1.000 penjaga kekar khusus untuk menjaga satu tahanan ini saja!

Ketika ramalan terbukti, dan Tai Lung mengirimkan ancaman ke Shifu, Po masih belum berhasil berubah menjadi The Dragon Warrior... apalagi Shifu selaku guru yang ditugaskan mengajarnya, masih 200% yakin kalau Po bukanlah The Dragon Warrior yang dinanti-nantikan selama ini. Namun tidak demikian pendapat Oogway. Dengan bijaknya ia pun menunjukkan jalan kepada Shifu, untuk dapat "menemukan" The Dragon Warrior yang dahsyat, dalam diri Po yang gemblung. Setelah membukakan mata Shifu... Oogway pun moksa... (in a very wonderful illustration).

Film ini sarat dipenuhi dengan pesan-pesan yang bijak dan membukakan mata hati, mencerahkan. Wonderful! (bay)

btw, ada yang merhatiin wajah karakter Shifu mirip siapa? Gw kirain dia juga yang ngisi suara... eh taunya Dustin Hoffman, bukan si tokoh itu.


Posted by Bayu on Jun 27, '08 6:18 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Penasaran pengen liat film ini gara-gara score IMDB nya 8 point, alias outstanding! Padahal gw bukan fans berat Hulk, walaupun nggak pernah emoh nonton serialnya (yang maen Lou Ferrigno) kalo diputer di TV.

Alkisah, para produser dan pemilik cerita The Incredible Hulk merasa kalau film layar lebar pertamanya Hulk masih kurang nendang... dan kurang dark, padahal Hulk itu lebih bersifat monster daripada hero. Maka dibuatlah film Hulk kedua ini memiliki tone yang lebih gelap dan depresif... dan cukup berhasil.

Bruce Banner kali ini diperankan oleh Edward Norton yang menurut gw gak ada tampang sama sekali buat jadi idola... apalagi sampe ditaksir sama ilmuwan sekece Liv Tyler. Sosok Edward di film ini membuat Bruce Banner keliatan sangat ringkih, walaupun diceritakan ia kini belajar beladiri Brazilian Jiujitsu, demi penguasaan emosi dan amarah. Saat latihan penguasaan napas ala BJ ini, visualisasinya stunning dan mencengangkan, dimana master yang mengajarnya ngeliatin cara mengambil napas yang benar (melalui diafragma), sekaligus olah otot perut untuk mencapai pengkondisian emosi yang dimaksud.

[Gambaran soal betapa padat dan kumuhnya Brazil juga ketangkep banget]

Sesuai dengan tema dark yang ingin diusung film ini, maka pemunculan Hulk di beberapa adegan film selalu diiringi dengan tone mood yang stressful. Dan kelakuan Hulk pada kemunculannya ini sungguh benar-benar 'super bad boy'. Dengan kekuatan superhuman, dan attitude layaknya Tazmanian Devil sedang PMS, maka Hulk cuma memiliki satu solusi terhadap tantangan2nya: hajar bleh!

Prinsip ini juga yang ia pakai sewaktu harus berhadapan dengan pasukannya Jendral Ross, termasuk persenjataan super dari Stark Industries (yeah, Tony Stark is here!) berupa cannon gelombang suara. Simply incredible.

Walaupun masih menyisakan banyak perasaan yang ngegantung, dan kemunculan super villain nya terlalu cliche, tapi on overall film ini cukup layak untuk dapet bintang empat.

Beberapa kejutan di film ini:
+ Celana Bruce entah kenapa selalu cuma robek2 doang setelah ia balik dari wujud Hulk (flaw dari karakterisasinya sih).
+ Memang Liv Tyler itu wajahnya lonjong, tapi penggayaan karakternya di film ini (Betty Ross) membuat penampilannya jadi nggak cakep, sayang sekali.
+ Oom Stan Lee kembali muncul sebagai Cameo, lucu.
+ Brazilian Jiujitsu show nya menarik, sayang sedikit banget.
+ Skala Hulk nya rada membingungkan... kadang keliatan kayak dua kali manusia biasa, tapi pas disandingin side-by-side, ternyata cuma sekitar 1.5 kalinya aja.
+ Tony Stark muncul diakhir film dan menyatakan kalau mereka telah "back in the business" terkait super soldier research.
+ Lou Ferrigno (pemeran asli The Hulk versi TV) muncul di film ini! Tebak jadi apa? Dia dapet dua peran.

Selain dari kemunculan Tony Stark (Iron Man) diakhir film, adanya ending film yang nunjukkin Banner mulai bisa mengontrol kehadiran Hulk via meditasi, membuat gw optimis film lanjutannya bakalan menarik! (bay)

Eh, rata2 adegan tempurnya brutal, plus ada adegan syuurnya dikit, jadi buat yang bawa anak-anak, be careful ya.


Posted by Bayu on May 14, '08 10:10 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Apa yang terjadi kalau seorang jagoan yang telah pensiun harus kembali berlaga? Plot cerita seperti ini agaknya sudah diulang-ulang sampai basi dan berlumut, begitu juga halnya dengan di film ini, "Rambo", yang merupakan film ke-4 dari tetralogy sukses serial legendaris bertema peperangan dan heroisme ini.

Alkisah, John Rambo yang telah pensiun dari dunia peperangan, kini menetap di Thailand dan menjalani hidup secara sederhana dengan berburu ular. Pada suatu hari, sekelompok misionaris dari AS mendatanginya memohon bantuan untuk diantarkan ke daerah bermasalah di Myanmar (Burma) untuk tujuan kemanusiaan.

Burma yang telah 45 tahun berada dibawah kendali tangan besi junta militer, bukanlah tempat yang aman, seperti ditampilkan di bagian intro film ini. Rambo pun menolak, bukan karena takut -- jagoan gitu loh, sapa gak tau Rambo? -- tapi lebih karena menganggap usaha para misionaris itu tidak akan membawa perubahan apa-apa terhadap nasib rakyat Myanmar yang mereka ingin kunjungi.

Singkat kata, setelah dialog dengan anggota misionaris yang paling cantik (no contest, soale lainnya lanang semua), mengenai "perubahan dimulai dari satu aksi", Rambo pun akhirnya bersedia mengantarkan rombongan ini menuju wilayah Myanmar yang terisolasi dan penuh bahaya itu. Dan dimulailah babak baru petualangan Rambo di belantara perang yang kejam.

Walaupun tidak ada yang spesial dari ceritanya sendiri, Rambo bahkan tidak mengalami kesulitan berarti seperti di film-film sebelumnya, namun satu hal yang spesial dalam film ini adalah kandungan violence nya. Film ini adalah film pertama yang gw saksikan menyajikan efek kekejaman dengan sangat realistis, jauh lebih realistis dibandingkan misalnya... Saving Private Ryan yang sudah lumayan bikin miris. Kepala pecah, bukanlah lagi metafora melainkan visualisasi. Kaki yang putus karena koyak oleh ledakan mortir pun, atau serpihan usus beterbangan akibat pemiliknya menginjak ranjau, atau bagian-bagian tubuh hancur luluh karena terjangan senapan mesin, atau anak panah melesat menembus batok kepala, semuanya disajikan dengan teknik tinggi sekaligus sangat realistis. Dari sisi tampilan, fitur inilah yang membuat film Rambo ini spesial.

Sedangkan dari sisi pesan moral, terlihat jelas kalau Rambo kali ini muncul dengan extra-violence dari menit pertama, sedemikian untuk memberikan 'shock therapy' bagi para penontonnya mengenai apa yang sedang dan telah terjadi selama puluhan tahun di Myanmar; kekejaman rezim militer yang menguasai rakyat Myanmar. Makanya walaupun extra-violent, Rambo menyajikannya dengan cukup kontekstual; "Wahai para penonton, kekejaman seperti ini terjadi secara rutin di Myanmar lhoo!", gitu kurang lebih.

Cerita nggak ada yang mengejutkan, ending sudah jelas, tidak ada kesempatan untuk akting serius atau original score yang memukau, tapi hey... ini bukan film drama berbungkus perang semisal The Patriot... ini film action - perang yang keras dan buas... Penutup yang sulit dilupakan, untuk hikayat petualangan John Rambo yang dimulai 26 tahun lalu ini.

Salut buat Stallone yang baru saja menuai sukses di film penutup hikayat lainnya; "Rocky Balboa" (2006). Stallone menunjukkan bahwa walaupun premise cerita yang dipake cenderung cliche, ending mudah ditebak, tapi pengalaman menontonnya bisa tetap menarik. (bay)


Posted by Bayu on May 5, '08 3:16 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Ini film Indonesia ke-2 yang gw nekad tonton di bioskop. Bukan ke-bule-bulean, tapi rata-rata film lokal seringkali berakhir mengecewakan. Entah itu karena over hype dari media, penggarapan yang terkesan asal-asalan, sampe ke (kasus standar), cerita yang kurang menarik.

The Tarix Jabrix muncul dengan gaung yang cukup besar. Bukan dari media, tapi dari kalangan para pemerhati film sendiri. Makanya penasaran pengen nonton a.s.a.p. Ditambah dengan ajakan dari teman seperjuangan dan isterinya, plus baru gajian, maka kepenasaran + kesempatan = kejadian. Tertontonlah film ini, walau cuma di layar mungil nya TIM-21. Soale dah berminggu2 tayang bo'

The Tarix Jabrix adalah nama yang dipakai oleh Cacing dan kawan-kawan (diperankan oleh pemain musik dari grup The Changcuters), untuk nama geng motor yang mereka dirikan. Merasa bahwa perilaku geng motor sekarang sudah menyimpang terlalu jauh dari norma (melanggar hukum, melawan orang-tua, kejam), Cacing bermaksud untuk mendirikan geng motor teladan yang baik; hormat kepada orang-tua, patuh hukum, dan peduli sesama.

Walau berbekal hanya motor-motor tua dan seadanya (yang satu malah motor pinjeman dan satu lagi berniat ikutan tapi pake sepedah), didirikanlah geng motor Tarix Jabrix ini diantara menjamurnya geng-geng motor Bandung yang rata-rata anggotanya puluhan, dengan "persenjataan" motor balap 500cc atau motor-motor tangguh lainnya.

Sayangnya, walaupun bertujuan damai, namun karena masalah pribadi, The Tarix Jabrix terpaksa terlibat perseteruan dengan geng motor (beneran) Smokers, yang dalam cerita ini baru saja menjadi geng motor nomor satu di Bandung. Disinilah konflik cerita mengerucut.

Openingnya sendiri cukup dahsyat; potongan-potongan adegan saat ujian masuk geng motor, dan gimana Cacing selalu terngiang-ngiang ucapan ibunda tercintanya... bener-bener kocak! Sayangnya, hal seperti ini nggak lantas diexplore lebih lanjut di film. Jadinya motto geng yang unik tersebut muncul hanya sekilas dan selebihnya adalah roman remaja biasa.

Setelah bagian introduksi berlangsung dengan aneka kelucuannya, bagian konflik malah menjadi awal dari kedodorannya cerita... dari yang tadinya realistis walau rada hiperbolis, menjadi rada absurd ketika harus terjadi adegan penyerbuan markas plus penculikan. Tapi ini memang bukan film serius walau menyertakan Candil Seurious, hanya saja jalannya cerita jadi cenderung monoton pada tahap-tahap konflik tersebut.

Permainan The Changcuters sendiri dalam memerankan tokoh-tokoh The Tarix Jabrix cukup lumayan. Banyak adegan menegangkan tampil cukup realistis, sedangkan adegan-adegan humornya sendiri banyak yang lucu. Rata-rata kelucuan yang terjadi tampil dengan gaya khas anak-anak sekolah; bergaya saat naksir, bercanda kelewatan, serta celotehan antar mereka sesama teman yang ringan tapi menghibur.

Kalau disetarakan, nonton film ini bagai nonton film-filmnya Warkop jaman dulu; penuh celetukan-celetukan dan kelucuan yang segar dan nggak perlu nyambung sama cerita, atau memiliki plot yang kuat, tapi sangat menghibur. Bedanya, Tarix Jabrix belum nyampe sana, tapi sudah berada di jalan yang benar. Good work!

Salut buat StarVision setelah sebelumnya menelorkan juga "Get Married". (bay)


Posted by Bayu on May 3, '08 3:01 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Tony Stark (Robert Downey Jr.) adalah seorang muda genius pewaris tahta Stark Industries; perusahaan pembuat alat-alat perang mutakhir, yang hasil karyanya menjadi incaran para jendral di berbagai medan peperangan di dunia. Hal ini menyebabkan Stark Industries memiliki keuntungan luar biasa dan Tony yang genius bisa hidup dengan glamour.

Ditunjang penampilannya yang berkelas, Tony menjalani gaya hidup yang eksentrik. Glamour, terkenal, playboy, Tony hidup bagaikan raja di kediaman tepi pantainya yang hi-tech, didampingi asisten setianya; Pepper Pots (Gwyneth Paltrow). Tujuan utama dalam hidup Tony adalah bersenang-senang, dan menciptakan persenjataan mutakhir.

Tony bukannya gemar kekerasan, hanya saja ia berpendapat kedamaian hanya bisa dicapai melalui arsenal persenjataan tercanggih, yang akan menjamin para pembuat onar tidak berani berkutik.

[More juicy spoilers ahead, keep reading]

Perubahan terjadi ketika Tony harus mengalami pengalaman mengerikan dan ironis; diculik oleh sekawanan teroris Timur Tengah, yang menyerangnya dengan persenjataan karya Stark Industries sendiri. Dalam proses penculikan itu pula, Tony mengalami kecelakaan parah akibat salahsatu ciptaannya sendiri; peluru kendali dengan serpihan pisau mikro yang akan terbawa darah menuju ke jantung korban, yang membuat nyawanya nyaris tak teselamatkan. Untungnya, dengan bantuan Yinsen (Shaun Toub), seorang ilmuwan yang juga bersama-sama ditawan, nyawa Tony akhirnya bisa diselamatkan. Namun sebagai akibatnya, Tony harus menggantungkan nyawanya pada sekeping magnet dan aki mobil demi menghalau pisau mikro dari menembus jantungnya. Yinsen ini pulalah orangnya, yang akhirnya berhasil memasukkan pemikiran-pemikiran mengenai perdamaian kepada Tony.

Setelah selamat dari kejadian tersebut, Tony pun akhirnya mengalami perubahan pemikiran. Menyadari dan melihat sendiri bagaimana akibatnya jika persenjataan canggihnya jatuh ke tangan yang salah, Tony memutuskan untuk menutup pabriknya! Namun rencana mulianya ini mendapatkan tentangan keras dari partnernya, Obadiah Stane (Jeff Bridges), yang malah memasok senjata kepada pihak teroris. Tony pun kemudian memutuskan untuk mengambil tanggung-jawab langsung ke tangannya, dan bertekad untuk menghentikan kesewenangan yang terjadi akibat persenjataan yang pernah ia ciptakan. Maka munculah apa yang kemudian pers sebut sebagai "Iron Man".

Secara keseluruhan, film Iron Man ini tampil komplit. Pribadi Stark yang percaya diri, sedikit sombong namun kharismatik, dihidupkan dengan baik oleh Robert Downey Jr. Namun diluar penggambaran yang sempurna tersebut, sosok Stark ini tampil tak lepas pula dari aneka kekonyolan yang disebabkan oleh sifat percaya diri Stark sendiri. Akibatnya, film Iron Man muncul sebagai tontonan yang juga menghibur.

Tak bisa dilupakan pula peran serta ILM (Industrial Light & Magic) yang dengan sukses mengolah tokoh Iron Man menjadi suatu sajian visual yang menarik, dan penuh aksi berteknologi tinggi. Proses pemasangan / pelepasan armor suit Iron Man sendiri sangat mengingatkan kita pada film robot Transformers.

Setuju dengan pendapat Agung dan Riki, "Iron Man" ini termasuk film super hero paling 'manusiawi' dan 'realistik', mengikuti jejak Spiderman 2 dan... dan apa lagi ya?

Seru, kocak, hi-tech, dramatis, humane. Walaupun porsi action nya sendiri terhitung cukup jarang, dan stereotyping terorisnya masih terlalu cliche, namun dengan kelengkapan aspek hiburannya, Iron Man is one of the best superhero movie in years. (bay)


Posted by Bayu on Apr 29, '08 7:36 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Spoiler yes!

Alkisah, kota New York dilanda suatu bencana misterius yang datang dari laut. Informasi mengenai apa yang terjadi kemudian disajikan ala dokumentasi, dengan memutar ulang apa yang rupanya merupakan rekaman handycam yang ditemukan di lokasi bencana.

Rekaman ini awalnya memuat mengenai rencana surprise party terhadap seorang teman, yang akan meninggalkan AS keesokan harinya untuk menempati posisi Vice President di cabang perusahaannya di Jepang. Selain pesta perpisahan, tertangkap juga di kamera, beberapa side-story tentang percintaan yang akan sedikit banyaknya mempengaruhi perjalanan nasib mereka-mereka yang ditayangkan di rekaman handycam ini.

Tiba-tiba, terjadi gempa. Dan dari kabar yang beredar di TV, diberitakan bahwa gempa lokal tersebut terjadi akibat tabrakan sebuah tanker dengan pulau tempat Patung Liberty berada. Tak lama kemudian, kejadian yang lebih parah terjadi; ledakan besar dari arah laut menimbulkan bom-bom api yang menyebar ke penjuru kota, salahsatunya tepat menuju gedung dimana pesta ini berada.

Dalam keadaan panik, mereka kemudian menyadari kalau apa yang terjadi sebenarnya bukanlah gempa biasa, melainkan diakibatkan oleh tingkah-laku apa yang kemudian diketahui sebagai monster tak dikenal berukuran raksasa. Monster inipun kemudian meluluh-lantakkan kota New York, sehingga memaksa pihak militer untuk bertempur di dalam kota menggunakan pasukan Humvee, tank, MLRS, dan pesawat tempur.

Para tokoh di film ini, bukannya lari menghindar namun malah merangsek masuk kedalam kota, ke daerah "ground-zero"; tempat semua bencana ini dimulai. Alasannya? Cinta. Bagaimanakah kisah perjalanan mereka? Dan seperti apakah akhirnya? Walaupun mungkin anda sudah bisa menebak kalau para tokohnya mati semua (kalau anda ngikutin film sejak title screen), tapi ternyata how dan when nya cukup menarik untuk diikuti.

Buat yang pernah nonton "Blairwitch Project", maka penggarapan film ini sama persis dengan film tersebut; dokumentasi personal via handycam. Walaupun meniru, tapi penggarapannya boleh mendapat acungan jempol, karena berhasil menimbulkan efek penasaran dan mencekam dari sekelompok orang yang terjebak dalam suasana nahas, dan hanya merupakan side-story dari suatu kejadian besar yang sedang terjadi.

Seperti telah diduga, gambar-gambar di film ini memang sangat-sangat goyang dan vertigo-launcher. Untungnya nonton ginian cuma di TV 32" jadi efeknya nggak terlalu kentara. Monster design nya juga lumayan unik, walaupun untuk yang pernah nonton film-film sekarang macem Gwoemul The Host, atau Silent Hill, maka tampak si monsternya ini akan cukup familiar.

Walaupun sangat tidak bersahabat bagi para vertigo-ers, tapi film ini seru! Dan gw sangat berharap film ini ada sequelnya. (bay)


Posted by Bayu on Apr 28, '08 5:21 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Documentary
Menonton film ini bagaikan menonton salahsatu seri Natural Geographic soal wild life, bedanya, pertama: film ini memiliki masa putar cukup panjang, sekitar dua jam, dan kedua: adanya background issue tentang perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap para tokoh utama film ini; Sekeluarga Beruang Kutub, Sekelompok Gajah, dan Keluarga Paus.

Story-wise, dramatisasinya cukup bagus. Penonton seakan dibawa menjadi bagian dari keluarga-keluarga hewan di film ini yang lucu-lucu, kemudian dibawa untuk menyaksikan akhir yang tragis dari keluarga tersebut. Sayangnya, penggarapan soundtrack dari orkestra cenderung gloomy sepanjang film jadi terasa agak monoton. Gaya bertutur yang berulang-ulang dari satu hewan / ekosistem satu dan lainnya membuat film ini berjalan rada terlalu lambat di bagian tengahnya.

Tidak bermaksud disrespect, tapi ternyata gw dan isteri sama-sama ketiduran beberapa kali waktu di bagian tengah ini.

Namun dari sisi tampilan, "Earth" merupakan salahsatu film paling spektakuler dan terindah tentang Bumi yang pernah dibuat. Walaupun diputar dengan teknologi bioskop biasa, kemegahannya setara dengan film-film iMax di Keong Mas. Pemilihan tempat putar film di Blitz Megaplex dengan layar segede gaban jadinya memfasilitasi baik nuansa megah dari film ini.

Dari sisi propaganda bahaya Global Warming, masih jauh lebih tajam "Inconvenient Truth" nya Al Gore. Earth terlalu berfokus pada penggambaran kehidupan alam liar dari para tokoh filmnya tersebut, hingga seringkali penonton lupa kalau film yang ditampilkan memuat pesan tentang bagaimana berbahayanya proses Global Warming yang sedang terjadi.

Jadinya empat bintang film ini, adalah tertuju lebih ke aspek visual dari film, bukan ke propaganda bahaya Global Warming nya. (bay)

Posted by Bayu on Apr 28, '08 1:04 AM for everyone
Masih soal film di O Channel Minggu malem kemaren.

Temanya sih drama keluarga, tanpa tendensi berlebih untuk keluar dari batas kemampuan, atau membuatnya jadi super dramatis ala KP (Klan Punjabi). Makanya walaupun yang maen nggak terkenal sama sekali, plus tema ini udah diangkat ribuan kali ke layar kaca, filmnya tetep bisa menarik sekaligus heart warming. Dan film yang nggak tendensius seperti ini, nggak jarang malah membawa muatan pesan yang terngiang-ngiang sampe lama; simple things yang sekiranya everybody knows tapi disampaikan dengan tepat jadinya memorable.

Begini... alkisah setelah menempuh perjalanan sekitar 800 Km dari tempat kediaman asal mereka, kakak-beradik yang baru ditelantarkan ibunya di pelataran parkir sebuah shopping mall ini berhasil mencapai peternakan kediaman nenek (kandung) mereka... Hanya untuk dihadapkan pada kondisi bahwa si nenek tidak suka dengan kedatangan mereka, dan orang kota menganggap si nenek agak gila. Namun demikian si nenek masih berbaik hati menawarkan kakak-beradik tersebut tempat untuk menginap semalam saja. Karena keesokan harinya mereka harus kembali kemanapun mereka berasal.

Menghadapi hal ini, si kakak tertua kemudian menyusun rencana sebagai berikut:

"Mulai besok kita akan bantu membereskan rumah dan kebun, apapun yang bisa kita lakukan. Pekerjaan ini tidak akan selesai dalam sehari, sehingga nenek terpaksa membiarkan kita menginap semalam lagi, hingga pekerjaan selesai".

Waks!!! Nampar sekali! Karena dalam praktiknya, maka sebagai pegawai / pengusaha pun sebenernya prinsip kerja kita harusnya seperti itu:

Berusaha setiap hari untuk menghasilkan prestasi (prospects contacted, follow-ups, schedule created, project managed, clients handled, documents created, dll.) sehingga si boss puas dan membutuhkan kita untuk kerja di hari berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya.

Bukan duduk-duduk enak, browsing internet dan telepon temen-temen, sementara kerjaan ter-delay terus menerus. Apalagi kalo sampe pada pemikiran bahwa pekerjaan kita disana bisa di-keep dengan cara-cara jalan melintir atau off-road (carmuk, ass-licking, dll.), atau adu petenteng sama company karena tau berdasarkan UU, kita nggak bisa dipecat kecuali dengan kompensasi dan pesangon sekian sekian sekian.

Yuk ngaca ah. (bay)

image dari: http://www.ilkeryoldas.com/

Posted by Bayu on Jan 7, '08 7:16 PM for everyone
Mendadak, disela-sela film drama serius ini tiba-tiba ada adegan kodok jatuh dan nemplok di kaca mobil, dua buah. Nggak tau dari mana. Sementara isteri langsung berujar "duh... kasian kodoknya..." sambil ngeliat dua kodok gendut nyerosot turun dari kaca depan mobil disertai lelehan lendir dan darah.

Sedangkan gue, malah berujar dengan sangat heran "Heh, hujan kodok? Ini film apaan??"...
"Nggak tau", kata isteri, "hujan kodok apaan? Cuma kodok jatuh koq".
"Iya, jatuhnya dari...?" sahut suami ngegantung.

Dan tak berapa lama kemudian di film tersebut, dengan visualisasi yang meyakinkan, mulailah hujan turun dengan deras. Namun bukan hujan yang bukan menjatuhkan rintik air, melainkan jutaan ekor kodok.

"Tuh, kan bener, hujan kodok", kata suami penuh kemenangan
"Hah? Koq bisa? Emang beneran ada hujan kodok di dunia nyata?", sambut isteri keheranan
"Ada!", dan gwpun segera mengetikkan "frog rain" di form isian Google.com

Isteri pun menunjukkan ekspresi lebih keheranan lagi kala Google.com beneran munculin banyak link yang memuat mengenai kejadian anomalistik yang satu ini.

Sementara gw, dengan lebih penasaran lagi segera browsing ke situsnya sctv.co.id buat nyari tahu... Apakah ini suatu film bertema paranormal ngetop yang gw belun pernah tonton? Hardly... Tapi menarik juga ada film "normal" yang ngangkat salahsatu fenomena anomalistik memusingkan ini.

Ternyata filmnya berjudul "Magnolia", salahsatu film drama yang gw tau masuk jajaran film terbaik di imdb.com untuk genre nya. Dari beragam komentar yang tercatat di internet pun, rata-rata heran kenapa koq ada adegan ini di film seperti itu. Sewaktu penelaahan lebih lanjut, ternyata menurut salahsatu situs, film ini memang penuh sekali dengan simbolisasi tersembunyi terkait angka "82". Dan salahsatu pemahaman dari angka ini adalah terkait referensi biblical; exodus 8:2. Isinya tentang apa? Tentang hujan kodok.

Namun menurut para pembuat filmnya, mereka tidak bermaksud untuk mengutip kitab suci, hanya saja mengangkat suatu kejadian unik yang sudah sering terjadi di dunia nyata. Pengejawantahan lebih lanjut lagi adalah simbolisasi terkait bagaimana para karakter di film Magnolia di saat terjadinya fenomena aneh ini, sedang berada dalam tahap sangat depresi sehingga membutuhkan adanya keajaiban. Dan muncullah si hujan kodok.

Fenomena anomalistik yang ditampilkan di film "Magnolia" ini memang mengambil referensi dari dunia nyata, bukan sekedar keisengan si pembuat filmnya saja. Bahkan dalam catatan sejarah, nggak cuma kodok aja yang pernah diturunkan oleh hujan. Pernah juga terjadi hujan ikan, hujan ubur-ubur, hingga hujan potongan daging dan darah!

Salahsatu teori yang paling banyak dipegang, adalah hal ini terjadi karena angin tornado / badai menyedot komunitas hewan tersebut dari habitatnya, lantas menerbangkannya di langit selama beberapa waktu, hingga akhirnya turun kembali serentak sebagai "hujan". Namun selain teori yang dipaksakan logis ini, sudah tentu banyak teori alternatif beredar yang lebih seru =). Diantaranya menyangkut keterlibatan mahluk luar angkasa.

Gimana menurut anda? (bay)

Posted by Bayu on Jan 3, '08 10:45 PM for everyone
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:Prima Rusdi
Beli buku ini karena dizain covernya menarik; simple dan mudah dicerna. Selain karena cover, so pasti karena isinya juga tentang bidang yang gw minati; bikin film!

"Bikin Film, Kata 40 Pekerja Film", merupakan buku kompilasi wawancara antara sang penulis, Prima Rusdi, dengan para pekerja film mulai dari Produser, Sutradara, Penulis Skenario, hingga ke Festival Organizer. Materi yang diangkat cukup beragam tapi ringan; jadinya mudah dicerna oleh para pembaca umum. Mungkin karena penerbitnya adalah "Hai Books", sodaranya Majalah Hai, maka target pembacanya juga memang kalangan umum (terutama remaja), yang penuh keingintahuan tapi belum terlalu perlu untuk tahu sampai ke aspek mendetail suatu produksi film.

Termasuk dalam mereka yang diwawancara, adalah para pekerja film generasi baru semisal Nia Dinata, Erwin Arnada, Riri Riza, Joko Anwar, Monty Tiwa, dan Salman Aristo. Nggada Teguh Karya cs. Pemilihan ini juga pastinya dilakukan karena alasan target market tadi, yang sebagian besarnya adalah remaja.

Informasi yang dibahas di buku ini sendiri bukanlah sesuatu yang "ground breaking", dalam artian, informasi umum yang mungkin bukan hal baru lagi bagi para pekerja film. Namun demikian, cukup menggambarkan dengan baik situasi dan kondisi yang terlibat dalam suatu produksi film. Misalnya saja, para produser berbagi pendapat mengenai job spec dari profesinya, plus aneka tantangan yang muncul dalam menjalankan profesinya. Gitu juga dengan para sutradara, yang mengulas mengenai keterlibatan mereka dalam produksi, serta pihak-pihak lain yang mungkin terlibat. Sedangkan dari sisi Penulis Skenario, lucunya ternyata masih banyak komentar-komentar yang menjurus kearah gimana kolaborasi kerja antara produser, sutradara, dan penulis skenario itu penting, tapi masih tetep seringnya nggak terlaksana baik.

Salahsatu komplain mereka adalah soal sutradara yang kadang nggak terlalu concern dengan aspek emosi dari cerita dan cenderung fokus pada aspek visualisasi saja, atau kadang keluar dorongan kreatifnya buat nambahin ini-itu pada cerita, sementara apa yang mereka tambahkan itu sebenernya malah mengganggu flow cerita secara keseluruhan.

Hehehehe... been there feel that...

[lho koq curhat?]

Secara umum, buku "Bikin Film, Kata 40 Pekerja Film" ini cukup mudah buat dicerna, dan cocok buat dibaca mereka yang tertarik untuk mengetahui segala sesuatunya yang diperlukan dalam membuat suatu film, dan dilihat dari beragam sudut pandang yang berbeda sesuai tugas dan peranan masing-masing profesi pekerja film. (bay)


Posted by Bayu on Oct 1, '07 2:55 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Documentary
Bisa jadi film yang paling penting untuk ditonton dalam sepuluh tahun terakhir ini! Dan ini bukan karena penggarapan film yang kelewat rapi, action yang seru, fx yang canggih, tapi justru terkait muatan pesan nya...

Pernah ngeri menyaksikan visualisasi para artis hollywood dalam menggambarkan akhir dunia?

Pernah ngebayangin gimana caranya aneka ragam spesies dinosaurus musnah dari muka Bumi dalam satu kejadian?

Pernah penasaran kenapa planet Mars yang letaknya lebih jauh dari Matahari tapi memiliki suhu udara yang jauh lebih tinggi dari Bumi?

Pernah penasaran kejadian apa kira-kira yang paling mungkin menyebabkan berakhirnya eksistensi manusia di planet Bumi?

Menurut Al-Gore di film ini; Global Warming.

Isyu global warming sebenernya udah muncul sejak jauh hari. Seinget gw sejak kuliah tingkat III di taun 1995 pun isyu ini udah cukup santer dibicarakan. Makanya pas Skripsi pun gw milih untuk mengangkat tema mengenai Green Design alias Dizain Ramah Lingkungan.

Sayangnya, 12 tahun lewat, global warming tetep masih bertengger dalam tahap "isyu", seakan-akan kehadirannya itu nggak nyata dan gossip semata.

Tonton film ini buat menyaksikan fakta-fakta bahwa Global Warming ini bukalah isapan jempol semata, alias "comes to the neighbourhood near you". Sekaligus saksikan juga dampak-dampak yang akan ditimbulkan dari fenomena ini, dan bagaimana sekelompok kekuasaan secara sadar telah berusaha untuk menempatkan fenomena ini tetap sebagai wacana, bukan fakta, karena beragam kepentingan politis yang bertentangan.

Apakah ancaman Global Warming itu nyata? Jakarta makin panas, so what? Kalau anda bingung mengenai dampaknya secara global, kalau anda butuh data dan faktanya tersaji dalam bentuk visual, maka film inilah jawabannya.

One of the most heart-breaking movie I ever saw, ever... (bay)


Posted by Bayu on Sep 24, '07 1:05 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Horror
Walaupun film ini mendapatkan sambutan yang baik di AS, sebagaimana film2 lainnya yang diadaptasi dari novel2 Stephen King, satu-satunya film King yang gw anggap layak bikin merinding adalah "IT (1980)". Yah boleh deh ditambah sama "The Shining (1980)". Lainnya? Gaya bertutur King nggak memuaskan gw. Mungkin King dan Shyamalan harus buat film bareng, siapa tau hasilnya malah sangat bagus, beda dengan kalau mereka sendiri2 terlibat di suatu film. Kan negatif kali negatif sama dengan positif?

Struktur bercerita King hampir selalu melupakan faktor "why", dan asik berkutat dengan how atau penuturan ceritanya sendiri. Sedangkan dasar cerita atau asal-usul fenomena, nggak dituntaskan. Itu juga kasusnya yang terjadi dengan "1408" ini. Setelah menyajikan dengan baik misteriusnya ruangan 1408 di hotel Dolphin, gimana ruangan itu dikabarkan membuat gila para penghuninya dalam waktu dibawah 60 menit, sampe ke titik akhir, nggak ada penjelasan sama sekali kenapa si ruangan tersebut menjadi evil. Mengenai kenapa tokoh utama jadi dihadapkan dengan sejarah kelam kehidupannya pun, nggak diungkapkan. It just happened.

Namun demikian, penampilan Mike Enslin (John Cusack) sebagai seorang penulis buku-buku terkait tempat-tempat berhantu (tapi ia sendiri tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian), dan Mr. Olin (Samuel L. Jackson) sebagai manajer The Dolphin Hotel, patut diacungi jempol.

Untuk film-film horror yang sadis dan blak-blakan, gw lebih suka dengan karya-karyanya Wes Craven. Sedangkan untuk film-film horror yang plot ceritanya "nyeleneh" dan unexpected, gw lebih suka dengan mysteriousity nya film-film Jepang. (bay)


Posted by Bayu on Sep 24, '07 12:36 AM for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Diambil dari kisah nyata, film ini mengupas mengenai kejatuhan dari salahsatu kasus double-spy terburuk dalam sejarah espionase AS.

Eric O' Neill (Ryan Philippe), mendapati mimpinya menjadi kenyataan ketika atasannya menempatkan ia sebagai agen di gedung markas FBI, dibawah seorang agen senior Robert Hanssen (Chris Cooper). Eric yang piawai mengenai komputer, dipasangkan untuk menjadi asisten Hanssen yang juga piawai soal komputer.

Berbeda dengan O'Neill, Hanssen adalah sebuah pribadi yang rumit dan unik. Dengan rekor 25 tahun pengabdian sebagai seorang ahli mengenai Uni Sovyet dan counter-intelligence, Hanssen kurang mengalami perkembangan karir yang baik dan kini menghabiskan masa-masa menjelang pensiunnya dengan penuh kekesalan. Namun demikian sikap Hanssen berangsur berubah ketika ia mulai bisa mempercayai O'Neill.

O'Neill yang tadinya hampir menyerah dari tugas ini karena merasa tidak ada yang salah dengan Hanssen selain dari penggerutu, lantas diberikan informasi penting oleh atasannya bahwa Hanssen adalah target penyelidikan bertahun-tahun dari FBI dengan tuduhan double-spy. Hanssen juga memiliki kebiasaan seksual yang menyimpang dengan mengirimkan video-video pribadinya ke internet. Tak percaya, O'Neill pun lantas dibawa atasannya ke suatu divisi penyelidikan yang menempatkan ia sebagai bawahan Hanssen, dan ia pun kembali mau bekerja-sama.

Bagaimanakah caranya O'Neill memenuhi tugasnya tersebut? Untuk mencari data yang memberatkan Hanssen tanpa diketahui, sementara pengalaman Hanssen sebagai agen selama 25 tahun menyebabkan ia memiliki kepekaan yang tinggi akan usaha-usaha espionase atas dirinya?

Film ini cukup adem-ayem tapi menarik juga. Menyaksikan bagaimana Hanssen, figur seorang agen senior yang disegani dan kharismatik ternyata bisa memiliki kepribadian tersembunyi yang bertolak-belakang. Bagaimana seorang agen muda O'Neill harus memikirkan cara-cara yang kreatif untuk menuntaskan tujuannya, tanpa membuat si agen senior curiga. Dan bagaimana akhirnya kasus yang diangkat dari kisah nyata ini berakhir.

Gw nilai agak kurang gereget mengingat hasilnya sudah bisa ditebak, dan nyaris tidak ada plot-twist dalam alur ceritanya. Jadi kalau diibaratkan, nonton film ini seperti membuka buku sejarah untuk mencari tahu kejadian yang lebih detail dari suatu peristiwa. Itupun tidak terlalu banyak detail, karena cerita hanya berfokus pada dua tokoh tersebut tanpa melibatkan terlalu banyak trik atau teknik yang mereka pakai dalam mengungkapkan pengkhianatan Hanssen.

"Breach" adalah film kedua yang gw tonton setelah "American Beauty", dimana Chris Cooper kembali berperan sebagai seorang militer yang dingin, keras, egosentris dan homophobia.

Pesan moralnya; kalo mau jadi agen rahasia tangguh, otak harus kreatif, walau disaat tekanan mental sedemikian beratnya. Dan harus siap berkorban segala sesuatu diluar dari dunia espionase. (bay)


Posted by Bayu on Sep 7, '07 8:17 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Seru dan unexpected! Moments of comedy nya nggak berhenti dari awal sampe akhir! Padahal premise cerita sih standar; duet polisi beda benua James Carter (Chris Tucker) dan Lee (Jackie Chan) dikisahkan harus kembali bertemu dalam suatu petualangan yang melibatkan Triad. Setelah suatu usaha pembunuhan yang gagal atas Ambassador Han, Lee and Carter bertolak ke Paris untuk mengusut jejak informasi rahasia mengenai keberadaan para pemimpin Triad. Disanalah mereka lantas harus berjuang memecahkan teka-teki informasi yang mereka dapatkan, dan menghadapi perlawanan dari semua pihak yang terlibat.

Sinergi antara Jackie dan Chris makin poll di sequel kedua dari serial komedi "hybrid" ini. Walaupun ada sebagian yang menganggap Jackie Chan kurang beraksi fisik di film ini, gw rasa paduannya justru pas; Jackie dengan crazy action nya tersebar here and there, diimbangi dengan Chris Tucker yang kini makin jago beraksi laga (ceritanya selama dua tahun terakhir ngikutin kursus wushu). Humor-humor nya juga makin lucu, walaupun beberapa yang diangkat bukanlah material baru, misalnya humor "Yu" dan "Mi" yang udah banyak beredar di internet, kehadirannya di film ini cukup memancing tawa.

Dibanding Rush Hour 1 & 2, imho sequel terbarunya ini jauh lebih seru! Hal ini ditunjang, keliatannya karena sinergi acting antara Jackie dan Chris yang makin terpadu, serta skenario yang makin diarahkan untuk menonjolkan kemampuan khas masing-masing tokoh utama; Chris dengan witty dialog dan aksi-aksi bombastisnya, Jackie yang tidak terlalu dipaksakan untuk melakukan complex dialog, tapi lebih ke aksi laga yang mencengangkan dalam porsi moderate. Jika dirangkum, semuanya merupakan suatu sajian yang pas dan menghibur. Walau tanpa tambahan peran pembantu yang cukup significant atau "mencrang" (Zhang Zhiyi di RH2) dan tanpa aksi signature Jackie yang gemar melakukan adegan sangat berbahaya dan sangat jor-joran.

Catatan:

Kalau aja film ini nggak menghibur, kayaknya kami dan para penonton lain saat itu bakalan protes keras. Soalnya bioskop tempat kami menonton film ini kualitasnya buruk; selain gambar film yang kurang fokus selama tayangan, juga tidak ada perubahan setelah dikabarkan ke penjaga tiket. Plus di tengah-tengah film tiba-tiba tayangan terputus! Cukup lama pula sehingga beberapa penonton sempat buat keluar-masuk bioskop beberapa kali. Selain dari informasi ada gangguan di layar bioskop, waktu penonton keluar ruangan di akhir film ternyata nggak ada response apa-apa dari management, as if nothing wrong is ever happened.

Can't help but wondering... Waktu nonton di Blitz, small inconvenience aja (dan nggak terkait tontonan) membuat penonton dihujani permohonan maaf, plus small tokens macem free drink atau free popcorn. Ah, mungkin karena harga tiket yang cuma 15 ribu dibanding Blitz yang 25 ribu? Beda duit ceban tapi service beda jauh. (bay)


Posted by Bayu on Aug 24, '07 4:10 AM for everyone
Link: http://stage6.divx.com

Hari gini, netters around the world udah nggak cuma sharing dokumen, foto, or mp3, tapi juga movies.

YouTube termasuk fenomenal dengan nawarin kemampuan upload-viewing-sharing video. Berkembang sangat pesat dan memiliki koleksi video yang beragam, YouTube berisi mulai dari rekaman video gak penting soal kehidupan sehari-hari si pengirim, dokumen rahasia negara terkait lagu nasional =P, sampe ke materi-materi langka yang nggak bisa didapet dengan cara beli sekalipun, misalnya rekaman presentasi terakhir seorang ahli Ufologi, sebelum yang bersangkutan (diduga) dibunuh!

Sayangnya, mayoritas movie yang terdapat di YouTube, hadir dalam ukuran kecil dengan resolusi buruk. Udah gitu nggak bisa di download pula, kecuali dengan trik khusus.

DivX ;-) dalam perkembangannya semakin banyak digemari karena kemampuannya untuk mereduksi ukuran file movie, dengan tetap menjaga kualitas gambar dan suara yang baik (mp3 nya pelem). Dengan format DivX ini, banyak movie yang di-port ulang berhasil tampil tetap dengan tampilan baik, namun ukuran yang jauh berkurang.

Stage6, salahsatu "anak"nya DivX, dalam hal ini berupaya memadukan YouTube dan DivX kedalam suatu "pernikahan" yang serasi; sharing video dengan kualitas tinggi! Kelebihan lainnya? Berbeda dengan YouTube maupun Google Video, semua movie yang ada di situs ini downloadable! Cucok buat yang doyan ngunduh film-film unik, bikin kompilasi video music, atau sedang nyari pelem yang susah dicari dimanapun. Ukuran mungkin akan jadi masalah, karena rata2 pelem disini ukurannya sekitar 40MB an, tapi dengan semakin banyaknya users yang punya koneksi cepet, atau unlimited (atau both), keliatannya hal ini bukan masalah yang terlalu mengganggu... Apalagi kalo ngeliat list dari koleksinya... seperti ini nih:

+ Anda penggemar sci-fi, sekaligus cultist? Coba cek film "It Came From Outer Space" yang merupakan hit pada jaman nya (1951).

+ Nyari video music jadul dari taun 80-an? Mungkin anda penasaran sama video clip "I Want Your Sex" nya George Michael (yang pastinya nggakan lolos tayang di TVRI), atau mungkin pengen tau gimana video clip nya "Pump Up The Volume" yang sempet dipelesetin liriknya kesana-kemari?

+ Pengen tau gimana rupa serial Star Trek di era 70-an? Bisa diunduh dari sini.

+ Dulu tinggal di kampung jadi nggak tau Voltus, Mazinger, atau Macross? Kangen sama serial Thunder Cats yang buat ukuran dulu termasuk cukup keren? Atau sekedar pengen ngelengkapin seri-nya Samurai-X yang nggak pernah kelar diputer di TV sini?

+ Atau... pengen liat seperti apakah juntrungannya R-rated music videos yang nggak mungkin diputer di TV sini? =P

Semuanya ada, great quality, free to download, dan nggak ada batasan quota! Siap2 download marathon. (bay)


Posted by Bayu on Aug 21, '07 10:31 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Walaupun filmnya menegangkan dan aksinya seru, pengambilan gambarnya diskriminatif. Paul Greengrass semakin sukses mengimitasi efek kamera 8mm minus image stabilizer, yang di-shoot sama cameramen tremor karena belon makan tiga hari.

Gw pusing dari semalem ampe sekarang... Geblek!
(bay)



Posted by Bayu on Aug 20, '07 11:37 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Bercerita mengenai Ofelia, seorang anak wanita yang hidup ditengah jaman pendudukan militer sekitar akhir Perang Dunia II di Spanyol. Si anak memiliki ayah angkat seorang Kapten militer yang kejam, Kapitan Vidal; yang hanya peduli dengan jabang bayi yang ada di kandungan sang ibu, Carmelia. Sebagai pelariannya dari dunia yang kejam, Ofelia senang dengan dongeng, yang oleh ibunya dianggap bukan kebiasaan yang sehat karena Ofelia bukan anak kecil lagi.

Dalam perjalanan menuju tempat tinggal mereka yang baru, suatu perumahan asri di kaki gunung sekaligus merangkap markas penumpasan pemberontak, Ofelia menemukan sebongkah artifact yang ternyata merupakan bagian dari suatu arca kuno tidak terawat di pinggir hutan. Disinilah Ofelia merasa telah bertemu dengan peri hutan... dan semuanya terkait kepada suatu kompleks labyrinth tua yang ada di dekat tempat yang mereka tuju...

Kompleks labyrinth yang menurut penduduk setempat telah ada sejak mereka belum pindah kesana...

Ketika Ofelia akhirnya mendapati suatu kisah mengenai putri kerajaan tanah yang hilang, dan dirinya adalah sang puteri yang hilang, ia pun harus menjalani tugas-tugas yang diberikan oleh mahluk gaib penjaga labyrinth, untuk menguji keaslian jati dirinya.

Sementara itu keadaan di dunia nyata semakin memburuk, dengan kesehatan Carmen yang makin menurun, Kapitan Vidal yang semakin kejam, serta mulai seringnya terjadi konfrontasi antara pasukan Kapten dengan para pemberontak yang bersembunyi di gunung.

Akankah Ofelia berhasil memenuhi tugas-tugas berat yang diberikan? Benarkah ia sedang diuji? Bukan dibohongi untuk suatu tujuan yang keji? Apakah selama itu ia hanya sekedar hidup di dunia khayalannya?

Film ini memadukan baik unsur-unsur inti dari beberapa film terkenal, sebut saja kejamnya rezim militer (Schindler's List), peperangan kucing - tikus antara gerilyawan dan militer (Band of Brothers), nuansa sihir dan mistis (Harry Potter), serta mahluk fantasi yang aneh dan kejam (Silent Hills), dan Rudy dengan kapur ajaibnya! (Chalk Zone).

Setting mood sepanjang film ini dark, murung dan kelam. Karakter-karakter mistisnya digambarkan dalam nuansa yang menacing dan misterious, bukan bright and fun ala film fantasi anak-anak, even dibandingkan Harry Potter's. Banyak terdapat dialog yang panjang (bahasa Itali pula) sehingga cenderung membosankan untuk para penonton casual. Karakter para pemain film tersajikan dengan cukup meyakinkan, termasuk karakter mahluk misterius penjaga labyrinth nya. Spesial efeknya baik, termasuk dalam penggambaran adegan2 kekerasan yang cukup sadis, sehingga jadinya membuat film ini a good material to watch, but not really an entertaining material. (bay)


Posted by Bayu on Jul 25, '07 4:56 PM for everyone
Category:Movies
Genre: Animation
Nonton film TV di layar kaca? Buat apa? Membosankan! Pasti anda ini bodoh sekali!

Itulah kurang lebih kata-kata Homer pada para penonton diawal film The Simpsons Movie. Segmen awal yang diisi oleh kartun sadis Itchy & Scratchy, ternyata menjadi basis bagi para pembuat film untuk "break the ice"; mencairkan situasi. Bagaimana tidak? Itchy & Scratchy yang ternyata ditonton Homer dan anak-anaknya di bioskop kala itu, pretty much menduplikasi kondisi saya, isteri, dan Eriq yang malam itu berada di bioskop untuk menonton The Simpsons Movie; serial TV di layar lebar.

Walaupun kemunculannya dadakan, hari pertama pemutaran film ini di Setiabudi 21 ternyata mendapatkan sambutan yang cukup antusias. Setengah bioskop terisi penuh, padahal kala itu adalah malam hari kerja. Isinya pun didominasi kaum kantoran dari rentang usia dewasa-muda, dan semuanya tertawa tergelak-gelak sepanjang jalannya film, bahkan sampe tepuk tangan segala!

Jalan ceritanya sendiri mengambil spirit dari tema cerita serial The Simpsons era awal; penggunaan media animasi sebagai cara penyampaian kritik terhadap gambaran kehidupan sehari-hari. Tentunya ala keluarga terkenal dari Springfield ini. Bedanya, kali ini The Simpsons tidak ragu-ragu untuk memberikan twist yang lebih nyeleneh, serta menampilkan joke yang lebih dewasa dan vulgar! Bahkan mungkin banyak joke di film ini yang ditujukan lebih kepada khalayak penonton dewasa.

Alkisah, Springfield terbawa kepada masalah lingkungan serius yang mengakibatkan kota itu berada dalam jalur kehancuran yang pasti, dan hal ini diakibatkan oleh Homer. Ketika tiba saatnya untuk menyelamatkan Springfield dari rencana keji Direktur EPA, yang dengan cerdiknya mampu mengontrol tindakan presiden Schwarzenegger, maka keluarga The Simpsons pun merasa adalah kewajiban mereka untuk menyelamatkan tempat tinggal mereka itu. Semua, kecuali Homer. Hal ini mengakibatkan retaknya ikatan keluarga Simpsons, termasuk dari Marge yang selama ini selalu menjaga martabat dan perasaan Homer.

Dari segi cerita, inti cerita tidaklah terlalu dalam atau rumit, melainkan ringan-ringan saja tapi penuh dengan joke nyeleneh dan surprising twists ala The Simpsons. Termasuk didalamnya, kisah mengenai presiden Schwarzenegger yang berkeras "I was elected to lead, not to read", Grandpa yang kerasukan "Holy Spirit", Bart yang termakan tantangan Homer untuk ber-skate board bugil di tengah kota, dan konser band Green Day yang berakhir dengan kematian mereka!

Kalau anda penggemar The Simpsons, terutama di masa joke-joke nya masih segar dan mengejutkan, maka film ini untuk anda. For all the rest, jangan terlalu berharap mengenai pesan moral or sorts, it's simply an entertaining movie with lots of accidental links, and good laughs.


Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help